Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Friday, April 05, 2013

Zakat Usaha dan Keadilan Islam

Dalam pembahasan perhitungan zakat, yang sering dibahas adalah zakat pertanian, zakat kekayaan dan zakat profesi. Zakat dari usaha dibahas dalam konteks menghitung zakatnya, yakni dengan cara sebagai berikut:
 
1. Nisab dengan nilai emas 85 gram (Rp 42.5 juta pada harga emas Rp 500 ribu/gram).
2. Harta usaha yang wajib dizakati adalah;
a) Hasil usaha setelah dikurangi dengan kewajiban, seperti hutang dan pajak.
b) Modal dagang yang berupa kekayaan cair atau bergerak. Sedangkan bangunan, timbangan, kendaraan dan perabot toko tak bergerak yang tidak diperjual-belikan dan tidak bergerak tidak termasuk yang dizakati.
3. Besaran zakat usaha atau perdagangan 2.5%.
4. Haul yang digunakan sama, yakni telah mencapai 1 tahun.
 
Zakat usaha ini menurut saya juga mempunyai potensi yang besar karena banyaknya usaha formal dan informal di Indonesia (catatan: total potensi zakat Indonesia di tahun 2011 menurut hasil penelitian team Prof. Didin Hafidhudin adalah Rp 200 Triliun).  Terlepas dari potensi tersebut, ada sisi menarik dan hikmah dari zakat usaha ini jika dilihat dalam konteks bagaimana Islam berlaku adil dalam hal zakat.

Pertama, harta yang harus dizakati dalam zakat usaha adalah hasil usaha dan modal dagang, bukan keseluruhan modal usaha. Jika usaha yang dijalani adalah usaha produk, maka sisa produk yang belum terjual (inventory rata-rata dalam 1 tahun) dan laba bersih yang menjadi obyek zakat. Jika berupa usaha jasa atau perdagangan, maka laba bersih adalah obyek zakat.

Kedua, zakat usaha lebih kecil dibandingkan zakat maal yang harta berupa tabungan, surat berharga, dan bahkan emas, dinar atau dirham (sumber: Baznas, MES). Terkait poin pertama diatas, maka secara sederhana kita bisa melihat bahwa misalnya dengan modal usaha 100 juta untuk usaha jasa, di akhir 1 tahun usia zakat usaha sebesar 2.5% hanya akan diterapkan kepada laba bersih Rp 20 juta (ROE 20%), tapi karena belum masuk Nisab nilai 85 gram emas, maka bebas zakat usaha. Sedangkan untuk tabungan, surat berharga dan emas dengan nilai 100 juta dan ROI sama 20% (total Rp 120 juta), sehingga pendapatan bersihnya dikurangi Rp 3 juta (2.5%) menjadi Rp 17 juta. Sangat jauh berbeda bukan?

Ketiga, seorang muslim didorong untuk melakukan investasi pada usaha riil, bukan untuk menumpuk-numpuk kekayaan sehingga tidak berputar. Dari poin pertama dan ilustrasi poin kedua diatas, jelas sekali bahwa Islam secara tidak langsung sangat mendorong kaum muslim untuk melakukan usaha di sektor riil, sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi dan berpotensi membuka lapangan kerja lebih luas.
 
Dari ketiga hikmah diatas, kita bisa melihat bagaimana keadilan Islam dalam memperlakukan seorang yang banyak menimbun harta dan seorang pengusaha. Bagi yang banyak harta tapi hanya disimpan atau diinvestasikan secara finansial saja dimana risikonya secara umum lebih kecil (take and go), maka dikenakan zakat yang lebih banyak. Sedangkan zakat usaha dari usaha yang lebih berisiko, membutuhkan lebih kerja dan pikiran serta berkontribusi nyata untuk masyarakat, zakatnya lebih sedikit.

Bentuk keadilan yang berikutnya adalah ketika usaha tersebut membesar kemudian menjadi perusahaan, sampai akhirnya IPO dan listed di bursa saham. Maka, si pemilik yang tadinya hanya kena zakat usaha atas modal usaha + laba bersih, setelah menjadi saham maka zakat yang dikenakan menjadi zakat saham, yakni 2.5% atas semua nilai saham yang dimiliki. Ketika pemilik tersebut terdiri atas beberapa orang yang menyetorkan modal (kepemilikan) untuk mendirikan sebuah usaha, maka selama masih perusahaan tertutup, zakat usaha hanya atas modal usaha + laba bersih. Hal tersebut memberikan ruang keadilan bagi pengusaha kecil-menengah, dan mengenakan zakat yang lebih besar bagi pengusaha besar yang berhasil meng-IPO-kan perusahaan. Sungguh adil bukan?

Dengan ketiga hikmah dan dua potret keadilan Islam diatas, menurut saya bukan berarti semua harta yang dimilki harus dialokasikan semua dalam bentuk usaha. Pengelolaan keuangan yang dibarengi dengan penggunaan instrumen investasi keuangan dibutuhkan untuk kita bisa memahami bagaimana dunia berjalan dan memanfaatkan sebaik-baiknya, bukan sebesar-besarnya. Hal yang mirip ketika kita dihadapkan pilihan antara tetap menggunakan Bank Konvensional atau hijrah seluruhnya ke Bank Syariah.
 
Dan saya pernah mengajukan kritik kepada salah satu "guru online" investasi saya dalam review buku praktis investasi finansial yang ditulisnya, bahwa seseorang yang paham dengan dunia ekonomi (finansial), seharusnya justru menjadikan dunia usaha (public investment) sebagai tujuan utama (ultimate goal) dari sebuah investasi finansial, bukan hanya bersifat private investment. Tampaknya sebagian yang dilakukan oleh private equity pun sejalan dengan prinsip tersebut.
 
Di tahun 2013 ini saya insyaAllah sedang memulai usaha riil dengan modal sebagian besar investasi finansial saya (dan utang hehe). Bagaimana dengan anda?

Source pic: Ekonomi Syariat

Tuesday, January 24, 2012

Catatan kecil: Notes from Qatar

Buku yang diambil dari kumpulan tulisan blog dengan judul yang sama ini menyajikan cerita yang dialami penulis dimulai ketika proses mendapatkan beasiswa penuh untuk sekolah sarjana di Universitas di Malaysia dan kemudian beasiswa penuh lagi ke Qatar dari Qatar Foundation. Hikmah kejadian sehari-hari selama di Qatar hampir memenuhi seluruh isi buku ini.

Beberapa Hikmah yang serin dijadikan mainstream dari buku ini adalah kekuatan ikhlasnya sedekah. Penulis mengalami berkali-kali kejadian yang proses awalnya adalah karena sedekah. Tema-tema tentang kerja keras dan pembelajar juga menjadi bahasan dalam buku ini. Dengan mengutip beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadis Nabi, maka penulis mampu memberikan argumentasi logis dengan gaya khas anak muda (penulis kelahiran 1987).

Buku dengan citation dari banyak tokoh nasional (dan istri Emir Qatar) dan artis ini juga merupakan gambaran bahwa anak muda yang memutuskan sekolah ke timur tengah tidak berarti ‘kalah populer’ dari yang belajar di Eropa atau Amerika. Karena beberapa top university di dunia, juga membuka ‘cabang’ di Qatar dala komplek education park-nya. Apalagi saat ini, beberapa Negara Timur Tengah sedang memposisikan dirinya menjadi Hub International (UEA, Qatar). Dan bagi muslim, sekolah internasional di Timur Tengah akan mendapatkan banyak keuntungan sekaligus, diantaranya belajar dan praktek bahasa Arab, kedekatan melaksanakan Umrah dan Haji.

Selain kelebihan dari buku ini diatas, salah satu hal menarik dari buku ini adalah diberikannya sedikit informasi mengenai Qatar di antara pergantian judul topik. Misalnya, harga BBM di Qatar 0.3 QR/liter (1 QR = ±Rp 3,000), sedangkan air mineral 1 QR/Liter (fenomena mirip juga terjadi di beberapa Negara Eropa, antara harga BBM atau susu cair). Info tentang Qatar lainnya adalah Negara berpenduduk 1.7 juta (bayangkan Kota Jakarta saja 10 juta orang, Jabodetabek lebih 20 Juta!) ini ternyata menggunakan hukum liberal, sehingag minuman alkohol sangat bebas dijual disana. Hal tersebut karena sebagian besar dari pendukuk Qatar adalah ekspatriat yang bekerja disana. Yang menarik, ternyata populasi wanita di Qatar hanya 1/4 dari pendukuk.

Meskipun informasi tersebut sudah memberikan tambahan bagi isi buku, namun hal tersebut sebenarnya masih bisa di eksplorasi lebih jauh lagi misal dalam sebuah catatan khusus di akhir buku dengan semacam peta perjalanan kecil tentang Qatar. Hal tersebut tentu akan menjadi daya tarik plus dari buku ini, sehingga informasi mengenai Qatar dari sudut pandang penulis pun bisa didapatkan pembaca secara lebih lengkap.

Buku ini sebenarnya buku yang dicetak tahun semester awal 2011, tapi saat ini konon sudah 6 kali cetak ulang sehingga dikategorikan dalam national best seller (berapa batasannya ya?). Jujur, saat menyaksikan di sebuah acara tayangan televisi pagi hari tentang peluncuran buku ini tahun lalu, saya tidak terlalu antusias untuk membaca apalagi membelinya. Saya justru memutuskan membelinya (seri limited edition) karena insyaAllah akan ada kesempatan untuk mengunjungi Negara tersebut.

Dan setelah membacanya, menurut pandangan saya, bahwa memang banyak yang bisa diambil pelajaran dari buku tersebut. Namun, untuk harga yang sedemikian bukan hal yang layak untuk dijadikan koleksi. Anda cukup membaca dari meminjam, atau membaca blog penulisnya saja.

Saturday, May 31, 2008

Berhitung Zakat

Semua muslim pasti mengenal zakat. Perintah zakat telah jelas dalam firman Allah SWT,
"Ambillah olehmu zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (At-Taubah [9]: 103)

Dan diantara zakat yang rutin harus ditunaikan, ada zakat yang seringkali terlalaikan, yaitu zakat mal dan profesi.

Zakat mal adalah zakat harta kekayaan. Persyaratan harta yang wajib dizakatkan itu ada lima:
1. Al-milk at-tam. Harta itu dikuasai secara penuh dan dimiliki secara sah, yang didapat dari usaha, bekerja, warisan, atau pemberian yang sah, dimungkinkan untuk dipergunakan, diambil manfaatnya, atau disimpan. Harta yang bersifat haram tidaklah sah dan tak akan diterima zakatnya.

2. An-namaa. Harta yang berkembang jika diusahakan atau memiliki potensi untuk berkembang, misalnya harta perdagangan, peternakan, pertanian, deposito mudharabah, usaha bersama, obligasi, dlsb.

3. Telah mencapai nisab. Harta itu telah mencapai ukuran tertentu. Misalnya untuk hasil pertanian telah mencapai jumlah 653kg, emas / perak telah senilai 85gr emas, peternakan sapi telah mencapai 30 ekor, dsb.

4. Telah melebihi kebutuhan pokok. Yaitu kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan keluarganya yang menjadi tanggungannya untuk kelangsungan hidupnya.

5. Telah mencapai satu tahun (haul) khusus untuk harta-harta tertentu, misalnya perdagangan. Tetapi untuk harta jenis lain, misalnya pertanian, zakatnya dikeluarkan pada saat harta tersebut didapatkan.

Ada sementara ulama yang hanya membatasi wajib zakat itu pada delapan benda saja, yaitu unta, sapi, kambing, gandum, sorgum, kurma, emas, dan perak. Pendapat ini adalah didasarkan pada kenyataan bahwa hadits-hadits yang ada hanya secara eksplisit mengatur ke delapan benda ini.

Namun pendapat umumnya ulama saat ini adalah bahwa semua harta baik yang tersurat maupun yang tidak, selama memenuhi syarat-syarat wajib zakat, maka wajib dizakati. Alasannya, sesungguhnya keumuman dalil dari Al-Quran dan Hadits menetapkan pada setiap harta yang berkembang terdapat hak bagi orang lain. Sebagaimana firman Allah SWT:
"Dan dalam harta mereka terdapat hak bagi orang miskin yang meminta-minta dan orang miskin yang tidak meminta-minta" (QS Adz-Dzariyat [51]:19).

Oleh karena itu, semua harta benda, apa pun bentuk dan jenisnya, apabila telah memenuhi syarat-syarat wajib zakat, maka wajib dizakati. Termasuk juga zakat perniagaan, Bila telah dimiliki secara penuh selama setahun dan nilai dagangan telah mencapai seharga 85 gram emas, maka wajib dikeluarkan zakatnya 2.5%. Sabda Rasulullah s.a.w.:
"Kain-kain yang disediakan untuk dijual, wajib dikeluarkan zakatnya." (HR.Al Hakim)
"Rasulullah memerintahkan kepada kami mengeluarkan zakat barang yang disediakan untuk dijual." (HR.Daruquthni dan Abu Daud)

Sedangkan zakat profesi adalah zakat yang dikenakan pada tiap pekerjaan atau keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendirian maupun yang dilakukan bersama dengan orang/lembaga lain, yang mendatangkan penghasilan (uang) yang memenuhi nisab. Contohnya adalah profesi dokter, konsultan, advokat, dosen, seniman, dll.

Kewajiban zakat ini berdasarkan keumuman kandungan makna Al-Qur'an surat Al-Baqarah [2] ayat 267
"Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah olehmu sekalian sebaik-baik hasil usahamu ..." (Al-Baqarah: 267)

Zakat profesi sejalan dengan tujuan disyariatkannya zakat, seperti untuk membersihkan dan mengembangkan harta serta menolong para mustahiq. Zakat profesi juga mencerminkan rasa keadilan yang merupakan ciri utama ajaran Islam, yaitu kewajiban zakat pada semua penghasilan dan pendapatan.

Mengenai nisab, besar, dan waktu pembayarannya, ada dua pendekatan untuk zakat profesi, yaitu;
1. Setelah diperhitungkan selama satu tahun
Nisabnya adalah jika pendapatan satu tahun lebih dari senilai 85gr emas dan zakatnya dikeluarkan setahun sekali sebesar 2,5% setelah dikurangi kebutuhan pokok.

2. Dikeluarkan langsung saat menerima
pendapat ini dianalogikan pada zakat tanaman. Jika ini yang diikuti, maka besar nisabnya adalah senilai 653 kg beras dan dikeluarkan setiap menerima penghasilan/gaji sebesar 2,5% tanpa terlebih dahulu dipotong kebutuhan pokok (seperti petani ketika mengeluarkan zakat hasil panennya).

Berhitung Zakat
Sekarang, mari kita berhitung zakat secara sederhana.
A. Jumlahkan semua harta dalam tabungan, deposito, surat berharga (saham, reksadana etc), perhiasan (emas, perak dll), rumah dan mobil dimana sudah dimiliki selama satu tahun.
B. Jumlahkan semua hutang yang jatuh tempo dan dibayarkan pada tahun tsrebut.
Maka, jumlah zakat mal yang harus di bayarkan dalam 1 tahun tersebut adalah 2.5% x (A - B)

Sedangkan untuk zakat profesi.
M. Jumlahkan semua pendapatan, bonus dan pendapatan lain-lain selama satu tahun.
N. Jumlahkan pengeluaran dalam satu tahun, baik untuk rata-rata rutin tiap bulan, pendidikan, kesehatan dll.
Maka, jumlah zakat profesi dalam 1 tahun tersebut adalah 2.5% x (M - N)

Untuk zakat profesi, waktu ditunaikan zakat akan lebih mudah rutin per bulan atau saat mendapatkan pendapatan tersebut (setelah di kurangi dengan kebutuhan hidup).

Sekalipun besarnya zakat ‘hanya’ 2.5% dari harta bersih kita, bukan berarti bahwa ‘kewajiban’ kita hanya sebesar itu. Minimalis, kita belum menjadi hamba yang lebih.

***
Jika kita berhitung kasar dari 2.5% dari 10% pendapatan domestik bruto kita, maka potensi zakat bisa mencapai 12 Triliun per tahun. Bandingkan dengan program BLT akibat kenaikan BBM sekarang sebesar 14.1 Triliun!

Dengan kesadaran zakat yang tinggi, serta pengelolaan yang baik maka saya optimis bahwa masalah sosial di sekitar kita bisa di tekan serendah-rendahnya. Zakat ini tentang moral, bukan kemampuan. Karena dalam harta kita selalu ada hak orang yang tidak mampu. Jadi, sudahkah kita menunaikan zakat?


Ref zakat: http://portalinfaq.org/

Wednesday, February 20, 2008

Pantas, tidak hanya benar

Banyak orang hanya perhatian pada benar atau tidaknya suatu hal, dan tidak disertai dengan pantas atau tidaknya hal tersebut dilakukan. Antara benar dan pantas memang dua hal yang hampir sama, tapi sepenuhnya berbeda.

Benar, berbicara tentang 1 atau 0. Mutlak, antara benar atau salah (jangan dibawa ke ranah pentafsiran agama). Benar tidak ini mengacu aturan yang umum, naluriah, sunnatullah, standard operating procedure (SOP) atau bahasa hukum. Jelas dan rigid, karena hampir semuanya mempunyai ‘aturan’ yang membuat sesuatu tindakan yang dalam lingkup aturan bisa tersebut ditimpakan kepadanya benar atau salah.

Sedangkan pantas, lebih berbicara tentang etika, ukuran kepantasan. Bagaimana kita mengukur pantas tidaknya sebuah tindakan? Memang semuanya bisa kembli dalam standar norma masing-masing individu, tapi akan selalu ada hal yang umum atau pedoman. Baik yang paling jelas dibandingkan dengan kondisi sosial lingkungan di sekitarnya atau yang paling jujur hati nurani manusia.

Dalam lingkungan negara, kelakuan pejabat (dan wakil rakyat) yang menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi atau kelompok bisa saja ditimpakan benar, untuk menunjang kerja kedinasan. Namun itu akan berada di jalur ketidakpantasan bila jumlah dan frekuensinya di luar batas kewajaran. Batas wajar bagi pejabat publik tentu kondisi umum masyarakat yang dipimpinnya. Apakah layak jika pejabat bergaya mewah sedangkan rakyatnya hidup dalam keterbatasan?

Dalam lingkungan perusahaan, kepantasan seorang karyawan dalam hal menggunakan fasilitas. Contoh sederhana, menggunakan taksi untuk perjalanan Cengkareng-Bandung memang diperbolehkan, tapi rasa-rasanya itu kurang pantas karena bisa menggunakan travel yang masih juga nyaman dan safety (bukan bus umum). Tapi hal itu masih saja lebih baik, dibandingkan berbohong tentang nominal taksi itu sendiri. Atas nama pengorbanan atau apapun karena justru paling mendasar pada wilayah benar saah. Silahkan tanya ke hati nurani sendiri (atau hati nurani rekan jika diri sendiri tidak berani), apakah hal itu dibenarkan?

Dalam Islam, kebenaran adan kepantasan menggunakan istilah benar (halal) dan baik (ahsan). Makan tidak hanya butuh makanan yang halal, tapi juga thoyyib (baik) yang menyehatkan, dan wajar/pantas. Naik haji memang halal dan sangat dianjurkan bagi yang telah mampu, tapi naik haji bagi orang yang sudah pernah haji atau pernikahan yang melebihi kemampuan, mungkin akan lebih baik jika dananya digunakan untuk hal-hal yang lebih manfaat lainnya.

Lalu, bagaimana untuk bisa mengukur diri sendiri tentang benar dan pantas ini? Menurut saya jawabanya sederhana, mari membuka mata hati nurani kita. Hati nurani kita semua seperti cermin bersih yang akan ada kotoran penutup jika tidak sering dibersihkan. Jika cermin itu sudah penuh debu, maka pantulan dari cermin itupun tidak akan sempurna lagi. Nurani kita tidak bisa lagi membedakan kepantasan atau parahnya lagi sudah tidak bisa membedakan benar salah.

Cermin nurani itu bisa dibersihkan kalau menurut nasehat Islam diantaranya dengan tiga cara sederhana yaitu menengok kehidupan fakir miskin (yang hidupnya lebih susah), melayat orang meninggal, dan berkumpul dengan orang sholeh. Dan cermin hati nurani adalah bahasa universal, yang secara umum sama pada siapapun orangnya, agama atau kepercayaannya.

Karena cermin itu selayaknya bersih, sekalipun tidak bisa menjadi sungguh-sungguh bersih seperti terlahir kembali. Tapi manusia bisa berusaha, dan meminta kepada Sang Maha Pencipta untuk membuat cermin itu tetap terjaga.

Wallahu’alam..

Tuesday, October 16, 2007

Khadijah, True Love Story

Perempuan mulia istri Rasulullah Muhammad Saw, Khadijah, menjadi pendorong, penyokong utama di masa-masa awal dakwah Islam. Kisah Muhammad dan Khadijah sebagai sepasang suami-istri istimewa menjadi dasar terbitnya buku yang inspiratif ini, Khadijah The True Love Story of Muhammad.

Cerita tentang kisah hidup mereka dimulai dengan latar belakang kondisi masing-masing, Muhammad sebagai ‘anak angkat’ Abi Thalib pamannya sedangkan Khadijah adalah seorang janda yang mempunyai kerajaan bisnis besar. Singkat kata, Khadijah mencari orang yang bisa dipercaya untuk menjalankan misi dagangnya, hingga akhirnya diputuskanlah Muhammad, orang terpercaya (Al-Amin) dimana Khadijah sudah memberi perhatian khusus kepadanya.

Misi dagang berhasil dan pembantu yang disertakan dengan Muhammad menceritakan kepada Khadijah tentang kebaikan karakter Muhammad yang semakin membuat Khadijah mantap untuk menjadikan Muhammad sebagai pendamping hidup. Maka diutuslah pembantu Khadijah untuk bertanya kepada Muhammad tentang rencana Khadijah tersebut.

Muhammad tahu diri, dibandingkan Khadijah yang terpandang sebagai perempuan saudagar, Beliau bukan apa-apa. Tidak ada terpikir dalam diri Muhammad untuk menikah dengan Khadijah karena Muhammad tidak mempunyai banyak hal untuk dijadikan sebagai mahar. Namun secara prinsip, Muhammad tidak menolak kemungkinan tersebut karena Khadijah adalah perempuan mulia yang bisa menjaga dirinya, dermawan dan teguh memegang moral agama Ibrahim.

Dan diundanglah Muhammad untuk datang ke rumahnya. Akhirnya, Khadijah sendiri yang menyatakan keinginan untuk meminang Muhammad sebagai suaminya. Muhammad menerima, maka menikahlah keduanya dalam usia Muhammad 25 tahun dan Khadijah 40 tahun.

Hari-hari kehidupan Khadijah-Muhammad pun berjalan. Muhammad sebagai kepala rumah tangga sekaligus pemimpin bisnis, Khadijah sebagai istri yang mendukung suaminya. Dan lahirlah putri-putri Rasulullah (Allah mentakdirkan Muhammad tidak mempunyai putra yang berumur panjang).

Selain tentang kehiidupan keluarga Muhammad-Khadijah, buku ini lebih banyak berbicara tentang sirah (sejarah) kerasulan Muhammad mirip halnya buku sirah lainnya. Hal ini tentu tak lepas karena kehidupan keluarga selalu menyertai kisah kenabian, usai diangkatnya Muhammad sebagai Rasul di usia 40 tahun.

Sedikit tentang keislaman sahabat, perjuangan dakwah Islam, hingga masa hijrah. Sehingga pembaca pun akan diberikan penjelasan cukup tentang kisah dakwah Rasulullah Muhammad Saw sendiri. Namun tetap, pembahasan selalu dikaitkan dengan peran keluarga (Khadijah) dalam mendukung dakwah Muhammad.

Buku ini diakhiri dengan keistimewaaan-keistimewaan Khadijah, dimana Allah sampai memberikan salam khusus kepadanya yang disampaikan kepada Muhammad melalui Jibril. Kepada Aisyah (Istri yang paling disayangi Rasul sepeninggal Khadijah) Muhammad mengatakan bahwa Khadijah tiada tergantikan, sehingga sering membuat Aisyah cemburu. Khadijah, dengan kelembutan hati, kesabaran, karakter mengayomi telah menyokong, mendampingi Muhammad di masa-masa awal Islam. Tidak hanya sebagai istri dan partner, Khadijah juga memberikan kasih sayang Ibu mengingat Muhammad sudah yatim piatu sejak umur 6 tahun.

Jika kisah cinta Muhammad-Khadijah bagaikan ‘kisah ideal’, maka di bagian paling akhir juga disertakan sekelumit kisah Ali bin Abi Thalib dan Fathimah bin Muhammad yang ‘lebih membumi’. Keduanya dipersatukan dan sangat dicintai Rasul. Ada kemuliaan, namun ada juga kesahajaan. Ada kesejatian, tapi juga ada kecemburuan. Dari Ali-Fathimah, Muhammad mendapatkan 2 cucu yang sangat dicintai beliau, Hasan dan Husain.

Membaca buku ini, akan banyak hal ‘manusiawi’ kehidupan yang menyertai perjuangan awal dakwah Islam. Semua yang dibahas dalam buku ini tentu sangat berbeda dengan kondisi zaman sekarang. Namun pesan kehidupannya selalu sama, karena manusia kapan dan dimanapun mempunyai akal dan perasaan. Dengan pesan inilah, Muslim zaman sekarang harus berusaha mengejawantahkannya. Dengan contoh yang paling baik, semoga juga dihasilkan keluarga yang baik di zaman ini.

Hal yang ‘cukup unik’, sampul buku ini tertulis label ‘100% untuk wanita’. Namun tentu tak ada salah jika dibaca oleh para laki-laki. Karena dalam keluarga, bukankah keduanya harus saling mendukung? Karena di balik suami yang hebat, selalu ada perempuan hebat di belakangnya. Pun sebaliknya. Selamat membaca, belajar dari kehidupan cinta Khadijah, Muhammad, keluarga, dan sahabat-sahabatnya.

Tuesday, October 09, 2007

Jakarta mencari Keimanan

Penatnya kehidupan ibukota menjadikan Ramadhan di Jakarta sangatlah khas. Ramadhan yang dikampanyekan sebagai bulan suci, membuat Jakarta berbenah sesaat sebelum memasukinya.

Jakarta khusus mencari identitas baru untuk ramadhan. Maka pub,klub dan karaoke ditutup atau izin malamnya dibatasi, ‘wanita malam’ ditertibkan, razia miras-narkoba-judi, hingga para pejabat pun memulas diri untuk ramadhan.

Saat ramadhan pun, praktis semua kehidupan Jakarta berjalan seperti biasanya. Normal di siang hari dengan aneka kemacetan, ramainya mal,sibuknya kantor serta tetap teriknya jalanan atau bahkan banyaknya orang makan-minum di tempat umum seperti biasanya. Ramadhan di Jakarta baru kemudian terasa saat menjelang bedug berbuka, waktu tarawih atau sahur.

Bukan Jakarta namanya, jika suasana itu berada di banyak sudut Jakarta dengan berbagai macam variasi. Buka puasa bersama di kafe atau restoran tanpak jauh lebih banyak di bandingkan di masjid. Kumpulan orang-orang di tempat nongkrong atau di kemacetan jalan jauh lebih banyak daripada yang menunaikan Tarawih. Hanya sahur mungkin, yang lebih banyak orang melakukannya dengan ‘khusyu’.

Tapi akhir-akhir ini, budaya sahur on the road konon lebih parah menggejala dibanding ramadhan tahun lalu. Sekarang tidak hanya orang berlomba memberikan ta’jil gratis, namun Jakarta telah mulai menambahkannya dengan sahur gratis. Salah satunya di sepanjang jalan antara Tendean - Blok M, setiap sahur akan banyak pembagian makanan yang dilakukan mulai dari partai politik hingga klub sepeda motor.

Hingga 10 hari tarakhir ramadhan pun, Jakarta masih berkutat pada identitas yang tak kunjung ada. Sudah mulai surut bulan, beban pekerjaan seperti tak mau ditinggal untuk diganti dengan keutamaan 1000 malam, shaf-shaf Tarawih dan Subuh semakin saja tergerus, pusat-pusat belanja kekurangan ruang bernafas, dan energi hidup pun mulai mengarah pada ritual silaturahim lebaran.

Namun, ada sebagian tempat di sudut Jakarta yang tetap pada usaha mencari keimanan ramadhan. Dan ternyata tidak sedikit orang yang melakukannya. Ribuan orang berkumpul, di satu tempat untuk mengejar yang dijanjikan tentang Malam Utama. Tidak hanya berkumpul untuk satu malam, ada sangat banyak orang (bahkan keluarga!) yang berpindah tinggal di Masjid itu, Masjid At-Tien, untuk beberapa malam dalam 10 hari terakhir.

Ribuan orang, rela berbagi lantai merebahkan diri sejenak sebelum bangun di tengah malam, kemudian berdesakan untuk menyucikan diri.

Ribuan orang bangun di malam hari, terisak menyadari kesalahan, menutup wajahnya karena malu atau memohon ampunan dari-Nya.

Kemudian ribuan orang duduk bersama di taman pelataran masjid, menikmati jamuan sahur bersama keluarga atau saudara seiman, sembari menikmati temaram sabit dan bintang malam.

Dibandingkan dengan lebih dari 10 juta populasi Jakarta, jumlah 2000 mungkin tidaklah seberapa. Apa yang dilakukan sejumlah orang malam itu mungkin masih belum cukup menghapus besarnya beban dosa yang harus ditanggung bersama.

Tapi dengan orang-orang yang seperti itulah, sangat mungkin yang membantu untuk membuat Jakarta aman, berkurang laknat Allah akibat kezaliman yang merajalela, dan akhirnya Jakarta masih mampu menjadi tumpuan hidup Bangsa Indonesia.

Dalam Ramadhan Jakarta mencari identitas Islam, Jakarta mencari keimanan. Semoga setelah Ramadhan, kerasnya Jakarta menjadikan makin banyak orang mendekat diri pada Sang Pemberi Kehidupan dan berempati untuk Jakarta yang lebih akrab.


Selamat Idul Fitri 1428 H,
Taqabalallahu Minna Wa Minkum
Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian

Wednesday, September 12, 2007

Ramadhan

Sepenuh laksa peluh dunia
Tak mampu mengganti nikmat
Bulan rahmat-Mu

Setegar raga tubuh menopang
Tak kan kuat mengganti iman
Bulan suci-Mu

Ya Allah..
Bukan gemerlap yang selalu hamba hindarkan
Namun,
Bukan pula sendu malam yang selalu dalam belaian

Hanya sebuah kesederhanaan berbalut harap
Akan ikhlas dan kesungguhan
Yang mengalir hangat dalam pelukan
Hingga akhir penantian

Ya Rabb..
Dalam Bulan-Mu
Izinkan hamba menggapai Cinta-Mu
Sehingga bisa mencintai makhluk-Mu
Setulus hatiku

Wednesday, August 29, 2007

Afganistan; sketsa dari buku












Apa yang terbayangkan segera dengan negeri bernama Afganistan? Hancur, porak poranda sisa agresi Amerika demi memburu Osama bin Laden yang tak kunjung ditemuinya. Dan pasca agresi itu, praktis wajah Afganistan kembali hilang ditelan bumi penuh konflik timur tengah lainnya.

Namun sebenarnya, apa yang tersingkap dalam media-media yang memberitakan kondisi Afaganistan belum tentu menggambarkan kondisi (dan psikologis) Afganistan yang sesungguhnya. Dan lewat sebuah buku memoar perjalanan, Latifa dan Asne Seierstad masing-masing memberi sudut pandang lain dari kehidupan Afganistan.

My Forbidden Face (Wajah Terlarang-WT) karya Latifa,sungguh-sungguh sangat bagus dalam mendeskripsikan gejolak perasaan perempuan Afgan terutama semasa Taliban yang menerapkan ‘syariat Islam konservatif’ (yang menurut saya berlebihan),diantaranya melarang perempuan bekerja, sekolah dan bahkan keluar rumah tanpa orang yang menemani dengan penutup badan-kepala (burqa). Sednagkan laki-laki harus mempunyai jenggot panjang serta memakai baju jubah. Tidak boleh aktivitas malam, semua TV, media dilarang kecuali siaran agama-propaganda, tidak ada campur laki-laki perempuan di semua urusan, peredaran buku diawasi dan jika melanggar maka polisi pun akan menyeret ke pengadilan agama.

Latifa, seorang wanita asli Afgan yang menghabiskan waktu disana hingga usia 16 tahun saat-saat akhir kekuasaan Taliban, sempat menjadi guru bagi perempuan-perempuan kecil yang dilarang sekolah di sekolah formal dengan sembunyi-sembunyi menggunakan rumah keluarganya. Latifa kemudian ’hijrah’ ke Paris didukung ibu dan keluarganya untuk menyuarakan suara perempuan Afgan di dunia internasional.

Ibunya sendiri adalah dokter yang dilarang bekerja di rumah sakit sejak Taliban, dan akhirnya bersama Latifa membangun klinik sendiri di bagian belakang rumahnya tanpa sepengetahuan Taliban, karena tidak tega melihat pasien-pasien perempuan yang tidak pergi ke RS akibat semua dokternya laki-laki.

Sedangkan Asne, jurnalis Norwegia yang meliput ke Afgan dalam detik-detik Taliban jatuh lalu bertemu dengan Sultan Khan, seorang saudagar buku dan kemudian tinggal serumah bersama keluarganya selama 3 bulan untuk merasakan penuh kehidupan sebuah keluarga Afgan.

Saudagar Buku dari Kabul (The Bookseller of Kabul) - SB, lebih menggambarkan potret keluarga di tengah banyak perubahan kekuasaan di Afgan. Buku ini tidak hanya berbicara tentang dunia Afgan saja, tapi juga wilayah-wilayah di sekitarnya yang turut mempengaruhi kondisi politik-keamanan di Afgan. Menyusuri wilayah pesisir sambil mengetahui kondisi sosial-politiknya tentu lebih membuka mata tentang apa yang terjadi di Afgan.

Ide sentral kehidupan keluarga khas Afgan patut diacungi jempol. Pendeskripsian yang baik tentang posisi kepala keluarga yang sangat kuasa, tugas istri, ibu kepala keluarga, anak dan susunan lain yang membentuk keluarga. Layaknya sebuah keluarga, maka banyak konflik pun mendera disana apalagi dengan tangan besi Sultan yang sangat keras dan tanpa kompromi kepada keluarga.

Lalu lagi-lagi tentang perempuan Afgan yang penuh kisah sendu itu seperti dalam buku WT. Jika WT lebih banyak pada aktivitas sosial perempuan yang terkengkang, maka SB berkali-kali menggambarkan tentang ketidakperdayaan perempuan Afgan dalam meimilih pasangan hidupnya. Sebenarnya laki-laki pun demikian, namun laki-laki lebih bisa mengatakan keinginannya lalu menyerahkan hak melamar kepada ibu atau saudara perempuan. Sedang si perempuan, hanya bisa diam dan menerima apa kata ibu atau keluarganya yang biasa hanya atas pertimbangan materi menjual anak gadisnya.

Kisah keluarga saudagar diakhiri dengan sebuah sketsa cinta menyedihkan, antara Leila (adik Sultan) yang disukai Karim (seorang pemuda mapan) dan akhirnya kandas karena’budaya’ terkungkungnya seorang wanita Afgan terutama sejak Taliban dan masih berbekas sesudahnya. Menurut Leila, perempuan Afgan itu tidak punya rasa, tidak bisa merasakan apa-apa karena tidak terbiasa merasakan apa-apa. Dia tidak punya rasa karena tahu dia tak boleh punya perasaan. Jadi, apakah mempunyai perasaan dan memperjuangkannya adalah tabu bagi seorang perempuan?

***

Buku bagaimanapun adalah media yang sangat baik untuk menyuarakan hati nurani. Dan buku memoar, buku yang ditulis sebagai catatan perjalanan dan liku-likunya atas sebuah negeri bernama Afganistan ibarat suara hati nurani tercekik di balik kerudung Islam konservatif. Wajah Terlarang atau Saudagar Buku dari Kabul telah menjadi bukti eksistensi sebuah buku memoar, menampilkan sisi lain kehidupan Afgan, lebih membuka mata dunia dan kemudian memahami apa yang terjadi disana.

Semua dalam kehidupan penuh pilihan. Tapi tentu tidak ada orang yang memilih dalam kehidupan penuh ketertindasan dan keterkengkangan. Karena perasaan bebas dan bertanggung jawab atas apapun yang dipilihnya itu, adalah bagian utama dalam kehidupan manusia.

hidup selalu punya akhir
tidak perlu lagi ditindas
jika ketundukan adalah prasyarat hidup

aku tidak butuh hidup macam ini
dalam perbudakan,
bisa saja terjadi hujan emas
dan akan kukatakan pada langit

hujan ini tak dibutuhkan
[Latifa]

Wednesday, August 08, 2007

1001 jalan menuju Surga

Tulisan ini tanpa ada dalil-dalil yang lengkap, hanya sepengetahuan penulis. Mohon maaf atas 'kelancangan' ini. Silahkan melengkapinya jika dibutuhkan dan mohon diluruskan bila salah*

Beberapa waktu lalu, saya menanyakan kepada 'seorang kakak', kenapa belum mau menikah segera? Kakak tersebut menjawab bahwa dia sedang meningkatkan sebuah amalan ibadah sehingga bisa 'lebih layak' menuju gerbang nikah, lebih tepatnya lebih siap untuk mendidik anaknya kelak. Menurutnya, bahwa mendidik anak untuk melakukan 'amalan' tersebut maka sebagai ibunya harus memberi teladan terlebih dahulu.

Menarik, apa yang disampaikan si kakak untuk meningkatkan 'amalan' tersebut. Seratus persen saya sepakat, sebagai muslim untuk selalu meningkatkan ketakwaaan (ibadah) kita, setidaknya menjaga dalam tahap yang baik. Dan tentang keteladanan kepada anak, ini juga tidak ada keraguan.

Yang 'sedikit mengusik', menurutnya berdasar sebuah dalil, bahwa sebaik-baik orang adalah orang yang mempelajari 'amalan' tersebut dan mengajarkannya.
Dan itu pun sebenarnya memang benar. Namun, diskusi saya buka denga pertanyaan, bukankah dalam risalah Nabi Muhammad SAW sendiri, seringkali beliau mengatakan hal-hal yang menjadi amalan paling baik?

Misalnya, ketika seorang sabahat datang kepada Rasul dan menanyakan Islam itu apa, maka dijawab islam adalah akhlak.
Artinya, Islam itu sebagain besar adalah tentang akhlak, berhubungan dengan orang lain. Risalah lain menceritakan bahwa seorang sahabat bisa masuk surga 'hanya' dengan memaafkan semua kesalahan sahabat-sahabatnya yang ditimpakan kepadanya hari tersebut, setiap malam menjelanng tidur.

Kemudian, seorang anak muda datang dan menanyakan tentang siapa yang harus ditaati antara ayah dan ibu, dan Rasul pun menjawab Ibu sampai tiga kali, baru kemudian ayah. Dan dalam kisah lain, Umar bin Khattab pernah mendengar bahwa akan ada seorang penghuni sorga yang datang kepadanya dari sebuah daerah yang dia hanya keluar dari daerah tersebut setelah ibunya meninggal, karena saking berbaktinya dengan merawat ibunya. Dikisahkan, Umar bahkan mencium tangan sahabat yang akhirnya beliau 'temui' di masa pemerintahannya.

Ada lagi, tentang 7 golongan yang masuk surga adalah pemimpin yang adil,
pemuda yang sholeh, orang yang terikat pada masjid, orang yang bertemu dan berpisah karena Alllah SWT dan seorang pemuda yang 'digoda' wanita di tempat sepi dan mengatakan bahwa dia takut pada Allah, orang sedekah yang tangan kiri tidak tahu apa yang disedekahkan tangan kanan, dan memohon ampun sampai bercucuran air mata.

Dan yang pasti, sebuah hadis yang terkenal bahwa manusia yang paling berhasil adalah yang mempunyai sebesar-besarnya manfaat bagi orang lain. Sederhananya, manusia jenis ini pun saya yakin masuk surga. Karena azab itu diturunkan pertama kepada orang shaleh pribadi yang mebiarkan masyarakatnya rusak.

Kita mungkin masih ingat, serita seorang pelacur yang ahli surga karena
memberi minum pada seekor anjing. Orang yang sudah membunuh 100 orang dan ahli surga karena jarak yang lebih dekat ke 'kota taubat'. Atau karena membebaskan sebuah burung, Umar juga disebutkan Ali ahli surga.

Jadi moral dari semuanya, bahwa pintu masuk surga itu banyak. Dan tentunya, masih banyak lagi kisah atau cerita-cerita dimana Rasulullah mengatakan bahwa tindakan tersebut sebaik-baik amalan, calon penghuni surga, yang diampuni dosanya terdahulu dan lain sebagainya.

Belum tentu yang 'paling alim' masuk surga duluan. Ingat cerita di puntu surga antara orang mati syahid, ulama dan dermawan. Malaikat menawarkan siapa yang berhak masuk surga duluan kepada syahid, tapi dia menolak karena keberangkatan berjuang di jalan Allah atas ajaran guru, maka ulama lah yang lebih berhak. Kemudian ulama pun menolak, karena kelapangannya mengajar ilmu, termasuk kepada si syahid karena tersedianya sarana atas sedekah si dermawan. Akhirnya, dermawan-lah yang masuk lebih dahulu,

Pun sebenarnya, masuk surga-nya seorang muslim bukan karena amalan-amalan-nya. Tapi karena rahmat Allah SWT. Ingat cerita tentang seorang ulama yang dia sebenarnya sangat banyak amalan dan masuk surga karena izin Allah, tapi sang ulama tidak mau masuk surga jika bukan karena amalan-amalannya. Maka jadilah, semua amalan ditimbang hanya dengan rezeki sebutir bola mata ulama dan masih jauh lebih berat bola mata tersebut.

Karena islam itu mudah maka mudahkanlah, demikian salah satu hadis berkata. Tapi ini bukan berarti sebagai muslim, bertindak seenaknya. Bermain-main dengan agama. Satu yang paling fundamen adalah tentang keimanan, tentang tauhid. Islam jelas-jelas menganggap bahwa syirik (menyekutukan Allah) itu sebagai dosa yang sangat besar. Secara sederhana, tauhid itulah yang menjadi dasar bagi seseorang menjadi muslim yang baik.

Tauhid (perihal ke-Esa-an kepada Allah), mudah diucapkan tapi sangat sulit dilakukan secara sepenuhnya. Seharusnya, semua hidup muslim tunduk pada aturan Alllah. Semua peri kehidupan, dari bangun tidur hingga urusan negara. Dan ini memang sangat-sangat sulit. Tentang urusan bunga bank saja kita masih belum sepenuhnya. Namun yang paling mendasar adalah menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya puncak tertinggi cinta, penghambaan dan tempat bergantung. Bukan jabatan, harta, istri, apalagi dukun!

***

Beberapa cara menjadi muslim terbaik dan menggapai surga diatas menurut saya adalah cerminan bahwa Islam itu menghargai potensi dan kemampuan umatnya. Bagi muslim yang menjadi pemimpin, maka jadilah menjadi pemimpin yang adil untuk mengetuk pintu surga. Bagi si kaya, maka dermawanlah sebanyak-banyaklah. Dan bagi seorang yang mampu melakukan 'amalan' yang diidamkan si kakak, maka jadilah orang yang menjadi guru bagi umat islam.

Tindakan menunggulkan satu amalan daripada yang lain tentu bukan hal yang bijaksana. Surga bukan hanya untuk orang yang setiap hari bisa shalat tahajud (malam), bukan pula hanya untuk yang bisa puasa sunah rutin, atau untuk yang hafal Al-Qur'an. Surga juga buat 'muslim biasa' yang punya kebersihan hati dalam beribadah, buat para suami yang peduli terhadap keluarganya, buat pengamen, buat profesional dan lain-lainya.

Dalam hal ini, paradigmanya tentang masuk surga ending, bukan langsung karena banyaknya dosa yang dilakukan (hampir) tiap muslim sehingga harus 'mampir’ di neraka. Urusan pun berpindah ke sebentar atau lamanya di neraka yang berbeda tiap muslim (dan semua muslim pasti inginnya tidak ’mampir’ ke neraka), baru kemudian ke surga. Dan semua yang masuk surga, atas dasar rahmat (kasih sayang) Allah SWT, bukan amalan kita.

Berkaitan dengan lama tidaknya di neraka dan potensi yang bisa berbeda tiap muslim, maka hendaknya setiap muslim haruslah mempunyai sebuah amalan yang menjadi ’andalan’nya. Jika sebuah tim, ada selalu yang manjadi andalan, atau menjadi bintangnya.

Demikianlah, sebuah kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua yang ber- tawasul (menjadikan sarana dalam ibadah) dengan sebuah amalan terbaik masing-masing untuk membuka batu besar penghalang gua. Seorang ayah tetap menjaga jatah susu untuk kedua orang tuanya yang tertidur, sekalipun anaknya sendiri merengek minta susu tersebut. Seorang yang tidak jadi mengambil ’tubuh’ sepupu perempuannya yang cantik sebagai ganti bayar hutang. Seorang majikan yang buruhnya ’lupa’ mengambil jatah upah, lalu kembali dan diberikan banyak gembalaan sapi sebagai pemutaran uang atas upah yang tertinggal itu.

Jadi, jika kita bisa menjawab apa pekerjaan impian anda, atau yang lainnya, maka seharusnya mungkin kita juga bisa membayangkan jika nanti ditanya, ”apa amalan yang paling kau andalkan untuk mendapat kasih sayang-KU?”. Dan itu bukan besar kecilnya, tapi konsistensi (istiqomah) serta pastinya ikhlas dan sesuai petunjuk Nabi.

Jadi, ada lebih dari 1001 jalan menuju surga...

Wallahu’alam bi shawab
Dan hanya Allah yang Maha Mengetahui

*ditulis oleh bukan ustadz, hanya 'toekang insinyur'.

Monday, June 25, 2007

Dalam aktivitas IMB

Pada dasarnya semua manusia membutuhkan ruang-ruang untuk menyalurkan sisi sosial-nya, dimana yang paling sederhana adalah dengan melakukan aktivitas komunikasi dengan manusia lainya. Komunikasi dan interaksi yang lebih intim bisa dibangun oleh orang-orang yang mempunyai pandangan, atau kufu yang sejenis. Untuk yang seperti ini, batasan-batasan yang mungkin muncul tidaklah menjadi masalah besar untuk tetap merangkai interaksi sosial-nya.

Begitu pula yang dilakukan oleh Indonesian Muslim Blogger (IMB) atau biasa disebut muslimblog, sebuah komunitas maya blogger muslim yang mulai diinisiasi tahun 2004 oleh hanya beberapa orang dan sekarang mempunyai komunitas milis muslimblog dengan lebih dari 600 member. Hambatan ruang, tidak menjadi halangan bagi para penggiat IMB untuk eksis dalam blogosphere (dunia per-blog-an) Indonesia.

Saya sendiri mulai ikut dalam komunitas ini sekitar 1,5 tahun lalu dan mulai lebih aktif lagi kurang dari setahun yang lalu. Memang pada awalnya merasa canggung, karena sudah banyak blogger yang malang-melintang. Namun, lama kelamaan juga merasa terbiasa dan berani aktif di milis, karena bagaimanapun inti komunitas ini adalah membangun interaksi sosaial sesama blogger muslim.

Selain milis yang aktif, terdapat juga blog muslimblog serta beberapa aktivitas online maupun offline yang tersebar di bebarapa simpul kota-kota besar diantaranya Jabotabek, Bandung, dan Semarang. Diantara kegiatan tersebut adalah pelatihan blog atau penulisan, gathering, pernak-pernik IMB (kaos, pin dll), best post of the month dan kajian online muslimah.

Namun sayangnya, kegiatan-kegiatan tersebut sudah mulai tiarap dan butuh untuk dihidupkan kembali, karena bagaimanapun ada kendala ruang-waktu serta kesibukan masing-masing blogger. Kecuali untuk yang terakhir, yang masih aktif hingga saat ini setiap siang pada hari-hari tertentu via conference, dimana salah satunya digawangi oleh Unisa (bagi yang berminat, silahkan hubungi langsung beliau).

Dan akhir-akhir ini, tekad untuk kembali menghidupkan aktivitas IMB mulai bergejolak (semoga tidak temporer!). Mulailah milis ramai untuk pemilihan ketua umum (pilketum) IMB yang baru hingga muncul beberapa kandidat dan program yang kira-kira ingin digulirkan. Kemudian disusunlah Sabtu, 23 Juni lalu untuk kopdar (kopi darat) IMB yang diadakan di komplek Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru.

Begitulah, rencana disusun dan member yang konfirm datang lebih dari 10, namun yang datang tidak lebih dari 5 orang, yaitu Adhika, Unisa (plus suaminya) dan saya sendiri. Dan sesuai mandat para IMB’ers yang tidak datang maupun secara umum member yang lain (karena pembahasan pilketum dan kopdar sudah sejak sebulan lalu) kepada yang datang untuk bermusyawarah, (sesuai prediksi semula) maka ‘terpilihlah’ Mas Dhika sebagai koordinator IMB untuk 2007-2010.

Jujur, nama Ketua yang selama ini ada dinilai kurang pas oleh Mas Dhika karena untuk komunitas yang dibutuhkan adalah koordinator dan atau formatur. Dan ‘masa kepengurusan’ yang 3 tahun itu sendiri hasil kesepakatan kami saja, untuk menjembatani waktu 1 tahun yang terlalu cepat atau 5 tahun yang terlalu lama.

Kemudian, kami pun sharing tentang program-program yang mungkin bisa dijalankan setelah pastinya disampaikan di milis, dan ngobrol-ngobrol ringan lainnya mulai memposisikan blog, kampus hingga sastra (Mas Dhika ini juga moderator klub-sastra yang lama saya ikuti, sedang suami Unisa adalah senior satu kampus -dunia memang sempit!).

Secara umum, programnya tidak banyak berubah dan akan dicoba dihidupkan kembali program-program yang lama serta simpul-simpul di masing-masing kota. Namun tetap, bagaimanapun inisiatif dan kreativitas IMB’ers untuk menghidupkan komunitas ini sangat dibutuhkan.

Oiya, jika teman-teman blogger muslim ingin bergabung dengan komunitas ini silahkan kirim mail kesediaan ke muslimblog-owner@yahoogroups.com, karena milis muslimblog hanya via invitasi moderator (jadi harus bersiap juga jika ditolak, coba lagi dan lagi!). Seperti halnya di masyarakat, di komunitas (milis) pun ada hal-hal ‘menarik’ atau ‘kurang menarik’. Namun pastinya, mari ikut bersama menghidupkan komunitas ini untuk kemaslahatan kita bersama.

Hare gene intim sama internet ga punya blog? Temennya tomat.., cabe deh...! Hare gene punya blog ga ikut satupun komunitas blog? Beli nasi di pondok gede, basi deh..! ^_^

Catatan:
- Tambah milis, jangan lupa membuat filter supaya mail milis rapi tersisir.
- Mas Dhika sabtu 30 Juni akan berubah status menjadi suami, dan koordinator IMB seolah menjadi ‘kado terbaik’ dari IMB’ers.
- Kronologis kopdar 23 Juni versi cerita, silahkan baca disini (loading rada berat)

Monday, June 18, 2007

tentang memberi nama

Seorang bayi terlahir ke dunia, kemudian kedua orang tuanya pun 'menghadiahkan' sebuah nama padanya. Nama adalah do'a, sehingga memberikan nama yang baik adalah wajib.

Bagaimanakah nama yang baik itu? Yang memancarkan do'a disana? Disinilah, orang tua mencarikan nama-nama, yang kadang menemukan kesulitan. Meminta bantuan kerabat, teman atau tokoh kadang dilakukan.

Tidak ada pedoman yang pasti tentang memberi nama, intinya memberi nama yang baik (dan do'a tadi). Bagi orang Islam, nama yang baik diidentikan dengan nama-nama Islam (baca: Arab). Apalagi bagi para aktivis pergerakan Islam yang marak dewasa ini. Sehingga bisa kita jumpai hari-hari ini, nama-nama 'Islam' sangat ramai di tengah-tengah kita.

Namun menurut saya, nama yang baik bukan hanya nama dalam bahasa Arab semata. Dan secara substansi, nama baik bisa dihadirkan dalam bahasa indonesia, daerah semisal jawa atau bahasa asing lain yang memberikan arti kebaikan, harapan atau do'a.

Dan karena nama juga identitas, maka pencantuman 'identitas lokal' dalam sebuah nama anak ada bagusnya. Bukan berarti nama yang semua Arab itu kurang baik, namun lagi-lagi secara substansi nama non-Arab pun bukan masalah.

Yang kadangkala pula, nama Arab (atau asing) lebih sulit diucapkan oleh lidah indonesia, seperti nama Muti'ah Najiatuzzahra. Alih-alih memberikan do'a, jangan-jangan karena salah ucap bisa berbeda artinya. Apalagi jika pemberiaan nama ala Arab dilakukan secara serampangan asal terlihat keren, misal: Muhammad Imam Syaithoni (?!?!!).

Menurut saya, justru merupakan 'keindahan' jika nama 'Islam' tersebut digabungkan dengan nama-nama lokal, semisal dalam istilah jawa atau sunda. Semacam kombinasi, antara identitas 'universal' Islam (bahasa Arab) dan identitas lokal. Dalam istilah yang lebih rumit, membuat tidak tercerabutnya lokalitas dalam sebuah nama. Contoh yang menarik, dari nama Nadya Paramitha-Nadya dalam arab artinya penyeru, sedangkan Paramitha dalam khasanah jawa artinya anggun), buah hati kedua antara mbak Helvy Tiana dan mas Tomi.

Hal ini pula yang sering saya sampaikan, jika bertemu seorang kakak, atau kenalan yang sang istri baru melahirkan dan sedang dalam pemberian nama bagi anaknya, atau yang sedang hamil tua. Selama ini dari beberapa orang rata, dan ada yang pada akhirnya tetap memberikan edisi full-Arab-version. Bukan jadi soal (apalagi saya 'orang luar' yang memberi pesan), karena sekali lagi, sebstansi nama adalah do'a dan harapan.

**
Lalu, jika kemudian kita diberikan kesempatan untuk mengusulkan nama, seperti tengah bulan lalu saya mencoba bernostalgia dengan masakan Mas Muslimin. Istrinya yang dinikahi beberapa bulan lalu, sedang mengandung bulan ke-5. Dan sekalipun sering meminta kakak atau teman untuk memberikan nama anaknya dengan kombinasi universal-lokalitas diatas, memberi usulan sebuah nama, tentu bukan perkara gampang. Pun Mas Muslimin juga setuju dengan usul adanya kombinasi tersebut.

Waktunya kurang lebih 2 bulan lagi. Dimana setelah nyari-nyari di internet, belum ada source nama-nama terutama bagian identitas lokal. Apa harus membuka Primbon kembali? Kalau sudah seperti ini-meminjam ucapan seorang guru, ane kan jadi bingung!.

Jadi kalau teman-teman ada usulan, silahkan dituliskan. Bener, mohon sharing-nya. Untuk nama laki-laki dan perempuan, sekaligus artinya kalau bisa. Terima kasih banyak.

Note: postingan ini akan 'relatif lama', dan update sesuai usulan nama yang masuk.

- Syaifullah Muhammad Abdi // Ghina Sukma Paramitha (terima kasih Mr Fajarsyah)
- // Halwa Lutfiah (terima kasih Pyuriko)

Monday, June 04, 2007

Memandang pekerjaan

Bekerja adalah niscaya, seperti halnya bergerak. Manusia tak hidup bila tak bergerak, sehingga manusia pun tak bisa hidup kecuali dengan bekerja (dalam arti umum).

Berbicara tentang bekerja, terutama sebagai karyawan, dalam keadaan 'sulit' dan modern seperti ini, maka terdapat dua perspektif dalam memandang kondisi bekerja.

Pertama, perspektif sebagai hamba yang bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Hal ini karena mencari dan mendapatkan pekerjaan tidak bisa dikatakan gampang. apalagi untuk pekerjaan tepat sesuai dengan keahlian, kemampuan dan kemampuan-nya.

Sehingga, perspektif pertama dalam bekerja yang harus disikapi oleh 'menusia pekerja' adalah bersyukur karena dirinya telah mendapatkan pekerjaan. dan syukur ini, hendaknya tak hanya cukup diucapkan, melainkan harus pula dilanjutkan dengan tindakan, misal dengan zakat (jika sudah memenuhi nishob) dan atau infak.

Kedua, perspektif profesional. Disini, melakukan pekerjaan yang diberikan dan menjadi tanggung jawab dirinya dengan sungguh-sungguh, profesional. Keberadaan pekerja di kantor (atau tempat kerja), harus efektif untuk melakukan pekerjaan. Berapa digaji, maka diberikan timbal baik yang (minimal) setimpal dengan gajinya tersebut.

Dalam perspektif profesional ini, maka selalu untuk berkembang dan berkembang adalah kebutuhan. Sehingga, mencari tempat kerja yang lebih baik kadangkala menjadi solusi bagi jiwa yang selalu tertentang ingin berkembang dan maju. Dan dalam pandangan profesionalisme, berpindah kerja untuk sesuatu yang lebih baik (bukan hanya salary, tapi hal-hal lainya semisal personal development, prestise perusahaan, proximity to home, visi masa depan-sekolah lagi, dll). Dan prinsip dalam keinginan berpindah adalah, jangan melepaskan merpati di genggaman sebelum mendapatkan rajawali yang masih di angkasa.

Jadi, jika kita bekerja atau sedang akan melangkah bekerja, dua sayap perspektif bekerja diatas selayaknya harus digunakan. Dan akhirnya, selamat bekerja.

to work is to learn, earn, and contribute

Monday, May 07, 2007

di resepsi pernikahan

Menghadiri resepsi pernikahan tentu sering kita lakukan, apalagi bila musim-musimnya waktu pernikahan alias 'bulan baik'. inilah mungkin beberapa alasan mengapa kita hadir dalam sebuah resepsi pernikahan, dalam sisi yang baik maupun yang juga 'baik' sebenarnya.

Pertama, memberi ucapan dan do'a kepada kedua mempelai. ini adalah hal yang utama seharusnya dilakukan oleh hadirin atau pengunjung. Do'a yang diajarkan Islam untuk pasangan mempelai: Barakallahulaka wa baraka 'alayka wajama'a baynakuma fi khair.. semoga Allah memberkati kalian dan menyatukan kalian dalam kebaikan.

Dan tidak hanya do'a saja sebaiknya yang diberikan. berikan sesuatu sebagai 'bekal' hidup baru pengantin. dan bekal atau oleh-oleh itu, menurut seorang mas, sebaiknya bukan berupa uang. alasannya, barang bisa langsung digunakan oleh 'keluarga baru' dimana biasanya punya kehidupan baru (baca: rumah). dan biasanya, orang yang sudah berkeluarga itu akan lebih mikir dalam pengeluaran hanya untuk membeli barang-barang alat-alat 'kecil' rumah tangga. selain itu, kalau uang belum tentu uang yang diberikan akan dinikmati oleh pasangan pengantin. dan hari gini, pemberian uang 'nominal tertentu' rasa-rasanya masih kurang pantas juga.

Selain itu, karena menghadiri resepsi secara otomatis mengetahui kedua pasangan, maka bagi tamu resepsi menjadi sarana tahu pasangan dari teman, kenalan atau kerabat yang menikah tersebut. karena sering, sebuah proses pernikahan dilakukan dengan lingkaran keluarga dekat. sekedar mengetahui wajah saja pastinya (sekalipun bukan wajah aslinya). dan mungkin sembari membatin, "oo... jadi seperti ini.."

Kedua, sarana silaturahim dengan teman atau tamu lain yang hadir dalam resepsi tersebut. bagi anak kost, dalih silaturahim itu bisa saja dimanfaatkan untuk perbaikan gizi karena sebenarnya tidak terlalu berkaitan langsung dengan mempelai (atau tidak diaundang). bagi para single, silaturahim itu bisa juga ajang 'ketemuan', siapa tahu jodohnya ada disitu. tapi pertemuan di tempat semacam resepsi patut diwaspadai, karena yang datang sering tidak menampakan 'wajah' aslinya.

Bertemu dalam acara resepsi, bagi kalangan tingkat tertentu mungkin bagian dari menunjukan eksistensi. seberapa sukses, dilihat dari kendaraan yang dibawa atau pakaian serta asesorisnya. pun juga menunjukan 'kualitas' pasangannya bagi yang sudah berpasangan, biasanya bagi yang masih muda saja. tapi yang menarik bagi saya, melihat batik berseliweran memberikan kesan bersahaja pada sesuatu.

Ketiga, menjadikan berkaca pada diri sendiri. baiknya memang, tidak hanya datang saat resepsi dimana biasanya tidak ada nasehat atau khutbah nikah (kecuali jika menggunakan susunan acara adat). bagi pasangan yang sudah berumur, menghadiri rangkaian resepsi pernikahan seperti men-charge komitmen akan bingkai pernikahan.

Dalam sebuah akad nikah, saya teringat sebuah petuah yang bagus, "hadir disini seperti menghadiri sebuah acara pelepasan. anda pengantin berdua yang akan berangkat berlayar, menghadapi ombak, badai dan terjangan kapal lain. kami disini, berdiri dari hanggar dan melambaikan tangan seraya berdo'a bagi anda berdua."

Bagi yang belum menikah, resepsi juga tetap menjadi sarana berkaca pada diri sendiri. paling sederhana, kapan dirinya akan menyusul menikah. atau bisa juga berhitung, jika pengantin laki-lakinya menikah pada umur segini (atau istilah angkatan jika di kampus) mendapat perempuan yang segini, maka dirinya (yang belum menikah) kira-kira akan menikah berapa lama lagi dan mendapatkan pasangan yang usia (angkatan) berapa. berhitung, counting days.

---
Dan weekend lalu, saya menghadiri dua resepsi pernikahan. pertama rekan kantor yang bersuami seorang polisi penerbangan. jadinya, resepsi pun dilakukan dengan prosesi Pedang Pora. menarik, dan (sedikit-banyak) menggabungkan urusan cinta pribadi dan nasionalisme sebagai ksatrian. alasan satu, dua dan tiga tak jadi masalah besar bagi diri sendiri.

Yang kedua, saya dan sekawanan pondok derita* menghadiri sebuah resepsi pernikahan adik angkatan kami. ya.. adik angkatan kami. alasan satu dan dua diatas, bisa kami terima. untuk alasan ketiga, menjadi tidak tepat untuk kami-kami ini. mereka lebih muda (secara angkatan dan mungkin umur), tapi berani untuk mengambil keputusan itu. anak muda yang berani.

Berbicara tentang anak muda yang berani, saya jadi ingat kata-kata dari ibu teman saya dalam bahasa jawa tengah yang khas, "gek do ngopo tho, rabi koq podo enom-enom.."

Wah..untuk yang seperti ini, tiap orang punya alasan masing-masing.

*foto bertiga (kiri-kanan), aan, saya, adit - lucky sedang sakit.

Monday, April 30, 2007

ke rumah sakit

"Sebaiknya Jangan Mengunjungi Rumah Sakit Bila Tidak Perlu"

Tulisan bernada peringatan diatas saya temukan di Rumah Sakit Umum Hasan Sadikin (RSHS), Bandung. Menggelitik, dan unik. Seberapa pentingkah latar belakangnya sehingga 'peringatan' diatas muncul di sebuah lorong masuk pintu masuk utama bangunan lama RSHS? Apakah mungkin, orang pergi ke RS tanpa sebuah perlu diluar kesehatan, atau bahkan iseng?

Rumah Sakit (RS), adalah tempat banyak manusia datang untuk berobat. atau secara umum, berurusan dengan kesehatan. tidak pandang bulu, mulai bayi sampai kakek/nenek yang berumur. di RS, pemandangan 'memilukan' akan banyak kita dapatkan. tangis bayi, jeritan orang, wajah menahan sakit, pandangan yang sendu, tangis dari para pasien atau keluarganya. dan di sisi lain, (normalnya) selalu ada wajah sejuk para perawat, dokter atau petugas RS.

Berkunjung ke RS, terutama sebagai orang sehat, akan mengingatkan bahwa kesehatan adalah nikmat yang sangat besar, yang jarang disadari (sama halnya dengan nikmat waktu). sebagai orang yang sehat atau orang yang masih diberikan hidup sekalipun sakit, nikmat itu tentunya harus disyukuri. ditambah pula biaya kesehatan di RS tidak bisa dikatakan murah sekarang ini.

Nikmat hidup, itulah salah satu dari yang apa dipetuahkan Luqman untuk senantiasa menghidupkan nuansa syukur dalam kehidupan. Untuk menghidupkan hati syukur tersebut, Luqman menasehatkan untuk rajin berziarah kubur, mengunjungi orang yang miskin, dan menjenguk orang sakit (CMIIW).

Nah.., jika dikaitkan antara nasehat itu dengan tulisan di RSHS diatas, maka sebenarnya mengunjungi RS adalah sebuah 'kebutuhan' bagi semua manusia yang ingin menghadirkan rasa syukur pada Pencipta. jadi, ada keperluan untuk mengunjungi orang sakit. dan, RS mungkin tempat yang relatif lebih nyaman jika dibandingkan dengan slum area, atau kuburan (sekalipun di San Diego Hills, Karawang).

Ditambah lagi dalam dunia layar kaca kita, bahwa para perawat, dokter baik laki-laki maupun perempuan di RS selalu digambarkan dengan stereotip baik, ramah dan 'good looking'. ini memang 'side effect', tapi jika saat side effect membuat kita menjadi lebih nyaman, maka side effect itu pun kemudian manjadi salah satu faktor pendorong yang kuat.

Jadi, datang ke RS karena alasan kesehatan pribadi atau mengunjungi kerabat yang sakit disana secara langsung atau tidak langsung akan menimbulkan kesadaran dan bersyukur akan nikmat kesehatan yang luar biasa dari Sang Khaliq. lalu jika 'perhiasan dunia' yang (tidak sengaja) terlihat dan ikut terlibat disana, anggap saja sebagai selingan pemanis kehidupan. pun tidak dilarang juga dalam agama untuk menuju akhirat dengan tidak meninggalkan kehidupan dunia (betul?).

Dan tidak ada hubungan pasti serta jelas, antara pasien yang sudah tercatat resmi di sebuah RS tertentu dengan alasan mengapa lebih suka ke RS tersebut di tengah banyaknya RS di sebuah kota besar. atau jangan-jangan, mungkin karena adanya 'side effect' tertentu sehingga hal itu bisa terjadi.

Bagaimanapun itu, memang sebaiknya jangan mengunjungi rumah sakit bila tidak perlu, bukan begitu?