Showing posts with label Kota. Show all posts
Showing posts with label Kota. Show all posts

Thursday, December 20, 2018

10 Catatan Travelling Australia 2018

Setelah 2014 lalu saya berkesempatan ke Australia dengan membuat 10 catatan travelling, pada Oktober 2018 ini saya dan keluarga kembali ke Australia yang bisa dianggap sebagai transit dalam rangkaian liburan ke Australia dan New Zealand (NZ). Ada baiknya kemudian untuk menuliskan kembali 10 catatan perjalanan ke Aussie versi 2018 dengan tetap mengambil sebagian dari poin catatan sebelumnya yang pasti berbeda kondisinya.

1. Visa immigration
Ada dua opsi visa yang mungkin dalam itinerary kami, yakni visa normal tourist atau visa transit. Visa transit harus melampirkan bukti flight selanjutnya yang maksimum stay di Aussie nya tidak lebih dari 72 jam (3 hari). Biaya transit visa ini lebih murah yakni zero (xcheck ya), sedangkan visa normal visitor AUD  140 per orang (lumayan kan kalau untuk 2 dewasa + 2 anak). Karena saat apply visa Aussie ini kami belum beli tiket ke NZ, jadi belum tahu benar apakah diantara 2 visits ini masing2 maksimum 72 jam. Biaya yang lumayan visa normal, untungnya agak terobati karena syukurnya dapat visa visitornya 3 tahun sampai 2021. Mungkin beberapa pertimbangan diantaranya karena saya pernah ke Aussie 2014 lalu, dan kami baik2 saja hidup di Aberdeen selama setahun. :)

2. Goods declaration
Saya bilang 2014 saat itu baggage checking dan goods declaration di custom relatif lebih ketat dibanding 2018 ini. Satu mungkin karena saya bawa keluarga dengan anak-anak (8 + 3 yo), kedua mungkin karena semakin banyak turis Asia (khususnya Chinese) yang datang kesana. Mungkin juga berdasar pengalaman paling2 yang dibawa orang Indonesia antara indomie, abon, atau mentoknya rendang yang 'relatif aman' dikonsumsi sendiri hehe. Dan sejauh ini mungkin tidak ada evidence dari tourist Indo yang bermasalah misal keracunan abon bekal dari Indonesia :p.

3. Local transport
Prinsipnya di Aussie untuk lokal transport (bus, tram, train) menggunakan card yang sayangnya belum bisa one for all regions. Untuk yang Victoria (Melbourne) pakai Myki, sedangkan di Sydney pakai Opal Card. Keduanya bisa dibeli dan top-up langsung di stores area Airport sehingga bisa langsung dipakai untuk airport transport. Jangan lupa untuk set up child fare (4-15 yo) di CS atau store nya, karena lumayan child fare bisa sampai 50% adult fare. Anak di bawah 4 tahun free (pas banget dengan usia Aidan hehe). Ada maximum fare per day, yang kalau sudah kena fare itu tidak kena charge lagi (belum di cek apakah bisa sampai keluar ke suburban). Di Melbourne, sekarang ada free-tram zone di area CBD-nya yang rasanya 2014 lalu belum ada. Penumpang yang naik dan turun di zona ini free ga perlu tapping Myki nya. So, sebenarnya ga perlu2 amat beli Myki kalau cuma main di CBD-nya aja.

4. Airport transport 
This is the most tricky and interesting thing! Dari airport (Tullamarine atau Avalon) Melbourne ke City atau sebaliknya, paling efisien naik Skybus dengan family ticket plus belinya online. Itu jadinya akan murah banget untuk ukuran family 2 adults + up to 3 children. Sayangnya kemarin beli return ticket tidak ada diskon lagi, jadi kalau belum pasti naik bus beli tiket agak mendadak. Oiya, validitas tiket nya sampai 3 bulan. Dan ketika mau naik bus tinggal di scan oleh driver nya ke email di HP kita.

Untuk Sydney dari airport yang paling efisien adalah sesuai saran disini, kami melakukan baik saat arrival atau departure. It did work! :)

If you want to save your money, the cheapest option is to take the local 400 bus toward Bondi Junction. Get off at the stop after the domestic terminal, which is only 300m from the Mascot rail station. If you catch the train at this station, you will not have to pay the GatePass fee ($12).

Taking the bus and then the train is not the most convenient option, but the bus will only cost $3.30 and the train $3.40.

5. Weather
Cuaca Aussie yang nyaman tidak terlalu panas dan dingin ada di fall (autumn) late Q1/early Q2 atau spring late Q3/early Q4 persis 2014 dan kemarin di Oktober.  Kalau 2014 dulu ngerasa Aussie hot karena saat itu berangkat dari Aberdeen yang suhu rata2 tahunan sekitar 10 deg C, kali ini tentu saya merasa lebih dingin karena berangkat dari Indonesia. Tapi ga dingin2 amat agak mirip2 Lembang lah, masih cukup tanpa jaket di siang hari nya. Dan dengan trip di waktu seperti ini, daylight nya sudah lebih panjang dimana sunset sekitar jam 7 malam.

6. Mobile number 
Karena rangkaian perjalanan kami tidak stay full di Australia (3 Aussie + 7 NZ + 3 Aussie), setelah hitung menghitung maka tetap menggunakan Telkomsel dengan paket promo roaming Asia Australia NZ lebih efisien. Lalu untuk no istri (Indosat), tinggal tethering dari no Telkomsel tersebut kalau buat social media dan Gmaps paket data roaming nya masih aman. Kalau misal lagi pisah lokasi, perlu komunikasi pakai sms atau paling kepaksa telepon (Alhamdulillah ga sampai telepon hehe).

7. Air BnB
Kalau 2014 dulu single trip orientasi nginap adalah hotel atau malah numpang ke teman, kali ini Air BnB menjadi opsi utama selama di Melbourne karena bisa masak dan family friendly. Kami sempat stay di Sydney, tapi memilih hotel Ibis karena ada cuma 1 malam dan kebutuhan adanya luggage storage ketika check-out pagi untuk jalan-jalan dulu sore ke airport. Air BnB jelas tidak punya fasilitas itu, di Melbourne kami sewa luggage storage di Southern Cross station pas di arrival terminal Skybus sebelum bisa check-in Air BnB di Jam 12-14 (Garuda Jakarta ke Melbourne landing jam 6 an pagi, Jam 9 sudah bisa sampai Skybus Southern terminal - CBD).

8. Kangaroo zoo
Belum ke Australia kalau belum lihat dan foto dengan Kangaroo (dan Koala). Ternyata Melbourne zoo tidak seperti di Adelaide yang lebih open space. Ada sesi2 khusus dengan tiket berbeda untuk photo close-up dengan Kangaroo. Meskipun demikian, Melbourne zoo lumayan bagus tata letaknya, cukup luas dan bermacam hewan. Penting pergi kesini pas hari Minggu sehingga anak-anak free. Beli tiket online juga bisa untuk mempersingkat ga perlu antri di loket masuk.

9. Gift shopping
Melbourne Victoria Market tetap jadi pilihan utama dengan banyak pedagang nya yang orang Indo untuk pernak pernik suvenir. Di Sydney, Paddy's market adalah pilihan utama. Di bagian lantai atas nya tempat yang nyaman untuk belanja dan makan, di lantai dasar nya (semi-basement) banyak pilihan pedagang retail souvenirs. Dan ada 1 toko yang cukup besar dengan pemilik (atau pelayan ya) 2 mbak-mbak Indonesia.

10. Refund VAT
Ini barangkali yang paling menarik kalau belanja di toko-toko resmi di Aussie (bukan 'kaki lima'). Ada skema VAT Refund yang bisa di proses di airport sebelum take-off dari Australia. Jika barang-barang yang dibeli ada yang disimpan di checked-in luggage, maka harus melaporkan ke bagian custom untuk checking barang dan jumlahnya benar akan dibawa keluar Australia. Tempat custom di Tullamarine Airport ada di dekat bagian lost and found keluar arrival international terminal. Kalau barangnya dibawa masuk cabin, maka perlu ditunjukan ke bagian refund VAT setelah secuity screening sebelum masuk ke waiting room untuk boarding. Artinya ada potensi tambahan marjin bagi para pelaku jastip hehe. Tapi jangan lupa dengan aturan custom di Indonesia ada batas maksimal belanja keluarga ya.


Wednesday, May 02, 2018

Itinerary 7 day JR Pass Jepang

Alhamdulillah, akhir Maret sampai awal April 2018 lalu berkesempatan berkunjung ke Jepang dalam rangka agenda bersama yayasan dan jalan-jalan. Tiket JAL Jakarta ke Narita airport dibeli bulan Oktober 2017 sekitar 7.5 juta-an, dan sebagai pembanding tiket ANA dibeli bulan Februari 2018 sudah tidak normal seharga 12 juta-an. Artinya jika merencanakan ke Jepang dalam rangka wisata, sebaiknya tiket dibeli minimal 6 bulan sebelumnya untuk mendapatkan harga 'wajar' dan bahkan bisa promo.

Urusan penginapan, kami ber-delapan menggunakan apartment via AirBnB selama 8 hari 7 malam, yang artinya bisa masak sendiri meskipun tetap membawa bekal makanan jadi dari Indonesia yang dibungkus super rapat. Berbeda dengan custom Australia yang super ketat, Jepang termasuk juga ketat (diendus anjing) tapi masih mungkin untuk aman.

Sebelum visit (sebelum visa), kami sudah membeli 7 day JR pass yang bisa digunakan di Tokyo central (JR) line, Narita Express dan selected Shinkansen (misal Kodama, Hikari). Begitu sampai Narita, pass di aktivasi keesokan hari nya selama 7 hari ke depan. Jadi untuk hari pertama dari Narita ke Tokyo menggunakan train yang non-express.


Well, bagaimana itinerary yang baik dan 'optimal'. Secara prinsip menurut saya ketika sudah mempunyai 7 day JR pass, maka cukup tinggal di Tokyo dekat stasiun MRT. Lalu dari 6 hari net di Tokyo, bisa travelling sampai maksimal 2-3 jam per trip (sampai Osaka dari Tokyo) di hari sesuai itinerary.  Dengan demikian kita akan optimal city tour Tokyo 2-3 hari dan 3 hari nya travelling.

Maka pilihan kami contoh optimasi JR pass sebagai berikut (cocok buat first time Japan visit):
Day 1: Tokyo city: Harajuku, temple park, botanical garden, Akihabara

Day 2: Shinkansen: Kyoto: Saga Arashiyama (walking tour bridge, bamboo forest, romantic train, temple Fushimi Inari), plus mungkin sempat short visit ke Osaka (Shinkansen Kyoto to Shin-Osaka, check last train JR from Shin-Osaka to Tokyo)

Day 3: Shinkansen: Karuizawa atau Gala Yuzawa (prefer terakhir) + Tokyo city (misal Meguro, Odaiba)

Day 4: Trip to Mt Fuji (+ short Shinkansen Hakone atau Tokyo city)

Day 5: Shinkansen: others (misal Osaka, Hitachi seaside park atau Hakone - private line)

Day 6: Tokyo tour + shopping: Harajuku, Takeya, Ueno, Shibuya

Day 7: Tokyo to Narita (shopping around Narita)


Good thing nya bahwa harga barang2 di Narita ga beda jauh dengan di city, artinya bisa beli beberapa hal-hal terakhir di Narita. Jadi berangkat agak awal dari Tokyo untuk muter2 Narita ada bagusnya juga hehe.

Atau kalau pesawat sore mau di optimalkan muter2 di Tokyo dulu setelah check out. Oiya, biaya menitipkan luggage dalam luggage box di banyak stasiun harga nya sama maksimal sampai 3 x 24 jam. Jadi kalau hanya nitip 2-3 jam, agak kurang 'maksimal'.

Terakhir, Jepang banyak dikunjungi wisatawan di Bulan Maret karena cherry blossom (sakura). So, plan your (family) trip to Japan!

Thursday, October 23, 2014

10 Catatan Travelling Australia

Alhamdulillah, saya berkesempatan ke Australia untuk pertama kalinya tengah Oktober ini dengan tujuan utama conference. Kunjungan ke Adelaide selama 3 malam dan Melbourne 1 malam sangat berkesan, yang utama karena saya memulainya dari ujung dunia yang lain (Aberdeen, Scotland, UK), dan karena beberapa pengalaman unik yang mungkin bermanfaat bagi pembaca sekalian.

1. Connecting Flight
Intinya, bagasi saya terlambat, tertinggal di Amsterdam (AMS). Jadi selama 3 malam di Adelaide, saya harus survive dengan baju menempel di badan. Beberapa setelan formal terpaksa beli karena saya harus presentasi di conference. Saya yakin (?) hal tersebut bisa di klaim, namun tetap butuh waktu dan proses panjang (hingga hari ini belum direspon KLM!!). Bagasi terlambat menurut analisa saya, karena connecting flight KLM di AMS yang hanya 50 menit, sedangkan boarding connecting flight 30 menit sebelumnya. Bayangkan, dari keluar pesawat sampai masuk pesawat connecting hanya kurang setengah jam. Jalan antar terminal di Schipol yang lumayan, alhasil saya berhasil naik pesawat dengan baik, tapi bagasi saya tidak. So, sebaiknya anda memilih flights dengan koneksi diatas 1.5 jam, aman buat bagasi dan penumpang. Apalagi di airports yang security check nya satu pintu sehingga antrean panjang, macam di Abu Dhabi.

2. Goods Declaration
Australia terkenal dengan peraturan ketat untuk barang-barang yang dibawa masuk. Declare barang-barang yang harus di-declare, diantaranya makanan dan bahan mentah. Declare artinya bagasi siap diperiksa di airport Australia. Konon barang-barang yang ada label manufaktur resmi cenderung aman, dibuka namun tidak dibuang. Sedangkan yang homemade atau manufaktur ‘abal-abal’, harus banyak berdo’a supaya tidak dibuang. Bagaimana kalau tidak declare? Kalau ternyata ada inspeksi dan ternyata ditemukan barang-barang yang seharusnya declare, maka denda nya cukup besar. Ada baiknya baca goods declaration sebelum ke Australia.

3. Exchange Rate
Nilai tukar AUD (Australian Dollar) sangat mahal ketika anda berada di Australia. Dari seorang teman, dia menukarkan USD 100 dapat AUD 100 + IDR 150,000 di Jakarta (I love Indonesia J). Sehari setelah sampai Adelaide, dia hanya dapat AUD 95! Ambil uang di Debit ATM kena charge AUD 2, baiknya sekalian banyak jangan cuman sedikit karena flat. Transaksi gesek di stores kena charge juga, bukan di notanya, tapi di rekening kita. Saya pakai Poundsterling Card juga kena bertubi-tubi charge dan fee, nyesel abis baru ketahuan terakhir. Pilihan yang baik (prioritas): bawa cash AUD sebelum sampai Australia, Ambil Debit card di ATM, dan pilihan terakhir gesek card di stores.

4. Australian English
Well, ini bukan hal yang sangat major. Hanya info bahwa English versi Australia ini termasuk yang sulit ditangkap di dunia. Aksen yang menghentak dan cepat sekali, saya sendiri kesulitan dan ternyata banyak teman juga. Saya baru menyadari kata guru English saya di kantor dulu, bahkan dia yang british sering tidak full nangkap Australian English. Saya tidak ahli English, tapi saya sangat menikmati English para dosen saya di Aberdeen.

5. Mobile Phone Number
Ini termasuk paling merepotkan, diantara semua negara yang pernah saya kunjungi. Jika membeli SIM card untuk mobile phone kita, maka kita harus mengisi form registrasi, ada alamat sampai model pembayaran (card or cash). Belum selesai, untuk aktivasi kartu kita harus login via internet, memberikan data diri, alamat termasuk no contact Australia yang bisa dihubungi selain no kita. Tidakkah aneh, pertama kita butuh kartu otomatis kita belum punya no Australia, kedua kita butuh kartu kan untuk koneksi internet, tapi harus registrasi dulu yang perlu internet (telur ayam namanya). Yang harus dilakukan, mengharapkan wifi gratis untuk registrasi tersebut. Oiya, setelah aktif belum tentu setting data nya aktif, masuk harus setting manual (di Indonesia bahkan di UK, kita bisa download setting mobile data kita). Anda memang bisa datang ke gerai mobile provider untuk mempermudah, tapi tetap prosedurnya akan tetap sama.

6. Weather
Cuaca di Australia tergolong esktrim. Jika winter (sekitar Jun-Jul) bisa < 10 deg C, tapi summer (sekitar Dec-Jan) bisa > 40 deg C. Keringnya juga kerasa, panas tapi ada angin dingin. Kulit-kulit saya yang dari Indonesia ke Scotland baik-baik saja, begitu di Australia langsung pecah-pecah. Hiks..

7. Asia Foods
Ini mungkin salah satu kelebihan Australia selain ‘hanya’ 7 jam Jakarta-Melbourne, yaitu banyak bahan mentah asia di supermarket umum, makanan asia termasuk Indonesia, dan pastinya Indomie dengan harga ‘rasional’.

8. Gift Shopping
Jika ingin membeli kenang-kenangan model gantungan kunci, magnet atau kaos, market adalah tempat yang tepat. Anda memang normalnya tidak bisa menawar, tapi harganya dijamin murah dibanding di toko. Jangan lupa untuk muter-muter dulu, melihat secara umum pasaran harga nya di market tersebut. Setiap took atau penjual berbeda. Misalnya, di Victoria Market Melbourne, ada lebih dari 10 pedagang orang Indonesia, tapi ada beberapa yang harganya lebih mahal dari lainnya. Beberapa yang mahal ini harganya sama dengan para pedagang non-Indo. Enaknya kalau beli dari pedagang Indo, kita bisa celometan pakai bahasa Indo dan Jawa sesuka hati hehe.

9. Transport
Transportasi di Australia termasuk yang sudah maju, namun buat para pengunjung, sistemnya kadang membingungkan. Pastikan tahu sistem transportasi public yang akan digunakan. Jika baru pertama datang ke Australia (atau negara lainnya), sebaiknya tidak sore/malam karena bisa jadi kita akan kesulitan dengan sistem transport nya, misal harus punya transport card dulu di Melbourne dsb. Yang pasti, transportasi publik seperti negara maju lainnya jauh lebih dari Indonesia. Jadi bersyukur kita besar di Indonesia dengan segala keterbatasan sehingga insyaAllah lebih tahan banting.

10. Koala and Kangaroo
Katanya, belum berkunjung ke Australia kalau belum foto sama Koala dan Kangaroo. Cara yang paling mudah, pergi ke zoo. Jangan lupa untuk cek jadwal Koala meeting karena setiap zoo berbeda, dan Koala ini kalau siang suka tidur. Jangan bayangkan zoo seperti Ragunan atau Taman Safari yang luas. Zoo yang saya kunjungi di Adelaide sangat mudah dijangkau dengan jalan kaki, tapi dengan harga yang lebih mahal dari Taman Safari. Yah..demi foto bersama Koala dan Kangaroo, minimal sekali seumur hidup.


***
Terima kasih kepada LPDP atas dukungan dan sponsornya. 

Tuesday, January 31, 2012

Sejarah Lokal: Gedoran Depok

Buku ini bercerita tentang peristiwa revolusi kemerdekaan di Depok di era 1945-1949. Bukan revolusi dalam arti merebut atau mempertahankan kemerdekaan yang berhadapan dengan Belanda, namun merupakan sejarah ‘kelam’ dimana Depok yang zaman penjajahan adalah ‘daerah istimewa’ Belanda (yang mempunyai Presiden sendiri) akhirnya direbut oleh rakyat dengan sebuah peristiwa yang disebut Gedoran Depok.

Buku ini secara umum terbagi dalam tiga bagian utama, masa awal terbentuknya Depok (1696-1945), masa revolusi kemerdekaan RI (peristiwa Gedoran) dan pasca revolusi setelah perundingan Meja Bundar (1949-1955).

Seorang Belanda Cornelis Chastelein membeli tanah di daerah Srengseng tahun 1695 dan memperluas ke selatan (Depok) setahun kemudian untuk keperluan perkebunan. Untuk mengolah perkebunan, didatangkanlah buruh-buruh dari Sulawesi, Kalimantan, Timor dan Bali yang kemudian membentuk 12 marga ‘Belanda Depok’. Belanda Depok adalah orang Indonesia yang bekerja untuk Cornelis dan kemudian mendapatkan jatah harta warisan Cornelis.

Belanda Depok inilah yang mendapatkan hak istimewa selama masa Belanda dan Jepang, mulai dari Batavia hingga penduduk kampung di sekitar perkebunan. Wilayah Depok sendiri tidaklah seluas sekarang, kurang lebih hanya 1/6 luas sekarang dengan pusat pemerintahan presiden Depok ada di Jalan Pemuda.

Hingga akhirnya ketika Proklamasi, masyarakat kampong merebut semua harta melalui peristiwa Gedoran Depok dan menawan para Belanda Depok ke Bogor. Gedoran Depok sendiri digambarkan sangat mencekam dimulai pada malam hari, dimana para Belanda Depok harus bersembunyi dari patroli-patroli pejuang.

Selama agresi Belanda 1 dan 2, Depok menjadi front depan antara Batavia dan komado Siliwangi yang bermarkas di Bogor. Margonda dan Tole Iskandar, nama pejuang Depok yang gugur dalam misi mempertahankan kemerdekaan dan sekarang diabadikan menjadi dua jalan utama di Depok.

Selanjutnya setelah KMB, para Belanda Depok kembali ke Depok untuk membangun rumah mereka kembali. Namun peristiwa revolusi di pinggiran Jakarta belumlah selesai. Dimana tentara mengalami restrukturisasi, para pejuang ada yang bergabung dalam tentara resmi (gabungan antara PETA,KNIL, dan BKR) dan tidak sedikit yang (kembali) menjadi bandit atau perampok. Masa tahun 1950-1955, Depok menjadi daerah pertempuran antara milisi bandit dan tentara pemerintah.

Mencermati pergulatan itu sendiri, dimulaai saat para pejuang melihat kenyataan yang tidak memuaskan terhadap jalannya perundingan dengan Belanda dan kemudian berperang sendiri dengan tentara pemerintah yang seolah-oleh mewakili kekuasaan. Bahkan pasca KMB pun, perlawanan terhadap tentara pemerintah masih dilanjutkan dalam skala lebih kecil yang dilakukan oleh para bandit yang dulunya juga merupakan pejuang.

Selain merupakan catatan-catatan, sesuai judulnya beberapa kopi manuskrip asli perihal asal Depok juga disertakan dalam buku. Salah satunya adalah surat wasiat Cornelis dan pembagian ke 12 marga. Beberapa foto Depok tempo dulu juga menambah nuansa historis dari beberapa titik familiar di Depok. Wawancara dengan saksi hidup menjadi salah satu titik kuat dari buku ini.

Tapi menurut saya pribadi buku ini belumlah disebut sebagai buku utuh sebuah sejarah Depok. Hal tersebut karena secara sistematis buku ini tidaklah seperti buku sejarah dimana alur cerita dan sumber dirunut dengan rapi. Seperti disampaikan diatas, model sistematika buku ini mirip lebih seperti catatan sejarah dibandingkan buku sejarah.

Terlepas demikian, tekad dan usaha penulis untuk menyusun sebuah Buku sejarah lokal sangatlah harus diapresiasi, apalagi di tengah dunia modern dan populis saat ini. Walaupun belum sempurna, paling tidak buku ini mampu hadir di tengah masyarakat Depok menjawab keingintahuan atas sejarah daerahnya sendiri. Buku ini juga layak menjadi bahan bacaan generasi muda Depok.

Dan karena manfaat tersebut yang menutupi harga sedikit mahal dari buku ini jika hanya dipandang sebagai sebuah catatan sejarah lokal. Layak dikoleksi, terutama oleh warga Depok. Selamat membaca.

Saturday, May 15, 2010

PR untuk Depok

Oktober 2010 ini Depok akan menyelenggarakan pemilihan langsung (Pilkada) Walikota Depok periode 2010-2015. Sejak awal tahun sudah mulai marak spanduk dan baligho bakal calon walokita dari tokoh masyarakat yang dipasang di tempat strategis seluruh Depok.

Nurmahmudi Ismail sendiri tampaknya masih akan maju sebagai calon dengan pandamping yang berbeda, karena wakil walikota yang sekarang maju sendiri sebagai calon walikota. Nurmahmudi dalam 5 tahun kepemimpinan di Depok selain mampu menorehkan pretasi membanggakan, masih juga memberikan pekerjaan rumah yang cukup pelik untuk periode berikutnya. PR tersebut sebenarnya adalah persoalan klasik Depok sebagai salah satu kota pendukung Ibukota Jakarta.

Berikut adalah catatan pribadi atas 5 PR utama Kota Depok yang akan menjadi tantangan walikota mendatang.

Jalan Margonda
Saya pikir semua orang depok sepakat bahwa Jalan Margonda (JM) adalah jalan vital Depok namun sekaligus sumber masalah transportasi. Beban JM sudah sangat berat sehingga kewalahan. Alhasil kemacetan hampir dipastikan terjadi pada saat jam berangkat dan pulang kerja. Jika melihat sepanjang JM, maka akan banyak simpul masalah, misal nya mall dan pusat belanja, pertokoan, terminal depok dan transportasi umum (di bahas di bawah).

Masalah tersebut sebenarnya bisa di kurangi jika volume kendaraan tidak sebanyak sekarang dan masa mendatang. Namun perkembangan Depok ke depan dipastikan JM akan menerima beban kendaraan yang lebih banyak, sehingga potensi kemacetan akan semakin parah. Sekalipun Pemkot Depok tahun 2010 ini mempunyai program pelebaran JM (yang akibatnya pohon pinggir jalan menghilang!!!), namun kondisi nya tidaklah memperbaiki secara signifikan. Tumpukan kendaraan masih terjadi, karena jalan hasil pelebaran tetap digunakan untuk parkir akibat lahan parkir yang hilang.
Lalu solusi apa lagi? Menurut saya, tidak salah lagi model jalan layang adalah satu-satu nya cara membagi beban JM. Lihatlah jalan raya yang menghubungkan Kramat Jati-Cawang sampai ke Ancol (orang mengenal nya "jalan raya bypass") atau jalan layang Pasopati Bandung. Ada jalan toll di atas, dan ada jalan raya biasa di bawah nya. Model tersebut sangat cocok untuk JM apalagi pasca pelebaran jalan sehingga cukup untuk tiang pancang di tengah nya. Jalan layang bisa dimulai sebelum bundaran UI di Lenteng Agung sampai Grand Depok City (atau langsung nyambung ke rencana Tol Jorr II), dengan 2-3 section masuk/keluar. Kendaraan yang hanya membutuhkan lewat JM, cukup lewat atas tanpa harus menghadapi kendaraan umum atau lainnya yang terkait aktivitas bisnis di JM.

Konsekuensi dengan jalan layang tersebut, area bisnis pertokoan sepanjang JM sedikit banyak akan terpengaruh. Hal yang mirip terjadi di pertokoan di bawah flyover Jl Arif Rahman Hakim yang melintasi rel station Depok Baru, dimana toko-toko yang dulu nya ramai sudah sulit bernapas lagi, bahkan sebagian besar tutup atau pindah menjadi tempat penitipan sepeda motor yang lebih menjanjikan. Akibat tersebut yang harus dihadapai pemkot kepada pengelola pertokoan sepanjang JM. Untuk jangka pendek memang berat, namun untuk visi transportasi jangka panjang, pembuatan jalan layang tersebut sangat baik untuk dilakukan.

Terminal Depok
Mestinya terminal Depok ini dipindahkan keluar pusat kota dan JM. Konon lokasi baru nya akan di Jatijajar, jauh dari pusat kota. Sama hal nya dengan beban JM yang melebihi ambang, terminal depok pun demikian. Akibatnya terminal menjadi salah satu penyebab kemacetan di bagian JM. Pun di dalam terminal yang tidak teratur sehingga membuat penumpang tidak nyaman. Alhasil, penumpang lebih memilih naik di bagian luar terminal sehingga kemacetan di depan terminal tidak pernah terselesaikan.

Dengan terminal utama yang pindah keluar pusat kota depok, maka area terminal lama bisa diperbaiki kemudian menjadi sarana publik seperti hal nya alun-alun yang setiap kota pasti mempunyai nya (kecuali Depok!). Saat ini warga depok yang ingin jalan-jalan bersama keluarga nya ke taman kota tidak mempunyai pilihan kecuali ke area kampus UI (yang sebenarnya bukan taman area umum). Hasilnya bisa dijamin, akan ada hutan dan paru-paru kota yang nyaman di tengah pusat Depok.

Sarana Transportasi Umum
Sebenarnya ini adalah masalah dasar Indonesia, seperti hal nya Jakarta juga pelik transportasi umum nya. Khusus untuk Depok, saya melihat angkutan kota (angkot) sangat banyak jumlah nya dan masalah angkot itu juga terjadi di hampir semua kota besar di Jawa Barat (Bandung, Bogor, etc).

Harus dilakukan upaya pengoptimalan moda angkutan kota ini. Dalam bahasa lain mengurangi jumlah angkot yang beredar sesuai actual demand, dimana saat ini jumlahnya snagat banyak baik yang beredar atau yang berhenti di terminal (legal atau ilegal). Hal ini memang tidak mudah, mengingat pengemudi nya merupakan sumber pekerjaan. Setidaknya dimulai dari ditertibkan nya angkot yang sudah tidak layak, dan izin perpanjangan trayek diperketat. Hal yang sama dilakukan oleh Palembang atau Jogjakarta dalam mengatasi masalah bus kota nya, untuk mengubahnya menjadi moda bus trans-kota.

Di transportasi lain, Kereta Rel Listrik (KRL) mungkin adalah alasan paling utama banyak orang memilih tinggal di Depok. Namun akhir-akhir ini, KRL ini pun sudah kewalahan menghadapi ledakan penumpang di kelas ekspress apalagi ekonomi nya. Salah satu solusi yang terdengar ingin dilakukan Pemkot Depok adalah pemkot membeli KRL khusus yang melayani rute Depok-Jakarta. Terlepas peruntukan KRL tersebut khusus untuk warga Depok atau umum, solusi ini sama hal nya model kerjasama yang dilakukan beberapa Pemda di Papua dengan Maskapai Merpati. Tidak lain dan bukan sebagai sarana memudahkan akses warga ke tempat lain, sehingga menjadi daya tarik yang bisa mengundang tamu atau investor ke kota tersebut.

Selain itu, hal yang sangat strategis untuk segera dipunyai Depok adalah angkutan Bandara. Semua kota sekitar Jakarta sudah mempunyai moda angkutan Bandara, dan Depok satu-satunya yang tidak ada. Moda ini sangat strategis bukan hanya membantu mobilitas warga Depok, sekaligus juga memudahkan akses ke Depok bagi tamu atau pengunjung mengingat Depok menjadi kota pelajar di satelit Jakarta. Jika perusahaan Damri menilai moda ini kurang menguntungkan, maka bisa dibuat skema kerjasama dengan Pemkot Depok seperti hal nya kerjasama KRL diatas.

Jalan Raya
Jalan raya adalah sarana utama yang mendukung ekonomi daerah. Depok adalah daerah pinggiran Jakarta yang bertransformasi menjadi kota. Dengan kebutuhan mobilitas, banyak akses jalan raya di Depok yang tidak memenuhi kualifikasi jalan utama, termasuk juga jalan-jalan ke kawasan pinggiran Depok yang kurang memadai. Bisa jadi karena pembangunan yang kurang baik atau pemakaian yang melebihi ambang. Dari Pemkot sekarang, sudah ada perbaikan dalam infrastruktur jalan rusak ini terutama di jalan-jalan utama.

Selain perbaikan jalan, perlu adanya terobosan dari Pemkot untuk pembuatan jalan-jalan baru sebagai jalan lintas baru untuk penghubung antar jalan utama. Jalan sepanjang rel KRL dari pasar lama ke Stasiun Depok Baru adalah salah satu contoh yang sayang nya proyek 2 tahun tersebut belum bisa berfungsi. Perlu juga dipikirkan untuk mengurangi beban Margonda, maka alternative jalan Tanah Baru atau Kukusan untuk menjadi jalan lintas baru. Plus dengan rencana JORR II, Pemkot harus menjadi sponsor utama dalam penyelesaian nya.

Pusat Keramaian Kota
Pusat keramain Depok saat ini masih terfokus di Jalan Margonda. Keinginan pemkot untuk membuat pusat-pusa keramaian baru belum sepenuhnya berhasil. Target keramaian baru tersebut adalah Cinere dan Limo, serta Jatijajar nanti setelah terminal baru. Penyebaran pusat keramaian tersebut harus dilakukan dengan dua langkah pararel, yakni membuka kesempatan ruang-ruang di pusat keramaian baru dan membatasi tambahan keramaian di Margonda.

Kesempatan tersebut misalnya perizinan yang lebih mudah, insentif pajak dan fasilitas umum (termasuk jalan) yang harus di perbaiki. Termasuk juga relokasi beberapa kantor dinas pemkot yang awalnya di sekitar Margonda ke daerah keramaian baru tersebut, sekaligus peningkatan kualitas kantor nya. Misal nya Dinas Kesehatan yang kantor nya di ruko depan terminal serta Dinas Imigrasi yang berkantor di gang depan pertigaan Margonda dan Tole Iskandar.

Sedangkan pembatasan di margonda, dilakukan dengan penertiban terhadap bangunan yang tidak sesuai izinnya, pengetatan izin dan restribusi yang dinaikan. Sebenarnya, Rencana pengembangan kota yang disusun Pemkot sendiri sudah mengarah ke langkah penciptaan pusat keramaian baru. Namun, jika rencana penyebaran tanpa dua hal pararel diatas maka tidak bisa terealisasi dengan sendiri nya karena magnet bisnis utama Depok masih ada di margonda.
**
Kelima hal diatas adalah 5 hal utama yang menjadi tugas berat bagi walikota yang baru, dan masih mungkin belum sepenuhnya terpecahkan setelah masa akhir jabatan 2015 nanti. Semoga walikota terpilih nanti bisa menjadikan Depok lebih baik lagi. Untuk Depok yang sedang membangun jati dirinya.

Sunday, September 13, 2009

Susahnya Taksi di Palembang

Susahnya mencari taksi di Palembang, maksudnya tentu taksi standar dengan argometer sebagai pedoman ongkos taksi. Hampir 99% taksi di Palembang ber-argo kuda, artinya semua tidak ada standar alias borongan. Ada standar, tapi standar menurut para supir taksi Palembang. Jarak tidak selalu menjadi patokan, tapi tujuan yang lebih menjadi acuan.

Contohnya adalah taksi dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB). Taksi dari SMB ke dalam kota Palembang, maka tarif sekarang 60 ribu. Sedangkan agak pinggir kota (seperti Pusri) bisa 75ribu, Plaju bisa jadi 100 ribu. Ada juga taksi yang membuka agen di dalam gedung SMB dengan tulisan terpampang Taksi Argo (maksudnya menggunaka argo, bukan borongan), namun saya pribadi sangsi mengingat hampir pasti semua taksi Palembang adalah borongan (argo namun tetap diminta "negoisasi"dengan sopirnya).

Tentu sangat berbeda jauh dengan Taksi di Jakarta (maaf, bukan melebihkan hanya sebagai perbandingan). Rasanya tidak ada satu perusahaan taksi di Jakarta yang menganut borongan. Kalaupun ada, itu pelayanan taksi khusus carteran, bukan yang umum di jalan. Jika keluar SMB yang akan dikerumuni oleh para sopir taksi serta ojek, berbeda saat keluar Soekarno-Hatta kita tinggal memilih taksi argo mana yang akan digunakan (ada tawaran namun batas wajar).

Menggunakan taksi dari hotel biasanya standar pelayanan yang sangat di utamakan, bahkan hotel bintang melayani antar-jemput bandara/stasiun untuk para tamu nya (free charge). Sedangkan di Palembang, pelayanan jemput hotel rata-rata saat dari SMB dan sulit untuk antar dari hotel ke SMB. Dari Novotel misalnya, pihak pengelola hotel seperti sudah mem-formal-kan taksi borongan (mobil) untuk tujuan bandara atau point lain sebesar 75 ribu.

Pemesanan taksi pun tidak menjamin mendapatkan taksi argo, bahkan secara terang-terangan call center taksi tersebut menyatakan bahwa tarif tergantung negoisasi dengan sopirnya. Bertemu dengan taksi di jalan pun sudah pasti akan terkena tarif borongan. Tentu saja untuk sebagian orang, lebih baik dengan argo yang transparan daripada borongan. Sekalipun menurut sebagian orang taksi argo bakal menjebak bagi orang yang belum tahu rute (diajak muter-muter), namun pada dasarnya transparansi itu lebih utama. Apalagi didukung dengan kepercayaan yang sebenarnya sangat mutlak dalam industri jasa seperti taksi ini.

Kondisi di Palembang tersebut mungkin sama persis dengan yang di Bandung 3 tahun lalu, dimana semua taksi adalah borongan. Sampai akhirnya muncul Blue Bird yang awalnya ditentang, namun akhirnya beroperasi dengan baik hingga hari ini (dibatasi jumlahnya). Taksi Putra juga sudah 2 tahun lalu. Bahkan taksi lokal Bandung Gemah Ripah sudah hampir selalu argo, lokal yang lain pun satu persatu ikut nyusul juga. Sedangkan yang tetap non-argo, sudah pasti lambat laun akan ditinggalkan karena tidak transparan dan moda yang relatif kurang nyaman dibandingkan taksi argo nya. Hotel sebagai bagian dari pariwisata kota pun ikut berdampak positif dengan pelayanan taksi yang lebih baik di Bandung.

Kembali ke Palembang, tampaknya memang dibutuhkan pionir perusahaan taksi argo seperti halnya Bandung. Saya kurang paham dengan sosial budaya, namun sedikit tahu jika karakter masyarakat Palembang relatif lebih keras dibandingkan Bandung. Artinya jika di Bandung ada pertentangan taksi argo, tidak dipungkiri di Palembang akan terjadi juga.

Namun semuanya bisa ditengahi oleh pemerintah, didukung oleh sektor pariwisata kota. Sangat disayangkan jika Visit Musi Palembang yang terpampang dimana-mana tidak bisa di dukung dengan pelayanan ramah bagi para pendatang di Palembang, dimulai dari Bandara SMB sebagai salah satu gerbang utama Palembang.

Pemerintah kota Palembang hendaknya belajar pada kota Manado, yang meski termasuk kota kecil dan jauh dari pusat pulau jawa, pelayanan taksinya cukup memuaskan. Untuk membenahi masalah pelayanan taksi ini dalam rangka mendukung Visit Musi Palembang memang butuh waktu dan akan timbul gesekan sosial khususnya di kalangan sopir taksi Palembang saat ini. Namun jika tidak dimulainya sebuah perbaikan, rasanya tekad Visit Musi Palembang hanya menjadi jargon semata dan semakin berat, apalagi visi menjadi pusat ekonomi Sumatera Bagian Selatan.

Friday, November 28, 2008

Manado, Denyut Indonesia Utara

Dari Sabang sampai Merauke,
Dari Timor sampai ke Talaud..

Selama seminggu saya berkesempatan mengunjungi Manado, pusat kota di Sulawesi bagian selatan. Pesawat Garuda berangkat pagi jam 7 dari Cengkareng, transit di Makasar dan sampai di Bandara Sam Ratulangi sekitar jam 13 (terbang efektif 3,2 jam dari Jakarta). Langsung kami (saya bersama teman-teman kantor) meluncur ke Hotel Santika, di Tongkaina, Kecamatan Bunaken.

Namun acara menginap di Santika tidak berlangsung lama sesuai rencana karena jauhnya lokasi hotel dari kota (Santika sangat cocok yang khusus menuju ke taman laut Bunaken karena hanya 10 menit). Maka esok harinya kami berganti ke Sintesa Peninsula, hotel yang baru beroperasi 1 oktober lalu.

Ini pengalaman pertama saya ke Manado. Tampaknya Manado adalah pusat kota yang unik, karena berada persis di tepi teluk Manado. Sangat dekat sekali dengan garis laut. Memandang dari jendela hotel, maka langsung mata menuju ke paduan kota dan laut. Eksotis.

Kawasan yang sangat terkenal di Manado adalah Boulevard. Kawasan ini berada sepanjang garis laut teluk Manado sekitar 5 km. Disini akana banyak ditemukan pusat bisnis, kuliner, hiburan hingga perbelanjaan modern. Kawasan ini sebagian merupakan hasil reklamasi pantai yang di lakukan pemerintah dimana pembangunan fasilitas masih terus berjalan. Sesuai dengan slogannya visi kawasan ini adalah area B&B, Bussiness and Boulevard.

Tidak terlewatkan untuk mencicipi makanan Manado. Sesuai dengan lingkungan laut, seafood menjadi makanan pilihan setiap malam sesuai variannya. Salah satu tempat makan yang nyaman, enak dan terjangkau adalah Raja Sate, dekat dengan MegaMall.

Ada juga resto yang terkenal di Boulevard yaitu Wisata Bahari, sekitar 3 km dari Mega Mall. Dibanding Raja Sate, harga di Wisata Bahari lebih mahal karena suasana makan di ’atas laut’ yang ditawarkannya dan live music nya. Kita akan mendengar debur ombak, dan bebas kita memandang laut malam.

Terusan Boulevard sekitar 7 km dari MegaMall, terdapat kawasan khusus pusat makanan laut yang dinamakan Kalesey. Banyak restoran berjejer di pinggir jalan yang langsung menghadap laut. Dari sini, kerlip Boulevard dan Manado lebih terlihat. Selain restoran, juga ada warung-warung pinggir jalan di Kalesey ini.

Untuk harga yang lebih terjangkau, ada Tikala di dalam kota (sekitar 1 km dari Bouleverd) tempat food area dengan dilengkapi free-wifi. Bermacam-macam penjual makanan ada disini. Bubur khas Manado yang terkenal juga bisa dinikmati di Warung Wakeke di Tikala ini. Jika Resto Wisata Bahari atau Kalesey banyak pejabat, bule atau keluarga disana, maka di Tikala akan banyak anak-anak muda yang nongkrong dengan laptopnya.

Makanan terjangkau ada Tikala, maka hotel yang terjangkau dan banyak direkomendasikan Indobackpacker adalah Unique Inn, lokasinya tidak jauh dari Boulevard. Hotel ini memang unik karena berada di atas jembatan penyeberangan jalan menuju ke Pelabuhan Manado. Di pelabuhan Manado (orang biasanya menyebut Hotel Celebes), akan banyak kapal untuk ke Bunaken atau daerah-daerah lain seperti Pulau Sangir, Bunaken atau Talaud.

Dan pengembaraan berikutnya adalah Bunaken. Dari dermaga Hotel Celebes, perjalananan membutuhkan 1 jam dalam cuaca baik. Namun kami tetap saja mual-mual dalam perjalanan pagi karena melawan angin laut dan efek tabrakan aliran air laut di teluk Manado. Konon jika gunung di Pulau Manado Tua (pulau di sebelah pulau Bunaken) tertutup awan gelap, maka ombak menuju ke Bunaken bisa mencapai 2 m.

Sampai di taman laut Bunaken, perkiraan saya bahwa taman laut berada di tengah laut salah. Taman laut ini berada sekitar 1-2 km dari garis pantai Pulau Bunaken. Tips dalam perjalanan ke Bunaken, jangan mendadak berhenti setelah melawan ombak. Karena isi perut akan menyesuaikan ombak jalan dengan ombak saat kapal diam yang akhirnya bisa membuat muntah (untungnya saya hanya mual).

Taman laut Bunaken mengesankan, luar biasa. Sekalipun saya tidak diving atau snorkling, dari dek kapal sudah terlihat bahwa taman laut Bunaken memang indah. Bersih dan nyata habitatnya. Pantas saja Bunaken termasuk dalam cagar alam dunia. Namun sayangnya, di kawasan pantai wisata Pulau Bunaken sendiri masih belum terawat dan terorganisir sehingga mengesankan sedikit kumuh. Kondisi ’standar’ yang masih terjadi umumnya di kawasan wisata Indonesia.

Selain Pulau Bunaken, ada beberapa pulau tempat wisata yang lain diantaranya Siladen dan Lembeh. Jika punya cukup waktu (dan dana pastinya), agendakan untuk pulau-pulau tersebut sekaligus program diving. Dengan mengunjungi Manado ini, saya semakin sadar bahwa negeri kita adalah negeri yang besar dan bersatu dalam kemajemukan.

Sulawesi Utara sendiri merupakan ’tapal batas’ Indonesia di bagian utara, berbatasan laut dengan Filipina. Jika kita hafal lagu diatas, maka Talaud merupakan kepulauan di bagian utara Sulut dimana membutuhkan 24 jam perjalanan kapal penumpang dari dermaga Manado. Semakin tidak terbayang alangkah jauh dan luasnya Indonesia ini. Sayang sekali jika penduduk Indonesia sendiri tidak pernah saling mengunjungi di buminya yang luas nan indah.

***
Manado yang ingin menjadi kota wisata laut dunia 2010 sedang berusaha keras berbenak untuk menyambut World Ocean Conference (WOC) 2009. Giatnya pembangunan tidak akan lepas dari lingkaran-lingkaran di sekelilingnya. Jika anda berjalan menyusuri Boulevard lebih dari Jam 9 WITA, maka di titik tertentu akan ditemui ’kembang malam’. Sehingga tidak heran ada plesetan B&B menjadi Beach and Bitch.

Akhirnya saya ingat pernah dapat cerita, bahwa mengunjungi Manado ’haruslah’ mencoba 4B, yaitu pertama datang ke Boulevard, makan Bubur khasnya, jangan melewatkan berkunjung Bunaken, dan terakhir rasakan Bibir manado. Maka saya sudah mencoba sempurna 3B nya. 1B yang terakhir, pasti saya tak mau mencoba. Saya segera ingat untuk pulang ke rumah esok hari.

*sharing: Manado Album

Wednesday, November 26, 2008

Selamat Pagi Manado

Matahari menyusup keluar balik gunung.














Kota di pinggir laut, tersapu hembusan angin laut pagi.













Manado, 5.34 WITA


Saturday, November 22, 2008

Menjadi Warga Depok

Awalnya proses pencarian tempat tinggal dilakukan dengan memilah beberapa lokasi di sekitar Jakarta yang potensial dijadikan hunian. Karena aktivitas kerja di Jakarta, maka prioritas utama adalah wilayah di dalam kota Jakarta sendiri.

Karena ’harga tidak wajar’ untuk ukuran ’layak’ hunian di dalam kota, kemudian beralih di Jakarta pinggiran. Jujur sebenarnya surveinya sendiri tidak dilakukan dengan optimal karena padatnya waktu yang tersisa saat di Jakarta (dibandingkan di Palembang). Serta tentunya keinginan kuat untuk memproses sebuah rumah secepatnya (tahun ini).

Dan akhirnya, pilihan pun jatuh ke Depok. Kenapa depok? Inilah beberapa alasannya menurut saya.
1. Harga rumah yang ’relatif terjangkau’ dimana tetap bisa mendapatkan hunian’cukup layak’. Memang dari biaya hidup umumnya tidak jauh berbeda dengan Jakarta, namun indeks harga pasti lebih rendah dibanding Jakarta.

2. Sarana transportasi yang tidak hanya mengandalkan jalan raya, tapi juga kereta api (KRL) yang scheduled, banyak waktu dan varian. Jika bosan motor/mobil/bus, bisa sesekali naik KRL. Untuk jalan raya sendiri, konon nantinya akan dibangun jalan tol dari Simatupang sambung ke Depok. Menuju Jakarta pun bisa menggunakan jalur alternatif non Margonda (Beji-Kukusan).

Pun alasan pribadi, dengan jadwal kerja selama ini 2 minggu di Palembang, 1 minggu kantor Jakarta dan 1 minggu off, maka praktis dalam sebulan saya hanya ’terjebak transportasi’ Depok-Jakarta selama 5 hari kerja (kadang malah cuma1 hari ke kantornya). Dengan kondisi ini tentu sangat tidak ekonomis jika meneruskan tinggal kos sekalipun di belakang kantor.

3. Universitas Indonesia. Ya..karena UI jadi salah satu pertimbangan. Saya bukan UI (dan dari dulu tidak punya cita-cita masuk UI!), tapi lingkungan kampus (UI dan beberapa kampus lainnya) memang membuat suasana kota menjadi lebih energik dan dinamis. Secara track record akademik pun, lulusan SMU Depok masuk ke kampus unggulan. Indeks pembangunan SDM Depok selama 2006-2007 tertinggi di Jawa Barat. Jadi lingkungan akademik cukup terkondisikan, pastinya untuk masa depan anak-anak nantinya.

4. Lingkungan kota yang relatif nyaman menurut saya dan teman yang lainnya dibandingkan ’kota satelit’ Jakarta lainnya. Depok itu kecil dan terpusat (coba bandingkan dengan Bekasi dan Tangerang), masih ada pedesaannya dan cukup kental nuansa Islamnya. Tentu ini terkait dengan pengaruh lingkungan sosial terhadap kehidupan keluarga (anak) nantinya.

5. Alasan lainnya. Untuk yang terakhir ini, anda pun bisa membuat alasan kelima versi masing-masing.

***
Akhirnya tepat 2 tahun sejak mentas dari kampus, saya membeli sebuah rumah. Sebuah rumah milik sendiri. Tentu tidak menggunakan uang sendiri, Alhamdulillah..ada kesempatan yang bisa dimanfaatkan di kantor.

Rumahnya relatif ’tidak besar’, simpel dan siap huni (dengan sedikit perapihan). Tentu pertimbangan lokasi strategis menjadi dasar memilih lokasi hunian. Termasuk di lingkungan Kota Depok, tidak jauh dari terminal ataupun stasiun Depok Baru. Dekat SMP, SMU dan pastinya UI. Pasar tradisional hingga pasar modern, RS, dan bank juga mudah di akses.

Saat akad di depan notaris dan akhirnya transaksi di Bank, perasaan saya deg-deg an. Saya belum pernah transaksi sebesar ini, dan yang lebih lagi karena itu sebuah rumah. Cukup mendebarkan saat dijelaskan hak dan kewajiban sebagai pembeli dan pemilik rumah. Saya belum pernah merasakan yang seperti ini, mudah-mudahan perasaan yang baik sehingga timbul tanggung jawab untuk merawat dan mengelola rumah, tidak hanya sekedar tempat pulang.

Terima kasih atas dukungan dan do’a teman-teman semua. Suatu waktu silahkan berkunjung dan sampaikan via pesan pribadi saja. Sekarang kondisinya masih kosong karena harus dirapihkan dulu sebelum pengisian rumah (plus mengatur budget, maklum rumah pertama hehe).

Terakhir, saya ingin berbagi diantara sudut dalam rumah yang paling saya sukai berikut. Hmm, tidak harus pintar memasak. Tapi setidaknya ’dia’ mau belajar memasak buat saya, buat kami.. :)

Thursday, April 24, 2008

Taksi di Jakarta

Pengalaman menggunakan beberapa taksi di jakarta membuat kita bisa menjadikannya referensi dalam pemilihan taksi. Inilah beberapa catatan pengalaman mengenai taksi-taksi tersebut.


Blue Bird

Tidak dipungkiri lagi, inilah taksi paling baik yang dimiliki negeri ini. Taksi Bluebird Group (Blue Bird, Silver Bird, Golden Bird) adalah taksi yang paling baik dan terpercaya dalam melayani. Citra positif terpercaya ini menempatkan blue bird menjadi pemimpin dalam jasa taksi. Makanya, jangan ragu untuk menggunakan taksi ini terutama jika kita tidak tahu betul dimana alamat tujuan kita. Karena kecil kemungkinan kita ‘diajak’ muter-muter lalu argo yang tidak wajar.


Seiring dengan baiknya pelayanan, urusan harga pun terseret juga. Blue Bird (BB) adalah taksi yang paling mahal. Dalih menggunakan tarif baru (argo buka Rp 5000, dan Rp 250 per satuan), kita pun harus menyiapkan uang cukup jika berpikir menggunakannya. Tapi untuk argo, bisa dipastikan bahwa argo nya tidak dimainkan sopirnya. Selain itu, BB pun menyediakan voucher (personal atau korporat) untuk mendukung layanan ter yahud nya itu. Call centre, 021-798 1001 / 794 1234


Express

Taksi yang paling dicari oleh orang yang tahu jakarta dan berprinsip, kalau bisa irit taksi kenapa tidak? Alasannya, karena menggunakan mobil taksi yang bagus, jumlahnya lumayan banyak (kedua terbanyak setelah Bluebird) dan pastinya karena tarif lama (argo buka Rp 4000, dan Rp 180 per satuan). Untuk tingkat kepercayaan, tentu masih kalah dibanding BB. Namun dibanding taksi non BB, setidaknya Express (Ex) masih bagus.


Jika anda dari bandara soekarno hatta, sangat lumayan bila menggunakan Taksi Express ini. Tentunya lebih terpercaya dibandingkan taksi lain non-BB disana (hati-hati, banyak yang menggunakan sistem borongan). Jadinya, tempat parkir taksi Ex sering antri penumpang untuk menunggu taksi Ex datang. Cengkareng-pancoran saja (termasuk tol), yang jika menggunakan BB minimal 100 ribu, maka jika menggunakan Ex ‘hanya’ 80 ribu. Call centre, 021-5799 0707


Putra

Taksi ini jumlahnya juga cukup banyak, mungkin ketiga atau keempat (setelah dian group). Taksi ini juga menggunakan tarif lama. Mobilnya tidak sebagus Express, tapi interiornya bersih dan kadang lebih bersih dibandingkan Express. Kaca mobil Express yang transparan (20%) sedangkan Putra lumayan tertutup (60%), sehingga Putra lebih lumayan untuk privasi.


Dan secara personal, saya lebih suka menggunakan Taksi Putra (Put) dibandingkan taksi Express. Buat saya, tampilan mobilnya serasa lebih bersahaja. Namun sayangnya, taksi ini tidak akan kita temukan di parkir arrival bandara soekarno hatta. Jika untuk mengantar saja, pilihannya selalu jatuh ke Put selain BB. Call centre, 021-781 7771


TransCab

Inilah taksi baru yang cukup meramaikan bisnis taksi di jakarta. Layanan yang disajikan tidak monoton seperti taksi lain. Dia menyajikan tv dalam mobil (sekalipun beberapanya sudah tidak bisa lagi), dan bacaan koran. Lumayan membunuh kejenuhan jika macet. Mobilnya sama yang digunakan taksi putra, tapi interior tempat duduk lebih bagus. Yang menjadikan unggul, TransCab (Cab) menggunakan tarif lama. Tentu ini kelebihan yang patut dicoba.


Tapi sayangnya, jangankan ada di arrival bandara, berharap ada banyak di jalanan jakarta pun pupus. Maklum, jumlahnya sampai sekarang masih 60 moda. Sekali-kali, cobalah hubungi call center nya (021-583 55500) untuk mencoba taksi ini. Semoga anda beruntung, bisa dapat taksi dan semua fasilitasnya juga ok. Buat saya, warna mencolok (kuning dan tulisan besar di body mobil) menjadi pilihan kedua setelah Putra.


***

Lalu, taksi apa lagi yang ‘bisa’ digunakan? Tentu ini bergantung dari preferensi dan kebutuhan masing-masing. Jika di pinggir jalan dan tidak terlalu mendesak, maka kita pun bisa lebih pilih-pilih taksi yang lewat. Secara biaya, kita cenderung menggunakan taksi tarif lama dibanding tarif baru. Maka pilihan saya, Putra atau Express (TransCab sangat minim). Jika lewat call centre, saya cenderung pilih Putra atau TransCab, baru Express.


Jika di jalan sulit mendapatkan ketiganya, maka saya cenderung memilih Dian Taksi atau Celebrity. Walaupun pernah ketika di bandara, saya ditawari sistem borongan dan langsung mentah-mentah menolaknya. Pilihan lainnya jika benar-benar tidak menemukan taksi-taksi tersebut, maka saya pun naik taksi tarif lama yang ada (Sri Medali, Koperasi Taksi dll). Pastinya terlebih dulu ditanyakan tahu arah tujuan alamat kita. Jangan sampai sudah naik, argo jalan tapi kita tak ujung mencapai tujuan.


Bagaimana jika mendesak? Maka BlueBird lah yang menjadi pilihan. Setiap detik bisa ditemukan di jalan. Dan kepercayaan yang pasti (bisa dipastikan). Buat manula, ibu hamil, keluarga besar yang tidak mau repot, atau yang tidak tahu jakarta tentu BB jadi pilihan terbaik. Kalau sudah begini, urusan tarif baru tak jadi soal.


Mengenai tarif, secara umum patokan antara tarif lama dan baru itu setidaknya selisih sekitar 25%. Dan jika tarif lama kurangnya jauh dari itu, anda pun patut curiga terhadap argonya. Taksi tarif baru non-BB seperti Gamya, Taxiku, Primajasa bisa menjadi pilihan juga. Tapi buat saya untuk taksi tarif baru, kalau ada BlueBird, kenapa yang lain?


Selamat memilih taksi.

Tuesday, March 20, 2007

sepanjang bandung

long weekend kemarin, adalah waktu menjalin keeratan kembali dengan 'second wife'. jika biasanya rute cikampek-bandung melalui purwakarta, saatnya untuk melihat sisi dunia yang lainnya. maka cikampek-subang-bandung adalah jejak langkah yang dihasilkan.


kesan pertama, jalan menuju subang atau antara subang-bandung bukanlah jalan yang lebar (tipe II) seperti halnya jalan dari purwakarta-bandung (non-tol). jalan jalur subang relatif sempit, mungkin karena jarang dilalui truk-truk berat, sekalipun bus besar banyak juga yang ber-rute subang (subang-jakarta/bogor dll). akibatnya, kecepatan motor tak bisa dioptimalkan, mungkin rata-rata 60 Km/jam, berbeda dengan jalur purwakarta yang kecepatan motor bisa digeber rata-rata 70 Km/jam.

secara jarak tempuh, jalur subang ke bandung sekitar 100 km, melalui lembang. bandingkan dengan jalur purwakarta yang 'hanya' sekitar 90 km. beda 10 km kurang lebih, namun karena track (kondisi jalan, gradien jalan/pegunungan dsb), jalur subang harus ditempuh 2 jam. sedangkan purwakarta, sekitar 1,5 jam pun cukup.

namun, view jalur subang jauh lebih indah dibandingkan jalur purwakarta. inilah mungkin yang menjadikan 'touring' ini worthed. di bawah adalah beberapa jepretan 'non-profesional', anggap saja sebagai oleh-oleh perjalanan.

salah satu sudut kota subang yang cukup asri.


jalan kota subang yang paling berkesan (sampai dibelain muter lagi untuk ambil gambar ini)

pemandangan di sekitar ciater, sebelum tangkuban perahu.

sayangnya, hanya jepretan itu yang dibawa. banyak sekali yang menakjubkan, namun tak sempat diabadikan. kasihan second wife, kalau harus berhenti, jalan menanjak, berhenti lagi dst. mungkin lain kali beberapa spot yang sudah ditandai akan dijepret pula.

pagi ini, berangkat dari bandung, ingin merasakan berkendara dari bandung pagi-pagi. inilah kira-kira sudut kecil bandung di pagi hari.

jalan dago (juanda) yang terkenal itu, masih gelap sekitar pukul 05.10 (what an 'unwell' pic!).

dari atas jalan layang surapati (menyempatkan sejenak berhenti), sekitar pukul 05.15. masih relatif gelap juga bandung kota.

yang ini, tiang pancang surapati (hasil cipta karya anak negeri?). dan tampaknya, ada seseorang yang sedang bersiap menyambut mentari pagi bandung.

pagi tadi, 'touring' beralih menggunakan jalur purwakarta saja, lebih 'safe' dan more-experienced. sayangnya (lagi), view jalur ini tak sempat dijepret. cipularang dari atas juga ada sebenarnya. namun, perjalanan pagi ini sedikit was-was dengan sedikit macetnya jalan di purwakarta, apalagi setelah long weekend. belum lagi hujan saat baru tiba di cikampek. dan akhirnya, masuk ke kantor hari ini pun sedikit terlambat.

anyway, setiap perjalanan selalu memberi kesan.