Tuesday, January 13, 2015
Mengapa Sekolah (Lagi)
Tuesday, March 12, 2013
Anies Baswedan, Paramadina 13 Oktober 2012
Masalah adalah perbedaan antara ekspektasi dan realita... selalu ciptakan masalah dengan meninggikan ekspektasi kita (Anies Baswedan).
Wednesday, July 18, 2012
(Candidate) Magister
Thursday, May 10, 2012
The Magnificent Seven
PGSF – Strategic Finance Class of 2010For some people eighteen months seems like forever but to us, it was only yesterday. Time flies indeed. We accomplished many things in such sort of time. It was exhausting, sometime frustrating, but exciting at the same time. And we would be lying if we didn’t have good time. It was fun.
Saturday, January 21, 2012
Setelah Sekolah Lagi
Wednesday, November 09, 2011
Sunday, October 21, 2007
Menanggalkan ‘status mahasiswa’
Dalam dualisme pola pandang tersebut, kehidupan mahasiswa selalu lebih khas dibandingkan anak SMU yang lebih terkesan ‘ABG’, atau dibanding para karyawan muda yang terpaksa harus dimasukan dalam bagian ‘mapan’.
Sebagai bagian kaum terpelajar, mahasiswa sering menyebut dirinya bagian dari gerakan moral masyarakat, yang non kepentingan kecuali kepentingan rakyat. Sebagai pembela rakyat atau setidak-tidaknya mempunyai nurani kerakyatan. Hal ini tentu tak bisa dilepaskan dalam kehidupan harian mahasiswa sendiri yang penuh ‘perjuangan’. Mulai dari tempat tinggal (idiom dengan anak kost), makanan ‘secukupnya’, atau setidaknya pola pikir yang ingin hemat sehemat-hematnya.
Namun dengan dualisme ini pula sebenarnya mahasiswa menjadi pembatas, perekat atau bahkan penghubung antara golongan ‘atas’ dengan ‘bawah’. Percaya atau tidak, status mahasiswa menjadikannya mudah diterima dimana dia pergi. Mulai dari Gedung DPR hingga perumahan kolong jembatan. Dengan status itu pula, yang seringkali digunakan untuk tetap mendapatkan ‘harga pelajar’ saat menggunakan sarana umum, seperti trasnportasi yang biasa terjadi di Jogjakarta.
Oleh karenanya, status mahasiswa bisa dikatakan sebagai status fleksibel. Saat dibutuhkan untuk naik dalam ‘strata atas’,maka ia pun bisa dengan leluasa melakukannya. Apalagi bila untuk merakyat bersama ‘strata bawah’, maka mahasiswa bisa seolah menjadi ‘dewa’ yang peduli akar rumput.
Status itu juga percaya atau tidak juga mempengaruhi pola pikir, pembangunan karakter bahkan hingga perilaku. Karena mahasiswa itu fleksibel, cenderung bebas,maka para mahasiswa pun cenderung ‘seenaknya sendiri’ dengan kurang melihat situasi, atau dalam bahasa halusnya ekspresif.
Dalam proses pendidikan di perguruan tinggi, hal itu tentu saja sangat baik untuk menumbuh-kembangkan kreatifitas dan keberanian menembus kejumudan. Namun dalam kehidupan pasca kampus, tidak semua ‘hal ekspresif’ itu bisa tetap dipelihara karena harus lebih melihat kondisi lingkungannya.
***
Saya sendiri mengalami hampir semua masa yang digambarkan diatas dengan cukup. Karena enaknya menggunakan status mahasiswa itu, sempat membuat saya sering memakainya sekalipun gelar sarjana sudah tersematkan.
Saat berbicara dengan sopir mikrolet di Jakarta yang berasal dari Bandung, maka tanpa sengaja ‘status’ itu yang lebih dikedepankan daripada mengatakan sebenarnya saya sudah lulus (saya tidak berbohong, hanya mengatakan bahwa saya kuliahnya di Bandung). Saat dalam perjalanan pun pernah saya lebih nyaman untuk mengatakan ‘kuliahnya di Bandung’ daripada jujur mengakui bahwasanya saya seorang karyawan.
Hingga sekarang, satu tahun selesainya status mahasiswa itu, akhirnya saya harus memutuskan untuk berusaha menanggalkan ‘status’ itu. Bukannya saya tidak ingin berlama-lama dengan status yang menjadikan saya bisa lebih fleksibel, namun semata-mata karena ada beberapa hal ‘paradigma mahasiswa’ yang tidak sesuai diterapkan di lingkungan baru (baca: kerja) saya.
Gaya ‘bebas’ versi mahasiswa harus dibenturkan dengan office-netiket. Budaya ‘ekspresif’ khas mahasisawa harus berhadapan dengan sopan santun. Mulai baju yang rapi dengan kancing kerah terpasang jika ada hingga budaya makan di acara bersama. Dari sikap bicara asertif dengan orang hingga cara mengajukan pertanyaan. Ada baiknya karena harus mulai berbudaya ‘beradab’. Tapi tetap saja, selalu ingin sebagian karakter mahasiswa yang dipertahankan.
Mungkin salah satu fase adaptasi yang sederhana adalah dengan lebih jujur mengatakan status pekerjaan saat bertemu dengan orang, dalam perjalanan atau di transportasi umum. Dan mulai sekarang, semoga saya bisa melakukannya, mengatakan sejelasnya bahwa sudah bekerja, saya adalah karyawan di sebuah perusahaan swasta. Dengan begitu setidaknya saya ‘tidak berdusta’ (sekalipun sulit juga untuk dikatakan ‘jujur’).
Dan tidak lupa dengan mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya sudah berpenghasilan. Bukan untuk apa-apa, hanya menyakinkan diri sendiri sehingga 'mental mahasiswa' yang selalu mengharapkan gratisan itu mulai berubah. Namun bukan berarti pula semua harus diukur dengan materi. Hanya semoga dengan kesadaran sudah berpenghasilan itu, ada lebih kesadaran untuk berbagi dan berpikir dewasa.
Lalu mengenai beberapa pola hidup harian yang masih ingin menggunakan ‘pola dan gaya mahasiswa’, saya tak perlu lelah memikirkannya. Saya menikmati hidup yang seperti ini, yang bisa ‘ke atas’ tapi juga bisa ‘ke bawah’. Saya hanya berusaha untuk wajar, tidak berlebihan. Karena bukankah hidup itu sendiri adalah naik-turun yang kita sendiri tak pernah bisa memprediksinya? Hidup bersahaja, mungkin itu kuncinya.
Note:
Karena si empunya harus ke field di daerah Sumatera Selatan, maka selama 3 minggu blog ini akan hiatus. Silahkan menikmati blog sederhana ini. Do’akan baik-baik saja, terima kasih.
Monday, July 23, 2007
Dua Kutub Teknik Industri
Teknik Industri (TI) pertama di buka di Indonesia tahun 1971 di ITB. Sejarah TI ITB tidak bisa dilepaskan dari sub-jurusan teknik produksi, teknik mesin. Sehingga, manajemen produksi adalah cikal bakal TI di indonesia dan juga konon di MIT.
Lalu, jika dulu berasal dari Teknik Mesin (MS) dan sekarang di Teknik Mesin masih terdapat pula sub-jur teknik produksi, maka dimana posisi TI saat ini?
TI sendiri banyak berkembang justru dengan ‘melepaskan’ diri dari MS. Secara pengertian, Industrial Engineering is concerned with the design, improvement and installation of integrated systems of people, material, information, equipment and energy. It draws upon specialized knowledge and skills in the mathematical, physical and social sciences together with principles and methods of engineering analysis and design to specify, predict and evaluate the results to be obtained from such systems (sumber: IIE).
Sebagai pendidikan TI tertua di Indonesia, Teknik Industri ITB sekarang terbagi dalam tiga Kelompok Keahlian (KK): Sistem Manufaktur, Manajemen Industri, Sistem Industri dan Tekno-Ekonomi.
Sistem Manufaktur (SM), adalah kelompok keahlian yang ‘menjaga’ asal muasal TI sebagai teknik produksi-nya mesin. Maka, SM berkutat dengan design dan menajemen sistem shopfloor semisal MRP (Manufacture Resource Planning), proses dan sistem manufaktur. Yang membedakan SM dengan Tekprod MS adalah bahwa sudut pandang TI dalam manufaktur sesuai dengan definisi TI, an integral system.
Manajemen Industri (MI), bidang kelompok keahlian yang berada lebih pada level manajemen, bukan ‘shopfloor’ seperti halnya SM. Bidangnya sangat beragam mulai manajemen yang ‘berbau’ engineering semisal finance atau project management hingga manajemen yang juga dipelajari oleh Jurusan Manajemen (Sosial) semisal SDM, marketing atau organisasi.
Sistem Industri dan Tekno-Ekonomi (SITE), bisa diibaratkan sebuah bidang keahlian diantara shopfloor dan manajemen. Bidang ini identik mathematical-approach, misalnya statistik, operational research (macam teori transportasi, supply chain dll) serta yang terbaru financial enginering. Karena termasuk sangat kuat di bagian matematis, maka banyak mahasiswa yang memilih SITE adalah orang ‘pintar’ (saya lebih suka menyebutnya ‘orang akademis’).
Selain tiga KK diatas, ada juga dulu sebenarnya ‘dua KK’ lainnya (yang dulu berdasarkan Lab), yaitu Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi (PSKE) dan Sistem Informasi dan Keputusan (SIK). Dengan kebijakan 3 KK, maka PSKE masuk ke MI dan SIK masuk ke SITE.
Jika anda jeli, maka ‘dua KK’ diatas sebenarnya memang berbeda dibanding tiga lainnya. Masing-masing KK sebenarnya customized. Maka perubahan menjadi tiga KK bukan hanya karena dekat-tidaknya sebuah bidang dengan bidang lain tapi juga ‘kedekatan personal’ dan ‘ego ilmu’ lah yang akhirnya bicara. Dan bila sudah masuk ke ‘urusan dalam’, kurang etis bila dibicarakan disini.
***
Setelah proses pendidikan di kampus, maka di ‘dunia riil’ seorang industrial engineer secara umum akan dihadapkan pada dua kutub TI yang harus dipilih, hard atau soft TI. Dari pembahasan diatas, hard lebih ke arah engineering yang dalam hal ini menufaktur, design atau shopfloor. Misalnya, bekerja sebagai PPC (Planning and Production Control) atau quality staff di perusahaan manufaktur, atau pekerjaan yang dikesankan ‘keras’ yaitu di pabrik.
Sedangkan soft mengarahkan pada manajemen yang belantara-nya ‘relatif’ sangat luas dan dikesankan ‘lunak’. Mulai dari officer di bank atau policy management di konsultan.
Pun sebenarnya, pembagian itu kurang fair mengingat ada beberapa bagian TI yang tidak bisa dipisahkan menjadi dua kutub begitu saja. Bagaimana dengan seorang project engineer di perusahaan minyak misalnya, yang harus ke lapangan (‘keras’) tapi kerjaanya ‘lunak’. Namun, sekali lagi pembagian itu lebih ke arah generalisasi yang memudahkan saja, antara shopfloor dan manajemen. Dan project engineer tadi, tetap dimasukan ke ranah manajemen.
Dua kutub manufaktur-manajemen ini jugalah yang konon membidani lahirnya Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) ITB. Katanya, jika dulu TI tidak memberikan ‘restu’, maka SBM urung ada. Entah benar tidak, yang jelas SBM sekarang memang banyak digawangi dosen-dosen ‘ex-TI’, khususnya bidang manajemen.
Tentu saja, ini lagi-lagi ada hubungannya dengan ‘kecenderungan kebijakan’ TI ITB pasca 2000 untuk lebih ke manufaktur. Tapi tenang, sekalipun sejak tingkat I hingga IV mahasiswa TI lebih ke arah pendekatan manufaktur, tapi di tingkat IV (dan Tugas Akhir pastinya) banyak sekali daftar mata kuliah pilihan TI bidang manajemen yang leluasa dipilih.
***
Jika kemudian ada sebuah selentingan (atau pembunuhan karakter karena rasa iri?) yang menyebutkan bahwa TI itu tidak jelas, mempelajari semua ilmu ‘dasar’ engineering (mesin, elektro, informatika, material) dan manajemen juga, maka sebenarnya ada juga ilmu-ilmu ‘khas’ TI semisal ergonomi, operational research, rekayasa kualitas atau project management. Dan itulah salah satu ‘kelebihan’ TI yang justru tidak dimiliki oleh bidang non-TI yang langsung spesifik.
Pun bila dikaitkan ‘fakta’ dunia kerja bahwa lulusan S1 itu lebih membentuk paradigma daripada keahlian dan ilmu kuliah yang digunakan di dunia kerja ‘tidak seluruhnya’, maka TI bisa menjadi ‘peletak paradigma’ yang kesempatan selanjutnya masih terbuka. Seorang sarjana TI sesuai minatnya, bisa saja memilih menekuni bidang IT, manafaktur, manajemen atau entrepreneur, dan karena konsep TI yang integral, maka seorang industrial engineer lebih mempunyai nilai lebih karena mempunyai ‘cakupan lebih luas’. Sebagai contoh katanya, sebuah employer akan lebih memilih TI untuk posisi manajemen daripada yang ‘asli’ dari bidang manajemen sendiri.
Maka, seorang TI ibarat gelas yang baru terisi setengah air dan masih terbuka. Kemudian, kesempatan terbuka untuk mengisi setengah-nya lagi dengan bidang yang diminati. Seorang guru besar TI, mengibaratkannya TI adalah ketan yang bisa diubah lebih lanjut menjadi beragam macam jenis makanan.
Salah satu kelemahan TI pastinya, karena ‘pengetahuan kulit’ yang tidak spesifik ke bidang tertentu. Ini harus diakui, juga karena konsep integral itu sendiri. Bila ini tak bisa diimbangi oleh semangat belajar lagi (terus menerus) yang kuat dan keberanian memilih bidang yang mau ditekuni, maka kebingungan mulai menjemput saat di tahun-tahun akhir kuliah.
Bidang TI juga bukan merupakan keilmuan dengan spesifikasi keahlian, semisal elektro, sipil atau bahkan kedokteran. TI seolah 'mengkombinasikan' engineering dengan management. Jadi, pertimbangan masuk TI untuk mendapatkan 'skill khusus' engineering seperti halnya teknik-teknik lainnya jelas salah.
'Kelemahan' lain yang akhir-akhir ini muncul terutama di TI ITB adalah kebijakan mahasiswa baru pada angka lebih dari 200 di tahun ajaran 2006/2007, lebih dari dua kali lipat dibanding 'galur murni' terakhir SPMB 2002. Saya tidak tahu atas dasar apa ‘pengambil kebijakan’ memutuskan tersebut. Apakah ini karena prinsip semata ekonomi, misal melihat demand tinggi karena profil alumni TI mempunyai nilai tambah tinggi dari sudut pandang investasi pendidikan? Atau mungkin karena (lagi-lagi) tentang ‘ego’ akibat ‘jurusan lain’ yang semakin eksis?
***
Satu lagi yang seharusnya dipunyai oleh seorang TI, yaitu leadership (dan semua softskills yang menyertainya). Semua sarjana-profesional memang membutuhkannya, tapi dengan ‘konsep integral’-nya maka seorang TI yang katanya identik dengan manajer jelas-jelas lebih sangat membutuhkan leadership untuk bisa menjadi the real integrator.
Akhirnya, sekalipun saya bukan alumni ‘senior’ setidaknya saya ingin berbagi buat adik-adik TI yang masih di kampus, manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk memperkuat sub-bidang TI yang diminati dan asah softskills untuk lebih mempertajamnya. Bukan IP sangat tinggi yang menjadi kunci sukses di dunia pasca kampus, tapi benar-benar konsep integral (dengan softskills) dan continous learning yang menjadi kekuatan TI.
Serta buat teman-teman seperjuangan yang baru saja wisuda*, angka pengangguran terbuka 2007 sebesar 10,55 juta mudah-mudahan tidak bertambah di akhir tahun. Semoga menjadi profil almuni ITB yang baik. Dan Indonesia, membutuhkan orang-orang yang bisa berpikir integral dan sistemik, sangat dekat dengan apa yang kita geluti selama ini: Teknik Industri.
Tuesday, August 22, 2006
rumah kami
Dulu, kami sempat memberikan nama, Acapela. Kenapa? Karena beberapa orang dari 5 orang yang tinggal disitu suka menyanyikan sebuah genre lagu dengan acapela, mengandalkan kombinasi bunyi suara. Lalu ada yang menyebut pondok derita. Tidak tahu, apa maksud pondok derita itu.Sudah 3 tahun, rumah ini kami sewa sejak 1 September 2003 dan akan menyewa lagi di tahun ke-4 ini. Aku sendiri menempatinya hanya 4 bulan diawal, karena pindah ke PPSDMS. Lalu berganti-ganti orang yang masuk disana, tapi 4 orang penghuni selalu tetap.
Rumah ini bersejarah bagi ”kami”, tidak hanya penghuninya. Di rumah ini, proses transformasi beberapa manusia yang berniat menjadi baik dimulai. Dan sekarang, beberapa manusia yang lebih muda pun memulainya di tempat ini.
Di rumah ini, sekelompok orang pernah menangis bersama, karena tidak adanya perubahan signifikan yang kami lakukan di tengah kejahiliyahan yang langsung atau tidak langsung, kami terlibat disana. Padahal sebelumnya, kami masih sempat menonton Passion of Christ bersama-sama.
Di rumah ini, bahasan dan perdebatan tentang masa depan aktivitas di antara kami dibahas oleh kami sendiri, bukan para dewa. Apakah harus menjadi ketua organisasi, ketua panitia atau kemajuan adik-adik, dan langkah-langkah yang bisa dilakukan. Walaupun dimulai dan diakhiri dengan khusyu, selalu saja ada canda dan tawa (serta ”hinaan”) yang tak bisa kami hindarkan.
Di rumah ini, sebuah aktivitas persiapan menuju cita-cita pernah bersama dilakukan. Sebagai ruang diskusi, sekaligus gudang. Menjadi bengkel intelektual, sekaligus bengkel perkakas. Tentang intelektual, pernah teman tetangga rumah memberi julukan kawasan kami, KISS (Kawasan Intelektual Sedang Serang).
Di rumah ini, kesepakatan tak terrtulis menyebutkan wanita (bukan muhrim) dilarang masuk. Tapi tetap saja, dengan alasan tugas atau apa (emang apa ya?), semua kamar pernah dimasuki oleh wanita. Tapi itu dulu.
Penghuni dan ”kami” memang khas. Jangan heran dengan suara gitar, musik masa kini, film terbaru, atau shubuh yang kesiangan (agak mending sekarang). Tapi, membaca Al-Qur’an atau berjuang keras sedikit-sedikit menghafalnya, sholat malam (walaupun beberapanya sebelum tidur, karena sangat malam) atau puasa senin-kamis.
Hidup memang dinamika, hitam, putih dan warna-warna lainnya. Kalau menurut Nabi, mungkin kami akan masuk orang syahid tingkat tiga, orang yang beriman baik dan masih mencampuradukan kebaikan-keburukan, tapi saat agama membutuhkan, siap membela.
Kalau anda sempat, mampirlah atau sekedar lewat di depannya. Tengoklah manusia-manusia penganut paham brunch -breakfast and lunch- (baca: bawa makanan). Jangan lewatkan untuk Ashar di masjid Muhajirin, masjid dekat rumah. Terutama hari senin-kamis, dan bersiaplah 20an adik-adik kecil kita berebutan mencium tangan kita setelah sholat.
----
buat ganda, kapan kita "bertukar rumah"?
Thursday, November 24, 2005
perpustakaan
tapi memang bukan tanpa sebab manusia melakukan sesuatu, pun dengan aktivitas baru-ku ini.ke perpus karena ingin melihat dokumen TA-TA yang sangat banyak (apakah berguna selain bagi adik2nya, TA-TA yang berharga itu?). aku ingin menemukan sebuah pemecahan masalah yang diberikan oleh seseorang, tentunya berhubungan dengan kuliah atau mungkin rencana TA juga.
bukanya tugas2 lainya yang harus dikerjakan lebih banyak? yang aktivitas organisasi kampus, kuliah, setelah sampai di rumah bukanya istirahat (pengertian versi belajar), tapi juga "dihajar" oleh aktivitas lagi...
tapi konon, emang orang2 yang sibuk yang bisa membagi9 waktu dengan baik.ah..waktu, ini yang menjadikan manusia satu berbeda dengan manusia lainya.24 jam bagi orang Hittler berbeda dengan 24 jam bagi Sharapova. dan sekarang pun, aku masih ngerasa "time waster", karena masih bisa tidur abis shubuh.
kembali ke perpus, tempat ini ternyata nyaman juga.setiap kesini dan baca buku (TA lebih pas), langsung aja ngantuk, dan les...tidur sejenak. ya sejenak saja, 5 menit kemudian bangun dan lebih seger. kalo di perpus pusat itb, lebih lama kali ya? pantesan katanya banyak yang mojok disana, apalagi di lantai 4 (jadi penasaran...).perpus ternyata emang tempat yang [masih] nyaman, ehm enaknya jadi mahasiswa "beneran".
Saturday, November 19, 2005
kemahasiswaan yang bertanya...
berjuang bersama..
itulah sekelumit syair lagu yang diubah sesuai dengan zamannya, atau konteksnya. berbicara tentang konteks atau wadah, adalah berbicara tentang ruang dan waktu. masa ini berbeda dengan dulu dan sekarang berbeda dengan masa datang.ketika semua terjalin dalam tali zaman, maka pisau analisis yang digunakan untuk memutusnyapun harus disesuaikan dengan ukuran dan karakteristik tali yang terjalin.
sekarang, dalam konteks kekinian manusia seperti memiliki sedikit waktu. karena mereka sudah tidak ada waktu lagi untuk berbagi, bersama atau sekedar bertegur sapa. dunia sekarang sepsrti dunia tanpa gerak, sedikit tapi pasti manusia sudah tidak menganggap pertemuan sebagai satu-satunya jalinan hubungan personal.
ketika waktu sudah menjadi barang pribadi yang tidak seorang lainya berhak mengambil darinya, maka semua jadinya diukur dengan ada/tidak nilai tambah bagi si pemilik waktu (manusia tsb).lalu, manusia yang tidak pernah menjaga waktunya, akan tergilas dengan roda zaman yang menerjang tanpa batas tanpa disadari olehnya.
akhirnya, kemana larinya kepedulian? kemana larinya kekeluargaan? semuanya tak bisa ditemukan lagi, karena kepedulian, kebersamaan, kekeluargaan tenggelam dalam busa kepentingan yang semakin tinggi. lalu manusia bertanya heran dalam hatinya, "sebenarnya apa sih yang kita dapatkan?"
Friday, October 14, 2005
ngapain ya?
tapi emang benar2 males mau bikin tugas...(PLO!!!).kata teman sebelah sekarang banget...mending jadi orang yang terakhir, lebih cerdas dengan meniru.tapi itu bukan alasan kenapa males PLO.
oiya..bukanya masih ada kewajiban nulis untuk SOC. ttg mudik, ntar kalo udah jadi di tampilin di blog deh...buat konsumsi kita semua. [bingung trus.....?]
selamat malam aja........(00.28)
Sunday, August 21, 2005
...selamat kuliah!
Saturday, June 18, 2005
tentang kasus himafi menurut ku
(Himpunan Mahasiswa Fisika) kepada teman2 himpunan dan Kabinet KM ITB.
masalah yang akan menjadi agenda adalah tentang sanksi skorsing yang akan
dijatuhkan pihak rektorat kepada dua rekan Himafi. masalahnya adalah tentang
kekerasan dalam proses penerimaan anggota baru yang dikenal dengan OS.
taruhlah mekanisme sidang yang menurut kita adil tidak dilakukan dan itu
mempengaruhi keputusan.tapi menurut saya, kita harus memisahkan dari dua
sisi. menkaisme sidang dan kasusnya itu sendiri.
semua yang hadir (ada HMGM, HME, HMP, IMG, IMAG, HMIF, HMM, HMS dan KM)
sepakat bahwa mekanisme memang salah dan akan diperbaiki bersama. itu bisa
dilakukan dengan kita berparadigma ke depan. jika kita berpikir kembali pada
kasus himafi, maka kasusnya sendiri yang akan kita hadapi.
saya tidak akan menilai kasusnya seperti apa. yang jelas pertama, persepsi
yang diterima oleh 2004 terhadap kegiatan itu, tidak bisa dipaksakan oleh
kita sebagai orang yang mengetahui "di balik" apa yang kita diberikan. tidak
bisa dikatakan bahwa persepsi mereka salah, orang itu adalah urusan otak
mereka. jadi, mereka (2004) berhak memiliki persepsi, dan itu tidak bisa
dipaksakan. jika dipaksakan, kemana larinya slogan "manusia dewasa" yang kita
usung?
kedua, bahwa belajar adalah kebutuhan bagia manusia dan mungkin lebih khusus
lagi kewajiban yang harus dilakukan sebagai insan akademis. disinilah, kita
pembelajaran yang kita lakukan bersama terhadap kasus2 serupa yang pernah
menimpa kawan2 HMD lain (pun Himafi) belum kita lakukan dengan baik.dan
sekali lagi, kemana perginya konsep "manusia pembelajar" yang juga kita
junjung dalam kaderisasi itu sendiri?
Ok, mungkin kita adalah mahasiswa dengan segala dinamika yang ada. kita pun
telah dewasa yang juga tidak gampang dipaksa oleh aturan2 mengikat. hematnya,
kedua hal diatas yang kita sering lalaikan juga.
jadi, sepakat bahwa mekanisme yang akan diperbaiki. bagaimana dengan kasus
jika mekanisme "yang benar" diulangi? jika berpikir taktis, selamatkan dua
teman kita, itu saja cukup. tidak perlu nanya gimana caranya.. karena itu
tinggal urusan setia kawan kita. dan mengenai mekanisme, kita bersudut
pandangnya ke depan.
terakhir, kita bisa menjadi manusia pembelajar yang bebas
salam
Friday, June 10, 2005
[R]evolusi dari kami...
Mungkin orang melihat, tidak ada yang istimewa dengan perubahan itu. Tapi kami sendiri punya sebuah cita-cita besar atas perubahan itu. Seperti halnya sebuah produk dengan “warna baru” yang dilemparkan ke pasar oleh pembuatnya, kami melihat bahwa perubahan nama tersebut sebagai bentuk citra baru yang ingin dibangun sebagai dasar dari keberjalanan kami sendiri.
Mengapa kami berpandangan seperti itu? Karena Kabinet KM yang sekarang terbentuk memilki visi agung untuk kembali menghadirkan KM di tengah-tengah mahasiswa ITB. Dan secara organisasi, tugas itu banyak berada di wilayah kami.
Hal itu yang kemudian membuat kami berpikir keras untuk membuat racikan khusus sehingga kami sendiri (Kominfo) menjadi sebuah penggagas dan pembuat ‘produk’ yang mampu membuat jarak KM dan mahasiswa semakin dekat.
Karena kami juga tahu, bahwa tugas yang sama pernah diemban oleh satu Departemen Kabinet KM tahun sebelumnya. Dengan berbagai pelajaran dan pengalaman yang kami dapat, kami memulainya dengan bermetamorfose menjadi Kominfo. Dari itu, kami telah membuat semacam lompatan kesadaran. Yang menjadikan kami seolah-olah orang baru dengan jiwa, semangat dan pikiran baru pula.
Perubahan ini yang kami harapkan menjadikan kawan pembaca penasaran tentang “ruh” baru apa yang akan kami bawa. Persepsi yang selama ini ada tentang kabinet dan KM tergugah kembali untuk melihat ada apa di balik ini semua.
Konsekuansinya bagi kami, persepsi yang harus sekuatnya kami pertahankan dengan tidak hanya menyertakan diri dalam keakraban kita di acara dan kegiatan, tapi juga hadir langsung di tengah-tengah seluruh kawan pembaca kampus ini.
Mungkin kami masih menggunakan label-label yang lama untuk hadir bersama kawan pembaca. Kawan-kawan akan menjumpai Infocus dan Soul of Campus (SOC), atau program-program kami yang mirip dengan kemarin. Untuk kali ini kami berpendangan, perubahan besar tidak dengan merubah tatanan yang telah terbangun. Dan label media diatas, bukan hanya menjadi sekedar suara KM, tapi juga merupakan spirit kampus itu sendiri yang telah ikut mewarnai kita akhir-akhir ini.
Hanya untuk sebuah nama, kami cukup melakukannya di sumber dan intinya, bukan di depan yang langsung berinteraksi dengan pembaca sekalian. Semoga pertimbangan yang kami lakukan tidak salah. Tuntutan untuk selalu hadir di tengah dinamika mahasiswa yang membuat kami mengambil keputusan itu. Kami khawatir, kami terlena dalam membangun sebuah brand, daripada melayani kawan-kawan pembaca sendiri.
Dan semangat yang kami utarakan di awal kami ejawantahkan dengan bahasa media yang mulai ada di tangan pembaca saat ini. Media yang mencoba merakyat dengan bahasa dan tampilan yang renyah serta enak untuk dikonsumsi. Media ini pula yang menjadi ujung tombak penyamaan persepsi mahasiswa tentang KM. Mengingat bertebarannya ragam media dari kabinet yang biasa membanjiri ruang kampus kampus kita.
Secara jujur kami akui, bahwa kami memang pada dasarnya adalah media “pemerintah” layaknya sebuah TVRI atau RRI. Tapi sekali lagi, kami telah dan sedang bertransformasi diri. Kami mencoba tidak hanya menjadi media kehumasan yang menyajikan pandangan dari satu sumber (KM), kemudian diolah, diedit untuk menjadi sajian berita seakan-akan kami telah melakukan tugas kami. Karena kami ingin kawan pembaca juga menjadi obyek aktif yang manjadi sarana kami (dan kabinet) berkaca diri dan berbenah pula tentunya. Dan mungkin juga, perbaikan atas kampus dan bangsa ini berasal dari kawan pembaca semuanya.
Disinilah ternyata, yang menjadai tantangan bagi kami. Satu telah coba kami lakukan, adanya forum sms yang akan tampilkan setiap edisi infocus. Selain itu, pertisipasi yang besar kami harapkan bisa pembaca lakukan media SOC kita.
Kami ingin juga tidak hanya menjadi media kehumasan, tapi juga media kampus yang ikut aktif dalam kedinamisasiannya. Harapan besar yang ingin kami usung bersama dengan media-media kampus lain yang telah eksis.
Semuanya kami lakukan karena kami berusaha tidak sekedar menghadirkan jurnalisme fakta, yang hanya menyajikan reportase, program, opini dan banyak menu lainya. Kami ingin pula menyajikan jurnalisme makna, yang mampu menguraikan hubungan antar pelbagai kejadian dan menjadi katalis semangat kemahiswaan di kampus ganesha tercinta.
Disinilah, tugas kami menjadi semakin berat. Seperti kalimat seorang wartawan Far Eastern Economic Review, Susuma Awanohara, “Bung, pekerjaan ini terlalu berat, kalau kami tidak bergelar Phd, kami tidak sanggup melakukannya” . Apalagi kami yang baru memulai transformasi. Terlalu besar cita-cita, tapi kami berani dan berkeinginan kuat. Mungkin sampai waktunya nanti, kami sendiri yang menyerah atau yang akan memetik hasil atas apa yang kami tanamkan. Belum tahun depan mungkin, karena pekerjaan menulis adalah pekerjaan mengabadikan sejarah.
Terakhir, kami sangat berharap kawan pembaca menyadari keterbatasan kami. Oleh karenanya, dukungan dan (tentunya) do’a adalah dua hal yang kami harapkan mengiringi langkah kami. Mari satu persatu kita susun batu bata kehidupan, demi kemajuan kita bersama di masa yang akan datang. Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater.... [3an]
*
Tulisan ini khusus untuk buletin Soul of Campus edisi perdana Kabinet KM ITB 05-06 (Juni 2005)
Monday, May 30, 2005
Melihat (kembali) Peran Kampus
Hanya perubahan sendiri yang tidak berubah
Perubahan sudah menjadi hukum alam di dunia ini. Sejak kecil sampai sekarang, kita sudah melalui banyak mengalami dan melihat perubahan-perubahan yang tampak maupun tak tampak. Bangsa inipun terbukti telah melakukan banyak transformasi struktural dan kultural seiiring zaman berlalu.
Tidak selamanya perubahan terjadi secara perlahan dan dalam waktu lama. Perubahan revolusioner pernah terjadi di muka bumi ini. Walaupun perubahan yng seperti itu lebih dekat kepada pertumpahan darah dan air mata. Setidaknya, melakukan perubahan besar dalam waktu cepat membutuhkan lebih banyak keberanian dan pengorbanan. Merubah kebiasaan adalah salah satunya.
Kebiasan dibentuk oleh tindakan yang berulang. Tindakan sendiri ditentukan oleh kemauan untuk melakukannya. Sebelumnya, pada tahap keyakinan seseorang meletakkan kerangka kemauannya. Sedangkan kebiasaan kontinu akan membangun karakter yang menghati dalam diri seseorang. Proses ini masih harus dibingkai dengan baik/tidak baik tindakan yang dilakukannya.
Dan masyarakat kita tampaknya belum memahami alur pemahaman seperti diatas. Seringkali permasalahan kecil dan singkat diremehkan, sehingga menjadikannya suatu karakter bersama di kemudian harinya. Euforia perubahan bangsa bukannya di jadikan momentum melakukan transformasi, tapi sebagai dalih kemerdekaan dalam bertingkah laku menurut persepsinya.
Fenomena tersebut ternyata terjadi hampir di seluruh kehidupan masyarakat, termasuk lingkungaan akademis (kampus). Banyak hal-hal baik saat pra-mahasiswa hilang hanya beberapa bulan setelah menyandang status mahasiswa. Perubahan menuju sesuatu hal yang pragmatis terjadi dalam tempo relatif cepat. Nilai-nilai universal seperti kemanusiaan dan kebangsaan harus tertatih-tatih menghadapi benturan budaya baru yang tidak semuanya baik. Lebih fatalnya, perubahan itu tidak hanya terjadi dalam tingkatan tindakan semata. Tapi jauh lebih dalam, masuk ke bagian visi hidupnya.
Sungguh ironis menyaksikan kampus yang (seharusnya) menjadi lumbung nilai-nilai universal, harus menyelenggarakan pendidikan yang tidak “memanusiakan manusia” itu sendiri. Manusia kampus dituntut untuk mengedepankan intelektualitas dalam setiap tindakan ilmiahnya, tapi ternyata melupakan sudut pandang sosial yang menjadi ruang tempat menerapkan ilmunya kelak.
Penguasan ilmu pengetahun dan teknologi (Iptek) menjadi parameter kesuksesan kampus. Sumber daya disalurkan sepenuhnya untuk menuju kampus masa depan sarat sains dan teknologi. Motivasi untuk meneliti dan mengembangkan iptek menjadi misi pendidikan yang dicanangkannya. Dampaknya adalah lingkungan kampus yang berorientasi pada kemampuan menguasai iptek setinggi-tingginya.
Perubahan paradigma yang dianut kampus-kampus tidak terlepas dengan tren dunia mutakhir. Gempuran globalisasi menuntut kampus untuk berbenah. Tuntutan industrialisasi sebagai salah satu syarat globalisasi ikut mempengaruhi arah pendidikan kita. Kurikulum dibuat untuk memenuhi kebutuhan pasar terhadap lulusan kampus. Jangan heran, bila kampus “sedikit” bergeser fungsinya menjadi pencetak sekrup-sekrup industri global karena parameter kemajuan suatu negara banyak dilihat dari perkembangan industrinya.
Fenomena “sekrup-sekrup globalisasi” ini mungkin bisa dilihat dengan survey Koran Kampus ITB yang diterbitkan februari 2003 terhadap 156 mahasiswa ITB bahwa 45% responden ingin bekerja di perusahan swasta, 18% menjadi wiraswasta, 13% menjadi dosen dan peneliti, 11% sekolah lagi, 4% aktif di LSM, 4% bekerja di pemerintahan dan 5% tidak tahu. Dari responden yang ingin bekerja pada perusahaan swsata, 73% ingin di perusahaan luar negeri dan hanya 27% yang menginginkan perusahaan domestik. Gejala apakah ini?
Sementara itu realita penguasan iptek di masyarakat kontras dengan kehidupan kampus. Masyarakat hanya dibiasakan untuk menjadi konsumen produk iptek, bukan sebagai penyumbang pengembangan iptek. Wajar bila kesan yang ditimbulkan bahwa teknologi itu adalah sesuatu yang sulit, meskipun akhir-akhir ini masyarakat kita familiar dengan produk-produk iptek.
Perkembangan teknologi kerakyatan (dalam hal ini direpresentasikan teknologi tepat guna) masih kalah jauh dengan perkembangan teknologi tinggi seperti IT dan nuklir. Selain kurang kondusifnya kebijakan terhadap industri berbasis teknologi kerakyatan, patut kita pertanyakan selama ini peran “inkubator iptek” yang menyebar di negeri ini. Institusi (baca :pergurusann tinggi) yang menyandang tiga tugas mulia sekaligus dalam perjalanannya yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Bukan suatu kesalahan bila masyarakat begitu berharap peran besar perguruan tinggi dalam mengembangkan teknologi sebagai penggerak usahanya.
Akhirnya, kesan yang ditimbulkan oleh teknologi kerakyatan adalah teknologi yang underdevelopment. Padahal, konon sentra industri / usaha kecil menengah (UKM) sebagai pemakai TTG tidak rentan dengan badai krisis multidimensi. Dan kemampuan menyerap tenaga kerja menjadi ujung tombak mengurangi permasalahan pengangguran indonesia. Keberadaanya yang meluas sampai pelosok negeri menjadi kelebihan sentra ini bila digunakan sebagai salah satu penopang perkembangan ekonomi nasional kita.
Dengan melihat kemampuan UKM diatas, perguruan tinggi yang banyak terdapat juga di kota-kota indonesia diharapkan perannya. Mungkin tidak semata karena pemerataan pendidikan saja, perguruan tinggi secara geoekonomi mendukung perannya dalam pengabdian masyarakat. Tidak serta merta salah, bila perguruan tinggi berorientasi pada kemampuan penguasan iptek setinggi-tingginya, dengan berperan besar dalam mengembangkan industrialisasi dengan dalih mengembangkan perekonomian. Namun kita harus cukup punya rasa “tahu diri” terhadap realita di masyarakat.
Masyarakat tidak akan meminta perguruan tinggi untuk membina dan mendampinginya secara terus menerus. Tidak juga meminta balas budi atas peran serta masyarakat langsung-tidak langsung dalam sejarah pendidikan. Toh, bila kemudian perguruan tinggi menganggap sebelah mata harapan mulia ini, masyarakat tidak akan berkeinginan untuk menuntutnya.
Seperti apa yang bisa dilakukan perguruan tinggi? Atau mencoba melihat dari sisi lain, bentuk peran perguruan tinggi yang diharapkan masyarakat. Yang harus dijadikan acuan awal adalah, perguruan diri harus memposisikan diri sebagai pendamping bukan pembimbing yang mengarahkan gerak UKM.
Menyampaikan teknologi harus mempertimbangkan sisi UKM. Penyampaian yang tidak melihat konteksnya akan menenggelamkan teknologi itu sendiri. Karena manusia belajar dari berbagai sisi kehidupan dengan metode yang khas. Ada yang dengan memakai landasan pengalaman dan tidak mau menerima hal-hal baru, namun ada juga yang open minded. Proses identifikasi permasalahan UKM harus juga memperhatikan konteks. Pemaksaan penerapan teknologi atas nama kemajuan malah bisa menurunkan efektifitas dan efisisensi usahanya. Contohnya penerapan Sistem Informasi Manajemen (SIM) kurang tepat bila digunakan di usaha menengah pengemasan susu murni. Mungkin dengan menerapkan prinsip-prinsip kaizen akan lebih sesuai.
Hal yang demikian inilah yang kurang dipahamai oleh kita dalam membantu UKM. Dengan keinginan membangkitkan semangat “Aufklarung” revolusi industri, kita gegabah memaksakan penerapan teknologi disana-sini dengan berlagak sebagai pembimbing (pahlawan) UKM. Jangan berharap, kita akan bertahan lama dalam usaha pengabdian masyarakat. Alih-alih yang ditanamkan adalah phobia terhadap semua bentuk bantuan teknologi yang diberikan kepada mereka ke depannya.
Dengan memahami konteks identifikasi itulah, baru kemudian kita bisa menggunakan metode kolaborasi iptek dan budaya masyarakat untuk membantu mengembangkan usahanya. Dengan kuantitas inkubator iptek (baca: universitas) yang menyebar di seluruh wilayah indonesia akan lebih mudah mengkombinasikan iptek dengan karakteristik lokal setempat. Disamping percepatan ekonomi makro yang dicapai, nuansa penelitian dan peran sosial (social role) kampus akan tereksploitasi.
Namun tampaknya, cita-cita diatas masih belum terbangun untuk direalisasikan atau sekedar wacana belaka. Karena paradigma kalangan kampus belum menunjukkan tanda-tanda mengarah kesana. Dan akhirnya, seperti di awal tulisan disampaikan bahwa merubah suatu kebiasaan itu membutuhkan waktu yang tidak singkat. Tidak cukup dengan suatu usaha temporal, tapi usaha yang berkesinmbungan. Apalagi kebiasaan itu menggunakan alasan demi “keberlangsungan hidup” sebagai perisainya. Dan lebih dari itu bila sudah merupakan kultur yang dibangun dalam sistem pendidikan kita, tunggulah saatnya ibu pertiwi meratap sedih karena sempat melahirkan putra-putri terbaik bangsa yang hanya akan menjadi sekrup-sekrup globalisasi masa depan.
Bapak Amerika Serikat, Abraham Lincoln pernah berujar, “Banyak hal yang mungkin datang kepada mereka yang menunggu, tetapi itu hanya hal-hal yang disisakan oleh mereka yang bekerja keras.”
Jika negara lain bisa maju dan mengejar ketertinggalan dengan berbasiskan teknologi kerakyatan, maka dengan keyakinan dan kemauan bersama, kita bisa memulai untuk mewujudkannya. Bukan untuk kita, tapi untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater...
