Wednesday, October 15, 2014

11. Conference Paper (2014); Evaluating Gas Reserve and Project Cost Using Multistage Scenario Process on Gas Development Project

The development phase of oil and gas fields is challenging, since wells need to be drilled and assessed for oil and gas reserves, and production facilities need to be built. It will only be executed after the exploration phase shows attractive economic indicators (IRR, NPV and payout time). Marginal gas reserves and high development costs will result in marginal economic indicators of the project compared to the company expectation.

The marginal economic indicators have created the mechanism for tight project control during project execution, in order to maintain acceptable NPV. The objective is that the thresholds of model parameters need to be defined on a staging basis to guide the project on an economical track. The thresholds will confine the limit of drilling and facilities cost which can be spent according to reserve scenarios.

The monitoring model is then built by combining the development project economics using multistage scenario tree. A solid model needs to be built and tested using Monte Carlo simulation to generate the drilling and facilities costs. Thus, the model will result simulated economic indicators which will limit of maximum allowable project cost for each reserve scenario.

This paper shows that the economic feasibility of a gas field project at the development phase can be analyzed using the multistage scenario process. Therefore, the key activity is to monitor the performance of the project, i.e. reserve verification, drilling and facilities costs, in addition to the project schedule. Finally, decisions about the project may be made at each stage according to the portfolio profile of the company.

Keywords: Gas Field Project, Exploration and Development Project, Monte Carlo Simulation, Project Economics

Link: http://www.spe.org/events/apogce/2014/pages/schedule/tech_program/index.php

(to be updated)

10. Journal paper (2014); Facing Project Cost Exposure during Front End Loading (FEL) Implementation

The planning of a project is the most critical phase, since all project definitions and requirements should be completed in this phase. Of all project variables, cost is the most sensitive one especially for project that has a limited range of return on investment. Thus, the project cost and planning team has to have a better planning process as well as incorporating the external commercial factors in the project cost.

Meanwhile, Front End Loading (FEL) stages used to evaluate a completed project have limitations in observing the project cost. The cost estimation level is developed and improved in accordance with three FEL stages; Appraise (FEL1), Select (FEL2) and Define (FEL3), prior to the execution phase. Although the actual cost will be realized after execution, the projective project cost needs to be confirmed at the end of FEL 3.

This paper concludes that the characteristics of cost exposure during the planning of an oil and gas project in the FEL stages must be identified and understood by the company. The company is therefore able to foresee the project risk, particularly regarding the project cost.

Keywords: Front End Loading (FEL), Project Planning, Project Cost.

Link: http://pmworldlibrary.net/authors/trian-hendro-asmoro/

Sunday, April 06, 2014

Belajar Menjadi Pengusaha Kecil Pembesaran Ayam

Sudah lebih dari satu tahun, kami (saya dan keluarga) ikut masuk dalam usaha kecil pembesaran ayam petelur di Magetan. Kami membangun kandang mulai akhir Oktober 2012 dengan kapasitas dasar 4,000 ayam dan mulai menerima bibit ayam untuk dibesarkan sejak akhir Maret 2013. Seperti yang telah saya singgung sedikit tentang landasan kuat mengapa seorang investor (muslim) harus masuk ke sektor riil, maka inilah yang saya lakukan dengan semangat terus belajar dan berusaha.
 
 
Konsep usaha pembesaran ayam ini adalah kerjasama dengan perusahaan peternakan (kami biasa menyebut koperasi). Selain pembesaran ayam petelur, ada juga pembesaran ayam pedaging yang memiliki resiko dan potensi untung yang lebih besar. Kami memilih ayam petelur tentu karena faktor resiko yang kecil mengingat ini adalah usaha riil pertama dan menyedot dana yang cukup lumayan.
 
Saya sendiri melakukan beberapa analisis tentang usaha ini di sebuah blog yang digunakan sebagai latihan proses sertifikasi CCE. Saya akan memperbarui disini sebagai sebuah pemaparan integrasi.
 
1. Prospek investasi pembesaran ayam petelur (merah) dan daging (putih) 
Analisis awal saya waktu itu terlalu optimistis dimana total modal yang dibutuhkan saat itu praktis untuk bangunan kandang , belum termasuk segala utilitas seperti sumur air (pompa besar) dan jaringan listrik yang harus mandiri, serta peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan seperti terpal, plastik penutup kandang dst. Besaran investasi untuk membangun sampai lengkap siap huni pun akhirnya menjadi hampir dua kali lipat dari estimasi awal.
 
Selain itu yang cukup berbeda adalah asumsi waktu panen dan penerimaan uang. Estimasi saya, ayam petelur yang normalnya waktu pembesaran 3 bulan plus pembersihan 1 bulan maka dalam 1 tahun kalendar akan bisa mendapatkan panen dan hasil 3 kali. Namun kenyataan yang kami alami, 1 tahun kalendar bisa 2 kali atau 3 kali dengan beberapa kondisi tergantung dari supply demand, libur lebaran dll, sehingga rata-rata dalam 2 tahun bisa 5 kali panen.
 
Karena kami tidak mempunyai pembesaran ayam daging, namun dari estimasi awal 1 tahun bisa sampai 6 kali panen (waktu pembesaran 40 hari + pembersihan sehingga total 2 bulan), sepertinya dalam kenyataan 1 tahun akan berkurang menjadi rata-rata 5 tergantung kondisi2 yang mirip diatas.
 
Namun demikian, dari 2 kali panen yang sudah kami lakukan atas 4,000 ayam petelur, tingkat imbal balik investasi masih cukup lumayan, tentu dibanding dengan bunga deposito dan bahkan pasar finansial 2013 lalu. Secara kasar, angka rata-rata masih sekitar 20% per tahun sehingga BEP sekitar 5 tahun. Terlalu lama? Menurut saya masih wajar dan normal untuk sebuah usaha sejenis. (too greedy isn't good, is it? :) )
 
2. Akuisisi kandang ayam yang sudah ada
Tawaran akusisi atas 50% bagian kandang kapasitas dasar 6,000 ayam (sehingga net 3,000 ayam) benar kami lakukan dengan harga yang cukup menarik (setelah diketahui biaya aktual pembangunan kandang 4,000 ayam). Yang menarik, metode akuisisi ini ternyata tidak hanya menarik dari sisi investor baru (pembeli), tapi juga penjual karena sama-sama memberikan nilai positif atas usaha ayam. Pengembalian yang dihasilkan berdasar pengalaman 2 kali panen ini, cukup bersaing dengan peternakan mandiri, menimbang keribetan pengelolaan ada di pemilik yang lama (pemilik 50% bagian). Jika ada tawaran akuisisi kandang ayam, selama harga wajar, ini adalah opsi menarik terutama bagi yang akan mulai usaha.
 
Saya jadi berpikir, jika model jual-beli kandang ayam saja menarik, pantas saja para private equity itu jual-beli perusahaan untuk mendapatkan nilai obyek perusahaan yang optimal.
 
3.Pilihan investasi ayam antara kandang sendiri atau akuisisi
Analisis dengan melibatkan resiko ini masih valid secara umum, dimana pembangunan kandang ayam merah masih lebih 'nyaman' dibanding ayam putih. Dan juga, pembangunan kandang ayam putih lebih menguntungkan dibanding akuisisi kandang ayam putih. Walaupun besaran valuasi nya menjadi tidak valid karena asumsi-asumsi perlu di sesuaikan dengan kondisi kenyataan yang saya paparkan diatas.
 
Walaupun skala usaha kecil-menengah, namun saya mencoba menjadikan usaha ini sebagai percobaan praktek analisis keuangan modern termasuk dalam pembiayan usaha (utang). Saya mengambil utang dan kemudian melunasi sebelum waktunya seperti yang saya tulis di blog itu, dari sisi timing sedikit meleset (di bulan ke 14) dan beberapa asumsi model tersebut juga ternyata tidak valid pada akhirnya. Mungkin saya akan menganalisis di kesempatan lain, namun akhirnya keputusan saya untuk melunasi sebelum waktunya saat itu lebih karena masih lebih murah membayar sisa utang+denda daripada membayar bunga pinjaman sampai lunas. Jika tahu denda dan sistem bank dengan lebih pasti di awal, model analisis utang dan pelunasan tersebut bisa dijadikan pengambilan keputusan pengambilan utang di kesempatan lain.
 
5. Resiko usaha
Bagian ini belum saya bahas dalam blog tersebut karena analisis keuangan harus dikedapankan untuk melihat menarik/tidaknya usaha tersebut, baru unsur yang lain termasuk resiko masuk untuk penyesuaian. Saya sendiri baru jelas resiko usaha setelah benar-benar mengalami 2 kali panen ini. Apa saja resiko-resiko usaha nya?
 
Secara garis besar utama, yang pasti kematian ayam adalah resiko terbesarnya. Kematian bisa karena penyakit atau bahkan dimakan hewan lainnya (ular dsb). Namun karena ini adalah kerjasama dengan koperasi, maka resiko kematian pun menjadi 'ditanggung bersama'. Karena ayam dan pakan ayam tidak dibeli oleh peternak, resiko peternak (pengusaha kandang) adalah biaya operasi atas pembesaran ayam tersebut. Normalnya ada alokasi ayam tambahan diatas kapasitas kandang sebagai jaga-jaga karena peternak 'diharuskan' memanen ayam sesuai dengan perjanjian (kapasitas). Alokasi ayam tambahan ini juga menjadi tanggungan peternak.
 
Selain kematian,  tentu harga jual ayam saat panen juga menentukan. Karena pembesaran ayam petelur, maka setelah sekitar 100 hari ayam akan diangkut ke kandang yang khusus untuk panen telur (peternak lain). Disini koperasi akan 'membeli' selisih harga ayam antara bibit dan besar dari peternak pembesaran ayam. Harga ini dipengaruhi oleh kondisi pasar ayam dan telur serta pakan. Namun secara prinsip, resiko ini masih bisa dikelola karena bagaimanapun ayam dan telur adalah makanan pokok yang dibutuhkan sepanjang masa.
 
 
 
 ***
Demikian paparan analisis usaha dari pengalaman pembangunan hingga pengalaman 2 kali panen yang kami lakukan. Karena cukup menariknya usaha ini, kami pun memutuskan menambah kapasitas kandang mandiri menjadi 6,000 ayam dan sudah dipergunakan untuk siklus ayam ke-3. Dalam hal ini penting untuk mempertimbangkan kebutuhan lahan dan utilitas (air, listrik dsb) di saat awal pembangunan terhadap rencana ekspansi kemudian hari seperti yang kami lakukan.
 
Buat saya pribadi, selain sebagai bisnis, saya menjadikan usaha kandang ayam ini sebagai percobaan nyata untuk mengaplikasikan manajemen keuangan yang didapatkan. Mudah-mudahan dengan demikian ilmu menjadi 'awet' dan sedikit bermanfaat bagi yang lain. Semoga usaha ini berkah dan langgeng, amin.
 

Sunday, December 15, 2013

Project Management Professional (PMP)

Sudah menjadi bagian dari target tahun ini untuk melengkapi satu sertifikasi profesional tambahan, yakni Project Management Professional (PMP) yang dikeluarkan oleh Project Management Institute (PMI).  Sertifikasi PMP ini sudah dikenal luas di kalangan praktisi Project Management (PM) di seluruh dunia. Sehingga bisa dikatakan seseorang yang sudah certified PMP akan mempunyai 'bahasa yang sama' dalam praktek PM.

Siapa yang berhak mengajukan sertifikasi PMP? Dikutip dari PMI adalah sebagai berikut:
To apply for the PMP, you need to have either:
  • A secondary degree (high school diploma, associate’s degree, or the global equivalent) with at least five years of project management experience, with 7,500 hours leading and directing projects and 35 hours of project management education.

    OR
  • A four-year degree (bachelor’s degree or the global equivalent) and at least three years of project management experience, with 4,500 hours leading and directing projects and 35 hours of project management education. 
Jika dilihat dari syarat diatas, maka minimal seseorang bisa mengajukan sertifikasi setelah sekitar 3 tahun pengalaman dalam menjalankan proyek dan juga pernah mengikuti kursus terkait PM selama 35 jam. Saya sendiri bisa dibilang 'telat' karena melebihi dari syarat minimal tersebut, apalagi sebagai praktisi yang setiap hari terkait proyek. Walaupun juga tidak bisa dikatakan terlalu telat mengingat banyak senior (tetua) praktisi PM belum pernah bersentuhan dengan dunia sertifikasi baik PMP ataupun CCE (Certified Cost Engineer)

Saya dikirim kantor untuk mengambil kelas persiapan PMP melalui training provider yang berafiliasi dengan lembaga konsultan internasional Rita Mulcahy (RMC). Training dilaksanakan pada awal Oktober 2013 selama 5 hari di Bandung yang juga bisa dijadikan syarat 35 jam training PM. Instruktur yang memberikan pelatihan dan pendampingan setelahnya adalah Mr Rashid, Malaysian yang tinggal di Singapore. Dalam training selain diberikan bahan-bahan belajar, sebuah CD simulasi soal-soal ujian PMP juga termasuk 1 hari refreshment day yang dilaksanakan beberapa hari sebelum ujian sesuai permintaan (grup). Dan yang pasti, Mr Rashid dengan sangat terbuka membantu proses belajar sampai menjelang ujian.

Seperti halnya sertifikasi PM yang lain, maka tantangan terbesar sebenarnya adalah 'mengalahkan' diri sendiri untuk disiplin belajar mempersiapkan diri ujian. Ujian nya adalah menjawab 200 soal pilihan ganda secara online selama 4 jam. Soalnya terkait dengan dunia PM yang harus dijawab sesuai dengan panduan yang diberikan PMI dalam PMBOK (Project Management Body of Knowldge). Tahu istilah saja belum cukup, karena ada studi kasus ditambah pilihan ganda yang bisa membuat lebih dari satu jawaban tampak benar.

Khusus buat saya yang sudah berpengalaman dalam ujian CCE, maka 'beban' itu menjadi semakin berat mengingat berdasar studi bahwa secara level of effort PMP lebih rendah dibanding CCE (CCE lulus, PMP masa tidak lulus :) ). Namun tetap ada rasa was-was apakah bisa lulus PMP. Menurut Mr Rashid, untuk lulus dibutuhkan 40 jam belajar. Tapi saya tidak pernah menghitungnya, satu sebabnya karena ada beban tadi. Yang pasti saya belajar dengan basis milestone dan mentargetkan 2 bulan setelah training saya akan maju dalam ujian PMP.

Di sisi yang lain, sebenarnya ada sisi positifnya saya sudah CCE karena sudah berpengalaman lebih dari 4 jam di depan komputer mengerjakan soal ujian sertifikasi. Jadi dari keberanian menjawab dan ketenangan bisa mendapat banyak pelajaran dari pengalaman sebelumnya. Akhirnya, masa belajar itulah saat untuk mengalahkan diri sendiri tersebut, dan berkomunikasi dengan Mr Rashid untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan diri sendiri dalam penguasaan skenario materi. 

**

Alhamdulillah.. Saya akhirnya lulus ujian sertifikasi pada tanggal 9 Desember 2013 lalu. Nomor ID PMP saya 1677373, artinya sudah lebih dari 1.6 juta profesional di seluruh dunia mempunyai gelar PMP sejak 1987. Jika dibandingkan CCE saya yang ber-ID 4129, maka nomor ID PMP saya sudah sangat besar. Tidak heran mengingat tahun 2012 sebanyak 90 ribu orang mendapatkan sertifikasi dari PMI (walaupun tidak semua PMP). 

Oiya, saya artinya juga berhak menyandang credential PMP di belakang nama saya setelah sebelumnya CCE. Saya tidak tahu pasti bagaimana aturan penyebutan gelar secara urut di belakang nama. Yang pasti jika disebutkan semua credentials baik pendidikan formal maupun sertifikasi, maka nama lengkap profesional saya menjadi Trian Hendro Asmoro, ST, MM, CCE, PMP. 

Selain bersyukur, saya berusaha menyadari bahwa mendapatkan gelar atau sertifikasi bukanlah tujuan akhir, tapi merupakan awal untuk melakukan hal bermanfaat yang lebih banyak lagi. Dan yang pasti, belajar itu sepanjang hayat, jadi mari tidak lekas puas dengan apa yang kita tahu hari ini.

Finally, saatnya move on... :)

Wednesday, September 04, 2013

Finance: Dasar Laporan Keuangan

Saya mengenal dasar-dasar akuntansi (kalau tidak salah) ketika kelas 2 SMA, dimana saat itu penjurusan baru dimulai di kelas 3 SMA. Yang saya ingat buruknya, saya tidak terlalu memhami logika yang dipakai dalam Jurnal Penyesuaian karena logika yang digunakan terbalik dari dunia normal yang biasa dipahami. Namun baiknya, nilai akuntansi saya dalam 1 tahun itu konsisten angka 9. Meskipun kelas 3 memilih jurusan IPA, perihal akuntansi dan keuangan buat saya selalu menarik dan kemudian mengantarkan saya masuk Teknik Industri.
 
Berikutnya di bangku kuliah, mendapatkan mata kuliah tentang dasar-dasar akuntansi dan keuangan, namun tidak semudah pemahaman di sekolah, nilai di kuliah malah jeblok, seingat saya hanya C. Namun, dalam mata kuliah yang sangat menarik, Ekonomi Teknik, nilai saya maksimal, yaitu A. Saya menyimpulkan bahwa akuntansi dan keuangan jika dalam hal definisi dan detail, saya pasti kewalahan. Tetapi dalam analisis dan aplikasi, buat saya lebih mudah dipahami karena masuk akal.

Saya kemudian mendapatkan perihal laporan keuangan di sekolah pasca sarjana sebanyak dua kali dalam kuliah; Principles of Business Operation dan Mergers & Acquisitions. Dan karena lebih ke arah aplikasi, maka saya menyukainya. Begitu pula dalam proses sertifikasi CCE, yang sangat kental dengan engineering economy

Menurut saya Dasar Laporan Keuangan adalah ilmu aplikatif yang harus dipahami oleh banyak orang, tidak hanya orang akuntan atau keuangan saja. Apalagi buat usahawan yang harus membangun usaha sendiri atau buat para investor, sangat penting mengetahui laporan keuangan dan menggunakannya. Tidak perlu sangat detail karena itu wilayah akuntan, namun bagaimana memahami struktur berpikirnya.
 
Mari kita lihat, bagaimana laporan keuangan dibangun dan digunakan.
 
Laporan keuangan (Financial Statements) terdiri atas tiga laporan utama, yakni Laporan Arus Kas (Cashflow), Laporan Laba Rugi (Profit/Loss), dan Laporan Neraca (Balance Sheet).
 
Hubungan antara ketiganya digambarkan dengan baik dalam bagan di bawah ini.

Menggunakan contoh seseorang yang memulai usaha, maka skema di atas bisa dijelaskan sebagai berikut.

Balance Sheet (BS)
Dalam membuka usaha pasti membutuhkan modal dimana modal (capital) tersebut terdiri atas dana pemilik (equity) dan utang (liabilities). Modal tersebut digunakan untuk membeli aset yang  digunakan usaha, termasuk membiayai jalannya usaha dengan menggunakan kas dari setoran modal.

Ketiga komponen tersebut (asset, liabilities, equity) bisa terdiri atas berbagai jenis. Misalnya, aset bisa terdiri atas kas, tabungan, bangunan, mesin dan piutang usaha (receivables, utang pihak lain kepada kita). utang bisa terdiri atas utang bank, utang usaha (payable, utang kita ke pihak lain) dan obligasi. Sedangkan ekuitas terdiri atas modal disetor dan laba ditahan dari Laba/Rugi yang tidak dibagikan ke pemilik. 

BS ini ibarat badan bagi usaha atau perusahaan yang menggambarkan kondisi perusahaan tersebut.

Profit/Loss (P/L)
Laporan laba rugi mencatat bagaimana mencetak laba dari penjualan produk/jasa. Komponen utamanya adalah Pendapatan (Revenues) yang didapat dari penjualan produk/jasa, Biaya Produksi (Cost of Goods Sold, COGS), Biaya Operasi (Operating Expenditure, OPEX), Biaya non Operasi (Non-Opex) dan Pajak (Tax).

Terdapat beberapa terminologi dalam P/L yaitu; (penjelasan bisa mengacu pada skema contoh)
a. Gross Income/Profit
b. Operating Profit
c. Earning Before Interest, Tax, Depreciation & Amortization (EBITDA)
d. Earning Before Interest & Tax (EBIT)
e. Earning Before Tax (EBT)
f. Net Income (NI)

Bagi perusahaan, P/L ini ibarat kerja yang harus dilakukan untuk bisa makan sehingga bisa menghasilkan energi bagi badan. 

Cashflow (CF)
Laporan arus kas ini mencatat setiap perubahan kas yang didapat dan digunakan dari dan untuk operasi perusahaan, misalnya penjualan barang, pembelian bahan, pembayaran gaji dan lain-lain. Kas dibagi dalam tiga kategori yakni; kas dari operasi (operating), kas dari investasi (investing), dan kas dari pembiayaan (financing).

Dari fungsinya, jelas bahwa tidak boleh ada kas negatif dalam perusahaan karena akan menghentikan operasi perusahaan. Perusahaan bisa aktivitas nya negatif alias merugi, atau banyak luka dalam badannya alias banyak utang, namun perusahaan harus tetap punya kas jika ingin tetap hidup.
Bagi perusahaan, CF ini ibarat darah yang harus ada dan mengalir dalam tubuh perusahaan.

Untuk memudahkan pemahaman, di bawah ini contoh dan hubungan ketiga laporan diatas. Jika BS dan P/L dibuat secara periodik (biasanya per-kuartal/empat bulan), maka secara praktis CF dibuat setiap waktu karena alasan harus tetap ada kas tadi.

Melihat contoh diatas, tidak serumit yang dibayangkan bukan. Tentu komponen dalam BS, P/L dan CF bisa tidak serumit atau sesimpel diatas, namun struktur berpikir nya akan tetap sama. Untuk yang baru memulai usaha, tidak perlu akuntan khusus untuk mencatat dan menyusun laporan diatas.

Saya sendiri masih belum tahu bagaimana  hubungan Jurnal Penyesuaian yang logika terbalik-terbalik itu dengan laporang keuangan diatas, tapi saya tebak bahwa Penyesuaian terkait dengan CF yang nanti muncul di BS (??). 

Selain ketiga laporan diatas, ada juga yang menyertakan Catatan (Notes) sebagai komponen keempat laporan keuangan. Dalam catatan terdapat beberapa penjelasan berkaitan dengan laporan keuangan karena ada kejadian-kejadian istimewa, misal penjualan aset, pergantian kepemilikan dsb.

Namun untuk praktis memulai dan menjalankan usaha, belajar membuat ketiga laporan keuangan diatas sudah lebih dari cukup. Selanjutnya, kita bisa melakukan beberapa analisa dan rekayasa terkait kinerja usaha (perusahaan) yang ditampilkan dalam laporan keuangan.


Credit: Business Finance for Executives, Bima P. Sentosa, 2011