Showing posts with label Liput. Show all posts
Showing posts with label Liput. Show all posts

Sunday, April 11, 2021

Naik Puncak Lawu di Maret 2021

Mendaki Gunung Lawu sudah direncanakan sejak zaman SMU, namun tidak pernah kejadian hingga Maret 2021 kemarin. Padahal secara geografis, tinggal di Kabupaten Magetan dan bahkan sekolah di SMU 1 Magetan yang sepelemparan lereng Gunung Lawu. Dan kemudian rencana dan tekad yang lebih kuat dibuat untuk merasakan puncak Gunung Lawu, terutama karena ada salah satu karyawan MAFI yang hobi nya naik gunung, plus 1 orang teman nya. Cocoklah.. naik gunung jadi lumayan terbantu :). 

Berangkat hari Rabu sekitar Jam 11 dari daerah dataran rendah sekitar PG Poerwodadi, perlu waktu sekitar 1 jam 15 menit untuk sampai di Cemoro Sewu, pintu gerbang menuju kawasan puncak Gunung Lawu. Sewu adalah gerbang menuju puncak yang masuk wilayah Magetan. Ada beberarapa gerbang lain diantara nya Cemoro Kandang (sekitar 500 meter dari Cemoro Sewu) dan Candi Cetho yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Dari Cemoro Sewu biaya tiket 20 ribu per orang dan parkir mobil 40 ribu (motor 10 ribu) per 24 jam. 


Sampai di Basecamp Cemoro Sewu, kami makan siang dan sholat. Sekitar jam 13.50 kami start perjalanan pendakian. 


Total ada 5 pos pendakian Lawu dari Cemoro Sewu. Khusus sebelum Pos 1 ada 2 Pos Bayangan. Begini kira2 dokumentasi setiap pos hingga ke camp area yang kami putuskan di Sandang Drajar setelah Pos 5.

Pos 1 Jam 14.50, istirahat sekitar 10 menit. Sinyal Telkomsel terakhir disini hehe


Pos 2 Jam 15.53,  istirahat sekitar 7 menit



Pos 3 Jam 16.47,  istirahat sekitar 13 menit


Pos 4 Jam 17.48,  istirahat sekitar 2 menit. Lumayan udah mulai gelap, mulai pasang headlamp untuk membantu pendakian.


Pos 5 Jam 18.27,  istirahat sekitar 13 menit. Gelap dan dingin, mulai pakai jaket hehe.


Sandang Drajat Jam 19.00, start mendirikan tenda masak mie, sholat dan istirahat. Oiya alasan camp di Drajat karena gampang banyak sumber air (Sandang = Sendang, artinya sumber air) dan ada warung buka jika membutuhkan sesuatu. Keputusan yang tepat karena kompor gas sempat macet dan perlu pinjam alat untuk membetulkannya.  


Bangun Jam 02.30, minum anget2 terus tidur lagi hehe. Agak ga bisa tidur nyenyak, mungkin terlalu cape dan exciting jadi satu.  

Bangun shubuh jam 04.30. Lalu jam 5 pagi start naik ke Puncak Hargo Dumilah, hanya perlu waktu sekitar 15 menit dari Sandang Drajat. Dengan kondisi hanya bawa barang berharga, semua barang ditinggal dalam tenda di Sandang Drajat.

Here we go.. Summit Puncak Lawu 3265 Mdpl, Hargo Dumilah! Salah satu puncak tertinggi di Pulau Jawa. 






Kami turun dari Puncak sekitar Jam 7 pagi, lanjut sarapan Nasi Pecel di Warung Mbok Yem, konon warung tertinggi di Pulau Jawa hehe. 



Setelah foto-foto di Petilasan Hargo Dalem, kami kembali ke Tenda di Sandang Drajat dan beres2. 


Siap berangkat turun Jam 9.31 menyusuri jalur kembali ke Cemoro Sewu.


Pos 5 Jam 9.46 

 

Pos 4 Jam 9.31



Pos 3 Jam 10.33, istirahat sekitar 6 menit


Pos 2 Jam 11.07, istirahat sekitar 13 menit


Pos 1 Jam 12.21, istirahat sekitar 4 menit. Mulai ada sinyal Telkomsel hehe 
 

Basecamp Cemoro Sewu Jam 13.00


 Alhamdulillah, perjalanan pendakian dan kembali lancar. Setelah di bawah kami tahu bahwa ternyata semalam hujan lebat, sedangkan kami di atas hanya gerimis kecil. Mungkin karena diatas posisi kami sudah diatas awan, jadi sudah lewat area hujan. 

Next nya, insyaAllah rencana mencoba rute dari Cemoro Sewu. Info nya jalur Kandang lebih datar dibandingkan dari jalur Cemoro Sewu, namun lebih jauh secara rute. Jalur Sewu memang cukup menanjak dengan kondisi jalan berbatu, dimana jaraknya paling dekat ke Puncak. 


Dari Cemoro Sewu, Jalur dari Pos 2 ke Pos 3 pemanasan untuk menanjak, naik menanjak lagi dari Pos 4 ke Pos 5. Dan yang paling berat dari Pos 4 ke Pos 5, Selalu menarik dalam pendakian, keramahan obrolan apa saja sesama pendaki sebagai saudara sependakian. Dan ternyata meskipun bukan weekend, banyak pendaki dari kota sekitarnya (Madiun, Solo, Karanganyar) dan bahwa kota jauh seperti Surabaya, Bandung dan Jakarta.  

Oiya, info tambahkan untuk ongkos Porter (sebagai referensi dari basecamp Sewu) mulai dari sekitar 500-600 ribu per malam (tergantung beban bawaan). Porter bertugas membawa barang-barang pendaki (jadi pendaki tinggal bawa badan dan uang aja hehe). Kalau dilihat di beberapa web wisata, paket VIP bisa lebih dari 1 juta per pendaki. 

So, kayanya bisa jadi usaha sampingan bagus buat MAFI, pendakian lawu, visit peternakan Asmoro Farm, sekalian investors gathering :) 


Wednesday, May 02, 2018

Itinerary 7 day JR Pass Jepang

Alhamdulillah, akhir Maret sampai awal April 2018 lalu berkesempatan berkunjung ke Jepang dalam rangka agenda bersama yayasan dan jalan-jalan. Tiket JAL Jakarta ke Narita airport dibeli bulan Oktober 2017 sekitar 7.5 juta-an, dan sebagai pembanding tiket ANA dibeli bulan Februari 2018 sudah tidak normal seharga 12 juta-an. Artinya jika merencanakan ke Jepang dalam rangka wisata, sebaiknya tiket dibeli minimal 6 bulan sebelumnya untuk mendapatkan harga 'wajar' dan bahkan bisa promo.

Urusan penginapan, kami ber-delapan menggunakan apartment via AirBnB selama 8 hari 7 malam, yang artinya bisa masak sendiri meskipun tetap membawa bekal makanan jadi dari Indonesia yang dibungkus super rapat. Berbeda dengan custom Australia yang super ketat, Jepang termasuk juga ketat (diendus anjing) tapi masih mungkin untuk aman.

Sebelum visit (sebelum visa), kami sudah membeli 7 day JR pass yang bisa digunakan di Tokyo central (JR) line, Narita Express dan selected Shinkansen (misal Kodama, Hikari). Begitu sampai Narita, pass di aktivasi keesokan hari nya selama 7 hari ke depan. Jadi untuk hari pertama dari Narita ke Tokyo menggunakan train yang non-express.


Well, bagaimana itinerary yang baik dan 'optimal'. Secara prinsip menurut saya ketika sudah mempunyai 7 day JR pass, maka cukup tinggal di Tokyo dekat stasiun MRT. Lalu dari 6 hari net di Tokyo, bisa travelling sampai maksimal 2-3 jam per trip (sampai Osaka dari Tokyo) di hari sesuai itinerary.  Dengan demikian kita akan optimal city tour Tokyo 2-3 hari dan 3 hari nya travelling.

Maka pilihan kami contoh optimasi JR pass sebagai berikut (cocok buat first time Japan visit):
Day 1: Tokyo city: Harajuku, temple park, botanical garden, Akihabara

Day 2: Shinkansen: Kyoto: Saga Arashiyama (walking tour bridge, bamboo forest, romantic train, temple Fushimi Inari), plus mungkin sempat short visit ke Osaka (Shinkansen Kyoto to Shin-Osaka, check last train JR from Shin-Osaka to Tokyo)

Day 3: Shinkansen: Karuizawa atau Gala Yuzawa (prefer terakhir) + Tokyo city (misal Meguro, Odaiba)

Day 4: Trip to Mt Fuji (+ short Shinkansen Hakone atau Tokyo city)

Day 5: Shinkansen: others (misal Osaka, Hitachi seaside park atau Hakone - private line)

Day 6: Tokyo tour + shopping: Harajuku, Takeya, Ueno, Shibuya

Day 7: Tokyo to Narita (shopping around Narita)


Good thing nya bahwa harga barang2 di Narita ga beda jauh dengan di city, artinya bisa beli beberapa hal-hal terakhir di Narita. Jadi berangkat agak awal dari Tokyo untuk muter2 Narita ada bagusnya juga hehe.

Atau kalau pesawat sore mau di optimalkan muter2 di Tokyo dulu setelah check out. Oiya, biaya menitipkan luggage dalam luggage box di banyak stasiun harga nya sama maksimal sampai 3 x 24 jam. Jadi kalau hanya nitip 2-3 jam, agak kurang 'maksimal'.

Terakhir, Jepang banyak dikunjungi wisatawan di Bulan Maret karena cherry blossom (sakura). So, plan your (family) trip to Japan!

Thursday, October 23, 2014

10 Catatan Travelling Australia

Alhamdulillah, saya berkesempatan ke Australia untuk pertama kalinya tengah Oktober ini dengan tujuan utama conference. Kunjungan ke Adelaide selama 3 malam dan Melbourne 1 malam sangat berkesan, yang utama karena saya memulainya dari ujung dunia yang lain (Aberdeen, Scotland, UK), dan karena beberapa pengalaman unik yang mungkin bermanfaat bagi pembaca sekalian.

1. Connecting Flight
Intinya, bagasi saya terlambat, tertinggal di Amsterdam (AMS). Jadi selama 3 malam di Adelaide, saya harus survive dengan baju menempel di badan. Beberapa setelan formal terpaksa beli karena saya harus presentasi di conference. Saya yakin (?) hal tersebut bisa di klaim, namun tetap butuh waktu dan proses panjang (hingga hari ini belum direspon KLM!!). Bagasi terlambat menurut analisa saya, karena connecting flight KLM di AMS yang hanya 50 menit, sedangkan boarding connecting flight 30 menit sebelumnya. Bayangkan, dari keluar pesawat sampai masuk pesawat connecting hanya kurang setengah jam. Jalan antar terminal di Schipol yang lumayan, alhasil saya berhasil naik pesawat dengan baik, tapi bagasi saya tidak. So, sebaiknya anda memilih flights dengan koneksi diatas 1.5 jam, aman buat bagasi dan penumpang. Apalagi di airports yang security check nya satu pintu sehingga antrean panjang, macam di Abu Dhabi.

2. Goods Declaration
Australia terkenal dengan peraturan ketat untuk barang-barang yang dibawa masuk. Declare barang-barang yang harus di-declare, diantaranya makanan dan bahan mentah. Declare artinya bagasi siap diperiksa di airport Australia. Konon barang-barang yang ada label manufaktur resmi cenderung aman, dibuka namun tidak dibuang. Sedangkan yang homemade atau manufaktur ‘abal-abal’, harus banyak berdo’a supaya tidak dibuang. Bagaimana kalau tidak declare? Kalau ternyata ada inspeksi dan ternyata ditemukan barang-barang yang seharusnya declare, maka denda nya cukup besar. Ada baiknya baca goods declaration sebelum ke Australia.

3. Exchange Rate
Nilai tukar AUD (Australian Dollar) sangat mahal ketika anda berada di Australia. Dari seorang teman, dia menukarkan USD 100 dapat AUD 100 + IDR 150,000 di Jakarta (I love Indonesia J). Sehari setelah sampai Adelaide, dia hanya dapat AUD 95! Ambil uang di Debit ATM kena charge AUD 2, baiknya sekalian banyak jangan cuman sedikit karena flat. Transaksi gesek di stores kena charge juga, bukan di notanya, tapi di rekening kita. Saya pakai Poundsterling Card juga kena bertubi-tubi charge dan fee, nyesel abis baru ketahuan terakhir. Pilihan yang baik (prioritas): bawa cash AUD sebelum sampai Australia, Ambil Debit card di ATM, dan pilihan terakhir gesek card di stores.

4. Australian English
Well, ini bukan hal yang sangat major. Hanya info bahwa English versi Australia ini termasuk yang sulit ditangkap di dunia. Aksen yang menghentak dan cepat sekali, saya sendiri kesulitan dan ternyata banyak teman juga. Saya baru menyadari kata guru English saya di kantor dulu, bahkan dia yang british sering tidak full nangkap Australian English. Saya tidak ahli English, tapi saya sangat menikmati English para dosen saya di Aberdeen.

5. Mobile Phone Number
Ini termasuk paling merepotkan, diantara semua negara yang pernah saya kunjungi. Jika membeli SIM card untuk mobile phone kita, maka kita harus mengisi form registrasi, ada alamat sampai model pembayaran (card or cash). Belum selesai, untuk aktivasi kartu kita harus login via internet, memberikan data diri, alamat termasuk no contact Australia yang bisa dihubungi selain no kita. Tidakkah aneh, pertama kita butuh kartu otomatis kita belum punya no Australia, kedua kita butuh kartu kan untuk koneksi internet, tapi harus registrasi dulu yang perlu internet (telur ayam namanya). Yang harus dilakukan, mengharapkan wifi gratis untuk registrasi tersebut. Oiya, setelah aktif belum tentu setting data nya aktif, masuk harus setting manual (di Indonesia bahkan di UK, kita bisa download setting mobile data kita). Anda memang bisa datang ke gerai mobile provider untuk mempermudah, tapi tetap prosedurnya akan tetap sama.

6. Weather
Cuaca di Australia tergolong esktrim. Jika winter (sekitar Jun-Jul) bisa < 10 deg C, tapi summer (sekitar Dec-Jan) bisa > 40 deg C. Keringnya juga kerasa, panas tapi ada angin dingin. Kulit-kulit saya yang dari Indonesia ke Scotland baik-baik saja, begitu di Australia langsung pecah-pecah. Hiks..

7. Asia Foods
Ini mungkin salah satu kelebihan Australia selain ‘hanya’ 7 jam Jakarta-Melbourne, yaitu banyak bahan mentah asia di supermarket umum, makanan asia termasuk Indonesia, dan pastinya Indomie dengan harga ‘rasional’.

8. Gift Shopping
Jika ingin membeli kenang-kenangan model gantungan kunci, magnet atau kaos, market adalah tempat yang tepat. Anda memang normalnya tidak bisa menawar, tapi harganya dijamin murah dibanding di toko. Jangan lupa untuk muter-muter dulu, melihat secara umum pasaran harga nya di market tersebut. Setiap took atau penjual berbeda. Misalnya, di Victoria Market Melbourne, ada lebih dari 10 pedagang orang Indonesia, tapi ada beberapa yang harganya lebih mahal dari lainnya. Beberapa yang mahal ini harganya sama dengan para pedagang non-Indo. Enaknya kalau beli dari pedagang Indo, kita bisa celometan pakai bahasa Indo dan Jawa sesuka hati hehe.

9. Transport
Transportasi di Australia termasuk yang sudah maju, namun buat para pengunjung, sistemnya kadang membingungkan. Pastikan tahu sistem transportasi public yang akan digunakan. Jika baru pertama datang ke Australia (atau negara lainnya), sebaiknya tidak sore/malam karena bisa jadi kita akan kesulitan dengan sistem transport nya, misal harus punya transport card dulu di Melbourne dsb. Yang pasti, transportasi publik seperti negara maju lainnya jauh lebih dari Indonesia. Jadi bersyukur kita besar di Indonesia dengan segala keterbatasan sehingga insyaAllah lebih tahan banting.

10. Koala and Kangaroo
Katanya, belum berkunjung ke Australia kalau belum foto sama Koala dan Kangaroo. Cara yang paling mudah, pergi ke zoo. Jangan lupa untuk cek jadwal Koala meeting karena setiap zoo berbeda, dan Koala ini kalau siang suka tidur. Jangan bayangkan zoo seperti Ragunan atau Taman Safari yang luas. Zoo yang saya kunjungi di Adelaide sangat mudah dijangkau dengan jalan kaki, tapi dengan harga yang lebih mahal dari Taman Safari. Yah..demi foto bersama Koala dan Kangaroo, minimal sekali seumur hidup.


***
Terima kasih kepada LPDP atas dukungan dan sponsornya. 

Tuesday, March 12, 2013

Anies Baswedan, Paramadina 13 Oktober 2012

Masalah adalah perbedaan antara ekspektasi dan realita... selalu ciptakan masalah dengan meninggikan ekspektasi kita (Anies Baswedan).
 
 

Saturday, May 15, 2010

PR untuk Depok

Oktober 2010 ini Depok akan menyelenggarakan pemilihan langsung (Pilkada) Walikota Depok periode 2010-2015. Sejak awal tahun sudah mulai marak spanduk dan baligho bakal calon walokita dari tokoh masyarakat yang dipasang di tempat strategis seluruh Depok.

Nurmahmudi Ismail sendiri tampaknya masih akan maju sebagai calon dengan pandamping yang berbeda, karena wakil walikota yang sekarang maju sendiri sebagai calon walikota. Nurmahmudi dalam 5 tahun kepemimpinan di Depok selain mampu menorehkan pretasi membanggakan, masih juga memberikan pekerjaan rumah yang cukup pelik untuk periode berikutnya. PR tersebut sebenarnya adalah persoalan klasik Depok sebagai salah satu kota pendukung Ibukota Jakarta.

Berikut adalah catatan pribadi atas 5 PR utama Kota Depok yang akan menjadi tantangan walikota mendatang.

Jalan Margonda
Saya pikir semua orang depok sepakat bahwa Jalan Margonda (JM) adalah jalan vital Depok namun sekaligus sumber masalah transportasi. Beban JM sudah sangat berat sehingga kewalahan. Alhasil kemacetan hampir dipastikan terjadi pada saat jam berangkat dan pulang kerja. Jika melihat sepanjang JM, maka akan banyak simpul masalah, misal nya mall dan pusat belanja, pertokoan, terminal depok dan transportasi umum (di bahas di bawah).

Masalah tersebut sebenarnya bisa di kurangi jika volume kendaraan tidak sebanyak sekarang dan masa mendatang. Namun perkembangan Depok ke depan dipastikan JM akan menerima beban kendaraan yang lebih banyak, sehingga potensi kemacetan akan semakin parah. Sekalipun Pemkot Depok tahun 2010 ini mempunyai program pelebaran JM (yang akibatnya pohon pinggir jalan menghilang!!!), namun kondisi nya tidaklah memperbaiki secara signifikan. Tumpukan kendaraan masih terjadi, karena jalan hasil pelebaran tetap digunakan untuk parkir akibat lahan parkir yang hilang.
Lalu solusi apa lagi? Menurut saya, tidak salah lagi model jalan layang adalah satu-satu nya cara membagi beban JM. Lihatlah jalan raya yang menghubungkan Kramat Jati-Cawang sampai ke Ancol (orang mengenal nya "jalan raya bypass") atau jalan layang Pasopati Bandung. Ada jalan toll di atas, dan ada jalan raya biasa di bawah nya. Model tersebut sangat cocok untuk JM apalagi pasca pelebaran jalan sehingga cukup untuk tiang pancang di tengah nya. Jalan layang bisa dimulai sebelum bundaran UI di Lenteng Agung sampai Grand Depok City (atau langsung nyambung ke rencana Tol Jorr II), dengan 2-3 section masuk/keluar. Kendaraan yang hanya membutuhkan lewat JM, cukup lewat atas tanpa harus menghadapi kendaraan umum atau lainnya yang terkait aktivitas bisnis di JM.

Konsekuensi dengan jalan layang tersebut, area bisnis pertokoan sepanjang JM sedikit banyak akan terpengaruh. Hal yang mirip terjadi di pertokoan di bawah flyover Jl Arif Rahman Hakim yang melintasi rel station Depok Baru, dimana toko-toko yang dulu nya ramai sudah sulit bernapas lagi, bahkan sebagian besar tutup atau pindah menjadi tempat penitipan sepeda motor yang lebih menjanjikan. Akibat tersebut yang harus dihadapai pemkot kepada pengelola pertokoan sepanjang JM. Untuk jangka pendek memang berat, namun untuk visi transportasi jangka panjang, pembuatan jalan layang tersebut sangat baik untuk dilakukan.

Terminal Depok
Mestinya terminal Depok ini dipindahkan keluar pusat kota dan JM. Konon lokasi baru nya akan di Jatijajar, jauh dari pusat kota. Sama hal nya dengan beban JM yang melebihi ambang, terminal depok pun demikian. Akibatnya terminal menjadi salah satu penyebab kemacetan di bagian JM. Pun di dalam terminal yang tidak teratur sehingga membuat penumpang tidak nyaman. Alhasil, penumpang lebih memilih naik di bagian luar terminal sehingga kemacetan di depan terminal tidak pernah terselesaikan.

Dengan terminal utama yang pindah keluar pusat kota depok, maka area terminal lama bisa diperbaiki kemudian menjadi sarana publik seperti hal nya alun-alun yang setiap kota pasti mempunyai nya (kecuali Depok!). Saat ini warga depok yang ingin jalan-jalan bersama keluarga nya ke taman kota tidak mempunyai pilihan kecuali ke area kampus UI (yang sebenarnya bukan taman area umum). Hasilnya bisa dijamin, akan ada hutan dan paru-paru kota yang nyaman di tengah pusat Depok.

Sarana Transportasi Umum
Sebenarnya ini adalah masalah dasar Indonesia, seperti hal nya Jakarta juga pelik transportasi umum nya. Khusus untuk Depok, saya melihat angkutan kota (angkot) sangat banyak jumlah nya dan masalah angkot itu juga terjadi di hampir semua kota besar di Jawa Barat (Bandung, Bogor, etc).

Harus dilakukan upaya pengoptimalan moda angkutan kota ini. Dalam bahasa lain mengurangi jumlah angkot yang beredar sesuai actual demand, dimana saat ini jumlahnya snagat banyak baik yang beredar atau yang berhenti di terminal (legal atau ilegal). Hal ini memang tidak mudah, mengingat pengemudi nya merupakan sumber pekerjaan. Setidaknya dimulai dari ditertibkan nya angkot yang sudah tidak layak, dan izin perpanjangan trayek diperketat. Hal yang sama dilakukan oleh Palembang atau Jogjakarta dalam mengatasi masalah bus kota nya, untuk mengubahnya menjadi moda bus trans-kota.

Di transportasi lain, Kereta Rel Listrik (KRL) mungkin adalah alasan paling utama banyak orang memilih tinggal di Depok. Namun akhir-akhir ini, KRL ini pun sudah kewalahan menghadapi ledakan penumpang di kelas ekspress apalagi ekonomi nya. Salah satu solusi yang terdengar ingin dilakukan Pemkot Depok adalah pemkot membeli KRL khusus yang melayani rute Depok-Jakarta. Terlepas peruntukan KRL tersebut khusus untuk warga Depok atau umum, solusi ini sama hal nya model kerjasama yang dilakukan beberapa Pemda di Papua dengan Maskapai Merpati. Tidak lain dan bukan sebagai sarana memudahkan akses warga ke tempat lain, sehingga menjadi daya tarik yang bisa mengundang tamu atau investor ke kota tersebut.

Selain itu, hal yang sangat strategis untuk segera dipunyai Depok adalah angkutan Bandara. Semua kota sekitar Jakarta sudah mempunyai moda angkutan Bandara, dan Depok satu-satunya yang tidak ada. Moda ini sangat strategis bukan hanya membantu mobilitas warga Depok, sekaligus juga memudahkan akses ke Depok bagi tamu atau pengunjung mengingat Depok menjadi kota pelajar di satelit Jakarta. Jika perusahaan Damri menilai moda ini kurang menguntungkan, maka bisa dibuat skema kerjasama dengan Pemkot Depok seperti hal nya kerjasama KRL diatas.

Jalan Raya
Jalan raya adalah sarana utama yang mendukung ekonomi daerah. Depok adalah daerah pinggiran Jakarta yang bertransformasi menjadi kota. Dengan kebutuhan mobilitas, banyak akses jalan raya di Depok yang tidak memenuhi kualifikasi jalan utama, termasuk juga jalan-jalan ke kawasan pinggiran Depok yang kurang memadai. Bisa jadi karena pembangunan yang kurang baik atau pemakaian yang melebihi ambang. Dari Pemkot sekarang, sudah ada perbaikan dalam infrastruktur jalan rusak ini terutama di jalan-jalan utama.

Selain perbaikan jalan, perlu adanya terobosan dari Pemkot untuk pembuatan jalan-jalan baru sebagai jalan lintas baru untuk penghubung antar jalan utama. Jalan sepanjang rel KRL dari pasar lama ke Stasiun Depok Baru adalah salah satu contoh yang sayang nya proyek 2 tahun tersebut belum bisa berfungsi. Perlu juga dipikirkan untuk mengurangi beban Margonda, maka alternative jalan Tanah Baru atau Kukusan untuk menjadi jalan lintas baru. Plus dengan rencana JORR II, Pemkot harus menjadi sponsor utama dalam penyelesaian nya.

Pusat Keramaian Kota
Pusat keramain Depok saat ini masih terfokus di Jalan Margonda. Keinginan pemkot untuk membuat pusat-pusa keramaian baru belum sepenuhnya berhasil. Target keramaian baru tersebut adalah Cinere dan Limo, serta Jatijajar nanti setelah terminal baru. Penyebaran pusat keramaian tersebut harus dilakukan dengan dua langkah pararel, yakni membuka kesempatan ruang-ruang di pusat keramaian baru dan membatasi tambahan keramaian di Margonda.

Kesempatan tersebut misalnya perizinan yang lebih mudah, insentif pajak dan fasilitas umum (termasuk jalan) yang harus di perbaiki. Termasuk juga relokasi beberapa kantor dinas pemkot yang awalnya di sekitar Margonda ke daerah keramaian baru tersebut, sekaligus peningkatan kualitas kantor nya. Misal nya Dinas Kesehatan yang kantor nya di ruko depan terminal serta Dinas Imigrasi yang berkantor di gang depan pertigaan Margonda dan Tole Iskandar.

Sedangkan pembatasan di margonda, dilakukan dengan penertiban terhadap bangunan yang tidak sesuai izinnya, pengetatan izin dan restribusi yang dinaikan. Sebenarnya, Rencana pengembangan kota yang disusun Pemkot sendiri sudah mengarah ke langkah penciptaan pusat keramaian baru. Namun, jika rencana penyebaran tanpa dua hal pararel diatas maka tidak bisa terealisasi dengan sendiri nya karena magnet bisnis utama Depok masih ada di margonda.
**
Kelima hal diatas adalah 5 hal utama yang menjadi tugas berat bagi walikota yang baru, dan masih mungkin belum sepenuhnya terpecahkan setelah masa akhir jabatan 2015 nanti. Semoga walikota terpilih nanti bisa menjadikan Depok lebih baik lagi. Untuk Depok yang sedang membangun jati dirinya.

Monday, November 23, 2009

Sebuah Pojok Soekarno Hatta

Pagi ini, antrian check in sangat ramai di counter petugas check in terminal 2F. Tampak jelas Soekarno Hatta (Soetta) sudah tidak mampu menampung jumlah penumpang sekarang dan di masa mendatang.
Namun sebenarnya, ada sebuah pojok yang mencoba mengurangi beban di counter yang sayang nya tidak dimanfaatkan dengan baik oleh penumpang, yakni fasilitas Kiosk (self Check in). Penumpang terbiasa melakukan check in ke counter, atau mungkin sudah tahu namun "tak mau mencoba". Perlu ada sosialisasi lebih giat lagi, kalau perlu seorang petugas yang bertugas mendampingi penumpang untuk self check in di sisi 4 Kiosk tersebut.
Lokasi Kiosk tersebut di antara terminal 2F dan 2E. Setelah check in, lebih dekat langsung lewat jalan yang menuju area executive lounge. Jika masuk ke lounge Sunda Kelapa, maka mungkin ini salah satu toilet laki-laki dengan view terbaik di Soetta. Anda perlu mencobanya.. :)

Wednesday, October 22, 2008

Cinta Setaman, Cerita Satire

Seorang teman menulis tentang film Cinta Setaman ini dalam notes facebook nya berikut;

Cinta Setaman sebuah Komedia Absurd

Dari judulnya, seakan-akan film ini cukup menjual sebagai sebuah kisah romantis. Kenyataannya, film yang diisi sederet bintang terkemuka ini sukses membuat cengok orang yang mencari kisah mengharu biru penuh cinta dan air mata. Saya berani katakan bahwa film ini sebuah film komedi !

Lho, memang apa lucunya kisah tentang : guru PMP yang digoda muridnya, karyawan toko yang ngotot jajan di Stirbucks caffe dan bossnya yang galak, ibu yang mau naik haji tapi kemudian mengetahui uangnya berasal dari usaha haram, istri yang kehilangan suaminya dalam kecelakaan, dan istri yang dengan ikhlas dipoligami suaminya meskipun dihantam kesulitan.

Ga ada, kalau pun ada itu dibuat dengan suasana yang jauh dari komedi yang selama ini kita nikmati. Letak lucunya justru terletak dari kisah-kisah itu sendiri. Film ini menawarkan kisah yang sulit diterima akal sehat dan cenderung suatu yang absurd. Bayangkan saja, bagaimana mungkin seorang ibu yang beruntun ditimpa musibah, TK-nya kebakaran, ditinggal penghuni kostan yang malah minta ganti rugi, kecurian perhiasan, kemudian justru bahagia begitu mendengar suaminya ingin menikah lagi.

Memang sih, tidak semua orang dapat langsung menangkap inti ceritanya. Topik cerita dalam film ini sangat luas, dan kesannya tidak fokus. Kita jadi bertanya-tanya, siapa sih yang sebenarnya ingin "ditembak" dalam film ini. Parameter sulitnya film ini dicerna dapat dilihat dari respon audience.

Kami datang berenam, saya, Bram, Igun, Trian, Luki, dan Roja.
Hanya satu orang yang keliatan tertawa bahagia : Luki ! :D

***

Terang saja saya tersenyum-senyum membaca coretan itu. Dan memang begitulah film Cinta Setaman itu berkisah. Absurd. Salah satu kami menyebutnya ‘Black Comedy’.

Kadang kita menolak mentah-mentah yang ditampilkan dalam film tersebut. Namun kemudian bisa saja kita berpikir mendalam bahwa gambaran film tersebut sangat ‘satire’, menyindir penonton atau masyarakat kita sendiri.

Selain kisah yang dicontohkan diatas, ada juga sketsa yang lain. Anak yang mulai beranjak remaja saat melihat instruktur senam, keributan suami istri karena ikan arwana, dan kebodohan orang jepang ‘ditipu’ perempuan yang akhirnya jadi istri kedua dari suami yang istrinya ditimpa banyak musibah diatas.

Kami yang menonton film ini cukup ‘teraduk-aduk’ perasaannya. Ada terharu, tertawa, hening, senyum getir, menyayat hati dan akhirnya (seperti kata teman diatas saya), cengok.

Walaupun kami sebenarnya mendamba akan menonton film yang romantis sesuai judulnya, Cinta Setaman (setaman, dekat artinya dengan satu rangkaian). Apalagi dengan banyak artis papan atas indonesia dalam film itu, seperti Slamet Rahardjo, Jajang C Noer, Nicholas Saputra, Ria Irawan, Djenas Mahesa Ayu, Inul Daratista, Julia Perez, Indi Barens, Marsha Timothy (pemeran istri tabah yang paling membuat 'terenyuh' hehe) dan lainnya.

Namun tidaklah mengapa kami akhirnya menonton film ’satire’ Cinta Setaman tersebut. Di PVJ Bandung midnight weekend lalu, setidaknya tujuan kami tercapai. Kumpul dan jalan bersama sebelum ada yang akan menggandeng pasangan nantinya :).

Monday, October 06, 2008

Dokumen Penilaian Rumah

Penilaian rumah yang dilakukan oleh pihak ketiga (agen independent) digunakan sebagai dasar bagi yang berkepentingan. Buat yang hendak mengajukan kredit pembelian rumah kepada Bank atau perusahaan, maka penilaian rumah (appraisal) ini sangatlah penting. Karena harga yang ditawarkan penjual belum tentu menggambarkan keadaan rumah yang sebenarnya, sehingga penilaian ini menjadi dasar penentuan dana cair untuk pembelian rumah tersebut.

Pendekatan dan metode penilaian yang digunakan adalah;
1. Pendekatan Data Pasar
Pendekatan ini mempertimbangkan penjualan dari properti sejenis atau pengganti dan data pasar terkait, serta menghasilkan estimasi nilai melalui proses perbandingan. Biasanya, properti yang dinilai dibandingkan dengan properti yang sebanding yang telah terjadi maupun dalam tahap penawaran penjualan dari suatu proses jual beli.

2. Pendekatan Biaya
Metode ini digunakan untuk menentukan suatu nilai properti berdasarkan perhitungan seluruh biaya-biaya yang diperlukan untuk pengadaan, pembangunan/penggantian properti yang identik. Nilai yang dihasilkan disebut nilai reproduksi. Dari biaya reproduksi ini, dilakukan penyesuaian berupa penyusutan akibat kerusakan fisik, kemunduran fungsional, dan kemunduran ekonomi.

Dalam laporan penilaian, disebutkan juga uraian properti yang dinilai. Mulai dari lokasi dan peruntukan, fasilitas dan keadaan lingkungan, data kepemilikan tanah, perijinan, dan penggunaan terbaik dan tertinggi (highest and best use).

Berikutnya adalah proses penilaian itu sendiri. Penilaian properti terdiri dari;
Penilaian Tanah
Dengan menggunakan perbandingan data pasar, dilakukan justifikasi properti terhadap, faktor lokasi, fakor kondisi fisik, faktor luas dan bentuk tanah, faktor best and highest use, faktor status kepemilikan, dan faktor waktu. Data transaksi yang menjadi dasar nilai adalah nilai properti sebandingm, terutama di sekitar lokasi terdekat dari properti yang dinilai.

Penilaian Bangunan
Penilaina bangunan berdasar kondisi bangunan menyangkut jumlah lantai, sifat bangunan permanen/tidak, konstruksi, pondasi, atap, plafon, dinding, partisi, lantai, pintu, jendela dan luas total nya. Dari kondisi bangunan ini, didapatkan nilai dari bangunan tersebut. Selain itu, ada nilai untuk sarana pelengkap, yaitu daya listrik, air bersih dan telepon.

Terakhir, kesimpulan dari sebuah penilaian properti adalah perbandingan antara Biaya Reproduksi dan Nilai Pasar. Biaya reproduksi umumnya lebih besar dari nilai pasar, karena nilai pasar mempertimbangkan penyusutan dari fisik bangunan dan sarana pelengkap. Untuk nilai tanah, antara biaya reproduksi dan nilai pasar sama karena perhitungan dilakukan untuk saat dilakukan penilaian (tidak melihat masa lampau).

Sebuah laporan penilaian yang lengkap juga disertai oleh peta lokasi, plot properti, dan copy sertifikat tanah. Untuk membuat sebuah laporan penilaian, sebuah agen penilai indenpenden membutuhkan waktu 2-3 hari termasuk survei asal data yang dibutuhkan lengkap (IMB, SHM, PBB).

Jika anda punya kelebihan uang, tidak ada salahnya untuk ’iseng’ menilai berapa sebenarnya nilai properti anda. Tarifnya ’tidak terlalu’ mahal, untuk Jakarta sekitar 500 ribu sampai 1 juta. Buat yang ingin membeli rumah dengan mangandalkan kredit, penilaian ini semacam ’wajib’ dan menjadi tanggungan calon pembeli. Kecuali jika anda meminjam dana dari orang tua atau (calon) mertua, maka tidak usah repot-repot dan pusing dengan penilaian properti macam ini.

Friday, August 01, 2008

Telkomsel, begitu dekat?

Awal bulan lalu, teman kantor saya sumpah-sumpah karena merasa ‘dibekuk’ dari belakang oleh Telkomsel. Ya.., Telkomsel operator GSM terbesar di indonesia itu.

Ceritanya, sekitar bulan Oktober 2007 lalu aplikasi Kartu Halo teman saya di approve. Karena dia bukan orang Jakarta, maka segala keperluan administrasi di urus via kantor (Halo Corporate). Karena pertimbangan dia sudah terlanjur menggunakan nomor Simpati saat Trip ke field, maka Halo nya tidak di aktivasi olehnya.

Dan itulah ‘kesalahan’ nya yang akhirnya pada bulan lalu ’baru’ dibuka oleh Telkomsel. Dia akhirnya menemukan surat todongan uang Rp 420,000 atas biaya abonemen (+ pajak) dengan rincian Rp 52,500 kali 8 bulan sejak Halo diserahkan. Surat itu konon baru datang kali itu, pertama kalinya. Tentu saja dia kaget, karena tidak pernah merasa di kirimkan surat teguran atau pemberitahuan selama itu.

Bagaimana menurut anda? Saya sebagai sesama teman yang sama mengajukan aplikasi Halo Corporate merasa ada yang tidak benar dengan sistem Telkomsel ini. Bukan masalah uangnya, pun teman saya akhirnya membayarnya juga (dimana mungkin salah satu pertimbangan daripada nama perusahaan juga ikut rusak).

Tapi mungkin saja dengan jangka waktu selama itu Telkomsel sudah mengirimkan surat ke teman saya itu, dan karena ada banyak lantai serta orang maka jika kurang spesifik surat pun tidak akan karuan. Tapi apa mesti selama itu baru kemudian hal ini bisa diketahui? Bukankah ada beberapa contact number (termasuk Account Representative-AR di corporate) yang tetap bisa dihubungi? Atau bahkan email untuk mengirimkan pemberitahuan? Kenapa seolah ’membiarkan’ argonya terus berjalan?

Disini saya semakin meragukan dengan keseriusan Telkomsel untuk me-maintanin pelangggannya. Oke, customer nya memang banyak, tapi itu sebuah konsekuensi untuk maintain pelanggan pada tingkat kepuasan tertentu.

Awal tahun ini saya juga sempat dibuat kesal oleh tingkah Account Executive (AE) yang lingkup area nya termasuk kantor saya. Saya mengajukan komplain tentang tagihan yang tidak pernah dikirimkan (setelah lebih dari 4 bulan pengguna Halo). Dan bulan berikutnya pun dikirimkan. Tapi bulan berikutnya lagi tidak dikirimkan, padahal saya sudah memberikan alamat lengkap pengiriman.

Saya kemudian berusaha email kepada AE dan CC ke AR. Benar-benar tidak ada respon, bahkan dengan email ke person in charge yang ada dalam autoreply si AE pun tidak ada respon. Apa Telkomsel serius dengan para customer nya??

Walau akhirnya dengan bantuan teman yang bekerja di Telkomsel regional lain untuk mengirimkan via mail tagihan Halo saya. Pun ’kesal’ saya ikut tertumpah ke teman saya tersebut (dan maaf teman, akhirnya saya menulis di Blog ini). Tapi tetap, bulan berikutnya pun tidak dikirimkan lagi. Apa ini tidak membuat semakin kesal?

Akhirnya saya menggunakan Customer Service (CS) Halo Corporate 111 untuk meminta pengiriman tagihan tiap bulan ke alamat yang sudah jelas dan lengkap itu. Dan selama 3 bulan belakang ini, tagihan itu pun datang.

Satu lagi saya akan mencermati tentang gaya CS 111 dalam berkomunikasi dengan customer nya. Saya merasa bahwa keramahan yang ditunjukan tidak alami (Ok, memang sengaja dibuat sesuai SOP nya), yang buat saya malah terkesan berbelit-belit seperti robot.

Misalnya, pengulangan kalimat tanya kita lebih dari satu kali (dengan nada ’robot’) menjadikan saya sering heran dengan cara berkomunikasi CS Telkomsel ini. Pun dalam mengakhiri pembicaraan dengan menanyakan apakah ada keluhan lain pun tidak membuat saya nyaman karena bertele-tele seperti akrobat, dan kadang saya menutupnya sepihak karena ada kesibukan lain (atau harus terus melayani CS?).

Hal itu tidak hanya sekali, karena hampir semua CS yang pernah saya hubungi pun demikian. Begitu sistematik, akrobatik dan robotik. Ok, saya jujur mengakui bahwa masalah kita terpecahkan dengan bantuan CS tersebut. Tapi dengan cara dan bahasa yang digunakan, saya merasa kurang meng-orang-kan (berkomunikasi dengan menganggap lawan bicaranya benar manusia, bukan bicara dengan bahasa ’terprogram’). Untuk cara berkomunikasi ini, saya pribadi masih suka dengan cara berbahasa CS Indosat. Silahkan anda bandingkan.

Pada akhirnya, tulisan kepada Telkomsel ini masih beritikad baik. Bukan mencari nama pribadi, apalagi malah menjatuhkan Telkomsel (pun sudah sangat besar dengan banyak teman beraktivitas disana). Harapannya semoga Telkomsel meningkatkan layanannya. Sekali lagi, semakin banyak pelanggan sudah merupakan konsekuensi untuk semakin banyak yang harus ditangani. Bukan karena sudah besar lalu ’jumawa’ dengan kebesarannya itu.

Dari semuanya ini saya bertanya, apakah benar Telkomsel Begitu Dekat?? Atau hanya sebatas slogan? Dan buat saya Telkomsel, i don’t prefer but i need it..

Sunday, July 27, 2008

Pelabuhan Ratu Bay

Weekend kemarin bersama seorang teman, saya melakukan perjalanan ke Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Teman saya memang berniat hunting fotografi, saya hanya karena belum pernah kesana dan ingin juga menikmati pantai. Rencana kami, one day trip!

Berangkat jam 7 KRL menuju Bogor. Kami memilih KRL karena cepat (1 jam dari Tebet), murah (Rp 2,500) dan nyaman (Sabtu, tidak padat). Dari stasiun Bogor, kami langsung meluncur ke terminal Baranangsiang, dan memilih rute bus Bogor-Pelabuhan Ratu (Bus MGI, seukuran Kopaja). Dengan tarif 25 ribu (AC), kami mulai berangkat ke Pelabuhan Ratu sekitar pukul 8.30

Sebuah perjalanan yang panjang. Kalau tidak salah, saya tidur bangun sampai tiga kali dan akhirnya tiba di Pelabuhan Ratu sekitar pukul 12 (3,5 jam). Di terminalnya, begitu bus masuk langsung berdatangan para tukang ojek di sekeliling bus. Benar-benar membingungkan jika baru pertama datang kesana.

Yang kami lakukan sederhana, janjian di warung makan yang kami tunjuk lalu kami berpencar. Sementara solutif, kami terlepas dari kepungan. Tapi ternyata selama kami makan (dan bahkan saat sholat di masjid), masih ada saja tukang ojek yang ‘setia’. Tentu yang seperti ini justru membuat kami tidak nyaman dan meninggalkannya. Oiya satu lagi, di warung makan itu kami ‘sepakat’ menemukan pelayan yang ‘khas sunda’ :p.

Berdasarkan info dari sopir angkot (yang efeknya kami harus membayar ongkos ‘mahal’), maka kami menuju Pantai Karanghawu, 14 km dari kota kecamatan Pelabuhan Ratu. Karanghawu, asal kata Karang berbentuk Hawu (tungku), pada dasarnya pantainya terbagi dua, yang berkarang dan yang berpasir. Masih bersih, tidak terlalu ramai. Sayang, kami tidak menemukan fasilitas hotel atau tempat makan ‘representative’ yang banyak kami temukan di area Pantai Citepus, sekitar 4-8 km dari kecamatan.

Diantara yang hotel eksotis adalah Samudera Beach Hotel (SBH). Hotel ini satu diantara tiga hotel yang dibangun Soekarno, yakni Hotel Indonesia, Sanur dan Pelabuhan Ratu sendiri. Percaya tidak percaya, banyak ‘cerita’ yang mengiringi di hotel-hotel tersebut. Dan di Pelabuhan Ratu sendiri, hotel ini tampak dari luar kurang terawat. Padahal eksotisme bangunan lampau masih terpancar dari hotel ini (dalam hati, ingin suatu hari menginap di hotel ini).

Berikut adalah beberapa snapshot yang diambil teman saya (his courtesy).


Ini adalah view dari Karanghawu, karang yang tegak melawan ombak.









Pasir yang terhampar, menggugah keinginan untuk merasanya.









Dan inilah kami, dua orang di balik ide perjalanan ini.









Saya mulai menuliskan sesuatu di pasir, untuk sebuah nama.







Sebelum pulang, kami menemukan view yang bagus dari bukit kecil. Sebuah sawah dengan background pantai. Subhanallah, sungguh indah indonesia kita.






Kami lalu pulang jam 4 sampai terminal Pelabuhan Ratu. Harapan kami, menuju Bogor dengan bus AC. Sayangnya, bus AC sudah tidak ada setelah kami menunggu hingga jam 5. Sudah sejam terbuang, maka kami memutuskan bus AC Pelabuhan Ratu-Sukabumi. Sebenarnya bisa menggunakan yang menuju Bogor tapi non-AC. Pikir kami ideal, di Sukabumi pasti banyak bus ke Jakarta (AC). Dan karena si teman tampaknya ingin tahu Sukabumi, kotanya Vagetoz (hehe).


Jam 8 sampai di Sukabumi, terminal sudah sepi. Jangankan bus Jakarta AC, bus menuju Jakarta sudah tidak ada (yang masih banyak justru Bandung, sempat terpikir ke Bandung aja). Jadilah harapan tinggal harapan). Tapi kami bertekad, lebih baik bisa makan tidak bisa pulang daripada bisa pulang tapi tidak bisa makan. Maka, kami makan dulu. Selesai makan, kami akhirnya memutuskan naik colt L300 menuju Ciawi untuk harapan 24 jam bus menuju Jakarta.


Sempat kami di ’handover’ ke Colt yang lebih penuh penumpang di Cibadak, daerah dimana jalan percabangan ke Sukabumi dan Pelabuhan Ratu. Setelah peristiwa itu, saya tidak bisa tidur. Khawatir ada ’handover’ lagi atau malah-malah kena ’akal’ orang. Tiba di Ciawi sekitar jam 10.30, sebuah malam yang ramai.


Tapi perjalanan tidak berhenti disini. Masih harus memilih antara Bus Kampung Rambutan, Merak (ancaman turun di Slipi atau di tengah tol Pancoran), atau mobil ’omprengan’ Cawang. Sampai detik terakhir, Cawang lah yang kami pilih karena alasan lebih dekat ke tujuan. Tiba di Cawang lalau meluncur langsung dengan Taksi pilihan menuju Pancoran sampai jam 11.30.


Menurut teman, kami baru saja seperti melakukan Black Hawk Down, rencana penyerangan 15 menit namun akhirnya jadi seharian. Kami menikmatinya, seperti benar-benar tidak direncanakan, menantang. Dan berpikir bahwa dalam hidup, sekali-kali kita perlu melakukan yang seperti itu. Kuncinya, kita harus menemukan teman perjalanan yang tepat.