Sunday, April 05, 2020

Pertimbangan memilih Platform Investasi

Platform yang menawarkan channel  (saluran) untuk berinvestasi ke real projects dari pelaku usaha (biasa platform menyebut mitra) cukup banyak di Indonesia. Sektor nya juga sudah beragam, diantaranya jasa, manufaktur, perdagangan atau pertanian. Bahkan terdapat platform yang menawarkan investasi kepemilikan usaha secara jangka panjang, atau yang tidak bersifat proyek (ada jangka waktu).

Pertimbangan apa saja yang perlu investor lakukan untuk memilih platform investasi? Diantara beberapa poin yang bisa dilihat sebagai berikut;

1. Menjalankan fungsi pendampingan mitra, tidak hanya menjalankan fungsi intermediasi antara investor dan mitra. Hal ini karena beberapa platform fokus sebagai intermediator (perantara) dalam menyalurkan investasi dari investor ke mitra usaha. Proses bisnis inti investasi adalah mencetak profit (sehingga bisa dibagikan ke investor) dan itu adanya di mitra usaha, bukan di platform. Platform 'hanya' sebagai enabler (pemacu) awal, bukan proses mencetak profit. Sehingga proses pendampingan mitra untuk memastikan usaha berada di jalur tepat menjadi penting.

Bagaimana melihat platform melakukan pendampingan? Bukan dari campaign yang diklaim, tapi sederhana nya dari laporan usaha yang dikirimkan secara rutin dari mitra ke platform yang diteruskan ke para investor. Dengan laporan menunjukan proses bisnis platform berjalan setelah tahap investasi dengan melakukan monitoring atas kondisi usaha. Dengan laporan pula potensi kondisi yang tidak diinginkan (misal usaha tidak berjalan sesuai rencana) bisa diidentifikasi lebih awal untuk dilakukan mitigasi. Bukan hanya laporan akhir di periode investasi yang investor kemudian baru tahu kondisi usaha dan akhirnya realised ROI nya (yang biasanya cenderung di bawah expected ROI). 

Apakah ada platform yang tidak rutin mengirimkan laporan kepada investor? Cukup banyak. Diantara alasan karena jumlah mitra yang sangat (terlalu) banyak sehingga handling management cost menjadi cukup tinggi. Jika untuk laporan saja tidak bisa dikirimkan, bagaimana investor bisa menaruh kepercayaan lebih kepada platform tersebut untuk menjalankan misi investasi nya? 

2. Fokus dalam fungsi di sektor atau bidang tertentu. Sektor atau bidang usaha tertentu menjadi penting karena setiap bidang sektor mempunyai karakteristik berbeda. Meskipun dalam satu sektor seringkali mempunyai sub-sektor turunan yang terus berkembang, fokus ke sektor tertentu membantu platform mengelola fungsi pengembangan dan operasional platform termasuk pendampingan usaha yang menjadi ujung tombaknya. 

Namun, kebutuhan menjalankan operasional dan pengembangan platform investasi cukup besar. Dengan kebutuhan dana yang cukup besar, tidak heran jika platform harus mengejar dana kelola untuk semakin besar dengan menggaet mitra usaha sebanyaknya. Berbagai jenis usaha (meskipun masih ada sektor keterkaitan) yang dikelola oleh pihak berbeda ditampilkan dalam platform.

Sebenarnya, sepanjang tim manajemen platform bisa mengelola beragam usaha dan pihak mitra tersebut, beragam jenis usaha tidak menjadi isu. Namun biasanya, aktivitas yang seharusnya lebih fokus dijalankan yakni pendamping mitra menjadi terabaikan. Memang hal tersebut menjadi tantangan banyak platform yang beroperasi saat ini, dan beberapa platform akhirnya tidak bisa bertahan mengelola tantangan tersebut.   

3. Izin dari otoritas (OJK). Izin seringkali menjadi alasan utama seorang investor menginvestasikan dana-nya di platform investasi. Namun, adanya izin otoritas secara alami tidak menjamin bebas resiko investasi di platform tersebut. Secara prinsip, izin bisa dikatakan mengurangi resiko dalam hal ketika terjadi hal diluar rencana usaha karena faktor kelalaian pengelola (platform atau mitra), pelaporan bisa dilakukan ke otoritas tersebut untuk ditindaklanjuti.

Sekali lagi, setiap investasi mempunyai resiko investasi masing-masing. Dan ketika ada kondisi ketidaksesuaian investasi karena pengaruh resiko usaha itu sendiri, pihak otoritas lebih sebagai penengah para pihak yang mungkin bersengketa, bukan sebagai penjamin atas investasi tersebut. Oleh karena itu, hal utama selain perizinan sebenarnya adalah fokus ke tujuan investasi sesuai kebutuhan dari investor.

4. Memenuhi tujuan investasi dari investor. Misalnya tujuan utama investasi seperti dalam bahasan sebelumnya untuk mendapatkan ROI diatas 12% pa dan CAGR diatas 12% dalam jangka panjang. Artinya, platform investasi sebagai 'investment manager' harus membantu investor untuk memenuhi tujuan tersebut.  Sebuah platform harus menyediakan beragam jenis investasi usaha dan durasi pencairan hasil investasi, serta resiko usaha yang terkelola. Prinsip usaha yang muncul haruslah yang jelas dan terpercaya (trusted), penuh pengalaman (experience), memenuhi kebutuhan (fit-in), mampu menghasilkan (worthy), dan untuk bisa berdampak ke komunitas(impactful).

5. Fungsional engine platform. Secara ideal, platform investasi bisa menjadi semacam Manajer Investasi (Investment Manager) bagi para investor. Dana yang ditambahkan secara periodik, hasil investasi dan dana yang diambil dengan menggunakan akun investor bisa dilihat dan dianalisa bagaimana kinerja investasi baik secara ROI ataupun CAGR untuk mendapatkan tujuan investasi.

Namun demikian, membangun platform dilakukan dalam waktu cukup lama dan tidak sedikit dana yang harus dikeluarkan. Oleh karena itu, proses pembangunan sebuah sistem platform dilakukan bertahap sesuai prioritas dan pastinya ketersediaan dana. Engine meskipun sangat mendasar dan dibutuhkan dalam proses intermediasi, bagaimanapun adalah alat (tool) untuk membantu pencapaian utama dalam mendukung pelaku usaha. Jangan sampai, seperti disebut sebelumnya, fungsi pendampingan mitra dan fokus bisnis menjadi berkurang.

Dengan kondisi demikian, kondisi ideal mungkin tidak akan dicapai dalam waktu singkat. Selama fungsi-fungsi dasar platform untuk melakukan investasi dan monitoring termasuk kebutuhan mobile apps, maka fungsi awal platform sudah mencukupi. Dari sisi yang lain, dibutuhkan dukungan dari investor untuk tetap berinvestasi di sebuah platform yang mempunyai misi memenuhi kebutuhan investor dan pelaku usaha (mitra) sehingga pengembangan platform menuju ideal terus berjalan.

Mengapa tidak ada aspek aman dalam lima pertimbangan diatas?

Secara empiris, manusia umunya lebih dominan takut akan hilangnya investasi dibandingkan hasil investasi yang didapatkan. Oleh karena itu, mengoptimalkan pencapaian ROI di tengah tantangan resiko usaha harus bisa dijalankan sebuah platform melalui proses bisnis nya.  Pada dasarnya aman adalah perasaan yang ditimbulkan ketika hal-hal lain yang menyebabkan timbulnya ketakutan bisa dijawab atau dikelola.

Dengan pertimbangan dan prinsip usaha diatas, rasa aman akan muncul dengan sendiri nya. Dan seiring waktu berjalan dengan pembuktian kinerja usaha untuk mencetak hasil investasi (realised ROI), rasa aman akan semakin kuat. Dan begitu pula sebaliknya. Sehingga, lima pertimbangan dan lima prinsip usaha diatas sangat layak untuk diterapkan untuk mulai membangun pondasi rasa aman dari awal investasi. 

Terakhir, menentukan misi investasi sebagai investor adalah penting, dan investasi bukan hanya tentang ROI (Return on Investment) dan CAGR (Cumulative Annual Growth Rate). Investasi (hidup) juga tentang kontribusi menuju manfaat keseluruhan yang lebih besar (impactful) sehingga terdapat nilai ekstra dari 'sekedar' nilai ROI dan CAGR yang didapat. Dan sebuah platform sudah seyogyanya akan membantu anda menjalankan misi investasi tersebut.

Selamat memilih platform investasi anda!


---
Tulisan 1: The power of compounding ROI
Tulisan 2: Mendapatkan CAGR diatas 12% per tahun
Tulisan 3: Memilih Investasi Proyek ROI diatas 12% per tahun
Tulisan 4: Platform Investasi untuk membangun CAGR
Tulisan 5: Pertimbangan memilih Platform Investasi

Saturday, April 04, 2020

Platform Investasi untuk membangun CAGR

CAGR (Cumulative Annual Growth Rate) 12% secara compounding (berlipat) dalam waktu 10 tahun mampu menghasilkan 100 nilai investasi di tahun ke-0 menjadi lebih dari 300 di tahun ke-10. Investasi dalam real projects dalam bidang menyangkut hajat hidup orang banyak seperti dalam sektor farming berpotensi besar bisa konsisten menghasilkan ROI (Return on Investment) 12% pa (per tahun). Sehingga, investasi bisa digerakan untuk mendorong produksi pangan secara lokal yang bertujuan besar mencapai kemandirian pangan ke depan.

Dari sisi investor, CAGR setara atau diatas 12% dalam jangka panjang akan memberikan keuntungan ganda, memberikan ROI per tahun yang cenderung konsisten dengan nilai kumulatif yang lebih terjaga dalam jangka panjang. Investasi di real projects di sektor farming juga berkontribusi langsung kepada para petani/peternak dalam pemenuhan pangan lokal.

Secara resiko investasi, usaha farming umumnya mempunyai tingkat resiko menengah tinggi karena terkait dengan makhluk hidup yang bisa terkena penyakit atau kematian. Diantara untuk menurunkan resiko, faktor pengalaman jam terbang petani/peternak menjadi kunci. Modern farming yang menggunakan kombinasi pendekatan praktis (teknologi), manajemen dan keuangan sehingga mampu mengelola resiko secara optimal. Pengalaman track record  usaha dalam menghasilkan arus kas usaha yang kuat (tidak hanya bergantung ke satu sumber arus kas secara periodik) menjadi faktor lain untuk menurunkan resiko usaha farming sehingga bisa menjadi tingkat resiko menengah-bawah.

Dengan berbagai kebutuhan investor diatas, maka sebuah platform investasi bidang farming diperlukan untuk membantu para investors menjalankan misi investasi nya, yaitu dengan beberapa prinsip utama: terpercaya (trusted), pengalaman (experience), sesuai kebutuhan (fit-in), menghasilkan (worthy), dan berdampak (impactful).

Farmigo
Tujuan utama untuk mendapatkan CAGR diatas 12% secara jangka panjang bisa dimonitor dengan adanya platform investasi tersebut. Dana yang ditambahkan secara periodik, hasil investasi dan dana yang diambil dengan menggunakan akun investor bisa dilihat dan dianalisa bagaimana kinerja investasi baik secara ROI ataupun CAGR. Sehingga, sebuah platform investasi bisa menjadi semacam Manajer Investasi (Investment Manager) bagi para investor.

Dengan demikian, teknologi keuangan (financial technology) berperan ganda untuk menjalankan fungsi nya menjadi jembatan antara kebutuhan investor akan keamanan dan hasil investasi nya serta kebutuhan pelaku usaha (petani/peternak) untuk mendapatkan dukungan langsung dari pemberi dana non-bank.

Ke depan, penggunaan platform keuangan juga bisa didorong untuk memenuhi kebutuhan pelaku usaha dalam membantu menjalankan usaha nya secara lebih optimal. Peran penggunaan data operasi dan keuangan pelaku usaha menjadi meningkat sehingga semakin memudahkan analisa untuk pengembangaan usaha yang bisa didukung oleh para investor melalui platform tersebut. Lebih jauh lagi, sebuah platform juga bisa didorong dalam kerangka financial services baik dari sisi investor maupun pelaku usaha.

Berikutnya. dengan semakin banyak platform investasi bidang farming yang menawarkan beberapa fungsi diatas, bagaimana cara praktis memilih platform investasi yang akan digunakan? 

---
Tulisan 1: The power of compounding ROI
Tulisan 2: Mendapatkan CAGR diatas 12% per tahun
Tulisan 3: Memilih Investasi Proyek ROI diatas 12% per tahun
Tulisan 4: Platform Investasi untuk membangun CAGR
Tulisan 5: Pertimbangan memilih Platform Investasi

Sunday, March 29, 2020

Memilih Investasi Proyek ROI diatas 12% per tahun

Dua tulisan sebelumnya sudah menjelaskan bagaimana kekuatan compounding ROI  (Return on Investment) dan strategi penerapannya untuk mendapatkan CAGR (Cumulative Annual Growth Ratesecara konsisten dalam jangka waktu yang cukup lama. Pendekatan tersebut sebenarnya bisa diterapkan untuk berbagai macam jenis investasi mulai obligasi, saham, tanah/properti, emas, dan usaha. 

Karakter investasi yang paling cocok untuk penerapan strategi compounding ROI tersebut adalah yang bisa menghasilkan imbal hasil secara rutin dengan ROI yang cenderung konsisten. Kemudian, pertimbangan apa saja yang bisa digunakan untuk memilih investasi usaha (proyek) dengan expected ROI diatas 12% pa. Sekarang mari kita lihat sekilas setiap pilihan investasi diatas. 

Saham belum tentu menghasilkan dividen rutin, dan dengan rentang expected ROI yang tinggi antara profit atau loss sehingga mempunyai resiko perubahan ROI tinggi. Tanah/properti, imbal hasil dan ROI cenderung tidak konsisten dan reguler, meskipun dengan berpotensi mencapatkan realised ROI tinggi ketika asset dijual. 

Untuk emas cenderung sebagai lindung nilai, tidak mampu memberikan imbal hasil rutin. Sedangkan obligasi dengan resiko cukup rendah (SUN/SR dikeluarkan negara: free-risk) mempunyai imbal hasil dan ROI rutin serta konsisten, namun realised ROI rendah menyesuaikan resiko investasi yang rendah juga. 


Investasi usaha berpotensi mendapatkan imbal hasil secara rutin dan ROI secara konsisten, sehingga sesuai untuk penerapan strategi compounding ROI untuk mendapatkaan konsisten CAGR dalam jangka panjang. Secara resiko, setiap usaha pasti mempunyai resiko dan tugas seorang investor dan sistem yaang membantu untuk menganalisis serta memantau usaha tersebut.     

Pertanyaannya, apakah secara nyata model investasi usaha dengan karakter sesuai strategi tersebut ada dan aman? 


Banyak platform investasi sekarang menawarkan model investasi usaha (proyek) dengan karakter imbal hasil rutin (kuartal. semester atau tahun) dan rentang expected ROI yang konsisten selama periode investasi. Jenis usaha bermacam-macam mulai dari jasa, manufaktur, perdagangan atau pertanian. 


Sayangnya, investasi usaha di bidang pertanian termasuk diantaranya peternakan, perkebunan dan perikanan seringkali dihindari para investor karena menghadapi resiko kematian hewan/tanaman. Namun secara resiko makro ekonomi, usaha pertanian adalah usaha yang dibutuhkan sepanjang waktu karena terkait pemenuhan hajat hidup orang banyak. 

Tantangan untuk mendorong para investor terjun di usaha pertanian adalah memberikan pilihan investasi pertanian yang aman dengan resiko yang terkendali. Dengan semakin banyak skema investasi usaha pertanian yang ditawarkan, beberapa hal penting berikut layak untuk menjadi pertimbangan untuk memilih investasi usaha (proyek) dengan expected ROI diatas 12% pa.  

1. Terpercaya; jelas profil usaha dan pengusaha (petani) nya, termasuk rencana penggunaan dana dari investor untuk menjalankan usaha, manajemen resiko usaha serta transparansi laporan. 

2. Pengalaman; selama bertahun-tahun harus terbukti menjalani usaha tersebut secara nyata, baru kemudian mengundang para investor untuk  bergabung mengembangkan usaha. 

3. Sesuai kebutuhan; bisa memenuhi kebutuhan investasi dalam jangka pendek, menengah atau panjang. Dalam hal ini, mampu memberikan imbal hasil secara rutin setiap 3-6 bulan. 

4. Menghasilkan; usaha harus mempunyai arus kas operasi (sumber pandapatan) yang kuat, untuk mampu membiayai usaha dan membayar imbal hasil kepada investor sesuai expected ROI.  

5. Berdampak; manusia sebagai mahluk sosial, maka investasi juga mampu memberi dampak sosial-ekonomi masyarakat sekitar usaha mulai dari lapangan kerja hingga pemenuhan kebutuhan lokal. 

Adanya beberapa platform investasi bidang pertanian seperti yang dijalankan oleh Farmigo, bisa membantu para investor memilih berbagai jenis investasi usaha pertanian dengan pertimbangaan diatas. Dimana, tujuan investasi untuk bisa menghasilkan imbal hasil secara rutin dengan ROI diatas 12% pa, ditambah  dengan strategi compounding ROI sehingga bisa menghasilkan CAGR diatas 12% dalam jangka waktu yang cukup lama.

Melanjutkan dari simulasi compounding ROI dari berbagai proyek di tulisan sebelumnya, jika durasi investasi ditambah menjadi 4 tahun, maka didapatkan hasil sebagaimaana tabel berikut. 


Hasilnya tetap konsisten untuk bisa memberikan CAGR diatas 12%, dan dengan porsi hasil usaha yang belum di-investasi-kan lebih besar dibanding periode 3 tahun, yaitu 65.15 (16.3% dari 400), dimana secara total investasi menghasilkan 208.1 atau ROI 52% selama 4 tahun. Jika pola diteruskan hingga tahun ke-10 dengan expected ROI 12% pa, maka target meningkatkan nilai investasi 3x (investasi 100 menjadi 300) bisa tercapai dengan CAGR konsisten diatas 12%. 

Berikutnya, apakah pola investasi diatas memungkinkan dijalankan tanpa adanya bantuan sebuah mesin platform investasi? 

---
Tulisan 1: The power of compounding ROI
Tulisan 2: Mendapatkan CAGR diatas 12% per tahun
Tulisan 3: Memilih Investasi Proyek ROI diatas 12% per tahun
Tulisan 4: Platform Investasi untuk membangun CAGR
Tulisan 5: Pertimbangan memilih Platform Investasi

Mendapatkan CAGR diatas 12% per tahun

Dalam tulisan the power of compounding ROI (Return on Investment) disebutkan cara memanfaatkan compounding ROI adalah dengan menggunakan realisasi ROI untuk investasi kembali. Sehingga ROI tersebut akan berulang kembali atau menggulung (rolling) secara terus menerus. Dengan demikian, harapannya CAGR (Cumulative Annual Growth Rate) akan terbentuk secara konsisten dalam jangka waktu yang cukup lama.

Jadi bagaimana strategi investasi yang bisa dilakukan mendapatkan CAGR konsisten 12-15% pa selama periode yang cukup panjang misalnya 10 tahun.


Pertama, mari kita lihat kembali tabel compounding ROI berbagai tingkat ROI.  Kemudian khusus untuk ROI 12% dan 15% sebagai simulasi, durasi compounding nya dibedakan menjadi 2, yaitu ada yang compounding setiap tahun, dan ada yang compounding setiap enam bulan (0.5 tahun) sekali seperti di bawah (klik untuk memperbesar).


Dari tabel diatas kita bisa lihat bahwa jenis investasi dengan tipe compounding kurang dari 1 tahun sekali memberikan nilai expected ROI lebih besar secara jangka panjang dibandingkan jenis investasi yang mempunyai tipe compounding dalam per tahun. Artinya, investor yang mendapatkan hasil investasi lebih sering dan kemudian diinvestasikan kembali dengan expected ROI yang sama, mempunyai peluang mendapatkan realised ROI total lebih baik dibanding investor yang hanya mendapat hasil investasi setiap tahun meski dengan expected ROI yang sama. 

Sekarang dengan skala yang lebih pendek yakni 3 tahun, dan dilakukan perbandingan compunding antara setiap tahun dan setiap 3 bulan (kuartal) sekali. Dan hasilnya seperti dalam tabel di bawah, meski durasi hanya 3 tahun, compounding per kuartal memberikan ROI yang lebih baik dibanding compounding per tahun.     


Lalu bagaimana menjalankan pola men-investasi-kan kembali hasil investasi setidaknya dengan expected ROI yang sama untuk mendapatkan realised ROI yang lebih baik?

Dalam durasi 3 tahun, akan dilakukan investasi setiap kuartal ke 9 proyek yang mempunyai karakter pembayaran bagi hasil 3-6 bulan sekali. Total investasi 400 dimana 2 tahun pertama adalah periode investasi dengan asumsi expected ROI 12% pa. Semua hasil investasi di 2 tahun pertama tersebut akan di-investasi-kan kembali dengan expected ROI sama 12% pa. Dengan demikian, 388 dibutuhkan di tahun pertama dan 12 di tahun kedua untuk memenuhi dana investasi 400 sebagai budget. Simulasinya bisa dilihat dalam tabel di bawah.   


Hasilnya dengan hanya menggunakan durasi 3 tahun sebagai cut-off period;
1. Total expected return sebesar 140.8 atau ROI 35.2% atas total investasi 400.

2. Durasi investasi secara tertimbang (weighted average) sekitar 2.6 tahun, karena ada investasi dilakukan selama 9 kuartal atau 2 tahun pertama dengan bobot berbeda setiap kuartal nya.

3. CAGR dalam 3 tahun tersebut diatas 12%.

4. Dari 140.8 return tersebut, sebanyak 57.9 (14.5%) tidak di-investasi-kan kembali yaitu hasil investasi:
- tahun ke-2.25: 6.61 (1.7% dari 400)
- tahun ke-2.5  : 22.36 (5.6% dari 400)
- tahun ke-2.75: 6.61 (1.7%)
- tahun ke-3     : 22.36 (5.6%)

5. Jika hasil 57.9 tersebut di-investasi-kan kembali, maka expected ROI dan CAGR akan meningkat meskipun dengan durasi investasi keseluruhan yang bertambah.

6. Jika sebagian hasil 57.9 tersebut sebagian dinikmati sebagai hasil usaha (misal 1-3% dari total saldo dana per tahun secara rutin), dan sisanya di-investasi-kan kembali dengan expected ROI yang sama, maka expected ROI dan CAGR tetap bisa diatas 12% dengan tambahan durasi investasi keseluruhan. Apalagi dengan expected ROI investasi baru diatas 12%.

Dengan pola investasi yang seperti ini, dari simulasi diatas menunjukan bahwa mendapatkan CAGR secara konsisten diatas 12% dalam jangka panjang bisa dilakukan melalui investasi dengan expected ROI 12% yang membagikan imbal hasil setiap 3-6 bulan. Selain itu, investor juga bisa mendapatkan hasil usaha layaknya dividen atas saham perusahaan secara reguler setiap tahun. Kuncinya adalah disiplin dalam mengatur dan memantau investasi tersebut, setelah yang utama secara selektif memilih usaha (proyek) sebagai tujuan investasi.

Selanjutnya, apakah secara nyata model investasi dengan karakter sesuai simulasi tersebut ada dan aman? Tulisan berikutnya akan membahas hal tersebut, sekaligus mendiskusikan pertimbangan apa saja yang bisa digunakan untuk memilih investasi usaha (proyek) yang mempunyai expected ROI diatas 12% pa.

---
Tulisan 1: The power of compounding ROI
Tulisan 2: Mendapatkan CAGR diatas 12% per tahun
Tulisan 3: Memilih Investasi Proyek ROI diatas 12% per tahun
Tulisan 4: Platform Investasi untuk membangun CAGR
Tulisan 5: Pertimbangan memilih Platform Investasi

Saturday, March 28, 2020

The power of compounding ROI

Return of Investment (ROI) secara sederhana adalah sebuah tingkat pengembalian dari sebuah investasi dalam periode tertentu, yang biasanya dinyatakan dalam per tahun atau per annum (pa). ROI bisa dibagi dalam expected dan realised ROI. Expected ROI (ROI harapan) adalah sebuah proyeksi ROI atas sebuah investasi, artinya masih bisa naik ataupun turun karena belum menjadi kenyataan. Sedangkan realised ROI (ROI realisasi) sudah tentu adalah ROI yang berhasil dicapai oleh investasi tersebut.

Setiap jenis investasi mempunyai ROI berbeda-beda yang seringkali tergantung dari tingkat resiko. Secara umum, semakin sebuah investasi beresiko, maka semakin besar ROI harapan nya. Sebaliknya semakin kecil resiko sebuah investasi, harapan ROI juga semakin kecil.

Misalnya, membeli Surat Utang Negara (SUN) atau Sukuk Ritel (SR) yang dikeluarga negaraa adalah jenis investasi yang sangat kecil resiko bangkrut (dikenal free risk) atau gagal bayar dari Negara yang diwakili Pemerintah. SUN/SR Indonesia di 2020 ini rata-rata memberikan ROI 6-7% pa sebelum dipotong pajak 20%. Dengan ROI realisasi demikian (setara bunga/marjin deposito), maka praktis imbal hasilnya hanya tipis melawan inflasi tahunan Indonesia (sekitar 4-5%).  Tapi dengan free risk tersebut dan dengan nilai kapital yang besar, banyak institusi keuangan dan individu kaya di semua negara menaruh dana nya dalam model SUN/SR tersebut. 

Ada juga Surat Utang (Obligasi) yang dikeluarkan sebuah perusahaan, dengan ROI diatas SUN/SR misalnya 8-10% pa, biasanya tergantung tingkat rating (risiko) perusahaan tersebut yang dikeluarkaan oleh perusahaan pemberi rating (contoh Pefindo yang diakui secara nasional). Sebuah investasi diluar itu, rata-rata memberikan ROI sama atau diatas 10% pa tergantung dari cara investasi tersebut mendistribusikan ROI realisasi, misalnya secara bulanan, kuartal, semester atau tahunan. 

Mengapa ROI menjadi penting dan bagaimana dampak ROI yang terjadi berulang (compounding)?

ROI penting karena menentukan nilai uang hari ini di masa mendatang. Seperti dalam contoh diatas, dengan ROI yang tipis melawan investasi, maka nilai uang di masa mendatang tidak jauh berbeda dari nilai uang sekarang. Dengan asumsi realisasi ROI nya tidak digunakan untuk konsumsi (habis), alias realisasi ROI terus digunakan untuk investasi kembali. Jika realisasi ROI digunakan untuk konsumsi, maka modal (pokok) investasi tetap dan secara nilai akan berkurang tergerus inflasi di masa mendatang.

Dengan realisasi ROI digunakan untuk investasi kembali, maka ROI tersebut akan berulang kembali atau menggulung (rolling) atau dikenal dengan istilah compounding. Gambaran dari compounding ROI bisa dilihat dalam tabel dan gambar di bawah.



Dalam 10 tahun, compounding ROI bisa membuat nilai 100 uang di tahun-0 menjadi 162 jika realised ROI terus menerus 5%, dan hingga menjadi nilai 931 (9.3x) jika realised ROI terus menerus 25% selama 10 tahun. Rata-rata ROI yang compounding setelah sekian periode disebut juga CAGR (cumulative annual growth rate).

Apakah ada sebuah investasi dengan CAGR 25%  selama 10 tahun? Jawaban nya sangat sulit didapat jenis investasi dengan CAGR konsisten di atas 20% dengan periode cukup lama sampai 10 tahun. Investasi di bursa saham (pasar modal) yang cukup menjanjikan secara expected ROI dan tentu saja dengan resiko adanya market crash hampir di dalam periode 10 tahun tersebut karena resesi atau krisis ekonomi dsb.


Data dari IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) diatas menggambarkan bahwa CAGR tertinggi IHSG adalah periode 2008 (crash keuangan karena subprime mortgage) hingga 2018 dengan CAGR 18.6%, dan turun CAGR 14.8% kalau ditarik terus sampai Jan 2020 sebelum IHSG mulai mengalami tren turun. Memang akan ada investor dengan CAGR investasi diatas CAGR IHSG selama jangka waktu tertentu (setelah ditambahkan dividen usaha yang belum tentu ada setiap tahun atau yang CAGR saham nya konsisten diatas IHSG), namun sebaliknya juga akan ada yang di bawah CAGR IHSG. Untuk jangka yang cukup lama misal 10 tahun, sangat jarang (sedikit sekali) investor saham pasar modal yang konsisten CAGR diatas 20%.

Kalau melihat bahwa dengan CAGR konsisten di 12-15% selama 10 tahun, masih bisa membuat nilai 100 di tahun-0 berpotensi menjadi 300 (3x) hingga 400 (4x) di tahun-10, maka cukup banyak peluang investasi di Indonesia dengan expected ROI 12-15% pa, dan tentu dengan profil resiko investasi yang medium, tidak serendah risk-free dan tidak setinggi saham pasar modal. Mendapatkan nilai 3x bahkan 4x memang tidak setinggi 6-9x, namun dengan kepastian yang lebih tinggi, sehingga nilai 3x-4x dalam 10 tahun adalah realised ROI yang sudah cukup menggembirakan.

Tulisan berikutnya, bagaimana strategi mendapatkan CAGR konsisten diatas 12% pa selama periode yang cukup panjang misalnya 10 tahun, dilanjutkan dengan beberapa pertimbangan yang bisa digunakan untuk memilih investasi yang expected ROI diatas 12% pa.

---
Tulisan 1: The power of compounding ROI
Tulisan 2: Mendapatkan CAGR diatas 12% per tahun
Tulisan 3: Memilih Investasi Proyek ROI diatas 12% per tahun
Tulisan 4: Platform Investasi untuk membangun CAGR
Tulisan 5: Pertimbangan memilih Platform Investasi