Friday, January 23, 2015

Supply-Demand dan Pergerakan Harga Minyak

Seperti yang dibahas dalam tulisan tentang penyebab yang mempengaruhi harga minyak, faktor supply-demand adalah faktor yang paling mendasar dalam mempengaruhi harga minyak. Geopolitik karena kondisi politik produsen minyak (timur tengah) berujung pada kepastian supply, sedangkan paper oil market hanya mempengaruhi secara jangka pendek (short-run) lebih karena sentimen pasar dan aktivitas. Pengguna minyak yang riil dari industri sampai konsumen retail lah yang mempengaruhi demand sesungguhnya dari minyak.

Kurva supply-demand secara sederhana digambarkan dalam grafik di bawah (1), dimana bertemunya kurva supply dan demand akan terbentuk ekuilibrium, harga pasar (P*) dan jumlah barang/jasa yang ditransasikan (Q*).


Kemudian, terdapat beberapa fenomena yan menyebabkan bergesernya kurva supply dan demand, misalnya karena pengaruh teknologi sehingga biaya produksi menjadi lebih murah (jumlah yang sama bisa didapatkan dengan harga pasar lebih murah, kurva supply bergeser ke kanan), atau meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga meningkatkan jumlah permintaan (harga lebih mahal, kurva demand bergeser ke kanan).

Contoh pergeseran kurva supply-demand seperti gambar berikut (2), dimana S2 adalah biaya produksi yang semakin mahal menjadikan jumlah barang yang sama Q1 harus naik harganya dari p1 ke p3. Tapi karena kurva demand tetap (D1), maka harga barang menjadi P1 dengan jumlah Q1. Sedangkan pergeseran kurva demand contohnya dari D1 ke D2 karena menurunnya daya beli masyarakat sehingga dengan jika kurva supply S2 maka menjadi harga kembali menjadi P0, atau jika kurva supply tetap S1 maka harga menjadi P3.

Lalu, apakah kurva supply & demand minyak mengikuti pola sesuai dengan grafik diatas? Secara definisi mengikuti, dimana ketika terjadi supply dan demand maka terbentuklah harga dan kuantitasnya. Namun, kurva supply-demand minyak sangat khas karena karakteristik unik demand-supply minyak dimana tidak seperti industri lain dimana perubahan demand yang cepat bisa diikuti dengan perubahan di sisi supply.

Contohnya, ketika harga minyak naik karena demand naik dimana secara kurva supply, produsen akan tergiur untuk meningkatkan produksi sebanyak mungkin, namun industri minyak tidak bisa cepat merealisasikannya karena proyek untuk memproduksi minyak (eksplorasi, pengembangan, produksi) membutuhkan bertahun-tahun. Ketidakelastisan kurva supply minyak ini bisa digambarkan dalam grafik di bawah.
Kenaikan harga dari P1 ke P2 tidak bisa membuat supply meningkat signifikan karena kapasitas produksi minyak Q1. Kenaikan harga P2 hanya bisa diimbangi oleh produksi Q2 atau Q3 yang membutuhkan beberapa tahun lamanya dengan tambahan proyek baru untuk meningkatkan produksi minyak. Harga P3 adalah harga minimal produsen (break-even) untuk menutup biaya produksinya.

Begitu pula sebaliknya, ketika harga minyak turun tidak serta merta membuat produsen mengurangi produksi karena terdapat alasan teknis, misalnya demi mengatur tekanan bawah tanah atau reservoir pressure (bayangkan, ketika sumur minyak mengalir kemudian ditutup tiba-tiba, bisa jadi ketika dibuka lagi sudah berbeda tekanan dan bahkan komposisi minyak-air-gas nya), atau faktor non-teknis misalnya untuk menjaga pendapatan negara.

Hal ini kemudian terbukti akhir-akhir ini ketika harga minyak berada di kisaran USD 50/barrel dimana tengah tahun 2014 masih diatas USD 100/barrel, OPEC sebagai supplier sekitar 41% minyak dunia tetap memutuskan untuk menjaga produksi minyak di sekitar 30 juta barrel per hari. Hal tersebut tentu juga memberatkan negara-negara OPEC sendiri mengingat hampir semua negara OPEC menjadikan minyak sebagai pendapatan utama negaranya.

Bahkan menurut grafik di bawah (3), negara produsen minyak (OPEC ataupun Non-OPEC) mempunyai nilai break-even berapa harga minyak yang bisa mencukupi kebutuhan fiskal negaranya. Hal ini dikenal dengan target-revenue model. Oleh karenanya, tidak mudah bagi produsen minyak untuk menurunkan jumlah produksi minyak meskipun harga minyak turun drastis, karena akan membuat mereka semakin menderita.
Secara grafik, target-revenue model tersebut bisa digambarkan seperti di bawah. Harga minyak awal P1, dimana produsen produksi minyak di Q1. Mereka senang karena melebihi dari kebutuhan budget (I, Investment). Jika suatu negara dibatasi produksinya oleh OPEC ke Q2 untuk mengindari over-supply, maka besar kemungkinan negara tersebut akan meminta kuota menjadi Q* untuk memenuhi budget nya atau melakukan cheating dengan menjual oil diam-diam sehingga total produksi tetap Q*. Disini, harga minyak minimal (break-even) untuk target-revenue model adalah P*.

Sehingga bisa dipahami, meskipun harga minyak turun sampai di bawah USD 50/barrel bulan ini, negara produsen akan tetap produksi minyak meskipun tidak bisa 100% sesuai kebutuhan budget mereka.  Karena jika mengurangi produksi, kondisinya akan makin berat untuk fiskal negara tersebut. Oleh karena itu, dalam meeting terakhir OPEC 27 November 2014 tetap menjaga produksi minyak mereka di leval 30 juta barrel per hari (4). Selain itu, OPEC tidak mau ‘berkorban sendiri’ karena faktanya OPEC ‘hanya’ mensuplai sekitar 35% dari total kebutuhan minyak dunia (sekitar 91 juta barrel per hari rata-rata 2014).

Dalam hal ini, OPEC tampak jelas membiarkan harga minyak terjun bebas hari ini (saat sebelum meeting harga minyak kisaran USD 70/barrel). Dimana penyebab oversupply minyak adalah produksi shale-oil dari USA yang membuat produksi minyak Amerika meningkat dari 8 juta barrel per hari tahun 2008 menjadi 12 juta barrel 2014. Amerika hari ini tercatat sebagai negara produsen terbesar minyak sekaligus importir terbesar, dan konsumen terbesar 19 juta barrel per hari (5). Oleh karena itu, meningkatnya produksi minyak Amerika sampai beberapa tahun ke depan direspon dengan harga minyak rendah.

Disinilah OPEC memberikan ‘test’, apakah proyek shale-oil minyak Amerika bisa bertahan pada harga minyak di bawah USD 50. Di negara teluk sendiri, harga USD 50 meskipun tidak bisa memenuhi kebutuhan budget mereka tapi masih bisa menutupi biaya produksi minyaknya. Meskipun OPEC tidak hanya negara teluk yang mempunyai biaya produksi rendah (misal Venezuela), namun karena lobi dalam OPEC sendiri ditentukan oleh banyaknya produksi minyak masing-masing negara. Disini Arab Saudi dengan produksi terbesar yakni 9.5 juta barrel per hari dan negara-negara Arab menjadi dominan.

Lalu, bagaimana dengan demand minyak? Secara umum kurva demand relatif lebih elastis secara jangka pendek (short-run) dibandingkan jangka panjang (long-run), yang mana ditunjukan oleh studi OECD dalam tabel di bawah (5).  Walaupun kondisinya berbeda-beda antara kelompok negara, secara umum elastisitas income terhadap oil demand secara jangka pendek (short-run) lebih tinggi dibandingkan jangka panjang (long-run). Khusus EU, India dan Indonesia, kondisinya menarik karena pengaruh pendapatan masyarakat terhadap konsumsi minyak lebih terasa di long-run daripada short-run.


Perubahan elastisitas income dalam jangka panjang menjadi kurang elastis dikarenakan faktor supply yang tidak elastis menyebabkan konsumen menyesuaikan diri terhadap kondisi supply yang ada. Misalnya ketika income (GCP) meningkat, permintaan minyak meningkat namun karena supply terbatas, maka harga naik yang kemudian diikuti oleh penyesuaian permintaan minyak.  Dan saat income (GDP) turun, maka permintaan turun menyebabkan harga turun dan membuat konsumen untuk mengkonsumsi minyak lebih kembali pada harga barunya.

Kurva demand dan supply minyak yang tidak elastis (inelastic) menjadi salah satu penyebab utama volatilitas harga minyak dunia. Kondisi Geopolitik termasuk posisi OPEC, dan pelaku pasar perdagangan minyak adalah dua hal penting lain yang juga mempengaruhi pergerakannya. Hal ini bisa digambarkan dalam interaksi antara supply-demand minyak digambarkan dalam grafik di bawah.

Demand awal (D0) dan Supply awal (S0) dimana harga minyak P0. Karena pengaruh geopolitik sehingga pasokan dari produsen minyak yang mempunyai biaya produksi murah berkurang (misal timur tengah), maka minyak akan semakin mahal sehingga kurva supply bergeser dari S0 ke S1. Dengan kondisi itu, pasar (paper oil market) bereaksi negatif dan membeli minyak sebanyak-banyaknya hari ini karena beranggapan bahwa pasokan di masa mendatang akan lebih sulit (harga semakin naik) karena berkurangnya pasokan dari produsen minyak. Maka kurva demand bergeser ke D1, sehingga membentuk harga baru P1 dengan jumlah Q1. Namun, karena reaksi pasar tersebut hanyalah sentimen dimana kondisi riil pengguna minyak (industri, retail, dll) tetap sama yakni demand D0, maka harga akan menyesuaikan kembali menjadi P2 dengan jumlah Q2.

Pergerakan harga minyak seringkali melalui fase-fase seperti diilustrasikan diatas. Dari penjelasan tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa  pengaruh geopolitik dan pasar minyak bersifat lebih temporal dibandingkan supply-demand minyak yang mendasar pengaruhnya dan jangka panjang (long-run)

Referensi:
(1)http://education-portal.com/academy/lesson/calculating-equilibrium-price-definition-equation-example.html#lesson
(2) http://www.theoildrum.com/node/2899
(3) http://www.bbc.co.uk/news/business-29643612
(4) http://www.opec.org/opec_web/en/press_room/2938.htm
(5)http://www.opec.org/opec_web/static_files_project/media/downloads/publications/MOMR_January_2015.pdf

Tuesday, January 20, 2015

Memahami Penyebab Harga Minyak Dunia

Untuk memulai pembahasan, mari kita melihat pergerakan harga minyak dunia mulai sejak minyak pertama ditemukan (1861) sampai 31 Desember 2013 yang terdapat dalam laporan BP (1).


Grafik hijau tua adalah harga minyak sesuai dengan harga rata-rata tahun yang bersangkutan (dikenal dengan istilah nilai nominal atau money of the day atau MOD), sedangan hijau muda adalah harga minyak jika disesuaikan dengan inflasi sampai tahun 2013 (nilai riil).

Dari grafik terlihat pergerakan harga minyak setiap periodenya. Kita tidak akan membahas latar belakang kejadian luar biasa di baliknya, namun akan secara garis besar melihat apa saja yang utama mempengaruhi pergerakan harga minyak tersebut. Terutama fenomena turunnya harga minyak mulai tengah tahun 2014 sampai Januari 2015 hingga menjadi sekitar USD 50/barrel, dari sebelumnya diatas USD 100/barrel.

Beberapa hal bisa menyebabkan pergerakan harga minyak, namun hanya empat faktor utama yang sebenarnya mempengaruhinya, yaitu demand, supply, geopolitics dan future trading (spekulator).

Demand
Seperti halnya komoditi lainnya, harga minyak secara jangka panjang (long-run) dipengaruhi oleh permintaan. Melihat data bahwa penduduk dunia meningkat signifikan dalam 10 tahun terakhir, maka jumlah penduduk tersebut adalah pasar nyata dari minyak. Grafik di bawah adalah contoh 3 negara yang mempunyai jumlah penduduk besar, China, India dan China dimana total ketiganya mencapai sekitar 40% penduduk dunia (2).


Di tiga negara tersebut juga mengalami pertumbuhan ekonomi diatas rata-rata dari pertumbuhan ekonomi dunia seperti yang ditampilkan dalam grafik di bawah (3).


Dimana menurut penelitian OECD (4) seperti dalam grafik di bawah, tiga negara tersebut mempunyai elastisitas pendapatan terhadap permintaan minyak jangka panjang (long-run income elasticity) lebih tinggi dibanding negara maju (USA, EU, OECD, Japan). Artinya, pertumbuhan ekonomi yang kencang dari ketiganya (dan negara developing countries lain) adalah real demand dari minyak yang mempengaruhi harga minyak.


Studi tersebut dikuatkan oleh IEA yang melihat hubungan antara fuel consumption dengan pertumbuhan ekonomi di negara-negara non-OECD (5). Hasilnya seperti di bawah, bahwa pertumbuhan ekonomi sangat berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar yang merupakan olahan dari minyak.  


Sehingga jelaslah, bahwa permintaan minyak dunia sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dunia, terutama negara berkembang.

Supply
Di sisi supply, telah berakhirnya era minyak mudah (easy oil) membuat biaya untuk menemukan (discovery), pengembangan (development) dan produksi (production) minyak semakin mahal. Berdasar indeks harga yang disusun oleh IHS (6) dengan menggunakan tahun 2000 sebagai basis indeks (100) dari Upstream Capital Cost Index (UCCI), biaya modal yang dibutuhkan naik signifikan seperti yang digambarkan grafik di bawah. Walaupun secara umum pergerakannya mengikuti harga minyak, namun ketika harga minyak turun penurunan UCCI tidak ekstrim seperti penurunan harga minyak. Artinya, biaya untuk proyek minyak semakin mahal dibandingkan dengan kenaikan harga minyak.


Ketika biaya semakin mahal yang artinya membuat banyak proyek tidak dikerjakan karena menjadi tidak ekonomis, maka hal tersebut akan berpengaruh terhadap kapasitas cadangan (spare capacity) negara produsen minyak. Spare capacity menunjukan bagaimana kemampuan supply terhadap lonjakan permintaan. Jika spare cukup banyak, maka harga cenderung turun karena ‘over-supply’, begitu pula sebaliknya. IEA menerbitkan hasil kajian tentang hubungan antara spare capacity dan harga minyak seperti di bawah ini (7).


Dengan kondisi biaya yang mahal namun ada peluang harga bisa naik jika spare capacity rendah, maka produsen mempunyai harapan untuk menjalankan proyek-proyek baru.Dalam dunia bisnis dan ekonomi yang lebih luas, model interaksi yang dinamis antara demand-supply beserta lingkungan terkait bisa digambarkan dengan skema sistem sebagai berikut (8).



Geopolitics
Kembali ke grafik pergerakan harga minyak sejak 1861 diatas, terlihat bahwa faktor geopolitik cukup sering mempengaruhi harga minyak. Sejarah mencatat setidaknya ada tiga masa dimana terdapat pergerakan ekstrim harga minyak sebelum tahun 2000, yakni pertama tahun 1973 ketika terjadi perang Yom Kippur antara dunia Arab dengan Israel yang menduduki Palestina. Saat itu dunia arab menurunkan produksi minyak (embargo minyak) dan mengeluarkan peraturan pajak baru yang menyebabkan harga minyak naik menjadi USD 12/barrel.

Kedua, periode 1979-1981 ketika terjadi perang Iran-Iraq dimana keduanya adalah anggota OPEC, menyebabkan harga minyak menjadi USD 34/barrel. Sedangkan ketiga adalah penurunan harga menjadi USD 7/barrel tahun 1984-1986 karena pembatasan kuota produksi OPEC gagal dan terjadi perang harga minyak ketika Saudi berusaha kembali untuk mempertahankan dominansi di pasar (market share).

Walaupun sebuah penelitian (10) menyatakan bahwa kejadian-kejadian politik terutama di timur tengah hanya mempunyai efek yang kecil terhadap harga minyak, namun kejadian tersebut jelas berkontribusi terhadap perubahan ekspektasi pasar minyak setelahnya, terutama kemungkinan berkurangnya pasokan dari produsen minyak yang bisa menyebabkan harga minyak naik.  

Future Trading
Sebenarnya terdapat dua jenis pasar di pasar minyak dunia, pertama pasar fisik (wet oil market) dan kedua pasar kertas (paper oil market). Pasar fisik adalah transaksi sesungguhnya ketika penjual menjual dan mengirimkan minyak kepada pembeli. Sedangkan pasar kertas adalah menjadikan minyak sebagai instrument investasi (spekulasi), baik dalam bentuk future contract yang diperjualbelikan, dibundel dengan komoditi yang lain, bahkan dijadikan underlying asset untuk berbagai macam produk derivatives.  

Yang menarik, aktivitas ‘kedua pasar’ tersebut saling mempengaruhi. Pasar fisik akan melihat pergerakan harga di pasar kertas yang melihat ekspektasi masa depan, sedangkan pasar kertas akan melihat riil transaksi hari ini untuk membangun ekspektasi tersebut. Berdasar statistik IEA di bawah, aktivitas pasar kertas meningkat signifikan menunjukan bahwa minyak adalah salah satu komoditi investasi (spekulasi) yang menarik bagi investors (11).



Jadi, kombinasi antara keempat faktor diatas yang menyebabkan harga minyak bergerak dinamis sehingga tidak ada satupun orang yang bisa memprediksi secara tepat.

Referensi:
(1) British Petroleum 2014, "BP Statistical Review of World Energy", June 2014, vol. 63rd edition, no. BP Plc.
(2) World Bank 2014, , Population, Total [Homepage of The World Bank], [Online].
(3) World Bank 2014, , Economic Growth [Homepage of The World Bank], [Online].
(4) Fournier, J., Koske, I., Wanner, I. & Zipperer, V. 2013, The Price of Oil – Will it Start Rising Again?, Organisation for Economic Co-operation and Development.
(5) EIA 2014, 10 July 2014-last update, What drives crude oil prices? An analysis of 7 factors that influence oil markets, with chart data updated monthly and quarterly [Homepage of U.S. Energy Information Administration], [Online]. Available: http://www.eia.gov/finance/markets/ 
(6) IHS 2013b, UCCI vs Brent Cride Price, Que$tor 2013 User Group Meeting edn, IHS, Jakarta.
(7) EIA 2014, 10 July 2014-last update, What drives crude oil prices? An analysis of 7 factors that influence oil markets, with chart data updated monthly and quarterly
(8) Mobus, G. 2010, 11 August 2010-last update, Peak Oil: Why a Supply Crunch Can Lead to lower Oil Prices. Available: http://oilprice.com/Energy/Oil-Prices/Peak-Oil-Why-A-Supply-Crunch-Can-Lead-To-Lower-Oil-Prices.html
(9) Bhattacharyya, S.C. 2011, Energy economics: concepts, issues, markets and governance, Springer, London
(10) Kilian, L. 2014, "Oil Price Shocks: Causes and Consequences", vol. CEPR Discussion Paper No. DP9823, no. Centre for Economic Policy Research (CEPR)
(11) EIA 2014, 10 July 2014-last update, What drives crude oil prices? An analysis of 7 factors that influence oil markets, with chart data updated monthly and quarterly

Tuesday, January 13, 2015

Mengapa Sekolah (Lagi)

Di tengah karir yang cukup nyaman, apakah anda berpikir untuk melanjutkan sekolah lagi?

Sesudah mempunyai master, apakah anda berpikir untuk mengambil master yang kedua? 

Dengan kehidupan keluarga yang cukup, mengapa harus beresiko relokasi ke luar negeri?

Tiga pertanyaan diatas adalah contoh dari beberapa pertanyaan yang muncul ketika saya mengambil keputusan untuk ingin sekolah lagi akhir tahun 2013. Ketiganya sebenarnya memliki benang merah yang sama, bahwa kenyamanan itu kadang membuat kita lupa bahwa kita perlu untuk melakukan sesuatu untuk bisa mendapatkan hal lain yang lebih baik.

Saya memang salah satunya termotivasi oleh pidato Pak Anies Baswedan saat wisuda Paramadina October 2012. Menurutnya, kita bisa menghadapi masalah dengan baik dengan semakin banyak mendapatkan masalah. Bagaimana masalah muncul adalah dengan meninggikan ekspektasi kita, karena masalah adalah selisih antara ekspektasi dan realita.

Bukankah "ketidaknyaman" bisa diciptakan tanpa harus sekolah lagi, tanpa harus meninggalkan banyak hal yang sedang berjalan? Bukankah belajar itu bisa di pekerjaan tanpa harus melalui sekolah?

Hal-hal tersebut memang ada benarnya, namun saya mengambil keputusan untuk lebih jauh lagi. Ditambah faktor semakin terbukanya akses beasiswa dari pemerintah Indonesia melalui LPDP, maka Alhamdulillah.. jadilah mulai September 2014 lalu saya mulai sekolah (master) lagi University of Aberdeen, Scotland, United Kingdom, dengan program Petroleum Energy Economics and Finance.

Lalu, apa saja yang terkait dari keputusan tersebut?

1. Studi finance yang lebih spesifik di bidang petroleum & energy economics
Well, ini mungkin alasan yang "kuat", tapi mungkin "tidak kuat" juga, terutama karena saya sudah mengambil sekolah Finance sebelumnya. Alhamdulillah, beberapa capaian semester 1 kemarin (publikasi journal international, presentasi paper di Australia) semoga bisa mengurangi label sekedar 'kuliah di luar negeri'.

2. Keluarga (istri dan anak)
Ini mungkin alasan utama, pengalaman tinggal di luar negeri meskipun 1 tahun tentu bisa mewarnai hidup kami (karena sebelumnya belum punya pengalaman sekolah atau kerja luar negeri). Apalagi buat anak (Safa, 5 yo) yang ikut sekolah Primary disini sekaligus praktek langsung English.

3. Putus "sementara" dari perusahaan
Merasakan tidak digaji perusahaan termasuk benefit-nya (unpaid leave) selama studi ini salah satu restriksi saat pengambilan keputusan. Plus beberapa teman sudah berpindah tempat kerja karena benefit yang lebih tinggiAgain, I am probably a calculating-risk person. :)

Terima kasih kepada LPDP atas kesempatan yang diberikan dan semuanya atas dukungan dan do'anya. Semoga sekolah dan yang mengiringinya lancar, Amin.

Thursday, December 18, 2014

Oil Price in Gold Equivalent Value

In conjunction to my previous journal about exploring gold value as new cost estimation basis in pipeline projects, I found an interesting comparison between Gold and  Oil Price. 

Surprisingly, the gold to oil price ratio has shown a certain range of value for long period of time.


In addition, both have relatively same trend in pricing since 1974, when dollar didn't tie to gold value anymore. When gold price started decreasing about two years ago, oil price just followed it about six months ago. But again, in terms of gold to oil ratio, it has no big difference.


I have randomly checked the ratio numbers using independent and reliable source of data. Hence I would say that the ratio calculations are valid. 

Can we then say that the real money with intrinsic value such as gold will stand the test of time?

**
References:
http://www.bloomberg.com/energy/
http://www.gold.org/
http://www.macrotrends.net/1380/gold-to-oil-ratio-historical-chart
http://www.macrotrends.net/1334/dollar-gold-and-oil-historical-chart
http://www.macrotrends.net/1335/dollar-gold-and-oil-chart-last-ten-years
http://seekingalpha.com/article/2764975-what-is-the-gold-oil-ratio-telling-us?ifp=0

Saturday, December 13, 2014

Risk-Return: Memahami Harga Contractors dalam Proses Lelang

Tulisan ini adalah tulisan saya dalam diskusi sebuah milis Project Management tentang Risk & Return. Saya tulis di blog supaya bisa dibaca yang lain, dan pengingat saya untuk mungkin dikembangkan nantinya. Semoga bermanfaat. 

***
Selama ini kita tahu bahwa High Risk-High Return, Low Ris-Low Return. Namun, apakah ini benar-benar secara aplikasi dan matematis bisa dibuktikan? Untuk melihat hubungan antara Risk and Return ini, menarik bila kita melihatnya dalam sebuah Bidding Process tentang bagaimana perilaku contractors menghadapi Risk dan Return.

Sebagai singkatan:
BP: Bid Price (harga yang akan dimasukan dalam bidding process)
BE: Base Estimate (estimate biaya project sesuai scope of works)
PC: Project Cost (termasuk contingency, reserve dan potensi margin)
p: Probability atas Project Cost (PC)

Menggunakan formula ekspektasi biaya:

(1)  BP = (1 - p)*BE + p*PC

Jika PC = BE (dimana kontraktor memutuskan untuk menjadikan PC sebagai BE), maka BP = BE = PC. 

Untuk BE, mungkin tidak akan jauh beda antara company dan contractors, karena teknik Estimasi yang typical. Yang signifikan berbeda adalah PC nya. Dalam sudut pandang Contractor:
Contractor PC = BE + Contingency + Management Reserve.

Kemudian, dalam persamaan (1) terlihat bahwa pengaruh probability (p) sangat penting, bagaimana kontraktor tersebut melihat sebuah project. Probability kecil jika resiko besar (kecil kemungkinan terjadi), sebaliknya probability akan besar jika resiko kecil. 

Dengan melakukan sedikit rekayasa atas formula (1), maka:

(2)  BP = BE - p*BE + p*PC
           
      BP = BE + p*(PC - BE)

Disini terlihat bahwa pengaruh probability sangat besar, dimana selisih (PC - BP, perbedaan antara project cost dan base estimate) sangat dipengaruhi oleh p tersebut. Kontraktor pengalaman tentu akan melihat project yang sama berbeda p dengan kontraktor yang kurang berpengalaman. 

Sedikit modifikasi dari formula (2), menjadi:

(3)  BP - BE = p*(PC - BE)

     p = (BP - BE) / (PC - BE)

Dari rasio (3) ini, kita melihat secara langsung hubungan Risk dan Return. Risk tinggi --> probability rendah --> contingency (termasuk potensi margin) tinggi.

Menariknya, kita kadang hanya melihat beda antara BP - BE, terutama dari sisi Company. Kenapa harga bid jauh lebih mahal dari harga base yang kita bisa hitung dari referensi dan teknik estimasi lainnya. 

Ternyata faktor PC dimana ada contingency dan potensi margin (termasuk contractor's judgement) yang menentukan probability dan project risk bagi tiap contractor.  

Aplikasi dalam Bidding 
Selanjutnya dalam menentukan berapa harga Bid yang akan di submit ke Company, Contractor menggunakan formula (1).

(1)  BP = (1 - p)*BE + p*PC 

Dimana jika sebuah Contractor melihat Project 'mudah' (ekstremnya), p=1 maka Bidding Price akan sama dengan PC.  

Formula diatas mungkin tidak ada dalam kenyataan, tapi pendekatan matematis dalam melihat perilaku kontraktor ketika memasukan harga bid, untuk melihat hubungan antara Risk --> Probability --> Return (potensi return Contractor ada dalam Contingency + Management Reserve).

Dalam case p=1 diatas (artinya High Probability, Low Risk), maka Contractor benar-benar hanya mengandalkan PC. Dimana Contractor A mungkin bisa menang karena :
a) Mempunyai PC yang lebih rendah dari Contractor B dan C.
b) Mempunyai p (probability atas PC) lebih besar dari dari Contractor B dan C, karena perbedaan pengalaman.

Contractor yang pengalaman akan project dan ingin menang (lowest bidder), pasti cenderung lebih rendah PC karena dia sudah tahu seluk beluk project yang akan di handle nya, dan probability nya tinggi.

Misal dalam Bidding ada 3 Contractors:
Contractor A: BE = 100, PC = 115 (Contingency 10, Reserve 5), p = 1 
Contractor B: BE = 100, PC = 120 (Contingency 15, Reserve 5), p = 0.9
Contractor C: BE = 100, PC = 125 (Contingency 20, Reserve 5), p = 0.8

BP A = (1-1) 100 + (1) 115 = 115
BP B = (1-0.9) 100 + (0.9) 120 = 10 + 108 = 118
BP C = (1-0.8) 100 + (0.8) 125 = 20 + 100 = 120

Bagi Contractor C (dan B), mereka menghadapi situasi Risk yang besar (karena misal less experience) sehingga memberikan Contingency yang lebih besar dimana ini bisa di konversi menjadi Return jika Contingency tidak dipergunakan.

Sehingga bagi Contractor A: Low Risk --> High Probability --> Low Return
Contractor B dan C: High Risk --> Low Probability --> High Return

***
Analisa diatas saya adopsi dari teori di bidang finance, yakni Capital Asser Pricing Model (CAPM) dimana dalam aplikasi turunan CAPM kita bisa melihat porsi yang optimal dalam investasi di Risk-Free Asset dan Risk Asset

Beberapa link bacaan tentang CAPM (sayangnya saya belum ketemu ada yang membahas tentang porsi investasi optimal yang saya maksud):   
-http://www.accaglobal.com/an/en/student/acca-qual-student-journey/qual-resource/acca-qualification/f9/technical-articles/CAPM-theory.html
-http://premium.working-money.com/wm/display.asp?art=826
-http://thismatter.com/money/investments/capital-asset-pricing-model.htm

* Picture from http://www.nordea.lt/images/img_risk_return.gif