Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Tuesday, January 31, 2012

Sejarah Lokal: Gedoran Depok

Buku ini bercerita tentang peristiwa revolusi kemerdekaan di Depok di era 1945-1949. Bukan revolusi dalam arti merebut atau mempertahankan kemerdekaan yang berhadapan dengan Belanda, namun merupakan sejarah ‘kelam’ dimana Depok yang zaman penjajahan adalah ‘daerah istimewa’ Belanda (yang mempunyai Presiden sendiri) akhirnya direbut oleh rakyat dengan sebuah peristiwa yang disebut Gedoran Depok.

Buku ini secara umum terbagi dalam tiga bagian utama, masa awal terbentuknya Depok (1696-1945), masa revolusi kemerdekaan RI (peristiwa Gedoran) dan pasca revolusi setelah perundingan Meja Bundar (1949-1955).

Seorang Belanda Cornelis Chastelein membeli tanah di daerah Srengseng tahun 1695 dan memperluas ke selatan (Depok) setahun kemudian untuk keperluan perkebunan. Untuk mengolah perkebunan, didatangkanlah buruh-buruh dari Sulawesi, Kalimantan, Timor dan Bali yang kemudian membentuk 12 marga ‘Belanda Depok’. Belanda Depok adalah orang Indonesia yang bekerja untuk Cornelis dan kemudian mendapatkan jatah harta warisan Cornelis.

Belanda Depok inilah yang mendapatkan hak istimewa selama masa Belanda dan Jepang, mulai dari Batavia hingga penduduk kampung di sekitar perkebunan. Wilayah Depok sendiri tidaklah seluas sekarang, kurang lebih hanya 1/6 luas sekarang dengan pusat pemerintahan presiden Depok ada di Jalan Pemuda.

Hingga akhirnya ketika Proklamasi, masyarakat kampong merebut semua harta melalui peristiwa Gedoran Depok dan menawan para Belanda Depok ke Bogor. Gedoran Depok sendiri digambarkan sangat mencekam dimulai pada malam hari, dimana para Belanda Depok harus bersembunyi dari patroli-patroli pejuang.

Selama agresi Belanda 1 dan 2, Depok menjadi front depan antara Batavia dan komado Siliwangi yang bermarkas di Bogor. Margonda dan Tole Iskandar, nama pejuang Depok yang gugur dalam misi mempertahankan kemerdekaan dan sekarang diabadikan menjadi dua jalan utama di Depok.

Selanjutnya setelah KMB, para Belanda Depok kembali ke Depok untuk membangun rumah mereka kembali. Namun peristiwa revolusi di pinggiran Jakarta belumlah selesai. Dimana tentara mengalami restrukturisasi, para pejuang ada yang bergabung dalam tentara resmi (gabungan antara PETA,KNIL, dan BKR) dan tidak sedikit yang (kembali) menjadi bandit atau perampok. Masa tahun 1950-1955, Depok menjadi daerah pertempuran antara milisi bandit dan tentara pemerintah.

Mencermati pergulatan itu sendiri, dimulaai saat para pejuang melihat kenyataan yang tidak memuaskan terhadap jalannya perundingan dengan Belanda dan kemudian berperang sendiri dengan tentara pemerintah yang seolah-oleh mewakili kekuasaan. Bahkan pasca KMB pun, perlawanan terhadap tentara pemerintah masih dilanjutkan dalam skala lebih kecil yang dilakukan oleh para bandit yang dulunya juga merupakan pejuang.

Selain merupakan catatan-catatan, sesuai judulnya beberapa kopi manuskrip asli perihal asal Depok juga disertakan dalam buku. Salah satunya adalah surat wasiat Cornelis dan pembagian ke 12 marga. Beberapa foto Depok tempo dulu juga menambah nuansa historis dari beberapa titik familiar di Depok. Wawancara dengan saksi hidup menjadi salah satu titik kuat dari buku ini.

Tapi menurut saya pribadi buku ini belumlah disebut sebagai buku utuh sebuah sejarah Depok. Hal tersebut karena secara sistematis buku ini tidaklah seperti buku sejarah dimana alur cerita dan sumber dirunut dengan rapi. Seperti disampaikan diatas, model sistematika buku ini mirip lebih seperti catatan sejarah dibandingkan buku sejarah.

Terlepas demikian, tekad dan usaha penulis untuk menyusun sebuah Buku sejarah lokal sangatlah harus diapresiasi, apalagi di tengah dunia modern dan populis saat ini. Walaupun belum sempurna, paling tidak buku ini mampu hadir di tengah masyarakat Depok menjawab keingintahuan atas sejarah daerahnya sendiri. Buku ini juga layak menjadi bahan bacaan generasi muda Depok.

Dan karena manfaat tersebut yang menutupi harga sedikit mahal dari buku ini jika hanya dipandang sebagai sebuah catatan sejarah lokal. Layak dikoleksi, terutama oleh warga Depok. Selamat membaca.

Tuesday, January 24, 2012

Catatan kecil: Notes from Qatar

Buku yang diambil dari kumpulan tulisan blog dengan judul yang sama ini menyajikan cerita yang dialami penulis dimulai ketika proses mendapatkan beasiswa penuh untuk sekolah sarjana di Universitas di Malaysia dan kemudian beasiswa penuh lagi ke Qatar dari Qatar Foundation. Hikmah kejadian sehari-hari selama di Qatar hampir memenuhi seluruh isi buku ini.

Beberapa Hikmah yang serin dijadikan mainstream dari buku ini adalah kekuatan ikhlasnya sedekah. Penulis mengalami berkali-kali kejadian yang proses awalnya adalah karena sedekah. Tema-tema tentang kerja keras dan pembelajar juga menjadi bahasan dalam buku ini. Dengan mengutip beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadis Nabi, maka penulis mampu memberikan argumentasi logis dengan gaya khas anak muda (penulis kelahiran 1987).

Buku dengan citation dari banyak tokoh nasional (dan istri Emir Qatar) dan artis ini juga merupakan gambaran bahwa anak muda yang memutuskan sekolah ke timur tengah tidak berarti ‘kalah populer’ dari yang belajar di Eropa atau Amerika. Karena beberapa top university di dunia, juga membuka ‘cabang’ di Qatar dala komplek education park-nya. Apalagi saat ini, beberapa Negara Timur Tengah sedang memposisikan dirinya menjadi Hub International (UEA, Qatar). Dan bagi muslim, sekolah internasional di Timur Tengah akan mendapatkan banyak keuntungan sekaligus, diantaranya belajar dan praktek bahasa Arab, kedekatan melaksanakan Umrah dan Haji.

Selain kelebihan dari buku ini diatas, salah satu hal menarik dari buku ini adalah diberikannya sedikit informasi mengenai Qatar di antara pergantian judul topik. Misalnya, harga BBM di Qatar 0.3 QR/liter (1 QR = ±Rp 3,000), sedangkan air mineral 1 QR/Liter (fenomena mirip juga terjadi di beberapa Negara Eropa, antara harga BBM atau susu cair). Info tentang Qatar lainnya adalah Negara berpenduduk 1.7 juta (bayangkan Kota Jakarta saja 10 juta orang, Jabodetabek lebih 20 Juta!) ini ternyata menggunakan hukum liberal, sehingag minuman alkohol sangat bebas dijual disana. Hal tersebut karena sebagian besar dari pendukuk Qatar adalah ekspatriat yang bekerja disana. Yang menarik, ternyata populasi wanita di Qatar hanya 1/4 dari pendukuk.

Meskipun informasi tersebut sudah memberikan tambahan bagi isi buku, namun hal tersebut sebenarnya masih bisa di eksplorasi lebih jauh lagi misal dalam sebuah catatan khusus di akhir buku dengan semacam peta perjalanan kecil tentang Qatar. Hal tersebut tentu akan menjadi daya tarik plus dari buku ini, sehingga informasi mengenai Qatar dari sudut pandang penulis pun bisa didapatkan pembaca secara lebih lengkap.

Buku ini sebenarnya buku yang dicetak tahun semester awal 2011, tapi saat ini konon sudah 6 kali cetak ulang sehingga dikategorikan dalam national best seller (berapa batasannya ya?). Jujur, saat menyaksikan di sebuah acara tayangan televisi pagi hari tentang peluncuran buku ini tahun lalu, saya tidak terlalu antusias untuk membaca apalagi membelinya. Saya justru memutuskan membelinya (seri limited edition) karena insyaAllah akan ada kesempatan untuk mengunjungi Negara tersebut.

Dan setelah membacanya, menurut pandangan saya, bahwa memang banyak yang bisa diambil pelajaran dari buku tersebut. Namun, untuk harga yang sedemikian bukan hal yang layak untuk dijadikan koleksi. Anda cukup membaca dari meminjam, atau membaca blog penulisnya saja.

Wednesday, June 16, 2010

Migas dan Energi Indonesia

Sudah cukup lama saya mencari buku ini, dari tahun lalu dan kemudian baru dapat awal tahun ini langsung berhubungan dengan penulis nya. Usut punya usut, ternyata memang buku ini tidak dijual bebas. Melalui email, penulis memberitahukan bahwa pembelian buku bisa dilakukan di kantor DEN (Dewan Energi Nasional).

Buku ini di awali dengan pendahuluan dimana selain mensarikan bab-bab isi buku, juga menjelaskan bagaimana kekecewaan penulis terhadap kondisi energi khususnya sektor migas di Indonesia. Secara umum buku ini sangat cukup sebagai gerbang untuk mengetahui
kondisi serta problematika migas. Ada beberapa sumber energi lainnya yang dibahas dalam buku ini, namun korelasi kuatnya dalam rangka menyoroti iklim yang belum kondusif untuk pengembangan energi non-migas padahal di sisi lain energi migas kita sangat terbatas.


Buku yang disponsori Pertamina ini bisa dibilang sangat “gado-gado”. Mulai dari rumus-rumus
akademis dalam menentukan cadangan migas dan keekonomian nya dan juga beberapa keekonomian sektor energi lainnya, sebagai bukti pengalaman, keahlian dan jalur akademis penulis sebagai pengajar di Teknik Perminyakan ITB. Ada juga mengenai beberapa tulisan kegelisahan pengelolaan energy, dan tulisan mengenai prospek energy masa depan Indonesia yang belum terlalu dikembangkan saat ini seperti CBM (Coal Bead Methane), panas bumi, nabati dan energi terbarukan lainnya.


Jika anda adalah orang awam yang ingin mengetahui kerangka seluk-beluk migas indonesia, buku ini layak untuk dibaca sekalipun untuk beberapa hal tertentu cukup dalam pembahasan teknis nya. Dan justru detil tersebut sebagai pelengkap untuk yang ingin mengetahui lebih dalam sedikit keteknikan migas. Tidak heran penulis sebagai anggota DEN dalam setiap kesempatan dengar pendapat dengan pemerintah atau DPR, selalu merekomendasikan untuk membaca buku ini seolah sebagai
buku pengantar migas Indonesia.

Dan jika anda adalah orang pengalaman di dunia migas, maka buku ini pun bisa membuka cakrawala yang lebih luas daripada “hanya” sekedar memenuhi target pemerintah (dan perusahaan migas) untuk selalu menjaga atau meningkatkan produksi migas. Walaupun untuk beberapa hal teknis seperti perhitungan cadangan, cost recovery & keekomian migas, anda yang pengalaman dalam bidang tersebut tidak akan puas dengan sedikit saja metode yang dicantumkan dalam buku ini.


Karena keinginan buku ini untuk menyasar kalangan pemula dan pengalaman di sisi lain justru menjadikan buku ini setengah-setengah. Dimana seharusnya hal tersebut bisa diatasi dengan pengelompokan bab-bab menjadi bab besar yang mencakup sebuah ide pokok, dimana 31 bab buku ini pun bisa menjadi tiga atau empat ide pokok atau bab besar. Misalnya tentang tulisan akademis, dunia migas, keekonomian energi dan opini energi.


Selain itu, layout masih menjadi salah satu kelemahan buku-buku wacana keteknikan seperti ini. Cukup membosankan buku berisi rumus yang segmentasi nya bukan kepada mahasiswa jika dikemas dengan layout yang kurang baik. Selain itu, penjelasan teknis rumus-rumus juga masih belum memudahkan pembaca pemula untuk mulai belajar memahami dunia teknik migas.


Di pendahuluan sendiri, penulis (atau editor?) memaksakan jalinan ide antar paragraph dengan menyesuaikan isi bab-bab dalam buku. Bisa saja hal tersebut dilakukan, namun rasanya tidak harus memasukan semua bab buku dalam pendahuluan. Jika sudah dilakukan pengelompokan menjadi bab besar diatas, maka bisa dibuat pendahuluan yang mengalir.

Siapapun anda yang peduli dan ingin tahu lebih dalam tentang migas Indonesia, maka anda wajib membaca buku ini. Jika bisa, anda harus bertemu langsung dengan penulisnya untuk membicarakan buku ini. Bukan hanya untuk quote dan tanda tangan, tapi juga semangat Prof Widjajono Partowidagdo tentang Migas dan Energi Indonesia.

Friday, December 19, 2008

Maryamah Karpov

Apa yang diharapkan oleh pemirsa film Laskar Pelangi ketika tahu bahwa buku tetralogi Laskar Pelangi terbit? Barangkali itulah strategi pemasaran dari buku tersebut, Maryamah Karpov. Berangkat dari film sukses Laskar Pelangi, maka launching buku terakhir tetralogi itupun istimewa. Dikabarkan, sold out di minggu pertama cetakan pertama.

Itulah fenomea lanjutan Andrea, sosok utama yang berada di balik buku tetralogi tersebut. Laskar Pelangi (LP), Sang Pemimpi (SP), Edensor (ED) dan Maryamah Karpov (MK).

Maryamah Karpov, dimana buku ini dalam forum-forum diskusi sastra Andrea selalu mendengungkan didekasikan untuk perempuan melayu menurut saya akhirnya tidak mencapai tujuannya. Apa yang menjadi fokus tetap sisi Andrea, dan sangat sedikit sisi menyinggung tentang perempuan melayu.

Sang judul buku sendiri, hanya terbahas kurang dari satu halaman sebagai Maryamah, penjaga warung tempat ramai orang bernain catur gaya Karpov. Ada juga bahasan perempuan melayu oleh sosok Narmi, remaja putri yang elok bermain biola dua kali seminggu di warung kopi.

Lalu jika yang dimaksud untuk perempuan itu adalah segala daya upaya Ikal mencari A Ling, maka tiada bukan itu adalam roman cinta. Bukan khusus sebuah tribute untuk perempuan melayu.

Jalinan cerita Maryamah Karpov mengalir khas Andrea, dengan beberapa gaya bahasa khas melayu pedalaman. Tentu ini sangat bagus melestarikan khasanah bahasa melayu sebagai bahasa induk dari bahasa indoensia. Sebuah upaya untuk mengenalkan dialog-dialog melayu ke masyarakat non-melayu. Sebuah bentuk aktivitas budaya positif di tengah jawa-centris akut yang melanda negeri kita.

Mozaik bermula dari romantisme keluarga yang sangat memegang petuah bijak orang-orang tua, dengan cara ”dibungkus tilam di atas nampan pualam”. Romantisme sosok ayah dan meloncat ke kisah-kisah akhir penyelesaian tesis Ikal di Eropa. Dan pada bagian sidang tesis master itu buat saya adalah bagian yang paling inspiratif, dan momensial. Tidak mudah mendapatkan beasiswa Eropa, dan yang lebih sulit lagi karena saya pernah diberi sebuah buku tentang bahasan split pricing di jasa telekomunikasi.

Selanjutnya, kisah perjalan pulang ke indonesia hingga sampai di Belitong dan berjumpa dengan kawan-kawan lama. Saat setting berpindah penuh ke Belitong inilah bagian terbesar dari novel ini. Tentang kultur masyarakat melayu pedalaman Belitong yang terbagi dalam beberapa suku bangsa, hingga akhirnya kisah heroik usaha pamungkas untuk menemukan A Ling.

Pada titik menemukan A Ling, adalah rangkaian cerita yang sangat sukar di percaya. Maaf, dari awal pun LP, SP, dan ED bukan murni kisah nyata namun hal-hal disana meski banyak kritik tetap menarik dinikmati tetap dengan kepala rasional.

Sedangkan MK, menurut saya tidak lebih baik dalam membungkus ’segala ketidakmungkinan’ dalam jalinan cerita. Singkatnya, mana yang benar dan mana yang merupakan bumbu cerita. Pembaca sebenarnya tidak perlu jauh mencari tahu apakah ini atau benar. Tapi dengan frame di awal bahwa tetralogi Laskar Pelangi ini seperti perjalanan hidup Andrea sendiri akan dihantui pertanyaan ”apakah ini benar seperti itu?”.

Di bagian awal segalanya terlihat wajar, cerita tentang keluarga, masyarakat, eropa dan Belitong. Setelah sampai pada upaya mencari A Ling, segalanya terkesan masuk dalam ranah ’abu-abu’. Usaha keras membuat kapal, menaikan kapal lanun tua yang karam ratusan tahun di dasar sungai, lalu ahirnya berlayar ke pulau Batuan. Pada bagian-bagian tersebut saya hanya menikmati jalannya cerita, tak bersusah payah berpikir mana bagian yang masuk akal atau kreasi sastra.

Maryamah Karpov juga mempertemukan kembali semua angota Laskar Pelangi Bu Muslimah. Lintang sang jenius menjadi saudagar kopra, dan Mahar benar-benar sangat berhasrat menjadi dukun sakti. Diantara nostalgia laskar pelangi itu, saya menemukan sebuah keanehan. Mungkin salah ketik atau kekurangcermatan Andrea (editor), yaitu saat sepuluh anggota laskar pelangi melihat ukiran tinggi badan masing-masing, dari kelas dua SMP ke tiga SMP ada beberapa tinggi anak yang berkurang. Apakah itu mungkin?

Seperti pada buku-buku sebelumnya, primadona untuk menyajikan rupa-rupa perasaan antara sedih, haru, lucu dan ironi disajikan dalam MK ini. Sampai pada ujung cerita, kisah kelam Ikal tidak mendapat persetujuan bapaknya untuk meminang A Ling, perempuan yang diselamatkannya dengan susah payah dari seberang Singapura.

Akhirnya, anda sendiri lah yang harus membaca untuk menuntaskan tetralogi. Ya..buku ini memang harus dibaca oleh orang yang sudah membaca trilogi laskar pelangi sebelumnya. Tentu menjadi semacam buku wajib jika penonton loyal film laskar pelangi. Buat yang murni ingin menikmati jalinan cerita, kisah sastra di dalamnya, maka gaya Andrea menceritakan liku-liku kultur masyarakat pun patut di acungi jempol. Dan sekali lagi, jangan teralu banyak menggunakan logika realisme karena justru akan mengurangi cita rasa bacaan anda.

Selamat membaca.

Monday, September 15, 2008

Kiat Membiakkan Uang di Masa Sulit

Diantara dua buku yang sudah ditulis oleh Mas Nofie Iman, saya lebih tertarik dengan Kiat-kiat Membiakkan Uang di Masa Sulit. Apa yang saya harap adalah dalam buku kecil ini sudah cukup mencakup tentang beberapa bentuk investasi sekaligus, tidak hanya satu jenis yakni Reksadana seperti dalam buku pertamanya.

Dalam buku ini, dijelaskan dari awal tentang konsep-konsep dasar dalam investasi. Bahwa investasi bukan gambling atau judi, karena investasi adalah menaruh uang pada instrument dengan pertimbangan matang dengan harapan memberikan return memadai. Bahwa kemudian investasi menjadi ‘tercoreng’ karena dekat sekali dengan gambling (terutama di instrumen pasar uang dan saham), maka itu bukan investasi yang seperti didefinisikan dalam buku ini.

Dan setiap investasi selalu mempunyai resiko. Resiko ini yang sering tidak disadari oleh para calon investor dan bahkan investor yang malang melintang. Makin besar tinkat pengharapan return, makin tingggi pula resiko nya. High return, high risk. Low risk, low return. No risk, no return!

Bahasan investasi yang dicakup dalam buku ini meliputi investasi di pasar saham, yaitu transaksi saham dengan tujuan menjadi investor (atau pemilik) dari perusahaan, bukan untuk mengambil untung dari harga saham dalam periode pendek (jam atau harian). Karena orientasi menjadi pemilik, maka bersikaplah seolah-olah kita hendak memilki perusahaan tersebut. Mencermati kinerja dari laporan keuangan, bahkan jika perlu datang ke kantornya. Satu yang sangat praktis, dalam buku ini diberikan langkah dan contoh dalam menilai (valuasi) saham dan membaca kinerja perusahaan.

Kemudian ada pembahasan tentang investasi obligasi, reksadana, emas, properti, benda seni dan koleksi. Per bagian di bahas cukup detil dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti bagi pemula. Sekali lagi, tidak hanya ditunjukan tentang keuntungan di setiap jenis investasi diatas, namun juga kemungkinan-kemungkinan resiko yang harus dihadapi oleh investor. Sebuah ungkapan yang bagus, lebih baik kehilangan waktu untuk mempelajari investasi yang akan dilakukan daripada kehilangan uang karena salah dalam keputusan investasi.

Melihat jenis elemen investasi yang dibahas dalam buku ini, saya sendiri cukup tercerahkan karena beberapa akhirnya terbuka dengan buku ini. Namun, jenis investasi yang ‘ditawarkan’ buku ini berbasis pada ceruk pasar yang ‘sempit’ yaitu lebih dekat ke pasar finansial. Pasar yang spesifik dengan perangkat tertentu yaitu pasar saham, uang, bank, perdagangan emas, perantara atau broker. Mungkin karena background penulis sebagai seorang financial analist dengan pendidikan master ekonomi dari Inggris.

Padahal dalam dunia investasi yang lebih umum, ada ranah investasi yang juga sangat terbuka lebar yaitu sektor riil (usaha). Namun dengan sangat terbukanya sektor riil, akan lebih baik jika penulis tidak hanya membahas investasi finansial yang fokusnya memberikan return seoptimal mungkin untuk pribadi. Sedangkan investasi dalam dunia riil, ada roda ekonomi yang riil digerakan disana untuk masyarakat, public investment.

Mungkin penulis bermaksud fokus dalam private investment untuk para calon investor pemula. Memang ada area bank-bank umum disana, tapi sebagai khasanah bagi calon investor dan tujuan gerakan roda ekonomi tadi, pembahasan public investment juga dibutuhkan. Dan justru dengan background penulis yang kuat dalam ekonomi, saya berharap akan ada pembahasan tentang hal tersebut, entah di buku atau dalam blog nya.

Wednesday, January 23, 2008

7 Habits of Highly Effective People

Tujuh Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif merupakan suatu pendekatan yang utuh dan terpadu ke arah terwujudnya efektvitas pribadi dan antar pribadi. Kebiasaan adalah pola perilaku yang terdiri dari tiga unsur yang saling bertemu yaitu : pengetahuan, keinginan dan keterampilan. Kebiasaan kita peroleh dengan belajar, bukan kita warisi. Karenanya ini merupakan sifat alami kita yang kedua, bukan yang pertama. Bagaimanapun, yang kita miliki saat ini bukanlah kebiasaan kita. Kita bisa menciptakan atau melepaskan kebiasaan kita.

Kebiasaan 1 - JADILAH PROAKTIF

Kebiasaan - Visi Pribadi

Menjadi Proaktif mempunyai arti bahwa manusia bertanggungjawab terhadap hidupnya sendiri. Secara alami kita selalu bertindak dan bukan menjadi sasaran tindakan. Kata tanggungjawab kita artikan sebagai kemampuan untuk merespon, yaitu kemampuan untuk memilih respon anda. Orang yang sangat proaktif menngetahui tanggungjawab itu. Mereka tidak menyalahkkan keadaan dan kondisi yang mempengaruhi sikapnya. Mereka mengembangkan kemampuannya untuk memilih jawaban/respon, sehingga respon-responnya merupakan hasil dari nilai-nilainya, hasil perasaannya atau situasi.

Kebalikan dari proaktif adalah reaktif. Ciri orang reaktif selalu mengalihkan tanggungjawabnya. Bahasa orang reaktif melepaskan mereka dari tanggungjawabnya. "Itulah saya. Memang begitulah saya. Saya sudah ditakdirkan begini dan tidak ada yang bisa saya lakukan untuk mengubahnya." Dia membuat saya sangat marah!" Saya tidak bertanggungjawab. Emosi saya dipengaruhi oleh sesuatu diluar kendali saya."

Kebiasaan 2 - MERUJUK PADA TUJUAN AKHIR
Kebiasaan - Kepemimpinan Pribadi

Merujuk pada tujuan akhir berarti memulai setiap hari dan setiap tugas dengan pemahaman yang jelas mengenai tujuan yang ingn dicapai. Dengan mengusahakan titik akhir tersebut tetap jelas dalam pikiran anda dapat memastikan bahwa apapun yang anda kerjakan pada hari tertentu tidak melanggar kriteria yang sudah anda definiskan sebagai yang paling penting, dan bahwa tiap hari dari kehidupan anda menunjang visi yang anda miliki tentang seluruh hidup anda dengan cara yang berarti.

Pernyataan Misi
Bagi saya, saya ingin mengembangkan diri, mengasih diri-sendiri, dan keleluasaan diri. Saya ingin menggunakan bakat penyembuhan saya untuk memelihara harapan dan mengekspresikan visi saya dengan berani baik dalam ucapan maupun tindakan.

Dalam keluarga saya, saya ingin membangun hubungan-hubungan yang sehat, saling mencintai di mana kami membiarkan diri masing-masing mewujudkan apa yang terbaik bagi kami.

Dalam pekerjaan, saya ingin membangun lingkungann belajar yang bebas-kesalahan, dan berkesinambungan yang mendorong keinginan untuk tumbuh dan membantu orang lain berkembang; rasa ingin tahu terhadap apa-apa yang tak dikenal; ketetapan hati untuk menghadapi secara langsung; dan keinginan untuk mengerti dan bekerja bersama orang lain guna menemukan dan memenuhi tujuan bersama.

Didunia, saya ingin menumbuhkan perkembangan semua bentuk kehidupan, secara harmonis dengan hukum-hukum alam itu sendiri.

Kebiasaan 3 - DAHULUKAN YANG UTAMA
Kebiasaan - Manajemen Pribadi

Apakah yang utama? Hal yang utama adalah hal-hal yang menurut anda pribadi paling berguna untuk dilaksanakan. Ia menuntun anda ke arah yang benar dan membantu anda mencapai tujuan yang ada di pernyataan misi pribadi anda.

Dahulukan yang utama menyatakan mengenai pengaturan waktu dan kejadian-kejadian yang berdasarkan pada prioritas pribadi yang ada pada Kebiasaan 2. Kebiasaan 2 adalah ciptaan pertama atau ciptaan mental, Kebiasaan 3 adalah ciptaan kedua atau fisik.

Kebiasaan 4 - BERPIKIR MENANG MENANG
Kebiasan - Kepemimpinan Antar Pribadi

Dalam hubungan antar pribadi ataupun dalam pekerjaan, efektivitas seringkali baru bisa tercapai jika ada usaha bersama dari dua orang atau lebih. Perkawinan dan hubungan kemitraan lainnya adalah suatu contoh kesalingketergantungan, tetapi seringkali orang berhubungan berdasarkan mental kemandirian, sepert berusaha bermain golf dengan menggunakan raket tenis-alat yang digunakan tidak cocok dengan olahraga yang dilakukan.

Kebiasaan 5 : BERUSAHA MENGERTI TERLEBIH DAHULU, BARU DIMENGERTI
Kebiasaan - Komunikasi

Komunikasi adalah keterampilan yang paling penting di dalam hidup. Kita mennghabiskan sebagian besar jam bangun kita untuk berkomunikasi. Tetapi coba pikirkan hal ini : Anda sudahh menghabiskan waktu bertahun-tahun unttuk belajar membaca dan menulis, bertahun-tahun untuk belajar bagaimana berbicara. Tapi bagaimana dengan mendengarkan? Pelatihan untuk pendidikan apa yang telah anda jalani untuk memungkinkan anda mendengarkan, sehingga anda benar-benar mengerti orang lain secara mendalam arti kerangka acuan individu itu sendiri?

Berusahalah mengerti terlebih dahulu atau mendiagnosa sebelum anda membuatkan resep, adalah prinsip yang benar yang dimanifestasikan di banyak bidang kehidupan. Sorang dokter yang bijaksana akan memeriksa pasiennya terlebih dahulu sebelum dia memberikan resep. Seorang insinyur yang ahli akan mengerti daya, tekanan yang bekerja , sebelum merancang sebuah jembatan. Salesman yang efektif akan mencoba mengerti terlebih dahulu pandangan orang lain sebelum dia dimengerti. Sebelum seseorang merasa lebih telah diperiksa dengan baik, dia tidak akan mau menerima resep tersebut.

Kebiasaan 6 : WUJUDKAN SINERGI
Kebiasaan - Kerjasama Kreatif

Prinsip dari sinergi ini adalah kebenaran dalam hubungan sosial kita. Dua orang, bekerja sama secara kreatif, akan mampu memberikan hasil yang jauh lebih baik daripada jika dilakukan oleh mereka sendiri. Sinergi mengajak kita untuk bersama-sama menemukan hal-hal yang kecil kemungkinannya kita temukan sendiri-sendiri. Ia akan timbul ketika pikiran kita saling mendorong satu sama lain dan ide-ide akan bermunculan. Saya mengucapkan sesuatu yang merangsang pikiran anda; anda merespon dengan ide yng mendorong saya. Saya membagi ide baru tersebut bersama anda, dann proses berulang terus bahkan terbentuk sendiri.

Kebiasaan 7 - ASAHLAH GERGAJI
Kebiasaan - Pembaharuan Diri

Mengasah gergaji berarti memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang anda miliki, yaitu diri anda. Kebiasaan ini memperbaharui keempat dimensi alamiah anda: fisik, spiritual, mental dan sosial/emosional. Tanpa disiplin, tubuh kita menjadi lemah, pola pikir mekanik, emosi kita menjadi buruk (kasar), jiwa kita menjadi tidak sensitif, dan orang menjadi egois.


*training 7 habits, 24-26 February 2008 @ Puncak

Tuesday, October 16, 2007

Khadijah, True Love Story

Perempuan mulia istri Rasulullah Muhammad Saw, Khadijah, menjadi pendorong, penyokong utama di masa-masa awal dakwah Islam. Kisah Muhammad dan Khadijah sebagai sepasang suami-istri istimewa menjadi dasar terbitnya buku yang inspiratif ini, Khadijah The True Love Story of Muhammad.

Cerita tentang kisah hidup mereka dimulai dengan latar belakang kondisi masing-masing, Muhammad sebagai ‘anak angkat’ Abi Thalib pamannya sedangkan Khadijah adalah seorang janda yang mempunyai kerajaan bisnis besar. Singkat kata, Khadijah mencari orang yang bisa dipercaya untuk menjalankan misi dagangnya, hingga akhirnya diputuskanlah Muhammad, orang terpercaya (Al-Amin) dimana Khadijah sudah memberi perhatian khusus kepadanya.

Misi dagang berhasil dan pembantu yang disertakan dengan Muhammad menceritakan kepada Khadijah tentang kebaikan karakter Muhammad yang semakin membuat Khadijah mantap untuk menjadikan Muhammad sebagai pendamping hidup. Maka diutuslah pembantu Khadijah untuk bertanya kepada Muhammad tentang rencana Khadijah tersebut.

Muhammad tahu diri, dibandingkan Khadijah yang terpandang sebagai perempuan saudagar, Beliau bukan apa-apa. Tidak ada terpikir dalam diri Muhammad untuk menikah dengan Khadijah karena Muhammad tidak mempunyai banyak hal untuk dijadikan sebagai mahar. Namun secara prinsip, Muhammad tidak menolak kemungkinan tersebut karena Khadijah adalah perempuan mulia yang bisa menjaga dirinya, dermawan dan teguh memegang moral agama Ibrahim.

Dan diundanglah Muhammad untuk datang ke rumahnya. Akhirnya, Khadijah sendiri yang menyatakan keinginan untuk meminang Muhammad sebagai suaminya. Muhammad menerima, maka menikahlah keduanya dalam usia Muhammad 25 tahun dan Khadijah 40 tahun.

Hari-hari kehidupan Khadijah-Muhammad pun berjalan. Muhammad sebagai kepala rumah tangga sekaligus pemimpin bisnis, Khadijah sebagai istri yang mendukung suaminya. Dan lahirlah putri-putri Rasulullah (Allah mentakdirkan Muhammad tidak mempunyai putra yang berumur panjang).

Selain tentang kehiidupan keluarga Muhammad-Khadijah, buku ini lebih banyak berbicara tentang sirah (sejarah) kerasulan Muhammad mirip halnya buku sirah lainnya. Hal ini tentu tak lepas karena kehidupan keluarga selalu menyertai kisah kenabian, usai diangkatnya Muhammad sebagai Rasul di usia 40 tahun.

Sedikit tentang keislaman sahabat, perjuangan dakwah Islam, hingga masa hijrah. Sehingga pembaca pun akan diberikan penjelasan cukup tentang kisah dakwah Rasulullah Muhammad Saw sendiri. Namun tetap, pembahasan selalu dikaitkan dengan peran keluarga (Khadijah) dalam mendukung dakwah Muhammad.

Buku ini diakhiri dengan keistimewaaan-keistimewaan Khadijah, dimana Allah sampai memberikan salam khusus kepadanya yang disampaikan kepada Muhammad melalui Jibril. Kepada Aisyah (Istri yang paling disayangi Rasul sepeninggal Khadijah) Muhammad mengatakan bahwa Khadijah tiada tergantikan, sehingga sering membuat Aisyah cemburu. Khadijah, dengan kelembutan hati, kesabaran, karakter mengayomi telah menyokong, mendampingi Muhammad di masa-masa awal Islam. Tidak hanya sebagai istri dan partner, Khadijah juga memberikan kasih sayang Ibu mengingat Muhammad sudah yatim piatu sejak umur 6 tahun.

Jika kisah cinta Muhammad-Khadijah bagaikan ‘kisah ideal’, maka di bagian paling akhir juga disertakan sekelumit kisah Ali bin Abi Thalib dan Fathimah bin Muhammad yang ‘lebih membumi’. Keduanya dipersatukan dan sangat dicintai Rasul. Ada kemuliaan, namun ada juga kesahajaan. Ada kesejatian, tapi juga ada kecemburuan. Dari Ali-Fathimah, Muhammad mendapatkan 2 cucu yang sangat dicintai beliau, Hasan dan Husain.

Membaca buku ini, akan banyak hal ‘manusiawi’ kehidupan yang menyertai perjuangan awal dakwah Islam. Semua yang dibahas dalam buku ini tentu sangat berbeda dengan kondisi zaman sekarang. Namun pesan kehidupannya selalu sama, karena manusia kapan dan dimanapun mempunyai akal dan perasaan. Dengan pesan inilah, Muslim zaman sekarang harus berusaha mengejawantahkannya. Dengan contoh yang paling baik, semoga juga dihasilkan keluarga yang baik di zaman ini.

Hal yang ‘cukup unik’, sampul buku ini tertulis label ‘100% untuk wanita’. Namun tentu tak ada salah jika dibaca oleh para laki-laki. Karena dalam keluarga, bukankah keduanya harus saling mendukung? Karena di balik suami yang hebat, selalu ada perempuan hebat di belakangnya. Pun sebaliknya. Selamat membaca, belajar dari kehidupan cinta Khadijah, Muhammad, keluarga, dan sahabat-sahabatnya.

Wednesday, August 29, 2007

Afganistan; sketsa dari buku












Apa yang terbayangkan segera dengan negeri bernama Afganistan? Hancur, porak poranda sisa agresi Amerika demi memburu Osama bin Laden yang tak kunjung ditemuinya. Dan pasca agresi itu, praktis wajah Afganistan kembali hilang ditelan bumi penuh konflik timur tengah lainnya.

Namun sebenarnya, apa yang tersingkap dalam media-media yang memberitakan kondisi Afaganistan belum tentu menggambarkan kondisi (dan psikologis) Afganistan yang sesungguhnya. Dan lewat sebuah buku memoar perjalanan, Latifa dan Asne Seierstad masing-masing memberi sudut pandang lain dari kehidupan Afganistan.

My Forbidden Face (Wajah Terlarang-WT) karya Latifa,sungguh-sungguh sangat bagus dalam mendeskripsikan gejolak perasaan perempuan Afgan terutama semasa Taliban yang menerapkan ‘syariat Islam konservatif’ (yang menurut saya berlebihan),diantaranya melarang perempuan bekerja, sekolah dan bahkan keluar rumah tanpa orang yang menemani dengan penutup badan-kepala (burqa). Sednagkan laki-laki harus mempunyai jenggot panjang serta memakai baju jubah. Tidak boleh aktivitas malam, semua TV, media dilarang kecuali siaran agama-propaganda, tidak ada campur laki-laki perempuan di semua urusan, peredaran buku diawasi dan jika melanggar maka polisi pun akan menyeret ke pengadilan agama.

Latifa, seorang wanita asli Afgan yang menghabiskan waktu disana hingga usia 16 tahun saat-saat akhir kekuasaan Taliban, sempat menjadi guru bagi perempuan-perempuan kecil yang dilarang sekolah di sekolah formal dengan sembunyi-sembunyi menggunakan rumah keluarganya. Latifa kemudian ’hijrah’ ke Paris didukung ibu dan keluarganya untuk menyuarakan suara perempuan Afgan di dunia internasional.

Ibunya sendiri adalah dokter yang dilarang bekerja di rumah sakit sejak Taliban, dan akhirnya bersama Latifa membangun klinik sendiri di bagian belakang rumahnya tanpa sepengetahuan Taliban, karena tidak tega melihat pasien-pasien perempuan yang tidak pergi ke RS akibat semua dokternya laki-laki.

Sedangkan Asne, jurnalis Norwegia yang meliput ke Afgan dalam detik-detik Taliban jatuh lalu bertemu dengan Sultan Khan, seorang saudagar buku dan kemudian tinggal serumah bersama keluarganya selama 3 bulan untuk merasakan penuh kehidupan sebuah keluarga Afgan.

Saudagar Buku dari Kabul (The Bookseller of Kabul) - SB, lebih menggambarkan potret keluarga di tengah banyak perubahan kekuasaan di Afgan. Buku ini tidak hanya berbicara tentang dunia Afgan saja, tapi juga wilayah-wilayah di sekitarnya yang turut mempengaruhi kondisi politik-keamanan di Afgan. Menyusuri wilayah pesisir sambil mengetahui kondisi sosial-politiknya tentu lebih membuka mata tentang apa yang terjadi di Afgan.

Ide sentral kehidupan keluarga khas Afgan patut diacungi jempol. Pendeskripsian yang baik tentang posisi kepala keluarga yang sangat kuasa, tugas istri, ibu kepala keluarga, anak dan susunan lain yang membentuk keluarga. Layaknya sebuah keluarga, maka banyak konflik pun mendera disana apalagi dengan tangan besi Sultan yang sangat keras dan tanpa kompromi kepada keluarga.

Lalu lagi-lagi tentang perempuan Afgan yang penuh kisah sendu itu seperti dalam buku WT. Jika WT lebih banyak pada aktivitas sosial perempuan yang terkengkang, maka SB berkali-kali menggambarkan tentang ketidakperdayaan perempuan Afgan dalam meimilih pasangan hidupnya. Sebenarnya laki-laki pun demikian, namun laki-laki lebih bisa mengatakan keinginannya lalu menyerahkan hak melamar kepada ibu atau saudara perempuan. Sedang si perempuan, hanya bisa diam dan menerima apa kata ibu atau keluarganya yang biasa hanya atas pertimbangan materi menjual anak gadisnya.

Kisah keluarga saudagar diakhiri dengan sebuah sketsa cinta menyedihkan, antara Leila (adik Sultan) yang disukai Karim (seorang pemuda mapan) dan akhirnya kandas karena’budaya’ terkungkungnya seorang wanita Afgan terutama sejak Taliban dan masih berbekas sesudahnya. Menurut Leila, perempuan Afgan itu tidak punya rasa, tidak bisa merasakan apa-apa karena tidak terbiasa merasakan apa-apa. Dia tidak punya rasa karena tahu dia tak boleh punya perasaan. Jadi, apakah mempunyai perasaan dan memperjuangkannya adalah tabu bagi seorang perempuan?

***

Buku bagaimanapun adalah media yang sangat baik untuk menyuarakan hati nurani. Dan buku memoar, buku yang ditulis sebagai catatan perjalanan dan liku-likunya atas sebuah negeri bernama Afganistan ibarat suara hati nurani tercekik di balik kerudung Islam konservatif. Wajah Terlarang atau Saudagar Buku dari Kabul telah menjadi bukti eksistensi sebuah buku memoar, menampilkan sisi lain kehidupan Afgan, lebih membuka mata dunia dan kemudian memahami apa yang terjadi disana.

Semua dalam kehidupan penuh pilihan. Tapi tentu tidak ada orang yang memilih dalam kehidupan penuh ketertindasan dan keterkengkangan. Karena perasaan bebas dan bertanggung jawab atas apapun yang dipilihnya itu, adalah bagian utama dalam kehidupan manusia.

hidup selalu punya akhir
tidak perlu lagi ditindas
jika ketundukan adalah prasyarat hidup

aku tidak butuh hidup macam ini
dalam perbudakan,
bisa saja terjadi hujan emas
dan akan kukatakan pada langit

hujan ini tak dibutuhkan
[Latifa]

Sunday, August 12, 2007

Sokola Rimba

Jika ingin memperbaiki kehidupan, maka mulailah dari pendidikan. Falsafah itu yang benar-benar ada di benak Butet Manurung dan rekan-rekanya untuk bergerak dalam pendidikan rimba, yang dikenal dengan nama Sokola Rimba.

Apa yang ada di benak kita pertama saat mendengar kata rimba? Sebuah kehidupan terbelakang, nomaden, tidak teratur, atau bahkan mencapnya sebagai sebuah kehidupan ‘tanpa budaya’?

Anggapan-anggapan diatas dimentahkan Butet yang dengan keberaniannya memutuskan untuk bergabung dengan Warsi (Warung Informasi Konservasi) yang berlokasi di Jambi, di sekitar Taman Nasional Bukit Dua Belas. Tugas awalnya memang hanya sebagai pemberi informasi kepada Orang Rimba(OR) tentang peran penting mereka untuk menjaga hutan mereka atau TNBD secara umum.

Namun, karena paradigmanya bahwa pendidikan adalah awal dari segala perubahan sikap, maka Butet secara ‘tidak sengaja’ mengawali petualang hidupnya dengan menjadi salah satu founder model sekolah nonformal yang diselenggarakan di rimba. Sekolah rimba yang dia inisiasi, kembangkan, dan kemudian setelah keluar dari Warsi telah berwujud sebuah badan tersendiri dengan nama Sokola Rimba (SR).

Buku terbitan Juni 2007 ini terdiri atas dua bagian utama. Pertama adalah perjalanan awal Butet untuk bergabung dengan aktivitas Warsi di Jambi setelah lulus dwi-gelar sarjana yaitu sastra indonesia dan antropologi dari Unpad Bandung, awal kuarter keempat 1999.

Di bagian pertama ini, Butet juga menceritakan tentang pengalaman-pengamalam kehidupan di rimba yang sesungguhnya, sekalipun dia sudah aktif di pecinta alam Pallawa Unpad. Menjelajahi hutan, merasakan, berkomunikasi dengan bahasa rimba dan hidup bersama dengan berbagai kelompok-kelompok OR yang terpisah jauh di dalam rimba.

Menarik dan menantang sekali gaya tutur buku harian yang disodorkan Butet dibagian-bagian ini, dengan diselingi beberapa kekonyolan yang dilakukan Butet sendiri. Pembaca akan banyak tercerahkan dengan model kehidupan rimba yang unik, mandiri, dan juga berbudaya dengan budaya mereka. Selain itu pula, tentu aja sikap atau kondisi kekinian yang menjadikan OR obyek ‘modernitas’ yang makin menjarah hutan tempat tinggal meeka.

Di bagian ini pula, Butet dan kawan-kawannya di Warsi melaksanakan beberapa uji coba model SR. Sekolah yang akrab atau tidak galak, demikian kata anak OR yang trauma dengan sekolah formal yang pernah diperuntukan buat mereka.

Sekolah yang bisa mendidik menjadi manusia, demikian konsep awal Butet kemudian sebuah konsep SR yang berhasil bila SR bisa memberikan manfaat (langsung, riil) kepada lingkungan OR itu berada. Dengan ilmu sastra indonesia-nya,Butet banyak terbantu dalam membuat metode-metode baru yang kreatif tentang belajar baca, tulis dan berhitung.

Cerita perjalanan yang dituturkan dalam bentuk catatan harian ini sungguh memikat, setidaknya menjadikan pembacanya tidak merasa seperti diceramahi sehingga akhirnya tergerak untuk memahami kehidupan OR dan menghormati keberadaan serta pilihan mereka sendiri.

Di bagian kedua, buku ini menawarkan opini yang lebih non-diary tentang kehidupan OR dan kebutuhan SR buat mereka. Butet menggugat pandangan orang luar (non-rimba) yang menganggap OR butuh belas kasihan yang justru menjadikan OR makin rendah diri. Atau anggapan bahwa OR terbelakang ‘tak berbudaya’, yang sebenarnya tak selamanya benar karena OR punya kehidupan mereka sendiri yang mandiri dan ramah lingkungan justru jika tak ada gangguan dari orang luar.

Dan yang menjadi ide pokoknya tentu saja soal Sokola Rimba, sebuah sekolah nonformal yang akrab, tidak kaku dan dekat dengan kehidupan OR. Sekolah yang bukan hanya bisa baca-hitung-tulisan, namun juga bisa memberikan pilihan-pilihan kepada OR yang akhirnyaOR sendirilah yang memilih dan sadar akan pilihannya itu.

Indonesia jujur membutuhkan orang-orang seperti Butet, berani bekerja ‘melawan arus’demi tujuan besarnya dan gigih dalam mewujudkannya. Sosok Women Of The Year 2004 dari Anteve ini seperti setitik embun di tengah masih keringnya pendidikan ‘formal’ kita. Bagaimana pendidikan akan berhasil jika pendidikan sendiri hanya seperti sistem kaku yang tak bisa mendewasakan manusia?

Jika anda sempat berkeinginan untuk bisa berkeliling Eropa suatu hari karena terobsesi suatu cerita perjalanan disana, rasa-rasanya anda perlu membaca buku ini untuk bisa melihat bahwa perjalanan menjelajah rimba negeri kita sendiri bisa menjadi jauh luar biasa menantangnya. Belajar mengenal bangsa sendiri dan jika mungkin sedikit berkontribusi disana, sembari menikmtai eloknya Indonesia yang makin terlihat disana.

Dan Butet Manurung, seperti menjadi salah satu sosok Kartini masa kini.

Monday, July 09, 2007

Togamas dan The Corner

Jika harus memilih, manakah yang ingin anda lakukan untuk membeli buku? Membeli buku di sebuah toko buku besar terkenal yang pastinya lengkap, membeli buku online yang sudah mulai banyak terutama di kota-kota besar, atau membeli buku di took buku yang tidak besar tapi menyajikan suasana book-shopping khas.

Untuk alasan emosional yang sangat, saya pribadi memilih untuk melakukan pilihan terakhir, pergi ke toko buku yang mampu menyajikan suasana khas: hangat, rapi, segar dan bersahaja. Maka hati saya pun kemudian jatuh ke Togamas, sebuah jaringan toko buku modern yang cukup lengkap, ‘tidak besar’ dan berdiskon, serta masih bisa menyajikan suasana tersebut.

Pilihan-nya sebenarnya tidak hanya sebuah Togamas jika kita bicara tentang masalah nyaman, atau kekhasan. Karena toko-toko buku komunitas yang mulai tumbuh saat ini pun menyajikan suasana khas tersebut, misalnya di Bandung ada Ultimus atau Tobucil yang terkenal. Dan jika tentang ikatan emosi komunitas buku, toko-toko buku alternatif seperti ini tak perlu dipertanyakan melalui kegiatan diskusi buku dan lain-lainya yang sangat beragam.

Tapi tentang kelengkapan, kenyamanan dan suasana ‘khas’ dimana setiap orang punya warna sendiri tentu bukan sebuah kesalahan penilaian. Dan Togamas, mau tidak mau saat ini memenuhi warna selera saya dalam menikmati buku. Dimulai saat singgah di Jogja pasca SMU, lalu saya menikmati masa-masa pembukaan awal Togamas Bandung. Kemudian saat ini, karena di Jakarta belum ada Togamas, maka setiap kesempatan ke Bandung rasa-rasanya tak akan terlewat untuk mampir ke Togamas.

Lalu, suatu saat saya menemukan blog ini menjadi salah satu dalam blogroll di weblog Togamas. Wow, tentu hal yang menggembirakan mengetahui hal tersebut. Padahal blog ini isinya ‘gado-gado’. Rasanya seperti menginginkan sesuatu, dan kemudian berhasil mendapatkannya. Benar-benar menyenangkan!

Berbicara tentang toko buku dengan nuansa-nya, maka sebenarnya di dalam alam bawah kesadaran saya tertancap sebuah deskripsi toko buku menarik mirip seperti dalam film terkenal masa lalu, You've Got Mail. Film tahun 1998 yang dibintangi Tom Hanks dan Meg Ryan ini bercerita tentang intrik bisnis (toko buku) dan pribadi dengan media perantara internet.

Kathleen Kelly (Meg Ryan), mempunyai toko buku kecil turun-temurun keluarga yang bernama Shop Around The Corner. Di toko buku yang terletak di sebuah kawasan pojok jalan ini, tidak hanya aktivitas memajang buku dan membeli buku biasa, namun ada kegiatan yang berhubungan dengan buku, misalnya yang tergambar di film itu adalah mendongeng bagi anak-anak. Sebuah toko buku yang bersahaja.

Lalu kemudian Joe Fox (Tom Hanks), seorang anak jutawan yang mempunyai jaringan toko buku besar Fox Book, membangun toko buku baru di kawasan tersebut. Lalu bisa ditebak, toko-toko buku kecil di kawasan itu seperti halnya The Corner pun mulai surut pengunjung.

Dan melalui sebuah internet, mereka secara ‘tak sengaja’ berkenalan di internet lewat dunia chatting dan email hingga tumbuh benih kasih diantara mereka. Kelly pun berbagi cerita tentang toko bukunya, dan toko buku baru besar yang mulai mengancam eksistensi The Corner. Namun mereka tak saling tau wajah, walau akhirnya Joe mengetahui lebih dulu daripada Kelly lewat janji dinner yang ‘dikhianati’ Joe.

Joe sendiri pernah mengunjungi The Corner dan rasa-rasanya mengadopsi ‘sebuah toko buku yang hidup’ untuk toko bukunya yang besar itu. Sedang Kelly hanya menumpahkan kekesalan, tanpa pernah sekalipun mengunjungi Fox Books. Hingga suatu hari dia berani mengunjungi dan menyaksikan bahwa Fox mampu menghadirkan sebuah nuansa toko buku yang lebih hidup daripada The Corner. Fox menyediakan sarana nyaman untuk anak-anak atau pengunjung untuk membaca buku sepuasnya di toko buku. Dan akhirnya, mereka berdua pun ‘bertemu’ di dunia nyata sesungguhnya.

Dan sejak menonton film itu hingga sekarang, masih lekat keinginan untuk mempunyai atau aktif dalam kegiatan buku seperti dalam film itu. Hingga nantinya mungkin bisa memiliki sebuah toko buku sendiri, sekalipun pasti sulit. Dan Togamas, sedikit banyak mampu mengobati rasa itu sekarang. Tapi suatu hari nanti, keinginan itu bisa saja diawali di rumah masa depan, dengan sebuah taman bacaan untuk anak-anak di sekitar rumah.

Jadi jika anda penikmat buku dan pencandu internet, You’ve Got Mail rasa-rasanya menjadi sebuah film yang ‘pantas’ ditonton. Jangan anda bayangkan adegan ‘risih’, karena hampir semua film Tom Hanks tergolong ‘aman’.

Internet dan (toko) buku, memang sebuah pasangan yang sangat menarik. Mungkin seperti secangkir teh hangat dan pisang goreng, sembari duduk menikmati senja sebuah kota. Hmmm... nikmat!!

Tuesday, July 03, 2007

Edensor, titik balik Andrea?

Edensor, buku ketiga tetralogi Laskar Pelangi ini dimauli di bagian-bagian awal dengan review kehidupan Ikal di Belitong, bekerja di Bogor hingga kemudian mendapatkan pengumuman beasiswa dari Uni Eropa. Kemudian, perjalanan marangkai mozaik kehidupan di Eropa pun dimulai.

Merasakan pengalaman menyedihkan saat malam pertama di Eropa yang dingin menjadi awal yang mengesankan. Suasana kuliah science economi dengan karakter teman dari ragam bangsa berbeda menjadi bumbu menarik. Dan yang paling inspiratif, petualangan dahsyat berkeliling Eropa dan sedikit menyusur Afrika yang dilakukan Ikal dan Arai -yang menjadi taruhan bersama, adalah bagian terbesar dari kisah Edensor ini.

Seperti halnya Laskar Pelangi (LP) dan Sang Pemimpi (SP), banyaknya sajian metafor ilmiah memberi warna tersendiri novel Andrea ini. Andrea adalah seorang ekonom, tapi ketertarikannya pada fenomena-fenomena fisika, biologi dam astronomi tersaji kembali dalam Edensor, sekalipun tidak sebanyak SP apalagi LP. Tapi Edensor lebih dilengkapi beberapa gambar menarik misal impossible triangle-nya Oscar Reutersvärd. Dan pastinya, kelucuan serta warna cinta anak muda pun menjadi penyedap manis dalam novel ini.

Namun, jika LP punya Bu Mus, SP ada Pak Balia, maka Edensor praktis tak menambah daftar orang yang benar-benar sangat menginspirasi Ikal. Mungkin juga karena Edensor adalah ’rangkaian mozaik’ yang akhirnya mulai membentuk montase. Sorbonne, Andrea Galliano, Afrika dan beberapa lagi adalah montase yang tersusun dari mozaik masa lalu Ikal. Edensor sendiri, nama sebuah desa di pinggiran Sheffield yang terdeskripsi pada buku hadiah A Ling saat meninggalkan Ikal, akhirnya terwujud nyata dalam akhir novel ini.

***

Saya sebenarnya sangat tidak mempunyai ketertarikan besar untuk menulis tentang Edensor ini seperti halnya ketertarikan saya saat me-review LP dan SP. Satu, karena saya tidak merasakan euforia Edensor, sedang SP saya sangat merasakannya karena mendapatkan langsung SP dari Andrea di sebuah kafe di Bandung sebelum buku beredar. Kedua, saya sudah banyak mendapatkan review Edensor di beberapa blog, misal di koordinator IMB, tukang review tanzil, perca atau seorang kawan. Ketiga, beberapa pendapat menyebutkan Edensor tak lebih bermuatan dan lebih tipis daripada dua pendahulunya.

Tapi, rasa-rasanya menjadi ’kewajiban’ untuk mereview singkat (sangat singkat dibanding LP atau SP), sehingga tetralogi bisa terjalin disini. Selain itu, sebuah ’polemik’ tentang Edensor di sebuah milis sastra menjadikan saya semakin ’gatal’ jika tak ikut menulis tentangnya.

Polemik dibuka dengan artikel Jakob Sumarjo di kompas, dan sebagai narasumber diskusi Edensor offline di Bandung. Opini itu ’melawan arus’, ditengah banyak sastrawan yang memuji novel-novel tetralogi LP.

Ada dua alasan utama, mengapa Jakob Sumarjo ’mengkritisi’-nya. Pertama, alur waktu. Pembaca yang jeli akan menemukan kebingungan tentang alur waktu, SD-SMP-SMU yang dialami anak sekolahan ataupun gurunya. Yang paling terlihat, saat seorang anak cerdas SD yang mengenal banyak sekali pengetahuan diluar kemampuannya pada zamannya itu.

Kedua, logika cerita. Jika diamati lebih teliti, maka ada logika yang 'janggal' dalam novel ini. Saya menemukan dua yang nyata, yaitu saat Arai dan Ikal tiba di Bogor kemudian duduk di depan KFC, mereka tak tahu arti dalam indonesia Kentucky Fried Chicken, padahal Arai disebutkan sangat jago bahasa inggris (Sang Pemimpi). Lalu di Edensor seperti yang ditemukan juga
Hermawan Aksan, Ikal dan Arai dari Finlandia masuk ke Rusia timur untuk memulai petualangan yang akan berakhir di Rusia barat. Padahal Rusia yang berbatasan dengan Eropa tentu adalah Rusia barat.

Dari keduanya saya mengumpulkanya dalam alasan yang paling parah. Yaitu subyek Andrea-sebagai Ikal yang menggambarkan kondisi masa lampau (Ikal kecil-muda) dengan masa sekarang, apa yang ada dalam Ikal sekarang. Tentu itu hal yang sangat-sangat tidak wajar, dan penuh ilusi.

Seorang teman yang sedang membaca Edendor, ketika saya tunjukan beberapa kejanggalan diatas berontak dan mengatakan bahwa saya telah mengurangi sense­-nya dalam menikmati Edensor. Saya sepakat bahwa sebuah sastra dibuat untuk dinikmati. Dan tetralogi LP adalah sebuah fiksi realis, bersandar pada realita yang dibumbui sana-sini. Jadi bagaimanapun, unsur kewajaran sebenarnya juga sangat penting dalam sebuah fiksi realis.

Kritikan yang paling ’konstruktif’ ada di bagian akhir tulisan Jakob Sumardjo tersebut. Beliau sangat keberatan atas berbagai sanjungan dan pujian yang diberikan kepada Andrea dengan fenomena novel-novelnya. Terutama, beliau sangat keheranan ketika pujian berlebih itu datang dari sesama satrawan ’besar’ tanpa sedikitpun menunjukan titik lemah dari buku-buku tersebut.

Luar biasa, sebuah opini yang sangat bagus telah disampaikan Jakob Sumarjo. Saya pikir, opini tersebut seakan menjadi antitesis yang konstruktif bagi insan sastra, pembaca dan pastinya Andrea Hirata. Opini tersebut mewikili semangat anti kemapanan, untuk memberikan hasil yang lebih baik di masa depan. Ibaratnya, menggempur kembali bangunan yang sudah terlanjur tinggi namun keropos, untuk kembali mendirikan bangunan sastra yang tidak hanya tinggi tapi kokoh berisi.

Kemudian akhirnya saya mengambil kesimpulan, bahwa sebaiknya kita memang harus memilah jauh antara cerita dan logika jika kita hanya ingin benar-benar menikmati sastra, terbuai dengan alur cerita dan kata-kata indahnya. Tapi bukan kesalahan jika kita bisa, untuk selalu kritis terhadap apapun yang terbaca.

***

Andrea Hirata sendiri, orang yang (dulu) saya kenal cukup dekat, sejak kehebohan LP cs telah menjadi selebritas baru. Sebutan pamoritas, sudah mulai disematkan beberapa orang ke Andrea dan bukunya. Terlepas dari profesionalitas, sejam seorang Andrea berbicara kini sudah bertarif n juta rupiah dengan diatur suatu manajemen modern. Padahal dulu, saya mengajaknya duduk lesehan di sebuah labtek kampus untuk diskusi LP yang pastinya free of fee.

Waktunya pun mungkin lebih sibuk, weekend di diskusi sana-sini. Padahal dulu sering hampir setiap waktu saya (atau dia) sms, kami pun tak berapa lama bisa bertemu. Di cafe, koridor masjid kampus, kantin, jalanan, masuk kantornya di telkom atau bahkan di rumah kontrakan mungil saya.

Yang ditakutkan oleh pekerja seni tentang popularitas adalah cobaan ’kreativitas’, kualitas-lah yang akhirnya menjadi korban. Beberapa opini mumcul bahwa Edensor banyak dinilai ’kurang greget’ dibandingkan Sang Pemimpi, dan makin jauh lagi daripada Laskar Pelangi. Buku, bagaimanapun tetap mempertimbangkan hukum pasar, keberterimaan buku di pasar. Apalagi hanya sekedar ’mendompleng’ succes story edisi-edisi sebelumnya untuk mendongkrak penjualan.

Tapi saya pribadi masih yakin, sosok Andrea tetaplah hangat dan ramah sekalipun saya jarang lagi bertemu dengannya. Selalu punya perhatian spesial kepada setiap teman-temannya sehingga temannya bisa merasakan pada waktu tertentu, seolah-olah Andrea hanya perhatian padanya.

Hingga suatu petang hari saya terakhir bertemu dengannya, di sebuah toko buku komunitas dengan dikelilingi persiapan milad sebuah parpol di luar kami sekitar satu setengah bulan lalu, saya masih menemukan kehangatan disana. Kalimat yang saya ingat darinya: jangan melepaskan nuri di tangan sebelum rajawali di angkasa diraih.

Dan hari ini saya berharap, Andrea tetaplah seorang teman yang baik dan inspiratif. Semoga.