Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Monday, December 22, 2008

Dari ibu untuk anaknya

Jika kau bisa memilih, tentu kau akan memilih memiliki keluarga yang bahagia selamanya. Lengkap kedua orang tuamu, ibu dan ayahmu, yang mendampingi sepanjang hidupmu. Senantiasa menemani saat-saat kecilmu, dan membimbingmu menemani masa depanmu. Tempat kau bisa pulang setiap saat, ketika hatimu resah atau jiwamu lelah menapaki kerasnya hidup ini.

Itu jika kau bisa memilih. Tapi kau tak bisa memilih nak..! Kau hanya bisa menerima. Itu bukan salahmu, karena setiap orang pun bisa mengalaminya. Jangan pula kau salahkan takdir. Takdir berbicara hanya kepada orang-orang yang pantas menerimanya. Dan kita pantas, kau juga pantas.

Sekarang, sudah dewasa pula kau berumur. Cepat sekali waktu mempermainkan kita. Sudah tak sanggup lagi, ibu menggendongmu ataupun hanya sekedar memelukmu sekuat yang dulu. Layaknya tunas, kau telah tumbuh dengan akar menghujam dalam. Angin sepoi tak membuatmu terlena, angin badai pun tak membuatmu roboh serubuh-rubuhnya.

Kau tahu diri, kapan saat tersenyum, kapan saat tegar, dan kapan saat menangis. Oh..menangis bukan cengeng nak..! Menangis tidak selalu bermakna kesedihan. Itu adalah suara hati paling dalam, paling tulus dan paling sejati. Karena tak semua orang bisa menangis. Saat lahir saja manusia diharuskan menangis. Lalu, kenapa saat besar tak diperbolehkan menangis?

Betapa indahnya, bisa menatap tersenyum. Kau tak perlu datang setiap hari. Menatap fotomu dan membayangkan dirimu sudah cukup mengobati rindu ibumu. Sesekali datang, secepat itu pula kau pergi kembali. Tapi ibu tahu, kau punya kehidupanmu sendiri. Dan pastinya, kau sedang menuju masa depanmu.

Kemudian kau bekerja. Bekerja membuatmu makin dewasa. Tak ada yang lebih membahagiakan seorang ibu melihat anaknya mandiri. Ibu tak pernah meminta banyak dari hasil jerihmu. Tiga ratus, empat, atau lima ratus ribu sudah cukup untuk ibumu. Tentu ini bukan urusan setali, tiga tali uang. Tapi seperti katamu, “aku ingin sedikit membantu beban ibu.” Terima kasih nak..!

Oiya, sekalipun kau sudah punya banyak kaya sendiri. Tetaplah hidup bersahaja. Hidup bersahaja bukan sederhana semata. Sederhana itu harus nak.. jangan kau boroskan hidupmu dengan kesia-siaan. Dan bersahaja itu, adalah mampu membawa diri dimana kita berada. Janganlah kesederhaan membuat susah hidupmu. Hadapilah dengan bersahaja, niscaya kau akan lapang hati dalam menjalani dunia yang makin gemerlap.

Kejarlah apa yang kau cita-citakan dalam hidupmu. Pergilah ke seluruh penjuru dunia jika itu mungkin, lalu lihat dan belajarlah dari sana. Bergaulah dengan beragam jenis orang, maka kau pun akan berhati dan berpikiran luas. Namun, sejauh-jauhnya kau melangkah, ingatlah darimana kau berasal. Dan seberat-beratnya kehidupan, serahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Jangan sekali-kali kau tinggalkan agama sebagai pegangan hidupmu, jika kau ingin selamat.

Dan sebentar lagi, ibu tebak kau pun ingin menggenapkan setengah agamamu. Tidak. Ibu tidak sedih. Ibu bahagia. Melihat kau bisa bersanding dengan pilihan hidupmu. Kau keras, tapi lembut. Maka kau mungkin pantas mendapatkan seseorang yang yang lembut tapi keras. Ah, kenapa juga ibu mempersoalkan pasanganmu. Tentu kau lebih bisa melihat seseorang yang cocok untuk dirimu.

Sebentar, kau akan memilihnya sendiri bukan? Kau tidak akan mempercayakan sepenuhnya kepada orang lain untuk menentukan pasangan jiwamu bukan? Nak.. hidup kita adalah tanggung jawab. Kita sendiri yang akan merasakan, dan menanggung akibatnya, bukan orang lain. Sekarang di dunia, atau saat menghadap Sang Pangeran kelak.

Atau jangan-jangan kau tak berani memilih? Tidak perlu kau jadikan takdir sebagai penghalang. Kau menusia baik. Agamamu baik. Jauh lebih baik dari ibumu ini. Kau bisa menghargai manusia lain. Dan manusia yang bisa menghargai, adalah jodoh bagi semua orang.

Jangan melihat seseorang dari apa yang telihat. Apa yang indah, belum tentu indah pula perangainya. Banyak yang hanya siap bahagia, tapi tak siap guncangan mendera. Jelaskan jujur siapa dirimu. Lebih baik kau tertolak diawal, daripada kau merasakan sakit kemudian. Bukankah kau sangat membenci kebohongan dan pengkhianatan?

Ini bukan masalah usia, tapi kedewasaan. Dan sudah saatnya menurut ibu. Ah, lupakan. Kau lebih tahu. Tapi ingat, menunggu itu membosankan. Bukan soal 1, 2 tahun, atau 3 tahun. Dan jika itu kehendakmu, buatlah menunggu itu menyenangkan.

Ibu tak ingin merusak mimpi yang ingin kalian wujudkan kelak. Tapi, jika kau berkenan. Sempatkanlah ibu untuk menginap di rumahmu, ya.. rumahmu atau rumah kalian sendiri. Rumah adalah harga diri, kalian harus mewujudkannya. Tak perlu besar, megah atau lengkap. Dan sebentar saja, ibu tak ingin merepotkanmu. Ibu hanya ingin merasakan, bahwa anaknya telah jadi manusia seutuhnya.

Dan terakhir nak, menjaga itu lebih sulit daripada mendapatkan. Menjaga kesetiaan, lebih sulit daripada mendapatkannya. Menjaga apapun, selalu lebih sulit daripada mendapatkannya. Mungkin akan mudah kau dapatkan, tapi tak akan mudah kau bisa menjaganya. Jagalah, apa yang bisa kau jaga sebaik-baiknya. Jangan kau mainkan sesuatu hanya untuk kepentingan dirimu, karena hidup sendiri sudah permainan. Percayalah, siapa yang menebar benih, akan menuai sendiri hasilnya.

Sudah anakku, cukup semuanya. Dan ibu hanya bisa berdo’a untuk kesholehan, kesehatan dan kesuksesan dirimu. amin.

Selamat Hari Ibu,
Untuk ibuku, semua ibu dan (calon) ibu anakku...


Wednesday, August 27, 2008

Menjadi laki-laki

“Aku ingin menjadi laki-laki“
Kalimat itu yang terucap saat terakhir kita bertemu di lembah itu. Dan sekejap langsung nafasku terhenti. Kupandang dirimu yang menatap kosong pada rerumputan ilalang di bawah sana. Wajahku serius menenatpnya, menunjukan sebuah keterkejutan sekaligus pertanyaan. Ingin menjadi laki-laki, apa sedari dulu kau bukan seorang laki-laki?

Hingga akhirnya kau meninggalkanku di kota itu. Bukan saja diriku, tapi juga semua kehidupan mapanmu lainnya. Kau sudah bekerja pada sebuah perusahaan multinasional, dengan jabatan yang tidak semua orang bisa mudah mendapatkannya. Gaji? Jangan kau tutup-tutupi, tapi untuk hidup, lalu menabung, dan lainnya pun masih terasa berlebihan. Kau laki-laki, tepatnya laki-laki yang sudah bisa mendapatkan kemapanan, sebuah tingkat yang jarang manusia lain bisa mencapainya di seusiamu.

Lalu, kehidupan bahagia yang disyaratkan dengan adanya rasa cinta dan kasih sayang pun sudah kau ciptakan. Orang tua atau ibumu, tentu bangga dengan apa yang raih. Lulus dari sebuah perguruan tinggi bergensi dengan predikat berprestasi, dan diteruskan dengan karir kerjamu.

Sahabat atau teman, sebuah kelompok yang harus dilihat jika ingin mengetahui pribadi seseorang. Kau punya sahabat dan teman yang menyayangi. Dan bahkan sangat menyayangimu. Yang namanya kepercayaan dan pengkhianatan adalah dua hal sekeping yang kau hati-hati disana. Hampir teman atau sahabat orang mengenalmu yakin, bahwa kau teman atau sahabat yang baik.

Jika kemudian kau rasakan bahwa kehidupan begitu hampa dan sendiri, mungkin itu karena kau tak kunjung juga menemukan belahan hatimu. Tapi itu hanya urusan waktu bukan, seperti yang pernah kau katakan. Seseorang yang mantap dengan calonnya pun belum tentu akan menjadi pasangan sejatinya karena memang bukan jodoh untuknya. Ah, aku jadi ingat bagaimana kau jatuh cinta pada seseorang dan tak tercapai cintamu itu. Dengan perempuan, laki-laki memang siap melakukan tiga hal: mencintainya, terluka karena cintanya, dan menjadikannya inspirasi karya sastra.

Pun bukan masalah besar mengenai pasangan itu. Sekali lagi, kau sedang menunggu saat yang tepat (atau orang yang tepat?). Bisa saja kau akan melupakan atau setidaknya tidak memikirkan tentang berkeluarga.Ingat yang kau katakan, manusia itu berproses dalam hidupya. Dan menikah serta berkeluarga, adalah salah satu proses kehidupan yang maha penting. Jangan kau biarkan dirimu terlena dengan kehidupan yang kau rasakan sekarang.

Dan, kau memang tidak terlena dengan kehidupan yang kau capai sekarang. Sengaja kau mengajakku ke lembah ini untuk mengucapkan kata perpisahaan. Pekerjaan dan uang adalah penting, namun semua akan sia-sia tanpa ada kepuasaan hati disana. Dan kau katakan padaku, bahwa kau ingin bekerja (atau mengabdi lebih tepatnya) di sebuah lembaga sosial yang menangani rehabilitasi Aceh pasca tsunami.

Antara bahagia dan heran aku tanggapi rencanamu itu. Bahagia, karena tidak semua orang punya itikad untuk melakukan pekerjaan sosial seperti itu. Jangankan untuk pergi ikut bersama menangani kondisi pasca bencana, untuk membuka mata hati atas ketimpangan di sekitarnya pun tidak semua orang bisa. Mulia, sungguh niat mulia yang kau punya untuk pergi ke Aceh.

Tapi aku juga heran, itu artinya kau akan meninggalkan semua yang kau dapat disini. Kehidupan mapan dengan pekerjaan yang prestis, ibu yang selalu mendo’akan dan tak berhenti mencurahkan kasihnya, teman serta sahabat yang selalu menyediakan diri berbagi dalam suka maupun duka. Kau akan tinggalkan semuanya. Benarkah, kau akan meninggalkan itu semua?

“Tapi, aku ingin benar-benar menjadi laki-laki“ Sekali lagi, kau ucapkan itu dalam suara mantap dan dalam. Tentu bukan tanpa alasan kaui ucapkan itu. Sebuah bahasa tersirat, bukan bahasa tersurat.

“Apa yang kau inginkan dengan manjadi laki-laki?“ sebuah pertanyaanku menyergap datang kepadamu.
“Seorang laki-laki, adalah manusia yang punya tanggung jawab, tangguh dan berani. Semuanya dalam keadaan yang lebih dan lebih lagi dalam setiap penggalan masa.“ Kau memulai untuk menjelaskan panjang lebar alasanmu.

Bagaimana laki-laki akan mempunyai tanggung jawab, jika tanggung jawab yang diemban sekarang tidak membuatnya merasa berat sehingga hidupnya benar-benar harus dipertaruhkan untuknya. Untuk tanggung jawab, kau tidak sepakat bila tanggung jawab sebagai suami atau ayah adalah jawaban. Ini adalah tanggung jawab terhadap orang lain, katamu. Dan kau katakan bahwa tanggung jawab yang paling tinggi kepada tanah yang diinjaknya. Aceh adalah bagian tanah kita yang sedang bangkit kembali, dan kau ingin mengambil tanggung jawab itu.

Lalu, laki-laki seharusnya tangguh dalam menghadapi kehidupan. Ketangguhan itu dilakukan, bukan dengan berdiam. Semakin mendapatkan sesuatu terpaan menggoncang, disitulah ketangguhan diuji. Dan kau tak merasa tangguh dalam kondisi nyaman, semua tercukupi seperti sekarang. Tidak memicu ketangguhan itu muncul, dalam wujud yang sejati. Dan laki-laki, tak pantas dalam kondisi yang seharusnya dirasakan oleh seseorang yang diayominya.

Laki-laki pun harus mempunyai keberanian, harus berani. Dan kau katakan untuk selalu menjalani hidup seperti dalam keadaan antara hidup dan mati, maka kita akan berani maju tanpa berpikir apa yang kita punya sekarang dan tidak takut untuk meninggalkan semuanya. Itulah yang dialami para serdadu, atau pejuang perang. Maju terus tanpa beban dan senantiasa menghargai hidup, karena sedetik kemudian bisa saja tertembus peluru dan nyawa pun meregang.

Tanggung jawab, tangguh dan berani. Ternyata itu kau cari, yang kau kejar dan ingin kau dapatkan. Kau ingin tanggung jawab lebih, kepada bangsamu. Kau sengaja lemparkan dirimu dalam kondisi selalu genting, sehingga tangguh itu terbentuk. Kau ingin antara ada dan tiada, lalu berani itu muncul.

Dan kau katakan yang paling membuatmu tersentak adalah ucapan pimpinan gerakan pembebasan Libanon suatu ketika, sesaat setelah Israel memborbardir daerah perbatasan hingga kota. Pimpinan itu berkata pada seluruh rakyat Libanon terutama kepada kaum prianya. “Jadilah laki-laki, sekalipun hanya untuk sehari.“

Aku diam, kau sudah katakan apa yang harus kau katakan.
“Kapan kau akan berangkat?“

”Besok. Secepatnya.“ Suaranya tercekak, dia menatapku dengan pandangan yang teduh, senyum hangat dan penuh sayang. Aku tak kuasa mendekap, memeluknya dan tak terasa kelopak mata terasa hangat oleh air mata yang mulai membasah.

Dan kau katakan lagi dengan mantap dalam dekapan.
“Aku ingin menjadi laki-laki“

***
Selamat milad...

Friday, February 08, 2008

Pulang

Kereta berjalan pelan masuk ke stasiun besar Madiun, stasiun kota terdekat di kampung halamanku. Jam masih menunjukan pukul 3.05 pagi hari. Jelas, naik kendaraan umum sepagi ini tidak akan membawa ke rumah ibu. Hanya ada dua pilihan. Menunggu hingga matahari agak naik lalu menuju jalur bus yang akan membawa pulang, atau naik taksi yang baru sekali aku lakukan saat lebaran kemarin.

Tentu bukan masalah uang, dibandingkan segera bertemu dengan ibu pasti lebih berharga. Tapi cinta itu rasional. Aku belum mendapatkan tiket kembali ke Jakarta, maka sambil menunggu loket buka jam 7, tak ada salahnya tidur dan sarapan nantinya.

Jarum jam menunjukan 3.25. Setelah memberitahu ibu tentang rencanaku, ku rebahkan tubuh di bangku peron stasiun. Untung aku segera menadapatinya sesaat turun kereta tadi, karena tak ada yang kosong lagi. Semua penuh dengan manusia yang entah menunggu pagi atau kereta pagi, terbuai dalam mimpi atau lamunnya.

Kursi peron yang tidak bisa menampung selonjoran tubuh. Jadi ingat bahwa kursi peron inilah yang menjadi tempat favorit saat smu dulu. Duduk disini, sambil membaca. Melihat kereta dan orang lalu lalang dalam perjalanan. Selalu menyukai tempat semacam peron ini. Bahkan di Bandung pun, ukuran dan bentuk kursi peron ini tidak juga beda. Tampak sebuah mozaik.

Tas ransel dijadikan penyangga kepala, badan direbahkan, kaki dilipat, tidur miring supaya muat dan nyaman dilihat orang. Sandal, ah..biarlah semoga tetap aman.

Mata masih sempat melihat jarum panjang hampir menyentuh angka 11, sempat mendengar suara lokomotif kereta dari Bandung. Deru lokomotif sekali-sekali masih terlintas di telinga, namun mata tak pernah ingin membuka. Lelap sekali.

Terperanjat, masih cukup gelap ternyata. Takut terang, ketinggalan Subuh. Jam 5 kurang, syukurlah. Bangun, lalu ke mushola stasiun.

Pukul 5.25, masih lama juga. Beranjak keluar mushola, menemukan petugas stasiun dan ternyata katanya loket buka jam 7.30 atau malah jam 8. Duh, akan lama bengong dari sekarang. Berpikir cepat, sudahlah coba beranjak keluar stasiun.

Ini salah satu yang tidak aku sukai saat pulang. Apalagi kalau bukan tukang bejak, ojek atau taksi yang berkerumun di gerbang keluar. Bahkan sudah ada satu, dua orang yang membuntuti sejak bangun dari peron tadi.

Jadi ingat kejadian pulang kampung saat masih kuliah dulu. Hanya karena aku bertekad tak akan pernah menerima tawaran dari mereka-mereka, maka ku paksakan berjalan lebih dari 2 kilometer untuk mendapatkan angkutan kota. Ada satu tukang ojek yang keukeuh membuntuti dari peron sampai keluar stasiun. Semakin ditawari, semakin hati menolak. Beradu keras kepala. Dan akhirnya aku yang menang. Puas.. ingat cerpen Becaak yang ada di buku bahasa zaman SMP atau SMU dulu.

Sekarang pasti beda, tak ingin sekejam dulu. Tapi prinsipnya tetap, penumpang adalah raja dan berhak menentukan pilihan.

Ada satu tukang becak yang menempel dari tadi. Usianya sekitar 40an tahun. Aku bilang mau sarapan dulu, dia malah memebri saran sarapan nasi pecel di depan kiri stasiun, katanya enak. Pura-pura menuju kesana. Hmm, tidak sebegitu selera karena ingin lari dari abang ini.

Setelah bertanya berkali-kali dari keluar tadi, akhirnya kujawab ingin ke jalur bus antar kota (ingat, aku tak boleh sekejam dulu). Dia semakin semangat menawarkan. Inilah pelajaran bagi calon penumpang yang dikejar. Saat dibuka pintu, dia akan minta lebih mendorongnya masuk. Ada kalanya lebih baik diam saat ditanya memang. Tapi dari tadi dia sangat nempel sendirian, tampak berharap mendapat rezekinya pertama pagi ini (saya tidak boleh sekejam dulu, tidak boleh!).

Becak, tak ada salahnya dicoba. Cukup artistik. Sangat sulit ditemukan di kota besar, di Jakarta atau Bandung. Ingat saat naik becak dari Lempuyangan bersama teman ke rumahnya di Timoho. Menyusuri jalan-jalan sepi pagi hari di Jogja, sungguh menyenangkan.

Oh berapa, 10 ribu? Dengan jarak tidak jauh, itu terlalu mahal. Itulah pelajaran kedua, setelah mendapatkan kesempatan menjadi penumpangnya, tetap berpikir logis antara jarak tempuh dan ongkosnya. Konon, setidaknya tawar sampai setengahnya dulu. Dan memang dengan 5 ribu aku berpikir ojek pun akan mau. Jadi posisiku kuat sekarang.

Turun menjadi 8 ribu, tapi aku tak bergeming, sambil berpura-pura menatap tukang nasi pecel. Aku membalik badan dan berjalan karena tak ingin meladeninya. Toh ada ojek di depan jauh ku persis, sambil menunggu seandainya tukang becak gagal mengambil penuh hatiku.

Lalu menjadi 6 ribu, sambil mengatakan selisih seribu buat rokok sebatang katanya. Rokok, bukan alasan yang baik pikirku. Makin hilang respek. Pun dengan seribu lagi, aku yakin dia akan mau ke angka 5 ribu. Aku hampir menang, hanya perlu sabar. Inilah pelajaran ketiga, jika sudah logis dengan sebuah angka saat menawar. Pertahankan dengan baik dan sabar.

Berjalan sebentar, dan dia menyatakan mau. Dia masih punya posisi. Tidak apa-apa ucapnya, sekalian ingin ke pasar barang bekas. Dalam hati, setidaknya aku tidak sekejam dulu (astagfirullah..).

Mengkhawatirkan juga, naik becak dan agak goyang-goyang saat duduk di atasnya. Kursi ini buat dua orang lebih tepatnya, hmm.. memang seharusnya bersama teman perjalanan yang menemani nantinya. Naik becak, merasakan jalan meliuk dan pagi yang cerah. Sebuah perjalanan yang artistik.

Becak menyusur jalan anggrek, dari depan stasiun ke kiri dan bukan ke jalan biliton. Jalan-jalan perumahan, segar udara pagi Madiun. Menengok jam, masih belum jam 6. Sepanjang jalan, ada saja orang yang disapa si tukang becak itu. Mulai tegur sapa, tanya kabar anak, bisa saja jadi bahan bertemu orang sekitaran jalan. Mungkin orang daerah sini, pikirku.

Jalan ternyata tembus ke terminal lama, dan berhenti di warung nasi pecel yang kata tukang becak enak, warung bu gito. Kuberikan 5 ribu untuknya, dan aku masuk ke warung.

Warungnya persis di pinggir jalan, keluar nanti bisa langsung menunggu bus. Sudah lama tak makan nasih pecel. Padahal rumus nasi pecel itu sederhana. Asal sambal dan paduan daun-daunnya pas, maka itu akan membuatnya enak. Benar kata tukang becak, nasi pecelnya enak. Dengan teh hangat, daging (di Jawa dikenal dendeng ragi, di Bandung yang mirip dinamakan gepuk), serta nasi pecel menggunakan pincuk (daun pisang yang dibentuk untuk wadah makan), benar-benar membuat pagi yang menyenangkan.

Jarum menunjuk sekitar 6.20, dan bus yang lewat tempat ibuku datang. Dalam hati berkata, rute yang layak dijadikan rute pulang kampung di masa depan. Bersama seorang istimewa, perjalanan inipun akan terasa lebih menyenangkan nantinya. Ibu, aku pulang...


Saturday, December 22, 2007

Menjelang tidur

"Nak, kamu harus segera tidur. Mamamu sudah dari tadi memintamu untuk segera tidur kan?" kata sang ayah kepada putranya.

"Ayah.., sebentar lagi ya! Ini tanggung bacanya, lagi seru-serunya. kan kata ayah, sehari 50 halaman," si anak sungguh-sungguh menjelaskan kepada ayahnya.

"Iya.. tapi mamamu benar juga nak. besok pagi kamu harus ikut jama'ah shubuh di masjid sama ayah."

"Aku janji deh yah, besok ikut ke masjid. Asal dibangunin..." jawab si anak sambil senyum kecil.

"Oh, baiklah. Sekarang janji ke ayah dulu ya, segera berangkat tidur setelah 50 halaman. Sudah malam nak, mamamu khawatir. Mama sayang sama kamu."

"Ya ayah, aku janji. Tapi ayah jangan bilang ke mama ya, kalau aku belum tidur sekarang." "hmm.., ok. Selamat tidur sayang. Besok pagi kita shubuh ke masjid, ok?"

"Ok yah!"

"Tapi, tapi ayah.." si anak kembali menyahut persis sebelum ayahnya beranjak dari tempat tidur.

"Besok abis shubuh dan mengaji, boleh tidur lagi? Kan libur.. hehe," si anak senyum manja kepada ayahnya.

"lho.. bukanya besok kita mau lari pagi?"

"ya.. setengah jam juga lumayan ayah, membayar malam ini.. hehe"

"Wah, kamu ini yaa. Ssssttt....!" sang ayah berkata sambil menutup jari telunjuk tangannya ke mulut.

"Aku sayang ayah...., " sergap si anak merangkul sang ayah.

"Jangan lupa berdo'a ya. Have a nice dream sayang!"

***
padahal, tidak hanya ibu!
selamat hari ibu..


:)


@ oil field, south sumatera

Friday, June 15, 2007

Cerita kakak dan adiknya

”apa yang kamu lakukan? Sedih sekali melihatnya. Coba bayangkan kerja keras orang tua. Mikir!! Apa ga malu? Apa kamu tidak kasihan dengan mereka?..”

Hening. Dua anak manusia duduk di pagar kebun. Yang putri dan lebih besar, berseragam biru-putih, tersedu dalam mengucap kata-kata diatas. Si kecil, hanya bisa diam tak berkata-kata. Ah, anak kecil itu masih terlalu dini untuk diajak berpikir dewasa atas tindakan yang lakukannya. Masih terlalu dini untuk tahu, apa arti tangis seorang perempuan. Masih terlalu dini.

Yang berjongkok di depanya hanyalah kakak kedua, sedang kakak pertama seolah sedikit peduli dengan hidup si kecil. Bahkan saat balita pun, ibunya sering cerita batapa kakak kedua lebih sayang kepada si kecil. Makan digendong dan harus sambil menonton sapi di kebun, atau mencuci bekas kotoran di celana si kecil di sungai, adalah dua pekerjaan yang telaten dilakukan sang kakak kepada si kecil.

Lalu si kecil beranjak sadar. Namun, tidak banyak yang si kecil ingat tentang kakaknya masa itu. Selain daripada kedua kakaknya berangkat sekolah pagi hari dengan bersepeda sejauh kurang lebih 5 km. Kedua kakaknya, ingin punya sepeda sendiri-sendiri. “Biar lebih bebas”, kata mereka. Dan dari itu, kentara sudah betapa kedua kakaknya itu seperti dua putri sama namun berbeda.

Mereka bertiga, si kecil dan kedua kakaknya, adalah anak yang selalu dilibatkan dalam urusan keluarga. Tentang pendapatan orang tua, sejak umur 7 tahun si kecil pun tahu berapa gaji ayahnya. Sehingga dari kakaknya, sering si kecil berhitung pendapatan rata-rata setiap hari, dan merasa bersalah bila dalam satu hari meminta sesuatu yang melebihi pendapatan rata-rata itu.

Untuk urusan rumah, si kecil selalu melihat saban pagi hari bahwa mereka berbagi kapling kebersihan. Kakak pertama untuk rumah depan, kakak kedua untuk rumah belakang, ayah untuk halaman depan, dan ibu untuk dapur. Dan terlalu kecil, jika si bungsu harus mengangkat sapu. Kakak pertama-kedua, selisih 1.5 tahun, sedang kakak kedua dan si bungsu, selisih 7 tahun.

Dari kakak keduanya, si kecil juga dibimbing belajar saat menjelang mendekati ujian. Si kecil ingat kala itu, rangking pertama caturwulan pertama saat kelas satu di sekolah dasar berhasil didapatkannya. Tentu, terutama berkat kakak keduanya lah yang mengajari cara berhitung, mengeja, membaca dan menulis, terutama saat malam hari menjelang ujian.

Dan lambat laun, si kecil pun mulai belajar tentang apa arti perempuan jelita bagi laki-laki dewasa. Tahu apa arti perhatian, dan belajar dari kedua kakaknya arti kedekatan. Bukan, bukan dari kedua kakaknya persisnya. Karena sama tak serupa, maka si kecil lebih banyak mendapatkan dari kakak keduanya. Sedang kakak pertama, terlalu keras sikap dan pendirian. Sekalipun sering dikatakan kedua orang tuanya, kakak kedua lebih malas daripada kakak pertama, namun ternyata konsistensi kakak kedua-lah yang membuktikan ukuran kepintaran itu.

Hubungan si kecil dan kedua kakaknya mulai merenggang, setelah kedua kakaknya masuk di sekolah atas di kota. Jarak setahun tingkat kelas mereka, dan pergi pulang setiap hari dengan sepeda motor mereka lakukan bersama. 25 km, jarak kota itu dengan kampung rumah mereka. Dan karena alasan kesehatan, maka sang kakak kedua lah yang banyak membonceng kakak pertama.

Hingga suatu siang, saat si kecil kelas 4 dasar, didengarnya berita kakak keduanya kecelakaan. Oh, hari itu seharusnya kedua kakaknya berangkat sekolah bersama. Namun, sang kakak pertama tak sehat hari itu dan kakak kedua akhirnya berangkat sendiri. Dan, terjadilah siang itu sebuah bus menghantam sepeda motor dan pengendaranya. Si pengendara, langsung dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi sekarat.

Sepulang dari rumah sakit di atas kendaraan, sayup-sayup terdengar, cerita betapa sang kakak kedua menunggu ibunya untuk berucap selamat tinggal. Selamat tinggal untuk selama-lamanya. Seorang anak yang manis, sekalipun malas namun bisa membuat suasana selalu nyaman.

Dan seorang kakak berarti bagi adik bungsunya, si kecil. Setengah tak percaya, si kecil memegang wajah tertegun dengan kedua tangannya sepanjang jalan pulang, dengan bulir air hangat membasah kelopak matanya. Air mata penghayatan seorang anak kecil.

Jadi, jangan bertanya tentang air mata kepada si kecil, karena air mata adalah pelajaran perasaan yang didapatkan paling dini dan ditinggalkan paling akhir dari kakakya. Dan jangan pula bertanya tentang arti perpisahan kepadanya, karena dia pun sudah mengalami saat-saat itu di masa kecilnya.

Dan sekarang, saat si kecil beranjak dewasa menatap kehidupan, betapa seolah kehadiran kakak kedua dibutuhkan olehnya. Si kecil ingin belajar lagi, apa arti kasih sayang, perjuangan dan keikhlasan. Dan tak lupa, ingin sekali si kecil merebahkan kepala di atas pangkuan kakaknya. Seperti dulu lagi, untuk mengantar si kecil berangkat mimpi.

Wednesday, April 11, 2007

Perang Bubat: Dyah Pitaloka dan Gajahmada


Alkisah, Majapahit adalah negara kerajaan yang besar di masa lampau, sekitar abad 14. Sang Patih, Gajahmada (GM) adalah otak kejayaan Majapahit. Namun, wilayah pasundan adalah satu-satunya daerah di Jawa -bahkan di bumi nusantara yang belum berhasil disatukan (dikuasai) oleh Majapahit. Kekuasaan yang luas membentang dari semenanjung Malaka, Filipina hingga ujung timur tak lengkap tanpa masuknya tatar Sunda, wilayah belakang pekarangan Majapahit sendiri.

Inspirasi sejarah diatas yang melahirkan Dyah Pitaloka (DP) sebuah karya sastra bergenre fiksi besutan Hermawan Aksan dan Perang Bubat (PB) sebuah fiksi realis buah pena Langit Kresna Hariadi. Sekalipun didasari oleh latar belakang sejarah yang sama, masing-masing karya tersebut berdiri sendiri untuk menyakinkan pembacanya, seolah-olah jalinan cerita buku tersebut adalah ’sejarah yang benar’.

Dikisahkan dalam keduanya,
Hayam Wuruk (HW) adalah raja kerajaan besar yang sudah waktunya beristri, namun belum memiliki calon. Hal itu menimbulkan kegelisahan Tribuanatunggadewi, sang ibu yang sekaligus raja sebelum HW. Diadakanlah seleksi wanita-wanita tercantik Majapahit dengan cara mengirim para pelukis kerajaan ke seluruh wilayah. Tapi, tak satupun hasil lukisan tersebut yang menggetarkan sang prabu. Kemudian, datanglah ide untuk ”mengikutkan” putri raja Sunda Galuh yang terkenal ayu, Dyah Pitaloka Citaresmi (DPC). Raja Linggabuana (LB) terbuka, namun pelukis majapahit yang dikirimkan kesulitan untuk melukis keelokan wajah sang putri.

Sampai pada titik tersebut, DP dan PB relatif sama dalam membawakan konten cerita, dan hanya kekhasan pengarang lah dalam berbahasa dan merajut cerita yang membedakan. DP lebih fokus dalam ’merekonstruksi’ sejarah tersebut, dan menjadikan DPC sebagai inti cerita. Sedangkan PB, banyak ’bumbu’ yang muncul, dimana menjadikan GM sebagai pusat cerita. Hal tersebut tentu tak bisa dilepaskan dari ’proyek’ pentalogi Gajahmada-nya LKH (PB adalah buku keempat), sebuah upaya membangkitkan tokoh Gajahmada di masa kini, orang luar biasa yang mampu menyatukan nusantara dengan teknologi dan sarana yang ada di masa tersebut.

Perbedaan cukup terbuka, adalah dalam mendeskripsikan Dyah Pitaloka Citraresmi. Dalam keseharian, DP melukiskan DPC adalah putri sunda yang lembut, peduli dengan perempuan sunda, cerdas, banyak membaca (juga kitab-kitab Majapahit), menjaga diri, dan berperangai sopan. PB menempatkan DPC sebagai putri sunda yang tangkas, mandiri, memberontak orang tua, dan pandai berkuda. Sekalipun DP dan PB juga menggambarkan kesamaan dimana DPC sudah jatuh hati kepada orang lain sebelum lamaran majapahit datang, DP lebih menjaga karakter DPC karena DPC tidak pernah berbuat lebih jauh. Sedangkan PB, DPC sampai menyerahkan ’tubuh’nya sebelum HW berhasil menikahinya.

Seperti apa DPC sebenarnya, kita tak pernah tahu. Satu yang pasti, garis paras DPC mampu membuat HW tak bisa berpaling dari lukisan sang putri tatar sunda itu, dan sebuah upacara pernikahan besar pun disiapkan. Namun GM tetap keukeh menjadikan pernikahan tersebut sebagai bentuk ’penyatuan’ Sunda ke dalam Majapahit.

Dan di PB, hal itu dituliskan karena Majapahit membayar ongkos mahal mengamankan perairan nusantara dari Tartar yang sangat ingin menguasai nusantara, sedangkan Sunda tak segera bersatu bahkan masih berhubungan dengan Tartar. Sekalipun keluarga kerajaan menentang termasuk Tribuanatunggadewi mengingat ikatan keluarga jauh yang masih ada antara Majapahit dan Sunda Galuh, serta eratnya hubungan keseharian dagang hingga banyaknya orang Jawa-Sunda yang saling menikah.

Kemudian, Langit Kresna menerjemahkan keinginan GM tersebut dengan mengangkat DPC sebagai raja, atas inisiatif Prabu Linggabuana sendiri. Sehingga pernikahan tersebut adalah pernikahan sederajat, antara raja dan raja. Hal ini tentu sebuah fiksi nyata, karena bagaimanapun sejarah mencatat LB yang berstatus raja dan putrinya datang ke Majapahit untuk pernikahan tersebut.

Lalu sampailah pada setting tema cerita, DPC dan ayahnya berangkat bersama beberapa pengawal ke Majapahit hingga tiba di Bubat, sebuah desa di perbatasan kotaraja. Dan disini, Hermawan menjadikan GM sebagai tokoh dibalik sejarah kelam perang bubat. Gajahmada menahan HW untuk menjemput ke Bubat padahal hal tersebut yang dijanjikan bersama sebelumnya. GM dan pasukan besarnya lah yang menjemput dan menyatakan pernikahan ini sebuah persembahan penyatuan wilayah. Namun, Langit Kresna-yang sangat mengidolakan Gajahmada tampaknya- memutihkan nama GM dengan menjadikan kisah pilu tersebut sebagai hasil kerja anak-anak buahnya yang sengaja ’salah’ mengartikan keinginannya, sehingga anak buahnya lah yang menjadi sebab onar perang bubat.

Akhirnya sejarah menuliskan peristiwa bubat, perang tak seimbang antara kujang dan keris sampai raja dan semua pengawal sunda tewas. Sang Putri punya harga diri, maka dihujamkannya sesuatu (DP menyebut tusuk rambut, PB menggunakan kujang kecil) ke jantungnya, nyawanya pun meregang.

Kedua buku bercerita akhir perang bubat dengan cara berbeda. DP membuat kisah dramatis saat menjelang DPC meninggal, bersamaan dengan datangnya Hayam Wuruk ke tanah Bubat dan DPC pun sempat melihat ketampanan HW. Hayam Wuruk memegang tubuh Dyah Pitaloka dan didekapnya sang putri untuk menghembuskan nafas terakhir. Di PB, akhir hidup DPC dipelukan Saniscara (LKH membuat tokoh fiktif), kekasih sejati DPC, seorang seniman dari Jawa yang akhirnya pun ikut mati terpanah.

Dan Majapahit berkabung. Hermawan mengakhiri cerita Dyah Pitaloka dengan dinginnya hubungan Hayam Wuruk-Gajahmada, sakitnya HW dan pemintaan maaf Majapahit kepada Sunda atas kejadian Bubat serta tidak menjadikan Sunda sebagai taklukan Majapahit. Sementara Langit Kresna mengakhirinya dengan kisah matinya Saniscara dan membiarkan mengambang tentang bagaimana kemudian posisi Majapahit dan Sunda Galuh setelah tragedi Bubat.

Secara umum, Dyah Pitaloka adalah tentang Dyah Pitaloka Citraresmi, ketragisan Perang Bubat serta ambisi Gajahmada, dan Hermawan pun lebih banyak bermain dengan peristiwa tragis, romantis dan sangat emosional, dengan istilah dan keindahan antara Bahasa Sunda-Jawa.

Sedangkan cerita Perang Bubat, Langit Kresna banyak menyertakan banyak kisah pengiring yang menambah khasanah dan menjadikan buku lebih tebal. Beberapa menggunakan istilah Jawa, tanpa banyak seni bahasa. Namun, Langit Kresna piawai dalam bercerita heroik, kedigdayaan, ketentaraan atau nasionalisme secara tidak langsung. Persis satu warna dengan kisah-kisah ’positif’ Gajahmada lain garapannya, diawali kisah Gajahmada menyelamatan Jayanegara (putra raden Wijaya, raja sebelum Tribuanatunggadewi) dari pemberontakan Ra Kuti. Jika membaca Gajahmada bagian pertama ini, pembaca akan mendapatkan gambaran situasi perang dengan formasi-formasinya yang gegap gempita.

Sangat kontras, wajah Gajahmada dalam dua karya sastra diatas. Mungkin karena sebuah karya memang tak bisa dilepaskan dari latar belakang penulisnya. Jika Mas Her (demikian biasa saya menyapanya) seorang jurnalis sebuah media di bandung, lahir dan besar di Brebes-perbatasan Jateng-Jabar (Jawa-Sunda), maka DP yang sarat bahasa Jawa-Sunda mirip sebuah ’sudut pandang’ Sunda dengan menempatkan Gajahmada (atau Majapahit umumnya) sebagai ’terdakwa’. Sementara Langit Kresna Hariadi adalah mantan seorang penyiar radio yang lahir di Banyuwangi, adalah seorang Jawa tulen. Sehingga kita akan beranggapan wajar, jika nuansa yang dibangun keduanya juga berbeda dengan kreativitas sana-sini layaknya sebuah fiksi-realis.

Bagaimanapun juga kedua karya ini berusaha untuk menjembantani tragedi bubat dalam konteks zaman yang berbeda. Karena Peristiwa Bubat -dan bukan
Perang Bubat (1357) tampaknya, adalah sebuah peristiwa besar sejarah yang kelam antara Jawa dan Sunda yang masih membekas hingga detik ini!

Friday, March 23, 2007

senja dari sebuah kota

Sengaja aku tidak memilih bus kota yang terakhir, sekalipun aku selalu ingin menghabiskan waktu lebih lama di kota ini. Bus terakhir, selalu membawa pesan penuh kehampaan. Wajah para penumpangnya, seperti ada sesuatu yang tak ingin mereka tinggalkan. Wajah tanpa rasa, tatapan kosong ke kaca jendela, memandang khidmat deburan riuh kota, suasana senyap, seolah-oleh mereka ragu untuk segera pergi dari kota ini. Bus terakhir selalu membuka ruang pedih lebih lebar, dengan menunjukan betapa kota ini pun dirasakan berarti bagi orang-orang lain sepertiku.

Bus kota pun melaju pelan, mulai menyusur jalan-jalan kota yang lengang, menyapa arsitektur tempo dulu dan sekarang, untuk menuju tempat akhir sebuah terminal bus di sudut bagian selatan kota. Wajah kota yang redup, lalu sedikit demi sedikit lampu berpijar, sedang bersiap untuk menyambut terpaan malam yang kian dekat. Kesibukan siang pun sedang berganti dengan aktivitas malam. Bus masih berjalan pelan, menerobos butiran hujan rintik yang sudah lama turun, dan menyapukan udara segar ke wajahku. Senja yang indah, halaman buku di pangkaun tak kuasa melawan syahdunya perjalanan ini.

Sampailah bus di tujuanku, kemudian aku harus berganti moda. Kutengok arloji jam, pukul 5. Tapi hujan telah menjadikannya lebih gelap daripada yang seharusnya. Petugas berteriak-teriak lima menit lagi akan berangkat. 5 menit, itulah waktu terakhirku dengan kota ini.

Ku tatap sebuah toko buku di seberang jalan, tempat pertama kali kita berniat untuk bertemu. Tapi kau tak pernah datang, dan itu bukanlah masalah besar pula bagiku. Namun seharusnya, disanalah kita mungkin bertemu dan bertegur sapa.

Dan kemudian, kita tak pernah bersapa kembali. Sebuah penjagaan, dari perasaan yang tak mau berbaik hati. Kita bukanlah yang separti dulu, laksana 2 burung kecil bersayap, terbang bebas kemanapun kita mau. Tidak kenal waktu, siang, pagi buta atau malam hari. Dan sayap burung itu sekarang hanya 1. Jangankan kita minta untuk terbang tinggi, untuk tetap terbang menjaga fitrah Sang-Pencipta pun sudah sangat sulit.

Sekalipun nanti, mungkin kita bersua. Tentu itu bukan pertemuan yang kita kehendaki. Tak mungkin kau berbesar hati menyadari suasana itu. Tak mungkin kau menerima perasaan sederhana, seharusnya kauberikan kepada orang yang lebih tepat menurutmu. Pintu itu sudah tertutup. Sakral bagimu untuk membukanya kembali.

Jika kemudian aku datang ke kota ini, suasana kota inilah yang tak bisa kulepaskan sepenuhnya dari relung dalamku.

Peringatan terakhir sudah dikumandangkan, travel akan segera berangkat. Kuayunkan langkah masuk, mengambil tempat duduk di bagian belakang, bersama seorang laki-laki setengah baya yang sudah mengambil tempat di pinggir jendela. Travel pun mulai merangkak, dan semua penumpang terbelenggu dengan pikirannya sendiri.

”Sedih meninggalkan kota ini dik?”, tiba-tiba laki-laki itu memulai pembicaraan. Sebuah pernyataan menantang. Aku balik menatapnya tajam, dia tetap memandang kosong keluar.
”Saya tebak, adikpun mengalami rasa itu. Ketercekatan meninggalkan suasana kota ini.” Kata-katanya mengalir tajam.
”Mengapa anda bicara seperti itu. Sepertinya anda mengalami hal yang begitu menyedihkan akhir-akhir ini.”
”Yang saya yakini. Semua orang yang pernah merasakan kota ini, lalu akan mencintainya. Selalu ada hal-hal yang menjadi penyebabnya. Dan karena seseorang, adalah penyebab yang paling memilukan.”
”Ijinkan saya menduga. Hati anda sedang merasakan sakit karena seseorang?”

Wajahnya menatap diriku, kami berpandangan sesaat. Mungkin usianya belum 30 tahun, cukup tampan dan memiliki aura keteduhan. Tak berapa lama, diputarnya kembali kepalanya menuruti kehendak matanya memandang keluar. Travel mulai masuk ke jalan luar kota, sebuah jalan menyusur bukit-bukit indah.

”Apakah itu artinya anda berusaha untuk melupakan kota dan segala kenangannya? Kesakitan adakala harus diobati dengan kembali ke tempat muasal sakit itu timbul. Atau ke tempat-tempat lain yang mampu mengalihkan rasa itu. Sepenuhnya bukan untuk mengobati, sekedar menindih atau memberikan sedikit ruang untuk adanya rasa-rasa lainnya.”
”Ya, begitulah rasa itu menggelayut dalam jiwa ini. Mungkin kali ini, kesekian kalinya saya hadir disana dengan penuh pundi harapan.” Sedikit serak suaranya mengatakan kalimat itu. Suasana hening, hanya derum mesin dan suara lalu lalang kendaraan lain yang melintas.

”Dulu saya berpikir, rasa itu akan hilang oleh terpaan angin di padang gurun kesepian nan luas. Saya sudah mencobanya di banyak tempat, tapi selalu saja gagal dan gagal.”
”Lalu, kemana anda akan melangkah saat ini?”
”Jika di tempat sunyi tak juga membuatnya hilang, mungkin rasa itu akan hilang di tempat paling ramai di dunia, Cina.”
"Tampaknya begitu berartinya dia bagi anda.”
Laki-laki itu menghela nafas, dengan pandangan yang masih menatap kosong keluar.
"Selaksa kasih sayang tercurah terhadap seseorang, dan hidup telah kita berikan demi masa depannya."

”Apakah itu artinya anda ikhlas membohongi diri sendiri?”
”Tidak, saya sedang mencoba memahami. Perasaan yang tulus seharusnya bisa saling mengerti, sekalipun hanya dengan menatap tanpa mengutarakan. Perasaan itu, harusnya tak perlu membuat dua orang harus saling mengemis untuk sebuah kata.”

Hujan rintik mulai semakin deras. Malam hari kiat pekat, sepekat pembicaraan kami malam itu. Laki-laki di sebelahku bukan manusia biasa, dan karena ketidakbiasaan itu mungkin dia menerima nasibnya. Dunia itu adil, hanya kepada orang-orang yang mampu saja, perasaan penuh makna itu dihadirkan.

”Anda berkesempatan bertemu, atau setidaknya untuk mengucapkan kalimat terakhir kepadanya?”
”Ya.. sore kemarin di depan toko buku.”
”Lalu, apa yang anda katakan?”
”Jika suatu masa kita bertemu, kita adalah hidup kita masing-masing. Andai pintu itu ada nantinya, kita bisa memulainya dari awal dengan lebih tulus.” Sebentar dia berhenti, menghirup napas panjang.
”..., jika kita tidak bisa saling menyayangi saat ini, setidaknya kita tidak untuk saling membenci...”

Friday, February 09, 2007

Geliat Sastra Lama

Terinspirasi dari pelajaran sastra di SMU, maka mulailah membaca satra-satra lama. Pertama dan yang paling mengesankan, Di Bawah Lindungan Ka’bah-DBLK (tak tahu kapan Roman ini ditulis atau cetakan pertama, namun sepertinya sebelum Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, sedang cetakan 23, 1999). Membacanya saat bulan pertama/kedua tinggal di Bandung.

Lalu roman Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) kedua yang kubaca, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, ditulis 1938 dan mendapat cetakan 23 (1999). Mulai membaca tidak beberapa lama setelah menyelesaikan DBLK. Lebih tebal, masih kental sastra melayu kono. Berikutnya, roman Layar Terkembang, St Takdir Alisyahbana, cetakan pertama 1937. Menemukan buku usang cetakan 23 (1995) saat iseng jalan-jalan di pasar buku bekas Madiun liburan lebaran 2006 lalu.

***
Di Bawah Lindungan Ka’bah
Hamid, setelah ditinggal mati ayahnya tinggal bersama ibunya dan membantu urusan rumah tangga sebuah keluarga kaya. Zainab, anak dari keluarga tersebut berselisih 3 tahun dari Hamid, dan mulailah masa anak-anak yang ceria sebagai abang-adik mewarnai mereka. Selepas MULO, Hamid cenderung mendalami agama sedangkan Zainab sesuai adapt, dipingit di rumah sampai kelak bersuami.

Dalam menuntut agama, Bapak Zainab, Engku Haji Ja’far, orang yang selama ini membiayai hidupnya meninggal. Disusul kemudian ibunya. Sebelum meninggal, ibunya menangkap bahwa Hamid mencintai Zainab, kemudian memberi pesan bahwa Zainab dan Hamid laksana emas dan loyang yang tak akan mungkin bersatu. Seharusnya sudah cukup, bersyukur atas kebaikan Engku.

Setelah selesai mendalami agama di Padang Panjang, pulanglah Hamid ke Padang dan bertemu dengan Zainab. Tertangkaplah, betapa mereka berdua saling merindukan, tapi Hamid hanya berprasangka. Sayang sungguh sayang, ibunya Zainab tak paham apa gerangan. Maka Hamid lah sebagai ‘abang’ yang diminta membujuk Zainab untuk khitbah dengan laki-laki lain yang sedang menyelesaikan sekolah di Jawa. Pilu hati, Hamid meminta Zainab memenuhi kehendak ibunya.

Dengan kepedihan, merantaulah Hamid ke medan, kemudian ke Singapura, Thailand dilanjtkan terus hingga mencapai Tanah Suci. Diserahkanlah hidupnya untuk memohon, di bawah lindungan ka’bah. Melayani perjalanan haji dan berguru kepada seorang syekh. Sampai akhirnya, bertemu dengan Soleh-sahabat kampunya dan mengalirlah cerita-cerita kepedihan itu. Tahulah Hamid, batapa Zainab mencintainya dan sering menangis di depan surat pertama yang dikirim Hamid dari medan.

Setelah mengirim surat kedua, terbukalah cinta mereka, saat tubuh Zainab tak sanggup lagi menerima beban sekalipun embun segar itu hadir kembali. Hamid pun mulai memikirkannya, dan akhirnya jatuh sakit dan setelah Hamid mengetahui kabar Zainab telah mendahului berpulang. Dan di hari yang sama, 9 Zulhijah, di bawah ka’bah Hamid berdoa dengan khusyuk kemudian menyusul. Di dunia, cinta tak harus memiliki.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk
Zainuddin, seorang pemuda ayahnya berasal dari minangkabau-padang panjang yang beradat bangsa dari ibu (matrilineal), sedangkan ibunya bugis-makasar yang beradat bangsa dari ayah (patrilineal, umunya suku bangsa di Indonesia). Setelah sendiri ditinggal mati kedua orang taunya, dia memutuskan untuk ‘pulang’ ke sumatera, mengharap sebuah penerimaan. Akan tetapi, adat berkata lain.

Lalu berkenalanlah dia dengan Hayati, bunga Batipuh. Mulailah dirangkai jalinan cinta keduanya. Tapi lagi-lagi adat tak memberi kesempatan. Anak tak bertuan hendak beristri perempuan minang. Pinangan zainuddin ditolak, seseorang bernama Aziz menikah dengan Hayati. Terluka dan diusir karena tak punya asal di minang, maka Zainudin merantau ke Jakarta lalu menetap di Surabaya. Di sanalah Zainuddin menjadi pengarang yang disegani.

Takdir berkata lain. Aziz berpindah kerja ke Surabaya, dan lewat pertunjukan tonil bertemulah mereka bertiga. Watak aziz yang boros di meja judi, sehingga sengsaralah hidup Hayati hingga sempat berdua mereka menumpang di rumah Zainuddin. Aziz kemudian memutuskan menalak Hayati karena perasaan dosa kepada Zainuddin dan bunuh diri di Banyuwangi. Tapi Hayati tak diterima oleh Zainuddin. Perempuan katanya, hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya, walaupun kecil, dan lupa kekejamannya sendiri pada orang lain walaupun bagaimana besarnya.

Disuruh pulang Hayati ke minang, menumpang Kapal Van Der Wijk yang menjalani Mengkasar-Tanjung Perak-Semarang-Tanjung Priok-Pelembang. Di Priok, berganti kapal menuju Padang. 20 Oktober 1936 dini hari, Kapal Van Der Wijk karam, beberapa jam setelah dari Perak. Sempat membisikan Syahadat di telinga Hayati sesuai permintaannya di rumah sakit daerah Tuban, setahun kemudian Zainuddin pun meninggal karena terlalu berat merenung dan sakit-sakitan.

Kalimat terakhir karangannya yang penghabisan:
”...dan akan tercapai juga kemuliaan bangsaku, persatuan tanah airku. Hilang perasaan perbedaan dan kebencian dan tercapai keadilan dan bahagia.”

Layar Terkembang
Tuti dan Maria, saudara tapi berbeda watak seperti api dan air. Tuti adalah potret wanita mandiri, tegas, teratur, berpenampilan polos dan bersahaja. Dia menjadi guru dan aktif di sebuah pergerakan perempuan. Melalui Putri Sedar, dia bergelut dalam hal emansipasi wanita dalam hal pendidikan, pekerjaan dan kedudukan di masyarakat. Meminjam istilah penulis puisi Hartoyo, Tuti adalah wanita-wanita perkasa, dalam konteks pergerakan saat itu.

Maria, adalah potret keceriaan, manja, berpenampilan cerah, dan segala hal kesan pesolek menempel dengannya. Masih duduk di sekolah tingkat atas, dan bercita-cita menjadi guru. Bersama ayahnya (ibunya meninggal karena TBC), mereka tinggal di batavia. Jika Tuti yang memastikan kerapihan perabot dan alat rumah tangga, maka Maria lah yang mewarnai kerapihan itu dengan vas atau pot bunga.

Yusuf, anak muda setuden Tabib Tinggi batavia, putra dari seorang Demang di Martapura, Sumatera Selatan. Yusuf mewakili anak muda pintar di zaman pergerakan. Selain sebagai mahasiswa, dia aktif di organisasi Pemuda Baru, sebuah organisasi pergerakan dan hampir semua mahasiswa pribumi berjuang kemerdekaan melalui organisasi. Tergambarlah, bahwa Yusuf jatuh cinta pada Maria sejak pertemuan pertama.

Bergulirlah kisah cinta mereka, penuh keceriaan dan kebahagiaan. Sementara Tuti, semakin sibuk dengan Putri Sedarnya dan lama kelamaan mulai merasakan kering hati yang amat sangat. Mulai dengan mengalihkan bacaan dari buku wacana ke roman-roman kepunyaan Maria yang sering diejeknya, hingga kemudian menghadapi kebingungan ketika mendapat lamaran rekan gurunya. Di tengah kebutuhan akan kedamaian berpasangan, Tuti menolaknya. Dia tak ingin memberikan cinta palsu atau membohongi diri sendiri hanya karena umurnya telah 27, sedangkan laki-laki itu-seusianya pula memberikan ketulusan dan kesucian.

Setelah lulus, Maria terserang TBC hingga masuk sanatorium di Pacet, Jawa Barat. Berliku kisah pilu Maria menghadapi kesendirian disana dari Yusuf, permata hatinya. Sesekali Yusuf dan Tuti menjenguk, dengan menumpang tinggal di pasangan suami-istri temannya di Sindanglaya, yang memberikan pelajaran berharga tentang praktek emansipasi wanita. Banyak hal mereka (Yusuf dan Tuti) diskusikan, mulai tentang pergerakan hingga kondisi Maria. Hingga kemudian Maria merasa saatnya tiba, dan berpesan dengan menyatukan kedua tangan Yusuf dan Tuti.

Dalam sebuah Ziarah, saat sebentar mereka akan menikah, Tuti berbisik mesra, ”..tetapi Yusuf, hidup kita adalah kerja..”

*** Membaca sastra lama adalah membaca sejarah. Bagaimana sebuah budaya atau nilai dibangun, dijaga dan dipertahankan. Hamka, secara sosio-psikologis paham dengan budaya minang sangat apik mengangkat itu. Hamka pun seorang ulama, lihatlah bagaimana sarat maknanya DBLK sekalipun tak sampai 100 halaman. Lihat pula AA Navis, atau St Takdir dalam menyelingkan antara pergerakan, cinta dan kehidupan. Tak lupa kelebihan dalam membahasakan dalam tutur kelembutan sastra melayu tingkat tinggi.

Membaca sastra lama adalah membaca kisah masa lalu. Ya..tentang kisah masa lalu. Tentang perjalanan cinta yang sejatinya adalah sama (cinta) dalam konteks waktu dan ruang senantiasa menghadirkan suasana santun, bersahaja dan tetap penuh romantik. Bandingkan dengan kisah-kisah drama anak zaman ini.

Lebih dalam lagi, membaca sastra lama adalah menjaga dan membangkitkan kembali semangat. Semangat ketulusan, kepolosan, kejujuran, perjuangan, dan pengorbanan. Bukan romantisme, karena semangat adalah energi dan energi bersifat kekal. Dia hanya perlu ditransfer, dari ruang yang berbeda.

Dan sastra lama, sekalipun tertindih jutaan jenis cerita, novel atau roman baru tetap akan langgeng dengan kisah bersama energinya.


Wednesday, January 03, 2007

tentang seseorang

Tiba-tiba saja kau menyapaku, aku tak kenal kau sebelumnya. Mungkin tahu, tapi hanya tahu dan berlalu. Tapi, dimana juga kita pernah bertemu? Di boulevard, gedung kuliah, laboratorium atau dimana aku tak ingat. Atau tak mau bersusah mengingat persisnya.

Orang lain memanggilku Dina, Tania Ramadina. Tapi kau panggil aku Nia. Terserah, aku tak mau tahu. Menurutku biasa saja ketika orang mengajak kenalan, lalu kemudian berteman seperti biasa. Tapi aku tak mau memanggil namamu, itu bukan biasaku.

Tapi, kenapa juga mengajak ku kenalan? Tidak adakah orang lain? Makin lama berbicara denganmu, aku sendiri merasa nyaman. Biasa. Sedikit demi sedikit, keluar juga semua ekspresi kita. Tiba-tiba saja tersenyum, tertawa, mengejek atau apapun itu. Pun aku masih menganggapnya biasa, walaupun jujur, belum ada laki-laki yang bisa berbicara sedemikian ’dekat’ seperti mu.

Tiba-tiba saja, kita berbicara tentang aktivitas atau kesibukan dan lain-lain. Ada saja yang bisa dibicarakan saat-saat pertama itu. Kau tanya apa cita-citaku hingga apakah aku suka seni (padahal kau hanya mau meminta-ku untuk merapikan sebuah tulisan). Aku bilang, kadang-kadang bermain musik. Pfughh..untung kau tidak minta aku memainkan sesuatu untukmu.

Kau yang banyak bertanya. Benar. Kau yang banyak bertanya. Sebentar. Tapi, kadang-kadang aku pula yang memulai pembicaraan. Aku bilang, kau melankolis. Kau cuma tersenyum mengiyakan dan bilang bahwa orang melankolis biasanya rapi dan detil. Hmmm, mulai tersindir dengan kerapian.

Kau sangat memperhatikan hal detil pekerjaan domestik (kau yang mengungkapnya bukan?). Tentang mencuci, setrika dan memasak. Karuan saja, kaum hawa bisa malu-malu kalau kau bilang bahwa kaum perempuan harus bisa masak. Termasuk diriku. Seakan-akan kau menyadarkan perempuan untuk bisa mengurus pekerjaan rumah (tapi kau sendiri justru lebih terbiasa melakukannya). Hei.. tentang ini kau pernah meledekku. Kau bilang, ”saking pintarnya masak hingga tak pernah masak.” Dasar!

Lalu apa lagi, kau memberikanku sebuah kepercayaan untuk membantu. Aneh. Kenapa aku yang tak sangat bisa dan tak biasa? Tapi aku terima juga, sekalian melakukan hal yang baru. Pernah saat mencoba sesuatu, kau kirimi aku sebuah puisi. Sempat heran, kenapa hal itu yang kau kirim. Dua puisi, satu yang isinya tentang aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dan yang kedua tentang sekolah bukan kandang ayam. Ada-ada saja kau ini.

Kita pernah menyoal tentang pengkhianatan. Suatu malam, ya..pada sebuah malam. Aku tak mengerti awalnya. Yang jelas kau menggangu jadwal tidurku. Namun, begitu aku paham betapa sakitnya orang karena dikhianati sekalipun aku tak merasakannya, itu sudah cukup. Aku tak mau mencoba sakitnya. Sudah cukup sesak dada merasa mengkhianatimu.

Katamu, bukankah sebuah kepercayaan itu mahal? Benar, saat itu aku tak merasa pantas menjadi temanmu. ”Dalam doa, aku memohon supaya kau diberikan 1000 teman baru yang lebih baik”. Kau memberi pelajaran berharga lagi. Tapi pagi-pagi sekali kau malah mengetuk jendelaku dan berkata, ”hei.. lihat pagi ini begitu cerah. Tak baik bermuram diri..”

Kemudian lama kita tak bicara, sangat lama. Merasa ada hal yang kurang. Kangen. Ups...ada apa ini. Sudahlah. Tak boleh terjadi.

Hingga kemudian sebuah pesan masuk, ”Bolehkah laki-laki....”

Bingung juga. Sedang apa dirimu. Tapi ada pesan lagi masuk, ”maaf salah kirim...”. hmm, aku tak percaya kau salah kirim. Karena saat aku jawab, ”..ga papa.” , dan kau balas lagi dengan pesan lanjutan lainnya. Bilang saja, kau tak salah kirim. Itu bohongmu pertama. Tapi kau mungkin juga ingin menjaga diri.

Lalu kita berbicang lagi, sangat lama. Seperti ada yang kembali lagi di hidupku. Kau akhirnya jujur tentang pesan itu, sebenarnya bukan salah kirim. Aku bilang juga, sudah kuduga. Lalu kau memberiku semua pesan yang diberikan oleh sahabatmu yang lain. Ternyata, kau hanya mengirim pesan itu pada dua orang. Aku salah satunya, sekalipun kau ‘meralatnya’. Aneh. Kenapa diriku? Berkali-kali aku tanya itu.

Tapi tetap kau tak pernah mampu menjawab tuntas. Seakan kau menyembunyikan sesuatu. Aku penasaran, tapi sekali lagi aku tak mau sulit. Tak suka berdebat. Jika dibilang aku curiga, benar aku curiga denganmu. Tapi, sebenarnya aku sendiri juga tak ingin berbohong. Kau memang unik.

Lihat saja, suatu saat kau panggil aku ”anak manja”. Sembarangan. Belum ada orang yang sampai memanggilku seperti itu. Mana ada orang yang mau dipanggil manja? Tapi kau sebutkan buktinya. Dalam hati membenarkan. Tapi kau memang benar-benar keterlaluan. Itu malah jadi semacam ’olokanmu’ padaku (atau panggilan khusus darimu?). Karuan saja, jika kau menyebutkan itu aku bilang, ”you mentioned it!”

Tapi kita tak selalu berbincang saat ketemu, entah sesaat atau lama. Hingga sekarang. Mengatur ritme atau memang saling tunggu? Tak ada yang memulai sebuah percakapan baru. Bertemu, dingin. Aneh.

Apa karena aku tak pernah memanggil namamu? Kau sempat protes, ketika kupanggil situ. Kau bilang sambil bercanda, ”emang kaya tukang parkir, sini situ. Menunjuk arah..”. Ya, karena aku sangat jarang memanggil nama laki-laki, maka kuganti ’kamu’. Mungkin suatu saat nanti, akan kupanggil namamu.

Atau jangan-jangan kita tak pernah tahu lebih jelas? Tapi kau sebutkan pernah bertemu denganku dulu, saat aku sedang berjalan menuju pulang. Kau juga bilang hijau, lalu pink atau kau sebutkan warna biru dan coklat? Kamu memperhatikan juga ternyata. Jadi tak mungkin kalau tak tahu. Itu bohongmu kedua.

Kau katakan, bahwa membaca buku bukan pekerjaan orang yang terlalu banyak waktu. Membaca cerita, seperti halnya sabar terhadap cerita seseorang. Belajar kehidupan, katamu. Lalu kau meminjamkan (atau memberi?) ku sesuatu. Aku pun akhirnya mulai belajar untuk menulis, memang beda. Bisa menulis semua yang kita rasakan.

Lalu kau pernah katakan bahwa menyapa adalah keramahan. Hampir saja kita berbicara di saat makan itu. Entah bagaimana perasaanmu saat itu. Aku bingung, hingga untuk minum pun aku rela berdiri demi menghindarimu. Kau juga pernah bilang, bahwa manusia betapa hebatnya dia pada dasarnya suka pada seseorang yang membuatnya simpatik, perhatian dan lainnya. Tapi semua harus dijaga. Seperti kata Arai, teman Ikal (Sang Pemimpi), kita tak boleh mendahului nasib.

Kau memang menarik. Disaat tertentu, kau bak pujangga perangkai kata. Kau menuduh, ”perempuan tak punya jiwa!”. Tak mungkin. Ku balas, ”perempuan punya jiwa yang berbeda”. Jawaban cerdas katamu. Kau mungkin bisa menjadikanku seorang dewi, sekalipun kau bukan seorang dewa. Bukan seorang dewa, sesuatu yang pernah kau ungkapkan.

Lalu kau menjelma menjadi tukang hikmah. Banyak pelajaran, inspirasi yang kudapat dengan bergaul denganmu. Tapi tiba-tiba kau bisa jungkir balik menjadi orang yang lemah, terjatuh hebat, seolah butuh uluran tangan. Atau bahkan menjadi orang yang hidup dengan segenap pernik modernitasnya. Lengkap, sekaligus kekuranganmu. Pernah aku sangat senang bicara dengannya, mengajak berpikir dalam, tapi kadang membuat jengkel, atau heran terhadap sikapnya. Betapa tipis, semua rasa-rasa itu.

Aku ingin orang yang menjadi teman hidupku, bukan hanya yang pandai memuja diriku, tapi juga yang lebih utama memuja diriNYA. Yang bisa memimpin dan membimbingku. Terlalu idealkah itu? Manusia boleh berharap. Aku sendiri mungkin tak pernah bisa membantumu saat-saat kau benar-benar sangat butuh uluran.

Kau senang untuk saling berbicara tentang cita-cita. Berbagi mimpi, katamu. Terakhir, kau tunjuk sebuah daratan di seberang jauh. Sebuah daratan biru. Sepertinya kau ingin sekali kesana. Aku pun ingin sangat. Selebihnya, aku tak tahu apa maksudmu. Terlalu banyak yang tak kumengerti darimu. Tapi aku juga takut, saat kau terlalu dekat denganku.

Aku tak tahu kini harus seperti apa kepadamu. Aku sendiri bingung terhadap perasaanku. Tapi aku justru yakin akan perasaanmu. Bagaimana bisa? Kau yang bisa menjawabnya sendiri. Semoga benar.

dalam waktu beranjak dewasa
-sebuah fiksi realis-

Thursday, December 21, 2006

menjadi kakak

Jakarta
"Mas lagi bete nih..masa dia bilang bahwa dia mau pindah kerja.kata dia,buat apa di jakarta kalau ga ada yang perhatian.katanya ndi terlalu nuntut,bingung nih…"

Sejenak aku menenangkan diri di tengah kerja, mulai lah mengetik sms.

"ndi juga harus paham.kan pindah kerja itu tugas.ga boleh gitu.laki-laki itu cenderung menguasai, ga ingin dituntut. emang udah yakin jodohnya?”

Seorang adik sepupu, mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta. Terpaut 2 tahun di bawahku. Anak sulung-adiknya kuliah tahun ini, tidak berjilbab, berkacamata, relatif manja dan manis. Cukup dekat, sering curhat atau minta saran tentang keluarga, kuliah, freelance, keuangan dan pastinya ‘teman dekatnya’.

Terakhir kali ketemu langsung, sebelum mengantarnya di stasiun bandung 1 bulan lalu,

“..Manfaatkan mumpung masih muda, masa mau nikah cepet sih… masih banyak yang harus dicapai. Makanya, jangan dekat-dekat, ga bosan apa ketemu tiap hari. Ntar kalo udah nikah, jadi ga ada manisnya lho..”

Sambil mengusap kepalanya. dan dia pun tersenyum nyengir.

Surakarta
“Jadi apa perlu cesar bu bidan? Bagimana dengan baby blues?hehe. Apa kabar nih bu bidan? Lagi praktek ya. Awas, jangan ‘main2’ ama cow ya. Jadi bu bidan dulu!… “

Lama menunggu, hampir 2 jam.. tiba-tiba :

“Maaf, baru bales. Habis ngantar pasien SC emergency, lari2 gitu, kaya di TV, he2x. skrg aq lg praktek di RS. Baby blues: tingkatkan PeDe si ibu, terutama dalam m’rawat bayi dan menyusui. Dukungan moril keluarga,Bantu ibu dalam m’rawat bayi. {padahal tanyanya ga serius, malah dijawab serius..}. B’arti kalo kaya Aa’, udah boleh ‘mcm2’ ama cew ya? Hayo..knalin dunk!..”

Seorang adik sepupu yang lain, sepantaran dengan Jakarta. Berjilbab, lulusan pondok pesantren putri, kuliah AkBid (Akademi Kebidanan), anak sulung-adiknya perempuan semua dan relatif dewasa. Baru akhir-akhir ini dekat. Merasa bersalah, kemana aja aku selama ini.

Jogjakarta
“ana (saya-arab) ga mau hanya jadi sekedar ibu rumah tangga. Masa smu pilihan, kuliah ngerjain tugas sampai malam-malam, susah-susah,..terus lulus dan selanjutnya nikah hanya jadi ibu rumah tangga ..masih banyak mimpi, mau jadi dosen, aktivis muslimah, professional dll..”

Selisih 1.5 tahun di bawahku. Pinter, keras tapi lembut (kadang2) dan semangat sehingga sering terburu-buru. Bukan sulung, tapi egaliter. Lumayan dekat akhir-akhir ini, walaupun tak pernah mengakuinya. Maka jawaban untuk yang diatas :

“itu semua bagus. Kamu bermimpi mengajar di depan kelas, mengadvokasi muslimah, atau professional andalan di bidangmu. Gut! Tapi, kamu harus tetap sadar untuk menjadi ibu RT juga, siap melakukan pekerjaan2 domestik..."

Makasar
“wie geh’t heute? Lagi ngapain kak? Aku baru aja pulang les. Besok aku ujian.”
Atau:
“kakak lagi d madiun atau bandung? Kalau ke makasar, mampir ya… ntar kalau ke jawa, anti kasih tau kakak..”

Biasa memanggilnya anti, bukan semata karena namanya yang mirip, tapi juga artinya kamu-perempuan(arab). Belum pernah ketemu. (Katanya) Anak bungsu-dua kakak laki-lakinya lulusan Australia dan yang satu masih di Unhas. Smu kelas 2, berjilbab, suka ikut pengajian dan bilang kalo dia manis.

“kakak abis pulang kerja, anti. Besok ujian, met belajar ya. Jangan lupa berdo’a dan tilawah…”

-----
Senang melihat mereka tumbuh dewasa...

You all are not alone..
I’m here for you,
Though you’re far away,
I’m here just stay..

Wednesday, August 16, 2006

Merdeka...!!!

Bahagianya, berjalan di tengah merah putih di sekelilingku. Bendera kecil bergelantungan di tali-tali, membentang di jalan-jalan masuk gang. Di bawahnya, jalan aspal yang hitam di beri batas luar warna putih. Umbul-umbul turut serta mewarnai, ada kain umbul warna merah, hijau, biru, kuning, dan putih. Tak lupa, lampu kerlap-kerlip yang menyapa. Semuanya berpadu rancak menyambut siapapun orang yang lewat.

Sudah 61 tahun lalu ternyata, bangsa ini merdeka. Padahal, suara Bung Karno masih saja terngiang jelas, selalu menemani kesendirian. Memberi pijar harapan, dalam semua keterbatasan hidup. Padahal, suara-suara mesiu, dan bau-bau ledakan masih tak juga hilang dari ingatan. Dan yang masih sangat jelas, pekik-pekik “Merdeka…Merdeka, Merdeka!”. Melihat seolah semua penduduk negeri ini berhamburan keluar, bersatu, tak peduli siapapun dia, akan dengan bangga saling berkata dan berjabat tangan, “kita sudah merdeka bung..!”. Jatuh air mata ku mengenangnya.

Berarti, sudah 61 tahun pula bangsa ini membangun. Demi kesejahteraan rakyat, itu tujuan pembangunan seperti yang pernah dikatakan Bung Karno di Lapangan Benteng menjelang peringatan kemerdekaan ke-10. Sederhana saja, membangun artinya membuat rakyat sejahtera, tidak sulit hidupnya, tidak perlu mengantri bahan pangan lagi, tidak usah pula meringis kelaparan, hidup tenang, punya garapan sawah dan anak-anak yang bisa bersekolah.

Karena menurut para cerdik-pandai perjuangan kemerdekaan dulu, Indonesia adalah bangsa yang kaya. Dalam kesendirian kami, pejuang-pejuang ini berjalan menyiisir hutan demi hutan, sawah, sungai, dan gunung, tak satupun tanah negeri ini yang kering, tak menghasilkan apa-apa. Di saat-saat malam penjagaan di pos, ditemani sebuah radio peninggalan meneer mandor tebu, lirik lagu Ismail Marzuki inilah yang selalu sering diputar, memberi hiburan bagi kami yang selalu penuh harap..


Tanah air-ku, Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darah-ku yang mulya
Yang kupuja s’panjang masa

Tanah airku aman dan makmur..

Ah, itu lah cerita masa lalu. Masa kami, orang-orang tua mendirikan bangunan bangsa ini. Ya..bangunan bangsa, bukan bangunan Jakarta, Surabaya atau Bandung. Karena dimana-mana, di atas tanah bernama Indonesia, tak peduli apakah Bung Karno, Bung Hatta atau Bung Sjahrir tahu atau tidak, kami merasa harus membangun Indonesia, negeri tempat anak dan cucu kami akan lahir.

Tidak susah, tinggal angkat senjata. Ambil parang, buat tombak, atau rampas senjata lawan. Tembak atau tertembak, mati atau sekarat, tak jadi soal. Bukankah semua sudah digariskan? Kalaupun tiada, mati kami mulia karena perjuangan. Tuhan tak akan salah melihat kami.

Tapi ternyata, membangun tak semudah mengangkat senjata. Membangun butuh orang pintar. Dan seperti kata ibu-ku, semakin orang pinter, makin mudah keblinger. Kami tak paham, istilah-istilah yang digunakan orang-orang pintar negeri ini. Pemberdayaan, globalisasi, atau reformasi.

Katanya pemberdayaan berasal dari kata daya. Jadi, apakah pemberdayaan berusaha menjadikan orang berdaya, punya daya? Jadi, selama ini rakyat tidak punya daya? Lho, tenaga yang dipakai buat mengidupi anak istri, itu kan daya juga. Lalu, globalisasi. Aku malah jadi ingat gombalisasi. Sama seperti musang-musang pribumi yang jadi cecunguk Belanda, bermuka manis di depan, tapi ternyata gombal. Reformasi katanya perubahan pelan-pelan. Kalau kemudian repot-nasi, apa itu pelan-pelan juga? Tak ngerti aku dengan orang-orang pintar ini. Bung Hatta yang berkali-kali pergi ke negeri Belanda sana, rasanya masih bisa berbicara kepada kami-kami ini.

Kalau sekarang, hidup kami tak dikenal, kami juga tidak akan marah. Kami bukan anak-anak muda zaman sekarang. Berteriak-teriak, istilahnya demonstrasi, menuntut ini itu, bakar sana sini. Tapi, urusan gaya hidup, sama saja. Makan cukup, necis dengan kaos dan celana dari negeri Amerika. Apa mereka pernah merasakan jadi orang-orang yang mereka bela? Mana ada cerita, berjuang demi sesuatu yang belum pernah ia rasakan.

Kalau sekarang, banyak orang yang sikut-sikutan ingin menjadi pemimpin, terkenal, dihormati, atau kaya, kami pun tak perlu ikut-ikutan atau berkata bodoh, ”kami yang harusnya menjadi orang yang paling dihormati, karena bangsa ini tak akan tanpa kami”. Walaupun, mereka mengatasnamakan pihak-pihak yang baik, sebagai penerus perjuangan, generasi muda, harapan baru, penyemai kebenaran, pembawa kesejahteraan. Dan semuanya mengatakan demi rakyat, atau umat. Mereka harusnya melihat, apa yang sudah mereka lakukan untuk bangsa ini? Apa mereka serta merta mau mengambil nasib negeri ini, dengan dalih menyelamatkan masa depan?

Rasa-rasanya, pendiri dan pejuang bangsa ini tak pernah gontok-gontokan, dari banyak macam golongan pun. Bangsa ini punya sejarah. Jangan dikira hanya lahir kemarin sore dan kalian berhak mengaturnya, demi apapun yang kalian punya. Sekali lagi, kami pun tak perlu ikut-ikutan yang seperti itu.

Walaupun kami hanya diingat di saat-saat hari kemerdekaan, dengan bunga, ucapan atau bantuan hidup sekedarnya, tak pernah menjadikan kami bosan untuk selalu mencintai negeri ini. Meskipun sekarang, sangat sedikit orang yang berteriak ”Merdeka!” dan paham semangat di dalamnya, kami tak juga merasa perlu untuk membenci anak-anak kami. Bahkan untuk yang sangat sederhana, saling berucap ”Selamat Hari Merdeka” pun jarang. Padahal dalam akhir puasa, cucuku selalu ikut berdesakan berkirim pesan lewat hp. Lalu, lampu hias, jalan berbatas putih, bendera bergelantungan dan umbul-umbul serasa hening, tak berucap merdeka.

Kami cinta negeri ini. Disini tempat lahir kami, dan disini pula kami akan menutup mata. Rasanya, Bung Karno dan Bung Hatta hadir kembali membacakan teks proklamasi tanggal 17 esok. Dan ingin sekali, esok pagi...pagi-pagi sekali aku membuka pintu rumah. Mengirup udara 17. Lalu berteriak parau nan lantang, selantang-lantangnya...MERDEKA!.

Wednesday, August 02, 2006

Sang Pemimpi

Jika Shakespeare dengan Romeo dan Juliet nya, Paulo Coelho punya Sang Alkemis, Sadeq Hedayat ada The Blind Owl, maka karya unggulan seorang penulis yang biasa kita sebut masterpiece, selalu menjadi pembanding bagi karya-karya tulisan mereka lainnya. Serasa tidak adil memang, acapkali pembaca sangat excited terhadap sebuah karya, kemudian memendam kesan kuat itu dalam khasanah nya, lalu mengharapkan karya berikutnya lebih dahsyat atau setidaknya sama baiknya dengan masterpiece itu.

Andrea tentu menjadi salah satu yang (akan) mengalami fenomena itu. Laskar Pelangi (LP) menjadi bookseller, mengguncang jagad buku dan sastra Indonesia, berani melawan arus, membawa nilai-nilai konservatif dan menggambarkan potret paradoksial pembangunan setelah 4 dasawarsa kemerdekaan negeri ini.

Sang Pemimpi (SP), novel kedua nya yang dibuat sebagai bagian kedua dari rencana tetralogi LP benar-benar ditunggu oleh penikmat buku, terutama orang-orang telah mendaki indahnya pelangi filicium, dan rindu dengan nuansa pendidikan yang menyenangkan dan penuh hikmah yang tergambar dalam LP.

Pembaca agaknya akan mengalami overestimated di awal-awal membaca SP ini. Andrea memberikan bagian akhir dari cerita besar tentang kejar-kejaran, yang baru diketahui keseluruhan cerita itu setelah membaca selesai mozaik pertama. Istilah dan bahasa yang digunakan di bagian awal, langsung mengajak pembaca untuk memasang kerutan dahi, berpikir apa yang sebenarnya terjadi. Dan terlihat berbeda dengan LP, yang lebih enak dibaca di awal karena pendekatan yang digunakan adalah narasi ringan kecemasan orang tua murid SD Muhammadiyah di hari pertama masuk sekolah.

Cerita SP adalah penggalan kehidupan lanjutan ikal, subyek pencerita yaitu Andrea sendiri. Penggalan karena saat-saat awal SMU tak pernah digambarkan disana, pun cerita lulusan SMU hanya diberikan tentang pembagian rapor SMU terakhir. SP banyak mengekplorasi kerasnya perjuangan hidup tiga anak manusia, ikal, Arai (saudara sepupu jauh ikal yang ditinggal orang tua dan menjadi saudara pungut orang tua ikal), dan Jimbron (anak gagap, yang mengidap obsesif kompulsif terjadap kuda, berperawakan tambun, mempunyai dunia sendiri tapi berhati bersih).

Mozaik saat Arai ditinggal orang tuanya, menunggu dijemput ayah ikal di tengah kebun tebu di depan gubuknya yang reot, lalu dukanya tersembunyi saat ikal dan ayahnya datang, menghibur ikal yang ngilu di depan seorang anak 9 tahun yang sudah menjadi Simpai Keramat-sebutan melayu yang menjadi orang terakhir dalam suatu klan, mengingatkan kita dengan kisah Lintang. Usaha kerasnya mengayuh sepeda puluhan km demi mencicipi pendidikan, belajar di tengah-tengah malam ditemani kemerlip bintang ilmuwan-ilmuwan tersohor. Benar-benar, Arai adalah Lintang nya SP. Jika Lintang harus menanggung beban keluarga, Arai lebih beruntung dengan hanya menanggung hidup sendiri untuk terus mengenyam pendidikan. Disini, pembaca disajikan kerja keras dan optimisme. ”Kita tak ’kan pernah mendahului nasib, ” ungkap Arai.

Kisah hikmah indahnya pendidikan tidak hilang (dan sepertinya menjadi mainstream tetralogi LP). Pak Balia, adalah ”malaikat” yang melanjutkan kisah hikmah Bu Mus dan Pak Harfan. Seorang guru sastra, yang selalu mengajak anak didiknya bercita-cita tinggi, dan tak perlu takut dengannya. Padahal cita-cita itu seolah-seolah menjadi mimpi bagi anak-anak Belitong yang menimati ”sedikit” pendidikan di SMU Bukan Main, satu-satunya SMU di kawasan Belitong. Sekilas buah ajarnya yang dalam : Setiap peristiwa di jagat raya ini adalah potongan-potongan mozaik. Terserak di sana-sini tersebar dalam rentang waktu dan ruang-ruang. Namun, perlahan-lahan ia akan bersatu membentuk montase seperti Antoni Gaudi. Mozain-mozaik itu akan membangun siapa dirimu dewasa nanti. Lalu apa pun yang kau kerjakan dalam hidup ini, akan bergema dalam keabadian.., ”maka berkelanalah di atas bumi ini untuk menemukan mozaikmu!”

Dan mimpi itu dikibarkan tinggi-tinggi. ”Jelajahi kemegahan Eropa sampai ke Afrika yang eksotis. Temukan berliannya budaya sampai ke Prancis. Langkahkah kakimu di atas altar suci almamater terhebat sepanjang tara: Sorbone. Ikuti jejak-jejak Sartre, Louis Pasteur, Montesquieu, Voltaire. Di sanalah orang belajar science, sastra dan seni hingga mengubah peradaban..”

Maka anak-anak Belitong berkesempatan memetik buah hikmah pendidikan sejati dari Bu Mus, Pak Harfan dan Pak Balia. Tertancap dalam, kuat, membentuk visi dan kekal.

Dan jika A Ling dan nuansa mistis menjadi feature LP, maka SP punya cerita Arai berjuang menarik Nurmala yang indifferent, Jimbron yang akhirnya membuat Laksmi tersenyum dan kenakalan remaja menginjak dewasa menerobos pintu bioskop yang terlarang bagi pelajar demi dorongan Testoseron akibat foto wanita bercarik merah yang membawa Pudel nya.

Setelah kita hanya disuguhkan singkat dengan cerita singkat di LP tentang ikal di UI, manjadi juru sortir dan mendapatkan beasiswa S2 ke luar negeri, maka SP memberikan cerita lengkapnya. Walaupun ada banyak irisan dengan LP dan kurang menarik lagi, karena kita sudah tahu ending dari kisah itu. Yang ’baru” adalah suasana syahdu keluarga ikal dan Arai di kampung Belitong menerima dan membuka surat pemberitahuan beasiswa. Dan mozaik kehidupan itu mereka bangun, altar suci itu pun mereka dapatkan, keduanya diterima di : Sorbone.

Sekali lagi, kesenangan kita membandingkan-bandingkan satu karya dengan karya lainnya dari seorang penulis sah-sah saja, dan itu memang kewajaran. Namun, kesewenangan kita untuk men-judge karya satu adalah lebih baik, masterpiece tak tertandingi dan berujung kekecewaan bahkan menjadi underestimeted terhadap karya-karya selanjutnya, menurut saya adalah tindakan kurang adil. Walaupun itu, memang hak pembaca. Setiap karya adalah unik, dan hikmah apapun yang kita dapatkan, sedikit atau banyak tetaplah hikmah, yang menjadi mozaik kehidupan kita.

Menyodorkan buku kepada pembaca yang punya hak istimewa itu, mirip dengan ungkapan Andrea yang dituliskan di akhir SP, setelah mendapat petuah tentang tingginya sastra melayu. Menceburkan diri dalam sastra melayu, sama rasanya menggoda sarang tawon.

Selamat membaca dan menemukan mozaik-mozaik kehidupan..

Tuesday, May 02, 2006

potret manusia pembelajar

Namanya Muslimin, angka usianya telah beranjak 28 tahun. Dia masih lajang, walaupun dalam segi kematangan, aku pikir tak ada yang kurang untuk menjadi seorang suami. Pekerjaannya memang “hanya” penjual nasi goreng, sebenarnya bukan penjual, karena tentu saja di sendiri yang memasaknya. Tidak tiap hari dia ada di depan rumahku, tiap kurang lebih seminggu sekali dia bergantian dengan dua temanya yang lain. Sepertinya memang penjual nasi goreng di bandung menjadi semacam “kartel” yang jumlahnya banyak.

Sejak lama aku amati, dia berbeda dengan dua temannya yang lain. pendiam dan ramah, kesan pertama tentang orang ini. dengan topi yang manjadi ciri khasnya, dia sangat mudah tersenyum. Kesan yang membedakan dengan dua temannya, yang satu rambutnya dicat dan yang satunya masih sangat muda (kutaksir sekitar 20an tahun).

Selain itu pastinya adalah masakannya, mie kuah, mie goreng, nasi goreng, atau campuran diantara mie dan nasi goreng (biasa disebut mawut). aku sendiri dulu sempat berpikir bahwa karena penjual nasi goreng adalah “kartel” maka siapapun yang membuat, maka hasilnya 11-12, tak jauh beda. Tapi bagiku, mas muslimim beda. Tidak terlalu gurih, tidak hambar, tidak terlalu pedas, dan porsi yang pas. Aku tidak tahu, apa gara-gara pengaruh simpatik pada seseorang sehingga membuat apapun yang berasal darinya adalah nikmat. Tapi beberapa temanku juga merasa hal serupa.

Hal yang khas, aku amati dia suka membaca. Ya...seorang penjual nasi goreng hobi membaca. Dengan tekun berusaha mencari cercah cahaya, dia membaca. Koran, bacaan yang hampir selalu aku temui padanya. Mombalik-balik koran, sepertinya adalah kebahagian tersendiri seperti halnya mengetahui ada (calon) pembeli yang memesan masakannya.

Pernah suatu hari aku bertanya padanya, kenapa suka membaca (sebuah pertanyaan retoris). Dia menjawab, “mengisi waktu luang mas, daripada ngelamun tidak jelas. Baca bisa tahu berita-berita”. Lalu aku timpali, “lho emang itu koran kapan mas?”. Sambil ketawa dia menjawab, “wah ini udah koran lama, bulan desember (tahun lalu!). lumayan lah, buat baca-baca”

Di tempat yang lain, Mak Etak sedang berusaha keras bisa membaca dan menulis. Anda tahu usia Mak Etak? Sudah lebih dari 60 tahun! Usia yang mendekati usia Sang Nabi ketika dipanggil ke haribaan Kekasihnya. Jalannya pun sudah tidak tegak lagi. tapi terlihat dia bersemangat, ketika harus maju ke depan kelas menuliskan sesuatu di papan tulis. Di sebuah desa, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Mak Etak bersama teman-teman sebayanya belajar dalam sebuah lembaga pendidikan lanjut usia.

Ketika ditanya, buat apa Mak Etak belajar membaca?. Senyum cerahnya dan jawaban polos berlogat betawi meluncur, “biar bisa baca aksara, baca-baca berita, di koran dan lain-lain” (Metro Pagi, ahad 30 April 2006)

Sosok muslimin, Mak Etak, (dan potret anak-anak belitung) adalah gambaran betapa belajar adalah sesuatu yang dilakukan dengan tulus, tanpa mengharapkan apa-apa, sebuah nilai, label kelulusan, atau yang berujung pada gaji yang tinggi. belajar yang hakiki, adalah kegiatan yang mampu menjadikan manusia terlepas dari keterbelengguannya menuju sinar cerah pengetahuan.

Muslimin bukan orang yang berpendidikan tinggi, tapi dia berjuang mendapatkan wawasan seperti halnya berjuang mempertahankan hidup. Mak Etak, betapa sedihnya kelak jika akhirnya beliau harus membaca berita-berita koran negeri ini, tak ada berita harapan menghampiri. Yang ada, kekerasan, penipuan, kemaksiatan dan segala ketidakenakan lainnya. Tapi bukan akhir yang mereka tampaknya ingin capai. Sebuah proses yang disana tergantung cita-cita adalah energi kehidupan mereka.

Maafkan aku Mas Muslimin, tadi malam aku tak berperan dalam upaya menyambung hidupmu. Hanya koran hari sabtu yang bisa kuberikan, aku tahu itu lebih kau ingat daripada uang lima ribuan. Maafkan kami Mak Etak, bahkan cucu-cucu mu yang punya tenaga, dan kesempatan ini tak bisa menikmati makna pendidikan negeri ini seperti halnya kau menginginkan membaca aksara dunia.

Selamat hari (berbenah) pendidikan...

Wednesday, February 15, 2006

kisah pertama

Hari masuk sekolah pertama kita. Sekolah dasar. Ingat, saat itu kita pakai seragam apa? Jangan lupa sepatu juga. Saat itu, kita gembira akan menjadi orang sekolah. Berpakaian seragam, menenteng tas, belajar di waktu malam, bisa membaca, bermain bersama teman.

Tapi, tak ada yang lebih bahagia mungkin, bapak ibu kita. Anaknya telah mulai sekolah. Untuk menggapai cita-cita, betapa indahnya. Tapi, seandainya mereka tahu apa yang anaknya kerjakan di sekolah. Pasti uang jajan kita akan dipotong. Susst..diam saja ya.

Oiya, waktu itu pula kita pertama kalinya terjun ke sungai kampung. Ingat? Ah, aku sendiri lupa kapan aku mulai belajar berenang. Yang kutahu sekarang, aku lancar berenang tanpa berpikir, bagaimana aku harus memulainya.

Dan tentang jatuh cinta. Jangan kau bilang dulu kalau cinta itu gombal. Toh kamu sendiri yang pernah mengenalkanku pada cinta. Bahkan kita sendiri belum dikenalkan oleh orang tua kita. Dasar anak-anak, masih kecil maunya dianggap dewasa.

Tapi cinta pertama, kapan ya aku memulainya. Apa saat aku mulai menganggap ada makhluk lain yang indah dipandang mata? Mata seorang anak kecil. Satu, dua, tiga...ah, lupa aku mengingatnya, siapa saja mereka. Atau, cinta yang saat itu kita berani mengatakan “kita pacaran yuk”. Aduh, anak kecil norak. Tapi waktu itu sudah bukan SD lagi, seingatku sudah SMP. Ya..tetap aja, cinta monyet.

Indahkah cinta pertama? Benar-benar beda dengan gaya sekarang yang di TV. Masa cinta harus seperti barang, dilihat, dipilah-pilah, dibeli, dipakai, trus bosan, dan daaagh. Benar-benar cinta anak-anak, tak tau apa yang harus dilakukan. Diam saja. Dan dunia terus berputar. Lalu, buat apa kau pacaran?

Beberapa tahun kemarin, ngarasin pertama kalinya masuk sekolah ga pakai seragam. Wuuihhh, udah dewasa kita, mahasiswa. Masuk kuliah tak teratur, bisa bergaya dimana-mana tanpa malu pakai seragam. Benar-benar gagah.

Rasanya kita benar-benar telah hilang kebahagaian. Tak bisa merasakan indahnya dulu, jalan kaki saat pertama kalinya ke sekolah dasar. Atau saat pertama kalinya, mandi di sungai itu. ataukah, bahagia hanya milik anak-anak? Atau sudah berbeda arti bahagia itu. menjadi angka-angka nominal? Jangan munafik, kau sendiri yang juga menghilangkan kebahagiaan itu.

Dan baru saja kemarin, kau terima gaji pertama. Benar-benar pertama dalam hidupmu. Mau kau apakan gaji itu? bukankah orang tua masih mengurusmu? Kau masih lajang. Pacar, tak mudah untuk menaklukanmu.

Atau kau mau langsung mewujudkan cintamu? Yang kutahu, kau sangat kesal dengan lintasan cinta yang tiap hari menggodamu. Tapi kau malah terlalu berhati-hati. Tak ingin, generasimu lahir dari orang yang tak kau tahu. Katamu apa itu? Bibit, bobot dan bebet ya. Terserahlah.

Yang penting, jangan lupakan aku. Hari ini aku menulismu. Kelak, kau harus tersenyum padaku. Hal yang sulit kau lakukan sejak itu. sudahlah. Kau tak mau aku membahasnya bukan.

Seandainya kau tahu. Ini adalah hari terindahku. Karena kau hadir kembali di hadapanku. Walaupun hanya goresan tinta. Terima kasih waktu.

Jadi, kapan kita akan bersama lagi? Melanjutkan kembali kisah pertama kita.


Selamat milad, 14th feb
buat sahabat