Wednesday, November 21, 2007

Opportunity lost, yang selalu terlupa

Setiap kejadian dalam kehidupan kita, ujung-ujungnya selalu saja memunculkan respon antara positif dan negatif, antara suka dan tidak, antara kemauan dan realita. Tidak ada yang dalam posisi di tengah-tengah, selalu saja setidaknya menimbulkan kecenderungan.

Jika yang diterima itu adalah sesuatu yang baik, sudah barang asti tidak ada lagi yang perlu diributkan. Namun jika itu adalah hal yang tidak baik, tidak beruntung, atau keburukan pasti hati kecil pun akan mengatakan tidak menghendaki kondisi tersebut.

Dalam kondisi yang kurang baik itulah, kita seringkali lebih mengedepankan aspek yang lebih tampak (tangible) berupa materi atau uang, padahal ada aspek lain yang tidak tampak (intangble) yang dinamakan opportunity lost.

Opportunity lost (OL) secara bebas adalah hilangnya kesempatan lain (yang diharapkan lebih baik) karena suatu kejadian sebenarnya yang tidak dikehendaki. Itulah opportunity lost, yang secara langsung akan menyebabkan adanya opportunity cost (OC) sebagai ‘bentuk’ kalkulasi perkiraan kerugian yang diderita. Dan tampaknya, tidak semua orang tidak sadar bahwa sebenarnya OC ini lebih besar daripada biaya-biaya tampak.

Kejadian OL ini misalnya, saat kehilangan semua data di laptop karena format yang salah dalam rencana servis, maka kesempatan untuk melakukan hal-hal lain yang lebih baik jika data itu masih ada pun menjadi hilang. Ini bukan tentang jumlah uang 1-2 juta untuk biaya tangible servis dan upaya recovery data (yang seolah-olah ‘useless’) sebesar, tapi ini tentang OC yang priceless.

Dengan data yang masih ada, sumber serta bahan tulisan masih sangat banyak sehingga frekuensinya tidak terganggu. Apalagi histori data sejak mulai mengenal komputer. dari Dengan format yang dijadwalkan lancar-lancar saja, maka akan ada banyak waktu untuk silaturahim kepada kawan yang mulai tinggal se-kota, atau berkunjung ke kota sebelah yang akhirnya batal karena 10 hari waktu ‘terbuang’ mengurus servis tersebut.

Bersikap realistis, legowo, dan sedikit menghibur diri (toh masih ada barang yang lain!) mungkin bisa mengobati. Tapi sejujurnya, manusia tetap akan berat menghadapi kondisi lost macam itu. Yang menimbulkan opportunity cost dan menghilangkan kesempatan lain yang lebih baik.

Jika ingin menyesal, marah kepada orang lain, atau menangisi nasib diri sendiri bisa saja hal itu dilakukan. Tapi tetap, hal itu tidak akan mengembalikan semua opportunity lost. Akhirnya sekarang, hikmah yang didapatkan dan mengusahakan tindakan preventif sehingga kemungkinan kejadian di masa depan tidak ada. Karena kesempatan dan waktu sangat berharga, priceless.

Seperti pepatah, kesempatan yang sama belum tentu datang dua kali. Tidak perlu menyesal diri karena hilangnya sesuatu karena risalah Islam mengajarkan, cukuplah barang dunia digenggam di tangan tapi tidak dimasukan di hati. Dan selalu menghargai kesempatan (waktu) seperti kata Nabi, dua rezeki yang manusia sangat sering lupa mensyukurinya, kesehatan dan waktu.

Jadi sekarang, mari selalu berusaha bertindak disertai rencana matang dengan banyak kemungkinan, sehingga mudah-mudahan semakin sedikit kemungkinan opportunity lost yang kita dapatkan.

8 comments:

edratna said...

Kalau OL nya "hanya" data hilang nggak apa-apa...yang berat jika kehilangan kesempatan yang lebih menjanjikan.

Untuk menghibur diri...mungkin karena memang belum takdirnya....

nur susilowati said...

Adagium, bahwa “penyesalan selalu datang diakhir” masih tetap pada pakemnya, belum bergeser, sehingga dia mau “ mendahului “ jadi di depan..hii. Bukan itu sebenarnya yang patut di cermati menghadapi apa yg coba trian kemukan. Karena toh, dalam konteks lebih luas, kondisi serba tidak menentu kadang selalu datang tanpa diundang, sehingga “trial & error” bukan lagi pilihan, tapi sebuah keharusan yang wajib alis kudu dilakukan, nah Lo..hii. Tentunya akan ada pengujian kematangan kita disana. Siap terima tantangan...??! Setiap peristiwa/momentum memiliki kurun waktu dan karakternya masing2, biarkan ia tersimpan di setiap file memori fikiran kita, dan saat dibutuhkan dengan mudah “klik” aja...hee(analog kompi kalie yee..)...Maaf tdk berkenan! Gambarimashoo...

Iman Brotoseno said...

kesempatan is a matter of luck..apakah ini juga mengharap sebuah opportunity cost ?

Donny said...

Yah, memang selalu ada kecenderungan itu, tapi memang ada manfaatnya juga sih ketika kita kehilangan sesuatu trus kita menghibur diri sendiri. Meskipun, sesak nafas juga kalau mengingat-ingat yang hilang itu...:))

amircool said...

makanya... bilang sekarang aja mas Tri.. sebelum diambil sama yang lain. OC karena OL bisa di tanggung seumur hidup lo kalau tidak gesit... LOL

trian h.a said...

#Bu Enny: ya bu, benar sekali itu.jangan berputus asa, jangan sedih terlalu lama.

#Mbak Nur: makasih komen panjangnya hehe

#Mas Iman: jika kita kehilangan atau kelepasan (gagal) memanfaatkan kesempatan yang 'matter of luck' itu, maka OC juga akan muncul kan mas? :)

#Mas Donny: sip. makanya harus belajar mas, kita harus belajar.makasih kunjungannya.

#Amir: apa maksudmu mir?hehe.jadi mau dibantuin ga? :p

fathy said...

ga ada satupun yang sia2 allah ciptakan, termasuk momen lost kita. dibalik setiap pristiwa katanya ada hikmahnya.. bukan begitu, mas trian? ;)

randompacking.wordpress.com said...

Mas Trian, saya mau tanya:

"kalo menunda pernikahan apa termasuk opportunity lost bukan ya...?"

Hehe...