Friday, February 09, 2007

Geliat Sastra Lama

Terinspirasi dari pelajaran sastra di SMU, maka mulailah membaca satra-satra lama. Pertama dan yang paling mengesankan, Di Bawah Lindungan Ka’bah-DBLK (tak tahu kapan Roman ini ditulis atau cetakan pertama, namun sepertinya sebelum Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, sedang cetakan 23, 1999). Membacanya saat bulan pertama/kedua tinggal di Bandung.

Lalu roman Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) kedua yang kubaca, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, ditulis 1938 dan mendapat cetakan 23 (1999). Mulai membaca tidak beberapa lama setelah menyelesaikan DBLK. Lebih tebal, masih kental sastra melayu kono. Berikutnya, roman Layar Terkembang, St Takdir Alisyahbana, cetakan pertama 1937. Menemukan buku usang cetakan 23 (1995) saat iseng jalan-jalan di pasar buku bekas Madiun liburan lebaran 2006 lalu.

***
Di Bawah Lindungan Ka’bah
Hamid, setelah ditinggal mati ayahnya tinggal bersama ibunya dan membantu urusan rumah tangga sebuah keluarga kaya. Zainab, anak dari keluarga tersebut berselisih 3 tahun dari Hamid, dan mulailah masa anak-anak yang ceria sebagai abang-adik mewarnai mereka. Selepas MULO, Hamid cenderung mendalami agama sedangkan Zainab sesuai adapt, dipingit di rumah sampai kelak bersuami.

Dalam menuntut agama, Bapak Zainab, Engku Haji Ja’far, orang yang selama ini membiayai hidupnya meninggal. Disusul kemudian ibunya. Sebelum meninggal, ibunya menangkap bahwa Hamid mencintai Zainab, kemudian memberi pesan bahwa Zainab dan Hamid laksana emas dan loyang yang tak akan mungkin bersatu. Seharusnya sudah cukup, bersyukur atas kebaikan Engku.

Setelah selesai mendalami agama di Padang Panjang, pulanglah Hamid ke Padang dan bertemu dengan Zainab. Tertangkaplah, betapa mereka berdua saling merindukan, tapi Hamid hanya berprasangka. Sayang sungguh sayang, ibunya Zainab tak paham apa gerangan. Maka Hamid lah sebagai ‘abang’ yang diminta membujuk Zainab untuk khitbah dengan laki-laki lain yang sedang menyelesaikan sekolah di Jawa. Pilu hati, Hamid meminta Zainab memenuhi kehendak ibunya.

Dengan kepedihan, merantaulah Hamid ke medan, kemudian ke Singapura, Thailand dilanjtkan terus hingga mencapai Tanah Suci. Diserahkanlah hidupnya untuk memohon, di bawah lindungan ka’bah. Melayani perjalanan haji dan berguru kepada seorang syekh. Sampai akhirnya, bertemu dengan Soleh-sahabat kampunya dan mengalirlah cerita-cerita kepedihan itu. Tahulah Hamid, batapa Zainab mencintainya dan sering menangis di depan surat pertama yang dikirim Hamid dari medan.

Setelah mengirim surat kedua, terbukalah cinta mereka, saat tubuh Zainab tak sanggup lagi menerima beban sekalipun embun segar itu hadir kembali. Hamid pun mulai memikirkannya, dan akhirnya jatuh sakit dan setelah Hamid mengetahui kabar Zainab telah mendahului berpulang. Dan di hari yang sama, 9 Zulhijah, di bawah ka’bah Hamid berdoa dengan khusyuk kemudian menyusul. Di dunia, cinta tak harus memiliki.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk
Zainuddin, seorang pemuda ayahnya berasal dari minangkabau-padang panjang yang beradat bangsa dari ibu (matrilineal), sedangkan ibunya bugis-makasar yang beradat bangsa dari ayah (patrilineal, umunya suku bangsa di Indonesia). Setelah sendiri ditinggal mati kedua orang taunya, dia memutuskan untuk ‘pulang’ ke sumatera, mengharap sebuah penerimaan. Akan tetapi, adat berkata lain.

Lalu berkenalanlah dia dengan Hayati, bunga Batipuh. Mulailah dirangkai jalinan cinta keduanya. Tapi lagi-lagi adat tak memberi kesempatan. Anak tak bertuan hendak beristri perempuan minang. Pinangan zainuddin ditolak, seseorang bernama Aziz menikah dengan Hayati. Terluka dan diusir karena tak punya asal di minang, maka Zainudin merantau ke Jakarta lalu menetap di Surabaya. Di sanalah Zainuddin menjadi pengarang yang disegani.

Takdir berkata lain. Aziz berpindah kerja ke Surabaya, dan lewat pertunjukan tonil bertemulah mereka bertiga. Watak aziz yang boros di meja judi, sehingga sengsaralah hidup Hayati hingga sempat berdua mereka menumpang di rumah Zainuddin. Aziz kemudian memutuskan menalak Hayati karena perasaan dosa kepada Zainuddin dan bunuh diri di Banyuwangi. Tapi Hayati tak diterima oleh Zainuddin. Perempuan katanya, hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya, walaupun kecil, dan lupa kekejamannya sendiri pada orang lain walaupun bagaimana besarnya.

Disuruh pulang Hayati ke minang, menumpang Kapal Van Der Wijk yang menjalani Mengkasar-Tanjung Perak-Semarang-Tanjung Priok-Pelembang. Di Priok, berganti kapal menuju Padang. 20 Oktober 1936 dini hari, Kapal Van Der Wijk karam, beberapa jam setelah dari Perak. Sempat membisikan Syahadat di telinga Hayati sesuai permintaannya di rumah sakit daerah Tuban, setahun kemudian Zainuddin pun meninggal karena terlalu berat merenung dan sakit-sakitan.

Kalimat terakhir karangannya yang penghabisan:
”...dan akan tercapai juga kemuliaan bangsaku, persatuan tanah airku. Hilang perasaan perbedaan dan kebencian dan tercapai keadilan dan bahagia.”

Layar Terkembang
Tuti dan Maria, saudara tapi berbeda watak seperti api dan air. Tuti adalah potret wanita mandiri, tegas, teratur, berpenampilan polos dan bersahaja. Dia menjadi guru dan aktif di sebuah pergerakan perempuan. Melalui Putri Sedar, dia bergelut dalam hal emansipasi wanita dalam hal pendidikan, pekerjaan dan kedudukan di masyarakat. Meminjam istilah penulis puisi Hartoyo, Tuti adalah wanita-wanita perkasa, dalam konteks pergerakan saat itu.

Maria, adalah potret keceriaan, manja, berpenampilan cerah, dan segala hal kesan pesolek menempel dengannya. Masih duduk di sekolah tingkat atas, dan bercita-cita menjadi guru. Bersama ayahnya (ibunya meninggal karena TBC), mereka tinggal di batavia. Jika Tuti yang memastikan kerapihan perabot dan alat rumah tangga, maka Maria lah yang mewarnai kerapihan itu dengan vas atau pot bunga.

Yusuf, anak muda setuden Tabib Tinggi batavia, putra dari seorang Demang di Martapura, Sumatera Selatan. Yusuf mewakili anak muda pintar di zaman pergerakan. Selain sebagai mahasiswa, dia aktif di organisasi Pemuda Baru, sebuah organisasi pergerakan dan hampir semua mahasiswa pribumi berjuang kemerdekaan melalui organisasi. Tergambarlah, bahwa Yusuf jatuh cinta pada Maria sejak pertemuan pertama.

Bergulirlah kisah cinta mereka, penuh keceriaan dan kebahagiaan. Sementara Tuti, semakin sibuk dengan Putri Sedarnya dan lama kelamaan mulai merasakan kering hati yang amat sangat. Mulai dengan mengalihkan bacaan dari buku wacana ke roman-roman kepunyaan Maria yang sering diejeknya, hingga kemudian menghadapi kebingungan ketika mendapat lamaran rekan gurunya. Di tengah kebutuhan akan kedamaian berpasangan, Tuti menolaknya. Dia tak ingin memberikan cinta palsu atau membohongi diri sendiri hanya karena umurnya telah 27, sedangkan laki-laki itu-seusianya pula memberikan ketulusan dan kesucian.

Setelah lulus, Maria terserang TBC hingga masuk sanatorium di Pacet, Jawa Barat. Berliku kisah pilu Maria menghadapi kesendirian disana dari Yusuf, permata hatinya. Sesekali Yusuf dan Tuti menjenguk, dengan menumpang tinggal di pasangan suami-istri temannya di Sindanglaya, yang memberikan pelajaran berharga tentang praktek emansipasi wanita. Banyak hal mereka (Yusuf dan Tuti) diskusikan, mulai tentang pergerakan hingga kondisi Maria. Hingga kemudian Maria merasa saatnya tiba, dan berpesan dengan menyatukan kedua tangan Yusuf dan Tuti.

Dalam sebuah Ziarah, saat sebentar mereka akan menikah, Tuti berbisik mesra, ”..tetapi Yusuf, hidup kita adalah kerja..”

*** Membaca sastra lama adalah membaca sejarah. Bagaimana sebuah budaya atau nilai dibangun, dijaga dan dipertahankan. Hamka, secara sosio-psikologis paham dengan budaya minang sangat apik mengangkat itu. Hamka pun seorang ulama, lihatlah bagaimana sarat maknanya DBLK sekalipun tak sampai 100 halaman. Lihat pula AA Navis, atau St Takdir dalam menyelingkan antara pergerakan, cinta dan kehidupan. Tak lupa kelebihan dalam membahasakan dalam tutur kelembutan sastra melayu tingkat tinggi.

Membaca sastra lama adalah membaca kisah masa lalu. Ya..tentang kisah masa lalu. Tentang perjalanan cinta yang sejatinya adalah sama (cinta) dalam konteks waktu dan ruang senantiasa menghadirkan suasana santun, bersahaja dan tetap penuh romantik. Bandingkan dengan kisah-kisah drama anak zaman ini.

Lebih dalam lagi, membaca sastra lama adalah menjaga dan membangkitkan kembali semangat. Semangat ketulusan, kepolosan, kejujuran, perjuangan, dan pengorbanan. Bukan romantisme, karena semangat adalah energi dan energi bersifat kekal. Dia hanya perlu ditransfer, dari ruang yang berbeda.

Dan sastra lama, sekalipun tertindih jutaan jenis cerita, novel atau roman baru tetap akan langgeng dengan kisah bersama energinya.


10 comments:

Okky Puspa Madasari said...

Sejarah dimulai dengan adanya tulisan. Dan ada kalanya seseorang merubah sejarah hanya dengan tulisannya.
Ehm..wawasan mu soal karya sastra lama boleh juga..Padahal orang zaman sekarang sudah sangat bangga hanya dengan menjadi pengagum Pramudya..

not_only_in_Indonesia said...

trian

struggling to understand some of your bahasa (maaf saya kurang pandai dalam bahasa Indo). But that picture of Jl. Braga is fascinating. Do you have a better quality copy?

Iman Brotoseno said...

Setuju Quote " Lebih dalam lagi, membaca sastra lama adalah menjaga dan membangkitkan kembali semangat. Semangat ketulusan, kepolosan, kejujuran, perjuangan, dan pengorbanan. ..
Seperti Roman Atheis ( Ahdiat K Mihaja ), Grotta Azzura( ST Alisyahbana ), ( Peluru & Mesiu ) Mohtar Lubis.. Udah punya kumpulan cerita pendek sastra ( Jilid I sampai 4 ) yang dikumpullkan Satyagraha Hoerip berisi cerpen sastra bermutu dari pengarang tahun 50 an sampai 80an

Trian H.A said...

#Okky: boleh juga? ya sedikit begitulah.. :) btw, ingat sama bu tatik kan?

#not_only: 1 key word, you could google for the moment.. . tks for your returning.

#Iman:wah, belum ada tuh.. jd pingin nyari deh.., punya mas? :)

igun said...

Apakah semua sastra lama itu langgeng karena menjaga dan membangkitkan kembali semangat?

Bukan itu deh..

Karya sastra besar, yang langgeng biasanya merupakan cerita tragic. Lihat saja kisah Homer, Romeo-Juliet, Tagore, atau juga Siti Nurbaya.

Barangkali novel-novel baru karena terpengaruh pop culture tidak akan menjadi karya besar karena berusaha memenuhi selera pasar dengan happy endingnya.

trian said...

tapi gun, 3 contoh yg sy muat ini bukan pop culture, so bisa langggeng dikenang zaman.

tentang tragic/happy ending yg bisa langgeng, semua bergantung contens sy pikir. dan memang akhir-akhir ini, kontens lebih ke selera pasar.

Luvyuyun said...

Satra lama? Aku tak ingat kapan pernah mempelajarinya. Pelajaran Bahasa Indonesia di SMA hanya mepelajari tanda baca, macam2 karangan, dsb. Aku sedikit menyesal terlambat mengenal sastra. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Makasih ya, udah mnulis ttg sastra lama. Novel2 untuk menggugah semangat perjuangan dan memiliki bangsa ini sepertinya tidak banyak ya. Kenapa ya? Mungkinkah kita sudah lupa rasanya berjuang?

Anonymous said...

salam kenal....

AKU BUKANLAH PENYAIR, AKU HANYALAH SESEORANG- YG SEDANG-MENCARI BENTUK, WUJUD ASLINYA SENDIRI

www.duniasastra.com

Dikeheningan malam aku telah berjalan , menyusuri lorong-lorong kotorku dan ruhku juga telah memasuki rumah-rumah kalian . Detak-detak jantung kalian juga berdegup didadaku , dan nafas-nafasmu menghembus pula di hidungku.

Dan aku bukanlah seorang penyair aku hanya sekedar mengucapkan rangkaian kata tentang sesuatu yang sebenarnya kalian sendiri telah tahu didasar alam pikirmu.

Diantara kalian ada yang menyebutku angkuh , hanya mementingkan kegemaranku menyepi dan mengatakan kepadaku : ” Ia berbicara dengan tetumbuhan dan para satwa ,bukan dengan kita manusia . Seorang diri ia duduk dipuncak-puncak perbukitan memandang rendah pada kota dan kehidupan”. Sebagian yang lain diantara kalian berbicara kepadaku meski tanpa kata-kata : ” Ia orang yang aneh , orang ganjil , pencinta keluhuran yang tak teraih, untuk apa bermukim dipuncak-puncak gunung tempat elang bersarang, dan mengapa pula mencari sesuatu yang wujudnya belum pasti ?”…”Angin apa yang hendak kau tangkap dalam jala-mu . Burung ajaib manakah yang ingin kau jaring dilangit biru ?!…Kemarilah engkau bersatu dengan kami , turunlah bersama kita akan berbagi roti , dan lepaskan hausmu dengan anggur-anggurku !”

Memang aku telah mendaki “puncak-puncak perbukitan” dan sering pula aku mengembara dalam “kesunyian ” hutan.tapi aku juga akan tetap dapat mengamati kalian tanpa perlu “turun” dari puncak pegunungan.

Kesunyian jiwa telah menyebabkan mereka melontarkan kata-kata itu, namun apabila kesunyian itu mendalam lagi, maka mereka akan dapat mengerti, bahwa apa yang aku cari adalah rahasia terdalam jiwa manusia ,dan yang aku buru adalah sukma agung manusia yg menjelajah kesegala penjuru semesta.

Dan Kesunyian itulah yang menuntunku melangkah menuju “lorong penderitaan” sekaligus teman keagungan spiritual…..

Aku orang yang percaya sekaligus peragu, betapa seringnya jariku menekan lukaku sendiri sekedar untuk menghayati nilai kebenaran . Dan keyakinanku berkata manusia itu tak terkurung dalam raga dan jasad yang merangkak mencari kehangatan matahari, bukan pula penggali terowongan untuk mencari perlindungan, melainkan ruh yang merdeka-jiwa yang meliputi cakrawala dunia . Jika kata-kataku memasuki samar, kalian tak perlu gusar karena asal mula segala sesuatu adalah samar , meskipun akan jelas pada akhirnya.

Sebab apakah pengetahuan itu jika bukan bayangan dan pengetahuan yang terpendam bisu. Pikiran kalian dan jalinan kata-kataku, digetarkan oleh gelombang yang satu ,terekam dan terpatri diantara hari-hari dan masa silam yang telah berlalu , sejak bumi belum mengenal dirinya sendiri dan kegelapan belum terkurung oleh pekatnya malam .

Pahamilah kata-kata orang bijak dan laksanakan dalam kehidupanmu sendiri . Hidupkanlah kata-kata itu , tetapi jangan pernah memamerkan perbuatan -pebuatan itu dengan menceritakannya, karena dia yang mengucapkan apa yang tidak dia pahami , tidak lebih baik dari seekor keledai yg mengangkat buku-buku.

Jangan pernah menyesal karena kalian ‘buta’ dan jangan pernah merasa kecewa karena kalian ‘tuli’, sebab dipagi ini fajar pemahamanmu telah merekah untuk kalian didalam mencari rahasia kehidupan . Dan kalian akan mensyukuri segala gulita- sebagaimana kalian mensyukuri terang cahaya.

Dan segala yang “tak berbentuk” selalu berusaha mencari “bentuknya”, seperti berjuta-juta bintang yang menjelma menjadi matahari…

Dan kulihat…….Kehidupan itu bersifat dalam , tinggi dan jauh , hanya wawasan luas dan bebas yang dapat menyentuh kakinya , meski sebenarnya ia dekat !.

Banyak sudah orang bijak yang telah mendatangi kalian untuk mengajarkan hikmat dan pengetahuan . Dan aku datang untuk mengambil hikmat itu dan lihatlah kutemukan sesuatu yang tak ternilai didasar hati, laksana air pancuran yang melegakan jiwa.

Setiap kali aku datang ke air pancuran itu , dikala dahaga hendak membasahi kerongkongan , aku dapatkan air itu sendiri tengah kehausan -dia meminumku selagi aku meminumnya !

Hartono Beny Hidayat Elaboration with KG

ikeow said...

halo, bisa minta infonya dimana saya bisa mendapatkan buku-bukunya buya hamka? makasih...

Anonymous said...

tulisannya bagus dengan bahasa yang lugas. Sebenarna penulis mengadoninya dengan rasa yang bisa membuat 'gereget' di hati pembacanya.