Sunday, November 04, 2007

3 karakter perempuan Jawa, masih adakah?

Dari masa tumbuh hingga besar di Jawa, ada tiga karakter yang saya tangkap dari umumnya perempuan jawa itu.

1. Tangguh, bekerja keras, pantang menyerah
Karakter ini bisa terlhat jelas di pedesaan jawa, sangat banyak (mungkin semua) perempuan jawa bekerja membantu kehidupan keluarga di sawah, rumah sendiri atau rumah orang lain. Parameter bekerja aadalah menghasilkan (earning) dan cukup bisa membagi waktu untuk keluarga. Ketangguhan dan pantang menyerah terhadap tujuan hidup untuk perempuan jawa modern sekarang mungkin bisa dilihat dengan banyaknya yang merantau keluar daerah seorang diri untuk bekerja atau pendidikan.

2. Hemat, tidak matre, mau hidup susah
Relatif mementingkan hal yang lebih besar dan jangka panjang daripada penampilan sesaat. Tidak berlebihan dalam bersolek sesuai dengan kondisi sosial-ekonominya, lebih memilih rumah yang cukup daripada memaksakan diri punya mobil, hemat sekaligus siap segala sesuatu yang menyusahkan, serta mau berjuang hidup bersama dengan kondisi pas-pasan.

3. Penurut, setia, lembut
Menurut apa kehendak laki-laki (dan memang cenderung inferior atau justru bisa dilihat sebagai bentuk menghargai laki-laki), tidak menuntut, dan lemah lembut (konon apalagi untuk perempuan Solo). Ada ‘kurang baiknya’ juga mungkin, dimana banyak poligami dilakukan oleh laki-laki jawa (hanya kemungkinan melihat statistik minimal 50% penduduk Indonesia adalah Jawa). Ingat Ayam Bakar Wong Solo, kata sebuah sumber penjualannya di sebuah kota di non-jawa) merosot (sekarang tutup?) karena ‘aksi boikot’ yang dilakukan oleh ibu-ibu di kota tersebut. Terlepas dari poligami, disini hanya melihat dari sisi penurutnya.

Tiga hal diatas pun sesuai dengan Ranggawarsita yang terbahas sedikit di sebuah buku tentang 3 watak perempuan yang menjadi pertimbangan laki-laki, yaitu:

Watak Wedi, menyerah, pasrah, jangan suka mencela, membantah atau menolak pembicaraan. Lakukan perintah laki-laki dengan sepenuh hati. Untuk pasangan yang terpisah jarak, seorang teman yang sudah menjadi istri pernah di nasehati untuk selalu patuh dengan kehendak suami, tentu dalam hal yang tidak bertentangan norma. Sudah terpisah jarak dan tidak setiap hari bertemu, masa harus disertai perselisihan yang tidak pokok.

Watak Gemi, tidak boros akan nafkah yang diberikan. Banyak sedikit harus diterima dengan syukur. Menyimpan rahasia suami, tidak banyak berbicara yang tidak bermanfaat. Lebih lengkap lagi ada sebuah ungkapan, gemi nastiti ngati-ati. Kurang lebih artinya sama dengan penjelasan gemi diatas. Siapa laki-laki yang tidak mau mempunyai pasangan yang gemi?

Watak Gemati, penuh kasih. Menjaga apa yang disenangi suami lengkap dengan alat-alat kesenangannya seperti menyediakan makanan, minuman, serta segala tindakan. Mungkin karena hal ini, banyak perempuan jawa relatif bisa memasak. Betul semua bisa beli dan cepat atau pembantu, apalagi untuk perempuan kerja zaman sekarang, tapi tetap masakan sendiri yang tidak tiap hari adalah sebuah bentuk kasih sayang seorang perempuan di rumah untuk suami (keluarga).

Tiga karakter yang baik dan sebenarnya tidak hanya bagus untuk dilekatkan dengan perempuan Jawa. Karena setiap laki-laki rasa-rasanya akan menyenangi karakter-karakter diatas.

Dan di era ini, bukan asal (suku) yang jadi masalah tapi karakter tersebut. Karena pun harus diakui tidak semua perempuan jawa mempunyai semua karakter diatas. Berkaitan dengan hal itu, saya sempat menemukan sebuah syair bagus yang dibuat oleh seorang perempuan jawa zaman ini untuk merepresentasikan kondisi tersebut (namun maaf, saya lupa dari mana sumber penulisnya). Jadi sekarang, semua kembali pada kita.

wanita Jawa itu,

ngerti tata-krama..
unggah-ungguh,
lemah lembut,
pemalu,
pantang menyerah,
pembaharu,
dan
setia

tapi aku juga seorang wanita jawa

21 comments:

edratna said...

Hehehe...dalam rangka mencari...."calon isteri Jawa?"

Tahu nggak, saya pernah dapat petuah dari teman cewek, yang sayangnya terlambat (saya udah menikah):
...Jangan kawin sama cowok Jawa, karena mereka pengin diladeni, makan harus ditemani dst dst nya...yang menggambarkan bahwa cowok Jawa itu dominan.

Saya pikir komentar dia ada benarnya juga, karena bagi pria Jawa, wanita harus siap melayani, inferior, pasrah dstnya. Tapi cewek Jawa zaman sekarang, terutama yang telah berpendidikan, nggak mau diperlakukan seperti itu, mereka memang tetap melayani (artinya ga berlebihan) suami dan anak-anaknya dengan kasih, tapi mereka juga menginginkan pasangan yang duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi...yang saling menghormati, serta mendukung karir masing-masing.

Manakah yang akan dipilih Trian (ingat diskusi kita tempo hari)? Punya isteri mandiri lebih nyaman lho, paling tidak suami tak perlu kawatir jika terjadi sesuatu, karena anaknya akan tetap terpelihara jika ibunya seorang wanita yang mandiri.

tony said...

Alhamdulillah..sepertinya temanku satu ini sudah tinggal sebentar lagi..

Ditunggu kabarnya ya Pak, jangan keduluan lucky :-)

isnuansa_maharani said...

Karena pun harus diakui tidak semua perempuan jawa mempunyai semua karakter diatas.

kalo saya, meskipun belum sampai tingkatan Gemi dan Gemati yang dimaksud dalam penjelasannya tsb, saya merasa memang seharusnya begitulah seorang perempuan.

Tangguh, kerja keras, hemat, bersedia hidup susah, adalah hal lain yang juga diharapkan ada [pada saya].

tapi, nek kon nurut [100%], yo wegah! opo meneh nurut dipoligami, gah!

Donny said...

Kok untuk point2 saya kok seringnya nemuin yang kebalikannya ya? :-/

trian h.a said...

#Bu Enny: sepakat dengan apa yang ibu sampaikan,harus saling mendukung antara pasangan. tulisan ini hanya merupakan sharing tentang image saya terhadap hal2 positif perempuan jawa. tentu ada juga sisi negatifnya.

misal penurut memang di satu sisi positif (laki-laki merasa terhargai dengan perempuan yang penurut lho bu..hehe). tapi juga akan menjadi tidak sehat jika benar2 menjadi dominan vs resesif.nah,disinilah seorang laki-laki juga harus paham.disinilah perempuan bisa berusaha mendapatkan-milih calon pendamping sesuai kebutuhannya:)

jadi, penurut di sisi istri dan paham di sisi suami. harus partnership! (saya berteori saja nih, belum praktek hehe).

tentang antara yg mandiri atau gimana, dibahas japri aja bu :)

#Tony: Amin.. do'akan yang terbaik saja mas. masih cukup lama tampaknya. oiya, met menempati rumah baru ya..

#Mbak Isnu: penurut memang harus dua sisi mbak. tentang poligami, kan udah bilang bahwa penurut terlepas dari pro-kontra poligami :D.

#Mas Donny: poin 2 yg tidak matre mas? hmm,mungkin mas kurang beruntung hehe.tapi ada 'suatu daerah' yang dikesankan matre-nya cukup kuat lho mas.setidaknya dibanding kesan itu buat perempuan jawa. tapi sekali lagi, ini bukan masalah daerah dan ini saya pikir adalah hal-hal positif :).

Galih said...

Nice, but cultural value is'nt a limitation Bro, it's abundant of variable and so flexible with external change.

But, still, my Mom doesn't appreciate me to approach the Sundanese...Hmm, why?

Cinta Itu Tidak Bersyarat. Percaya ? Any kind of cultural shock,we'll face it together, is'n it ?

Bimo Septyo Prabowo said...

semoga perempuan yang lain mengikutinya

edratna said...

Galih pasti dari Jawa ya...biasanya orangtua Jawa selalu berpesan, agar anak2nya tak menikah dengan gadis Sunda...ini cerita sejak jaman saya masih kuliah.

Tapi putri kami (saya dan suami dari Jawa), tiap kali jatuh cinta sama cowok Sunda, dan bagi saya tak masalah, mau menikah dengan suku apapun, negara manapun, karena yang akan melaksanakan kan ybs...tapi tentu berbeda suku, berbeda bangsa akan menyebabkan perbedaan kebiasaan, yang perlu waktu untuk menjembatani nya.

Iman Brotoseno said...

kalau Mayangsari gimana ya,..bapaknya dalang, jawanya sangat kuat..masuk kriteria nggak ya..he he.
anyway sepertinya jawa, sunda, papua sama saja lah...umumnya memang kesamaan budaya membuat lebih mudah berinteraksi keluarga maupun sosial.

aulia ardiansyah said...

Kalo cowok Jawa seperti apa Yan?

Jadi Jawa yan? :D. InsyaAllah kalo masih di Jawa, aku dateng deh. Tapi kalo yang nyebrang pulau tp masih deket2 Banten juga gak papa lah :D.

Okky P. Madasari said...

yang aku lihat......trian lagi pilih2 calon istri...huahahaha..

udah trian, jangan lama2..kalo bisa sebelum ditempatkan di tengah laut atau pedalaman dah nikah dulu..huahahahaha

Adit-bram said...

trian yang sekarang hanya berani menulis setahap demi setahap..

blom berani melangkah lebih jauh lagi...hehhee

aditbram
-hanyaberanikomen-

Lucky said...

lha, ton, apaan bawa-bawa nama gw! he33x. selamat menempati rumah baru!

Yang jelas saya gak mau nikah ama pria jawa, he33x.

Dewi said...

Sebenarnya apa sih maksud kau nulis tentang wanita? Dulu Sundanese sekarang Javanese? Lamar aja lah Bro,, biar gak jadi fitnah,, ntar kalo aku masih di Indo,, mau deh aku among tamu,, :D. Eh blogku di link lah,, kan udah change language :p

Dika said...

Hm,ngomongin tentang suku-karakter-SARA memang sensitif. saya selalu ingat stereotip wanita sunda versi jawa (apalagi ditambah 'perseteruan' novel Dyah Pitaloka dan Gajah Mada).Komentarnya :stereotip bisa jadi lecutan di satu sisi untuk berubah menjadi lebih baik, dan di sisi lain bisa menjadi 'bibit ketidakakuran' antar jawa-sunda.

*btw, Mas langit Kresna Hariadi dan Kang Hermawan Aksan juga berhasil mendobrak stereotip itu.:)

-yang seneng dapat bocoran novel terbarunya Kang Her

Warastuti said...

Akankah kau menulis tema-tema ini dalam penantian demi penantian..

Huehehehe.. Tahan gitu?

-salah seorang perempuan Jawa yang baru saja ditraining ibunya tentang bagaimana mengelola gaji pertama

nur susilowati said...

Hem...sebagai perempuan jawa "tulen",saya melihat apa yg ditulis oleh trian adalah fenomena labeling yang umum ada di masyarakat kita, terlepas diterima ataukah ditolak. Saya sependapat, sedangkal realitas yang saya tahu dan temui memank begitulah adat jawa mengajarkan seorang anak perempuannya. "Nrimo, mau diajak "susah", lebih "ngladeni", yach byk lah, itulah "sedikit nilai lebih" perempuan jawa dari perempuan suku lain umumnya. Namun, bukan lantas Labeling ini mutlak diperuntukkan "tok" utk perempuan jawa. Karena kaka saya aza nikah ama perempuan sunda (Memank rajin, tapi tetap melekat Khas ke-daerahan yang notabene itulah dasar labeling itu muncul, dimana latar belakang keluarga, misal suku akhirnya menjadi khas yang melekat pada seseorang)...So, perempuan Jawa ala "modern" sekalipun dengan segala positif Vs Negatif tetap "jawanya" akan lekat...Tinggal "Selera"...

benx said...

kalo Dian Sastro masuk kategori mana tu bos?
=)

amircool said...

makin dewasa saja temanku yang sedang bimbang memilih jodoh ini :p

Rachmawati said...

hmmm....
no comment ah... SARA nih.
eh komen ding, ngutip kata bijak seorang seniman luar, lupa namanya :D, pernah dibahas di kuliah metode penelitian kimia:

"All generalizations are dangerous, including this one"

Dwi Indah said...

ini literaturnya dari mana?
ada literaturnya atau hanya asumsi
thx...