Monday, May 07, 2007

di resepsi pernikahan

Menghadiri resepsi pernikahan tentu sering kita lakukan, apalagi bila musim-musimnya waktu pernikahan alias 'bulan baik'. inilah mungkin beberapa alasan mengapa kita hadir dalam sebuah resepsi pernikahan, dalam sisi yang baik maupun yang juga 'baik' sebenarnya.

Pertama, memberi ucapan dan do'a kepada kedua mempelai. ini adalah hal yang utama seharusnya dilakukan oleh hadirin atau pengunjung. Do'a yang diajarkan Islam untuk pasangan mempelai: Barakallahulaka wa baraka 'alayka wajama'a baynakuma fi khair.. semoga Allah memberkati kalian dan menyatukan kalian dalam kebaikan.

Dan tidak hanya do'a saja sebaiknya yang diberikan. berikan sesuatu sebagai 'bekal' hidup baru pengantin. dan bekal atau oleh-oleh itu, menurut seorang mas, sebaiknya bukan berupa uang. alasannya, barang bisa langsung digunakan oleh 'keluarga baru' dimana biasanya punya kehidupan baru (baca: rumah). dan biasanya, orang yang sudah berkeluarga itu akan lebih mikir dalam pengeluaran hanya untuk membeli barang-barang alat-alat 'kecil' rumah tangga. selain itu, kalau uang belum tentu uang yang diberikan akan dinikmati oleh pasangan pengantin. dan hari gini, pemberian uang 'nominal tertentu' rasa-rasanya masih kurang pantas juga.

Selain itu, karena menghadiri resepsi secara otomatis mengetahui kedua pasangan, maka bagi tamu resepsi menjadi sarana tahu pasangan dari teman, kenalan atau kerabat yang menikah tersebut. karena sering, sebuah proses pernikahan dilakukan dengan lingkaran keluarga dekat. sekedar mengetahui wajah saja pastinya (sekalipun bukan wajah aslinya). dan mungkin sembari membatin, "oo... jadi seperti ini.."

Kedua, sarana silaturahim dengan teman atau tamu lain yang hadir dalam resepsi tersebut. bagi anak kost, dalih silaturahim itu bisa saja dimanfaatkan untuk perbaikan gizi karena sebenarnya tidak terlalu berkaitan langsung dengan mempelai (atau tidak diaundang). bagi para single, silaturahim itu bisa juga ajang 'ketemuan', siapa tahu jodohnya ada disitu. tapi pertemuan di tempat semacam resepsi patut diwaspadai, karena yang datang sering tidak menampakan 'wajah' aslinya.

Bertemu dalam acara resepsi, bagi kalangan tingkat tertentu mungkin bagian dari menunjukan eksistensi. seberapa sukses, dilihat dari kendaraan yang dibawa atau pakaian serta asesorisnya. pun juga menunjukan 'kualitas' pasangannya bagi yang sudah berpasangan, biasanya bagi yang masih muda saja. tapi yang menarik bagi saya, melihat batik berseliweran memberikan kesan bersahaja pada sesuatu.

Ketiga, menjadikan berkaca pada diri sendiri. baiknya memang, tidak hanya datang saat resepsi dimana biasanya tidak ada nasehat atau khutbah nikah (kecuali jika menggunakan susunan acara adat). bagi pasangan yang sudah berumur, menghadiri rangkaian resepsi pernikahan seperti men-charge komitmen akan bingkai pernikahan.

Dalam sebuah akad nikah, saya teringat sebuah petuah yang bagus, "hadir disini seperti menghadiri sebuah acara pelepasan. anda pengantin berdua yang akan berangkat berlayar, menghadapi ombak, badai dan terjangan kapal lain. kami disini, berdiri dari hanggar dan melambaikan tangan seraya berdo'a bagi anda berdua."

Bagi yang belum menikah, resepsi juga tetap menjadi sarana berkaca pada diri sendiri. paling sederhana, kapan dirinya akan menyusul menikah. atau bisa juga berhitung, jika pengantin laki-lakinya menikah pada umur segini (atau istilah angkatan jika di kampus) mendapat perempuan yang segini, maka dirinya (yang belum menikah) kira-kira akan menikah berapa lama lagi dan mendapatkan pasangan yang usia (angkatan) berapa. berhitung, counting days.

---
Dan weekend lalu, saya menghadiri dua resepsi pernikahan. pertama rekan kantor yang bersuami seorang polisi penerbangan. jadinya, resepsi pun dilakukan dengan prosesi Pedang Pora. menarik, dan (sedikit-banyak) menggabungkan urusan cinta pribadi dan nasionalisme sebagai ksatrian. alasan satu, dua dan tiga tak jadi masalah besar bagi diri sendiri.

Yang kedua, saya dan sekawanan pondok derita* menghadiri sebuah resepsi pernikahan adik angkatan kami. ya.. adik angkatan kami. alasan satu dan dua diatas, bisa kami terima. untuk alasan ketiga, menjadi tidak tepat untuk kami-kami ini. mereka lebih muda (secara angkatan dan mungkin umur), tapi berani untuk mengambil keputusan itu. anak muda yang berani.

Berbicara tentang anak muda yang berani, saya jadi ingat kata-kata dari ibu teman saya dalam bahasa jawa tengah yang khas, "gek do ngopo tho, rabi koq podo enom-enom.."

Wah..untuk yang seperti ini, tiap orang punya alasan masing-masing.

*foto bertiga (kiri-kanan), aan, saya, adit - lucky sedang sakit.

14 comments:

dzaia-bs said...

kok, kalo ke resepsi jadi tambah pengen ya..?

trian h.a said...

wah.. tambah pengin mah pasti mas jaya, tapi lebih 'aman' berhitung saja dulu.. :D

fathy said...

puasa,yan...puasaaaaa... :P

Okky Puspa Madasari said...

ada yang nanya nggak : Trian kapan kawin?
Trian : May....Maybe Yes, Maybe No
hahahahhahah

trian h.a said...

#fathy: ..,sepakat! :D

#okky: tanya ken..napa? (tuing..tuing..) hehe :p

agung said...

"gek do ngopo tho, rabi koq podo enom-enom.."

Nggih Bu, biasa meniko bocah enom...
Mboten sabaran =D =D

Iman Brotoseno said...

berani nikah ? kenapa tidak...belum coba khan..coba saja dulu...

trian h.a said...

#agung: wah, mentang2 ga muda lagi.. :p

#mas iman: waduh mas, nikah koq coba-coba.., hmm... :)

ikram said...

dari dulu topiknya menikaah mulu. sekedar wacana atau bakal diwujudkan nih :P

Warastuti said...

hoeee..bayar paten loo...

"gek do ngopo tho, rabi koq podo enom-enom.."

itu kata-kata Ibu sapa yahh yang dikutip..?? Coba tolong dimunculkan jadi link gituuu...

Keren ya? ya eyah lah..!! gimana anaknya sih ya..-B)

trian h.a said...

#ikram: wah kram, kayanya ente duluan deh.. kan udah ada tuh.. (eh, masih kan? :D)

#Mbak Ika: wah, tadi awalnya mau di link, tapi ntar gek gede rumangsa.... hehe

Warastuti said...

di-link ah

hoya, plus jenengku dibenerke

*hehe, gede karep

Novasyurahati said...

eheemm... jadi selama ini ngegangguin gue tuh cuma pingin minta restu ngelangkahin? monggo trian.. monggo.. wong gue dah dilangkahin banyak orang kok. ikhlas lah.. rela.. redho.. :D

trian h.a said...

#mbak ika: nggak! :D

#mbak nova: hehehe.. belum dulu koq mbak, masih belum cukup umur.. :)