Showing posts with label Job. Show all posts
Showing posts with label Job. Show all posts

Thursday, December 19, 2024

19. Jurnal Paper (2024): Incorporating Modularity Approach during Planning Stage for Greenfield Gas Development

Greenfield project is viewed of having less technical complexity compared to brownfield one. In gas development project, greenfield is yet heavily influenced by other complexities such as hydrocarbon evacuation and commercial arrangement. Unlike oil projects, a gas project would never be sanctioned if there is no clarity in the arrangement of sales and its commerciality.

Furthermore, for certain projects which have limited economics, the development concept will play a significant role in determining project feasibility. Some scenarios of cost deployment may be involved such as staging development and buy or rent option. The keys are to optimize project schedule and project cost to meet the minimum economic threshold.

Technology selection will also be critical to optimize the first-gas timeline and its cost. In addition, modular facilities have been matured up in recent years, so that project schedule can be compressed to accelerate the production. It is also expected that cost optimization can be further exercised to support the project economics particularly for marginal development project.

This paper discusses the modularity approach during the planning stage has changed the development strategy and project cost. It is a greenfield development with limited volume of hydrocarbon in typical PSC terms applied in Indonesia. In addition, the possible implementation of CCS program will add burden in the economics that potentially sets project as marginal development.

Keywords: greenfield gas development project, modular facilities, modularity approach, project schedule, project cost, cost optimization, schedule compression

Find out detail at: Jurnal IAFMI Edition-16 published December 2024

Saturday, February 01, 2020

18. Jurnal Paper (2020): Developing Parametric Cost Estimation Model for Rich Acid Gas Development Projects

by: Autie M Putri and Trian H Asmoro

Unlike typical gas field, the development of a sour or acid gas field is far more complex as it possesses higher risks and requires upscale technology for extraction and processing. Historically, sour or acid gas reserves left undeveloped due to the high investment requirement. However, as the worldwide gas reserves potential are depleted, it starts to gain attraction for investors to be developed.

Parametric approach is widely used to provide estimation with high level of accuracy, typically conducted during conceptual or appraisal phase. Gas composition is a significant factor that will affect a gas processing plant cost, as it will dictate the technology and equipment used. Therefore, the gas composition shall be taken into account when the parametric approach is utilizes. This paper aims to provide approach to estimate cost for gas processing plant during conceptual phase or appraisal phase by taking into account the gas composition factor. The outcome will provide ballpark estimates as estimates benchmark for a detail cost estimation and furthermore assist investment decision making.

Que$tor by IHS (Q3 2014 version) is used to calculate cost for gas processing facilities with different level of CO2 and H2S compositions in the raw feed gas. The costs are then plotted to understand whether there will be any mathematical relationship that can be further analyzed. The result shows that there are specific percentage of cost increase in line with the increase of CO2 and H2S level. The model will then be tested against past sour gas processing plant and the results fall within 10% range from the actual cost. Differences of the model estimate and actual cost may come from adjustments required to consider some factors such as technology used, project location, project timing (macro economy and global industry situation).

Keywords: gas development project, rich acid gas, sour gas, cost estimation, Que$tor IHS

Find out on IAFMI Journal 10th edition.



Thursday, March 05, 2015

12. Journal Paper (2015); Understanding Risk and Return in Bidder’s EPC Price Using CAPM Concept

Abstract
Projects are currently characterized by their complexity, size and intensified multiparty involvement. It is therefore difficult to meet between company’s and contractor’s expectation in terms of project objectives. Using different type of contract, contractor may have different view that is reflected from their price.

In EPC contract that uses a concept of lump sum contract, price submitted by contractor is a promise of each contractor to deliver the project. Contractor will then face risk in executing the project, while in the same time they will have its potential return.


This paper describes behaviour of contractors in submitting price as part of bidding process using CAPM concept. It mathematically proves that risk and return will be going to the same way, e.g. high risk may have high return. It concludes that the price heavily rely on contractor’s experience and risk profile.

Keywords: Engineering Procurement Construction (EPC), Contract Price, Capital Asset Pricing Model (CAPM), Risk and Return.

***

Friday, January 23, 2015

Supply-Demand dan Pergerakan Harga Minyak

Seperti yang dibahas dalam tulisan tentang penyebab yang mempengaruhi harga minyak, faktor supply-demand adalah faktor yang paling mendasar dalam mempengaruhi harga minyak. Geopolitik karena kondisi politik produsen minyak (timur tengah) berujung pada kepastian supply, sedangkan paper oil market hanya mempengaruhi secara jangka pendek (short-run) lebih karena sentimen pasar dan aktivitas. Pengguna minyak yang riil dari industri sampai konsumen retail lah yang mempengaruhi demand sesungguhnya dari minyak.

Kurva supply-demand secara sederhana digambarkan dalam grafik di bawah (1), dimana bertemunya kurva supply dan demand akan terbentuk ekuilibrium, harga pasar (P*) dan jumlah barang/jasa yang ditransasikan (Q*).


Kemudian, terdapat beberapa fenomena yang menyebabkan bergesernya kurva supply dan demand, misalnya karena pengaruh teknologi sehingga biaya produksi menjadi lebih murah (jumlah yang sama bisa didapatkan dengan harga pasar lebih murah, kurva supply bergeser ke kanan), atau meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga meningkatkan jumlah permintaan (harga lebih mahal, kurva demand bergeser ke kanan).

Contoh pergeseran kurva supply-demand seperti gambar berikut (2), dimana S2 adalah biaya produksi yang semakin mahal menjadikan jumlah barang yang sama Q1 harus naik harganya dari p3 ke p1. Tapi karena kurva demand tetap (D1), maka harga barang menjadi P1 dengan jumlah Q1. Sedangkan pergeseran kurva demand contohnya dari D1 ke D2 karena menurunnya daya beli masyarakat sehingga dengan jika kurva supply S2 maka menjadi harga kembali menjadi P0, atau jika kurva supply tetap S1 maka harga menjadi P3.

Lalu, apakah kurva supply & demand minyak mengikuti pola sesuai dengan grafik diatas? Secara definisi mengikuti, dimana ketika terjadi supply dan demand maka terbentuklah harga dan kuantitasnya. Namun, kurva supply-demand minyak sangat khas karena karakteristik unik demand-supply minyak dimana tidak seperti industri lain dimana perubahan demand yang cepat bisa diikuti dengan perubahan di sisi supply.

Contohnya, ketika harga minyak naik karena demand naik dimana secara kurva supply, produsen akan tergiur untuk meningkatkan produksi sebanyak mungkin, namun industri minyak tidak bisa cepat merealisasikannya karena proyek untuk memproduksi minyak (eksplorasi, pengembangan, produksi) membutuhkan bertahun-tahun. Ketidakelastisan kurva supply minyak ini bisa digambarkan dalam grafik di bawah.
Kenaikan harga dari P1 ke P2 tidak bisa membuat supply meningkat signifikan karena kapasitas produksi minyak Q1. Kenaikan harga P2 hanya bisa diimbangi oleh produksi Q2 atau Q3 yang membutuhkan beberapa tahun lamanya dengan tambahan proyek baru untuk meningkatkan produksi minyak. Harga P3 adalah harga minimal produsen (break-even) untuk menutup biaya produksinya.

Begitu pula sebaliknya, ketika harga minyak turun tidak serta merta membuat produsen mengurangi produksi karena terdapat alasan teknis, misalnya demi mengatur tekanan bawah tanah atau reservoir pressure (bayangkan, ketika sumur minyak mengalir kemudian ditutup tiba-tiba, bisa jadi ketika dibuka lagi sudah berbeda tekanan dan bahkan komposisi minyak-air-gas nya), atau faktor non-teknis misalnya untuk menjaga pendapatan negara.

Hal ini kemudian terbukti akhir-akhir ini ketika harga minyak berada di kisaran USD 50/barrel dimana tengah tahun 2014 masih diatas USD 100/barrel, OPEC sebagai supplier sekitar 35% minyak dunia tetap memutuskan untuk menjaga produksi minyak di sekitar 30 juta barrel per hari. Hal tersebut tentu juga memberatkan negara-negara OPEC sendiri mengingat hampir semua negara OPEC menjadikan minyak sebagai pendapatan utama negaranya.

Bahkan menurut data berikut (3), negara produsen minyak (OPEC ataupun Non-OPEC) mempunyai nilai break-even berapa harga minyak yang bisa mencukupi kebutuhan fiskal negaranya. Hal ini dikenal dengan target-revenue model. Oleh karenanya, tidak mudah bagi produsen minyak untuk menurunkan jumlah produksi minyak meskipun harga minyak turun drastis, karena akan membuat mereka semakin menderita.

Secara grafik, target-revenue model tersebut bisa digambarkan seperti di bawah. Harga minyak awal P1, dimana produsen produksi minyak di Q1. Mereka senang karena melebihi dari kebutuhan budget (I, Investment). Jika suatu negara dibatasi produksinya oleh OPEC ke Q2 untuk mengindari over-supply, maka besar kemungkinan negara tersebut akan meminta kuota menjadi Q* untuk memenuhi budget nya atau melakukan cheating dengan menjual oil diam-diam sehingga total produksi tetap Q*. Disini, harga minyak minimal (break-even) untuk target-revenue model adalah P*.
Sehingga bisa dipahami, meskipun harga minyak turun sampai di bawah USD 50/barrel bulan ini, negara produsen akan tetap produksi minyak meskipun tidak bisa 100% sesuai kebutuhan budget mereka.  Karena jika mengurangi produksi, kondisinya akan makin berat untuk fiskal negara tersebut. Oleh karena itu, dalam meeting terakhir OPEC 27 November 2014 tetap menjaga produksi minyak mereka di leval 30 juta barrel per hari (4). Selain itu, OPEC tidak mau ‘berkorban sendiri’ karena faktanya OPEC ‘hanya’ mensuplai sekitar 35% dari total kebutuhan minyak dunia (sekitar 91 juta barrel per hari rata-rata 2014).

Dalam hal ini, OPEC tampak jelas membiarkan harga minyak terjun bebas hari ini (saat sebelum meeting harga minyak kisaran USD 70/barrel). Dimana penyebab oversupply minyak adalah produksi shale-oil dari USA yang membuat produksi minyak Amerika meningkat dari 8 juta barrel per hari tahun 2008 menjadi 12 juta barrel 2014. Amerika hari ini tercatat sebagai negara produsen terbesar minyak sekaligus importir terbesar, serta konsumen terbesar 19 juta barrel per hari (5). Oleh karena itu, tren meningkatnya produksi minyak Amerika sampai beberapa tahun ke depan direspon dengan harga minyak rendah.

Disinilah OPEC memberikan ‘test’, apakah proyek shale-oil minyak Amerika bisa bertahan pada harga minyak di bawah USD 50. Di negara teluk sendiri, harga USD 50 meskipun tidak bisa memenuhi kebutuhan budget mereka tapi masih bisa menutupi biaya produksi minyaknya. Meskipun OPEC tidak hanya negara teluk yang mempunyai biaya produksi rendah (misal Venezuela yang tinggi biaya produksi), namun karena lobi dalam OPEC sendiri ditentukan oleh banyaknya produksi minyak masing-masing negara. Disini Arab Saudi dengan produksi terbesar yakni 9.5 juta barrel per hari dan negara-negara Arab menjadi dominan penentu arah OPEC.

Lalu, bagaimana dengan demand minyak? Secara umum kurva demand relatif lebih elastis secara jangka pendek (short-run) dibandingkan jangka panjang (long-run), yang mana ditunjukan oleh studi OECD dalam tabel di bawah (5).  Walaupun kondisinya berbeda-beda antara kelompok negara, secara umum elastisitas income terhadap oil demand secara jangka pendek (short-run) lebih tinggi dibandingkan jangka panjang (long-run). Khusus EU, India dan Indonesia, kondisinya menarik karena pengaruh pendapatan masyarakat terhadap konsumsi minyak lebih terasa di long-run daripada short-run.


Perubahan elastisitas income dalam jangka panjang menjadi kurang elastis dikarenakan faktor supply yang tidak elastis menyebabkan konsumen menyesuaikan diri terhadap kondisi supply yang ada. Misalnya ketika income (GCP) meningkat, permintaan minyak meningkat namun karena supply terbatas, maka harga naik yang kemudian diikuti oleh penyesuaian permintaan minyak.  Dan saat income (GDP) turun, maka permintaan turun menyebabkan harga turun dan membuat konsumen untuk mengkonsumsi minyak lebih kembali pada harga barunya.

Kurva demand dan supply minyak yang tidak elastis (inelastic) menjadi salah satu penyebab utama volatilitas harga minyak dunia. Kondisi Geopolitik termasuk posisi OPEC, dan pelaku pasar perdagangan minyak adalah dua hal penting lain yang juga mempengaruhi pergerakannya. Hal ini bisa digambarkan dalam interaksi antara supply-demand minyak digambarkan dalam grafik di bawah.

Demand awal (D0) dan Supply awal (S0) dimana harga minyak P0. Karena pengaruh geopolitik sehingga pasokan dari produsen minyak yang mempunyai biaya produksi murah berkurang (misal timur tengah), maka minyak akan semakin mahal sehingga kurva supply bergeser dari S0 ke S1. Dengan kondisi itu, pasar (paper oil market) bereaksi negatif dan membeli minyak sebanyak-banyaknya hari ini karena beranggapan bahwa pasokan di masa mendatang akan lebih sulit (harga semakin naik) karena berkurangnya pasokan dari produsen minyak. Maka kurva demand bergeser ke D1, sehingga membentuk harga baru P1 dengan jumlah Q1. Namun, karena reaksi pasar tersebut hanyalah sentimen dimana kondisi riil pengguna minyak (industri, retail, dll) tetap sama yakni demand D0, maka harga akan menyesuaikan kembali menjadi P2 dengan jumlah Q2.

Pergerakan harga minyak seringkali melalui fase-fase seperti diilustrasikan diatas. Dari penjelasan tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa  pengaruh geopolitik dan pasar minyak bersifat lebih temporal dibandingkan supply-demand minyak yang mendasar pengaruhnya dan jangka panjang (long-run)

Referensi:
(1)http://education-portal.com/academy/lesson/calculating-equilibrium-price-definition-equation-example.html#lesson
(2) http://www.theoildrum.com/node/2899
(3) http://www.bbc.co.uk/news/business-29643612
(4) http://www.opec.org/opec_web/en/press_room/2938.htm
(5)http://www.opec.org/opec_web/static_files_project/media/downloads/publications/MOMR_January_2015.pdf

Tuesday, January 20, 2015

Memahami Penyebab Harga Minyak Dunia

Untuk memulai pembahasan, mari kita melihat pergerakan harga minyak dunia mulai sejak minyak pertama ditemukan (1861) sampai 31 Desember 2013 yang terdapat dalam laporan BP (1).


Grafik hijau tua adalah harga minyak sesuai dengan harga rata-rata tahun yang bersangkutan (dikenal dengan istilah nilai nominal atau money of the day atau MOD), sedangan hijau muda adalah harga minyak jika disesuaikan dengan inflasi sampai tahun 2013 (nilai riil).

Dari grafik terlihat pergerakan harga minyak setiap periodenya. Kita tidak akan membahas latar belakang kejadian luar biasa di baliknya, namun akan secara garis besar melihat apa saja yang utama mempengaruhi pergerakan harga minyak tersebut. Terutama fenomena turunnya harga minyak mulai tengah tahun 2014 sampai Januari 2015 hingga menjadi sekitar USD 50/barrel, dari sebelumnya diatas USD 100/barrel.

Beberapa hal bisa menyebabkan pergerakan harga minyak, namun hanya empat faktor utama yang sebenarnya mempengaruhinya, yaitu demand, supply, geopolitics dan future trading (spekulator).

Demand
Seperti halnya komoditi lainnya, harga minyak secara jangka panjang (long-run) dipengaruhi oleh permintaan. Melihat data bahwa penduduk dunia meningkat signifikan dalam 10 tahun terakhir, maka jumlah penduduk tersebut adalah pasar nyata dari minyak. Grafik di bawah adalah contoh 3 negara yang mempunyai jumlah penduduk besar, China, India dan China dimana total ketiganya mencapai sekitar 40% penduduk dunia (2).


Di tiga negara tersebut juga mengalami pertumbuhan ekonomi diatas rata-rata dari pertumbuhan ekonomi dunia seperti yang ditampilkan dalam grafik di bawah (3).


Dimana menurut penelitian OECD (4) seperti dalam grafik di bawah, tiga negara tersebut mempunyai elastisitas pendapatan terhadap permintaan minyak jangka panjang (long-run income elasticity) lebih tinggi dibanding negara maju (USA, EU, OECD, Japan). Artinya, pertumbuhan ekonomi yang kencang dari ketiganya (dan negara developing countries lain) adalah real demand dari minyak yang mempengaruhi harga minyak.


Studi tersebut dikuatkan oleh IEA yang melihat hubungan antara fuel consumption dengan pertumbuhan ekonomi di negara-negara non-OECD (5). Hasilnya seperti di bawah, bahwa pertumbuhan ekonomi sangat berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar yang merupakan olahan dari minyak.  


Sehingga jelaslah, bahwa permintaan minyak dunia sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dunia, terutama negara berkembang.

Supply
Di sisi supply, telah berakhirnya era minyak mudah (easy oil) membuat biaya untuk menemukan (discovery), pengembangan (development) dan produksi (production) minyak semakin mahal. Berdasar indeks harga yang disusun oleh IHS (6) dengan menggunakan tahun 2000 sebagai basis indeks (100) dari Upstream Capital Cost Index (UCCI), biaya modal yang dibutuhkan naik signifikan seperti yang digambarkan grafik di bawah. Walaupun secara umum pergerakannya mengikuti harga minyak, namun ketika harga minyak turun penurunan UCCI tidak ekstrim seperti penurunan harga minyak. Artinya, biaya untuk proyek minyak semakin mahal dibandingkan dengan kenaikan harga minyak.


Ketika biaya semakin mahal yang artinya membuat banyak proyek tidak dikerjakan karena menjadi tidak ekonomis, maka hal tersebut akan berpengaruh terhadap kapasitas cadangan (spare capacity) negara produsen minyak. Spare capacity menunjukan bagaimana kemampuan supply terhadap lonjakan permintaan. Jika spare cukup banyak, maka harga cenderung turun karena ‘over-supply’, begitu pula sebaliknya. IEA menerbitkan hasil kajian tentang hubungan antara spare capacity dan harga minyak seperti di bawah ini (7).


Dengan kondisi biaya yang mahal namun ada peluang harga bisa naik jika spare capacity rendah, maka produsen mempunyai harapan untuk menjalankan proyek-proyek baru.Dalam dunia bisnis dan ekonomi yang lebih luas, model interaksi yang dinamis antara demand-supply beserta lingkungan terkait bisa digambarkan dengan skema sistem sebagai berikut (8).



Geopolitics
Kembali ke grafik pergerakan harga minyak sejak 1861 diatas, terlihat bahwa faktor geopolitik cukup sering mempengaruhi harga minyak. Sejarah mencatat setidaknya ada tiga masa dimana terdapat pergerakan ekstrim harga minyak sebelum tahun 2000, yakni pertama tahun 1973 ketika terjadi perang Yom Kippur antara dunia Arab dengan Israel yang menduduki Palestina. Saat itu dunia arab menurunkan produksi minyak (embargo minyak) dan mengeluarkan peraturan pajak baru yang menyebabkan harga minyak naik menjadi USD 12/barrel.

Kedua, periode 1979-1981 ketika terjadi perang Iran-Iraq dimana keduanya adalah anggota OPEC, menyebabkan harga minyak menjadi USD 34/barrel. Sedangkan ketiga adalah penurunan harga menjadi USD 7/barrel tahun 1984-1986 karena pembatasan kuota produksi OPEC gagal dan terjadi perang harga minyak ketika Saudi berusaha kembali untuk mempertahankan dominansi di pasar (market share).

Walaupun sebuah penelitian (10) menyatakan bahwa kejadian-kejadian politik terutama di timur tengah hanya mempunyai efek yang kecil terhadap harga minyak, namun kejadian tersebut jelas berkontribusi terhadap perubahan ekspektasi pasar minyak setelahnya, terutama kemungkinan berkurangnya pasokan dari produsen minyak yang bisa menyebabkan harga minyak naik.  

Future Trading
Sebenarnya terdapat dua jenis pasar di pasar minyak dunia, pertama pasar fisik (wet oil market) dan kedua pasar kertas (paper oil market). Pasar fisik adalah transaksi sesungguhnya ketika penjual menjual dan mengirimkan minyak kepada pembeli. Sedangkan pasar kertas adalah menjadikan minyak sebagai instrument investasi (spekulasi), baik dalam bentuk future contract yang diperjualbelikan, dibundel dengan komoditi yang lain, bahkan dijadikan underlying asset untuk berbagai macam produk derivatives.  

Yang menarik, aktivitas ‘kedua pasar’ tersebut saling mempengaruhi. Pasar fisik akan melihat pergerakan harga di pasar kertas yang melihat ekspektasi masa depan, sedangkan pasar kertas akan melihat riil transaksi hari ini untuk membangun ekspektasi tersebut. Berdasar statistik IEA di bawah, aktivitas pasar kertas meningkat signifikan menunjukan bahwa minyak adalah salah satu komoditi investasi (spekulasi) yang menarik bagi investors (11).



Jadi, kombinasi antara keempat faktor diatas yang menyebabkan harga minyak bergerak dinamis sehingga tidak ada satupun orang yang bisa memprediksi secara tepat.

Referensi:
(1) British Petroleum 2014, "BP Statistical Review of World Energy", June 2014, vol. 63rd edition, no. BP Plc.
(2) World Bank 2014, , Population, Total [Homepage of The World Bank], [Online].
(3) World Bank 2014, , Economic Growth [Homepage of The World Bank], [Online].
(4) Fournier, J., Koske, I., Wanner, I. & Zipperer, V. 2013, The Price of Oil – Will it Start Rising Again?, Organisation for Economic Co-operation and Development.
(5) EIA 2014, 10 July 2014-last update, What drives crude oil prices? An analysis of 7 factors that influence oil markets, with chart data updated monthly and quarterly [Homepage of U.S. Energy Information Administration], [Online]. Available: http://www.eia.gov/finance/markets/ 
(6) IHS 2013b, UCCI vs Brent Cride Price, Que$tor 2013 User Group Meeting edn, IHS, Jakarta.
(7) EIA 2014, 10 July 2014-last update, What drives crude oil prices? An analysis of 7 factors that influence oil markets, with chart data updated monthly and quarterly
(8) Mobus, G. 2010, 11 August 2010-last update, Peak Oil: Why a Supply Crunch Can Lead to lower Oil Prices. Available: http://oilprice.com/Energy/Oil-Prices/Peak-Oil-Why-A-Supply-Crunch-Can-Lead-To-Lower-Oil-Prices.html
(9) Bhattacharyya, S.C. 2011, Energy economics: concepts, issues, markets and governance, Springer, London
(10) Kilian, L. 2014, "Oil Price Shocks: Causes and Consequences", vol. CEPR Discussion Paper No. DP9823, no. Centre for Economic Policy Research (CEPR)
(11) EIA 2014, 10 July 2014-last update, What drives crude oil prices? An analysis of 7 factors that influence oil markets, with chart data updated monthly and quarterly

Thursday, December 18, 2014

Oil Price in Gold Equivalent Value

In conjunction to my previous journal about exploring gold value as new cost estimation basis in pipeline projects, I found an interesting comparison between Gold and  Oil Price. 

Surprisingly, the gold to oil price ratio has shown a certain range of value for long period of time.


In addition, both have relatively same trend in pricing since 1974, when dollar didn't tie to gold value anymore. When gold price started decreasing about two years ago, oil price just followed it about six months ago. But again, in terms of gold to oil ratio, it has no big difference.


I have randomly checked the ratio numbers using independent and reliable source of data. Hence I would say that the ratio calculations are valid. 

Can we then say that the real money with intrinsic value such as gold will stand the test of time?

**
References:
http://www.bloomberg.com/energy/
http://www.gold.org/
http://www.macrotrends.net/1380/gold-to-oil-ratio-historical-chart
http://www.macrotrends.net/1334/dollar-gold-and-oil-historical-chart
http://www.macrotrends.net/1335/dollar-gold-and-oil-chart-last-ten-years
http://seekingalpha.com/article/2764975-what-is-the-gold-oil-ratio-telling-us?ifp=0

Wednesday, October 15, 2014

11. Conference Paper (2014); Evaluating Gas Reserve and Project Cost Using Multistage Scenario Process on Gas Development Project

The development phase of oil and gas fields is challenging, since wells need to be drilled and assessed for oil and gas reserves, and production facilities need to be built. It will only be executed after the exploration phase shows attractive economic indicators (IRR, NPV and payout time). Marginal gas reserves and high development costs will result in marginal economic indicators of the project compared to the company expectation.

The marginal economic indicators have created the mechanism for tight project control during project execution, in order to maintain acceptable NPV. The objective is that the thresholds of model parameters need to be defined on a staging basis to guide the project on an economical track. The thresholds will confine the limit of drilling and facilities cost which can be spent according to reserve scenarios.

The monitoring model is then built by combining the development project economics using multistage scenario tree. A solid model needs to be built and tested using Monte Carlo simulation to generate the drilling and facilities costs. Thus, the model will result simulated economic indicators which will limit of maximum allowable project cost for each reserve scenario.

This paper shows that the economic feasibility of a gas field project at the development phase can be analyzed using the multistage scenario process. Therefore, the key activity is to monitor the performance of the project, i.e. reserve verification, drilling and facilities costs, in addition to the project schedule. Finally, decisions about the project may be made at each stage according to the portfolio profile of the company.

Keywords: Gas Field Project, Exploration and Development Project, Monte Carlo Simulation, Project Economics

Link: http://www.spe.org/events/apogce/2014/pages/schedule/tech_program/index.php


Paper: OnePetro Journal


10. Journal paper (2014); Facing Project Cost Exposure during Front End Loading (FEL) Implementation

The planning of a project is the most critical phase, since all project definitions and requirements should be completed in this phase. Of all project variables, cost is the most sensitive one especially for project that has a limited range of return on investment. Thus, the project cost and planning team has to have a better planning process as well as incorporating the external commercial factors in the project cost.

Meanwhile, Front End Loading (FEL) stages used to evaluate a completed project have limitations in observing the project cost. The cost estimation level is developed and improved in accordance with three FEL stages; Appraise (FEL1), Select (FEL2) and Define (FEL3), prior to the execution phase. Although the actual cost will be realized after execution, the projective project cost needs to be confirmed at the end of FEL 3.

This paper concludes that the characteristics of cost exposure during the planning of an oil and gas project in the FEL stages must be identified and understood by the company. The company is therefore able to foresee the project risk, particularly regarding the project cost.

Keywords: Front End Loading (FEL), Project Planning, Project Cost.

Link: http://pmworldlibrary.net/authors/trian-hendro-asmoro/

Sunday, December 15, 2013

Project Management Professional (PMP)

Sudah menjadi bagian dari target tahun ini untuk melengkapi satu sertifikasi profesional tambahan, yakni Project Management Professional (PMP) yang dikeluarkan oleh Project Management Institute (PMI).  Sertifikasi PMP ini sudah dikenal luas di kalangan praktisi Project Management (PM) di seluruh dunia. Sehingga bisa dikatakan seseorang yang sudah certified PMP akan mempunyai 'bahasa yang sama' dalam praktek PM.

Siapa yang berhak mengajukan sertifikasi PMP? Dikutip dari PMI adalah sebagai berikut:
To apply for the PMP, you need to have either:
  • A secondary degree (high school diploma, associate’s degree, or the global equivalent) with at least five years of project management experience, with 7,500 hours leading and directing projects and 35 hours of project management education.

    OR
  • A four-year degree (bachelor’s degree or the global equivalent) and at least three years of project management experience, with 4,500 hours leading and directing projects and 35 hours of project management education. 
Jika dilihat dari syarat diatas, maka minimal seseorang bisa mengajukan sertifikasi setelah sekitar 3 tahun pengalaman dalam menjalankan proyek dan juga pernah mengikuti kursus terkait PM selama 35 jam. Saya sendiri bisa dibilang 'telat' karena melebihi dari syarat minimal tersebut, apalagi sebagai praktisi yang setiap hari terkait proyek. Walaupun juga tidak bisa dikatakan terlalu telat mengingat banyak senior (tetua) praktisi PM belum pernah bersentuhan dengan dunia sertifikasi baik PMP ataupun CCE (Certified Cost Engineer)

Saya dikirim kantor untuk mengambil kelas persiapan PMP melalui training provider yang berafiliasi dengan lembaga konsultan internasional Rita Mulcahy (RMC). Training dilaksanakan pada awal Oktober 2013 selama 5 hari di Bandung yang juga bisa dijadikan syarat 35 jam training PM. Instruktur yang memberikan pelatihan dan pendampingan setelahnya adalah Mr Rashid, Malaysian yang tinggal di Singapore. Dalam training selain diberikan bahan-bahan belajar, sebuah CD simulasi soal-soal ujian PMP juga termasuk 1 hari refreshment day yang dilaksanakan beberapa hari sebelum ujian sesuai permintaan (grup). Dan yang pasti, Mr Rashid dengan sangat terbuka membantu proses belajar sampai menjelang ujian.

Seperti halnya sertifikasi PM yang lain, maka tantangan terbesar sebenarnya adalah 'mengalahkan' diri sendiri untuk disiplin belajar mempersiapkan diri ujian. Ujian nya adalah menjawab 200 soal pilihan ganda secara online selama 4 jam. Soalnya terkait dengan dunia PM yang harus dijawab sesuai dengan panduan yang diberikan PMI dalam PMBOK (Project Management Body of Knowldge). Tahu istilah saja belum cukup, karena ada studi kasus ditambah pilihan ganda yang bisa membuat lebih dari satu jawaban tampak benar.

Khusus buat saya yang sudah berpengalaman dalam ujian CCE, maka 'beban' itu menjadi semakin berat mengingat berdasar studi bahwa secara level of effort PMP lebih rendah dibanding CCE (CCE lulus, PMP masa tidak lulus :) ). Namun tetap ada rasa was-was apakah bisa lulus PMP. Menurut Mr Rashid, untuk lulus dibutuhkan 40 jam belajar. Tapi saya tidak pernah menghitungnya, satu sebabnya karena ada beban tadi. Yang pasti saya belajar dengan basis milestone dan mentargetkan 2 bulan setelah training saya akan maju dalam ujian PMP.

Di sisi yang lain, sebenarnya ada sisi positifnya saya sudah CCE karena sudah berpengalaman lebih dari 4 jam di depan komputer mengerjakan soal ujian sertifikasi. Jadi dari keberanian menjawab dan ketenangan bisa mendapat banyak pelajaran dari pengalaman sebelumnya. Akhirnya, masa belajar itulah saat untuk mengalahkan diri sendiri tersebut, dan berkomunikasi dengan Mr Rashid untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan diri sendiri dalam penguasaan skenario materi. 

**

Alhamdulillah.. Saya akhirnya lulus ujian sertifikasi pada tanggal 9 Desember 2013 lalu. Nomor ID PMP saya 1677373, artinya sudah lebih dari 1.6 juta profesional di seluruh dunia mempunyai gelar PMP sejak 1987. Jika dibandingkan CCE saya yang ber-ID 4129, maka nomor ID PMP saya sudah sangat besar. Tidak heran mengingat tahun 2012 sebanyak 90 ribu orang mendapatkan sertifikasi dari PMI (walaupun tidak semua PMP). 

Oiya, saya artinya juga berhak menyandang credential PMP di belakang nama saya setelah sebelumnya CCE. Saya tidak tahu pasti bagaimana aturan penyebutan gelar secara urut di belakang nama. Yang pasti jika disebutkan semua credentials baik pendidikan formal maupun sertifikasi, maka nama lengkap profesional saya menjadi Trian Hendro Asmoro, ST, MM, CCE, PMP. 

Selain bersyukur, saya berusaha menyadari bahwa mendapatkan gelar atau sertifikasi bukanlah tujuan akhir, tapi merupakan awal untuk melakukan hal bermanfaat yang lebih banyak lagi. Dan yang pasti, belajar itu sepanjang hayat, jadi mari tidak lekas puas dengan apa yang kita tahu hari ini.

Finally, saatnya move on... :)

Monday, July 01, 2013

Analisa Gaji (C&B); Pertimbangan Pindah Kerja

Salah satu alasan pindah kerja adalah mencari gaji yang lebih besar. Alasan ini bisa jadi alasan yang utama, walaupun banyak orang sering menggunakan alasan-alasan terselubung lainnnya, misalnya mencari tantangan baru, pengalaman kerja, keluarga dll. Kecuali lingkungan kerja saat ini memang sangat-sangat tidak nyaman, maka orang lebih memilih bertahan karena dia sudah paham dengan pekerjaan dan tantangannya.

Terkait dengan gaji lebih besar tersebut, perlu dilakukan analisa secara menyeluruh, tidak hanya besaran nominal gaji (gross / net), tapi juga semua terms yang terkait. Misalnya; benefit yang tidak masuk dalam slip gaji, soft loan, kemungkinan kenaikan (increment) per tahun, pensiun dan bahkan pengeluaran pribadi.

Mengapa pengeluaran pribadi (living cost) masuk? Biasanya dengan gaji dan lingkungan baru, terjad perubahan pola belanja. Dan yang pastinya, asumsi tingkat investasi per tahun yang bisa dihasilkan dari hasil net salary + benefit lainnya dikurangi living cost + other expenses. Satu yang positif: dengan gaji yang lebih besar, zakat yang dikeluarkan juga seharusnya membesar juga bukan?

Dengan model perhitungan analisa gaji (dan mungkin tipikal dengan kondisi pekerjaan lain), beberapa perusahaan 'memagari' karyawan nya dengan 'janji pensiun' yang cukup besar sesuai masa dinas, tapi jika keluar lebih awal maka uang pesangon jauh lebih kecil dari dana pensiun yang dicadangkan. Yang membuat repot karyawan untuk mencari perusahaan yang mau membayar gaji dengan kenaikan yang bisa mengkompensasi pensiun besar di akhir tersebut.

Jika saya pemilik perusahaan atau setidaknya manajemen perusahaan, pendekatan tersebut sangat beralasan. Tentu bukan perkara mudah mencari karyawan, plus biaya yang dikeluarkan untuk proses rekrutmenya. Namun bagi karyawan, kondisi tersebut bukan berarti kita 'menyerah' dan tidak mau keluar dari 'zona nyaman' nya. Minimal karyawan harus menghitung dan menganalisa dengan teliti gaji dan lingkungan baru yang ditawarkan. Selain itu, disiplin dalam keuangan pribadi adalah kunci dari analisa gaji yang harus tetap dilakukan.

Di bawah ini adalah hasil dari model perhitungan dan analisa gaji yang saya bangun. Model ini sudah naik versi menjadi 2.0, dari sebelumnya 1.0 dan 1.1 yang di utak-atik sejak bulan Juni lalu (dan masih mungkin naik versi lagi ke depannya jika ada masukan-masukan bermanfaat). Disini mengasumsikan bahwa ada 2 tawaran yang sedang dianalisa, misalnya sebuah perusahaan domestik dan perusahaan luar negeri.

Jangan percaya kepada angka-angka di atas, yang pasti tujuannya adalah New_1 atau New_2 harus mempunyai NPV lebih besar (semakin besar semakin baik) daripada Current. Anda bisa lihat, komponen dana pensiun di akhir masa kerja yang cukup besar bisa membuat bias karena seolah cummulative benefit yang besar pada perusahaan sekarang, namun karena faktor discount rate, maka dana pensiun yang besar tersebut bisa terkompensasi dengan besaran gaji yang baru. Apalagi kalau misal 'hanya' harus bekerja 13 tahun lagi untuk mendapat NPV sama, kenapa harus bekerja 25 tahun? :)

Sedangkan screenshot di bawah adalah sebagian input yang harus diisi untuk mendapatkan hasil perhitungan. Seperti halnya spreadsheet perhitungan umumnya, maka asumsi sangat berperan dalam menentukan hasil. Paling tidak model ini bisa (sedikit) membantu anda untuk menganalisa gaji (Compensation & Benefit), dan komponen-komponen apa saja yang dipertimbangkan.


Selain faktor inputan yang sangat penting, tentu model ini tidak bisa mengkuantifikasi nilai-nilai yang tidak tampak (intangible values) bekerja di sebuah perusahaan. Misalnya kesempatan jalan-jalan ke luar negeri lewat presentasi paper, pengembangan diri dan karir yang terbuka. Tapi di sisi lain, misalnya kondisi perusahaan saat ini dan faktor keluar zona nyaman dengan tantangan di tempat baru sebagai salah satu perjalanan hidup pun tidak bisa dilihat di model ini. Artinya, seorang karyawan harus menganalisa kedua sisi antara sisi gaji (tangible) dan sisi intangible sebelum memilih.

At the end of the day, anda (karyawan) memang harus memutuskan jalan mana yang akan ditempuh bukan? 

*
Tertarik model tersebut?  Please comment and drop me an email. Terima kasih.

Saturday, May 25, 2013

9. Journal paper (2013); Exploring Gold Equivalency for Forecasting Steel Prices on Pipeline Projects

Abstract

The volatility of steel prices and international currency is an element that affects actual project costs. This situation can be mitigated by considering risk contingency as a fixed percentage of the total budget and/or by inputting an inflation factor into the cost estimation. These methods have not overcome the root problem, however, which is the decline in purchasing power of the US dollar as a base currency. As a result, an alternative currency with a stable and reliable value as a cost reference is needed.
 
This paper will explore the possibility of using gold as an alternative currency to be used in forecasting selected steel prices, i.e. billet, hot rolled coil and scrap steel as the main material components in pipeline projects. The reliability of gold in terms of purchasing power compared to the USD will be discussed together with how gold equivalency can be applied for selected steels to establish a gold-based forecasting model. Finally it will be explained how steel prices will refer to the gold price forecast for the next four years. These methods will change the paradigm for estimating the cost of pipeline projects and may be developedfor and applied to other projects.

Keywords: Steel Prices, Gold Price, Cost Estimation, US Dollar, Purchasing Power, Gold Equivalency, Price Forecast, Project Cost Engineering, Pipeline Project Cost.

---
 
Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, ada 1 paper sebagai syarat sertifikasi CCE yang dikirimkan ke Journal untuk dipublikasikan. Dan bulan tengah mei ini, jurnal tersebut sudah dipublikasikan dimana paper saya termasuk salah satu di dalamnya. Paper ini adalah paper pertama saya yang masuk di PMWJ, dimana Dr. Paul G. Giammalvo sangat berperan dalam membimbing penyusunan paper ini.
 
Apa yang menarik dari paper ini? Jika pada paper city gas saya 'keluar' dari lingkup pekerjaan saya, kali ini saya masih dalam lingkup namun cukup teoritis atau 'sedikit akademis'. Artinya dalam keseharian, analisa seperti ini 'tidak sempat' saya lakukan. Namun dengan model dalam paper ini, secara sense bisa terbaca arah kondisi dunia yang terkait dengan pekerjaan saya dalam mengestimasi nilai proyek.
 
Paper lengkap bisa di download di PM World Journal Edisi May 2013. Sedikit welcoming notes dari Managing Editor PMWJ.
 
Lalu, bagaimana selanjutnya? Bersama 2 rekan yang lain, saya sedang menyiapkan 2 buah papers yang lolos untuk dipresentasikan di sebuah forum project management di Eropa Timur menjelang winter nanti. Karena masih mentah dan belum tentu juga saya berangkat (baca: perusahaan mau bayarin atau tidak hehe), jadi nanti kita lihat saja. Jika tidak berangkat ke conference tersebut, insyaAllah saya masih punya 'cadangan' 2 paper jadi dan siap 'berangkat'. :)
 

8. Conference paper (2013); The Operation-based CSR of Medco City Gas Program

Abstract

The CSR (Corporate Social Responsibility) program has become a crucial issue for corporate sustainability in recent years. The new CSR approach has included the introduction of characteristics of sustainability adopted from ISO 26000. Integration of CSR with business operations is an essential factor but rarely implemented by oil & gas companies, even though they have a strong commitment to conduct CSR programs as part of their business process.

Furthermore, many CSR programs actually do not have a direct relationship with the actual oil & gas operations, and are executed on a spending basis only. In fact, particularly in developing countries, companies still face problems with their local communities, even when they have spent a lot of money on their CSR programs.

Community or city gas is a CSR program which can be implemented in the oil & gas industry. It follows the operation-integration paradigm and will deliver natural gas from the field operated by the company to the surrounding community. The community will therefore directly gain benefits from the company’s operations, while the company can convey its CSR program and maintain its profitability at the same time.

The “city gas” program implemented by Medco can be further enhanced, and similar programs in other fields can be established. This program shows that the company can therefore run an operation-based CSR effectively by integrating CSR within the company operation. The program is part of the company's efforts to implement the principles of triple-bottom-line economic, social and environmental considerations to cover all business activities and ensure their sustainability in the future.

---
 
Sebagai kelanjutan dari tulisan tentang paper sebelumnya, saya akan menginfokan setiap ada informasi paper saya (sebagai author atau co-author) yang publihed.
 
Pada tanggal 15 - 17 Mei 2013 lalu, diadakan 37th IPA Conference & Exibition di JCC. Saya bersama 2 rekan saya mempublikasikan paper tentang implementasi gas kota yang dilakukan perusahaan di Kota Tarakan, seperti dalam abstrak diatas. Karena lokasi pekerjaan di Tarakan, maka yang mempresentasikan adalah rekan saya, facilities engineer disana. Dan saat tanya jawab, saya membantu menjawab pertanyaan yang diajukan audiences.
 
Sayangnya foto saat kami menjelaskan masih ada di panitia (belum tahu cara request-nya), jadi saya tampilkan foto yang lain saja disana (background-nya emiten yang sempat 'dimiliki' hehe).
 
 
Salah satu menariknya menulis paper (atau menulis secara umum) adalah kita akan punya ide baru ketika selesai menulis tersebut, baikn pengembangan tulisan tersebut atau analisa dari sudut pandang yang lain. Begitu pula paper tentang city gas tersebut, meskipun bukan bidang saya secara langsung, tapi potensi pengembangan tulisan tersebut masih lebar (artinya ada kesempatan publikasi lagi hehe). Namun, lagi-lagi kembali ke masalah niat dan persistensi. Ini yang seringkali mengalahkan ide-ide pengembangan tersebut.
 

Thursday, April 18, 2013

Certified Cost Engineer (CCE)

Sudah bagian dari rencana ketika dipindahkan ke Jakarta sejak awal 2011 untuk mengambil salah satu sertifikasi bidang Project Management (PM). Setelah dinyatakan lulus dalam sidang MM, maka selanjutnya adalah melaksanakan rencana tersebut. Salah satu yang terkenal adalah PMP (Project Management Professional), namun dengan dalih ingin yang lebih spesifik dari bidang PM, maka saya mengambil CCE yang masih berhubungan dengan pekerjaan, minat dan pendidikan S2.

Untuk mengambil sertifikasi CCE dan sertifikasi PM yang lain, sangat disarankan untuk mengambil kelas persiapan yang banyak diadakan oleh penyelenggara training. Pilihan sudah dijatuhkan sejak 2011 lalu pada PT Mitratata dengan instruktur Dr. Paul D. Giammalvo.
 
Persiapan sertifikasi ini dimulai selama kelas 5 hari full dari pagi sampai jam 8 malam karena harus mengerjakan project charter untuk digunakan secara kelompok selama distance learning. Tahap berikutnya distance learning selama 6 bulan dengan target melaksanakan tugas-tugas sesuai project charter dengan laporan setiap minggu.
 
Selama distance learning ini, biasanya beberapa dari anggota awal tidak bisa mengikuti irama tugas sehingga dipecat dari kelompok. Jika dipecat dari kelompok, maka otomatis tidak bisa mengikuti sesi kelas 3 hari sebagai wrap-up sebelum melaksanakan ujian sertifikasi masing-masing. Walaupun dipecat selama distance learning, yang bersangkutan masih bisa mengikuti sendiri ujian tanpa bimbingan lanjut dari Dr Paul. Namun, anggota yang dipecat ini masih bisa mengikuti kelompok batch selanjutnya dan diberi kesempatan sampai 1 kali pengulangan.
 
Saya pribadi merasa tidak ada perbedaan pola hidup karena sudah terbiasa dengan pola studi selama pasca sarjana, hanya melanjutkan dan malah lebih santai karena tidak harus pulang sampai rumah jam 11 malam. Tugas-tugas dikerjakan setelah Jam 9 malam atau di akhir pekan. Tidak jarang juga beberapa tugas disambi dikerjakan di kantor.
 
Lalu, apa yang menarik dari CCE ini? Mengutip dari web AACE, syarat seseorang lulus CCE adalah;
 
1. Industry Experience; At least 8 full years of professional experience, of which up to 4 years may be substituted by a college/university degree.
 
2. Submit Applications and Fee; There are three steps in making a complete application for the CCC/CCE exam: Apply & Make Payment, Submit Supporting Documentation and Submit Technical Paper & Affidavit.

3. Pass the exam; To become a CCC/CCE, an overall passing score of 70% must be achieved in the multiple choice exam AND a 70% score for the technical paper, as determined by the Certification Board.

4. Designation; In accordance with our accreditation by The Council of Scientific and Engineering Boards (CESB), a CCC or CCE designation is awarded based upon a candidate’s education/experience. The most common designation is CCC, but guidelines state a CCE designation is awarded to those with a baccalaureate, or master, engineering degree, by an EAC/ABET accredited university. A candidate cannot select a designation; it is awarded based upon the CESB guidelines.
 
Cukup lumayan bukan? Yang pasti ada paper sebagai salah satu syarat kelulusan, dimana tidak banyak orang ternyata menyukai menulis paper, apalagi yang terkait dengan technical dan project management. Sebagai perbandingan, PMP tidak mensyaratkan paper sebagai kelulusan.
 
Dan pengalaman penulisan paper ini yang membuat banyak orang tidak jadi mengambil CCE/CCC, dan akhirnya mengambil sertifikasi yang lain dari AACE, misal EVP (Earned Value Professional), PSP (Planning & Scheduling Professional),atau CEP (Certified Estimating Professional).
 
Selama proses belajar sertifikasi CCE, saya membaca artikel yang menarik yang ditulis oleh Dr Paul tentang perbandingan sertifikasi profesional bidang PM, yang sudah update dari edisi sebelumnya. Berikut ini adalah gambar grafik antara Level of Effort dan sertifikasi.
 
 
Dari grafik diatas, ternyata sertifikasi dari AACE masih sedikit lebih tinggi dari PMP, tentu dalam hal level of effort sesuai dengan ketentuan 10,000 hours Malcolm Gladwell. Hal ini bukan berarti yang PMP tidak bisa mengerjalan soal CCE atau yang CCE sudah pasti bisa PMP, namun usaha yang dibutuhkan untuk lulus dari ujian CCE lebih tinggi dari PMP.
 
**

Alhamdulillah, saya sudah lulus ujian CCE tanggal 10 April 2013 minggu lalu dengan No. 4129, artinya sejak 1956 per 10 April 2013 lalu saya adalah CCE yang ke 4129 di seluruh dunia. Jika menggunakan hak credential, maka semua gelar akademis dan profesional ada di belakang nama saya dan semuanya harus ditulis karena tidak ada kesinambungan. Trian Hendro Asmoro, ST, MM, CCE. Dan sekarang saatnya mencari hal lain untuk mempertahankan pola hidup yang sudah berjalan lebih 2 tahun. Dan saya tidak ingin terjebak pada comfort zone seperti yang dinasehatkan oleh Mr Anies Baswedan, InsyaAllah... :)

Tuesday, March 12, 2013

Professional Paper 2007 - 2013

Kebiasaan menulis sejak kuliah ternyata terbawa di lingkungan kerja. Menulis sebuah hasil kerja bukanlah bentuk sombong diri, saya berpendapat bahwa itu merupakan bentuk kontribusi yang ingin ditampilkan. Banyak orang melakukan kontribusi buat perusahaan atau lingkungan dimana dia berada, namun tanpa melakukan aktivitas meninggalkan sejarah (baca: menulis), maka kontribusi itu hanya akan menjadi bahan cerita. Selain itu, proses belajar (lesson-learned) menjadi berhenti karena ketiadaan sesuatu yang bisa dipelajari dan dikembangkan di kemudian hari.
 
Karena filosofi itulah, maka saya lumayan rajin dalam menulis paper yang terkait pekerjaan, baik untuk level internal perusahaan maupun eksternal seperti forum profesi skala internasional. Sejak mulai kerja secara 'lebih permanen' di perusahaan sekarang, setiap tahun saya bisa menyelesaikan rata-rata 1 published-paper baik secara internal atau eksternal (Alhamdulillah..). Hal itu merupakan sebuah prestasi tersendiri buat saya. Namun jika melihat seorang senior seorang analist di perusahaan, beliau dalam 5 tahun kerja di perusahaan bisa menerbitkan sendiri kumpulan paper dengan jumlah tidak kurang 20 paper tentang bidang economic-investment di oil & gas business.
 
Berikut ini adalah perjalanan paper yang saya tulis dalam rentang 2007 - 2013 ini (sekalipun saya bekerja dari 2006, namun sampai 2007 sebagai periode 'transisi').
 
1. Internal paper (2007) tentang penggunaan Drilling Bit (Mata Bor); Analysis of Drilling Time and Cost per Foot at Kaji Field. Paper ini membahas penggantian drilling bit yang optimal dengan melihat biaya bit dan waktu pemboran. Paper ini sebagai tugas akhir masa trainee 6 bulan pertama, dan ternyata Allah Swt telah memutuskan sehingga saya tidak menekuni bidang drilling ini, namun memberi jalan lain sehingga bisa berkiprah hingga saat ini.
 
2. Internal paper (2008) tentang penggunaan Welding Rod (Kawat Las) dan Polyken Tape (Pembungkus Pipa); Welding Rod Calculation Program (WRCP) dan Construction Project Applications (CPA). CPA merupakan program (spreadsheet macro) pengembangan WRCP yang hanya mengestimasi kebutuhan kawat las, sedangkan CPA bisa menghitung kawat las, polyken dan pengecatan di piping atau pipeline system. Paper WRCP saya submit ketika mengajukan diri sebagai anggota KMI (Komunitas Migas Indonesia), dimana saat ini saya mengelola Grup Linkedin KMI yang sudah mempunyai lebih dari 2,300 subscribers (Milis Migas sendiri member nya lebih dari 15,000).
 
3. Internal paper (2009) tentang aplikasi sistem pengelolaan gudang proyek; The Development of Project Stock Monitoring: an Optimization of Project Warehouse. Sistem berbasis dot net framework yang dikembangkan bersama secara internal dan diimplementasikan mampu menghemat puluhan hingga ratusan ribu USD setiap bulan dan lebih efisien dalam pekerjaan, karena sistem sebelumnya hanya berdasar database excel. Paper ini dipresentasikan di MTF 2009 dan diganjar MEI  Award 2009 sebagai Best Improvement Area of Business Development, Marketing and Project Management.
 
4. Conference paper (2010) tentang proyek pipeline di sebuah lapangan; Gunung Kembang Pipeline Project: Delivering Gas Sales, Project Cost & Time Efficiency. Paper ini menceritakan tentang pekerjaan pembangunan pipeline gas dengan tantangan dan inovasi yang dilakukan sehingga pekerjaan bisa terlaksana dengan baik (cost, time, quality, safety). Paper ini dipresentasikan dalam ajang internasional pertama saya (baca: keluar negeri pertama hehe) bersama rekan kerja di World Construction Project Management (WCPM), Coventry, UK pada Oktober 2010.
 
 
 
Kesempatan di UK ini betul-betul kami manfatkan untuk melakukan mini-tour UK, mulai dari Coventry-London-Newcastle-Manchester (mampir 2 nights hehe) lalu kembali ke Birmingham (arrival/departure point) selama 10 hari disana dengan mengunjungi salah satu pipeline vendor di area Newcastle (beberapa hari sebelum berangkat, sayangnya 1 vendor di Aberden membatalkan). Bukan perjalanan yang panjang, namun mengingat semua dibiayai perusahaan (dan negara), maka tentu sebuah kesempatan yang langka.
 
 Source: UK rail-map
  
Lalu tahun 2011, saya tidak mempunyai kesempatan (ide/tema) menulis paper, karena di tahun tersebut adalah tahun turning point saya, dari field project engineer di lapangan menjadi planning & cost engineer di Jakarta. Selain itu, kesempatan di Jakarta tersebut langsung tersibukan dengan mulai sekolah magister sejak Januari 2011 dan wisuda Oktober 2012 lalu.  
 
5. Conference paper (2012) tentang analisa jadwal dan biaya kontrak EPCI (Engineering, Procurement, Construction, Installation); Balancing Project Schedule & Cost on Sour Gas Development Project Case Study. Paper bisa dikatakan merupakan titik tolak saya menjadi cost engineer yang akan berkembang dalam pekerjaan dan paper-paper selanjutnya. Dimana bersama rekan saya paper tersebut lolos dalam sebuah konferensi SPE (Society of Petroleum Engineers) di Doha, Qatar pada Mei 2012.
 
 
Kesempatan yang tidak saya sia-siakan dengan menjadikan Qatar sebagai transit menuju ke Baitullah bersama istri tercinta dengan metoda semi backpacking umroh selama 5 hari (Btw, harga tiket Jakarta-Doha-Jeddah vv sama dengan Jakarta-Doha vv hehe).
 
 
6. Conference paper (2012) tentang analisa keekonomian proyek pengembangan lapangan gas marjinal; The Model of Dynamic Project Economics On Marginal Gas Field Development: A Combination of Deterministic and Probabilistic Method. Paper ini dibimbing oleh senior analis di kantor yang di awal saya ceritakan. Paper ini menjadi conference proceeding dalam konferensi Indonesian Petroleum Association (IPA), Jakarta pada bulan Mei 2012. Jeda waktu antara SPE di Doha dan IPA Jakarta total hanya 7 hari, yang menjelaskan mengapa semi-backpacking umroh perlu dilakukan.
 
7. Academic paper (2012) tentang analisa keekonomian penjualan lapangan gas; The Economics Analysis of Asset Farm-out using Probabilistic Model Approach in X Gas Field Development Project. Tulisan ini merupakan Thesis saya yang sudah diuji secara akademis namun sebenarnya belum dibuatkan professional paper. Meskipun demikian, kurang lebih 1/3 dari Thesis tersebut terbahas dalam paper no 6 diatas.
 
8. Conference paper (2013) tentang implementasi gas kota di Kota Tarakan; The Operation-based CSR of Medco City Gas Program. Tema paper ini sangat jauh dari pekerjaan keseharian saya, namun saya menemukan tema ini di kuliah S2 tentang implementasi ISO 26000 di perusahaan minyak dan gas. Saya tidak banyak membahas, karena bersama dua rekan yang ahli, paper ini akan dipresentasikan di forum IPA pada bulan Mei 2013 nanti.
 
Masih mungkin ada 1 paper tambahan lagi yang bisa keluar 2013 jika lolos dalam konferensi SPE di Jakarta bulan Oktober 2013 nanti. Selain itu, ada 1 paper lagi yang sudah jadi akhir 2012 lalu, namun sedang digunakan untuk syarat sertifikasi profesi sekarang. Jika sudah lulus sertifikasinya, paper ini nanti akan saya coba kirimkan untuk jurnal cost engineering.
  
Kembali lagi, hobi menulis (yang dimulai dari blog ini) ternyata bisa menular di pekerjaan. Bahwa dengan paper maka saya bisa menginjak belahan bumi yang lain, tentu itu sebuah kesempatan yang diberikan secara langka (sulit persetujuan) oleh perusahaan, tapi harus dimanfaatkan!. Namun selain itu, proses aktivitas sejarah (dan amal jariyah) juga yang utama, dimana salah satu terbukti setidaknya dari 1 paper SPE saya sampai hari ini yang sudah di donwload lebih dari 100 kali.
 
Write you worked, work you wrote.
Life must go on..
 
 
Note: short description beberapa paper diatas bisa dilihat disini.