Showing posts with label Aku. Show all posts
Showing posts with label Aku. Show all posts

Saturday, January 03, 2026

Kinerja Investasi Saham 2025

Setelah sekian lama dorman dan momen tahun baru 2026, hal yang cukup pas untuk menulis kembali perihal kinerja investasi saham pribadi di BEI. Perhitungan kinerja investasi saham dilakukan dengan metode seperti Reksadana (mulai dari indeks 1000) mengikuti yang dijelaskan di Bolasalju, dimana juga mempertimbangkan multiple account sekuritas.

Perhitungan basis tahun dimulai dari 2021, meskipun saya sudah mulai belajar investasi dan punya akun sekuritas yang pertama di sekitar tahun 2009. Hal itu murni karena sebelumnya belum paham bagaimana menghitung kinerja investasi saham yang ‘relatif tepat’, dengan mempertimbangan dana masuk/keluar, beberapa akun sekuritas dan perhitungan tahun berjalan (YTD: Year-to-Date atau ITD: Inception-to-Date).

Hasilnya seperti pada gambar di bawah, secara keseluruhan:

- IHSG secara tahunan 2025 tumbuh 22.13%, sebuah pencapaian yang bagus meskipun banyak dipengaruhi oleh saham-saham tertentu yang dibuktikan dengan indeks LQ45 yang hanya tumbuh 2.45% saja.

- Sejak 1 Januari 2021 hingga 31 Desember 2025 (5 tahun), IHSG tumbuh secara kumulatif total sebesar 44.62%, sedangkan LQ45 malah turun -9.45%. Secara CAGR atau kumulatif per tahun, selama 5 tahun IHSG menghasilkan kinerja majemuk (CAGR) 7.66% per tahun sedangkan LQ45 malah menghasilkan CAGR -1.97% per tahun.

Alhamdulillah.. dalam periode yang sama, investasi pribadi menghasilkan kinerja total 64.74% atau CAGR 10.50% per tahun. Untuk 2025, investasi pribadi memberikan 28.80%.

Investasi pribadi dibagi dalam 4 akun sekuritas sesuai profil di bawah. Kenapa sampai sebanyak itu? Ide awalnya setiap akun punya tujuan dan cara eksekusi berbeda, meskipun akhirnya tidak selalu konsisten dalam prakteknya 😊

Sehingga bisa disimpulkan bahwa investasi pribadi baik kinerja total, CAGR dan tahunan 2025 lebih tinggi dibandinkan IHSG apalagi LQ45. Meskipun di tahun 2021 dan 2023, kinerja pribadi secara tahunan lebih rendah dibanding IHSG.

Mungkin salah satu pembeda Adalah bahwa kinerja pribadi secara otomatis sudah memperhitungkan dividen yang diterima, sedangkan di IHSG ketika sebuah emiten memberikan dividen maka harga saham nya biasanya turun pada cum-date sesuai dengan nilai dividen per saham nya. Meskipun kemudian harga saham bisa “recovery” atau tetap turun sesuai dengan kinerja emiten itu sendiri.

Terkait dividen, berikut profil dividen yang diterima sepanjang 2025 (lumayan buat ayem-ayem😊).

Secara peningkatan nilai aset, terdapat kenaikan nilai investasi saham dari awal 2021 sampai akhir 2025 (termasuk penambahan/penarikan dana, unrealized loss/profit, dan dividen diterima) sebesar lebih dari 5x lipat. Dimana IHSG sendiri, terjadi kenaikan market cap dari 31 Desember 2020 sebesar Rp 6,586.99 Triliun (IHSG 6,090.70) menjadi sekitar Rp 16,000 T di akhir 2025 (IHSG 8,646.94).

Tentu tantangan selanjutnya untuk menjaga konsistensi kinerja investasi saham selama 5 tahun kebelakang ke nilai investasi yang saat ini sudah lebih besar dibanding 5 tahun lalu untuk terus bertumbuh.

Bismillah.. Semangat! 😊

Tuesday, January 13, 2015

Mengapa Sekolah (Lagi)

Di tengah karir yang cukup nyaman, apakah anda berpikir untuk melanjutkan sekolah lagi?

Sesudah mempunyai master, apakah anda berpikir untuk mengambil master yang kedua? 

Dengan kehidupan keluarga yang cukup, mengapa harus beresiko relokasi ke luar negeri?

Tiga pertanyaan diatas adalah contoh dari beberapa pertanyaan yang muncul ketika saya mengambil keputusan untuk ingin sekolah lagi akhir tahun 2013. Ketiganya sebenarnya memliki benang merah yang sama, bahwa kenyamanan itu kadang membuat kita lupa bahwa kita perlu untuk melakukan sesuatu untuk bisa mendapatkan hal lain yang lebih baik.

Saya memang salah satunya termotivasi oleh pidato Pak Anies Baswedan saat wisuda Paramadina October 2012. Menurutnya, kita bisa menghadapi masalah dengan baik dengan semakin banyak mendapatkan masalah. Bagaimana masalah muncul adalah dengan meninggikan ekspektasi kita, karena masalah adalah selisih antara ekspektasi dan realita.

Bukankah "ketidaknyaman" bisa diciptakan tanpa harus sekolah lagi, tanpa harus meninggalkan banyak hal yang sedang berjalan? Bukankah belajar itu bisa di pekerjaan tanpa harus melalui sekolah?

Hal-hal tersebut memang ada benarnya, namun saya mengambil keputusan untuk lebih jauh lagi. Ditambah faktor semakin terbukanya akses beasiswa dari pemerintah Indonesia melalui LPDP, maka Alhamdulillah.. jadilah mulai September 2014 lalu saya mulai sekolah (master) lagi University of Aberdeen, Scotland, United Kingdom, dengan program Petroleum Energy Economics and Finance.

Lalu, apa saja yang terkait dari keputusan tersebut?

1. Studi finance yang lebih spesifik di bidang petroleum & energy economics
Well, ini mungkin alasan yang "kuat", tapi mungkin "tidak kuat" juga, terutama karena saya sudah mengambil sekolah Finance sebelumnya. Alhamdulillah, beberapa capaian semester 1 kemarin (publikasi journal international, presentasi paper di Australia) semoga bisa mengurangi label sekedar 'kuliah di luar negeri'.

2. Keluarga (istri dan anak)
Ini mungkin alasan utama, pengalaman tinggal di luar negeri meskipun 1 tahun tentu bisa mewarnai hidup kami (karena sebelumnya belum punya pengalaman sekolah atau kerja luar negeri). Apalagi buat anak (Safa, 5 yo) yang ikut sekolah Primary disini sekaligus praktek langsung English.

3. Putus "sementara" dari perusahaan
Merasakan tidak digaji perusahaan termasuk benefit-nya (unpaid leave) selama studi ini salah satu restriksi saat pengambilan keputusan. Plus beberapa teman sudah berpindah tempat kerja karena benefit yang lebih tinggi. Again, I am probably a calculating-risk person. :)

Terima kasih kepada LPDP atas kesempatan yang diberikan dan semuanya atas dukungan dan do'anya. Semoga sekolah dan yang mengiringinya lancar, Amin.

Sunday, April 06, 2014

Belajar Menjadi Pengusaha Kecil Pembesaran Ayam

Sudah lebih dari satu tahun, kami (saya dan keluarga) ikut masuk dalam usaha kecil pembesaran ayam petelur di Magetan. Kami membangun kandang mulai akhir Oktober 2012 dengan kapasitas dasar 4,000 ayam dan mulai menerima bibit ayam untuk dibesarkan sejak akhir Maret 2013. Seperti yang telah saya singgung sedikit tentang landasan kuat mengapa seorang investor (muslim) harus masuk ke sektor riil, maka inilah yang saya lakukan dengan semangat terus belajar dan berusaha.
 
 
Konsep usaha pembesaran ayam ini adalah kerjasama dengan perusahaan peternakan (kami biasa menyebut koperasi). Selain pembesaran ayam petelur, ada juga pembesaran ayam pedaging yang memiliki resiko dan potensi untung yang lebih besar. Kami memilih ayam petelur tentu karena faktor resiko yang kecil mengingat ini adalah usaha riil pertama dan menyedot dana yang cukup lumayan.
 
Saya sendiri melakukan beberapa analisis tentang usaha ini di sebuah blog yang digunakan sebagai latihan proses sertifikasi CCE. Saya akan memperbarui disini sebagai sebuah pemaparan integrasi.
 
1. Prospek investasi pembesaran ayam petelur (merah) dan daging (putih) 
Analisis awal saya waktu itu terlalu optimistis dimana total modal yang dibutuhkan saat itu praktis untuk bangunan kandang , belum termasuk segala utilitas seperti sumur air (pompa besar) dan jaringan listrik yang harus mandiri, serta peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan seperti terpal, plastik penutup kandang dst. Besaran investasi untuk membangun sampai lengkap siap huni pun akhirnya menjadi hampir dua kali lipat dari estimasi awal.
 
Selain itu yang cukup berbeda adalah asumsi waktu panen dan penerimaan uang. Estimasi saya, ayam petelur yang normalnya waktu pembesaran 3 bulan plus pembersihan 1 bulan maka dalam 1 tahun kalendar akan bisa mendapatkan panen dan hasil 3 kali. Namun kenyataan yang kami alami, 1 tahun kalendar bisa 2 kali atau 3 kali dengan beberapa kondisi tergantung dari supply demand, libur lebaran dll, sehingga rata-rata dalam 2 tahun bisa 5 kali panen.
 
Karena kami tidak mempunyai pembesaran ayam daging, namun dari estimasi awal 1 tahun bisa sampai 6 kali panen (waktu pembesaran 40 hari + pembersihan sehingga total 2 bulan), sepertinya dalam kenyataan 1 tahun akan berkurang menjadi rata-rata 5 tergantung kondisi2 yang mirip diatas.
 
Namun demikian, dari 2 kali panen yang sudah kami lakukan atas 4,000 ayam petelur, tingkat imbal balik investasi masih cukup lumayan, tentu dibanding dengan bunga deposito dan bahkan pasar finansial 2013 lalu. Secara kasar, angka rata-rata masih sekitar 20% per tahun sehingga BEP sekitar 5 tahun. Terlalu lama? Menurut saya masih wajar dan normal untuk sebuah usaha sejenis. (too greedy isn't good, is it? :) )
 
2. Akuisisi kandang ayam yang sudah ada
Tawaran akusisi atas 50% bagian kandang kapasitas dasar 6,000 ayam (sehingga net 3,000 ayam) benar kami lakukan dengan harga yang cukup menarik (setelah diketahui biaya aktual pembangunan kandang 4,000 ayam). Yang menarik, metode akuisisi ini ternyata tidak hanya menarik dari sisi investor baru (pembeli), tapi juga penjual karena sama-sama memberikan nilai positif atas usaha ayam. Pengembalian yang dihasilkan berdasar pengalaman 2 kali panen ini, cukup bersaing dengan peternakan mandiri, menimbang keribetan pengelolaan ada di pemilik yang lama (pemilik 50% bagian). Jika ada tawaran akuisisi kandang ayam, selama harga wajar, ini adalah opsi menarik terutama bagi yang akan mulai usaha.
 
Saya jadi berpikir, jika model jual-beli kandang ayam saja menarik, pantas saja para private equity itu jual-beli perusahaan untuk mendapatkan nilai obyek perusahaan yang optimal.
 
3.Pilihan investasi ayam antara kandang sendiri atau akuisisi
Analisis dengan melibatkan resiko ini masih valid secara umum, dimana pembangunan kandang ayam merah masih lebih 'nyaman' dibanding ayam putih. Dan juga, pembangunan kandang ayam putih lebih menguntungkan dibanding akuisisi kandang ayam putih. Walaupun besaran valuasi nya menjadi tidak valid karena asumsi-asumsi perlu di sesuaikan dengan kondisi kenyataan yang saya paparkan diatas.
 
Walaupun skala usaha kecil-menengah, namun saya mencoba menjadikan usaha ini sebagai percobaan praktek analisis keuangan modern termasuk dalam pembiayan usaha (utang). Saya mengambil utang dan kemudian melunasi sebelum waktunya seperti yang saya tulis di blog itu, dari sisi timing sedikit meleset (di bulan ke 14) dan beberapa asumsi model tersebut juga ternyata tidak valid pada akhirnya. Mungkin saya akan menganalisis di kesempatan lain, namun akhirnya keputusan saya untuk melunasi sebelum waktunya saat itu lebih karena masih lebih murah membayar sisa utang+denda daripada membayar bunga pinjaman sampai lunas. Jika tahu denda dan sistem bank dengan lebih pasti di awal, model analisis utang dan pelunasan tersebut bisa dijadikan pengambilan keputusan pengambilan utang di kesempatan lain.
 
5. Resiko usaha
Bagian ini belum saya bahas dalam blog tersebut karena analisis keuangan harus dikedapankan untuk melihat menarik/tidaknya usaha tersebut, baru unsur yang lain termasuk resiko masuk untuk penyesuaian. Saya sendiri baru jelas resiko usaha setelah benar-benar mengalami 2 kali panen ini. Apa saja resiko-resiko usaha nya?
 
Secara garis besar utama, yang pasti kematian ayam adalah resiko terbesarnya. Kematian bisa karena penyakit atau bahkan dimakan hewan lainnya (ular dsb). Namun karena ini adalah kerjasama dengan koperasi, maka resiko kematian pun menjadi 'ditanggung bersama'. Karena ayam dan pakan ayam tidak dibeli oleh peternak, resiko peternak (pengusaha kandang) adalah biaya operasi atas pembesaran ayam tersebut. Normalnya ada alokasi ayam tambahan diatas kapasitas kandang sebagai jaga-jaga karena peternak 'diharuskan' memanen ayam sesuai dengan perjanjian (kapasitas). Alokasi ayam tambahan ini juga menjadi tanggungan peternak.
 
Selain kematian,  tentu harga jual ayam saat panen juga menentukan. Karena pembesaran ayam petelur, maka setelah sekitar 100 hari ayam akan diangkut ke kandang yang khusus untuk panen telur (peternak lain). Disini koperasi akan 'membeli' selisih harga ayam antara bibit dan besar dari peternak pembesaran ayam. Harga ini dipengaruhi oleh kondisi pasar ayam dan telur serta pakan. Namun secara prinsip, resiko ini masih bisa dikelola karena bagaimanapun ayam dan telur adalah makanan pokok yang dibutuhkan sepanjang masa.
 
 
 
 ***
Demikian paparan analisis usaha dari pengalaman pembangunan hingga pengalaman 2 kali panen yang kami lakukan. Karena cukup menariknya usaha ini, kami pun memutuskan menambah kapasitas kandang mandiri menjadi 6,000 ayam dan sudah dipergunakan untuk siklus ayam ke-3. Dalam hal ini penting untuk mempertimbangkan kebutuhan lahan dan utilitas (air, listrik dsb) di saat awal pembangunan terhadap rencana ekspansi kemudian hari seperti yang kami lakukan.
 
Buat saya pribadi, selain sebagai bisnis, saya menjadikan usaha kandang ayam ini sebagai percobaan nyata untuk mengaplikasikan manajemen keuangan yang didapatkan. Mudah-mudahan dengan demikian ilmu menjadi 'awet' dan sedikit bermanfaat bagi yang lain. Semoga usaha ini berkah dan langgeng, amin.
 

Saturday, April 20, 2013

29 Tahun

Hari ini adalah hari pertama saya setelah memasuki 29 tahun usia yang diberikan. Kemarin tidak ada yang istimewa sebagai hari lahir, kecuali keluarga terdekat yang tahu dan memberi ucapan. Salah satu mungkin karena saya set hide tanggal lahir di media sosial macam Facebook. Selain itu, mesin-mesin dari asuransi, bank, sekuritas, dealer mobil, kaskus dan telkomsel-lah yang paling rutin memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada saya.

Hari lahir adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi kondisi dan capaian seseorang. Namun demikian, saya agak 'sedikit' melanggar komitmen yang pernah dibuat 5 tahun lalu bahwa blog tidak untuk menulis terlalu personal. Mudah-mudahan tulisan 'sedikit' personal ini bisa memberikan pelajaran bagi yang lain. Saya akan banyak menulis apa yang sudah lewat, karena yang masih rencana masih menjadi cerita pribadi saya.

Mengutip Suze Orman yang show CNBC nya akhir-akhir ini saya sukai, saya akan melihat diri saya menggunakan quote-nya; people first, then money, then things. 


People
Alhamdulillah.. atas apa yang saya dapatkan. Diberikan keluarga terdekat, bunda dan safa, yang memberikan dukungan atas apa yang saya lakukan. Momen long distance relationship di 2 tahun awal keluarga diganti dengan kesibukan 2 tahun lebih masa studi dan sertifiikasi sampai bulan ini. Pun yang akan dilakukan selanjutnya untuk pengembangan diri, insyaAllah mereka akan mendukung. Begitu pula saya mendukung keduanya untuk pengembangan diri, kecuali saya gagal mendorong bunda untuk mengajar di perguruan tinggi dan melanjutkan S3 :).

Apa yang saya tergetkan sebelum usia 30 sudah mendapat S2 sudah tercapai, dan bahkan mendapat 'bonus' sertifiikasi. Dealing dengan semuanya, S2 dalam negeri dan beasiswa adalah pilihan terbaik menurut saya saat itu. Toh bukan masalah dari dalam atau luar, tapi yang utama sejauh mana pemahaman akan materi, yang didukung oleh predikat nilai dan lulusan terbaik. Apakah berhenti sampai disini? Dengan usia yang cukup, saya masih ingin sekolah di luar negeri, jika tidak dengan beasiswa maka semi self-funded bisa menjadi opsi, yang artinya pendapatan dan tabungan harus cukup.

Money
Alhamdulillah.. atas apa yang Allah titipkan pada saya. Rezeki yang cukup, tidak banyak dan tidak pula sedikit. Banyak orang melihat semua tentang keuangan baik-baik saja, tapi sebenarnya tidak begitu amat, apalagi sejak akhir tahun lalu saya memutuskan untuk mulai ikut dalam usaha riil sehingga proporsi kas dan setara kas saya turun drastis hanya sekitar 5% total aset. Rumah, kendaraan dan aset (serta utang) cukup melihat usia saat ini (saya berpikiran untuk membandingkan porsi jenis aset antara saya 25 dan 30 tahun). 

Bagaimana dengan uang masa tua? Suze dalam setiap show-nya selalu menekankan untuk menyiapkan masa tua sebaik-baiknya. Yang pasti usaha riil yang baru dirintis adalah salah satunya, bukan hanya masa tua tapi juga mengurangi kebergantungan hanya pada pekerjaan (dan pastinya bermanfaat bagi lingkungan daerah). Dan saya sekarang tidak pernah mengotak-atik investasi pensiun yang ada dalam bentuk dana pensiun, jamsostek, dan reksadana, jadi dianggap 'uang hilang'. Lagi-lagi dengan usia yang masih produktif, apakah cukup terima dengan kondisi pendapatan dan keuangan saat ini? Saya jawab tidak, yang membuktikan manusia memang selalu merasa kurang.  

Things
Jujur saya tidak terlalu obsesif dengan barang-barang, sehingga barang-barang di rumah pun biasa-biasa saja. Walaupun mobil saya juga bukan Avanza yang sejuta umat, tapi saya selalu melihat barang dalam tiga prioritas parameter: kondisi keuangan, fungsi, dan value for money. Jika sebuah barang lolos 2 paramater awal, maka harus dilihat apakah dengan harga tersebut sesuai dengan 'kualitas' yang diberikan. Hasilnya, saya belum punya tablet dan hape saya belum ganti sejak lebih 2 tahun lalu. Dan setelah lolos tiga paramater, mungkin saya harus menambah rumah setelah rumah pertama tahun 2008, karena konon jika bisa setiap anak diberikan persiapan 1 rumah.

Bagaimana dengan pekerjaan? Saya cukup puas dengan pekerjaan yang saya lakukan, dengan pengembangan dan kesempatan yang diberikan sampai beberapa kali berpartisipasi dalam event di dalam dan luar negeri. Memang selalu ada negative sides, dari sisi perusahaan atau benefit yang didapat melihat apa yang saya punya, tapi saya yakin ini adalah proses. Intinya adalah, never fall in love with your company, love your profession. Tapi ada juga yang menyeletuk seperti kata Justin Bieber, "Never say never.."

Di akhir catatan ini, izinkalah saya mengutip sebuah do'a yang dipanjatkan para pemuda Kahfi ketika berlindung di dalam gua, kemudian ditidurkan oleh Allah Swt selama 309 tahun qomariyah. "Robbana atina min ladunka rohmatan, wa hayyi' lana min amrina rosyada.."


Menurut guru ngaji saya semasa kuliah yang lulusan sastra arab, rosyada itu kematangan atau kedewasaaan. Google translate mengartikannya rasional. Semoga dengan usia bertambah, semakin bertambah pula kedewasaan, amin.  Mohon maaf atas kesalahan, dan terima kasih atas semua do'a dan dukungannya.

Wednesday, July 18, 2012

(Candidate) Magister

Seorang (Candidate) Magister diuji oleh 2 Phd dan 1 Doktor. Alhamdulillah.. ujian sekolah (hampir) terlewati. Terima kasih atas dukungan semua pihak.

The new chapter is beginning.. :)


@ Paramadina Graduate School, July 13th 2012

Thursday, May 10, 2012

The Magnificent Seven

PGSF – Strategic Finance Class of 2010

For some people eighteen months seems like forever but to us, it was only yesterday. Time flies indeed. We accomplished many things in such sort of time. It was exhausting, sometime frustrating, but exciting at the same time. And we would be lying if we didn’t have good time. It was fun.

Everyone and each of us were blasting and learned new knowledge and what so called best practices. One was so enthusiastic and suddenly spoke fluent English learning the different between merger and acquisition from neighboring country lady lecture. One never skips school, well maybe only one or two. One copied-pasting class materials for his consulting business and made money from it. One was chasing virtual girl named Maya but never has gut how to start a conversation. One gave her first birth and brought along her new baby-son completing an exam. One has to rush home as soon as the Friday class is over driving for 76 miles to the south (we know what he’s up to). One went for pilgrim struggling for changing his life upon returned. People change and grow.

We are changing and growing. We should be proud of ourselves for standing still up to this point. Attending night classes after work is challenging but we survived. Finish line is just few seconds distance.

Let’s win our final battle and together we can make it. Soon we will get what we are dreaming for. Stay in touch valued friends. We are not across universe. We are just across the corner. Heaven knows what He is planning for us and we should keep the faith that our path will cross again…

[ PGS Campus, Last Night-Class - May 8, 2012 ]

* Thanks to Mas Arif M for the picture and words.

Monday, May 07, 2012

The good tackle, isn't it? :)


At the end of the match, we won 3-2.

* Thanks to Yudi who's capturing the moment last weekend.

Saturday, January 21, 2012

Setelah Sekolah Lagi

Sekolah lagi setelah baru beberapa tahun bekerja dan berkeluarga adalah keputusan yang tidak populer. Di saat baru mengenyam nikmatnya membangun karir dan euforia keluarga kecil, maka sekolah lagi bukan pilihan yang mudah. Apalagi bagi sarjana teknik yang melanjutkan sekolah di bidang bisnis, bukan core tekniknya.

Ada yang beranggapan seharusnya sekolah lanjutan itu lebih baik dilakukan diantara dua waktu penting, sebelum menikah atau saat sudah dalam posisi manajerial atau cukup berpengalaman di perusahaan. Jika sebelum menikah, akan mudah untuk pindah pekerjaan tanpa adanya beban perpindahan comfort zone. Sedangkan harus menunggu pengalaman cukup, karena saat hanya beberapa tahun bekerja, tidak ada efek langsung terhadap pekerjaan yang dihadapi sehari-harinya.

Tapi bukan tentang itu semua saya pikir seseorang kemudian memutuskan untuk sekolah bisnis. Sekalipun tidak terkait langsung dengan pekerjaan hariannya, sekolah adalah sarana untuk membuka cakrawala baru. Memang banyak orang pintar dari pengalaman, tapi sekolah tidak bisa dipungkiri adalah langkah efektif untuk belajar secara cepat dan sistematis. Tidak dipakai saat ini tidaklah jadi soal, karena orang tersebut pasti sudah merencanakan sesuatu untuk masa depannya.

Sedangkan saat awal mempunyai keluarga kecil, justru itu adalah keputusan strategis yang dibuat. Disaat anak masih kecil, maka tidak akan terlalu berat bagi seseorang untuk membagi waktu lebih banyak kepada kuliah dibanding bersama anak. Bayangkan jika nanti saat anak sudah sekolah, maka waktu bersama untuk membimbingnya belajar pasti akan lebih berharga.

Memang akhirnya ada kenikmatan saat ini yang dikorbankan, zona nyaman yang ditinggalkan. Mengorbankan kesenangan saat ini untuk sesuatu lebih baik di masa depan adalah pilihan bijak yang seharusnya selalu dilakukan manusia. Bukankah tidak akan ada perbaikan jika selalu merasa dalam kenyamanan?

***

Kesibukan sekolah sambil bekerja adalah salah satu yang membuat blog ini menjadi tidak se-aktif yang dulu. Tentu lebih memilih untuk bermain bersama keluarga ketika ada waktu luang. Alhamdulillah, setelah satu tahun menjalaninya ternyata ritme hidup menjadi lebih baik dan belajar memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Walaupun setelah dipikirkkan kembali, ternyata memang cukup berat sekolah sambil tetap bekerja itu.

Saya masuk di program pascasarjana pada bulan Januari 2011 setahun yang lalu. Semester satu kuliah padat dari jam 19 sampai 21.30 selama 5 hari kerja (senin-jum’at)! Karena tempat kuliah yang satu gedung dengan kantor, maka gedung itu sudah seperti ‘rumah utama’ mengalahkan rumah saya sendiri, karena dalam satu hari saya hanya tinggal di rumah dari jam 23 sampai 5.30 selama semester berjalan (4 bulan).

Praktis semester satu lalu adalah masa paling berat, saya tidak pernah keluar kota atau liburan pada masa itu. Bahkan jatah perjalanan dinas atau training dari kantor lebih baik saya tolak baik-baik atau mundur di saat kuliah libur. Dengan keluarga yang mendukung penuh, maka semester satu pun terlewati dengan seratus persen kehadiran!

Lalu semester dua berjalan dengan jadwal berkurang menjadi 3 hari seminggu. Dengan waktu lebih sedikit, hal tersebut membuat sedikit terlena sehingga masih bisa mensiasati kegiatan liburan akhir pekan atau perjalanan dinas keluar kota.

Setelah lolos padatnya semester satu, malah di semester dua ini kesehatan menjadi catatan khusus. Satu minggu istirahat di Rumah Sakit dan satu minggu di rumah karena Hepatitis A. Tidak ada penyebab khusus, selain pola makan salah dan ketahanan tubuh melemah. Allah SWT mungkin memberikan peringatan bukan di saat kita siaga terhadap kondisi yang akan menimpa kita, tapi malah disaat kita lengah untuk menghadapinya.

Dan tibalah sekarang di semester tiga alias semester terakhir dari yang dijadwalkan tiga semester. Saya ingin menyelesaikan sekolah ini secepatnya dalam tahun ini. Sehingga cuti awal tahun satu minggu penuh yang lalu, kegiatan yang dilakukan adalah menyusun draft Thesis. Masih jauh dari selesai, namun kerangka dan jalan menuju akhir sudah terlihat. Meski terlihat, masih mungkin ada jalan berliku yang akan ditemukan saat sedang menuju kesana nantinya.

Hal yang memudahkan dalam sekolah ini adalah, kebaikan Medco Foundation untuk membiayai biaya sekolah saya di Paramadina Graduate School program Strategic Finance. Dan tentu saja, karena dukungan penuh dari istri tercinta (daripada sering terpisah karena di lapangan ya?hehe) dan secara tidak langsung adalah buah hati kami.

Bagi saya keputusan sekolah setahun yang lalu sehingga seperti ini sangatlah tepat (Alhamdulillah). Dan pasti saya juga sangat gembira bila mengetahui bahwa saudara, sahabat, atau teman juga sedang melanjutkan sekolahnya dimanapun itu.

Manusia memang tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi dengan kebijaksanaanNYA, Allah SWT pasti akan melihat siapa diantara hambaNYA yang mempersiapkan diri untuk menyongsong hari esoknya.

Selamat sekolah lagi..

Wednesday, April 08, 2009

Tidak Memilih

Saya tidak memilih esok hari, Pemilu 9 April 2009. Pemilu pertama saya tahun 2004, mencoblos di kota tempat kuliah 5 tahun lalu. Sekalipun pendatang, kami satu kontrakan dulu rajin untuk mengurus ke pak RT dan karena sudah sedikit tahu maka pencoblosan tidak lah menjadi soal buat kami para pendatang, kami mendapat kartu pemilih.

Sedangkan pemilu kali ini, dari awal saya termasuk pesimis untuk bisa memilih. Karena secara Kartu Tanda Penduduk masih warga Magetan, sedangkan domisili di Depok. Katakanlah untuk memilih satu hari, pasti merupakan ‘pengorbanan besar’ jika harus pulang kampung. Atau mengurus surat pindah Tempat Pemungutan Suara, tetap saja harus pulang. Padahal rasanya waktu begitu cepat saat kembali pulang dari bekerja, dan kemudian kembali berangkat lagi di Palembang.

Plus awal bulan Maret lalu sudah mengurus KTP Depok, yang artinya saya ’berjudi’ tidak mendapatkan hak memilih dimanapun (KTP in process). Padahal ketika sudah masuk DPT daerah asal (Magetan), bisa saja saya mengurus formulir pindah TPS. Karena katanya DPT itu sudah dicetak bulan oktober 2008. Tapi ternyata, banyak juga warga yang tidak mengecek nama Oktober lalu baru mendapatkan dirinya tidak punya hak pilih esok hari.

Alasan tidak memilih diatas pada dasarnya karena sudah sejak akhir tahun lalu diketahui bahwa jadwal pemilu akan bertepatan di tengah jadwal on schedule di lapangan. Sungguh sebuah pilihan. Bagaimana pun ada desa terdekat untuk tempat memilih dan kondisi operasional normal kantor lapangan diliburkan, tetap saja ‘tidak nyaman’ untuk memilih di lapangan seperti ini. Pun juga buat semua pekerja yang tidak pulang ke Palembang buat Pemilu.

Jadi akhirnya saya tidak memilih. Jujur ada penyesalan dalam hati, karena tidak bisa memilih partai yang menjadi pilihan saya. Hanya bisa berdo’a semoga teman, rekan, keluarga dan masyarakat memberikan suara nya dengan baik.

Hasil quick count boleh diumumkan pada hari besok juga, maka saya sangat berharap partai pilihan akan menjadi partai yang mendulang banyak suara. Untuk Indonesia yang lebih baik, Amin.

Tuesday, March 17, 2009

Ritme hidup yang baru

Manusia senantiasa menghadapi fase-fase kehidupannya. Setelah melaksanakan “prosesi” yang agung, maka ritme kehidupan antara sebelum dan sesudahnya pun mulai berubah. Dalam hal menjadi seorang suami, maka terdapat tantangan sekaligus jawaban atas kehidupan baru yang dijalani tersebut.

Setelah melalui rangkaian acara dalam keluarga, maka mulailah keluarga muda ini menjalani kehidupan yang nyata. Hal yang paling depan dihadapi adalah kenyataan untuk tidak bisa bertemu setiap hari karena kewajiban pekerjaan saya sekaligus kewajiban pendidikan sang istri yang harus dituntaskan.

Dalam 26 hari, rata-rata kesempatan bertemu kami sebanyak 12 hari. Sebanyak 12 hari itu masih merupakan kesempatan karena baru akan menjadi realisasi pertemuan jika diwujudkan, pilihannya antara rumah Depok atau tempat tinggal istri di bandung. Dan setelah berhitung dengan kewajiban kantor saya di Jakarta ditambah kewajiban penelitian istri di Bandung, maka praktis selama 7-8 hari saja kami bertemu.

Tentu hal tersebut adalah tantangan yang kami hadapi. Mungkin buat kami , saat jauh benar-benar terasa. Dan sebaliknya, saat bersama pun benar-benar terasa (anda yang berkesempatan bertemu istri/suami tiap hari harus banyak bersyukur :). Namun saya berpikir, tantangan yang dihadapi tiap keluarga baru pasti ada dan berbeda-beda tiap pasangan.

Oleh karenanya setiap sebelum saya pulang on duty dari ranah sumatera, pasti kami sudah mengatur jadwal selama saya off duty. Jadwal kapan saja bertemu, kapan tinggal di rumah depok, kapan belanja isi rumah, kapan ke bandung, kapan jalan-jalan, dengan mempertimbangkan saya harus masuk kantor Jakarta 3 hari dan kelangsungan penelitian istri di Bandung.

Umumnya orang akan melihat hal itu adalah sebuah “usaha ekstra”. Ritme seperti tersebut sudah pasti dibicarakan dengan sejelasnya tentang konsekuensi tersebut sebelum pernikahan. Sehingga sesudahnya, perjalanan ritme tersebut bisa dinikmati.

Mungkin ritme hidup diatas yang bisa menjelaskan mengapa saya (dan istri) menurun aktivitas menulis belakangan ini. Boleh dikatakan kami benar-benar dalam masa adaptasi terhadap ritme hidup yang baru tersebut. Dalam 7-8 hari bertemu, pasti kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk merajut tali keluarga. Sehingga saat ini mungkin lebih mudah menulis saat kami berdua saling jauh, terlepas kewajiban masing-masing terhadap tanggung jawab pekerjaan dan penelitian yang menyibukan

Seperti biasa orang yang stag dalam menulis, maka ide tulisan selalu bermunculan di kepala. Saat kami menonton berdua, saat kami jalan-jalan ke pantai, saat kami membaca, atau saat kami diskusi panjang lebar, atau bahkan saat kami sendiri dalam kamar terpisah pulau. Namun memang menuliskannya masih merupakan tantangan kami berdua. Padahal kami ingin sekali berbagi mengenai hal-hal bermanfaat kepada teman semua.

Sangat berbeda dengan seorang penulis kenalan kami. Beliau bekerja terpisah dengan keluarganya, dan normalnya hanya tiga hari dalam dua minggu sekali pulang. Namun saya melihatnya, justru karena jauh itu maka aliran menulisnya mengalir. Buktinya, sudah banyak cerpen dan novel terbit torehan tangannya. Belum tentu ketika bersama keluarga hasil tulisannya selancar ketika sendiri. Orang bilang, jiwa dalam keadaan sendiri membuat seseorang menjadi lebih memaknai sesuatu.

Dan mungkin sindrom menulis sendiri itu juga yang mulai membayangi kami. Tapi saya (kami) bukan seperti penulis tersebut, yang memang sudah terbukti karyanya (atau mungkin suatu hari nanti, amin). Kami hanya ingin berbagi kepada teman-teman semua.

Akhirnya setelah lama tidak menorehkan pikiran dalam tulisan, coretan ringan ini mudah-mudahan menjadi pengantar untuk kembali menulis, terutama untuk blog kami berdua. Sekalipun ingin hal-hal yang berkualitas, namun rasanya hal-hal ringan pun bisa menjadi pengisi coretan yang bermanfaat.

Saya ingin menulis, kami ingin menulis.

Tuesday, January 20, 2009

Antara Emosional dan Rasional

Konon otak kiri manusia dominant rasional, sedang otak kanan nya dominansi emosional. Konon juga, perempuan lebih banyak menggunakan sisi emosional dibanding rasional. Sedangkan laki-laki sebaliknya, lebih banyak menggunakan sisi rasional dibandingkan emosional. Walaupun tidak selamanya benar, namun secara umum hal itu benar adanya.

Mengambil sebuah keputusan dengan menyeimbangkan alasan rasional dan emosional tentu sebuah tantangan. Tidak hanya di lingkungan keluarga, namun juga di lingkungan pekerjaan yang biasanya sangat dominan wilayah rasional.

Bagi orang jawa (dan mungkin cina), segala sesuatu terkait dengan hari, harus lolos kualifikasi ’hari baik’. Perhitungan jawa yang sangat teliti akan melihat dan menganalisa apakah termasuk hari baik atau tidak. Hal ini menurut saya lebih ke arah ’emosional’, dimana disebabkan oleh kultural.

Momen-momen penting dalam tahapan hidup orang jawa tidak lepas dari perhitungan tersebut. Misalnya pindah rumah, menikah atau bahkan berpergian jauh. Karena keluarga saya adalah jawa yang masih sedikit banyak ’menghitung’, maka saya pun dikondisikan dalam koridor ’hari baik’ tersebut.

Saat saya memutuskan untuk mulai menempati rumah depok tengah november lalu, ibu ’menyarankan’ untuk menempatinya pada saat hari pasaran lahir saya dengan syukuran sebagai penghuni rumah baru. Padahal hari pasaran itu jatuh pada desember awal. Alasan saya untuk segera menempati rumah jelas, bahwa karena rumah sudah hak milik, buat apa mengeluarkan lagi uang untuk kos bulanan dengan hanya ditinggali 4 hari sebulan?

Alasan rasional itu saya sampaikan ke ibu saya dengan mengatakan bahwa syukuran kecil mengundang tetangga tetap dilakukan sebagai permisi ke tetangga baru. Namun tetap, bukannya redam malah ibu meminta untuk niat ’numpang tidur’ di rumah baru tersebut sampai hari pasaran itu tiba. Daripada berlama-lama, saya iya kan saja hal tersebut.

Konon, pindah rumah yang hakiki menurut orang jawa itu adalah saat memasukan tempat tidur dan perangkatnya ke rumah baru. Dan benar, ibu saya sampai meminta pada hari pasaran untuk membeli tikar, bantal dan guling untuk dimasukan ke rumah. Plus di kampung, ibu menggelar syukuran kecil dengan ’niat’ membatalkan syukuran awal saya bersama tetangga sekitar sebulan sebelumnya.

Tapi itu masih juga belum selesai. Awal tahun ini setelah pulang, saya masih diminta membawa sepaket beras dan gula putih. Awalnya masing-masing satu kilo, namun akhirnya berhasil ’nego’setengahnya. Katanya, syarat orang berumah-rumah itu ada bahan makanan yang disimbolkan oleh beras dan gula.

Anda mungkin tersenyum membaca cerita saya ini, tapi ini lah yang dihadapi seorang anak ’rasional’ dan ibu ’emosional’. Dimana seringkali kami benturan karena tarikan rasional-emosional tersebut. Namun setelah mulai muncul seseorang baru dalam kehidupan saya akhir-akhir ini, benturan tersebut sedikit sedikit bisa di damaikan.

Seperti pesan ibu lewat sms kepada beliau setelah ibu membawakan beras dan gula beberapa waktu lalu, ”Hendro ibu bawai beras dan gula setengah kg cuma sarat berasnya dimasak, gula semua jangan sampai kebuang. Itu pokok dari orang tua biar sempulur rejeki pangannya” *

Jadi, memang sudah ada orang yang tampaknya menjadi penengah ’hubungan’ antara saya dan ibu.. :)

* sempulur = lancar

Monday, January 12, 2009

Langkah Baru

Alhamdulillah, saya sedang menuju sebuah langkah baru yang besar dalam kehidupan. Langkah baru tersebut ditandai juga dengan pembuatan weblog baru, sebagai perpaduan dua insan blogger.

Saya berharap rekan-rekan akan sudi mengunjungi weblog kami, http://triandika.net

Weblog tersebut tidak akan serta merta menghapus jejak blog 3an ini (dan blog kisah). Akan ada saatnya kami menulis di blog bersama, dan ada kalanya kami menulis di blog sendiri.

Demikian sebuah langkah baru dimulai, terima kasih banyak atas partisipasi dan apresiasi nya selama ini. Do'akan pernikahan kami dan seterusnya berjalan dengan baik, amin.

Saturday, November 22, 2008

Menjadi Warga Depok

Awalnya proses pencarian tempat tinggal dilakukan dengan memilah beberapa lokasi di sekitar Jakarta yang potensial dijadikan hunian. Karena aktivitas kerja di Jakarta, maka prioritas utama adalah wilayah di dalam kota Jakarta sendiri.

Karena ’harga tidak wajar’ untuk ukuran ’layak’ hunian di dalam kota, kemudian beralih di Jakarta pinggiran. Jujur sebenarnya surveinya sendiri tidak dilakukan dengan optimal karena padatnya waktu yang tersisa saat di Jakarta (dibandingkan di Palembang). Serta tentunya keinginan kuat untuk memproses sebuah rumah secepatnya (tahun ini).

Dan akhirnya, pilihan pun jatuh ke Depok. Kenapa depok? Inilah beberapa alasannya menurut saya.
1. Harga rumah yang ’relatif terjangkau’ dimana tetap bisa mendapatkan hunian’cukup layak’. Memang dari biaya hidup umumnya tidak jauh berbeda dengan Jakarta, namun indeks harga pasti lebih rendah dibanding Jakarta.

2. Sarana transportasi yang tidak hanya mengandalkan jalan raya, tapi juga kereta api (KRL) yang scheduled, banyak waktu dan varian. Jika bosan motor/mobil/bus, bisa sesekali naik KRL. Untuk jalan raya sendiri, konon nantinya akan dibangun jalan tol dari Simatupang sambung ke Depok. Menuju Jakarta pun bisa menggunakan jalur alternatif non Margonda (Beji-Kukusan).

Pun alasan pribadi, dengan jadwal kerja selama ini 2 minggu di Palembang, 1 minggu kantor Jakarta dan 1 minggu off, maka praktis dalam sebulan saya hanya ’terjebak transportasi’ Depok-Jakarta selama 5 hari kerja (kadang malah cuma1 hari ke kantornya). Dengan kondisi ini tentu sangat tidak ekonomis jika meneruskan tinggal kos sekalipun di belakang kantor.

3. Universitas Indonesia. Ya..karena UI jadi salah satu pertimbangan. Saya bukan UI (dan dari dulu tidak punya cita-cita masuk UI!), tapi lingkungan kampus (UI dan beberapa kampus lainnya) memang membuat suasana kota menjadi lebih energik dan dinamis. Secara track record akademik pun, lulusan SMU Depok masuk ke kampus unggulan. Indeks pembangunan SDM Depok selama 2006-2007 tertinggi di Jawa Barat. Jadi lingkungan akademik cukup terkondisikan, pastinya untuk masa depan anak-anak nantinya.

4. Lingkungan kota yang relatif nyaman menurut saya dan teman yang lainnya dibandingkan ’kota satelit’ Jakarta lainnya. Depok itu kecil dan terpusat (coba bandingkan dengan Bekasi dan Tangerang), masih ada pedesaannya dan cukup kental nuansa Islamnya. Tentu ini terkait dengan pengaruh lingkungan sosial terhadap kehidupan keluarga (anak) nantinya.

5. Alasan lainnya. Untuk yang terakhir ini, anda pun bisa membuat alasan kelima versi masing-masing.

***
Akhirnya tepat 2 tahun sejak mentas dari kampus, saya membeli sebuah rumah. Sebuah rumah milik sendiri. Tentu tidak menggunakan uang sendiri, Alhamdulillah..ada kesempatan yang bisa dimanfaatkan di kantor.

Rumahnya relatif ’tidak besar’, simpel dan siap huni (dengan sedikit perapihan). Tentu pertimbangan lokasi strategis menjadi dasar memilih lokasi hunian. Termasuk di lingkungan Kota Depok, tidak jauh dari terminal ataupun stasiun Depok Baru. Dekat SMP, SMU dan pastinya UI. Pasar tradisional hingga pasar modern, RS, dan bank juga mudah di akses.

Saat akad di depan notaris dan akhirnya transaksi di Bank, perasaan saya deg-deg an. Saya belum pernah transaksi sebesar ini, dan yang lebih lagi karena itu sebuah rumah. Cukup mendebarkan saat dijelaskan hak dan kewajiban sebagai pembeli dan pemilik rumah. Saya belum pernah merasakan yang seperti ini, mudah-mudahan perasaan yang baik sehingga timbul tanggung jawab untuk merawat dan mengelola rumah, tidak hanya sekedar tempat pulang.

Terima kasih atas dukungan dan do’a teman-teman semua. Suatu waktu silahkan berkunjung dan sampaikan via pesan pribadi saja. Sekarang kondisinya masih kosong karena harus dirapihkan dulu sebelum pengisian rumah (plus mengatur budget, maklum rumah pertama hehe).

Terakhir, saya ingin berbagi diantara sudut dalam rumah yang paling saya sukai berikut. Hmm, tidak harus pintar memasak. Tapi setidaknya ’dia’ mau belajar memasak buat saya, buat kami.. :)

Thursday, August 14, 2008

Mencari rumah

Bulan-bulan ini saya sedang giat-giatnya mencari rumah di sekitar Jakarta. Inginnya dalam tahun ini rumah tersebut sudah terealisasi. Bukan apa-apa, buat saya rumah itu penting, bahkan lebih dulu di bandingkan menikah (maunya, realisasinya tidak tahu). Lho?

Filosofinya, saya ingin mempunyai ‘sangkar’ dahulu baru kemudian mengajak pasangan tinggal di sana. Bisa menjadi kisah masuk rumah yang indah setelah menikah nanti. Itu artinya pasangan itu juga harus mau tinggal disana. Kalau tidak mau, rumah sebagai investasi bisa di alihkan nantinya. Tapi konon, orang tua lebih tenang melepas putrinya jika calon menantunya sudah punya rumah (dan pekerjaan pastinya).

Alasan logisnya, susah nyari rumah akhir-akhir ini di Jakarta. Lahan yang makin langka. Plus, harganya yang semakin ‘tidak menusiawi’, apalagi kalau ditunda-tunda hingga tahun berganti. Dan sebagai bagian dari investasi jangka panjang, rumah salah satu jawabnya.

Awal tahun ini dalam sebuah pameran properti di JCC, muncul beberapa kandidat yang ingin di tindak lanjuti. Dari sisi budget, ada yang sesuai dengan anggaran. Kekurangannya, lokasinya yang di pesisir jakarta atau di luar jakarta yang pastinya akan membutuhkan banyak waktu dalam akses kesana. Kalau saya tidak masalah, keluarga nantinya khawatir kerepotan.

Beberapa teman karena pertimbangan lokasi lebih memilih apartemen di pusat kota, dimana harganya mirip dengan rumah di luar kota. Bedanya tentu saja lingkungan sosial, dan tanah. Setidaknya ingin mempunyai rumah utuh terlebih dulu, dan jika nanti di masa depan ingin mencoba ke apartemen bisa dipertimbangkan.

Ada tawaran tanah, maka harus siap dengan usaha membangun rumah sendiri. Adakah agen atau biro yang menyediakan jasa pembangunan rumah dari awal sampai jadi? Misalnya kita sediakan lahan 10 x 15 m, lalu memilih design dan di bangunkan oleh biro tersebut.

Ada teman yang giat untuk mencari rumah second di dalam jakarta. Harganya mahal, tapi kalau memang berjodoh maka rumah idaman bisa di dapatkan.

Kalau disuruh memilih, inginnya rumah di Jakarta yang siap pakai (means second?). Rumah tersedia minimal 2 kamar tidur dan 1 kamar tidur pembantu. Lokasinya setidaknya masih masuk kota jakarta dan mudah di akses. Kalau harga, hmm… ini rahasia. Biasa, berharap fasilitas kredit perusahaan.

Saya sedang mencari rumah. Jika ada informasi, saya akan berterima kasih sekali.

Saturday, June 28, 2008

Selamat kepada Aan!

Pertama, izinkan saya pribadi mengucapkan Selamat menempuh Hidup Baru, kepada Aulia Ardiansyah (Aan), teman dekat sesama penghuni gubuk derita. Dan jika boleh mengklaim diri, ucapan ini sekaligus mewakili rekan-rekan satu gubuk yang tidak bisa mendampingi ikrar suci di Masjid Kampus UGM, Sabtu siang tadi.

Jujur akad yang diucapkan Aan adalah 'tamparan' buat kami. karena diantara penghuni rumah legenda itu, Aan adalah yang paling muda. Tengah tahun ini persis usianya 'baru' 23 tahun. Tapi yang paling 'menyakitkan' bukan masalah muda itu saja (karena banyak adik angkatan yang juga menikah), melainkan 'janji' untuk mempertahankan kelajangan yang akhirnya harus pecah (berlebihan :p).

Saat melihat Aan sudah mengajak calonnya pada sebuah pernikahan akhir tahun lalu, kami sudah membatin bahwa Aan sudah menemukan calon jodohnya. tapi sungguh saya tidak menduga kalau kejadiannya akan secepat ini. Langsung melangsungkan pernikahan tahun ini. bahkan akad dan resepsi yang rencana nya Agustus ini di Jogja dimajukan dua minggu lalu menjadi akad Sabtu siang ini (ada itung-itungan hari An?).

Mengingat persis setahun yang lalu kami masih datang bersama di pernikahan adik angkatan. Tentu saja sambil bergurau kalau 'aneh' saat nanti kita-kita saat menikah. Karena hampir 4 tahun hidup bersama dalam pahit getirnya pondok derita, saat susah senang, masa tenang dan ribut karena tugas, belajar berpolitik bahkan bersama-sama mencari Surga.

Untuk kesekian kali, kami bangga kepada Aan (bangga pertama Aan siswa aksel, kedua kondisi keluarga di Madiun, ketiga IPK nya lebih besar dari kami :p, dll). Dan sekarang, kedewasaan dan keberanian bukan menyangkut usia, tapi memang menyangkut seberapa cepat matang seseorang untuk mengambil sikap dalam kehidupan.

Ok Aan, saya (dan kami) mengaku kalah dalam hal ini. Dan maaf karena hari ini tidak bisa menghadiri saat mengucap janji sehidup semati dengan pasangan. Bukan apa-apa, karena seseorang membatalkan janji untuk berangkat ke Jogja. Tapi mudah-mudahan 16 Agustus nanti kami bisa bersama-sama hadir di Jogja, sekaligus kembali menyemai masa depan dalam sebuah kesahajaan.

Sambil menikmati seruputan udara malam Bandung bersama seorang kawan, saya cuma bisa bersenandung lirih mengutip sebuah puisi favorit Chairil Anwar ;

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Sekali lagi, Selamat buat Aan dan Mala, Barakallah..


*Atas nama penghuni (Aa & Adit) dan simpatisan pondok derita, silahkan absen.. :)

Friday, March 14, 2008

Tradisional vs Medis

Telah tumbuh di masyarakat metode-metode penyembuhan tradisional yang manjur, baik yang telah terbukti secara medis atau bahkan yang tidak bisa dibuktikan secara medis. Metode penyembuhan tersebut turun temurun, menjadi bagian dari budaya masyarakat. Dan yang menjadikan metode itu kuat mengakar, karena metode tersebut terbukti bisa menyembuhkan dengan baik.

Lalu datanglah metode kedokteran (medis) yang sangat ilmiah, substansial dan sistematis. Kalau dari substansinya, metode medis jauh lebih menyakinkan daripada tradisional. Secara empiris, medis melalui dokter dan semua perangkatnya bisa menyembuhkan dengan baik, namun tetap tidak bisa menjanjikan 100% kesembuhan.

Tentang usaha entah metode tradisional atau medis tentu lain dengan kesembuhan. Usaha adalah usaha, sedangkan kesembuhan sendiri banyak faktornya. Mulai dari sugesti diri hingga kuasa Tuhan.

Masyarakat pun akhirnya masih juga banyak menggunakan tradisional sekalipun akses medis makin menyebar. Satu hal karena relatif lebih mahal, kedua karena lebih percaya tradisional yang membudaya. Pihak medis pun tidak seharusnya menjadi egois, memandang benar sendiri lalu mencampakan realita bahwa tradisional juga mampu memberikan kesembuhan yang baik.

Ini bukan tingkat melek medis atau pendidikan yang masih rendah di masyarakat, tapi ini justru sebagai bentuk pilihan. Untuk itu lah kiranya masyarakat juga harus tahu, saat kondisi tertentu harus ke tradisional atau kondisi yang lain dimana memang mengharuskan pergi ke medis.

***
Pernah mengalami jatuh, sehingga menyebabkan tulang terkilir atau keseleo? Sebagai orang awam, pasti akan menganjurkan untuk menyerahkan urusan ke tukang (ahli, dukun?) pijat untuk mengembalikan tulang atau bagian-bagiannya yang kurang tepat. Atau setidaknya dioles-oles dengan balsem peregang otot sendi. Itulah yang dinamakan dengan cara tradisional.

Cara medisnya, maka segera lah pergi ke dokter untuk pemeriksaan. Jika sakitnya parah, maka dokter akan meminta untuk difoto bagian tulang yang sakit tersebut. Jika tidak retak atau patah, maka obat penghilang nyeri luar dalam jadi solusi. Jika retak atau patah, maka berikutnya jatah dokter orthopedi dan bisa keluar dengan 2 pilihan, di gips (benar tulisannya?) atau operasi dengan pemasangan implant (pen). Itulah secara singkat cara medis menangani tulang.

Selasa 4 Maret sore, telunjuk kiri saya terkilir karena olahraga. Bengkak, sakit sekali. Rabu malam saya memutuskan untuk mengundang tukang pijat. Esoknya, rekan kantor menyarankan ke dokter untuk dipotret karena bengkak yang tidak hilang. Singkatnya, tulang metakarpal telunjuk kiri saya retak dan menurut dokter orthopedi disarankan operasi penanaman implant supaya hasilnya baik dan cepat.

Kamis malam saya masuk RS dan jumat paginya operasi (pertama kalinya masuk RS, dibius, dan operasi dalam sejarah hidup saya). Alhamdulillah, lancar. Dalam rontgen tangan pasca operasi, terlihat 3 pen yang di silangkan di metakarpal kiri saya. Saya belum pernah melihat benda ini diluar tangan saya, namun membayangkan ada 3 ‘paku kecil lentur’ di telapak saya, kadang membuat perasaan bercampur.

Sabtu 8 Maret pulang, dan diharuskan kontrol setelah 1 minggu untuk melepas perban tangan. Jujur memang manjur metode operasi medis ini. Tangan saya membaik dan berasa tidak sesakit sebelumnya. Terima kasih dok. Benar-benar ajaib! (ah, tapi tetap saja ada ‘benda asing’ dalam telapak kiri saya)

Sebelumnya saat divonis dokter bahwa pijat yang membuat segalanya makin parah, saya mengelak, “kalau dokter menjadi saya, orang yang awam kedokteran, tidak tahu seluk beluk tentang orthopedi lalu tulangnya keseleo atau terkilir, maka saya yakin dokter juga akan memijit bagian yang sakit itu”. Dan dokter itu pun senyum mengiyakan.

Sudahlah, yang penting sekarang tangan saya kembail, Alhamdulillah. Belum 100% memang, mudah-mudahan secepatnya akan pulih normal. Sekarang saya pun berhitung bahwa 3-5 bulan lagi, saya harus kembali operasi mencabut ‘benda asing manjur’ dalam tangan saya (many thanks to my company).

Dan yang terpenting semakin menyadari, bahwa kesehatan itu rezeki luar biasa yang diberikan Khaliq pada kita. Maka dari itu, mari manfaatkan sehat kita sebelum datang sakit kita. Tidak ada kata terlambat.

*terima kasih untuk do'a keluarga, teman dan sahabat.

Wednesday, February 13, 2008

Pupus sudah Multiply

Setelah mengkomplain ke pihak Multiply tentang kasus pencurian account saya, maka ini lah jawabannya:

Hi,Unfortunately, once yor account has been terminated, there is no
way of reinstating that username. The best thing to do is go ahead and join
again under a new username. Sorry for the inconvenience.

Preston

Sebenarnya sangat sangat tidak puas, jawaban yang tidak membantu. tapi bagaimana lagi? Misuh-misuh bukan sebuah solusi. tampaknya saya akan membuat account baru. jadi ingat guyonan tukang becak asal madura, "1500 koq minta selamat". gratisan koq minta baik pelayanan.

Terima kasih kepada Rachma yang mengusulkan complaint ke MP, serta Igun atas penjelasan teknisnya. hmm, saya harus berpikir account yang unik lagi.

*blogging from Cengkareng, starting to Palembang

Saturday, February 02, 2008

My 1st Paper in Oil Area

Analysis of Drilling Time and Cost per Foot at Kaji Field

Drilling is the most critical and expensive activity in oil gas industry. That is why a drilling operation must be well programmed in accordance with time, cost and drilling target. The main job of a drilling engineer is to design a drilling program, contains of target depth, drilling time, cost, casing, and cementing program. In drilling operation at a producing field or development wells, there is a relationship between cost and depth. And by mathematical model, it can be obtained the drilling and trip time formula using the sample data. The drilling time formula can be used as guidance in creating drilling program in Kaji Field is td=0.748(e0.00121D-1), and the trip time formula is tt=(0.003)D. In order to get an optimum cost-per-foot, a 517 bit 8½ in should be better operated for about 32 hours rotating hours. While the optimum rotating hours for 117 bit 12¼ in can not be obtained because the main goal of early drilling is to direct drill string in operating directional drilling and that drilling needs to be controlled in a certain Weight on Bit (WOB) even in soft formation to maintain Rate of Penetration (ROP).


Notes:
- Kaji Field is here
- Completely paper could be obtained by contacting me, please state your purpose and clear institution*

*except my buddies :)

Saturday, December 29, 2007

Welcome Oil and Gas

Tidak mudah untuk mempelajari hal-hal baru yang tidak berkaitan dengan dasar pendidikan tinggi kita. Sekalipun itu hal baru yg menarik, setidaknya itu butuh waktu untuk lebih paham dan menjadi bagian dari pikiran utama kita.

Lalu hal yang bisa dilakukan adalah memulai dengan berpikir positif, membuka pikiran selebar-lebarnya sehingga semakin banyak hal-hal baru yang masuk di pikiran. Karena semua ilmu pada dasarnya adalah baik, dan bermanfaat untuk manusia.

Berpikir tertutup dengan tetap memegang dasar pendidikan yang artinya tidak merelakan adanya ilmu baru bisa diangggap sebagai orang yang egois terhadap ilmu. Tapi sekali lagi, semua butuh waktu. Tidak semudah membalik telapak tangan.

Untuk lebih mudahnya, bisa digunakan dua konsep antara harapan dan ketakutan. Berharap bahwa semuanya untuk masa depan, mencapai tahap-tahap kehidupan selanjutnya. Sedangkan ketakutan kehilangan semua yang sudah di depan mata, menyesal, dan akhirnya harus memulai perjuangan hidup baru lagi.

***

Sudah lima bulan ini, saya mempelajari hal-hal baru tentang oil and gas. Bukan sebagai background saya sebagai seorang industrial engineer, tapi bener-benar dididik untuk bisa menjadi seorang petroleum engineer. Dibandingkan dengan track records pekerjaan sebelumnya, trainee ini tentu saja sangat berbeda secara keilmuan.

Setelah melalui tahap pembelajaran termasuk pengamatan di sebuah lapangan minyak, sedikit demi sedikit mulai tergambar sebuah gambaran lengkap kompetensi technical dalam oil and gas. Dimana secara umum, petroleum engineering terbagi dalam empat bidang kompetensi khusus, yang sangat dekat pembagian tugasnya dengan kondisi oil dan gas mulai di dalam sumur hingga sampai di sales point.

Satu, reservoir engineering (reservoir). Reservoir bertanggung jawab terhadap reservoir (batuan yang mengandung cadangan oil dan gas). Secara singkat, seorang reservoir engineer akan menghitung cadangan dan properties dari oil atau gas tersebut. Dengan peran seorang reservoir engineer, bisa ditentukan produksi sebaiknya dilakukan dengan rate berapa, bertahan berapa lama, lalu kemudian dilakukan enhanced oil recovery (sebuah tahap meningkatkan performa sumur).

Kedua, drilling engineering (drilling). Drilling bertugas melakukan pengeboran ke target depth untuk sebuah sumur eksplorasi (baru untuk mancari oil and gas), atau development wells. Seorang drilling engineer termasuk bagian dalam pekerjaan yang sangat kritis. Dengan melihat apa yang terjadi di Brantas Sidoarjo oleh Lapindo, maka sedemikian kritisnya pekerjaan drilling ini. Masuk ke bagian drilling ini juga operasional treatment yang dilakukan terhadap existing wells yang masuk dalam pekerjaan work over atau well services.

Ketiga, production engineering (production) atau biasa dikenal juga subsurface. Setelah lobang sumur selesai dibor dan oil terbukti ada, maka tugas production lah untuk mengangkat sumur dari resorvoir lalu dialirkan ke stasiun. Pengaliran oil dan gas ini termasuk juga teknik yang dilakukan untuk bisa memproduksi sumur yang bertekanan rendah sehingga dibutuhkan sebuah artificial lift. Artifcial lift ini contohnya berupa gas lift, rod pump (pompa angguk yang sangat khas di oil), atau submersible pump.

Keempat, surface fecilties engineering (surface). Setelah sampai di stasiun, maka oil and gas diolah lanjut. Stasiun disini bukanlah stasiun untuk pengolahan minyak (refinery). Stasiun ini hanya untuk mengolah untuk memenuhi kriteria dari sales. Kriteria ini misal dari aspek water content, salt content, endapan sedimen, dan tekanan uapnya. Jika reservoir setiap saat berhubungan dengan hal-hal di bawah sana yang tidak terlihat, maka surface ini sangat terlihat jelas karena bertanggung jawab pada alat-alat di permukaan dari stasiun hingga pipeline ke sales point.

Sebenarnya ada lagi satu bagian yang tidak dimasukan dalam bagian engineering namun sangat penting, terutama dalam eksplorasi minyak-gas, yaitu bidang geology and geophisic (geoscience). Bidang ini sangat terkait erat dengan batuan, hal di bawah tanah yang sangat interpretatif. Sedangkan engineering ‘bekerja’ setelah oil dan gas terbukti ditemukan (proven). Interface antara geoscience dan engineering adalah reservoir.

***

Orang boleh bilang bahwa oil and gas adalah industri yang paling attraktif dan ‘menjanjikan’. Kebutuhan engineers baru disana selalu ada setiap waktu, dalam tahun hingga mingguan! Untuk masuk kesana pun, tidak hanya dibutuhkan tekad mendapatkan ‘sesuatu yang lebih’ karena itu pun harus dibayar dengan kompetensi yang sangat spesifik pula.

Dan untuk bisa eksis dalam sebuah bidang industri, maka harus masuk dalam core-bussiness nya. Jika masuk industri telekomunikasi, maka orang yang tau telco lah yang bisa ‘menguasai’ bisnis tersebut. Sedangkan di oil and gas, maka orang petroleum (plus suplemen manajerial) lah yang akan bisa eksis disana.

Jadi sekarang, tidak masalah buat saya untuk ‘banting setir’ menjadi seorang (new) petroleum engineer. Di perusahaan yang proud of Indonesia senantiasa dihembuskan sehingga masih bisa proporsional dalam idealis bekerja, maka mencari ilmu baru in ‘a most wanted industry’ menjadi hal yang menantang untuk belajar dan belajar.

Saatnya bekerja, menyelesaikan masa trainee ini sebaik-baiknya. Do’akan saya, terima kasih. :)

*Blogging from SMB II, South Sumatra