Saturday, February 24, 2007

tentang niat menikah

Untuk apa menikah? Beberapa jawaban mungkin timbul dari pertanyaan ini, karena kodrat, ibadah, mencegah dosa, butuh melindungi dan dilindungi, kasih sayang, menurunkan generasi, dan lain sebagainya. Menurut saya untuk coba membuat sederhana, menikah itu memiliki dua tujuan utama. Satu tujuan agama atau keyakinan (ibadah dll), kedua tujuan pribadi sebagai pribadi manusia (cinta dsb).

Dan ada tujuan sekunder lain untuk menjadikan menikah menjadi lebih sempurna, yaitu tujuan sosial. Tujuan sosial artinya tindakan kita untuk menikah, memberikan dampak ke sosial mulai dari keluarga hingga masyarakat yang lebih besar. Dengan mempunyai tujuan sosial, maka menikah tidak hanya duduk dalam ruang privat kehidupan manusia.

Jika dengan tujuan agama atau pribadi telah jelas bentuk ejawantahnya, lalu bagaimana menikah dengan memberikan efek sosial? Sekarang mari kita bermain dengan data sebagai salah satu contoh, dalam hal ini pandangan Islam.

Potensi zakat indonesia menurut KH Didin Hafidudin sampai sekitar 20 triliun rupiah (what a huge number). Di sisi lain, anggaran pendidikan 2007 dimana pendidikan adalah masa depan bangsa ‘hanya’ sebesar 90,10 triliun atau 11,8% dari total APBN 2007 sebesar 763,4 triliun. Jumlah anak putus sekolah juta anak yang masih tinggi (sekitar 4,5 juta) menjadikan rasio pertisipasi pendidikan penduduk indonesia baru sebesar 68,4% dan tingkat pendidikan indonesia rata-rata hanya sampai SMP. Lalu jumlah anak jalanan di 12 kota Indonesia 75 ribu jiwa, dan di Jakarta sendiri 40 ribu. Sedangkan jumlah anak yatim piatu seluruh indonesia tidak pernah terdata dengan baik, untuk contoh di Aceh sebagai akibat tsunami, angkanya mencapai 72 ribu.

Lalu, apa hubungan angka-angka diatas dengan menikah? Tentu ada karena kita sedang bicara tentang menikah dalam bingkai sosial. Sebuah keluarga (yang mampu) seharusnya bisa menjadi salah satu solusi masalah rendahnya tingkat pendidikan, tingginya anak putus sekolah, anak yatim piatu atau tentang anak jalanan. Dalam kata lain, kita sedang bicara tentang anak asuh, bantuan pendidikan atau bahkan adopsi.

Karena dalam implementasi kehidupan Islam, potensi zakat yang sedemikian besar selama ini hanya terkumpul dalam hitungan miliar, sedangkan pemerintah tidaklah terlalu ‘mampu’ untuk menyelesaikan semuanya (disini kita mengenyampingkan segala ‘kesalahan’ pemerintah).

Tentang anak asuh, atau bantuan pendidikan tentu bukan hal yang sulit, yang dibutuhkan hanya kemauan dari kita semua. Yang lebih sulit adalah adopsi, karena adopsi artinya mengajak anak untuk masuk ke dalam kehidupan keluarga. Timbul sedikit masalah jika anak yang diadopsi ‘kurang beradab’, karena berasal dari lingkungan sosial berbeda. Tapi inipun sebenarnya bisa disiasati. Islam sendiri jelas-jelas berbicara tentang masalah egalitarian kecuali di hadapan Khaliq, tapi pemeluknya sendiri masih sulit untuk memandang semua manusia sama dalam kehidupan sosial.

Berkaitan dengan adopsi dan kesamaan, kita bisa melihat contoh baik dari pasangan Hollywood, Brad Pitt dan Angeline Jolie. Disamping Shiloh, anak dari hasil ‘cinta’ mereka, ada Maddox dari Kamboja dan Zahara dari Ethiopia. Sebagai umat beragama (terutama Islam), pemandangan diatas tentu menarik. Jadi, apakah kita (terutama jika muslim dan besar di daerah mapan) mau hidup serumah atau mengadopsi anak dari Papua? (maaf, ini hanya sebagai contoh). Atau anak dari lingkungan sosial yang jauh berbeda dari kita. Dan Pitt-Jolie ternyata bisa. Dalam sejarah Islam, posisi Bilal bin Rabbah yang asli Ethiopia dalam kehidupan Muhammad pun mulia.

Sehingga akan lebih baik jika anak-anak muda (apalagi keluarga yang sudah mapan) meniatkan menikahnya sebagai solusi masalah sosial. Jika semua keluarga (tentu asumsinya semua manusia akan menikah) yang berpenghasilan diatas rata-rata bertindak kongkrit pemecah masalah sosial, maka jumlah anak putus sekolah akan berkurang drastis, rata-rata pendidikan akan terangkat dan masa depan bangsa pun lebih cerah. Dan tentang pendidikan hingga adopsi diatas hanyalah salah satu contoh, dan masih terbuka contoh yang lain.

Dalam sebuah percakapan dengan seorang istri wartawan senior di kampung halaman kami, ternyata mereka telah melakukan tindakan diatas sejak hari pertama menjadi keluarga, hingga anak lulus kuliah dan berulang ke anak lain lagi. Dan itu hasil sebuah ikrar. Jika Tuti berkata kepada Yusuf, “Hidup kita adalah kerja..”, maka kita juga bisa membisikan nantinya kepada (calon) pasangan kita, “Hidup kita tak pernah sendiri..”.

9 comments:

Okky Puspa Madasari said...

Jadi... harus nunggu cukup materi dulu dunk?! sebelum nikah. Soal Angelina Jolie dan Brad Pitt aku sepakat mereka pasangan yang cukup 'menyenangkan' untuk dijadikan contoh.

Iman Brotoseno said...

mau nikah ? jalani aja..nggak ada yang bisa menebak bakal tambah bahagia atau tidak, tambah mapan atau tambah melarat,.sampai tua atau tidak,..tinggal berani apa tidak he he..
jangan lupa undang kalau nikah ye..

Galuh Syahbana I said...

Nikah berarti membangun momentum perubahan komunitas

scttrBrain said...

hoho, trian.

ta'tunggoni undangannya...mo pesen pre-wed photo juga bisa...

=p

ikram said...

nah tuh. temen dah setuju. kandidat udah ada (mgkn).. niat jg udah mulai.

tinggal pesen gedung sama desain undangan...

ikram said...

mulia..

oRiDo said...

jd kapan undangannya nih??
apalagi yang kurang??
penghasilan udh..
calon udh..
niat.. gak perlu ditanya..

so??
ayomajumaju...

ini deh aku tambahin info, sopo tau biar tambah semanget..
http://orido.wordpress.com/2006/07/06/hotd-pernikahan-dan-mahar/
http://orido.wordpress.com/2006/06/26/hotd-setuju-menikah/
http://orido.wordpress.com/2006/06/01/hotd-pernikahan/

klo mo poligami… baca dulu ini deh yah..
http://orido.wordpress.com/2006/12/08/hotd-taaddudpoligami/

semoga menjadi keluarga sakinah mawa’dah wa rohmah..
eh belum yah.. :D

jangan lupa ngundang yah..

wassalam

Warastuti said...

hoo jarene isih suwe?

ngapusi ki..

ganbatt trian!

mbakyumu ini rela kok dilangkahi:p

Trian H.A said...

ya..kalo mau nikah, jalanin aja. ga harus nunggu 'cukup materi'.

tulisan ini bkn berarti si penulis ingin nikah dlm waktu dekat,cmn 'urun rembug' ttg menikah yg seharusnya bs jd salah satu solusi sosial jg. ok?