Saturday, June 21, 2008

Hari Pasaran Jawa

Jika anda orang jawa (tulen), maka anda pasti dekat dengan istilah hari pasaran. Saya tidak tahu bagaimana asal muasal nya, yang jelas di hampir setiap kalender yang beredar di Indonesia selalu mencantumkan hari pasaran dengan huruf kecil di bawah tanggal. Hari pasaran tersebut adalah Pon, Wage, Kliwon, Legi dan Pahing.

Penggunaan pasaran ini jamaknya pada peristiwa-peristiwa penting manusia, seperti kelahiran, pernikahan, kematian, atau panen. Bahkan konon Pak Harto menggunakan hari pasaran Selasa Kliwon untuk mengambil keputusan-keputusan penting, misalnya kenaikan harga BBM (percaya tidak percaya).

Untuk kelahiran, jika anda lahir pada 19 April 1984, maka pada tanggal tersebut adalah hari Kamis Legi. Hari pasaran kelahiran ini di Jawa biasanya semacam diperingati setiap bulannya, karena setiap bulannya selalu ada setidaknya satu hari kamis legi.

Dalam setiap hari, ada angka yang lekat pada hari tersebut. Angka untuk tiap hari dan pasaran yaitu,

Senin = 4
Selasa = 3
Rabu = 7
Kamis = 8
Jum’at = 6
Sabtu = 9
Minggu= 5

Pon = 7
Wage = 4
Kliwon = 8
Legi = 5
Pahing = 9

(sumber: catatan keluarga)

Misalnya pasaran anda Kamis Legi, maka berdasar angka diatas anda mempunyai jumlah angka 8 + 5 = 13. Saya tidak tahu (dan tidak mau tahu) artinya apa. Tapi konon bisa digunakan secara sederhana untuk membandingkan jumlah angka dengan (calon) pasangan kita. Misalnya dia lahir pada Minggu Wage (5 + 4 = 9), maka jika sudah berpasangan datangnya pintu rezeki melalui kamis legi lebih banyak daripada melalui minggu wage (jangan percaya!).

Konon hari pasaran ini pula lumayan menjadi pertimbangan ’orang-orang lama’ jawa dalam memilih menantu nya. Jika pasaran calon menantu nya ’pas’, maka bisa dimudahkan. Jika menurut hitungan tidak, maka harus bersiap menghadapi kenyataan kejamnya cinta.

Untuk yang akan melenggang ke jenjang pernikahan, hari H pun harus ditentukan dengan menghitung tanggal dan hari pasaran baik. Buat anak muda mungkin hal ini seperti wasting time. Namun sebagai anak, sebaiknya tetap menghormati dan bersikap dewasa menghadapinya.

Lalu ada tafsiran hari pasaran yang saya dapatkan dalam milis-milis. Misalnya 19 April 1984 tadi (kepalang contoh :p), maka hasilnya hari pasaran Kamis Legi dengan lambang angin dan sifatnya (sekali lagi, jangan percaya!);

Angin selalu bertiup kemanapun tanpa rasa lelah, begitu juga yang lahir pada hari kamis ini, adalah orang yang tidak murah menyerah, semangat kerjanya tinggi, tekun dan giat berlatih. Tapi dia tidak betah dirumah. Cuma dia kadang-kadang seperti pepatah? bagaikan kacang lupa pada kulitnya,? yaitu suka lupa diri dan terkenal banyak omong dan curiganya berlebihan. Sifatnya yang bisa diacungkan jempol adalah: tidak pernah dendam.

Mengenai arti atau tafsiran hari pasaran kelahiran atau apapun, saya pribadi tidak percaya terhadapnya. Namanya juga berdasarkan pengalaman dari para mbah-mbah kita yang ’didokumentasikan’. Semua generalisasi adalah salah, tapi saya tidak total menyalahkan. Untuk hal budaya semacam ini, saya memilih untuk menjadikannya khasanah. Tidak menentangnya mutlak model FPI, tapi jelas tidak mempercayainya karena takut syirik. Hanya khasanah, seperti halnya garam dalam masakan. Memberi rasa sedap, tapi jika berlebihan akan merusak rasa itu sendiri. Bagaimana menurut anda?

File sharing: Kalender Jawa

22 comments:

KeCeBoNg said...

weeh, ini aneh.. ndak boleh dipercaya kok contohnya detail banged.. :)

kalau ga salah, seni perhitungan ini adalah salah satu peninggalan Hindu yang melekat erat dengan budaya Jawa (*hampir mirip dengan seni perhitungan serupa ala Hindu Bali*)

Memang benar nasib dan segala kejadian di alam ini adalah rahasia Alloh semata, tapi DIA membuatnya dengan perhitungan yang sangat matang.. kalaupun perhitungan seperti ini ada benarnya (*karakter saia memper banget dengan candraan tsb*) maka itu adalah bagian dari ilmuNYA yang diberikan bukan dengan Ridho-Nya (QS ArRahmaan).. Entahlah..

==first comment yang panjang==

hermana said...

Wah, Mas Trian tanggal lahirnya 19 April 1984 ya ?

Berarti beberapa waktu yang lalu berumur tepat 24 tahun dong ?

Apakah angka 24 berarti sesuatu ?
:p

sukma said...

hmm., ini toh yang disebut 'ngitung' .. *mikir*

kalau ini sekedar khasanah, seharusnya tidak sampai dieksekusi dalam kenyataan dong, yan.

tapi memang sulit sih., temen saya yang 'galak' juga tak berhasil menghindari 'hitungan' ini..

ya, inilah pentingnya dakwah keluarga kalau menurut saya. sulit., tetapi tetap harus dijalani! :)

Adit-bram said...

sesama angin jangan saling mendahului :p

mas tiran udeh nambah euy levelnya...

mule berhitung hari,berarti level pencariannya sudah terlampaui....

barakallah akh....

tetep nunggu undangan :p

okky said...

hihihihi..ketahuan! lagi nyari 'hari baik' ya??? huehehehe

Dewi said...

wallaaawww,,, aku dulu lahirnya sabtu pahing malam,, tapi katanya masuknya jadinya minggu pon,, padahal kalo sabtu pahing kan angkanya paling gede (9+9=18) hehehe,, konon katanya orang2 hebat lahir sabtu pahing (karena angkanya aja paling gede),, JANGAN PERCAYA!!!!

Anonymous said...

- ja diharib aikny atglb era paya? :D
- iwil lgiv easur priseon July 4th plea semake sure u&oth erfri ends comi ngtoba laisu dirman :)

noerce said...

Sbg keturunan Jawa (tulen-sejati), saya mendapati itung2-an ketika saya buka agenda (alm. Bapak). Ternyata beliau cukup "tlaten" membuat catatan rapi tentang angka "weton" (red. analog spt di atas)..

The fact, alhamdulillah, Bapak tdk menjadikan ini acuan dlm referensi mendampingi putra-putrinya menikah (misal sampai sedetail itung2-an trian). Meski di catatan beliau, saya temukan juga tiap anak2-nya, bahkan dari nenek-kakek, smp cucunya ada hitung-2nnya, dan buat saya hal ini cukup diketahui.

Akhirnya, setuju pendapat trian di konklusinya, utk "khasanah"& sgitu "tlatennya" beliau2 menjaga "kekhasan" ini. ^_^
(sumber catt. keluarga juga)

trian said...

#Kecebong: saya ingin memasukan dalam deretan my blog saja, jadi detil. daripada blog isi curhat mulu (no offense -peace).

#Hermana: angka 24 berarti 1 tahun lagi 25 tahun Mas.. :p

#Sukma: anyhow, saya akan tetap menghargai hitung2an seperti ini Ma. jadi tidak di bantah, dihargai saja. tapi kita sendiri tidak yakin karena hitungan itu :)

#Adit: tapi udah ada angin yang mendahului sih Dit?hehe. jadi kamu July kan?:p

#Okky: ah, hanya isu.. (niru iklan XL :D)

#Dewi: jadi minggu pon 12, lumayan kecil tuh nduk :p

#Anonym: ini sih sebenarnya salah satu dari yang komen (betul ga?hehe).

#Mbak Nur: jadi intinya, buat orang jawa ('non tulen'), kita hargai saja. kalau dijaga,bentuk post ini salah satu bentuk penjagaan itu.

Dika said...

khasanah budaya bangsa. setahu saya, sunda gak sedetail ini atau bahkan mungkin gak ada.

ikram said...

Contohnya subjektif banget, 19 April 1984. Tapi nggak papa deh. Tanggal keren.

agung said...

hehe yan...
apa maksudnya "menghargai", "khasanah" dan "penyedap rasa"? ada kesan eufimisme di sana
ti ati masuk syirik shugro...
mudah-mudahan "menghargai" tidak ekivalen dengan "mentolerir".
awal yang baik, berujung baik insyaAllah..

terus berhitung (bukang menghitung) bro... ;)

Ulya Raniarti said...

Kalau 1 Juni 1984 artinya apa yan?
Sudahlah yan, semua hari baik kok.. lebih cepat lebih baik malah :)

trian said...

#Dika: kalau Sunda ga sedetil ini, artinya apa dik?:p

#Ikram: hehe..tanggal keren emang.

#Agung: sip, makanya harus hati2. intinya sih ini sekedar 'wacana', jangan digunakan. just nice to know :)

#Ulya: 1 Juni 1984, Jum'at Wage.di ibaratkan (jangan percaya!) seperti Air. artinya apa, mangga buka link file share nya. Ulya, ditunggu undangan makin cepatnya hehe.

win said...

Kalo nggak salah, hari pasaran beda makna dgn yang kamu jabarkan. Menurut pengetahuan saya, hari pasaran adalah hari di saat pasar diadakan di suatu tempat. Itu pengertian di banyak tempat di Indonesia.
Hal semacam ini masih terlaksana di banyak wilayah di Indonesia. Seperti di Lombok dan Gorontalo. Pasar di pelosok kedua daerah tersebut hanya terselenggara di hari-hari tertentu. Di Jakarta pun seperti itu pada jaman dulu. Maka ada daerah yang disebut "Pasar Jumat", "Pasar Senen", "Pasar Minggu" dll.
Kalo hal yang kamu jabarkan itu adalah masalah penanggalan. Tidak ada kaitannya dengan hari pasaran seperti yang dimengerti di banyak daerah. Misalnya di Jawa yang penanggalannya memang berbeda dengan sistem penanggalan Masehi dan Arab. Sistem penanggalan tersebut sudah ada sejak jaman Budha dan Hindu. Kalo masih bertahan sampai sekarang, itu berarti sistem tersebut masih bisa digunakan. Saya melihatnya sebagai kearifan lokal. Nggak ada yang salah dengan itu. Seperti di Baduy yang menggunakannya untuk pengaturan pola tanam pertanian mereka. Begitu pun di Jawa dan daerah lain. Pengkhultusan atau pengaitan penanggalan dengan hal mistis sepertinya lebih disebabkan untuk menjaga alam tetap stabil. Misalnya di salah satu daerah di Sumatera Barat yang melarang penangkapan ikan di setiap hari Jumat. Memangnya ada apa di hari Jumat? Tidak ada apa-apa. Tapi, ternyata, bila ditelusuri dengan teliti, penduduk daerah tersebut mengacu pada Al Quran. itu menurut seorang teman saya yang penelitian di sana. Ada adaptasi nilai agama pada kehidupan sehari-hari.
Itu menurut saya. Mohon koreksi bila salah. Salam.

agung said...

Wah, interesting topik mas. Saya belakangan kepikiran tentang tes2 peramalan minat dan bakat dengan berbagai macam caranya. Kita dites atau pakai alat, trus penyelenggaranya menghitung, lalu keluar hasilnya. Dan yang menarik, salah satu cara menentukan bakat itu adalah dengan STATISTIK. Membandingkan profil kita dengan profil sekian banyak orang2 terdahulu yang berbakat di berbagai bidang.Nah, apa mungkin mbah2 ini juga mengumpulkan data statistik hari dan pasaran sekian banyak orang, lalu membuat database untuk diacu orang2 di kemudian hari kaya kita begini? Dasar mereka membuat angka2 apa ya? Btw, kalo liat di TV kayanya ramal meramal ini lagi naik daun, ada weton, ada nomer HP. Wew.

Lucky said...

ada software nya,,,sya mah sepakat aja kalo ada 'ramalan' yg baik, dan mati2an menetang kalo buruk (self-suggestion,,,hehehe)...

tapi karena software, jadinya sifatnya sama2 aja tiap orang...nggak customized. Saya kira, kesalahan setiap ramalan (dan kebodohan yang percaya) adalah selalu itu: kurang customized dan over generalisasi.

*Yes, khazanah..nice to know ajah...sabtu pahing (atau apa ya? lupa), dengan sifat bumi(atau tanah? hehehe ga inget, ntar liat lagi)

trian h.a said...

#Win: betul sekali, hari pasaran pada dasarnya untuk hari untuk adanya pasar. Namun hari pasaran ternyata berkembang jauh lagi seperti sebagian yang dibahas dalam post ini. semua yang Mas (Mbak) sampaikan betul, sebagai salah satu kearifan lokas, dalam bahasa saya Khasanah, namun yang patut dicermati, jangan sampai 'merusak' keyakinan pada Yang Maha Pemberi Keputusan.

#Agung: setau saya, 'ramalan' pada umumnya memang berdasar -yang dalam ilmu modern disebut statistik. jadi sifatnya kemiripan daris sekian banyak kasus. semacam primbon itulah rangkuman dari generalisasi tsb. karena sifatnya generalisasi, maka tidak sepenuhnya benar. dan pastinya, tidak untuk dipercaya. just nice to know.. :)

#Lucky: yup, tepat sekali ky. tapi kalau Cirebon apa masih pakai itung2 hari saat menentukan Hari-H Ky? :p

edratna said...

Wahh walau ngerti hari kelahiran plus wetonnya (istilahnya bukan hari pasaran Trian)....saya termasuk menganggap hari apapun baik. Tapi bagi yang terlajur percaya, harus diikuti daripada ada kekawatiran.

Tedjo said...

Posting yang keren bro...

ngurik urik budaya jawi...

wekekekekekkkk

dasar orang jadul...
suka mempermasalahkan Weton.

pernah ada korban tuh di kampung gue. ceritanya ada 1pasang kekasih yg lg jatuh cnta n kebablasan eh salah kebobolan.
terpaksa mereka harus nikah tapi berhubung weton si pelaku ada yg bertabrakan/ sama dengan pihak besan akhirnya ga jadi di nikahin n terpaksa nikah sama duda lokal.

wakakakakkkkk.... kasian yahhhhh...

aii said...

heeeee bingung :p

AnglingKencono said...

kl g tau g usah komen,semua hal didunia ini berasal dari jawa,g perlu banyak bicara,buktikan saja...
sedalam apapun kebenaran terpendam tetap akan muncul ke permukaan....
puja puji panghastuti....