Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts

Saturday, January 03, 2026

Kinerja Investasi Saham 2025

Setelah sekian lama dorman dan momen tahun baru 2026, hal yang cukup pas untuk menulis kembali perihal kinerja investasi saham pribadi di BEI. Perhitungan kinerja investasi saham dilakukan dengan metode seperti Reksadana (mulai dari indeks 1000) mengikuti yang dijelaskan di Bolasalju, dimana juga mempertimbangkan multiple account sekuritas.

Perhitungan basis tahun dimulai dari 2021, meskipun saya sudah mulai belajar investasi dan punya akun sekuritas yang pertama di sekitar tahun 2009. Hal itu murni karena sebelumnya belum paham bagaimana menghitung kinerja investasi saham yang ‘relatif tepat’, dengan mempertimbangan dana masuk/keluar, beberapa akun sekuritas dan perhitungan tahun berjalan (YTD: Year-to-Date atau ITD: Inception-to-Date).

Hasilnya seperti pada gambar di bawah, secara keseluruhan:

- IHSG secara tahunan 2025 tumbuh 22.13%, sebuah pencapaian yang bagus meskipun banyak dipengaruhi oleh saham-saham tertentu yang dibuktikan dengan indeks LQ45 yang hanya tumbuh 2.45% saja.

- Sejak 1 Januari 2021 hingga 31 Desember 2025 (5 tahun), IHSG tumbuh secara kumulatif total sebesar 44.62%, sedangkan LQ45 malah turun -9.45%. Secara CAGR atau kumulatif per tahun, selama 5 tahun IHSG menghasilkan kinerja majemuk (CAGR) 7.66% per tahun sedangkan LQ45 malah menghasilkan CAGR -1.97% per tahun.

Alhamdulillah.. dalam periode yang sama, investasi pribadi menghasilkan kinerja total 64.74% atau CAGR 10.50% per tahun. Untuk 2025, investasi pribadi memberikan 28.80%.

Investasi pribadi dibagi dalam 4 akun sekuritas sesuai profil di bawah. Kenapa sampai sebanyak itu? Ide awalnya setiap akun punya tujuan dan cara eksekusi berbeda, meskipun akhirnya tidak selalu konsisten dalam prakteknya 😊

Sehingga bisa disimpulkan bahwa investasi pribadi baik kinerja total, CAGR dan tahunan 2025 lebih tinggi dibandinkan IHSG apalagi LQ45. Meskipun di tahun 2021 dan 2023, kinerja pribadi secara tahunan lebih rendah dibanding IHSG.

Mungkin salah satu pembeda Adalah bahwa kinerja pribadi secara otomatis sudah memperhitungkan dividen yang diterima, sedangkan di IHSG ketika sebuah emiten memberikan dividen maka harga saham nya biasanya turun pada cum-date sesuai dengan nilai dividen per saham nya. Meskipun kemudian harga saham bisa “recovery” atau tetap turun sesuai dengan kinerja emiten itu sendiri.

Terkait dividen, berikut profil dividen yang diterima sepanjang 2025 (lumayan buat ayem-ayem😊).

Secara peningkatan nilai aset, terdapat kenaikan nilai investasi saham dari awal 2021 sampai akhir 2025 (termasuk penambahan/penarikan dana, unrealized loss/profit, dan dividen diterima) sebesar lebih dari 5x lipat. Dimana IHSG sendiri, terjadi kenaikan market cap dari 31 Desember 2020 sebesar Rp 6,586.99 Triliun (IHSG 6,090.70) menjadi sekitar Rp 16,000 T di akhir 2025 (IHSG 8,646.94).

Tentu tantangan selanjutnya untuk menjaga konsistensi kinerja investasi saham selama 5 tahun kebelakang ke nilai investasi yang saat ini sudah lebih besar dibanding 5 tahun lalu untuk terus bertumbuh.

Bismillah.. Semangat! 😊

Sunday, February 07, 2021

Melihat Hasil Investasi Alternatif Sektor Riil

Keterlibatan investasi pribadi ke sektor riil dimulai dari 2012 dengan membangun kandang pembesaran ayam petelur, namun sampai tahun 2015 belum ada keterlibatan pihak lain (investor) dalam usaha tersebut. Baru kemudian di tahun 2016 (sepulang dari UK) dan karena mendapat amanah sebagai salah satu pendamping di sebuah perusahaan investasi skala kecil menengah, maka keterlibatan dengan dunia investasi semakin banyak serta tentu mulai berinteraksi dan membuka diri dengan para investor.   

Keterlibatan investor dimulai dengan teman-teman sendiri (ring-1), terutama teman kantor dan kampus. Alhamdulillah, tidak terasa sudah 4+ tahun sejak pertengahan 2016 hingga akhir 2020, keterlibatan para investor baik di usaha sendiri maupun di usaha teman-teman juga semakin meningkat. Maka selain berusaha menjadi investment manager yang mengajak dan mengelola investasi dari teman-teman, saya pribadi juga sebagai investor, serta pemilik usaha kecil sendiri (dan juga masih karyawan hehe).

Dari sekian investasi yang saya kelola, terdapat seorang investor yang saya jadikan profile bagaimana hasil dari investasi proyek-proyek di sektor riil dalam portfolio 4 tahun terakhir di bermacam bidang usaha, seperti pertanian, peternakan, konveksi, trading, dan properti. Proyek disini adalah modal kerja yang berjangka waktu tertentu, bukan kepemilikan saham atas perusahaan. Grafik berikut menggambarkan hal tersebut, dimana;

- Invest-out: Dana keluar dari investor untuk masuk dalam investasi proyek

- CF-in: Dana masuk yang diterima investor, baik pengembalian modal ataupun bagi hasil (ujroh)

- Net-CF: Selisih antara Invest-out dan CF-in

- Cum: Kumulatif Net-CF dari tahun sebelumnya

- NAV bef Margin: Net Asset Value (pokok/modal investasi) sebelum potensi marjin (bagi hasil) yang akan diterima mendatang    

Dari grafik profil diatas, CAGR (compounded annual growth rate, kumulatif pertumbuhan tahunan) dalam 4 tahun mencapai 11.2%, yakni dengan menghitung NAV (864) atad Cum CF (565). Artinya secara modal (buku), investor tersebut masih tercatat memiliki investasi sebesar 864 Juta, namun sebenarnya secara riil cash tinggal sisa 565 Juta karena ada pokok dan marjin (bagi hasil) yang sudah diperoleh. 

Jika katakanlah semua investasi bisa dicairkan di 1 Januari 2021, maka investor akan mendapatkan hak nya sebesar 864 Juta. Tentu kenyataan nya tidak mungkin bisa dicairkan karena masing-masing mempunyai perjanjian investasi dengan durasi yang belum jatuh tempo di 1 Januari 2021.  

Lalu apa artinya CAGR 4 tahun sebesar 11.2%? Artinya secara rata-rata portfolio investasi ke proyek-proyek usaha sektor riil menghasilkan ROI rata-rata 11.2% per tahun selama 4 tahun tersebut secara compounding (100 menjadi 111 di tahun ke-1, lalu menjadi 123 tahun ke-2 dst). Kelihatan tidak sangat besar, tapi lihatlah efek dalam 4 tahun membuat nilai 864 Juta sudah menghasilkan sekitar 300 juta, sehingga hanya menyisakan dana keluar net 565 Juta. Bisa dibalik, 565 Juta menjadi 864 Juta dalam 4 tahun. 

Namanya rata-rata, ada proyek yang ROI tahunan diatas 11.2%, dan ada pula proyek dengan ROI tahunan di bawah 11.2%. Itulah yang dinamakan diversifikasi, untuk mengurangi resiko dengan tidak menempaktkan semua investasi ke 1 jenis investasi (proyek) saja. 

Namun secara perbandingan, nilai CAGR 11.2% sangatlah tidak buruk dibandingkan kinerja CAGR IHSG dalam  20 tahun seperti dalam tabel di bawah. Sekali lagi CAGR adalah rata-rata, tentu ada return nilai saham-saham diatas rata-rata dan ada di bawahnya. Malah jika dilihat hanya 2 tahun (2018 ke 2020), IHSG menghasilkan negative return sekitar 10%, atau CAGR -4.8% dalam 2 tahun, dan yang paling besar CAGR IHSG periode tahun 2000 hingga Feb 2018 dengan CAGR 18.6%. Namun, siapa yang bisa dengan pasti menebak arah market IHSG?  


Selain itu, terdapat perbandingan nilai beberapa instrumen investasi yang dilihat dari IHSG, emas dan nilai dolar terhadap rupiah. Untuk yang konservatif (defensif) dalam investasi, mempunyai emas adalah pilihan yang safe heaven (sangat aman). Namun, sebenarnya tidak ada yang pasti bisa menebak harga emas di masa mendatang. Nilai emas akan cenderung naik sebagai penjaga nilai atas inflasi, atau bisa naik signifikan jika ada ketidakpastian atas kondisi ekonomi negara (dunia). 

Dengan monitoring dan kontrol investasi di usaha sektor riil ada di tangan para investor (dan investment manager terpercaya), maka secara kinerja investasi di sektor usaha riil sebenarnya cukup bersaing dibandingkan kinerja IHSG dan emas. Yang juga penting, bisa kontribusi langsung menggerakan ekonomi secara riil melalui usaha-usaha yang bisa berdampak ke ESG (Environment Social Governance). Plus pastinya ikut membantu usaha teman-teman sendiri yang sebagian besar skala kecil ke menengah untuk bisa perlahan naik kelas. 

Tantangan nya adalah mendapatkan seorang (lembaga) investment manager terpercaya yang secara amanah dan profesional mengelola (mengarahkan) dana para investor. Welcome on board! :)         

Wednesday, August 27, 2008

Menjadi laki-laki

“Aku ingin menjadi laki-laki“
Kalimat itu yang terucap saat terakhir kita bertemu di lembah itu. Dan sekejap langsung nafasku terhenti. Kupandang dirimu yang menatap kosong pada rerumputan ilalang di bawah sana. Wajahku serius menenatpnya, menunjukan sebuah keterkejutan sekaligus pertanyaan. Ingin menjadi laki-laki, apa sedari dulu kau bukan seorang laki-laki?

Hingga akhirnya kau meninggalkanku di kota itu. Bukan saja diriku, tapi juga semua kehidupan mapanmu lainnya. Kau sudah bekerja pada sebuah perusahaan multinasional, dengan jabatan yang tidak semua orang bisa mudah mendapatkannya. Gaji? Jangan kau tutup-tutupi, tapi untuk hidup, lalu menabung, dan lainnya pun masih terasa berlebihan. Kau laki-laki, tepatnya laki-laki yang sudah bisa mendapatkan kemapanan, sebuah tingkat yang jarang manusia lain bisa mencapainya di seusiamu.

Lalu, kehidupan bahagia yang disyaratkan dengan adanya rasa cinta dan kasih sayang pun sudah kau ciptakan. Orang tua atau ibumu, tentu bangga dengan apa yang raih. Lulus dari sebuah perguruan tinggi bergensi dengan predikat berprestasi, dan diteruskan dengan karir kerjamu.

Sahabat atau teman, sebuah kelompok yang harus dilihat jika ingin mengetahui pribadi seseorang. Kau punya sahabat dan teman yang menyayangi. Dan bahkan sangat menyayangimu. Yang namanya kepercayaan dan pengkhianatan adalah dua hal sekeping yang kau hati-hati disana. Hampir teman atau sahabat orang mengenalmu yakin, bahwa kau teman atau sahabat yang baik.

Jika kemudian kau rasakan bahwa kehidupan begitu hampa dan sendiri, mungkin itu karena kau tak kunjung juga menemukan belahan hatimu. Tapi itu hanya urusan waktu bukan, seperti yang pernah kau katakan. Seseorang yang mantap dengan calonnya pun belum tentu akan menjadi pasangan sejatinya karena memang bukan jodoh untuknya. Ah, aku jadi ingat bagaimana kau jatuh cinta pada seseorang dan tak tercapai cintamu itu. Dengan perempuan, laki-laki memang siap melakukan tiga hal: mencintainya, terluka karena cintanya, dan menjadikannya inspirasi karya sastra.

Pun bukan masalah besar mengenai pasangan itu. Sekali lagi, kau sedang menunggu saat yang tepat (atau orang yang tepat?). Bisa saja kau akan melupakan atau setidaknya tidak memikirkan tentang berkeluarga.Ingat yang kau katakan, manusia itu berproses dalam hidupya. Dan menikah serta berkeluarga, adalah salah satu proses kehidupan yang maha penting. Jangan kau biarkan dirimu terlena dengan kehidupan yang kau rasakan sekarang.

Dan, kau memang tidak terlena dengan kehidupan yang kau capai sekarang. Sengaja kau mengajakku ke lembah ini untuk mengucapkan kata perpisahaan. Pekerjaan dan uang adalah penting, namun semua akan sia-sia tanpa ada kepuasaan hati disana. Dan kau katakan padaku, bahwa kau ingin bekerja (atau mengabdi lebih tepatnya) di sebuah lembaga sosial yang menangani rehabilitasi Aceh pasca tsunami.

Antara bahagia dan heran aku tanggapi rencanamu itu. Bahagia, karena tidak semua orang punya itikad untuk melakukan pekerjaan sosial seperti itu. Jangankan untuk pergi ikut bersama menangani kondisi pasca bencana, untuk membuka mata hati atas ketimpangan di sekitarnya pun tidak semua orang bisa. Mulia, sungguh niat mulia yang kau punya untuk pergi ke Aceh.

Tapi aku juga heran, itu artinya kau akan meninggalkan semua yang kau dapat disini. Kehidupan mapan dengan pekerjaan yang prestis, ibu yang selalu mendo’akan dan tak berhenti mencurahkan kasihnya, teman serta sahabat yang selalu menyediakan diri berbagi dalam suka maupun duka. Kau akan tinggalkan semuanya. Benarkah, kau akan meninggalkan itu semua?

“Tapi, aku ingin benar-benar menjadi laki-laki“ Sekali lagi, kau ucapkan itu dalam suara mantap dan dalam. Tentu bukan tanpa alasan kaui ucapkan itu. Sebuah bahasa tersirat, bukan bahasa tersurat.

“Apa yang kau inginkan dengan manjadi laki-laki?“ sebuah pertanyaanku menyergap datang kepadamu.
“Seorang laki-laki, adalah manusia yang punya tanggung jawab, tangguh dan berani. Semuanya dalam keadaan yang lebih dan lebih lagi dalam setiap penggalan masa.“ Kau memulai untuk menjelaskan panjang lebar alasanmu.

Bagaimana laki-laki akan mempunyai tanggung jawab, jika tanggung jawab yang diemban sekarang tidak membuatnya merasa berat sehingga hidupnya benar-benar harus dipertaruhkan untuknya. Untuk tanggung jawab, kau tidak sepakat bila tanggung jawab sebagai suami atau ayah adalah jawaban. Ini adalah tanggung jawab terhadap orang lain, katamu. Dan kau katakan bahwa tanggung jawab yang paling tinggi kepada tanah yang diinjaknya. Aceh adalah bagian tanah kita yang sedang bangkit kembali, dan kau ingin mengambil tanggung jawab itu.

Lalu, laki-laki seharusnya tangguh dalam menghadapi kehidupan. Ketangguhan itu dilakukan, bukan dengan berdiam. Semakin mendapatkan sesuatu terpaan menggoncang, disitulah ketangguhan diuji. Dan kau tak merasa tangguh dalam kondisi nyaman, semua tercukupi seperti sekarang. Tidak memicu ketangguhan itu muncul, dalam wujud yang sejati. Dan laki-laki, tak pantas dalam kondisi yang seharusnya dirasakan oleh seseorang yang diayominya.

Laki-laki pun harus mempunyai keberanian, harus berani. Dan kau katakan untuk selalu menjalani hidup seperti dalam keadaan antara hidup dan mati, maka kita akan berani maju tanpa berpikir apa yang kita punya sekarang dan tidak takut untuk meninggalkan semuanya. Itulah yang dialami para serdadu, atau pejuang perang. Maju terus tanpa beban dan senantiasa menghargai hidup, karena sedetik kemudian bisa saja tertembus peluru dan nyawa pun meregang.

Tanggung jawab, tangguh dan berani. Ternyata itu kau cari, yang kau kejar dan ingin kau dapatkan. Kau ingin tanggung jawab lebih, kepada bangsamu. Kau sengaja lemparkan dirimu dalam kondisi selalu genting, sehingga tangguh itu terbentuk. Kau ingin antara ada dan tiada, lalu berani itu muncul.

Dan kau katakan yang paling membuatmu tersentak adalah ucapan pimpinan gerakan pembebasan Libanon suatu ketika, sesaat setelah Israel memborbardir daerah perbatasan hingga kota. Pimpinan itu berkata pada seluruh rakyat Libanon terutama kepada kaum prianya. “Jadilah laki-laki, sekalipun hanya untuk sehari.“

Aku diam, kau sudah katakan apa yang harus kau katakan.
“Kapan kau akan berangkat?“

”Besok. Secepatnya.“ Suaranya tercekak, dia menatapku dengan pandangan yang teduh, senyum hangat dan penuh sayang. Aku tak kuasa mendekap, memeluknya dan tak terasa kelopak mata terasa hangat oleh air mata yang mulai membasah.

Dan kau katakan lagi dengan mantap dalam dekapan.
“Aku ingin menjadi laki-laki“

***
Selamat milad...

Thursday, July 17, 2008

Pernikahan yang Akrab

Dalam menghadiri pernikahan seorang teman di Bandung minggu lalu, seorang kawan mengingatkan saya tentang sebuah tulisan Zaim Ukhrowi tentang pernikahan. Saya kebetulan menyimpan sebagian artikelnya dari Republika, dan ingin membaginya disini. Setidaknya selain menjadi khasanah renungan kita (terutama yang belum menikah, atau yang sedang menyusun resepsi seperti Aan), juga mudah-mudahan semakin banyak lagi model resepsi yang dijabarkan berikut.

***
Baru-baru ini saya menghadiri pernikahan seorang kerabat. Pesta pernikahan itu biasa saja. Bukan di gedung besar. Bukan pula penuh pernak-pernik yang membuatnya megah. Sebaliknya, perhelatan itu justru dilakukan di rumah. Cukuplah tenda terpasang di halaman serta jalan buntu di depannya. Sebuah tenda biasa, dan bukan tenda paling megah, Makanan ditempatkan di meja sederhana bertaplak putih di garasi rumah itu.

Jumlah undangannya tidak banyak. Hanya kerabat dekat dan sahabat kedua mempelai yang hadir. Pembawa acara serta pembaca doa kerabat sendiri. Musik dimainkan oleh teman-teman pengantin. Tidak ada beragam upacara adat yang rumit yang mengiringi pernikahan itu. Pakaian serta tata rias pengantin juga biasa saja. Cuma sedikit lebih formal dibanding pada hari biasanya, namun cukup anggun untuk dipandang sebagai gambaran pernikahan.

Sekali lagi, tak tampak hal luar biasa dari acara perbnikahan itu. Tetapi, saya merasa sangat nyaman berada di sana. Ada suasana yang jarang saya peroleh dari menghadiri kebanyakan pesta pernikahan pada acara tersebut. Saya merasa, suasana pernikahan itu sangat akrab. Pembawa acara dengan sangat ringan menyapa, bahkan berseloroh, pada tamu-tamunya. Hal itu wajar karena memang ia mengenalnya persis.

Antarkawan juga bisa saling dorong untuk menyanyi, atau memainkan musik. Para tamu juga saling sapa, hingga berbincang akrab. Pengantin juga tak harus terus-menerus berdiri tegak di tempatnya dengan terus-menerus memasang senyum anggun, menunggu diberi ucapan selamat. Sesekali, mereka seperti 'menjemput bola', berjalan (kadang bersama, kadang sendiri-sendiri) mendatangi tamu, bertukar kata secara ringan.

Suasana pernikahan demikian sungguh berbeda dengan pesta pernikahan yang kini lazim. Tapi, suasana itu justru mampu mengingatkan: apa makna pesta pernikahan? Kita acap merancang pesta pernikahan seagung dan semegah mungkin. Alasan kita, itu hari yang benar-benar istimewa. Lalu, kita merancang segalanya agar sempurna. Mulai dari bentuk undangan, atribut kenang-kenangan, seragam pakaian, tempat pelaminan, makanan, hiburan, dan sejuta pernak-pernik lainya.

Begitu banyak yang harus diurus, dan begitu banyak yang ingin mengurus agar benar-benar sempurna. Hasilnya, seringkali pesta pernikahan justru menjadi ajang ketegangan keluarga. Alih-alih melahirkan suasana yang hangat, pesta pernikahan banyak yang kemudian menjadi sekadar formalitas. Pesta pernikahan kita acap bergeser fungsi dari acara bersyukur dan memohon doa menjadi ajang pamer gengsi dan atribut diri. Banyak tamu hadir dengan perasaan terpaksa. Tak enak tidak datang karena sudah diundang. Jika demikian, doa restu apa yang dapat kita harapkan?

Kesederhanaan dalam pernikahan hari itu menyeret saya pada pertanyaan yang dalam. Apa ya sulitnya berpikir dan bersikap sederhana seperti itu? Jangan-jangan kerumitan kita dalam menggelar pesta perkawinan adalah refleksi dari kerumitan cara berpikir dan bersikap secara menyeluruh. Kita lebih mementingkan atribut ketimbang makna. Kita memenangkan formalitas dibanding otentitas dan spontanitas. Kita mengedepankan gengsi ketimbang esensi. Pantas jika bangsa kita masih jauh dari efektif.

.... - by: Zaim Uchrowi

***

Sebuah pernikahan yang bersahaja. Bagaimana menurut anda?

Wednesday, May 21, 2008

antara jakarta

antara magetan
ku berikan segenap jiwaku
menjadi awal sebuah kehidupan

antara jogjakarta
ku semai masa depan
dalam sebuah kesahajaan

antara bandung
ku menapak pundi harap
dari sebuah prasasti kejayaan

antara jakarta
ku merangkai kisah perjuangan
untuk sebuah kemenangan

antara palembang
ku hadapi realita
arti sebuah keikhlasan

dan pada sebuah kota
kan ku labuhkan hatiku
untuk sebuah kesetiaan

Wednesday, January 23, 2008

7 Habits of Highly Effective People

Tujuh Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif merupakan suatu pendekatan yang utuh dan terpadu ke arah terwujudnya efektvitas pribadi dan antar pribadi. Kebiasaan adalah pola perilaku yang terdiri dari tiga unsur yang saling bertemu yaitu : pengetahuan, keinginan dan keterampilan. Kebiasaan kita peroleh dengan belajar, bukan kita warisi. Karenanya ini merupakan sifat alami kita yang kedua, bukan yang pertama. Bagaimanapun, yang kita miliki saat ini bukanlah kebiasaan kita. Kita bisa menciptakan atau melepaskan kebiasaan kita.

Kebiasaan 1 - JADILAH PROAKTIF

Kebiasaan - Visi Pribadi

Menjadi Proaktif mempunyai arti bahwa manusia bertanggungjawab terhadap hidupnya sendiri. Secara alami kita selalu bertindak dan bukan menjadi sasaran tindakan. Kata tanggungjawab kita artikan sebagai kemampuan untuk merespon, yaitu kemampuan untuk memilih respon anda. Orang yang sangat proaktif menngetahui tanggungjawab itu. Mereka tidak menyalahkkan keadaan dan kondisi yang mempengaruhi sikapnya. Mereka mengembangkan kemampuannya untuk memilih jawaban/respon, sehingga respon-responnya merupakan hasil dari nilai-nilainya, hasil perasaannya atau situasi.

Kebalikan dari proaktif adalah reaktif. Ciri orang reaktif selalu mengalihkan tanggungjawabnya. Bahasa orang reaktif melepaskan mereka dari tanggungjawabnya. "Itulah saya. Memang begitulah saya. Saya sudah ditakdirkan begini dan tidak ada yang bisa saya lakukan untuk mengubahnya." Dia membuat saya sangat marah!" Saya tidak bertanggungjawab. Emosi saya dipengaruhi oleh sesuatu diluar kendali saya."

Kebiasaan 2 - MERUJUK PADA TUJUAN AKHIR
Kebiasaan - Kepemimpinan Pribadi

Merujuk pada tujuan akhir berarti memulai setiap hari dan setiap tugas dengan pemahaman yang jelas mengenai tujuan yang ingn dicapai. Dengan mengusahakan titik akhir tersebut tetap jelas dalam pikiran anda dapat memastikan bahwa apapun yang anda kerjakan pada hari tertentu tidak melanggar kriteria yang sudah anda definiskan sebagai yang paling penting, dan bahwa tiap hari dari kehidupan anda menunjang visi yang anda miliki tentang seluruh hidup anda dengan cara yang berarti.

Pernyataan Misi
Bagi saya, saya ingin mengembangkan diri, mengasih diri-sendiri, dan keleluasaan diri. Saya ingin menggunakan bakat penyembuhan saya untuk memelihara harapan dan mengekspresikan visi saya dengan berani baik dalam ucapan maupun tindakan.

Dalam keluarga saya, saya ingin membangun hubungan-hubungan yang sehat, saling mencintai di mana kami membiarkan diri masing-masing mewujudkan apa yang terbaik bagi kami.

Dalam pekerjaan, saya ingin membangun lingkungann belajar yang bebas-kesalahan, dan berkesinambungan yang mendorong keinginan untuk tumbuh dan membantu orang lain berkembang; rasa ingin tahu terhadap apa-apa yang tak dikenal; ketetapan hati untuk menghadapi secara langsung; dan keinginan untuk mengerti dan bekerja bersama orang lain guna menemukan dan memenuhi tujuan bersama.

Didunia, saya ingin menumbuhkan perkembangan semua bentuk kehidupan, secara harmonis dengan hukum-hukum alam itu sendiri.

Kebiasaan 3 - DAHULUKAN YANG UTAMA
Kebiasaan - Manajemen Pribadi

Apakah yang utama? Hal yang utama adalah hal-hal yang menurut anda pribadi paling berguna untuk dilaksanakan. Ia menuntun anda ke arah yang benar dan membantu anda mencapai tujuan yang ada di pernyataan misi pribadi anda.

Dahulukan yang utama menyatakan mengenai pengaturan waktu dan kejadian-kejadian yang berdasarkan pada prioritas pribadi yang ada pada Kebiasaan 2. Kebiasaan 2 adalah ciptaan pertama atau ciptaan mental, Kebiasaan 3 adalah ciptaan kedua atau fisik.

Kebiasaan 4 - BERPIKIR MENANG MENANG
Kebiasan - Kepemimpinan Antar Pribadi

Dalam hubungan antar pribadi ataupun dalam pekerjaan, efektivitas seringkali baru bisa tercapai jika ada usaha bersama dari dua orang atau lebih. Perkawinan dan hubungan kemitraan lainnya adalah suatu contoh kesalingketergantungan, tetapi seringkali orang berhubungan berdasarkan mental kemandirian, sepert berusaha bermain golf dengan menggunakan raket tenis-alat yang digunakan tidak cocok dengan olahraga yang dilakukan.

Kebiasaan 5 : BERUSAHA MENGERTI TERLEBIH DAHULU, BARU DIMENGERTI
Kebiasaan - Komunikasi

Komunikasi adalah keterampilan yang paling penting di dalam hidup. Kita mennghabiskan sebagian besar jam bangun kita untuk berkomunikasi. Tetapi coba pikirkan hal ini : Anda sudahh menghabiskan waktu bertahun-tahun unttuk belajar membaca dan menulis, bertahun-tahun untuk belajar bagaimana berbicara. Tapi bagaimana dengan mendengarkan? Pelatihan untuk pendidikan apa yang telah anda jalani untuk memungkinkan anda mendengarkan, sehingga anda benar-benar mengerti orang lain secara mendalam arti kerangka acuan individu itu sendiri?

Berusahalah mengerti terlebih dahulu atau mendiagnosa sebelum anda membuatkan resep, adalah prinsip yang benar yang dimanifestasikan di banyak bidang kehidupan. Sorang dokter yang bijaksana akan memeriksa pasiennya terlebih dahulu sebelum dia memberikan resep. Seorang insinyur yang ahli akan mengerti daya, tekanan yang bekerja , sebelum merancang sebuah jembatan. Salesman yang efektif akan mencoba mengerti terlebih dahulu pandangan orang lain sebelum dia dimengerti. Sebelum seseorang merasa lebih telah diperiksa dengan baik, dia tidak akan mau menerima resep tersebut.

Kebiasaan 6 : WUJUDKAN SINERGI
Kebiasaan - Kerjasama Kreatif

Prinsip dari sinergi ini adalah kebenaran dalam hubungan sosial kita. Dua orang, bekerja sama secara kreatif, akan mampu memberikan hasil yang jauh lebih baik daripada jika dilakukan oleh mereka sendiri. Sinergi mengajak kita untuk bersama-sama menemukan hal-hal yang kecil kemungkinannya kita temukan sendiri-sendiri. Ia akan timbul ketika pikiran kita saling mendorong satu sama lain dan ide-ide akan bermunculan. Saya mengucapkan sesuatu yang merangsang pikiran anda; anda merespon dengan ide yng mendorong saya. Saya membagi ide baru tersebut bersama anda, dann proses berulang terus bahkan terbentuk sendiri.

Kebiasaan 7 - ASAHLAH GERGAJI
Kebiasaan - Pembaharuan Diri

Mengasah gergaji berarti memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang anda miliki, yaitu diri anda. Kebiasaan ini memperbaharui keempat dimensi alamiah anda: fisik, spiritual, mental dan sosial/emosional. Tanpa disiplin, tubuh kita menjadi lemah, pola pikir mekanik, emosi kita menjadi buruk (kasar), jiwa kita menjadi tidak sensitif, dan orang menjadi egois.


*training 7 habits, 24-26 February 2008 @ Puncak

Monday, November 26, 2007

Antara harapan dan ketakutan

Apa yang membedakan antara dua kondisi berikut?

Pertama, saat menginginkan sesuatu hal maka dengan berpikir tentang hal itu dan kebahagian yang didapatkan bila mendapatkannya, maka seseorang mempunyai harapan untuk mendapatkan sesuatu tersebut.

Kedua, saat menginginkan sesuatu hal maka dengan berpikir tentang kejadian buruk yang akan menimpa bila hal itu tidak didapatkannya, maka seseorang mempunyai ketakutan sehingga berusahan mendapatkan sesuatu tersebut.

Dilihat dari hasil (result), dua hal itu sama bukan? Dan memang pada dasarnya saat menginginkan sesuatu, kita bisa berharap kebahagian karenanya atau karena takut kehilangan darinya. Misalnya, saat mengingnkan memasuki perguruan tinggi atau perusahaan yang diidamkan, maka harapan yang dibangun adalah kesempatan yang lebih besar dan kebanggan keluarga, sedang ketakutannya bisa tidak menghambat milestone hidup berikutnya serta dicitrakan tidak mampu.

Tentang harapan, Imam Al-Ghazali memberikan tiga tipe harapan yang dibangun oleh manusia yang diceritakan dalam kisah seorang petani:

1. Seorang petani yang menanam padi pada masam tanam. Kemudian berharap bahwa pada masa panen tanaman itu akan memberikan hasil baiknya. Namun petani itu tidak mau merawat dan memelihara tanaman untuk mendapatkan hasil baik tersebut. Maka petani ini termasuk golongan pengkhayal.

2. Seorang petani yang menanam padi bukan pada masa tanam (bukan penghujan), dan dia berharap bahwa hujan yang sangat tidak pasti itu akan turun sehingga hasil tanamnya baik. Maka ketidakpastian yang didapat petani tersebut. Dan petani ini termasuk dalam golongan penjudi.

3. Seorang petani yang menanam padi di musim tanam, lalu merawat tanamannya itu dan kemudian berharap bahwa hasil tanamnya akan baik.

Dari ketiga golongan petani diatas, harapan yang sesungguhnya adalah milik petani ketiga. Harapan yang telah disertai dengan pemikiran dan usaha yang maksimal. Bukan khayalan atau perjudian.

Sedangkan ketakutan, ada pandangan dari Anthony Robbins yang melakukan penelitian terhadap harapan (hope) dan ketakutan (fearness) sebagai daya yang mendorong manusia dalam melakukan sesuatu, ternyata faktor karena ketakutan itulah yang lebih tinggi tingkat pencapaiannya (achievement).

Misalnya, pada sebuah malam seorang harus mencari uang untuk dapat membayar sekolah besok. Maka membayangkan kebahagiaan dan masa depan yang akan dicapai anaknya dengan sekolah itu adalah pendorong utama pencarian uang dalam semalam itu. Pada kasus yang sama, pendorong utama mencari uang adalah karena ketakutan jika anaknya tidak bisa bersekolah maka hilanglah masa depannya.

Ternyata diantara dua tipe pendorong tersebut, manusia lebih efektif bila terdorong oleh tipe kedua yaitu karena ketakutan. Dengan membayangkan ketakutan-ketakutan, hal-hal negatif yang akan didapatkan bila tidak mencapai sesuatu keinginan itu, maka semangat mencapainya akan lebih besar. Praktisnya, dengan mendaftar ketakutan yaitu kemungkinan-kemungkinan buruk apa saja yang mungkin terjadi bila kesempatan yang tidak datang setiap saat itu lepas.

Bila dikaitkan dengan budaya, apa yang dikatakan Robbins mungkin terlihat sangat Barat. Karena budaya Timur cenderung mengajarkan bahwa berpikir positif atau membayangkan hal-hal positif itu lebih baik daripada berpikir yang negatif, atau kemungkinan buruk.

Tapi sebenarnya dalam risalah Islam sendiri, berpikir kemungkinan negatif inipun telah dilakukan Rasul Muhammad saat menghadapi perang besar pertama dengan kaum Quraisy, yaitu Perang Badar. Dengan jumlah yang hanya 313 menghadapi 1000 maka saat itu Muhammad berdo’a kepada Allah SWT, kurang lebih menyatakan bahwa jika kaum kafir berhasil mengalahkan mereka sampai tiada tersisa, maka tidak akan ada lagi umat manusia di dunia ini yang akan menyembah Allah. Dan atas izin-NYA, perang itu dimenangkan kaum muslim.

Jadi sebenarnya, antara harapan dan ketakutan seperti sepasang sayap yang sama-sama digunakan untuk meraih sesuatu. Keduanya bisa digunakan, dan tidak perlu anti untuk memanfaatkan keduanya. Bisa jadi dengan memakai dua sayap utuh, terbang itu pun akan semakin tinggi dan tinggi.

Mari kita mencobanya.

Wednesday, November 21, 2007

Opportunity lost, yang selalu terlupa

Setiap kejadian dalam kehidupan kita, ujung-ujungnya selalu saja memunculkan respon antara positif dan negatif, antara suka dan tidak, antara kemauan dan realita. Tidak ada yang dalam posisi di tengah-tengah, selalu saja setidaknya menimbulkan kecenderungan.

Jika yang diterima itu adalah sesuatu yang baik, sudah barang asti tidak ada lagi yang perlu diributkan. Namun jika itu adalah hal yang tidak baik, tidak beruntung, atau keburukan pasti hati kecil pun akan mengatakan tidak menghendaki kondisi tersebut.

Dalam kondisi yang kurang baik itulah, kita seringkali lebih mengedepankan aspek yang lebih tampak (tangible) berupa materi atau uang, padahal ada aspek lain yang tidak tampak (intangble) yang dinamakan opportunity lost.

Opportunity lost (OL) secara bebas adalah hilangnya kesempatan lain (yang diharapkan lebih baik) karena suatu kejadian sebenarnya yang tidak dikehendaki. Itulah opportunity lost, yang secara langsung akan menyebabkan adanya opportunity cost (OC) sebagai ‘bentuk’ kalkulasi perkiraan kerugian yang diderita. Dan tampaknya, tidak semua orang tidak sadar bahwa sebenarnya OC ini lebih besar daripada biaya-biaya tampak.

Kejadian OL ini misalnya, saat kehilangan semua data di laptop karena format yang salah dalam rencana servis, maka kesempatan untuk melakukan hal-hal lain yang lebih baik jika data itu masih ada pun menjadi hilang. Ini bukan tentang jumlah uang 1-2 juta untuk biaya tangible servis dan upaya recovery data (yang seolah-olah ‘useless’) sebesar, tapi ini tentang OC yang priceless.

Dengan data yang masih ada, sumber serta bahan tulisan masih sangat banyak sehingga frekuensinya tidak terganggu. Apalagi histori data sejak mulai mengenal komputer. dari Dengan format yang dijadwalkan lancar-lancar saja, maka akan ada banyak waktu untuk silaturahim kepada kawan yang mulai tinggal se-kota, atau berkunjung ke kota sebelah yang akhirnya batal karena 10 hari waktu ‘terbuang’ mengurus servis tersebut.

Bersikap realistis, legowo, dan sedikit menghibur diri (toh masih ada barang yang lain!) mungkin bisa mengobati. Tapi sejujurnya, manusia tetap akan berat menghadapi kondisi lost macam itu. Yang menimbulkan opportunity cost dan menghilangkan kesempatan lain yang lebih baik.

Jika ingin menyesal, marah kepada orang lain, atau menangisi nasib diri sendiri bisa saja hal itu dilakukan. Tapi tetap, hal itu tidak akan mengembalikan semua opportunity lost. Akhirnya sekarang, hikmah yang didapatkan dan mengusahakan tindakan preventif sehingga kemungkinan kejadian di masa depan tidak ada. Karena kesempatan dan waktu sangat berharga, priceless.

Seperti pepatah, kesempatan yang sama belum tentu datang dua kali. Tidak perlu menyesal diri karena hilangnya sesuatu karena risalah Islam mengajarkan, cukuplah barang dunia digenggam di tangan tapi tidak dimasukan di hati. Dan selalu menghargai kesempatan (waktu) seperti kata Nabi, dua rezeki yang manusia sangat sering lupa mensyukurinya, kesehatan dan waktu.

Jadi sekarang, mari selalu berusaha bertindak disertai rencana matang dengan banyak kemungkinan, sehingga mudah-mudahan semakin sedikit kemungkinan opportunity lost yang kita dapatkan.

Tuesday, October 09, 2007

Jakarta mencari Keimanan

Penatnya kehidupan ibukota menjadikan Ramadhan di Jakarta sangatlah khas. Ramadhan yang dikampanyekan sebagai bulan suci, membuat Jakarta berbenah sesaat sebelum memasukinya.

Jakarta khusus mencari identitas baru untuk ramadhan. Maka pub,klub dan karaoke ditutup atau izin malamnya dibatasi, ‘wanita malam’ ditertibkan, razia miras-narkoba-judi, hingga para pejabat pun memulas diri untuk ramadhan.

Saat ramadhan pun, praktis semua kehidupan Jakarta berjalan seperti biasanya. Normal di siang hari dengan aneka kemacetan, ramainya mal,sibuknya kantor serta tetap teriknya jalanan atau bahkan banyaknya orang makan-minum di tempat umum seperti biasanya. Ramadhan di Jakarta baru kemudian terasa saat menjelang bedug berbuka, waktu tarawih atau sahur.

Bukan Jakarta namanya, jika suasana itu berada di banyak sudut Jakarta dengan berbagai macam variasi. Buka puasa bersama di kafe atau restoran tanpak jauh lebih banyak di bandingkan di masjid. Kumpulan orang-orang di tempat nongkrong atau di kemacetan jalan jauh lebih banyak daripada yang menunaikan Tarawih. Hanya sahur mungkin, yang lebih banyak orang melakukannya dengan ‘khusyu’.

Tapi akhir-akhir ini, budaya sahur on the road konon lebih parah menggejala dibanding ramadhan tahun lalu. Sekarang tidak hanya orang berlomba memberikan ta’jil gratis, namun Jakarta telah mulai menambahkannya dengan sahur gratis. Salah satunya di sepanjang jalan antara Tendean - Blok M, setiap sahur akan banyak pembagian makanan yang dilakukan mulai dari partai politik hingga klub sepeda motor.

Hingga 10 hari tarakhir ramadhan pun, Jakarta masih berkutat pada identitas yang tak kunjung ada. Sudah mulai surut bulan, beban pekerjaan seperti tak mau ditinggal untuk diganti dengan keutamaan 1000 malam, shaf-shaf Tarawih dan Subuh semakin saja tergerus, pusat-pusat belanja kekurangan ruang bernafas, dan energi hidup pun mulai mengarah pada ritual silaturahim lebaran.

Namun, ada sebagian tempat di sudut Jakarta yang tetap pada usaha mencari keimanan ramadhan. Dan ternyata tidak sedikit orang yang melakukannya. Ribuan orang berkumpul, di satu tempat untuk mengejar yang dijanjikan tentang Malam Utama. Tidak hanya berkumpul untuk satu malam, ada sangat banyak orang (bahkan keluarga!) yang berpindah tinggal di Masjid itu, Masjid At-Tien, untuk beberapa malam dalam 10 hari terakhir.

Ribuan orang, rela berbagi lantai merebahkan diri sejenak sebelum bangun di tengah malam, kemudian berdesakan untuk menyucikan diri.

Ribuan orang bangun di malam hari, terisak menyadari kesalahan, menutup wajahnya karena malu atau memohon ampunan dari-Nya.

Kemudian ribuan orang duduk bersama di taman pelataran masjid, menikmati jamuan sahur bersama keluarga atau saudara seiman, sembari menikmati temaram sabit dan bintang malam.

Dibandingkan dengan lebih dari 10 juta populasi Jakarta, jumlah 2000 mungkin tidaklah seberapa. Apa yang dilakukan sejumlah orang malam itu mungkin masih belum cukup menghapus besarnya beban dosa yang harus ditanggung bersama.

Tapi dengan orang-orang yang seperti itulah, sangat mungkin yang membantu untuk membuat Jakarta aman, berkurang laknat Allah akibat kezaliman yang merajalela, dan akhirnya Jakarta masih mampu menjadi tumpuan hidup Bangsa Indonesia.

Dalam Ramadhan Jakarta mencari identitas Islam, Jakarta mencari keimanan. Semoga setelah Ramadhan, kerasnya Jakarta menjadikan makin banyak orang mendekat diri pada Sang Pemberi Kehidupan dan berempati untuk Jakarta yang lebih akrab.


Selamat Idul Fitri 1428 H,
Taqabalallahu Minna Wa Minkum
Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian

Wednesday, September 12, 2007

Ramadhan

Sepenuh laksa peluh dunia
Tak mampu mengganti nikmat
Bulan rahmat-Mu

Setegar raga tubuh menopang
Tak kan kuat mengganti iman
Bulan suci-Mu

Ya Allah..
Bukan gemerlap yang selalu hamba hindarkan
Namun,
Bukan pula sendu malam yang selalu dalam belaian

Hanya sebuah kesederhanaan berbalut harap
Akan ikhlas dan kesungguhan
Yang mengalir hangat dalam pelukan
Hingga akhir penantian

Ya Rabb..
Dalam Bulan-Mu
Izinkan hamba menggapai Cinta-Mu
Sehingga bisa mencintai makhluk-Mu
Setulus hatiku

Monday, July 30, 2007

Gender, antara rasional dan emosional

Akhir-akhir ini saya sempat dihantui sebuah 'pertanyaan klasik' dari fenomena yang sudah jamak, bahwa laki-laki cenderung lebih rasional dan perempuan lebih emosional. Pertanyaannya, apakah sekarang itu masih berlaku?

Namun, sebaiknya kita memberi batasan yang lebih jelas tentang rasional-emosional antara perempuan atau laki-laki. Tentu ini bukan diskusi yang harus berhenti karena jawaban, "semua kan bergantung pada orangnya" atau "ada kasus khusus, jangan digeneralisasi". Kalau seperti itu, kita tidak akan mengatakan kepada anak kecil bahwa langit itu biru, karena toh tiap menjelang hujan berubah mendung. Atau tidak mengatakan bahwa hutan itu hijau, karena yang kebakaran berubah menjadi merah dan hitam. Jadi, mari melihat dari kacamata umum dalam konteks zaman.

Terdapat tiga buah cerita (dan banyak lagi yang berkeliaran di sekitar kita) yang seolah mempertanyakan aksioma kuat bahwa laki-laki cenderung lebih rasional dan perempuan lebih emosional.

Pertama, ada ungkapan yang saya temukan dari artikel sebuah blog, bahwa laki-laki rela mengeluarkan uang 1.200,- demi membeli barang seharga 1.000,- yang diperlukannya, sedang perempuan rela mengeluarkan uang 800,- untuk membeli barang seharga 1.000,- yang tidak diperlukannya.

Disini saya kurang paham, siapa yang lebih rasional atau emosional, antara laki-laki atau perempuan dalam ungkapan diatas. Sebagai laki-laki, saya hanya bisa membenarkan ungkapan konsep 'berkorban lebih' laki-laki terhadap hal yang diinginkannya diatas. Bagaimana dengan perempuan?

Kedua, beberapa hari lalu 'diskusi ringan' di kantor tentang seorang dosen senior yang berpendidikan sangat tinggi (konon profesor) mempunyai seorang istri yang juga berstatus sosial 'terhormat', melakukan 'perbuatan terlarang' dengan pembantu rumah tangganya. Sampai disini, mungkin sebagian menganggap bahwa sang dosen tidak rasional (alias emosional), karena tidak menggunakan rasionya untuk menimbang-nimbang 'status perempuan', toh bagaimanapun dia adalah seorang maha guru yang mulia.

Tapi kemudian, ketika diadili dalam sidang alasan yang dikemukakan sang dosen 'sungguh polos' bahwa siapapun perempuannya itu, secara 'fisiknya' akan sama saja. Bukankah ini alasan paling rasional?

Ketiga, ini juga saya dapatkan dari sebuah blog tentang cerita kepahlawanan dan laki-laki. Dari beberapa cerita yang disampaikan, bahwa jiwa kepahlawanan seorang laki-laki akan timbul menghadapi sosok perempuan yang lemah atau membutuhkan 'sosok pahlawan' dalam hidupnya. Salah satu kisahnya, ada seorang perempuan penderita kanker otak yang seperti 'tak punya harapan hidup' dan masih ada 'sang pahlawan' yang mau menikahinya sekalipun belum pernah saling bertatap muka dengan perempuan itu (terlepas bahwa semua manusia ada jodoh dari Yang Maha Kuasa). Seperti tidak masuk akal?

Saya sendiri punya pengalaman, seorang perempuan keluarga dekat yang menderita epilepsi sejak SD-nya akhirnya disunting oleh jejaka sarjana yang tampan (dan mungkin bisa mendapatkan perempuan lain yang 'lebih baik'). Dan lagi-lagi sebagai laki-laki, saya bisa membenarkan keputusan laki-laki sebagai sosok pahlawan itu. Benar-benar emosional.

Jadi sekarang, masih percaya laki-laki cenderung lebih rasional dan perempuan lebih emosional? Jangan tanya saya, karena saya pun tidak tahu pasti jawabnya.


*Maaf kepada teman-teman perempuan 'yang peduli',
karena saya tidak punya thread laki-laki maka saya memasukannya ke label Perempuan, padahal mungkin banyak dari sudut laki-lakinya.

Wednesday, June 13, 2007

Senyum bocah lawu

Menemukan kereta luncur pengangkut sayur di jalanan Gunung Lawu adalah hal menarik, karena kereta itu tak bisa ditemukan sepanjang waktu di setiap harinya. Dan saya menemukannya dalam perjalanan pulang saat berkunjung singkat ke Sarangan lalu.

Tampak dari belakang dua anak kecil masing-masing mengendalikan kereta luncur mengangkut sayuran, tampaknya sayur kangkung. Seorang anak lagi naik di bagian belakang salah satu kereta. Kereta tanpa bahan bakar, hanya mengandalkan perbedaan ketinggian untuk meluncur menuju tempat yang lebih rendah. Kereta meluncur kencang dengan dikendalikan arah-kecepatannya dengan kemudi serta rem di tangan pengemudinya.

Kereta ini biasanya membantu para petani sayur pegunungan mengangkut sayuran ke pasar di daerah yang lebih rendah. Disini, kereta luncur digunakan untuk mengangkut sayur dari daerah Sarangan atau Kecamatan Plaosan atas menuju Pasar Tradisional Plaosan.

Segera saja saya menyalip dan mengambil gambarnya dari arah depan. Bocah-bocah lawu ini tampak senang dan tersenyum cerah, secerah tengah siang itu. Beberapa saya menyalipnya, mengambil gambarnya. Dan tanpa disengaja oleh bocah-bocah, ada sedikit ikat sayur yang jatuh. Hanya ikat kecil sayur, tapi mereka tetap harus mengambilnya. Bocah yang tidak mengemudilah yang mengambil dan saya pun kemudian berbincang dengan dua bocah pengemudi.

Segera saya menjulurkan tangan, menyebutkan nama kepada masing-masing. Mereka tampak ragu menanggapinya. Aku lihat sekilas, tangan mereka penuh tanah kering yang melekat. Coklat. Sudahlah teman, lupakan tangan kotor itu. Jabat saja tanganku. Tangan kalian lebih mulia daripada tangan ini. Ingin sekali kukatakan itu. Kumajukan lagi tanganku, dan mereka pun akhirnya menyambutnya.

Namanya Agus dan Heri. Heri, kelas 6 SD yang pastinya sudah selesai UN saat itu dan sedang menunggu proses masuk SMP. Agus, sudah kelas 1 SMP. Ah, sayang saya lupa menanyakan dimana mereka sekolah. Tapi mereka tinggal di sekitaran Sarangan atas.

Agus dan Heri memakai bahasa Jawa Krama Alus (tingkatan di bawah Krama Inggil -tingkatan tertinggi dalam bahasa Jawa), sekalipun saya menanyainya dalam Jawa Ngoko (bahasa keseharian, pergaulan). Betapa mereka tahu tata-krama, hal yang rasa-rasanya semakin menipis saja di kehidupan kita.

Senang berbicang dengan mereka dalam bahasa seperti itu. Dengan orang jawa dalam situasi pergaulan informal, saya selalu lebih suka dengan bahasa itu. Lebih enak, dan dekat. Paling tidak nyaman menanggapi, jika ada orang jawa dalam bicara informal memakai Bahasa Indonesia. Dalam kamus gaul, blagu!. Toh Bahasa Indonesia-nya juga Indonesia logat Jawa.

Agus bertanya, mau dikemanakan foto-foto yang kuambil tadi. “Apa dimuat di koran?” tanyanya. Kontan saja saya jawab tidak di koran, hanya untuk pribadi. Ah, seandainya mereka tahu kalau saya ingin sekali menulisnya disini, di blog ini. Blog, internet, terlalu asing jika itu dipaksa-katakan kepada mereka, bocah-bocah lawu itu. Maafkan mas, Agus.

Bocah yang mengambil sayur jatuh sudah kembali, sekali lagi mereka saya ambil gambarnya. Si bocah pengambil meminta uang pada saya sambil bercanda. Saya hanya menjawab dengan senyum. Oh, uang tak akan bisa membayar pelajaran yang saya dapat dari kalian hari itu. Percayalah dik!

Jika awal Juni itu, sebagian kecil teman-teman kalian di kota besar bergembira merayakan Hari Anak, maka kalian disini sebenarnya lebih layak mendapatkan makna hari itu. Keceriaan, kalian selalu dapatkan bahkan dalam kondisi kalian harus ikut bekerja membantu orang tua kalian yang mungkin telah menunggu kalian di pasar hari itu. Keramahan, kalian benar-benar bisa menghargai orang lain lewat bahasa komunikasi. Dan tanggung jawab, seikat kecil sayur jatuh yang kalian ambil telah tunjukan itu.

Saat akan meninggalkan mereka, kusapa lagi mereka. Kupesankan untuk belajar yang benar. Lalu apa lagi? Saya sangat yakin, jika bocah-bocah lawu ini adalah aset daerahnya, Magetan serta bangsa ini di masa depan. Selamat menggapai cita-cita adik-adikku.

Wednesday, May 02, 2007

Menjadi Guru

Guru, sebuah pekerjaan yang mulia. Pahlawan tanpa tanda jasa, demikian julukan itu disematkan. Membayangkan pendidikan, tanpa sosok guru laksana melukis di langit. Tanpa kehadiran seorang guru, pendidikan apapun itu mulai tingkat paling dasar hingga atas, formal maupun informal, tak akan pernah bisa berjalan.

Banyak orang menjadi guru, bukan sebab material. Karena guru, terutama di Indonesia, sudah dikenal dengan profesi yang bergaji sedang (untuk tidak dikatakan rendah). Sehingga minat untuk menjadi guru mungkin hanya ada di kepala sebagian kecil anak-anak. Padahal melalui perantara guru lah, cahaya ilmu itu bersemai.

Bagi guru sendiri, kebahagian terbesarnya adalah saat melihat anak didiknya sukses di masa depan. Itulah yang menjadi kebanggaan guru, yang mampu menghilangkan lelahnya dalam mendidik putra didiknya dengan hanya 'imbalan materi' yang masih secukupnya. Maka bagi anak didik, memberikan bentuk penghormatan atau sekedar tegur sapa kepada guru-gurunya dulu kala, akan memberikan energi kepada guru tersebut untuk terus mengabdi, dan mengabdi dalam pendidikan mencetak generasi penerus yang lebih baik.

Menjadi guru adalah pekerjaan mulia. Apa yang saya yakini, sebuah analogi yang diberikan guru SMU dulu, bahwa menjadi guru berarti sudah berniat untuk meletakan satu kaki di Surga, dan bukan sebuah hal yang berat untuk menggeser satu kakinya yang lain. Atas dasar sebuah keikhlasan akan perjuangan.

Maka, jadilah guru! Tidak hanya guru bagi anak-anak kita sendiri, tapi guru bagi anak, atau bahkan masyarakat. Formal atau informal, kecil maupun besar jumlah anak didik bukan menjadi soal. Karena semuanya akan berbalas. Menjadi guru, yang patut digugu dan ditiru.

Berbicara tentang pendidikan nasional, maka pertama kali kita seharusnya berbicara tentang guru. Selamat Hari Pendidikan...

---
Kapan Sekolah Kami Lebih Baik Dari Kandang Ayam

"Tanpa sebuah kepalsuan, guru artinya ibadah.
Tanpa sebuah kemunafikan,
Semua guru berikrar mengabdi kemanusiaan.
Tetapi dunianya ternyata tuli. Setuli batu.
Tidak berhati.

Otonominya, kompetensinya, profesinya
hanya sepuhan pembungkus rasa getir,"

"Bolehkan kami bertanya,
apakah artinya bertugas mulia
ketika kami hanya terpinggirkan
tanpa ditanya, tanpa disapa?
Kapan sekolah kami lebih baik dari
kandang ayam?
Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kadaluarsa?
Mungkinkah berharap
yang terbaik dalam kondisi yang terburuk?"

"Ketika semua orang menangis,
kenapa kami harus tetap tertawa?
Kenapa ketika orang kekenyangan,
kami harus tetap kelaparan?
Bolehkah kami bermimpi di dengar
ketika berbicara?
Dihargai layaknya manusia?
Tidak dihalau ketika bertanya?
Tidak mungkin berharap
dalam kondisi terburuk,"

"Sejuta batu nisan
guru tua yang terlupakan oleh sejarah.
Terbaca torehan darah kering:
Di sini berbaring seorang guru
semampu membaca buku usang
sambil belajar menahan lapar.
Hidup sebulan dengna gaji sehari.
Itulah nisan tua sejuta
guru tua yang terlupakan oleh sejarah,"

*Prof. Winarno Surahman, dibacakan saat peringatan hari guru, 2005

Monday, April 02, 2007

pesan dari seorang guru

Malam...Bos, gmn kabarnya?kerjanya udah kerasan blm. sy do'akan mdh2an bisa berprestasi n cita2mu bisa kau raih. gmn dengan malam minggunya. dah ada yang nemenin kan? he..he..

pesan diatas datang saat malam minggu weekend lalu dari seorang guru smu, kami memanggilnya Bu Tatik, seorang guru bahasa indonesia di sebuah SMU kota kecil ujung barat jawa timur. sempat kaget dengan pesan diatas, sekalipun beliau memang termasuk akrab dengan saya sejak smu, dan terjaga hingga sekarang. sewaktu pulang lebaran kemarin, sempat berdiskusi hangat tentang masalah sastra. dan pesannya, "sastra untuk masyarakat trian.., bukan sastra untuk sastra..".

memang saya akui, beliau lah salah satu orang penting yang mengenalkan dunia sastra pada saya, saat beliau mengajar saya di kelas 2. beliau mengajarkan bagaimana membaca puisi yang baik-lewat intonasi dan penghayatan, belajar berpidato di depan, dan yang paling teringat, belajar mengapresiasi karya sastra lama.

saya kemudian membalas sms itu,
apa kabar bu tatik?hehe. kerjaan baik2 saja, smg dapat terbaik buat saya. malam minggu? ah, ini jg mau makan sendiri koq bu..hehe

kemudian beliau menjawab,
dijaga kesehatannya ya, biasanya kamu kalo dah kerja wis lali kabeh liyane*. met berkarir ya. do'aku selalu.
(*wis lali kabeh liyane = sudah lupa semua lainnya)

sebentar..., kalo dah kerja lupa semua? oh, mungkin beliau teringat saat kebiasaan smu dulu. beliau adalah salah satu pembina OSIS, dan pembina majalah SMU dulu. yang masih saya ingat disini, di sebuah senin jam pertama sebelum memulai pelajaran, beliau memberikan ucapan selamat bekerja buat saya yang pada upacara sebelumnya dilantik memimpin kepengurusan OSIS. dan dulu saat sedang sibuk-sibuknya, memang makan menjadi nomor dua. tapi, bagaimana beliau bisa masih ingat?

Bu Tatik, salah satu guru penting dalam kehidupan sekolah saya. bukan sekedar guru di kelas, tapi bisa menjadi teman yang akrab di luar. tak terbalas, namun bagaimanapun harus ada sesuatu yang diberikan kepadanya. buku, ya... buku adalah hadiah buat orang-orang seperti beliau. dan Sang Pemimpi serta Laskar Pelangi adalah buku yang cocok. dengan special quotation dan signing dari Andrea, saya kirimkan untuknya 3 bulan lalu.

dan terakhir, saya membalas smsnya.
Amin, bu. makasih do'anya. sukses juga untuk bu tatik..:)

Beliau adalah adik kepala sekolah SMP saya, seorang Protestan dan tinggal di sebuah wilayah pinggiran kota.

*Bu Tatik tidak ada di foto ini

Wednesday, February 28, 2007

mozaik kehidupan

/1/
Suatu masa nanti, seorang anak bertanya pada bapaknya: “Ayah, apa itu cinta?”

Cinta. Nak, kau tak akan tahu jawabnya sebelum merasakan. Dan jika suatu saat kau merasa: rindu, sayang, cemburu, benci, ingin memiliki dan melindunginya, maka kau mungkin sedang jatuh cinta. Dan ketika kau mencintai, maka kau pun harus siap untuk terluka karenanya.

/2/
Sebuah kain batik, diberikan seorang ibu kepada anaknya.

Nak, bawalah kain ini untuk dirimu di rantau. Kain ini diberikan nenekmu, sebagai kain penutup dalam drama pernikahan ibu. Jika kamu kangen ibu, pakailah kain ini sebagai selimut tidurmu. Apalagi jika kamu sakit.

/3/
“Tidak ada pembagian struktur antara laki-laki dan perempuan, bahkan untuk domestik, hal yang sering diidentikkan sebagai tugas kaum perempuan semata.”

Jika setiap hari laki-laki seperti itu, aku tak akan pernah menjadi wanita.

/4/
“Kakak, bentar lagi adik mau sholat terus tidur. Apa yang kakak minta?”

Dalam do’a, do’akan supaya bisa istiqomah di jalan-NYA.

/5/
“Setelah semua rasa aku tumpahkan, tetap saja tak ada satu pintu-pun yang terbuka.”

Pintunya sudah tertutup, waktulah yang menutupnya. Dan akan kuingat seperti katamu: dekat berjarak, jauh bertepi.

/6/
“Mengapa kau selalu mengharapkan. Tidak adakah hal lain yang bisa memalingkanmu?”

Untuk orang yang bisa melakukan sesuatu dengan tulus, maka aku pun pantas berjuang untuk menjadi bagian penting dalam hidupnya.

/7/
“Mintalah sesuatu, jika ada yang harus kulakukan untuk dirimu.”

Buatkan aku sebuah puisi, dari buah keteduhan jiwamu.

Friday, February 02, 2007

rumah mimpi

Rumah mungil itu ada di tepian. Berwarna ceria, bahkan cerahnya pun bisa menerangi kegelapan orang yang melihatnya. Itu bukan rumah yang besar, namun senantiasa asri dengan taman kecil dan sebuah dudukan beratap diantaranya. Dan lihatlah, sebuah pintu selalu menampakan sapa ramah kepada pengunjungnya. Hanya dengan melihatnya, semua orang telah dibuat kesan olehnya.

Rumah mimpi, demikian orang biasa menyebutnya. Begitulah pemiliknya memberinya nama. Konon, karena mimpi lah rumah itu dibangun. Mimpi sejak pertama kali membayangkan sebuah rumah, yang akan berada diantara langit dan gunung. Gunung adalah puncak dunianya, sedangkan langit tujuan abadinya. Gunung selalu menghadirkan kesejukan, penuh khidmat dalam keteguhan tekadnya, dan langit adalah tempat bagi semuanya bernaung, siapapun dia.

Dan di rumah mimpi, semua orang bebas untuk bermimpi. Bahkan ketika masuk pun, sesegera semuanya diajak untuk bermimpi. Bermimpi tentang hidupnya, tentang tujuannya dan tentang cintanya. Mimpi yang mengurai kesedihan pun tak dicegah. Semua bebas bermimpi, pun untuk memulai menuju mimpi itu. Bukankah semua bermula dari mimpi?

Tapi, tak semua orang suka bermimpi. Bahkan mereka cemas, semakin bermimpi semakin takut mereka untuk bangun. Karena tak berani melihat kenyataan, mereka pun membenci mimpi. Hanya anak-anaklah yang masih bermimpi. Ya...anak-anaklah yang senantiasa membangun mimpi-mimpi panjangnya.

Maka, rumah mimpi adalah rumah dengan banyak ragam mimpi anak-anak di dalamnya. Bisakah membayangkan, bagaimana mereka mengukir pahatan mimpi mereka? Diawali dengan mencermati banyak dongeng dan bingkai cendekia, lalu mulailah menggores tinta mimpi, membangunkan tempat mimpinya, membuatnya langit-langit hingga mewarnainya dengan indah. Indah sekali mimpi mereka, indah sekali. Dan bila sesekali mereka menumpahkan noda di atas kanvasnya, tetap saja itu sebuah lukisan mimpi yang indah.

Maka di rumah mimpi mereka mewujudkan imaji sehebat-hebatnya. Bersama bidadari, mereka seperti peri-peri kecil yang berterbangan mengitari permata mahligai sang nakhoda. Membawakan satangkup cinta, dalam cendawan penuh asa dan segenggam noktah maaf untuk terus disemaikannya. Begitu indah itu semua di rumah mimpi.

Dan bagi diriku, rumah mimpi serasa telah menghentikan waktu.

Tuesday, December 26, 2006

untuk sahabat

kau terlalu hidup dari cinta dan persahabatan..

tiba-tiba saja kau tersungkur di kamarku. antara bimbang dan mencoba menutupi. tapi wajah tak pernah bohong. baru mendapatkan sebuah pengingatan, pasti.

kalaupun kau tak mau jujur, bercerita, aku pun paham. siapa aku? dimana posisiku? tapi kau masih sedikit bergumam. ah.., itu pun aku tak yakin kau sebut semuanya.

dan aku ambil kesimpulan. kau terlalu hidup dari cinta dan persahabatan. maaf, aku sedikit bohong. itu bukan kata teman kita. itu kataku. sekalipun aku mendapatkan fenomena sama tentangmu dari teman itu.

kau terlalu ringkih. untuk memukul sebagai laki-laki saja kau tak bisa. bukankah aku sering memukulmu? atau kemarin tak sengaja malah menginjakmu. sebagai bahasa persahabatan, sekaligus menunjukan ini dunia yang keras. tapi aku tak tega melihat wajahmu. dan saat aku ingin kau lebih kuat, kau bilang singkat: suppose to be.

lagi-lagi aku bertanya, siapa aku berani mengungkapmu? atau itu justru menghujam diriku sendiri? karena kau juga bukan hatiku. tapi kau perhatianku.

stop! jangan bilang lagi kalau di dalam perhatian ada hati. cukup. aku tahu itu. tapi kau tentu juga paham apa maksudku.

aku bilang kemarin, kau tak akan pernah bisa mendapatkan satu rahasia besar itu. hanya satu orang yang tahu, pun sekarang aku tak mau mengganggunya lagi. melihatnya bahagia. aku tak tega hati menggangunya, untuk membagi lagi cerita yang lama tertunda.

oh.. bukan itu saja. bukankah kau juga belum pernah tahu tentang kisah tentang 3 itu? karena kau bukan hatiku. ya.. kau hanya perhatianku.

seandainya aku tidak ingat, bahwa hatiku nantinya hanya milik seorang, tentu sudah berbandang-bandang cerita membanjirimu. tapi bukan itu.

aku possesif, pencemburu. aku yakin kau pasti bisa merasa, bagaimana kejamnya cemburu. mencabik-cabik. hei.. bukankah kau juga? aku pernah liat (dan kau tahu itu), bahwa kau cemburu pada kedekatan D dan A, sahabat dekatmu di kelas. dan waktu itu kau bilang tentang aku: seseorang yang tidak rela barang miliknya tidak pada tempatnya. tega!

buat apa menyerahkan hati pada orang yang terlalu hidup dari cinta dan persahabatan? aku sadar. kau punya banyak sahabat. dan aku tak berhak sekalipun menggugatmu. tapi aku juga berhak untuk menjadikanmu hanya perhatian, bukan hati.

tapi jujur, perhatianku sudah mendekati titik atas. pun buatku, perhatiamu juga tak kuragukan. kau tahu kisah 3 itu, sekalipun remang. kau menjadi tempat bingungku (dan kau menunda 'lariku' dari kota itu). hanya satu yang belum, sebuah rahasia besar. lalu sebaliknya, aku pun juga tahu kisah 2 bulan itu, bahkan kakaknya pun belum tahu. dan kau tersungkur di kamarku malam itu.

sekali lagi kalau aku sejenak lupa, bahwa ada yang lebih berhak terhadap hatiku kelak, aku sudah jatuh di depanmu. oh.. aku lupa. aku tempatkan kau berdua dengan seseorang saat aku dalam genting. dia tak membalas, karena aku segera sadar ini belum saatnya. tapi aku menyengaja kau 'memegangku'. aku masih ingat. kau bilang: apakah tangisan aisyah karena cemburu salah?

benar, kau sudah mencapai titik atasku bahkan saat ini melebihi seseorang lain, bagian dari kisah 3 itu. tapi, kau belum hatiku. karena kau terlalu hidup dari cinta dan persahabatan.

sudahlah, aku tak mau memperpanjang kalam. aku tahu siapa diriku dan kamu. aku berharap kau tak membaca ini. seandainya membaca, aku tak ijinkan kau untuk membalasnya. hanya kita berdua saja yang tahu. anggap ini tak pernah ada. toh, selama ini hubungan kita baik-baik saja.

terakhir aku ingin katakan, satu kalimat yang sekarang belum saatnya untuk kukatakan ke seseorang itu. karena Allah, aku sayang kamu.