Sunday, April 06, 2014

Belajar Menjadi Pengusaha Kecil Pembesaran Ayam

Sudah lebih dari satu tahun, kami (saya dan keluarga) ikut masuk dalam usaha kecil pembesaran ayam petelur di Magetan. Kami membangun kandang mulai akhir Oktober 2012 dengan kapasitas dasar 4,000 ayam dan mulai menerima bibit ayam untuk dibesarkan sejak akhir Maret 2013. Seperti yang telah saya singgung sedikit tentang landasan kuat mengapa seorang investor (muslim) harus masuk ke sektor riil, maka inilah yang saya lakukan dengan semangat terus belajar dan berusaha.
 
 
Konsep usaha pembesaran ayam ini adalah kerjasama dengan perusahaan peternakan (kami biasa menyebut koperasi). Selain pembesaran ayam petelur, ada juga pembesaran ayam pedaging yang memiliki resiko dan potensi untung yang lebih besar. Kami memilih ayam petelur tentu karena faktor resiko yang kecil mengingat ini adalah usaha riil pertama dan menyedot dana yang cukup lumayan.
 
Saya sendiri melakukan beberapa analisis tentang usaha ini di sebuah blog yang digunakan sebagai latihan proses sertifikasi CCE. Saya akan memperbarui disini sebagai sebuah pemaparan integrasi.
 
1. Prospek investasi pembesaran ayam petelur (merah) dan daging (putih) 
Analisis awal saya waktu itu terlalu optimistis dimana total modal yang dibutuhkan saat itu praktis untuk bangunan kandang , belum termasuk segala utilitas seperti sumur air (pompa besar) dan jaringan listrik yang harus mandiri, serta peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan seperti terpal, plastik penutup kandang dst. Besaran investasi untuk membangun sampai lengkap siap huni pun akhirnya menjadi hampir dua kali lipat dari estimasi awal.
 
Selain itu yang cukup berbeda adalah asumsi waktu panen dan penerimaan uang. Estimasi saya, ayam petelur yang normalnya waktu pembesaran 3 bulan plus pembersihan 1 bulan maka dalam 1 tahun kalendar akan bisa mendapatkan panen dan hasil 3 kali. Namun kenyataan yang kami alami, 1 tahun kalendar bisa 2 kali atau 3 kali dengan beberapa kondisi tergantung dari supply demand, libur lebaran dll, sehingga rata-rata dalam 2 tahun bisa 5 kali panen.
 
Karena kami tidak mempunyai pembesaran ayam daging, namun dari estimasi awal 1 tahun bisa sampai 6 kali panen (waktu pembesaran 40 hari + pembersihan sehingga total 2 bulan), sepertinya dalam kenyataan 1 tahun akan berkurang menjadi rata-rata 5 tergantung kondisi2 yang mirip diatas.
 
Namun demikian, dari 2 kali panen yang sudah kami lakukan atas 4,000 ayam petelur, tingkat imbal balik investasi masih cukup lumayan, tentu dibanding dengan bunga deposito dan bahkan pasar finansial 2013 lalu. Secara kasar, angka rata-rata masih sekitar 20% per tahun sehingga BEP sekitar 5 tahun. Terlalu lama? Menurut saya masih wajar dan normal untuk sebuah usaha sejenis. (too greedy isn't good, is it? :) )
 
2. Akuisisi kandang ayam yang sudah ada
Tawaran akusisi atas 50% bagian kandang kapasitas dasar 6,000 ayam (sehingga net 3,000 ayam) benar kami lakukan dengan harga yang cukup menarik (setelah diketahui biaya aktual pembangunan kandang 4,000 ayam). Yang menarik, metode akuisisi ini ternyata tidak hanya menarik dari sisi investor baru (pembeli), tapi juga penjual karena sama-sama memberikan nilai positif atas usaha ayam. Pengembalian yang dihasilkan berdasar pengalaman 2 kali panen ini, cukup bersaing dengan peternakan mandiri, menimbang keribetan pengelolaan ada di pemilik yang lama (pemilik 50% bagian). Jika ada tawaran akuisisi kandang ayam, selama harga wajar, ini adalah opsi menarik terutama bagi yang akan mulai usaha.
 
Saya jadi berpikir, jika model jual-beli kandang ayam saja menarik, pantas saja para private equity itu jual-beli perusahaan untuk mendapatkan nilai obyek perusahaan yang optimal.
 
3.Pilihan investasi ayam antara kandang sendiri atau akuisisi
Analisis dengan melibatkan resiko ini masih valid secara umum, dimana pembangunan kandang ayam merah masih lebih 'nyaman' dibanding ayam putih. Dan juga, pembangunan kandang ayam putih lebih menguntungkan dibanding akuisisi kandang ayam putih. Walaupun besaran valuasi nya menjadi tidak valid karena asumsi-asumsi perlu di sesuaikan dengan kondisi kenyataan yang saya paparkan diatas.
 
Walaupun skala usaha kecil-menengah, namun saya mencoba menjadikan usaha ini sebagai percobaan praktek analisis keuangan modern termasuk dalam pembiayan usaha (utang). Saya mengambil utang dan kemudian melunasi sebelum waktunya seperti yang saya tulis di blog itu, dari sisi timing sedikit meleset (di bulan ke 14) dan beberapa asumsi model tersebut juga ternyata tidak valid pada akhirnya. Mungkin saya akan menganalisis di kesempatan lain, namun akhirnya keputusan saya untuk melunasi sebelum waktunya saat itu lebih karena masih lebih murah membayar sisa utang+denda daripada membayar bunga pinjaman sampai lunas. Jika tahu denda dan sistem bank dengan lebih pasti di awal, model analisis utang dan pelunasan tersebut bisa dijadikan pengambilan keputusan pengambilan utang di kesempatan lain.
 
5. Resiko usaha
Bagian ini belum saya bahas dalam blog tersebut karena analisis keuangan harus dikedapankan untuk melihat menarik/tidaknya usaha tersebut, baru unsur yang lain termasuk resiko masuk untuk penyesuaian. Saya sendiri baru jelas resiko usaha setelah benar-benar mengalami 2 kali panen ini. Apa saja resiko-resiko usaha nya?
 
Secara garis besar utama, yang pasti kematian ayam adalah resiko terbesarnya. Kematian bisa karena penyakit atau bahkan dimakan hewan lainnya (ular dsb). Namun karena ini adalah kerjasama dengan koperasi, maka resiko kematian pun menjadi 'ditanggung bersama'. Karena ayam dan pakan ayam tidak dibeli oleh peternak, resiko peternak (pengusaha kandang) adalah biaya operasi atas pembesaran ayam tersebut. Normalnya ada alokasi ayam tambahan diatas kapasitas kandang sebagai jaga-jaga karena peternak 'diharuskan' memanen ayam sesuai dengan perjanjian (kapasitas). Alokasi ayam tambahan ini juga menjadi tanggungan peternak.
 
Selain kematian,  tentu harga jual ayam saat panen juga menentukan. Karena pembesaran ayam petelur, maka setelah sekitar 100 hari ayam akan diangkut ke kandang yang khusus untuk panen telur (peternak lain). Disini koperasi akan 'membeli' selisih harga ayam antara bibit dan besar dari peternak pembesaran ayam. Harga ini dipengaruhi oleh kondisi pasar ayam dan telur serta pakan. Namun secara prinsip, resiko ini masih bisa dikelola karena bagaimanapun ayam dan telur adalah makanan pokok yang dibutuhkan sepanjang masa.
 
 
 
 ***
Demikian paparan analisis usaha dari pengalaman pembangunan hingga pengalaman 2 kali panen yang kami lakukan. Karena cukup menariknya usaha ini, kami pun memutuskan menambah kapasitas kandang mandiri menjadi 6,000 ayam dan sudah dipergunakan untuk siklus ayam ke-3. Dalam hal ini penting untuk mempertimbangkan kebutuhan lahan dan utilitas (air, listrik dsb) di saat awal pembangunan terhadap rencana ekspansi kemudian hari seperti yang kami lakukan.
 
Buat saya pribadi, selain sebagai bisnis, saya menjadikan usaha kandang ayam ini sebagai percobaan nyata untuk mengaplikasikan manajemen keuangan yang didapatkan. Mudah-mudahan dengan demikian ilmu menjadi 'awet' dan sedikit bermanfaat bagi yang lain. Semoga usaha ini berkah dan langgeng, amin.
 

Sunday, December 15, 2013

Project Management Professional (PMP)

Sudah menjadi bagian dari target tahun ini untuk melengkapi satu sertifikasi profesional tambahan, yakni Project Management Professional (PMP) yang dikeluarkan oleh Project Management Institute (PMI).  Sertifikasi PMP ini sudah dikenal luas di kalangan praktisi Project Management (PM) di seluruh dunia. Sehingga bisa dikatakan seseorang yang sudah certified PMP akan mempunyai 'bahasa yang sama' dalam praktek PM.

Siapa yang berhak mengajukan sertifikasi PMP? Dikutip dari PMI adalah sebagai berikut:
To apply for the PMP, you need to have either:
  • A secondary degree (high school diploma, associate’s degree, or the global equivalent) with at least five years of project management experience, with 7,500 hours leading and directing projects and 35 hours of project management education.

    OR
  • A four-year degree (bachelor’s degree or the global equivalent) and at least three years of project management experience, with 4,500 hours leading and directing projects and 35 hours of project management education. 
Jika dilihat dari syarat diatas, maka minimal seseorang bisa mengajukan sertifikasi setelah sekitar 3 tahun pengalaman dalam menjalankan proyek dan juga pernah mengikuti kursus terkait PM selama 35 jam. Saya sendiri bisa dibilang 'telat' karena melebihi dari syarat minimal tersebut, apalagi sebagai praktisi yang setiap hari terkait proyek. Walaupun juga tidak bisa dikatakan terlalu telat mengingat banyak senior (tetua) praktisi PM belum pernah bersentuhan dengan dunia sertifikasi baik PMP ataupun CCE (Certified Cost Engineer)

Saya dikirim kantor untuk mengambil kelas persiapan PMP melalui training provider yang berafiliasi dengan lembaga konsultan internasional Rita Mulcahy (RMC). Training dilaksanakan pada awal Oktober 2013 selama 5 hari di Bandung yang juga bisa dijadikan syarat 35 jam training PM. Instruktur yang memberikan pelatihan dan pendampingan setelahnya adalah Mr Rashid, Malaysian yang tinggal di Singapore. Dalam training selain diberikan bahan-bahan belajar, sebuah CD simulasi soal-soal ujian PMP juga termasuk 1 hari refreshment day yang dilaksanakan beberapa hari sebelum ujian sesuai permintaan (grup). Dan yang pasti, Mr Rashid dengan sangat terbuka membantu proses belajar sampai menjelang ujian.

Seperti halnya sertifikasi PM yang lain, maka tantangan terbesar sebenarnya adalah 'mengalahkan' diri sendiri untuk disiplin belajar mempersiapkan diri ujian. Ujian nya adalah menjawab 200 soal pilihan ganda secara online selama 4 jam. Soalnya terkait dengan dunia PM yang harus dijawab sesuai dengan panduan yang diberikan PMI dalam PMBOK (Project Management Body of Knowldge). Tahu istilah saja belum cukup, karena ada studi kasus ditambah pilihan ganda yang bisa membuat lebih dari satu jawaban tampak benar.

Khusus buat saya yang sudah berpengalaman dalam ujian CCE, maka 'beban' itu menjadi semakin berat mengingat berdasar studi bahwa secara level of effort PMP lebih rendah dibanding CCE (CCE lulus, PMP masa tidak lulus :) ). Namun tetap ada rasa was-was apakah bisa lulus PMP. Menurut Mr Rashid, untuk lulus dibutuhkan 40 jam belajar. Tapi saya tidak pernah menghitungnya, satu sebabnya karena ada beban tadi. Yang pasti saya belajar dengan basis milestone dan mentargetkan 2 bulan setelah training saya akan maju dalam ujian PMP.

Di sisi yang lain, sebenarnya ada sisi positifnya saya sudah CCE karena sudah berpengalaman lebih dari 4 jam di depan komputer mengerjakan soal ujian sertifikasi. Jadi dari keberanian menjawab dan ketenangan bisa mendapat banyak pelajaran dari pengalaman sebelumnya. Akhirnya, masa belajar itulah saat untuk mengalahkan diri sendiri tersebut, dan berkomunikasi dengan Mr Rashid untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan diri sendiri dalam penguasaan skenario materi. 

**

Alhamdulillah.. Saya akhirnya lulus ujian sertifikasi pada tanggal 9 Desember 2013 lalu. Nomor ID PMP saya 1677373, artinya sudah lebih dari 1.6 juta profesional di seluruh dunia mempunyai gelar PMP sejak 1987. Jika dibandingkan CCE saya yang ber-ID 4129, maka nomor ID PMP saya sudah sangat besar. Tidak heran mengingat tahun 2012 sebanyak 90 ribu orang mendapatkan sertifikasi dari PMI (walaupun tidak semua PMP). 

Oiya, saya artinya juga berhak menyandang credential PMP di belakang nama saya setelah sebelumnya CCE. Saya tidak tahu pasti bagaimana aturan penyebutan gelar secara urut di belakang nama. Yang pasti jika disebutkan semua credentials baik pendidikan formal maupun sertifikasi, maka nama lengkap profesional saya menjadi Trian Hendro Asmoro, ST, MM, CCE, PMP. 

Selain bersyukur, saya berusaha menyadari bahwa mendapatkan gelar atau sertifikasi bukanlah tujuan akhir, tapi merupakan awal untuk melakukan hal bermanfaat yang lebih banyak lagi. Dan yang pasti, belajar itu sepanjang hayat, jadi mari tidak lekas puas dengan apa yang kita tahu hari ini.

Finally, saatnya move on... :)

Wednesday, September 04, 2013

Finance: Dasar Laporan Keuangan

Saya mengenal dasar-dasar akuntansi (kalau tidak salah) ketika kelas 2 SMA, dimana saat itu penjurusan baru dimulai di kelas 3 SMA. Yang saya ingat buruknya, saya tidak terlalu memhami logika yang dipakai dalam Jurnal Penyesuaian karena logika yang digunakan terbalik dari dunia normal yang biasa dipahami. Namun baiknya, nilai akuntansi saya dalam 1 tahun itu konsisten angka 9. Meskipun kelas 3 memilih jurusan IPA, perihal akuntansi dan keuangan buat saya selalu menarik dan kemudian mengantarkan saya masuk Teknik Industri.
 
Berikutnya di bangku kuliah, mendapatkan mata kuliah tentang dasar-dasar akuntansi dan keuangan, namun tidak semudah pemahaman di sekolah, nilai di kuliah malah jeblok, seingat saya hanya C. Namun, dalam mata kuliah yang sangat menarik, Ekonomi Teknik, nilai saya maksimal, yaitu A. Saya menyimpulkan bahwa akuntansi dan keuangan jika dalam hal definisi dan detail, saya pasti kewalahan. Tetapi dalam analisis dan aplikasi, buat saya lebih mudah dipahami karena masuk akal.

Saya kemudian mendapatkan perihal laporan keuangan di sekolah pasca sarjana sebanyak dua kali dalam kuliah; Principles of Business Operation dan Mergers & Acquisitions. Dan karena lebih ke arah aplikasi, maka saya menyukainya. Begitu pula dalam proses sertifikasi CCE, yang sangat kental dengan engineering economy

Menurut saya Dasar Laporan Keuangan adalah ilmu aplikatif yang harus dipahami oleh banyak orang, tidak hanya orang akuntan atau keuangan saja. Apalagi buat usahawan yang harus membangun usaha sendiri atau buat para investor, sangat penting mengetahui laporan keuangan dan menggunakannya. Tidak perlu sangat detail karena itu wilayah akuntan, namun bagaimana memahami struktur berpikirnya.
 
Mari kita lihat, bagaimana laporan keuangan dibangun dan digunakan.
 
Laporan keuangan (Financial Statements) terdiri atas tiga laporan utama, yakni Laporan Arus Kas (Cashflow), Laporan Laba Rugi (Profit/Loss), dan Laporan Neraca (Balance Sheet).
 
Hubungan antara ketiganya digambarkan dengan baik dalam bagan di bawah ini.

Menggunakan contoh seseorang yang memulai usaha, maka skema di atas bisa dijelaskan sebagai berikut.

Balance Sheet (BS)
Dalam membuka usaha pasti membutuhkan modal dimana modal (capital) tersebut terdiri atas dana pemilik (equity) dan utang (liabilities). Modal tersebut digunakan untuk membeli aset yang  digunakan usaha, termasuk membiayai jalannya usaha dengan menggunakan kas dari setoran modal.

Ketiga komponen tersebut (asset, liabilities, equity) bisa terdiri atas berbagai jenis. Misalnya, aset bisa terdiri atas kas, tabungan, bangunan, mesin dan piutang usaha (receivables, utang pihak lain kepada kita). utang bisa terdiri atas utang bank, utang usaha (payable, utang kita ke pihak lain) dan obligasi. Sedangkan ekuitas terdiri atas modal disetor dan laba ditahan dari Laba/Rugi yang tidak dibagikan ke pemilik. 

BS ini ibarat badan bagi usaha atau perusahaan yang menggambarkan kondisi perusahaan tersebut.

Profit/Loss (P/L)
Laporan laba rugi mencatat bagaimana mencetak laba dari penjualan produk/jasa. Komponen utamanya adalah Pendapatan (Revenues) yang didapat dari penjualan produk/jasa, Biaya Produksi (Cost of Goods Sold, COGS), Biaya Operasi (Operating Expenditure, OPEX), Biaya non Operasi (Non-Opex) dan Pajak (Tax).

Terdapat beberapa terminologi dalam P/L yaitu; (penjelasan bisa mengacu pada skema contoh)
a. Gross Income/Profit
b. Operating Profit
c. Earning Before Interest, Tax, Depreciation & Amortization (EBITDA)
d. Earning Before Interest & Tax (EBIT)
e. Earning Before Tax (EBT)
f. Net Income (NI)

Bagi perusahaan, P/L ini ibarat kerja yang harus dilakukan untuk bisa makan sehingga bisa menghasilkan energi bagi badan. 

Cashflow (CF)
Laporan arus kas ini mencatat setiap perubahan kas yang didapat dan digunakan dari dan untuk operasi perusahaan, misalnya penjualan barang, pembelian bahan, pembayaran gaji dan lain-lain. Kas dibagi dalam tiga kategori yakni; kas dari operasi (operating), kas dari investasi (investing), dan kas dari pembiayaan (financing).

Dari fungsinya, jelas bahwa tidak boleh ada kas negatif dalam perusahaan karena akan menghentikan operasi perusahaan. Perusahaan bisa aktivitas nya negatif alias merugi, atau banyak luka dalam badannya alias banyak utang, namun perusahaan harus tetap punya kas jika ingin tetap hidup.
Bagi perusahaan, CF ini ibarat darah yang harus ada dan mengalir dalam tubuh perusahaan.

Untuk memudahkan pemahaman, di bawah ini contoh dan hubungan ketiga laporan diatas. Jika BS dan P/L dibuat secara periodik (biasanya per-kuartal/empat bulan), maka secara praktis CF dibuat setiap waktu karena alasan harus tetap ada kas tadi.

Melihat contoh diatas, tidak serumit yang dibayangkan bukan. Tentu komponen dalam BS, P/L dan CF bisa tidak serumit atau sesimpel diatas, namun struktur berpikir nya akan tetap sama. Untuk yang baru memulai usaha, tidak perlu akuntan khusus untuk mencatat dan menyusun laporan diatas.

Saya sendiri masih belum tahu bagaimana  hubungan Jurnal Penyesuaian yang logika terbalik-terbalik itu dengan laporang keuangan diatas, tapi saya tebak bahwa Penyesuaian terkait dengan CF yang nanti muncul di BS (??). 

Selain ketiga laporan diatas, ada juga yang menyertakan Catatan (Notes) sebagai komponen keempat laporan keuangan. Dalam catatan terdapat beberapa penjelasan berkaitan dengan laporan keuangan karena ada kejadian-kejadian istimewa, misal penjualan aset, pergantian kepemilikan dsb.

Namun untuk praktis memulai dan menjalankan usaha, belajar membuat ketiga laporan keuangan diatas sudah lebih dari cukup. Selanjutnya, kita bisa melakukan beberapa analisa dan rekayasa terkait kinerja usaha (perusahaan) yang ditampilkan dalam laporan keuangan.


Credit: Business Finance for Executives, Bima P. Sentosa, 2011

Monday, July 01, 2013

Analisa Gaji (C&B); Pertimbangan Pindah Kerja

Salah satu alasan pindah kerja adalah mencari gaji yang lebih besar. Alasan ini bisa jadi alasan yang utama, walaupun banyak orang sering menggunakan alasan-alasan terselubung lainnnya, misalnya mencari tantangan baru, pengalaman kerja, keluarga dll. Kecuali lingkungan kerja saat ini memang sangat-sangat tidak nyaman, maka orang lebih memilih bertahan karena dia sudah paham dengan pekerjaan dan tantangannya.

Terkait dengan gaji lebih besar tersebut, perlu dilakukan analisa secara menyeluruh, tidak hanya besaran nominal gaji (gross / net), tapi juga semua terms yang terkait. Misalnya; benefit yang tidak masuk dalam slip gaji, soft loan, kemungkinan kenaikan (increment) per tahun, pensiun dan bahkan pengeluaran pribadi.

Mengapa pengeluaran pribadi (living cost) masuk? Biasanya dengan gaji dan lingkungan baru, terjad perubahan pola belanja. Dan yang pastinya, asumsi tingkat investasi per tahun yang bisa dihasilkan dari hasil net salary + benefit lainnya dikurangi living cost + other expenses. Satu yang positif: dengan gaji yang lebih besar, zakat yang dikeluarkan juga seharusnya membesar juga bukan?

Dengan model perhitungan analisa gaji (dan mungkin tipikal dengan kondisi pekerjaan lain), beberapa perusahaan 'memagari' karyawan nya dengan 'janji pensiun' yang cukup besar sesuai masa dinas, tapi jika keluar lebih awal maka uang pesangon jauh lebih kecil dari dana pensiun yang dicadangkan. Yang membuat repot karyawan untuk mencari perusahaan yang mau membayar gaji dengan kenaikan yang bisa mengkompensasi pensiun besar di akhir tersebut.

Jika saya pemilik perusahaan atau setidaknya manajemen perusahaan, pendekatan tersebut sangat beralasan. Tentu bukan perkara mudah mencari karyawan, plus biaya yang dikeluarkan untuk proses rekrutmenya. Namun bagi karyawan, kondisi tersebut bukan berarti kita 'menyerah' dan tidak mau keluar dari 'zona nyaman' nya. Minimal karyawan harus menghitung dan menganalisa dengan teliti gaji dan lingkungan baru yang ditawarkan. Selain itu, disiplin dalam keuangan pribadi adalah kunci dari analisa gaji yang harus tetap dilakukan.

Di bawah ini adalah hasil dari model perhitungan dan analisa gaji yang saya bangun. Model ini sudah naik versi menjadi 2.0, dari sebelumnya 1.0 dan 1.1 yang di utak-atik sejak bulan Juni lalu (dan masih mungkin naik versi lagi ke depannya jika ada masukan-masukan bermanfaat). Disini mengasumsikan bahwa ada 2 tawaran yang sedang dianalisa, misalnya sebuah perusahaan domestik dan perusahaan luar negeri.

Jangan percaya kepada angka-angka di atas, yang pasti tujuannya adalah New_1 atau New_2 harus mempunyai NPV lebih besar (semakin besar semakin baik) daripada Current. Anda bisa lihat, komponen dana pensiun di akhir masa kerja yang cukup besar bisa membuat bias karena seolah cummulative benefit yang besar pada perusahaan sekarang, namun karena faktor discount rate, maka dana pensiun yang besar tersebut bisa terkompensasi dengan besaran gaji yang baru. Apalagi kalau misal 'hanya' harus bekerja 13 tahun lagi untuk mendapat NPV sama, kenapa harus bekerja 25 tahun? :)

Sedangkan screenshot di bawah adalah sebagian input yang harus diisi untuk mendapatkan hasil perhitungan. Seperti halnya spreadsheet perhitungan umumnya, maka asumsi sangat berperan dalam menentukan hasil. Paling tidak model ini bisa (sedikit) membantu anda untuk menganalisa gaji (Compensation & Benefit), dan komponen-komponen apa saja yang dipertimbangkan.


Selain faktor inputan yang sangat penting, tentu model ini tidak bisa mengkuantifikasi nilai-nilai yang tidak tampak (intangible values) bekerja di sebuah perusahaan. Misalnya kesempatan jalan-jalan ke luar negeri lewat presentasi paper, pengembangan diri dan karir yang terbuka. Tapi di sisi lain, misalnya kondisi perusahaan saat ini dan faktor keluar zona nyaman dengan tantangan di tempat baru sebagai salah satu perjalanan hidup pun tidak bisa dilihat di model ini. Artinya, seorang karyawan harus menganalisa kedua sisi antara sisi gaji (tangible) dan sisi intangible sebelum memilih.

At the end of the day, anda (karyawan) memang harus memutuskan jalan mana yang akan ditempuh bukan? 

*
Tertarik model tersebut?  Please comment and drop me an email. Terima kasih.

Saturday, May 25, 2013

9. Journal paper (2013); Exploring Gold Equivalency for Forecasting Steel Prices on Pipeline Projects

Abstract

The volatility of steel prices and international currency is an element that affects actual project costs. This situation can be mitigated by considering risk contingency as a fixed percentage of the total budget and/or by inputting an inflation factor into the cost estimation. These methods have not overcome the root problem, however, which is the decline in purchasing power of the US dollar as a base currency. As a result, an alternative currency with a stable and reliable value as a cost reference is needed.
 
This paper will explore the possibility of using gold as an alternative currency to be used in forecasting selected steel prices, i.e. billet, hot rolled coil and scrap steel as the main material components in pipeline projects. The reliability of gold in terms of purchasing power compared to the USD will be discussed together with how gold equivalency can be applied for selected steels to establish a gold-based forecasting model. Finally it will be explained how steel prices will refer to the gold price forecast for the next four years. These methods will change the paradigm for estimating the cost of pipeline projects and may be developedfor and applied to other projects.

Keywords: Steel Prices, Gold Price, Cost Estimation, US Dollar, Purchasing Power, Gold Equivalency, Price Forecast, Project Cost Engineering, Pipeline Project Cost.

---
 
Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, ada 1 paper sebagai syarat sertifikasi CCE yang dikirimkan ke Journal untuk dipublikasikan. Dan bulan tengah mei ini, jurnal tersebut sudah dipublikasikan dimana paper saya termasuk salah satu di dalamnya. Paper ini adalah paper pertama saya yang masuk di PMWJ, dimana Dr. Paul G. Giammalvo sangat berperan dalam membimbing penyusunan paper ini.
 
Apa yang menarik dari paper ini? Jika pada paper city gas saya 'keluar' dari lingkup pekerjaan saya, kali ini saya masih dalam lingkup namun cukup teoritis atau 'sedikit akademis'. Artinya dalam keseharian, analisa seperti ini 'tidak sempat' saya lakukan. Namun dengan model dalam paper ini, secara sense bisa terbaca arah kondisi dunia yang terkait dengan pekerjaan saya dalam mengestimasi nilai proyek.
 
Paper lengkap bisa di download di PM World Journal Edisi May 2013. Sedikit welcoming notes dari Managing Editor PMWJ.
 
Lalu, bagaimana selanjutnya? Bersama 2 rekan yang lain, saya sedang menyiapkan 2 buah papers yang lolos untuk dipresentasikan di sebuah forum project management di Eropa Timur menjelang winter nanti. Karena masih mentah dan belum tentu juga saya berangkat (baca: perusahaan mau bayarin atau tidak hehe), jadi nanti kita lihat saja. Jika tidak berangkat ke conference tersebut, insyaAllah saya masih punya 'cadangan' 2 paper jadi dan siap 'berangkat'. :)