Wednesday, April 11, 2007

Perang Bubat: Dyah Pitaloka dan Gajahmada


Alkisah, Majapahit adalah negara kerajaan yang besar di masa lampau, sekitar abad 14. Sang Patih, Gajahmada (GM) adalah otak kejayaan Majapahit. Namun, wilayah pasundan adalah satu-satunya daerah di Jawa -bahkan di bumi nusantara yang belum berhasil disatukan (dikuasai) oleh Majapahit. Kekuasaan yang luas membentang dari semenanjung Malaka, Filipina hingga ujung timur tak lengkap tanpa masuknya tatar Sunda, wilayah belakang pekarangan Majapahit sendiri.

Inspirasi sejarah diatas yang melahirkan Dyah Pitaloka (DP) sebuah karya sastra bergenre fiksi besutan Hermawan Aksan dan Perang Bubat (PB) sebuah fiksi realis buah pena Langit Kresna Hariadi. Sekalipun didasari oleh latar belakang sejarah yang sama, masing-masing karya tersebut berdiri sendiri untuk menyakinkan pembacanya, seolah-olah jalinan cerita buku tersebut adalah ’sejarah yang benar’.

Dikisahkan dalam keduanya,
Hayam Wuruk (HW) adalah raja kerajaan besar yang sudah waktunya beristri, namun belum memiliki calon. Hal itu menimbulkan kegelisahan Tribuanatunggadewi, sang ibu yang sekaligus raja sebelum HW. Diadakanlah seleksi wanita-wanita tercantik Majapahit dengan cara mengirim para pelukis kerajaan ke seluruh wilayah. Tapi, tak satupun hasil lukisan tersebut yang menggetarkan sang prabu. Kemudian, datanglah ide untuk ”mengikutkan” putri raja Sunda Galuh yang terkenal ayu, Dyah Pitaloka Citaresmi (DPC). Raja Linggabuana (LB) terbuka, namun pelukis majapahit yang dikirimkan kesulitan untuk melukis keelokan wajah sang putri.

Sampai pada titik tersebut, DP dan PB relatif sama dalam membawakan konten cerita, dan hanya kekhasan pengarang lah dalam berbahasa dan merajut cerita yang membedakan. DP lebih fokus dalam ’merekonstruksi’ sejarah tersebut, dan menjadikan DPC sebagai inti cerita. Sedangkan PB, banyak ’bumbu’ yang muncul, dimana menjadikan GM sebagai pusat cerita. Hal tersebut tentu tak bisa dilepaskan dari ’proyek’ pentalogi Gajahmada-nya LKH (PB adalah buku keempat), sebuah upaya membangkitkan tokoh Gajahmada di masa kini, orang luar biasa yang mampu menyatukan nusantara dengan teknologi dan sarana yang ada di masa tersebut.

Perbedaan cukup terbuka, adalah dalam mendeskripsikan Dyah Pitaloka Citraresmi. Dalam keseharian, DP melukiskan DPC adalah putri sunda yang lembut, peduli dengan perempuan sunda, cerdas, banyak membaca (juga kitab-kitab Majapahit), menjaga diri, dan berperangai sopan. PB menempatkan DPC sebagai putri sunda yang tangkas, mandiri, memberontak orang tua, dan pandai berkuda. Sekalipun DP dan PB juga menggambarkan kesamaan dimana DPC sudah jatuh hati kepada orang lain sebelum lamaran majapahit datang, DP lebih menjaga karakter DPC karena DPC tidak pernah berbuat lebih jauh. Sedangkan PB, DPC sampai menyerahkan ’tubuh’nya sebelum HW berhasil menikahinya.

Seperti apa DPC sebenarnya, kita tak pernah tahu. Satu yang pasti, garis paras DPC mampu membuat HW tak bisa berpaling dari lukisan sang putri tatar sunda itu, dan sebuah upacara pernikahan besar pun disiapkan. Namun GM tetap keukeh menjadikan pernikahan tersebut sebagai bentuk ’penyatuan’ Sunda ke dalam Majapahit.

Dan di PB, hal itu dituliskan karena Majapahit membayar ongkos mahal mengamankan perairan nusantara dari Tartar yang sangat ingin menguasai nusantara, sedangkan Sunda tak segera bersatu bahkan masih berhubungan dengan Tartar. Sekalipun keluarga kerajaan menentang termasuk Tribuanatunggadewi mengingat ikatan keluarga jauh yang masih ada antara Majapahit dan Sunda Galuh, serta eratnya hubungan keseharian dagang hingga banyaknya orang Jawa-Sunda yang saling menikah.

Kemudian, Langit Kresna menerjemahkan keinginan GM tersebut dengan mengangkat DPC sebagai raja, atas inisiatif Prabu Linggabuana sendiri. Sehingga pernikahan tersebut adalah pernikahan sederajat, antara raja dan raja. Hal ini tentu sebuah fiksi nyata, karena bagaimanapun sejarah mencatat LB yang berstatus raja dan putrinya datang ke Majapahit untuk pernikahan tersebut.

Lalu sampailah pada setting tema cerita, DPC dan ayahnya berangkat bersama beberapa pengawal ke Majapahit hingga tiba di Bubat, sebuah desa di perbatasan kotaraja. Dan disini, Hermawan menjadikan GM sebagai tokoh dibalik sejarah kelam perang bubat. Gajahmada menahan HW untuk menjemput ke Bubat padahal hal tersebut yang dijanjikan bersama sebelumnya. GM dan pasukan besarnya lah yang menjemput dan menyatakan pernikahan ini sebuah persembahan penyatuan wilayah. Namun, Langit Kresna-yang sangat mengidolakan Gajahmada tampaknya- memutihkan nama GM dengan menjadikan kisah pilu tersebut sebagai hasil kerja anak-anak buahnya yang sengaja ’salah’ mengartikan keinginannya, sehingga anak buahnya lah yang menjadi sebab onar perang bubat.

Akhirnya sejarah menuliskan peristiwa bubat, perang tak seimbang antara kujang dan keris sampai raja dan semua pengawal sunda tewas. Sang Putri punya harga diri, maka dihujamkannya sesuatu (DP menyebut tusuk rambut, PB menggunakan kujang kecil) ke jantungnya, nyawanya pun meregang.

Kedua buku bercerita akhir perang bubat dengan cara berbeda. DP membuat kisah dramatis saat menjelang DPC meninggal, bersamaan dengan datangnya Hayam Wuruk ke tanah Bubat dan DPC pun sempat melihat ketampanan HW. Hayam Wuruk memegang tubuh Dyah Pitaloka dan didekapnya sang putri untuk menghembuskan nafas terakhir. Di PB, akhir hidup DPC dipelukan Saniscara (LKH membuat tokoh fiktif), kekasih sejati DPC, seorang seniman dari Jawa yang akhirnya pun ikut mati terpanah.

Dan Majapahit berkabung. Hermawan mengakhiri cerita Dyah Pitaloka dengan dinginnya hubungan Hayam Wuruk-Gajahmada, sakitnya HW dan pemintaan maaf Majapahit kepada Sunda atas kejadian Bubat serta tidak menjadikan Sunda sebagai taklukan Majapahit. Sementara Langit Kresna mengakhirinya dengan kisah matinya Saniscara dan membiarkan mengambang tentang bagaimana kemudian posisi Majapahit dan Sunda Galuh setelah tragedi Bubat.

Secara umum, Dyah Pitaloka adalah tentang Dyah Pitaloka Citraresmi, ketragisan Perang Bubat serta ambisi Gajahmada, dan Hermawan pun lebih banyak bermain dengan peristiwa tragis, romantis dan sangat emosional, dengan istilah dan keindahan antara Bahasa Sunda-Jawa.

Sedangkan cerita Perang Bubat, Langit Kresna banyak menyertakan banyak kisah pengiring yang menambah khasanah dan menjadikan buku lebih tebal. Beberapa menggunakan istilah Jawa, tanpa banyak seni bahasa. Namun, Langit Kresna piawai dalam bercerita heroik, kedigdayaan, ketentaraan atau nasionalisme secara tidak langsung. Persis satu warna dengan kisah-kisah ’positif’ Gajahmada lain garapannya, diawali kisah Gajahmada menyelamatan Jayanegara (putra raden Wijaya, raja sebelum Tribuanatunggadewi) dari pemberontakan Ra Kuti. Jika membaca Gajahmada bagian pertama ini, pembaca akan mendapatkan gambaran situasi perang dengan formasi-formasinya yang gegap gempita.

Sangat kontras, wajah Gajahmada dalam dua karya sastra diatas. Mungkin karena sebuah karya memang tak bisa dilepaskan dari latar belakang penulisnya. Jika Mas Her (demikian biasa saya menyapanya) seorang jurnalis sebuah media di bandung, lahir dan besar di Brebes-perbatasan Jateng-Jabar (Jawa-Sunda), maka DP yang sarat bahasa Jawa-Sunda mirip sebuah ’sudut pandang’ Sunda dengan menempatkan Gajahmada (atau Majapahit umumnya) sebagai ’terdakwa’. Sementara Langit Kresna Hariadi adalah mantan seorang penyiar radio yang lahir di Banyuwangi, adalah seorang Jawa tulen. Sehingga kita akan beranggapan wajar, jika nuansa yang dibangun keduanya juga berbeda dengan kreativitas sana-sini layaknya sebuah fiksi-realis.

Bagaimanapun juga kedua karya ini berusaha untuk menjembantani tragedi bubat dalam konteks zaman yang berbeda. Karena Peristiwa Bubat -dan bukan
Perang Bubat (1357) tampaknya, adalah sebuah peristiwa besar sejarah yang kelam antara Jawa dan Sunda yang masih membekas hingga detik ini!

45 comments:

ikram said...

Cerita Peristiwa/Perang Bubat ini menyadarkan kita (oke, saya doang) betapa dari dulu ternyata negara ini dibangun dengan dasar kebohongan dan penipuan.

Seseorang pernah datang ke Aceh, bilang hendak mendirikan negara Islam. Gelang emas sudah dilego, pesawat sudah terbeli, tapi janji tinggal janji.

brama said...

at the end of the day.. tiap anak laki2 yang mau kuliah di tanah sunda dipesenin klo g ama ibunya ya ama neneknya.. (u know lah apa pesennya :p)

wiyono said...

tetapi hrus dilihat dan juga diandingkan dengan 'roman' kisah sejenisnya.
jadi ke petrokimia gak?

Trian H.A said...

#ikram: apakah dirimu skeptis dengan konsep negara kita selama ini?

#bram: ya, tau.. tunggu edisi lanjutan ttg cerita, sejarah dan realita.. :)

#wiy: roman sejenis ada apa lagi wi? petrokimia, belum jodoh.. :D

Galuh Syahbana I said...

Kapan2 saya pinjam buku2nya

agung said...

"dasar kebohongan dan penipuan" itu tergantung dari perspektif mana... Dari buku PSPB, jelas Sumpah Palapa adalah momen sangat istimewa. Dari pendapat lainnya, Sumpah Palapa adalah bentuk imperialisme jaman baheula...

ajitekom a.k.a kodokijo said...

sejarah memang menarik, saya paling suka justru kisah pewayangan :)

Warastuti said...

Udah lama mikir...
Kayaknya keren kalo kisah Bubat di-film-kan semodel "Jumong" yang berkisah ttg berdirinya negara Korea

Trian H.A said...

#galuh: kapan nulis buku? :D

#agung: whateva it was, sumpah palapa adalah sebuah tonggak sejarah.

#ajitekom: ya..sejarah memang menarik. yuk belajar dari sejarah.

#warasatuti: iya, trus yg jadi Dyah Piatloka-nya sapa ya? :p

Iman Brotoseno said...

ini benar apa nggak..sampai di jawa ada kepercayaan orang orang tua dahulu,..bahwa gadis jawa jangan menikah dengan pria sunda. Karena mereka takut kutukan dan pembalasan atas yang dilakukan Majapahit ( Jawa ) terhadap sunda.
..Juga nggak ada nama jalan Gajah Mada, hayam Wuruk di daerah Jawa Barat

viar said...

Waah.. isu sensitif antara kita nih mas trian wakakakaka..

Sejarah Bubat ini memang banyak versi. Tapi saya belum menemukan nih buku tentang ini yang ditulis secara ilmiah. Mungkin dari situ kadar subjektivisme dan chauvinismenya bisa sedikit tersingkirkan

Ada info pak?

Yang jelas di jawa barat ga ada namanya jalan majapahit atau gajah mada... Tapi di malang (kalo ga salah) ada ya jalan pajajaran. Silakan dinilai dari situ ahahaha

upasara said...

...Sementara Langit Kresna mengakhirinya dengan kisah matinya Saniscara dan membiarkan mengambang tentang bagaimana kemudian posisi Majapahit dan Sunda Galuh setelah tragedi Bubat....

lanjutannya bisa dibaca di GajahMada5-Madakaripura Hamukti Moksa

sapitri wulandari said...

yth sdr LKH
bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar dari sejarahnya. kita harus akui bahwa kita diwarisi sifat saling merebut kekuasaan dengan berdarah2. tapi, penulisan fiksi berbasis sejarah adalah media yang bagus utk belajar tanpa membosankan. Tentunya, subyektifitas penulis akan sangat besar untuk itu. seperti juga mengenai PERANG BUBAT.
saya sudah membaca GAJAH MADA: PERANG BUBAT. saya setuju sepahit apapun sejarah, kita harus realistis bahwa kita hidup di era yang berbeda. kita harus fair menempatkan gajahmada dengan keperkasaannya dan menghargai strateginya termasuk mengenai PERANG BUBAT.

saya bisa menerima kalo strategi menumpas ROMBONGAN TEMANTEN SUNDA hanyalah kebablasan penerjemahan perintah gajahmada oleh anak buahnya, sekaligus sebagai usaha sdr LKH, orang JAWA, untuk tetap membela gajahmada. Tapi, adalah subyektifitas yang SANGAT NISTA, sdr LKH menempatkan PRABU PUTRI sebagai WANITA SUNDA yang meminta KEHORMATANNYA untuk DINODAI (bahkan HARUS diulang dalam dua paragraf), meskipun dengan tokoh fiktif. saya minta sdr LKH harus bisa menjelaskan hasil risetnya yang mendukung dasar penulisan tersebut. sdr LKH tidak boleh merusak KEPERKASAAN dan HARGA DIRI dari PRABU PUTRI dan rombongannya dengan kenistaan seperti itu. siapapun WANITA SUNDA pasti merasa TERLECEHKAN. adat sunda (dulu) selalu menerapkan anak wanita dalam pingitan yang harus dijaga. memang mungkin juga PRABU PUTRI sudah punya kekasih, tapi dengan logika yang paling sederhana sekalipun sangat tidak mungkin menginginkan kehormatannya dinodai, apalagi dalam plot sdr LKH, SEKAR KEDATON sudah diangkat sebagai PRABU PUTRI. saya dengan sangat pendapat sdr AVID, http://yulian.firdaus.or.id/2006/12/23/gajahmada-4/#comment-84685 dan menganggap komentar sdr LKH http://yulian.firdaus.or.id/2006/12/23/gajahmada-4/#comment-85351 tidak cukup menjelaskan subyektifitasnya.

atas "ketidaknyamanan" membaca novel tersebut, saya menginginkan sdr LKH memberi alamat yang jelas untuk saya bisa kembalikan novel yang terlanjut saya beli. kalo konsumen (pembaca) sebagai raja, maka sebagai raja saya menitah sdr LKH untuk merevisi novel tersebut, terutama pada bagian meminta KEHORMATAN untuk DINODAI tersebut

saya tunggu,

SAPITRI WULANDARI SUNARMA

trian h.a said...

#upasara: saya memang belum membaca Madakaripura Hamukti Moksa, tapi sudah menebak (dan yakin) akan ending-nya :)

#Sapitri: maaf mbak, anda salah alamat. silahkan ke http://www.langitkresnahariadi.com/ tapi saya jg sudah fwd-kan komen mbak ke mail LKH. tks 4 ur visit.

sapitri wulandari said...

buat mas trian:
makasih atas fwd-nya. karena "ketidaknyamanan" itu, sengaja saya pasang komen di blog yang saya temukan mengenai bubat, termasuk kirim email ke lkh. mudah2an jadi kesadaran lkh utk berhati2 memberikan gambaran mengenai wanita sunda.

trian h.a said...

#sapitri: kenapa sapitri tidak sendiri mengirimkan komentar ke LKH? dan sebaiknya sapitri meninggalkan alamat email (atau blog) shg bisa dua arah.
ini jawaban mail dr LKH:
Trian akan aku akan beri komentar di blog kamu, nanti sepulang dari Jakarta.


terima kasih

[irwan] said...

Waktu saya kecil, kakek saya sering mengisahkan perang bubat dengan gaya bersenandung (pupuh).

Beliau menggambarkan kisah kepahlawanan dan kegigihan dalam menjaga kehormatan.

Saya semasa SD dulu sering bentrok argumen dengan teman yang memuji kisah ksatria Gajah Mada dengan Sumpah Palapa-nya.

Anonymous said...

bukan hanya nama jalan HW & GM yang ga ada di Jawa Barat, bahkan sampai restoran bakmi yang paling terkenal di jakarta "GM" waktu itu tahun 1985 buka di jalan dago (jalan paling terkenal di bandung) bisa tutup ga samapi 1 tahun...

Anonymous said...

perlu saya informasikan (Sy Org Bdg), bahwa di Bandung ada komplek yang bernama komplek Singosari (elit lagi euy) dan jalan besarnya dinamai jalan Singosari ditambah Ruko Singosari, jadi wajar saja kalo di solo ada jalan pajajaran itu sudah sewajarnya sebagai daerah yang tau betul makna persaudaraan), mengenai kenapa tidak ada jalan Gajahmada dan Hayam Wuruk di Jawa Barat saya kembali bertanya pada anda, apakah di Jawa Tengah atau di Jawa Timur ada jalan yang bernama Jalan Siliwangi?, Jalan Wastu Kencana?, Jalan Diah Pitaloka?, menurut saya pribadi sangat jelas bahwa di bandung tidak perlu ada nama Jln. Gajah Mada atau Hayam Wuruk masalahnya lain Raja urang euy .....,nuhun

langking said...

Perang Bubat, pertempuran tak seimbang antara prajurit Sunda Galuh dengan prajurit Majapahit. Perlu dimengerti, bahwa sejarah mencatat, sudah berkali-kali Majapahit memberi warning kepada kerajaan Sunda Galuh di bawah Raja Lingga Buana untuk segera menyatu di bawah kekuasaan Majapahit. Hanya berupa WARNING, hal itu sebagai toleransi Maha Patih sekaligus Panglima Nusantara Gadjah Mada untuk tidak menyerang secara fisik ke Sunda Galuh, mengingat banyak abdi dalem atau pembantu di kerajaan Majapahit berasal dari Sunda Galuh. Namun pada gilirannya, Prabu Lingga Buana malah dengan akal bulusnya untuk tidak mau mengorbankan ego pribadi kehormatannya sebagai seorang raja berusaha menyelamatkan diri dengan menyerahkan kekuasaan atas Sunda Galuh kepada putrinya Dyah Pitaloka untuk dipersembahkan kepada raja Majapahit Hayam Wuruk untuk dinikahi. Sebenarnya secara politis Wilayah Sunda Galuh secara otomatis sudah tunduk di bawah Majapahit secara terpaksa untuk menghindari terjangan pasukan besar Majapahit, namun di sini kita abaikan kekuatan militer Majapahit di bawah Gadjah Mada, putra kelahiran Lembah Brantas wil.Tuban Jawa Timur. Focus dan Locusnya ada pada kelicikan Prabu Lingga Buana yang tega menyerahkan kehormatan putrinya hanya untuk kepentingan ego pribadi, bukan untuk menyelamatkan Wil.Sunda Galuh.
Sebenarnya gampang untuk menaklukkan Wil.Sunda Galuh, pada waktu Majapahit mengadakan expidisi Pamalayu I dan II ke wil.Sumatera hingga Campa, karena melewati wil.Sunda Galuh, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, namun kembali kepada toleransi militer pimpinan Gadjah Mada, karena perasaan dan pengertian Gadjah Mada mengingat banyak abdi dalem atau pembantu kerajaan Majapahit berasal dari Wil.Sunda Galuh.
Sejarah juga mencatat, meski disembunyikan dalam guci sejarah oleh orde lama dan orde baru, bahwa pada masa kekuasaan Mataram Islam, wil.Padjajaran (Sunda Galuh)selalu memberikan upeti tanda takluk kepada Mataram melewati jalur selatan melewati Cilacap. Namun kita semua harus maklum, realitas sejarah tersebut harus kita terima dengan lapang dada, itulah goresan sejarah.

Anonymous said...

#Langking: hmmm ... akal bulus Prabu LinggaBuana kata anda .. konotasinya koq negative yaa.... kalau melihat kenyataannya, seluruh rombongan Sunda lebih baik mati daripada dihinakan, ini yg pertama. Yang kedua, kalau melihat perilaku orang Sunda, orang pegunungan yg tanahnya subur, hidupnya makmur, mereka2 cenderung untuk cinta damai, tidak berambisi offensive. Hal ini saya lihat kalau saya jalan ke desa2 pegunungan di daerah Kawali, Ciamis yang katanya tempat dimana dulu kerajaan Galuh berada. Komentar anada sensitive, memojokkan.

Tulisan LKH secara umum baik, halus di dalam menjelaskan peristiwa tsb., tdk memojokkan orang Sunda maupun Jawa, terkecuali di bagian penyerahan diri DP. Hal ini sensitive, dan sebaiknya dihilangkan. Terimakasih. Wass. Ajie Ima

Anonymous said...

Sejarah ditulis oleh siapa yang berkuasa. Didalam buku pelajaran sejarah yang ada, sumpah palapa dari GM dan pengagungan GM sebagai pemersatu nusantara sangat mendominasi, terlepas dari analisis subjective dari sdr langking faktanya ada satu negeri yang tidak pernah ditaklukan - (bahkan setelah rekayasa peristiwa bubat). Rezim Suharto memang berkepentingan dengan sejarah seperti yang tertulis saat ini.
Lalu kemana GM setelah peristiwa bubat. LKH mungkin punya versinya, tapi saya denger dari seorang tentara bahwa kasus hilangnya GM pun dipelajari di dunia tentara (intelejen). Intinya GM 'dihilangkan', sama seperti para aktivis 'dihilangkan' atau para tokoh yang tidak sejalan dengan penguasa 'dihilangkan' atau paling tidak 'dihabisi' karirnya....

Anonymous said...

Apakah/apalah arti sebuah nama..?
Nama musti ada artinya.

Berikut menurut ilmu TANTRA-WANGI:
===(sebuah aliran hindu India)===


Tentang 2 tokoh yang bersangkutan
adalah DYAH PITALOKA dan GAGAH MADA.
1. Dyah = Putri = Rati = Ratu = angka-1.
PitaLoka = LembahBerbukit/Taman yang ber-air = EDEN.
= Simbol kemaluan wanita = angka-8.
= M*M*K.
Artinya: 'Sang Ratu M*M*K'. ===angka-18.

2. Gajah = Ya gajah = gedebanget = angka-9.
Mada = A-D-A-M = angka-1.
= Simbol dari seorang laki.
= K*NTOL.
Artinya: 'Sang K*NTOL Gajah'. ===angka-91.


Jumlah genap sangat cocok untuk wanita.
Jumlah ganjil lebih cocok untuk laki2.
Jika kedua orang tersebut digabung memang sangat cocok.
Mudah-jodoh, serasi. Bahkan sempurna untuk dunia.
Jika angka-7 = besar. angka-8 = sempurna/penuh.
Sedang angka-9 = overdosis = sempurna + sakti/supra.


SCANDAL-BUBAT bukan tentang HYANG-WAROK dan DYAH-PITALOKA
Apalagi tentang LinggaBuana dengan HyangWarok..!

Jadi cerita sebenarnya keduana saling jatuh cinta.
Tapi karena posisi ke2nya kurang menguntungkan.
Maka terjadilah SCANDAL itu.. PERANG-BUBAT.
Dibutuhkan syarat dengan banyak tumbal darah
Untuk bisa menuaikan takdir cita2.. CINTA..!

Salah seorang dayang/emban sang ratu rela berkorban.
Dengan mengenakan pakaian sang RATU dia BelaPati/mati.
Sedang sang RATU menyembunyikan diri.
Dalam sejarah RATU masih tetap memerintah kerajaannya.
Dengan cara dibalik-layar sembunyi/halimunan.

Sang RATU juga punya banyak keturunan dan anak cucu.
Dan menjadi keluarga yang sangat besar hgg sekarang.

==================================
kata siapa mereka ambisius & matre
===MA'AF==========================

Anonymous said...

Apa pentingnya & apa maknanya Gajah Mada bagi Rakyat Parahyangan / Tatar Sunda (bukan Jawa Barat). Nonsens lah.

Lagian malu, di Tatar Sunda pake jalan Gajah Mada. Nggak pantes bagi wilayah yg orang2nya lemah lembut & penuh sopan santun menggunakan nama jalan Gajah Mada yg terkesan Kasar, Serakah, Nubruk sana, nubruk sini & Licik.

Kami selama ini nggak pernah mempermasalahkan atau menuntut di Jawa Tengah atau di Jawa Timur harus ada jalan Siliwangi atau Padjajaran. Maka tidak etis rasanya suku lain (Jawa) selalu mengungkit-ungkit masalah tsb., dll. Sungguh selalu memancing keributan antar suku. Kapankah Saudaraku (suku Jawa) akan berhenti memancing2 keributan dengan suku2 lain? Introspeksilah (kalau tidak mau disebut merasa lebih SUPERIOR dari suku2 lainnya)

Anonymous said...

"Fakta":Gadjah Mada ibarat jengis khan kecil,atila atau tipe2 orang yang haus akan kekuasaan duniawi, ingin memperluas kerajaannya,pada saat itu memang dari seluruh Nusantara hanya daerah Sunda yang belum takluk karena apa?Karena tentara Majapahit kalah dari tentara pajajaran, dua kali nyoba nyerang tp dipukul mundur, dari pihak sekarang yang notabene kebanyakan dari jawa hal ini tentu sebagai aib, dan hal ini ga pernah diceritakan.Bedanya Gadjah Mada dengan penguasa lainnya mereka berani berperang secara jantan di medan perang dengan kekuatan sesungguhnya,tidak dengan Gadjah Mada yang pengecut membantai rombongan nikah dengan sedikit pengawalnya, bukan di medan perang sesungguhnya, yang memang Gadjah Mada dikalahkan.Ini bukan perang bung ini pembantaian, dan ini bukan strategi tp kelicikan, buanglah ego duniamu, tanyakan hati nuranimu,terima terhadap kebenaran atau ikut terseret hawa iblis gajah mada menjadi manusia yang menghalalkan segala cara demi syahwat kekuasaan,bertobatlah atau alam yang akan menghukumu.

Anonymous said...

Haa....Haa....Haa....
Imbasnya di Zaman Modern ini, lelaki jawa dilarang nikah dengan wanita sunda. Dan pada realitanya, laki-laki jawa yang nikah dengan wanita sunda??? Hee..hee...hee.... dalam hal nafkah terlalu banyak tuntutan. Baik nafkah lahir maupun bathin. Akibatnya...ada (tidak semuanya)wanita sunda bangga kalo menjadi janda kembang, bangga kalo sering kawin.

willy said...

perang bubat n=menunjukan :
1.Pajajaran bukan bagian dari majapahit
2.Memang mojang priangan itu dari dulu cantik

Anonymous said...

tong loba ngomong aing sebagai sunda bangga ka karuhun kuring geus loba buktina aya teu perebutN KEKUASAAN DI PAJAJARAN EUWEUH DA SUNDA MAH CINTA DAMAI MEMENTINGKAN PERDAMAIAN DAN KEMAKMURAN RAKYAT ,TAPI DI JAWA AYA PERANG PAREGREG AYA SILIH PAEHAN DI DEMAK ANTAR PUTRA MAHKOTA GEUS JELAS TEU KUDU FI BAHAS DEUI,SAHA SUKU JAWA SAHA SUKU SUNDA KUMAHA KARAKTERISTIKNA...GEUS CICING TONG LOBA NGOMONG NU ENGGEUS MAH ENGGEUS...

asep said...

sejarah dibuat oleh orang-orang yang berkuasa. Dan tokoh-tokohnya biasanya menjadi pahlawan walau kadang seolah pahlawan tanpa ada cacat sedikitpun. Orang yang berambisi menguasai atau mempersatukan akan dikenang menjadi pahlawan yang diagungkan tapi jangan lupa mereka juga manusia biasa pasti pernah melakukan kesalahan. Dan biasanya kesalahan-kesalahan mereka berlumur darah, penderitaan negri jajahan dan kematian. Gajah Mada seperti Alexander the great di Eropa, Kublai khan di asia, Hitler di Jerman. Yang jelas kita harus mengambil hikmah, ketika ambisi yang berlebihan maka suatu saat akan memakan korban. Membaca sejarah bukan untuk mempertentangkan kebencian antar suku atau bangsa tetapi untuk mengambil hikmah perilaku manusia yang itu bisa lahir dari rahim ibu dari suku dan bangsa manapun. Bagi saya Gajah Mada manusia biasa yang pernah salah dan kesalahannya tidak bisa diwariskan kepada generasi-generasi selanjutnya, melainkan untuk diambil hikmahnya

Asep-Orang Sunda asli

Anonymous said...

kalo berbicara tentang perang bubat gak akan pernah ada habisnya... yang salah jelas gak akan pernah mau dianggap salah... kita lihat aja deh kenyataannya... rombongan dari kerajaan sunda dibantai di bubat... ini jelas sebagai kesuksesan besar untuk majapahit.. kalo memang tujuannya bukan penjebakan, kekuatan majapahit yang sangat hebat (menurut riwayat) memungkinkan untuk menangkap hidup hidup rombongan dari kerajaan sunda tersebut... atau bahkan kalo memang mempunyai jiwa besar, kenapa tidak membiarkan mereka kembali ke kerajaannya dan menentukan waktu perang... please deh... sudahlah tidak usah diperdebatkan karena yang lalu sudah berlalu... juga mengenai dyah pitaloka yng menyerahkan tubuhnya pada orang lain kenapa harus ditulis dalam buku ini...? kalo memang ingin memasukan cerita perkimpoian disitu.. ya sudah buat saja bahwa memang jaman itu semua orang di indonesia ini menghalalkan perkimpoian.. jelas kan jadi tidak ada sebagian orang yang merasa terganggu....

Anggia Eneng said...

Aduhhhhh saya setuju dengan pendapat AN THE END OF DAY pun jika ada pemuda jawa yang kuliah di tanah sunda akan dipesenin oleh leluhurnya si nenek apa si kakek, jangan nikah ama gadis sunda..gadis sunda itu matre
ga terimaaaaa!!!!!!!!


just info...aku orang sunda asliii
gede di Malang
dan memang sering mendengar opini bahwa kami ini cantik2 tapi nakal.
entah itu memang dari keturunan sejarah,,
kenyataanya sampai detik ini meski dilarang gimanapun cowo jawa lebih seneng cewe sunda coz kami cantik cantik wewwwww

FYI : cowok ku juga orang jawaaaaaa dan sayang banget ama aku yg orang sundaaa

cuman setuju banget DENGAN SAFITRI WULANDARI
SETUJUUUUU
bahwa HATI HATI MENDESKRIPSIKAN KAMI

engga nyambung juga biarin...

munafik semua yang bilang perempuan sunda matre dsb tapi kalian enggan mengakui bahwa di nusantara yang terkenal cantiknya itu kami..

kalau ada 10 mojang priangan berjalan 9 cantik 1 jelek...

Anonymous said...

tambahan lagi..di malang satu satunya kota di jawa timur yang mau pake nama PADJAJARAN, tempat nongkrongnya banci pula..secara gw orang sunda gede disana..
jadi malang-bandung sister city...
kenapa gitu ya?
malang engga ikut ikutan ama kota kota lainnya di jawa yang ogah pake nama padjajaran..
tp di bandung sebaliknya..engga mau pake nama jalan tuh raja ama mahapatih sombong itu....

mau ga mau harus kita akui dibalik kata kata "terpulang kepada individu masing2"
karakater RAJA DAN MAHAPATIH itu TURUNNNNNNNNNNNN sebagian bahkan mungkin semua ke KARAKTER PRIA JAWA

dan sunda pun demikian...kecantikan dyah pitaloka turun ke turunanannya.
terkenal di nusantara bahwa

wanita sunda itu JELITA
dan enggak usah munafik kalo pria suka yang cantik...
wewwwwwwwwwwwwwwwwww

Anonymous said...

jaman dulu soalnya belum ada sms ato telepon, makanya bisa jadi kesalahpahaman, besok lagi klo ada apa2, makanya telepon ato sms dulu :D

Anonymous said...

Gajah mada bukan pahlawan,melainkan seorang pengecut,N yang mengagungkannya hanyalah orang" bego..jawa item jelek..

farid said...

sudahlah, namanya tetangga deket pasti banyak konfliknya. lagian sejarah menunjukkan bahwa prabu bratasenna/sena yang raja galuh ke 2 menikah dengan anak dari ratu kalingga. Trus, Menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3, Rakeyan Jayadarma 9 (Putra dari Prabu dharmasiksa, raja kerajaan sunda)adalah menantu Mahisa Campaka di Jawa Timur, karena ia berjodoh dengan putrinya bernama Dyah Lembu Tal. Mahisa Campaka adalah anak dari Mahisa Wong Ateleng, yang merupakan anak dari Ken Angrok dan Ken Dedes dari Kerajaan Singhasari. pernikahan Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal melahirkan Sri Sanggramawijaya atawa Raden Wijaya. You all see, sunda dan jawa tuh deket banget! palagan bubat itu tragedi, gajah mada dan prabu linggabuana ada di waktu dan tempat yang salah, keduanya memasang strategi yang kurang tepat. jadi, ya sudahlah. peace man.

Anonymous said...

wach...wah..pada kaya anak kecil semua....gimana bangsa Indonesia bisa maju....

Anonymous said...

Menuliskan sesuatu yang bertalian dengan satu kejadian, pasti sumbernya adalah fakta kejadian yang bersangkutan, namun tentu dalam proses perjalannnya terpengaruh oleh kondisi-kondisi yang dapat mewarnai inti dari kejadian tersebut. Hal ini, salah satu tujuannnya adalah mempertimbangkan efek sivil yang ditimbulkannya.
Tulisan demikian bila ditelusuri kebenarannya harus didasarkan kepada bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan tingkat keakuratannya, apalagi suatu tulisan yang diadumaniskan dengan daya imajinatif. Tentu nuansa tulisan tersebut akan berbeda dengan tulisan hasil penelitian terhadap suatu kajian yang bersifat keilmiahan.
Bebagai factor dan di antaranya yang dominan mempengaruhi terhadap penulisan dari satu kejadian adalah bila tulisan tersebut dihubungkan dengan phenomena kondisi politik yang menyertainya, didukung pula oleh tujuan dari penulisan tersebut untuk mengaburkan bahkan menghilangkan atau menghapuskan jejak. Tulisan bersangkutan tentu akan mengundang berbagai versi untuk kajian generasi berikutnya yang ujung-ujungnya melahirkan kontroversi tak berkesudahan, bak kelindan yang berputar terus-menerus tiada ujung, menjauhkan kesimpulan yang ajeg.
Celakanya kalau suatu tulisan itu miskin dari bukti-bukti yang memang sengaja dihilangkan, sekalipun ada tidak menutup kemungkinan dibuat rekayasa. Oleh karena itu, benar pendapat yang mengatakan, bahwa kebenaran hakiki dari suatu kejadian adalah yang dimiliki oleh pelaku kejadian itu sendiri, dengan Tuhan Yang Maha Tahu dan Benar.
Alhasil seperti cerita kejadian “Perang Bubat”, sebagian pihak mengatakan begini…, sebagian pihak mengatakan begitu…, bahkan ada sebagian pihak yang mengatakan kejadian Perang Bubat itu sama sekali tidak pernah terjadi. Semua pihak memiliki argumen dan kajian masing-masing. Sangat logis dan manusiawi karena semua dari kita tentu mempunyai kepentingan dan egonya sendiri-sendiri.
Yang luput dari pengamatan bahwa setiap manusia mempunyai satu titik keutuhan dalam jiwanya yaitu “ TITIK KEBENARAN” , maka dari itu , dari sejarah harus menjadi tarikan benang dalam suatu lingkaran kearifan yang merangkul toleransi nilai-nilai kehidupan kebersamaan yang tidak menimbulkan konflik.

Anonymous said...

Perang Bubat itu tidak ada, yang ada adalah SKANDAL BUBAT, akibat keteledoran yang bertalian dengan intrik politik orang-orang yang berambisi dari dalam istana dalam usahanya menggulingkan PATIH GAJAH MADA. Moment peristiwa perencanaan pernikahan antara "Raja Hayam Wuruk dan putri Sunda Dyah Pitaloka Citraresmi" dijadikan kesempatan oleh mereka menyerang rombongan Sunda di Bubat, maka terjadilah adu argumentasi antara orang-orang yang mengaku-ngaku utusan Patih GAJAH MADA dengan pihak Sunda yang ujung-ujungnya menimbulkan perkelahian, maka tidak cukup alasan peristiwa tersebut disebut PERANG BUBAT, karena kondisinya berbeda dengan situasi perang. Karena peristiwa tersebut terlanjur terjadi dan pihak Majapahit merasa malu atas kejadian itu, akhirnya pihak dewan Kerajaan mengadakan rapat tertutup yang menghasilkan keputusan bahwa PATIH GAJAH MADA harus bertanggungjawab dengan alasan tidak dapat mengendalikan PASUKAN BHAYANGKARANYA, kenapa sampai ada PASUKAN DEMIT menyerang rombongan Sunda di Bubat. SKANDAL BUBAT tersebut ya jelas tidak ditulis dalam buku NEGARAKERTAGAMA, walaupun ada di PARARATON pun hanya sedikit dan tidak kepada inti yang sebenarnya, semua itu ada unsur kesengajaan, sedangakan KIDUNG SUNDA/SUNDAYANA adalah penulisan yang tak lepas dari unsur rekayasa terhadap kejadian itu...buktinya sampai sekarang mengundang kontroversi terus-menerus yang melahirkan sentimen kesukuan antara Sunda dan Jawa...maka sudah saatnya kita semua menjadi LEGOWO...

RENGGANIS MIPIT ASIH said...

Cuma saya tidak setuju terhadap novel tentang Bubat karya Pak Langit yang nota bene berlatar sejarah, yaitu pada penggambaran Putri Dyah Pitaloka, walaupun itu fiksi, tapi tetap saja pada kenyataannya berpijak kepada sebuah peristiwa masa lampau nenek moyang kita, apalagi peristiwa tersebut sampai saat ini masih kontroversi diperdebattkan yang rawan konflik antar dua etnis yaitu Sunda dan Jawa atau Jawa dan Sunda. Alhasil dari penceritaan novel tersebut tidak akan membuahkan solusi yang ada justru menjadi pemicu kontroversi berkepanjangan, yang akhirnya resolusi antar kedua kubu tersebut menjadi jauh bara dari panggang.

RENGGANIS MIPIT ASIH said...

Cuma saya tidak setuju terhadap novel tentang Bubat karya Pak Langit yang nota bene berlatar sejarah, yaitu pada penggambaran Putri Dyah Pitaloka, walaupun itu fiksi, tapi tetap saja pada kenyataannya berpijak kepada sebuah peristiwa masa lampau nenek moyang kita, apalagi peristiwa tersebut sampai saat ini masih kontroversi diperdebattkan yang rawan konflik antar dua etnis yaitu Sunda dan Jawa atau Jawa dan Sunda. Alhasil dari penceritaan novel tersebut tidak akan membuahkan solusi yang ada justru menjadi pemicu kontroversi berkepanjangan, yang akhirnya resolusi antar kedua kubu tersebut menjadi jauh bara dari panggang.

Anonymous said...

Apa pelajaran yang bisa kita tarik? Bahwa dendam bisa terus berkobar meski telah berlalu 600-an tahun?

gueaje said...

Sejarah Yang aneh....kwkwkwkw..............gw orang jawa..bini sunda....hidup di sunda....beda jaman bro...kalopun bener biarin ngapa???...gausah terlalu di hubung2kan dengan masa kini...namanya orang=manusia=wong=jelema ......gak di mana-mana di karuniai sifat yang sama dari SONOnya.....

WEESSS OJO PODO DI RIBUTAKE...UREP SENG DAMAI ADEM AYEM LAK ENAK TA......

GEUS...TONG DI PARIBUTKEUN...URANG ...HIRUP RUKUN SAUYUNAN LEUWIH MANFAAT......

Harry Sulistyadi _ Medan said...

wah wah yg komen kayanya juga semua ego mau menang sendiri, satu tersinggung yg lain tersungging, mari kita kembalikan kpd diri kita masing-masing demi kebaikan bangsa yang sudah mulai rusak ini. Iparku org SUNDA, om ipar juga org Sunda, bahkan teman2ku juga org Sunda, damai2 saja. Mari kita tunjukkan kebaikan di dunia ini. Harry Sulistyadi - Medan

naryata said...

Sejarah itu dulu memang dibelokkan orang Belanda sesuai dengan politik pecah belah devide et impera.....untuk memecah Jawa dan Sunda.....Jawa Sunda tetep bersatu..NKRI..ngapain ribut-ribut hal yang sama-sama tidak kita ketahui dan belum tahu kebenarannya

naryata said...

Sejarah itu dulu memang dibelokkan orang Belanda sesuai dengan politik pecah belah devide et impera.....untuk memecah Jawa dan Sunda.....Jawa Sunda tetep bersatu..NKRI..ngapain ribut-ribut hal yang sama-sama tidak kita ketahui dan belum tahu kebenarannya