Showing posts with label Finance. Show all posts
Showing posts with label Finance. Show all posts

Saturday, May 23, 2026

Melihat Laporan Keuangan Berkshire 2025

Setelah melihat Laporan Keuangan (LK) Berkshire Hathaway Inc. (BRK) tahun 2020 lalu, menarik juga untuk membandingkan bagaimana LK Berkshire untuk tahun 2025 kemarin.

Tahun 2025 adalah tahapan yang cukup special karena pertama kali nya Warren Buffet (WB) tidak lagi menjadi CEO digantikan Gregory E. Abel (Greg Abel), meskipun WB masih sebagai Chairman dan terlibat dalam beberapa keputusan strategis BRK. Sehingga Abel untuk pertama kali nya menuliskan BRK CEO letter yang legendaris di LK BRK 2025 tersebut.

Sebagai perbandingan dari LK 2020, mari kita lihat dari posisi Aset (Assets), Pendapatan (Revenues) dan Return tahunan nilai saham BRK.

1. Posisi Aset (Assets)

Dari summary asset di akhir 2025, nilai saham yang dipegang BRK (marketable securities/perusahaan terbuka atau tbk) sebesar USD 297 bn, yang dihitung sesuai harga market 31 Desember 2025. Dengan total asset BRK sebesar USD 1222 bn, maka sekitar 55% komposisi asset dalam bentuk equity securities dan cash & equivalents termasuk T-bills sektar USD 321 bn atau 30% dari total asset. Total asset BRK sendiri naik sekitar 40% dari USD 873.7 bn di tahun 2020, atau CAGR 7% per tahun. 

Sebagai perbandingan dari 2020, berikut beberapa 2 poin menarik dari aset tahun 2025:

a. Kalau hanya membandingkan total liquid asset yaitu equity securities (saham perusahaan tbk) dan cash equivalents saja maka komposisi nya menjadi 44% vs 56% di tahun 2025, lumayan jauh  dibandingkan posisi 65% vs 35% di tahun 2020.

Meskipun komposisi tahun 2025 tersebut masih masuk dalam range komposisi Portfolio Saham dan Kas yang disarankan Benjamin Graham antara 25-75% (Ref: The Intelligent Investors, dimana Graham sendiri adalah panutan dan mentor WB), namun jelas posisi kas 2025 meningkat signifikan dibandingkan 2020.

WB sendiri dalam sebuah kesempatan pernah bicara bahwa semakin sulit akhir-akhir ini untuk mencari perusahaan luar biasa dengan harga wajar. Hal ini juga menunjukan aspek prudent sekelas big company BRK dalam melihat market hari ini yang cenderung over-valued dan lebih siap dengan kas besas jika sewaktu-waktu terjadi market crash di saham.

b. BRK mengurangi kepemilikan saham di US secara agregat dan memegang porsi kepemilikan yang cukup besar di beberapa perusahaan besar di Jepang, yaitu Mitsubishi, Itochu dan Mitsui, hal yang di 2020 tidak disebutkan perihal kepemilikan di perusahaan Jepang tersebut.

Selain itu, terlihat rebalancing kepemilikan saham di US, misalnya kepemilikan AAPL turun dari 5.4% di 2020 menjadi 1.6% di 2025, atau kenaikan kepemilikan di American Express Company dari 18.8% di 2020 menjadi 22.1% di 2025. Dan bahkan beberapa saham tidak disebut lagi di summary misalnya Bank of America dan General Motors (mungkin tidak signifikan nilainya dibanding 2020).

2. Pendapatan (Revenues)

Pendapatan BRK 2025 sebesar USD 371 bn naik dari USD 245 bn tahun 2020, atau CAGR 8.6% per tahun (lebih besar dari CAGR asset 7%). Dan dari komposisi pendapatan BRK 2025 tersebut, mayoritas berasal dari anak usaha operasional (operating companies) USD 348 dibandingkan USD 237 bn di 2020.

Lalu, pendapatan dari dividen saham termasuk coupon T-bills sebesar USD 23.3 bn dengan total yield rata2 gabungan dengan sebesar 3.8% dari 23.3 / (297 equities + 321 T-bills), jauh lebih besar dibandingkan total yield tahun 2020 sebesar USD 8 bn atau 2.2% dari nilai saham nya USD 281 bn dan T-Bills USD 90 bn.

 Dari profil pendapatan BRK 2025 tersebut:

a. CAGR pendapatan lebih besar 8.6% dibandingkan CAGR asset 7% selama 2020 ke 2025 menunjukan hasil dari eksekusi strategi akuisisi asset yang berhasil. Tambahan aset mampu memberikan dorongan yang lebih besar untuk meningkatnya pendapatan Perusahaan keseluruhan.

 b. Dividend Yield (DY) naik signifikan artinya BRK lebih cenderung memegang saham dengan DY relatif lebih tinggi dibanding 2020. Dengan kenaikan nilai saham keseluruhan selama 5 tahun hanya sekitar 5.7% atau USD 16 bn dari USD 281 bn (2020) ke USD 297 bn (2025), serta melihat di tahun 2025 sendiri yang terdapat gain USD 39 bn, BRK jelas mengalihkan sebagian asset dari saham ke posisi kas BRK yang dominan di 2025. Kembali ke premis melihat kondisi market yang over-valued (terutama mungkin di US) sehingga saham dividen lebih aman secara valuasi disertai strategi BRK untuk bersiap terjadi nya koreksi pasar.

c. Estimasi capital gain tahunan dari nilai investasi tahun 2025 sebesar USD 39 bn atau sebesar 15% secara tahunan (nilai akhir equities USD 297 bn, dari nilai awal tahun USD 258 bn). Gain ini lebih kecil dibandingkan tahun 2020 sebesar USD 40 bn atau 18% pada 2020 yang saat itu banyak dipengaruhi koreksi dari Covid-19. 

Gain 2025 tersebut tentu dihitung dari biaya yang dikeluarkan BRK untuk membeli saham tbk dan harga saham tersebut per 31 Desember 2025. Artinya pendapatan gain untuk 2025 adalah khusus perubahan harga saham selama 2025, diluar tahun-tahun sebelumnya.

Meskipun terjadi penurunan dibandingkan 2020, hasil 15% capital gain dalam setahun tentu saja masih sangat impresif. Dengan dana yang di investasikan sebesar itu tentu lebih sulit mendapatkan return tahunan 15% tersebut (relatif lebih mudah mencetak return 20% dari 1 Juta dibandingkan dari 1 Triliun karena konsekuensi resiko yang lebih besar). Plus DY maka secara total kinerja investasi tahun 2025 di pasar sekitar 16.5%. 

 3. Return tahunan nilai saham 

Ini hal yang juga menarik untuk melihat kinerja saham BRK secara jangka panjang dibandingkan dengan kinerja saham dalam S&P 500 (500 saham yang dimasukan dalam kelompok oleh Standard & Poors). Histori dimulai di 1965 hingga 2025, menghasilkan total kenaikan saham BRK sebesar 6.1 juta %, sedangkan S&P 500 sebesar 46.1 ribu %.

Jika dihitung menggunakan CAGR (compounded annual growth of return) atau bunga majemuk (dalam istilah sederhana bunga ber-bunga), capaian CAGR saham BRK sebebar 19.7% per tahun vs S&P 500 sebesar 10.5% per tahun. Bisa juga diartikan kenaikan harga saham BRK rata-rata 19.7% per tahun, hampir 2 kali dari kenaikan harga saham dalam kelompok S&P 500. Meskipun dalam tahun-tahun tertentu, saham BRK tidak selalu 'mengalahkan' S&P 500, namun secara jangka panjang mampu berkinerja diatas market.

Dan jika dibandingkan 2020, CAGR BRK 20% vs S&P 500 sebesar 10.2%, artinya periode 2020 sampai 2025 terjadi penurunan kinerja saham BRK dibandingkan kinerja S&P 500. Meskipun terjadi penurunan kinerja saham BRK periode 2020 ke 2025 (dan masih positif uptrend bukan downtrend), secara perusahaan BRK tetaplah salah 1 wonderful company.

Kinerja tersebut merupakan kombinasi antara capaian operating companies dan market value (dan dividen) dari investasi securities yang dilakukan di pasar dengan baik, termasuk disiplin menjaga komposisi aset likuid untuk selalu bersiap dengan kondisi market yang bisa berubah cepat. Let's get ready!

Financial Summary 2020 vs 2025

BRK 2020

Assets $872bn 

a. Stock investment: 281bn - 32% (65%)

b. Cash equivalents: 150bn - 17% (35%)

c. Others & Operating company: 441-51%


Revenue $285bn

a. Operating Company: 237bn 

b. Dividend & Coupon: 8bn - Yield 2.2% of 281bn + 90bn value

c. Capital gain FY2020: 40bn - 18.1% from 241bn (281-40bn)


BRK 2025

Assets $1222bn 

a. Stock investment: 298bn - 25% Assets (44% liquid Assets)

b. Cash equivalents: 372bn - 30% Assets (56% liquid Assets)

c. Others & Operating company: 552 - 45% Assets


Revenue $371bn

a. Operating Company: 348 bn 

b. Dividend & Coupon: 23.3bn - Yield 3.8% of 298bn + 321bn value

c. Capital gain FY2025: 39bn - 15% from 258bn (297-39bn)

Saturday, January 03, 2026

Kinerja Investasi Saham 2025

Setelah sekian lama dorman dan momen tahun baru 2026, hal yang cukup pas untuk menulis kembali perihal kinerja investasi saham pribadi di BEI. Perhitungan kinerja investasi saham dilakukan dengan metode seperti Reksadana (mulai dari indeks 1000) mengikuti yang dijelaskan di Bolasalju, dimana juga mempertimbangkan multiple account sekuritas.

Perhitungan basis tahun dimulai dari 2021, meskipun saya sudah mulai belajar investasi dan punya akun sekuritas yang pertama di sekitar tahun 2009. Hal itu murni karena sebelumnya belum paham bagaimana menghitung kinerja investasi saham yang ‘relatif tepat’, dengan mempertimbangan dana masuk/keluar, beberapa akun sekuritas dan perhitungan tahun berjalan (YTD: Year-to-Date atau ITD: Inception-to-Date).

Hasilnya seperti pada gambar di bawah, secara keseluruhan:

- IHSG secara tahunan 2025 tumbuh 22.13%, sebuah pencapaian yang bagus meskipun banyak dipengaruhi oleh saham-saham tertentu yang dibuktikan dengan indeks LQ45 yang hanya tumbuh 2.45% saja.

- Sejak 1 Januari 2021 hingga 31 Desember 2025 (5 tahun), IHSG tumbuh secara kumulatif total sebesar 44.62%, sedangkan LQ45 malah turun -9.45%. Secara CAGR atau kumulatif per tahun, selama 5 tahun IHSG menghasilkan kinerja majemuk (CAGR) 7.66% per tahun sedangkan LQ45 malah menghasilkan CAGR -1.97% per tahun.

Alhamdulillah.. dalam periode yang sama, investasi pribadi menghasilkan kinerja total 64.74% atau CAGR 10.50% per tahun. Untuk 2025, investasi pribadi memberikan 28.80%.

Investasi pribadi dibagi dalam 4 akun sekuritas sesuai profil di bawah. Kenapa sampai sebanyak itu? Ide awalnya setiap akun punya tujuan dan cara eksekusi berbeda, meskipun akhirnya tidak selalu konsisten dalam prakteknya 😊

Sehingga bisa disimpulkan bahwa investasi pribadi baik kinerja total, CAGR dan tahunan 2025 lebih tinggi dibandinkan IHSG apalagi LQ45. Meskipun di tahun 2021 dan 2023, kinerja pribadi secara tahunan lebih rendah dibanding IHSG.

Mungkin salah satu pembeda Adalah bahwa kinerja pribadi secara otomatis sudah memperhitungkan dividen yang diterima, sedangkan di IHSG ketika sebuah emiten memberikan dividen maka harga saham nya biasanya turun pada cum-date sesuai dengan nilai dividen per saham nya. Meskipun kemudian harga saham bisa “recovery” atau tetap turun sesuai dengan kinerja emiten itu sendiri.

Terkait dividen, berikut profil dividen yang diterima sepanjang 2025 (lumayan buat ayem-ayem😊).

Secara peningkatan nilai aset, terdapat kenaikan nilai investasi saham dari awal 2021 sampai akhir 2025 (termasuk penambahan/penarikan dana, unrealized loss/profit, dan dividen diterima) sebesar lebih dari 5x lipat. Dimana IHSG sendiri, terjadi kenaikan market cap dari 31 Desember 2020 sebesar Rp 6,586.99 Triliun (IHSG 6,090.70) menjadi sekitar Rp 16,000 T di akhir 2025 (IHSG 8,646.94).

Tentu tantangan selanjutnya untuk menjaga konsistensi kinerja investasi saham selama 5 tahun kebelakang ke nilai investasi yang saat ini sudah lebih besar dibanding 5 tahun lalu untuk terus bertumbuh.

Bismillah.. Semangat! 😊

Saturday, July 24, 2021

Melihat Laporan Keuangan Berkshire 2020

Saya tertarik melihat kembali Laporan Keuangan (LK) Berkshire Hathaway Inc. (BRK) tahun buku 2020, sebuah perusahaan investasi besar di US dengan CEO & Chairman Warren Buffet (WB), yang kekayaan nya diatas USD 100 billion (sebagian besar dalam bentuk valuasi saham BRK). Laporan keuangan 2020 BRK bisa diperoleh dari link berikut: https://berkshirehathaway.com/2020ar/202010-k.pdf.

Dalam tulisan ini, hanya akan melihat 2 bagian summary dalam LK BRK + 1 hal unik yang selalu ada di cover Letter WB. Untuk Letter WB atas kinerja BRK tahun 2020 bisa diperoleh disini: https://berkshirehathaway.com/letters/2020ltr.pdf.   

1. Posisi Aset (Assets)

Dari summary asset di akhir 2020, nilai saham yang dipegang BRK (marketable securities/perusahaan terbuka atau tbk) sebesar USD 281 bn, yang dihitung sesuai harga market 31 Desember 2020. Dengan total asset BRK sebesar USD 873 bn, maka sekitar  32% komposisi asset dalam bentuk equity securities dan cash & equivalents termasuk T-bills sektar USD 150 bn atau 17% dari total asset.  

Diluar equity securities dan cash & equivalents tersebut, artinya lumayan besar porsi direct investment (porsi sekitar 51% asset) di perusahaan yang dibukukan baik dengan metode pembukuan equity-method (BRK termasuk controlling group, meskipun anak perusahaan tersebut tbk) maupun dengan metode consolidated (aset & liabilitas anak usaha dimasukan ke dalam buku LK Berkshire) dimana BRK sebagai controlling group (pemegang saham yang bisa mengendalikan perusahaan) dan anak-anak usaha non-tbk. 

Ada 2 poin yang menarik dari posisi aset tersebut:

- Kalau hanya membandingkan total asset equity securities (saham perusahaan tbk) dan cash equivalents saja maka komposisi nya menjadi 65% vs 35%. Artinya komposisi tersebut masuk dalam range komposisi Portfolio Saham dan Kas yang disarankan Benjamin Graham antara 25-75% (Ref: The Intelligent Investors). Graham sendiri adalah panutan dan mentor WB. 

-  BRK sebagai perusahaan holding investasi, ternyata porsi asset securities & cash nya 'hanya' 51%, dan 49% nya adalah dari operating companies sebagai anak usaha nya. Jadi, terdapat manajemen resiko yang historically proven di BRK terutama saat menghadapi kemungkinan market crash di pasar saham. 


2. Pendapatan (Revenues)

Yang juga menarik adalah komposisi pendapatan BRK 2020, dimana mayoritas berasal dari anak usaha operasional (operating companies) USD 237 bn. Lalu, pendapatan dari dividen saham sebesar USD 8 bn atau dividend yield (tingkat dividen, nilai dividen dibagi harga saham) sekitar 3% dari nilai saham nya (USD 281 bn). Sedangkan estimasi capital gain dari nilai investasi USD 40 bn. 


Seperti yang dijelaskan di Letter WB, gain dihitung dari biaya yang dikeluarkan BRK untuk membeli saham tbk dan harga saham tersebut per 31 Desember 2020. Tentunya pendapatan gain untuk 2020 adalah khusus perubahan harga saham selama 2020, diluar tahun-tahun sebelumnya. 

Terdapat 2 poin juga yang bisa diambil dari profil pendapatan BRK 2020 tersebut:

- Dividend Yield (DY) 'wajar' secara tahunan dari saham di pasar adalah 3%, ini bisa menjadi kriteria yang digunakan jika ingin menjadikan histori DY sebagai salah 1 pertimbangan memilih saham. Meskipun secara histori, harga saham naik turun sehingga dimungkinkan juga penyesuaian hingga misal 2% atau bahkan 1% tergantung jenis industri.  

-  Estimasi kenaikan nilai saham (capital gain securities) untuk tahun 2020 sebesar USD 40 bn, artinya secara persentase adalah 40 / (281 - 40) = 18.1%. Hasil ini tentu saja sangat impresif dalam setahun capital gain, dengan dana yang di investasikan sebesar itu tentu lebih sulit mendapatkan return tahunan 18.1% tersebut (relatif lebih mudah mencetak return 20% dari 1 Juta dibandingkan dari 1 Triliun karena konsekuensi resiko yang lebih besar). Plus DY maka secara total kinerja investasi tahun 2020 di pasar sekitar 21%. 

3. Return tahunan nilai saham 

Ini hal yang menarik untuk melihat kinerja saham BRK dibandingkan dengan kinerja saham  dalam S&P 500 (500 saham yang dimasukan dalam kelompok oleh Standard & Poors). Histori dimulai di 1965 hingga 2020, menghasilkan total kenaikan saham BRK sebesar 2.8 juta % (iya, diatas 2 juta persen!), dibandingkan S&P 500 sebesar 23.4 ribu %.    


Jika dihitung menggunakan CAGR (compounded annual growth of return) atau bunga majemuk (dalam istilah sederhana bunga ber-bunga), capaian CAGR saham BRK sebebar 20% per tahun vs S&P 500 sebesar 10.2% per tahun. Bisa juga diartikan kenaikan harga saham BRK rata-rata 20% per tahun, sekitar 2 kali dari kenaikan harga saham dalam kelompok S&P 500. Meskipun dalam tahun-tahun terteentu, saham BRK tidak selalu 'mengalahkan' S&P 500, namun secara jangka panjang mampu berkinerja diatas market. 

Jadi, investors yang membeli saham BRK sehingga terdapat kenaikan harga saham BRK di pasar tentu melihat kinerja perusahaan BRK. Dan berbicara tentang kesatuan perusahaan BRK, kinerja tersebut merupakan kombinasi antara capaian operating companies dan market value (termasuk dividen) dari investasi securities yang dilakukan di pasar dengan baik. Sebuah contoh yang sangat baik!  

Sunday, February 07, 2021

Melihat Hasil Investasi Alternatif Sektor Riil

Keterlibatan investasi pribadi ke sektor riil dimulai dari 2012 dengan membangun kandang pembesaran ayam petelur, namun sampai tahun 2015 belum ada keterlibatan pihak lain (investor) dalam usaha tersebut. Baru kemudian di tahun 2016 (sepulang dari UK) dan karena mendapat amanah sebagai salah satu pendamping di sebuah perusahaan investasi skala kecil menengah, maka keterlibatan dengan dunia investasi semakin banyak serta tentu mulai berinteraksi dan membuka diri dengan para investor.   

Keterlibatan investor dimulai dengan teman-teman sendiri (ring-1), terutama teman kantor dan kampus. Alhamdulillah, tidak terasa sudah 4+ tahun sejak pertengahan 2016 hingga akhir 2020, keterlibatan para investor baik di usaha sendiri maupun di usaha teman-teman juga semakin meningkat. Maka selain berusaha menjadi investment manager yang mengajak dan mengelola investasi dari teman-teman, saya pribadi juga sebagai investor, serta pemilik usaha kecil sendiri (dan juga masih karyawan hehe).

Dari sekian investasi yang saya kelola, terdapat seorang investor yang saya jadikan profile bagaimana hasil dari investasi proyek-proyek di sektor riil dalam portfolio 4 tahun terakhir di bermacam bidang usaha, seperti pertanian, peternakan, konveksi, trading, dan properti. Proyek disini adalah modal kerja yang berjangka waktu tertentu, bukan kepemilikan saham atas perusahaan. Grafik berikut menggambarkan hal tersebut, dimana;

- Invest-out: Dana keluar dari investor untuk masuk dalam investasi proyek

- CF-in: Dana masuk yang diterima investor, baik pengembalian modal ataupun bagi hasil (ujroh)

- Net-CF: Selisih antara Invest-out dan CF-in

- Cum: Kumulatif Net-CF dari tahun sebelumnya

- NAV bef Margin: Net Asset Value (pokok/modal investasi) sebelum potensi marjin (bagi hasil) yang akan diterima mendatang    

Dari grafik profil diatas, CAGR (compounded annual growth rate, kumulatif pertumbuhan tahunan) dalam 4 tahun mencapai 11.2%, yakni dengan menghitung NAV (864) atad Cum CF (565). Artinya secara modal (buku), investor tersebut masih tercatat memiliki investasi sebesar 864 Juta, namun sebenarnya secara riil cash tinggal sisa 565 Juta karena ada pokok dan marjin (bagi hasil) yang sudah diperoleh. 

Jika katakanlah semua investasi bisa dicairkan di 1 Januari 2021, maka investor akan mendapatkan hak nya sebesar 864 Juta. Tentu kenyataan nya tidak mungkin bisa dicairkan karena masing-masing mempunyai perjanjian investasi dengan durasi yang belum jatuh tempo di 1 Januari 2021.  

Lalu apa artinya CAGR 4 tahun sebesar 11.2%? Artinya secara rata-rata portfolio investasi ke proyek-proyek usaha sektor riil menghasilkan ROI rata-rata 11.2% per tahun selama 4 tahun tersebut secara compounding (100 menjadi 111 di tahun ke-1, lalu menjadi 123 tahun ke-2 dst). Kelihatan tidak sangat besar, tapi lihatlah efek dalam 4 tahun membuat nilai 864 Juta sudah menghasilkan sekitar 300 juta, sehingga hanya menyisakan dana keluar net 565 Juta. Bisa dibalik, 565 Juta menjadi 864 Juta dalam 4 tahun. 

Namanya rata-rata, ada proyek yang ROI tahunan diatas 11.2%, dan ada pula proyek dengan ROI tahunan di bawah 11.2%. Itulah yang dinamakan diversifikasi, untuk mengurangi resiko dengan tidak menempaktkan semua investasi ke 1 jenis investasi (proyek) saja. 

Namun secara perbandingan, nilai CAGR 11.2% sangatlah tidak buruk dibandingkan kinerja CAGR IHSG dalam  20 tahun seperti dalam tabel di bawah. Sekali lagi CAGR adalah rata-rata, tentu ada return nilai saham-saham diatas rata-rata dan ada di bawahnya. Malah jika dilihat hanya 2 tahun (2018 ke 2020), IHSG menghasilkan negative return sekitar 10%, atau CAGR -4.8% dalam 2 tahun, dan yang paling besar CAGR IHSG periode tahun 2000 hingga Feb 2018 dengan CAGR 18.6%. Namun, siapa yang bisa dengan pasti menebak arah market IHSG?  


Selain itu, terdapat perbandingan nilai beberapa instrumen investasi yang dilihat dari IHSG, emas dan nilai dolar terhadap rupiah. Untuk yang konservatif (defensif) dalam investasi, mempunyai emas adalah pilihan yang safe heaven (sangat aman). Namun, sebenarnya tidak ada yang pasti bisa menebak harga emas di masa mendatang. Nilai emas akan cenderung naik sebagai penjaga nilai atas inflasi, atau bisa naik signifikan jika ada ketidakpastian atas kondisi ekonomi negara (dunia). 

Dengan monitoring dan kontrol investasi di usaha sektor riil ada di tangan para investor (dan investment manager terpercaya), maka secara kinerja investasi di sektor usaha riil sebenarnya cukup bersaing dibandingkan kinerja IHSG dan emas. Yang juga penting, bisa kontribusi langsung menggerakan ekonomi secara riil melalui usaha-usaha yang bisa berdampak ke ESG (Environment Social Governance). Plus pastinya ikut membantu usaha teman-teman sendiri yang sebagian besar skala kecil ke menengah untuk bisa perlahan naik kelas. 

Tantangan nya adalah mendapatkan seorang (lembaga) investment manager terpercaya yang secara amanah dan profesional mengelola (mengarahkan) dana para investor. Welcome on board! :)         

Monday, October 12, 2020

Grafik Indeks Saham (JKSE-IDX), Harga Minyak (CF) dan Emas (GF)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG): Jakarta Stock Exchange (JKSE) - Indonesia Stock Exchange (IDX), indeks perdagangan saham dalam Rupiah (IDR)

Harga Minyak (Oil Price): Crude Oil Nov 20 (CL=F), dalam USD/barrel (1 barrel = 159 Liter)

Harga Emas (Gold Price): Gold Dec 20 (GC=F), dalam USD/oz (1 oz = 28.35 gram)

Ref: Yahoo Finance, Start 7 June 2015 - 9 October 2020

---

Bagaimana kesan anda setelah melihat grafik diatas? Dalam kurang lebih 5 tahun terakhir, nilai emas lebih kuat dibandingkan IHSG ataupun harga minyak.   

Yang paling parah adalah harga minyak, di tengah kondisi over supply harga akan cenderung tertekan dalam beberapa tahun mendatang. Ditambah sentimen dan kebijakan terkait renewable energy yang terus meningkat. Hal ini berdampak langsung dengan harga-harga saham perusahaan hulu migas karena turun nya kinerja secara signifikan di 2020 ini sebagai dampak penurunan demand akibat pandemi Covid-19. 

IHSG sendiri cenderung 'sama' dari 5 tahun sebelumnya. Memang akan selalu ada saham yang outperformed (diatas rata-rata) dari kenaikan harga saham diatas IHSG. Namun juga ada saham-saham yang underperformed, dari penurunan harga saham dibawah IHSG. Kalau anda membeli Reksadana Saham atau Reksadana Indeks, kemungkinan tidak akan kemana-manaa nilai reksadana anda selama 5 tahun terakhir. Atau kemungkinan malah turun dana di reksadana anda karena adanya biaya manajer investasi. 

Lalu harga emas, dari grafik 5 tahun, atau kalau ditarik 10 tahun tetap emas akan selalu konsisten naik (naik = kondisi akhir periode dibanding kondisi awalnya). Jadi apa sebaiknya memindahkan semua investasi aset ke emas? 

--- UPDATED January 2021 ---

Mari kita lihat grafik yang sama untuk lebih 1 dekade, mulai 1 Januari 2010 sampai 31 Desember 2020 seperti di bawah. Ref: Yahoo Finance

Ternyata: menyimpan emas dalam bentuk Rupiah selain dipengaruhi oleh harga emas yang meningkat secara dolar, juga dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar yang menurun selama 11 tahun ini. Dengan demikian, kinerja haga emas dalam rupiah meningkat sekitar 130% (70% + 50%), hampir mirip dengan IHSG sebesar 135%. 

Bedanya, tentu saja IHSG adalah indeks rata-rata, artinya ada saham-saham yang outperformed dan ada saham-saham yang underperformed.  Nah.. merupakan efforts sendiri juga untuk mencari dan menemukan saham-saham yang outperformed tersebut, dan memang ada banyak saham yang kinerja nya jauh diatas dari 135% tersebut. Sedangkan dengan emas, anda tinggal beli dan disimpan dengan aman. 

Jadi, ada baiknya melakukan diversifikasi aset investasi ke beberapa instrumen termasuk emas. :)

Sunday, April 05, 2020

Pertimbangan memilih Platform Investasi

Platform yang menawarkan channel  (saluran) untuk berinvestasi ke real projects dari pelaku usaha (biasa platform menyebut mitra) cukup banyak di Indonesia. Sektor nya juga sudah beragam, diantaranya jasa, manufaktur, perdagangan atau pertanian. Bahkan terdapat platform yang menawarkan investasi kepemilikan usaha secara jangka panjang, atau yang tidak bersifat proyek (ada jangka waktu).

Pertimbangan apa saja yang perlu investor lakukan untuk memilih platform investasi? Diantara beberapa poin yang bisa dilihat sebagai berikut;

1. Menjalankan fungsi pendampingan mitra, tidak hanya menjalankan fungsi intermediasi antara investor dan mitra. Hal ini karena beberapa platform fokus sebagai intermediator (perantara) dalam menyalurkan investasi dari investor ke mitra usaha. Proses bisnis inti investasi adalah mencetak profit (sehingga bisa dibagikan ke investor) dan itu adanya di mitra usaha, bukan di platform. Platform 'hanya' sebagai enabler (pemacu) awal, bukan proses mencetak profit. Sehingga proses pendampingan mitra untuk memastikan usaha berada di jalur tepat menjadi penting.

Bagaimana melihat platform melakukan pendampingan? Bukan dari campaign yang diklaim, tapi sederhana nya dari laporan usaha yang dikirimkan secara rutin dari mitra ke platform yang diteruskan ke para investor. Dengan laporan menunjukan proses bisnis platform berjalan setelah tahap investasi dengan melakukan monitoring atas kondisi usaha. Dengan laporan pula potensi kondisi yang tidak diinginkan (misal usaha tidak berjalan sesuai rencana) bisa diidentifikasi lebih awal untuk dilakukan mitigasi. Bukan hanya laporan akhir di periode investasi yang investor kemudian baru tahu kondisi usaha dan akhirnya realised ROI nya (yang biasanya cenderung di bawah expected ROI). 

Apakah ada platform yang tidak rutin mengirimkan laporan kepada investor? Cukup banyak. Diantara alasan karena jumlah mitra yang sangat (terlalu) banyak sehingga handling management cost menjadi cukup tinggi. Jika untuk laporan saja tidak bisa dikirimkan, bagaimana investor bisa menaruh kepercayaan lebih kepada platform tersebut untuk menjalankan misi investasi nya? 

2. Fokus dalam fungsi di sektor atau bidang tertentu. Sektor atau bidang usaha tertentu menjadi penting karena setiap bidang sektor mempunyai karakteristik berbeda. Meskipun dalam satu sektor seringkali mempunyai sub-sektor turunan yang terus berkembang, fokus ke sektor tertentu membantu platform mengelola fungsi pengembangan dan operasional platform termasuk pendampingan usaha yang menjadi ujung tombaknya. 

Namun, kebutuhan menjalankan operasional dan pengembangan platform investasi cukup besar. Dengan kebutuhan dana yang cukup besar, tidak heran jika platform harus mengejar dana kelola untuk semakin besar dengan menggaet mitra usaha sebanyaknya. Berbagai jenis usaha (meskipun masih ada sektor keterkaitan) yang dikelola oleh pihak berbeda ditampilkan dalam platform.

Sebenarnya, sepanjang tim manajemen platform bisa mengelola beragam usaha dan pihak mitra tersebut, beragam jenis usaha tidak menjadi isu. Namun biasanya, aktivitas yang seharusnya lebih fokus dijalankan yakni pendamping mitra menjadi terabaikan. Memang hal tersebut menjadi tantangan banyak platform yang beroperasi saat ini, dan beberapa platform akhirnya tidak bisa bertahan mengelola tantangan tersebut.   

3. Izin dari otoritas (OJK). Izin seringkali menjadi alasan utama seorang investor menginvestasikan dana-nya di platform investasi. Namun, adanya izin otoritas secara alami tidak menjamin bebas resiko investasi di platform tersebut. Secara prinsip, izin bisa dikatakan mengurangi resiko dalam hal ketika terjadi hal diluar rencana usaha karena faktor kelalaian pengelola (platform atau mitra), pelaporan bisa dilakukan ke otoritas tersebut untuk ditindaklanjuti.

Sekali lagi, setiap investasi mempunyai resiko investasi masing-masing. Dan ketika ada kondisi ketidaksesuaian investasi karena pengaruh resiko usaha itu sendiri, pihak otoritas lebih sebagai penengah para pihak yang mungkin bersengketa, bukan sebagai penjamin atas investasi tersebut. Oleh karena itu, hal utama selain perizinan sebenarnya adalah fokus ke tujuan investasi sesuai kebutuhan dari investor.

4. Memenuhi tujuan investasi dari investor. Misalnya tujuan utama investasi seperti dalam bahasan sebelumnya untuk mendapatkan ROI diatas 12% pa dan CAGR diatas 12% dalam jangka panjang. Artinya, platform investasi sebagai 'investment manager' harus membantu investor untuk memenuhi tujuan tersebut.  Sebuah platform harus menyediakan beragam jenis investasi usaha dan durasi pencairan hasil investasi, serta resiko usaha yang terkelola. Prinsip usaha yang muncul haruslah yang jelas dan terpercaya (trusted), penuh pengalaman (experience), memenuhi kebutuhan (fit-in), mampu menghasilkan (worthy), dan untuk bisa berdampak ke komunitas(impactful).

5. Fungsional engine platform. Secara ideal, platform investasi bisa menjadi semacam Manajer Investasi (Investment Manager) bagi para investor. Dana yang ditambahkan secara periodik, hasil investasi dan dana yang diambil dengan menggunakan akun investor bisa dilihat dan dianalisa bagaimana kinerja investasi baik secara ROI ataupun CAGR untuk mendapatkan tujuan investasi.

Namun demikian, membangun platform dilakukan dalam waktu cukup lama dan tidak sedikit dana yang harus dikeluarkan. Oleh karena itu, proses pembangunan sebuah sistem platform dilakukan bertahap sesuai prioritas dan pastinya ketersediaan dana. Engine meskipun sangat mendasar dan dibutuhkan dalam proses intermediasi, bagaimanapun adalah alat (tool) untuk membantu pencapaian utama dalam mendukung pelaku usaha. Jangan sampai, seperti disebut sebelumnya, fungsi pendampingan mitra dan fokus bisnis menjadi berkurang.

Dengan kondisi demikian, kondisi ideal mungkin tidak akan dicapai dalam waktu singkat. Selama fungsi-fungsi dasar platform untuk melakukan investasi dan monitoring termasuk kebutuhan mobile apps, maka fungsi awal platform sudah mencukupi. Dari sisi yang lain, dibutuhkan dukungan dari investor untuk tetap berinvestasi di sebuah platform yang mempunyai misi memenuhi kebutuhan investor dan pelaku usaha (mitra) sehingga pengembangan platform menuju ideal terus berjalan.

Mengapa tidak ada aspek aman dalam lima pertimbangan diatas?

Secara empiris, manusia umunya lebih dominan takut akan hilangnya investasi dibandingkan hasil investasi yang didapatkan. Oleh karena itu, mengoptimalkan pencapaian ROI di tengah tantangan resiko usaha harus bisa dijalankan sebuah platform melalui proses bisnis nya.  Pada dasarnya aman adalah perasaan yang ditimbulkan ketika hal-hal lain yang menyebabkan timbulnya ketakutan bisa dijawab atau dikelola.

Dengan pertimbangan dan prinsip usaha diatas, rasa aman akan muncul dengan sendiri nya. Dan seiring waktu berjalan dengan pembuktian kinerja usaha untuk mencetak hasil investasi (realised ROI), rasa aman akan semakin kuat. Dan begitu pula sebaliknya. Sehingga, lima pertimbangan dan lima prinsip usaha diatas sangat layak untuk diterapkan untuk mulai membangun pondasi rasa aman dari awal investasi. 

Terakhir, menentukan misi investasi sebagai investor adalah penting, dan investasi bukan hanya tentang ROI (Return on Investment) dan CAGR (Compounded Annual Growth Rate). Investasi (hidup) juga tentang kontribusi menuju manfaat keseluruhan yang lebih besar (impactful) sehingga terdapat nilai ekstra dari 'sekedar' nilai ROI dan CAGR yang didapat. Dan sebuah platform sudah seyogyanya akan membantu anda menjalankan misi investasi tersebut.

Selamat memilih platform investasi anda!


---
Tulisan 1: The power of compounding ROI
Tulisan 2: Mendapatkan CAGR diatas 12% per tahun
Tulisan 3: Memilih Investasi Proyek ROI diatas 12% per tahun
Tulisan 4: Platform Investasi untuk membangun CAGR
Tulisan 5: Pertimbangan memilih Platform Investasi

Saturday, April 04, 2020

Platform Investasi untuk membangun CAGR

CAGR (Compounded Annual Growth Rate) 12% secara compounding (berlipat) dalam waktu 10 tahun mampu menghasilkan 100 nilai investasi di tahun ke-0 menjadi lebih dari 300 di tahun ke-10. Investasi dalam real projects dalam bidang menyangkut hajat hidup orang banyak seperti dalam sektor farming berpotensi besar bisa konsisten menghasilkan ROI (Return on Investment) 12% pa (per tahun). Sehingga, investasi bisa digerakan untuk mendorong produksi pangan secara lokal yang bertujuan besar mencapai kemandirian pangan ke depan.

Dari sisi investor, CAGR setara atau diatas 12% dalam jangka panjang akan memberikan keuntungan ganda, memberikan ROI per tahun yang cenderung konsisten dengan nilai kumulatif yang lebih terjaga dalam jangka panjang. Investasi di real projects di sektor farming juga berkontribusi langsung kepada para petani/peternak dalam pemenuhan pangan lokal.

Secara resiko investasi, usaha farming umumnya mempunyai tingkat resiko menengah tinggi karena terkait dengan makhluk hidup yang bisa terkena penyakit atau kematian. Diantara untuk menurunkan resiko, faktor pengalaman jam terbang petani/peternak menjadi kunci. Modern farming yang menggunakan kombinasi pendekatan praktis (teknologi), manajemen dan keuangan sehingga mampu mengelola resiko secara optimal. Pengalaman track record  usaha dalam menghasilkan arus kas usaha yang kuat (tidak hanya bergantung ke satu sumber arus kas secara periodik) menjadi faktor lain untuk menurunkan resiko usaha farming sehingga bisa menjadi tingkat resiko menengah-bawah.

Dengan berbagai kebutuhan investor diatas, maka sebuah platform investasi bidang farming diperlukan untuk membantu para investors menjalankan misi investasi nya, yaitu dengan beberapa prinsip utama: terpercaya (trusted), pengalaman (experience), sesuai kebutuhan (fit-in), menghasilkan (worthy), dan berdampak (impactful).

Farmigo
Tujuan utama untuk mendapatkan CAGR diatas 12% secara jangka panjang bisa dimonitor dengan adanya platform investasi tersebut. Dana yang ditambahkan secara periodik, hasil investasi dan dana yang diambil dengan menggunakan akun investor bisa dilihat dan dianalisa bagaimana kinerja investasi baik secara ROI ataupun CAGR. Sehingga, sebuah platform investasi bisa menjadi semacam Manajer Investasi (Investment Manager) bagi para investor.

Dengan demikian, teknologi keuangan (financial technology) berperan ganda untuk menjalankan fungsi nya menjadi jembatan antara kebutuhan investor akan keamanan dan hasil investasi nya serta kebutuhan pelaku usaha (petani/peternak) untuk mendapatkan dukungan langsung dari pemberi dana non-bank.

Ke depan, penggunaan platform keuangan juga bisa didorong untuk memenuhi kebutuhan pelaku usaha dalam membantu menjalankan usaha nya secara lebih optimal. Peran penggunaan data operasi dan keuangan pelaku usaha menjadi meningkat sehingga semakin memudahkan analisa untuk pengembangaan usaha yang bisa didukung oleh para investor melalui platform tersebut. Lebih jauh lagi, sebuah platform juga bisa didorong dalam kerangka financial services baik dari sisi investor maupun pelaku usaha.

Berikutnya. dengan semakin banyak platform investasi bidang farming yang menawarkan beberapa fungsi diatas, bagaimana cara praktis memilih platform investasi yang akan digunakan? 

---
Tulisan 1: The power of compounding ROI
Tulisan 2: Mendapatkan CAGR diatas 12% per tahun
Tulisan 3: Memilih Investasi Proyek ROI diatas 12% per tahun
Tulisan 4: Platform Investasi untuk membangun CAGR
Tulisan 5: Pertimbangan memilih Platform Investasi

Sunday, March 29, 2020

Memilih Investasi Proyek ROI diatas 12% per tahun

Dua tulisan sebelumnya sudah menjelaskan bagaimana kekuatan compounding ROI  (Return on Investment) dan strategi penerapannya untuk mendapatkan CAGR (Compounded Annual Growth Ratesecara konsisten dalam jangka waktu yang cukup lama. Pendekatan tersebut sebenarnya bisa diterapkan untuk berbagai macam jenis investasi mulai obligasi, saham, tanah/properti, emas, dan usaha. 

Karakter investasi yang paling cocok untuk penerapan strategi compounding ROI tersebut adalah yang bisa menghasilkan imbal hasil secara rutin dengan ROI yang cenderung konsisten. Kemudian, pertimbangan apa saja yang bisa digunakan untuk memilih investasi usaha (proyek) dengan expected ROI diatas 12% pa. Sekarang mari kita lihat sekilas setiap pilihan investasi diatas. 

Saham belum tentu menghasilkan dividen rutin, dan dengan rentang expected ROI yang tinggi antara profit atau loss sehingga mempunyai resiko perubahan ROI tinggi. Tanah/properti, imbal hasil dan ROI cenderung tidak konsisten dan reguler, meskipun dengan berpotensi mencapatkan realised ROI tinggi ketika asset dijual. 

Untuk emas cenderung sebagai lindung nilai, tidak mampu memberikan imbal hasil rutin. Sedangkan obligasi dengan resiko cukup rendah (SUN/SR dikeluarkan negara: free-risk) mempunyai imbal hasil dan ROI rutin serta konsisten, namun realised ROI rendah menyesuaikan resiko investasi yang rendah juga. 


Investasi usaha berpotensi mendapatkan imbal hasil secara rutin dan ROI secara konsisten, sehingga sesuai untuk penerapan strategi compounding ROI untuk mendapatkaan konsisten CAGR dalam jangka panjang. Secara resiko, setiap usaha pasti mempunyai resiko dan tugas seorang investor dan sistem yaang membantu untuk menganalisis serta memantau usaha tersebut.     

Pertanyaannya, apakah secara nyata model investasi usaha dengan karakter sesuai strategi tersebut ada dan aman? 


Banyak platform investasi sekarang menawarkan model investasi usaha (proyek) dengan karakter imbal hasil rutin (kuartal. semester atau tahun) dan rentang expected ROI yang konsisten selama periode investasi. Jenis usaha bermacam-macam mulai dari jasa, manufaktur, perdagangan atau pertanian. 


Sayangnya, investasi usaha di bidang pertanian termasuk diantaranya peternakan, perkebunan dan perikanan seringkali dihindari para investor karena menghadapi resiko kematian hewan/tanaman. Namun secara resiko makro ekonomi, usaha pertanian adalah usaha yang dibutuhkan sepanjang waktu karena terkait pemenuhan hajat hidup orang banyak. 

Tantangan untuk mendorong para investor terjun di usaha pertanian adalah memberikan pilihan investasi pertanian yang aman dengan resiko yang terkendali. Dengan semakin banyak skema investasi usaha pertanian yang ditawarkan, beberapa hal penting berikut layak untuk menjadi pertimbangan untuk memilih investasi usaha (proyek) dengan expected ROI diatas 12% pa.  

1. Terpercaya; jelas profil usaha dan pengusaha (petani) nya, termasuk rencana penggunaan dana dari investor untuk menjalankan usaha, manajemen resiko usaha serta transparansi laporan. 

2. Pengalaman; selama bertahun-tahun harus terbukti menjalani usaha tersebut secara nyata, baru kemudian mengundang para investor untuk  bergabung mengembangkan usaha. 

3. Sesuai kebutuhan; bisa memenuhi kebutuhan investasi dalam jangka pendek, menengah atau panjang. Dalam hal ini, mampu memberikan imbal hasil secara rutin setiap 3-6 bulan. 

4. Menghasilkan; usaha harus mempunyai arus kas operasi (sumber pandapatan) yang kuat, untuk mampu membiayai usaha dan membayar imbal hasil kepada investor sesuai expected ROI.  

5. Berdampak; manusia sebagai mahluk sosial, maka investasi juga mampu memberi dampak sosial-ekonomi masyarakat sekitar usaha mulai dari lapangan kerja hingga pemenuhan kebutuhan lokal. 

Adanya beberapa platform investasi bidang pertanian seperti yang dijalankan oleh Farmigo, bisa membantu para investor memilih berbagai jenis investasi usaha pertanian dengan pertimbangaan diatas. Dimana, tujuan investasi untuk bisa menghasilkan imbal hasil secara rutin dengan ROI diatas 12% pa, ditambah  dengan strategi compounding ROI sehingga bisa menghasilkan CAGR diatas 12% dalam jangka waktu yang cukup lama.

Melanjutkan dari simulasi compounding ROI dari berbagai proyek di tulisan sebelumnya, jika durasi investasi ditambah menjadi 4 tahun, maka didapatkan hasil sebagaimaana tabel berikut. 


Hasilnya tetap konsisten untuk bisa memberikan CAGR diatas 12%, dan dengan porsi hasil usaha yang belum di-investasi-kan lebih besar dibanding periode 3 tahun, yaitu 65.15 (16.3% dari 400), dimana secara total investasi menghasilkan 208.1 atau ROI 52% selama 4 tahun. Jika pola diteruskan hingga tahun ke-10 dengan expected ROI 12% pa, maka target meningkatkan nilai investasi 3x (investasi 100 menjadi 300) bisa tercapai dengan CAGR konsisten diatas 12%. 

Berikutnya, apakah pola investasi diatas memungkinkan dijalankan tanpa adanya bantuan sebuah mesin platform investasi? 

---
Tulisan 1: The power of compounding ROI
Tulisan 2: Mendapatkan CAGR diatas 12% per tahun
Tulisan 3: Memilih Investasi Proyek ROI diatas 12% per tahun
Tulisan 4: Platform Investasi untuk membangun CAGR
Tulisan 5: Pertimbangan memilih Platform Investasi

Mendapatkan CAGR diatas 12% per tahun

Dalam tulisan the power of compounding ROI (Return on Investment) disebutkan cara memanfaatkan compounding ROI adalah dengan menggunakan realisasi ROI untuk investasi kembali. Sehingga ROI tersebut akan berulang kembali atau menggulung (rolling) secara terus menerus. Dengan demikian, harapannya CAGR (Compounded Annual Growth Rate) akan terbentuk secara konsisten dalam jangka waktu yang cukup lama.

Jadi bagaimana strategi investasi yang bisa dilakukan mendapatkan CAGR konsisten 12-15% pa selama periode yang cukup panjang misalnya 10 tahun.


Pertama, mari kita lihat kembali tabel compounding ROI berbagai tingkat ROI.  Kemudian khusus untuk ROI 12% dan 15% sebagai simulasi, durasi compounding nya dibedakan menjadi 2, yaitu ada yang compounding setiap tahun, dan ada yang compounding setiap enam bulan (0.5 tahun) sekali seperti di bawah (klik untuk memperbesar).


Dari tabel diatas kita bisa lihat bahwa jenis investasi dengan tipe compounding kurang dari 1 tahun sekali memberikan nilai expected ROI lebih besar secara jangka panjang dibandingkan jenis investasi yang mempunyai tipe compounding dalam per tahun. Artinya, investor yang mendapatkan hasil investasi lebih sering dan kemudian diinvestasikan kembali dengan expected ROI yang sama, mempunyai peluang mendapatkan realised ROI total lebih baik dibanding investor yang hanya mendapat hasil investasi setiap tahun meski dengan expected ROI yang sama. 

Sekarang dengan skala yang lebih pendek yakni 3 tahun, dan dilakukan perbandingan compunding antara setiap tahun dan setiap 3 bulan (kuartal) sekali. Dan hasilnya seperti dalam tabel di bawah, meski durasi hanya 3 tahun, compounding per kuartal memberikan ROI yang lebih baik dibanding compounding per tahun.     


Lalu bagaimana menjalankan pola men-investasi-kan kembali hasil investasi setidaknya dengan expected ROI yang sama untuk mendapatkan realised ROI yang lebih baik?

Dalam durasi 3 tahun, akan dilakukan investasi setiap kuartal ke 9 proyek yang mempunyai karakter pembayaran bagi hasil 3-6 bulan sekali. Total investasi 400 dimana 2 tahun pertama adalah periode investasi dengan asumsi expected ROI 12% pa. Semua hasil investasi di 2 tahun pertama tersebut akan di-investasi-kan kembali dengan expected ROI sama 12% pa. Dengan demikian, 388 dibutuhkan di tahun pertama dan 12 di tahun kedua untuk memenuhi dana investasi 400 sebagai budget. Simulasinya bisa dilihat dalam tabel di bawah.   


Hasilnya dengan hanya menggunakan durasi 3 tahun sebagai cut-off period;
1. Total expected return sebesar 140.8 atau ROI 35.2% atas total investasi 400.

2. Durasi investasi secara tertimbang (weighted average) sekitar 2.6 tahun, karena ada investasi dilakukan selama 9 kuartal atau 2 tahun pertama dengan bobot berbeda setiap kuartal nya.

3. CAGR dalam 3 tahun tersebut diatas 12%.

4. Dari 140.8 return tersebut, sebanyak 57.9 (14.5%) tidak di-investasi-kan kembali yaitu hasil investasi:
- tahun ke-2.25: 6.61 (1.7% dari 400)
- tahun ke-2.5  : 22.36 (5.6% dari 400)
- tahun ke-2.75: 6.61 (1.7%)
- tahun ke-3     : 22.36 (5.6%)

5. Jika hasil 57.9 tersebut di-investasi-kan kembali, maka expected ROI dan CAGR akan meningkat meskipun dengan durasi investasi keseluruhan yang bertambah.

6. Jika sebagian hasil 57.9 tersebut sebagian dinikmati sebagai hasil usaha (misal 1-3% dari total saldo dana per tahun secara rutin), dan sisanya di-investasi-kan kembali dengan expected ROI yang sama, maka expected ROI dan CAGR tetap bisa diatas 12% dengan tambahan durasi investasi keseluruhan. Apalagi dengan expected ROI investasi baru diatas 12%.

Dengan pola investasi yang seperti ini, dari simulasi diatas menunjukan bahwa mendapatkan CAGR secara konsisten diatas 12% dalam jangka panjang bisa dilakukan melalui investasi dengan expected ROI 12% yang membagikan imbal hasil setiap 3-6 bulan. Selain itu, investor juga bisa mendapatkan hasil usaha layaknya dividen atas saham perusahaan secara reguler setiap tahun. Kuncinya adalah disiplin dalam mengatur dan memantau investasi tersebut, setelah yang utama secara selektif memilih usaha (proyek) sebagai tujuan investasi.

Selanjutnya, apakah secara nyata model investasi dengan karakter sesuai simulasi tersebut ada dan aman? Tulisan berikutnya akan membahas hal tersebut, sekaligus mendiskusikan pertimbangan apa saja yang bisa digunakan untuk memilih investasi usaha (proyek) yang mempunyai expected ROI diatas 12% pa.

---
Tulisan 1: The power of compounding ROI
Tulisan 2: Mendapatkan CAGR diatas 12% per tahun
Tulisan 3: Memilih Investasi Proyek ROI diatas 12% per tahun
Tulisan 4: Platform Investasi untuk membangun CAGR
Tulisan 5: Pertimbangan memilih Platform Investasi