Wednesday, July 01, 2015

Melihat Hubungan Future dan Spot Oil Price

Apakah oil price berdasarkan kontrak future mempengaruhi oil price hari ini? Secara intuisi ada pengaruh, karena keduanya menggunakan underlying yang sama, crude oil. Secara statistik, hubungan tersebut bisa diuji dengan data dan hipotesis statitistik.

Seperti yang dibahas pada perilaku harga minyak dunia, bahwa terdapat dua jenis pasar di pasar minyak dunia, pertama pasar fisik (wet oil market) dan kedua pasar kertas (paper oil market). Pasar fisik adalah transaksi sesungguhnya ketika penjual menjual dan mengirimkan minyak kepada pembeli. Sedangkan pasar kertas adalah menjadikan minyak sebagai instrument investasi (spekulasi), baik dalam bentuk future contract yang diperjualbelikan, dibundel dengan komoditi yang lain, bahkan dijadikan underlying asset untuk berbagai macam produk derivatives.  

Untuk uji empiris interaksi harga di kedua pasar tersebut, digunakan metode granger causaility, sebagai berikut.

1. Data oil price (Sumber:  EIA) (1)
Monthly average price dari Januari 1986 - Januari 2015, karena harga minyak mempunyai kecenderungan mempunyai tren bulanan daripada harian, salah satunya karena musim dingin atau panas. 
Spot prices: Crude Oil WTI
Future prices: NYMEX Futures Prices, Crude Oil (Light-Sweet, Cushing, Oklahoma): contract-3 adalah harga untuk delivery 3 bulan kemudian. Contohnya harga Januari 2000, delivery April 2000.

2. Pre-treatment data
Grafik harga minyak spot dan future, semua pengolahan data menggunakan software Eviews.
Terlihat keduanya punya pola naik dan bergerak bersama. Hal ini akan dipertimbangkan dalam stationary test. 
 
3. Stationary tes
Stationary test perlu dilakukan untuk data time series untuk menghindari kesimpulan yang janggal, dimana dua variable terlihat mempunyai hubungan tapi keduanya sebenarnya tidak berhubungan (2).
Hipotesis awal (H0): terdapat unit root atau data tidak stationary
Hipotesis alternatif (H1): tidak terdapat unit root atau data stationary --> yang diharapkan.  

Test dilakukan pertama dengan data level (asli) dengan memilih mode intercept/constant dan trend, karena dari grafik diatas terlihat seperti tren.  Namun, hasil uji menggunakan Augmented Dickey Fuler (ADF) test untuk data level baik spot prices dan future tidak menolak H0, sehingga uji stationary dilanjutkan menggunakan data first difference (growth/return). Grafik growth kedua harga seperti di bawah, dimana tidak terlihat seperti tren naik seperti yang ditunjukan data level diatas.
Hasil run stationary test data first difference (FD) kedua harga sebagai berikut, dimana pada level FD kedua data menunjukan nilai t-statistics negatif melebihi critical values (CV) pada 95% confidence level (5% significance level/SL, rule of thumb), maka untuk model dan analisis menggunakan data FD.


4. VAR (Vector Auto-Regressive) Model
VAR model digunakan untuk menguji causality test menggunakan Granger causality. VAR model dibangun dengan mengkombinasikan antara future dan spot. Karena kita tidak tahu secara jelas bagaimiana hubungan antara future dan spot (siapa mempengaruhi siapa), maka disusun dalam urutan di VAR model: Rfuture Rspot. Urutan ini sangat berpengaruh dalam variance decomposition dan impulse response analysis (2). Tapi kita tidak akan melakukannya karena model VAR belum tentu model yang terbaik menjelaskan hubungan antara future dan spot ini (terdapat model time series selain VAR yang harus dibandingkan).

VAR model dibangun pertama dengan asumsi lag-3, karena 3 bulan future price. Hasilnya sebagai berikut.
Kemudian, dilakukan analisis berapa lag yang optimal untuk VAR model ini, hasilnya seperti di bawah.

Dari lag analysis tersebut, ada dua kandidat lag yaitu lag 1 dan 7. Kita memilih lag-1 karena lebih masuk akal bahwa harga future 3 bulan pada bulan lalu (lag-1) mungkin akan berpengaruh terhadap spot price bulan ini. Sehingga model VAR dengan lag-1 sebagai berikut.

5. Granger causality
Granger causality test akan menguji apakah variable 1 granger cause variable 2 (perhatikan bahwa istilah yang digunakan adalah granger cause, bukan mutlak cause). Pengujian dengan hipotesis dan test statitistik.
H0 : No causality
H1 : Causality
Dari tabel diatas, terlihat bahwa kita tidak dapat menolak H0 karena prob (p-value) 0.365 lebih besar dari 0.05 (5%) SL, sehingga future prices 3 bulan tidak granger cause spot prices. Sebaliknya, spot prices juga tidak granger cause future prices 3 bulan karena prob (p-value) 0.99 lebih besar dari 5% SL.

6. Test price spread
Untuk melihat lebih jauh hubungan harga future dan spot ini, dilakukan analisis perbedaan harga (spread) future dan spot, apakah perbedaan harganya signifikan lebih dari nol karena harga future secara normal perlu lebih tinggi untuk men-cover biaya penyimpanan, interest rate dan resiko. Grafik di bawah perbedaan harga future dan spot.

Uji statistik sebagai berikut.
H0 : rata-rata spread (mean) = 0
H1 :  mean > 0
Secara statistik, kita tidak bisa menolak H0 karena CV 5% SL untuk 1-sided test adalah 1.65, sedangkan t-value table diatas 0.9927, atau probability 0.3216 > 0.05. Sehingga tidak ada spread secara statistik antara harga future dan spot pada 5% SL.

7. Conclusion
Dari analisis diatas, secara statitistik future prices 3 bulan tidak granger cause spot prices begitu pula sebaliknya. Hal ini juga sesuai dengan studi dimana tidak ada bukti empiris bahwa pasar future (pasar kertas) mempengaruhi pasar spot (pasar fisik) setelah 2003 karena pasar future juag dimotori oleh motif spekulatif (3). 

Meskipun dalam prakteknya, sangat mungkin keduanya sangat diperhatikan oleh para traders. Pasar fisik akan melihat pergerakan harga di pasar kertas yang melihat ekspektasi masa depan, sedangkan pasar kertas akan melihat riil transaksi hari ini untuk membangun ekspektasi tersebut. Meskipun terdapat kenaikan signifikan aktivitas pasar kertas dalam satu dekade terakhir (4), aktivitas tersebut bagaimanapun secara jangka panjang tetap bersandarkan pada interaksi supply-demand crude oil.


Referensi:
(1) EIA. 2015, Available: http://www.eia.gov/
(2) Brooks, C. 2008, “Introductory Econometrics for Finance second edition”, Cambridge University Press, New York
(3) Kilian, L. 2014, "Oil Price Shocks: Causes and Consequences", vol. CEPR Discussion Paper No. DP9823, no. Centre for Economic Policy Research (CEPR).
(4) EIA 2014, 10 July 2014-last update, What drives crude oil prices? An analysis of 7 factors that influence oil markets, with chart data updated monthly and quarterly

Tuesday, June 23, 2015

[Poster] Production Sharing Contract (PSC) Sliding Scale



Note: Poster had been presented at the International Student Energy Conference (ISES) 2015, 10 - 13 June 2015, Bali, Indonesia.

Thursday, March 05, 2015

12. Journal Paper (2015); Understanding Risk and Return in Bidder’s EPC Price Using CAPM Concept

Abstract
Projects are currently characterized by their complexity, size and intensified multiparty involvement. It is therefore difficult to meet between company’s and contractor’s expectation in terms of project objectives. Using different type of contract, contractor may have different view that is reflected from their price.

In EPC contract that uses a concept of lump sum contract, price submitted by contractor is a promise of each contractor to deliver the project. Contractor will then face risk in executing the project, while in the same time they will have its potential return.


This paper describes behaviour of contractors in submitting price as part of bidding process using CAPM concept. It mathematically proves that risk and return will be going to the same way, e.g. high risk may have high return. It concludes that the price heavily rely on contractor’s experience and risk profile.

Keywords: Engineering Procurement Construction (EPC), Contract Price, Capital Asset Pricing Model (CAPM), Risk and Return.

***

Friday, February 06, 2015

Renewable Energy

There are some key reasons why we should deeply think about Renewable Energy (RE);
- Greenhouse gas (GHG) emission lead to climate change that is the mother of all externalities
- Carbon dioxide would be worth 1.5 percent of world income, if all emissions were priced at price of US$ 15/tC02; consumption from fossil fuels system accounts the majority of global GHG
- Demand for energy and associated services, to meet social and economic development and improve human welfare and health, is increasing
- Many countries are committed to develop RE in the future, regardless how well its commitment has been realised.

Worldwide RE's role in energy mix application is shown in table below (IPCC, 2011).

We may debate that RE is expensive thing, at least compared to non-RE or conventional energy. It may be true if we have a look below graph (IPCC, 2011). However, the range of RE cost varies since it still depends on each project. In other words, RE technology heavily rely on utilising technology to conform with its environment. Some countries can't apply the cheaper technology since it has no RE sources. In fact, there are some RE that are cheaper than conventional ones.

Nevertheless, this some reasons may enlighten us, why RE can't actually be stopped by oil price movement (Bloomberg, 2015).

1) The Sun Doesn't Compete With Oil
Oil is for cars; renewables are for electricity. The two don’t really compete. Oil is just too expensive to power the grid, even with prices well below $50 a barrel. Instead, solar competes with coal, natural gas, hydro, and nuclear power. Solar, the newest to the mix, makes up less than 1 percent of the electricity market today but will be the world’s biggest single source by 2050, according to the International Energy Agency

2. Electricity Prices Are Still Going Up
The real threat to renewables isn’t cheap oil; it’s cheap electricity. Cheap oil don’t make cheap electricity as well, since fuel isn’t the only component of the electricity bill. Consumers also pay to get the electricity from power plant to home

3. Solar Prices Are Still Going Down
As time passes, the efficiency of solar power increases and prices fall. This is soon or later going to happen. When many countries enforces more RE in their energy mix policy, there will be new economic of scale for RE technologies.
But, there are some issues for further implementing RE:
- Under most conditions, increasing the share of RE in the energy mix will require policies to stimulate changes in the energy system.
- Many RE resources include natural unpredictability and variability over time scale, which can constrain the ease of integration and result in additional system costs.
- There might be a few technical limits to the integration of RE technologies across the very broad range of present energy supply systems

To conclude,
- RE sources have a large potential to displace emissions of GHG from the combustion of fossil fuels and thereby to mitigate climate change.
- Many RE technologies are becoming market competitive although some innovative RE technologies are not yet mature.
- Some policies have been shown to be effective and efficient in rapidly increasing RE deployment. However, there is no one-size-fits-all policy.
- Some policies need to take into account the different stages of RE deployment.

References:
- Intergovernmental Panel on Climate Change, 2011, Renewable Energy Sources and Climate Change Mitigation, Cambridge University Press
-http://www.bloomberg.com/news/articles/2015-01-30/seven-reasons-cheap-oil-can-t-stop-renewables-now

Friday, January 23, 2015

Supply-Demand dan Pergerakan Harga Minyak

Seperti yang dibahas dalam tulisan tentang penyebab yang mempengaruhi harga minyak, faktor supply-demand adalah faktor yang paling mendasar dalam mempengaruhi harga minyak. Geopolitik karena kondisi politik produsen minyak (timur tengah) berujung pada kepastian supply, sedangkan paper oil market hanya mempengaruhi secara jangka pendek (short-run) lebih karena sentimen pasar dan aktivitas. Pengguna minyak yang riil dari industri sampai konsumen retail lah yang mempengaruhi demand sesungguhnya dari minyak.

Kurva supply-demand secara sederhana digambarkan dalam grafik di bawah (1), dimana bertemunya kurva supply dan demand akan terbentuk ekuilibrium, harga pasar (P*) dan jumlah barang/jasa yang ditransasikan (Q*).


Kemudian, terdapat beberapa fenomena yan menyebabkan bergesernya kurva supply dan demand, misalnya karena pengaruh teknologi sehingga biaya produksi menjadi lebih murah (jumlah yang sama bisa didapatkan dengan harga pasar lebih murah, kurva supply bergeser ke kanan), atau meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga meningkatkan jumlah permintaan (harga lebih mahal, kurva demand bergeser ke kanan).

Contoh pergeseran kurva supply-demand seperti gambar berikut (2), dimana S2 adalah biaya produksi yang semakin mahal menjadikan jumlah barang yang sama Q1 harus naik harganya dari p1 ke p3. Tapi karena kurva demand tetap (D1), maka harga barang menjadi P1 dengan jumlah Q1. Sedangkan pergeseran kurva demand contohnya dari D1 ke D2 karena menurunnya daya beli masyarakat sehingga dengan jika kurva supply S2 maka menjadi harga kembali menjadi P0, atau jika kurva supply tetap S1 maka harga menjadi P3.

Lalu, apakah kurva supply & demand minyak mengikuti pola sesuai dengan grafik diatas? Secara definisi mengikuti, dimana ketika terjadi supply dan demand maka terbentuklah harga dan kuantitasnya. Namun, kurva supply-demand minyak sangat khas karena karakteristik unik demand-supply minyak dimana tidak seperti industri lain dimana perubahan demand yang cepat bisa diikuti dengan perubahan di sisi supply.

Contohnya, ketika harga minyak naik karena demand naik dimana secara kurva supply, produsen akan tergiur untuk meningkatkan produksi sebanyak mungkin, namun industri minyak tidak bisa cepat merealisasikannya karena proyek untuk memproduksi minyak (eksplorasi, pengembangan, produksi) membutuhkan bertahun-tahun. Ketidakelastisan kurva supply minyak ini bisa digambarkan dalam grafik di bawah.
Kenaikan harga dari P1 ke P2 tidak bisa membuat supply meningkat signifikan karena kapasitas produksi minyak Q1. Kenaikan harga P2 hanya bisa diimbangi oleh produksi Q2 atau Q3 yang membutuhkan beberapa tahun lamanya dengan tambahan proyek baru untuk meningkatkan produksi minyak. Harga P3 adalah harga minimal produsen (break-even) untuk menutup biaya produksinya.

Begitu pula sebaliknya, ketika harga minyak turun tidak serta merta membuat produsen mengurangi produksi karena terdapat alasan teknis, misalnya demi mengatur tekanan bawah tanah atau reservoir pressure (bayangkan, ketika sumur minyak mengalir kemudian ditutup tiba-tiba, bisa jadi ketika dibuka lagi sudah berbeda tekanan dan bahkan komposisi minyak-air-gas nya), atau faktor non-teknis misalnya untuk menjaga pendapatan negara.

Hal ini kemudian terbukti akhir-akhir ini ketika harga minyak berada di kisaran USD 50/barrel dimana tengah tahun 2014 masih diatas USD 100/barrel, OPEC sebagai supplier sekitar 35% minyak dunia tetap memutuskan untuk menjaga produksi minyak di sekitar 30 juta barrel per hari. Hal tersebut tentu juga memberatkan negara-negara OPEC sendiri mengingat hampir semua negara OPEC menjadikan minyak sebagai pendapatan utama negaranya.

Bahkan menurut data berikut (3), negara produsen minyak (OPEC ataupun Non-OPEC) mempunyai nilai break-even berapa harga minyak yang bisa mencukupi kebutuhan fiskal negaranya. Hal ini dikenal dengan target-revenue model. Oleh karenanya, tidak mudah bagi produsen minyak untuk menurunkan jumlah produksi minyak meskipun harga minyak turun drastis, karena akan membuat mereka semakin menderita.

Secara grafik, target-revenue model tersebut bisa digambarkan seperti di bawah. Harga minyak awal P1, dimana produsen produksi minyak di Q1. Mereka senang karena melebihi dari kebutuhan budget (I, Investment). Jika suatu negara dibatasi produksinya oleh OPEC ke Q2 untuk mengindari over-supply, maka besar kemungkinan negara tersebut akan meminta kuota menjadi Q* untuk memenuhi budget nya atau melakukan cheating dengan menjual oil diam-diam sehingga total produksi tetap Q*. Disini, harga minyak minimal (break-even) untuk target-revenue model adalah P*.
Sehingga bisa dipahami, meskipun harga minyak turun sampai di bawah USD 50/barrel bulan ini, negara produsen akan tetap produksi minyak meskipun tidak bisa 100% sesuai kebutuhan budget mereka.  Karena jika mengurangi produksi, kondisinya akan makin berat untuk fiskal negara tersebut. Oleh karena itu, dalam meeting terakhir OPEC 27 November 2014 tetap menjaga produksi minyak mereka di leval 30 juta barrel per hari (4). Selain itu, OPEC tidak mau ‘berkorban sendiri’ karena faktanya OPEC ‘hanya’ mensuplai sekitar 35% dari total kebutuhan minyak dunia (sekitar 91 juta barrel per hari rata-rata 2014).

Dalam hal ini, OPEC tampak jelas membiarkan harga minyak terjun bebas hari ini (saat sebelum meeting harga minyak kisaran USD 70/barrel). Dimana penyebab oversupply minyak adalah produksi shale-oil dari USA yang membuat produksi minyak Amerika meningkat dari 8 juta barrel per hari tahun 2008 menjadi 12 juta barrel 2014. Amerika hari ini tercatat sebagai negara produsen terbesar minyak sekaligus importir terbesar, serta konsumen terbesar 19 juta barrel per hari (5). Oleh karena itu, tren meningkatnya produksi minyak Amerika sampai beberapa tahun ke depan direspon dengan harga minyak rendah.

Disinilah OPEC memberikan ‘test’, apakah proyek shale-oil minyak Amerika bisa bertahan pada harga minyak di bawah USD 50. Di negara teluk sendiri, harga USD 50 meskipun tidak bisa memenuhi kebutuhan budget mereka tapi masih bisa menutupi biaya produksi minyaknya. Meskipun OPEC tidak hanya negara teluk yang mempunyai biaya produksi rendah (misal Venezuela yang tinggi biaya produksi), namun karena lobi dalam OPEC sendiri ditentukan oleh banyaknya produksi minyak masing-masing negara. Disini Arab Saudi dengan produksi terbesar yakni 9.5 juta barrel per hari dan negara-negara Arab menjadi dominan penentu arah OPEC.

Lalu, bagaimana dengan demand minyak? Secara umum kurva demand relatif lebih elastis secara jangka pendek (short-run) dibandingkan jangka panjang (long-run), yang mana ditunjukan oleh studi OECD dalam tabel di bawah (5).  Walaupun kondisinya berbeda-beda antara kelompok negara, secara umum elastisitas income terhadap oil demand secara jangka pendek (short-run) lebih tinggi dibandingkan jangka panjang (long-run). Khusus EU, India dan Indonesia, kondisinya menarik karena pengaruh pendapatan masyarakat terhadap konsumsi minyak lebih terasa di long-run daripada short-run.


Perubahan elastisitas income dalam jangka panjang menjadi kurang elastis dikarenakan faktor supply yang tidak elastis menyebabkan konsumen menyesuaikan diri terhadap kondisi supply yang ada. Misalnya ketika income (GCP) meningkat, permintaan minyak meningkat namun karena supply terbatas, maka harga naik yang kemudian diikuti oleh penyesuaian permintaan minyak.  Dan saat income (GDP) turun, maka permintaan turun menyebabkan harga turun dan membuat konsumen untuk mengkonsumsi minyak lebih kembali pada harga barunya.

Kurva demand dan supply minyak yang tidak elastis (inelastic) menjadi salah satu penyebab utama volatilitas harga minyak dunia. Kondisi Geopolitik termasuk posisi OPEC, dan pelaku pasar perdagangan minyak adalah dua hal penting lain yang juga mempengaruhi pergerakannya. Hal ini bisa digambarkan dalam interaksi antara supply-demand minyak digambarkan dalam grafik di bawah.

Demand awal (D0) dan Supply awal (S0) dimana harga minyak P0. Karena pengaruh geopolitik sehingga pasokan dari produsen minyak yang mempunyai biaya produksi murah berkurang (misal timur tengah), maka minyak akan semakin mahal sehingga kurva supply bergeser dari S0 ke S1. Dengan kondisi itu, pasar (paper oil market) bereaksi negatif dan membeli minyak sebanyak-banyaknya hari ini karena beranggapan bahwa pasokan di masa mendatang akan lebih sulit (harga semakin naik) karena berkurangnya pasokan dari produsen minyak. Maka kurva demand bergeser ke D1, sehingga membentuk harga baru P1 dengan jumlah Q1. Namun, karena reaksi pasar tersebut hanyalah sentimen dimana kondisi riil pengguna minyak (industri, retail, dll) tetap sama yakni demand D0, maka harga akan menyesuaikan kembali menjadi P2 dengan jumlah Q2.

Pergerakan harga minyak seringkali melalui fase-fase seperti diilustrasikan diatas. Dari penjelasan tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa  pengaruh geopolitik dan pasar minyak bersifat lebih temporal dibandingkan supply-demand minyak yang mendasar pengaruhnya dan jangka panjang (long-run)

Referensi:
(1)http://education-portal.com/academy/lesson/calculating-equilibrium-price-definition-equation-example.html#lesson
(2) http://www.theoildrum.com/node/2899
(3) http://www.bbc.co.uk/news/business-29643612
(4) http://www.opec.org/opec_web/en/press_room/2938.htm
(5)http://www.opec.org/opec_web/static_files_project/media/downloads/publications/MOMR_January_2015.pdf