Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

Thursday, December 20, 2018

10 Catatan Travelling Australia 2018

Setelah 2014 lalu saya berkesempatan ke Australia dengan membuat 10 catatan travelling, pada Oktober 2018 ini saya dan keluarga kembali ke Australia yang bisa dianggap sebagai transit dalam rangkaian liburan ke Australia dan New Zealand (NZ). Ada baiknya kemudian untuk menuliskan kembali 10 catatan perjalanan ke Aussie versi 2018 dengan tetap mengambil sebagian dari poin catatan sebelumnya yang pasti berbeda kondisinya.

1. Visa immigration
Ada dua opsi visa yang mungkin dalam itinerary kami, yakni visa normal tourist atau visa transit. Visa transit harus melampirkan bukti flight selanjutnya yang maksimum stay di Aussie nya tidak lebih dari 72 jam (3 hari). Biaya transit visa ini lebih murah yakni zero (xcheck ya), sedangkan visa normal visitor AUD  140 per orang (lumayan kan kalau untuk 2 dewasa + 2 anak). Karena saat apply visa Aussie ini kami belum beli tiket ke NZ, jadi belum tahu benar apakah diantara 2 visits ini masing2 maksimum 72 jam. Biaya yang lumayan visa normal, untungnya agak terobati karena syukurnya dapat visa visitornya 3 tahun sampai 2021. Mungkin beberapa pertimbangan diantaranya karena saya pernah ke Aussie 2014 lalu, dan kami baik2 saja hidup di Aberdeen selama setahun. :)

2. Goods declaration
Saya bilang 2014 saat itu baggage checking dan goods declaration di custom relatif lebih ketat dibanding 2018 ini. Satu mungkin karena saya bawa keluarga dengan anak-anak (8 + 3 yo), kedua mungkin karena semakin banyak turis Asia (khususnya Chinese) yang datang kesana. Mungkin juga berdasar pengalaman paling2 yang dibawa orang Indonesia antara indomie, abon, atau mentoknya rendang yang 'relatif aman' dikonsumsi sendiri hehe. Dan sejauh ini mungkin tidak ada evidence dari tourist Indo yang bermasalah misal keracunan abon bekal dari Indonesia :p.

3. Local transport
Prinsipnya di Aussie untuk lokal transport (bus, tram, train) menggunakan card yang sayangnya belum bisa one for all regions. Untuk yang Victoria (Melbourne) pakai Myki, sedangkan di Sydney pakai Opal Card. Keduanya bisa dibeli dan top-up langsung di stores area Airport sehingga bisa langsung dipakai untuk airport transport. Jangan lupa untuk set up child fare (4-15 yo) di CS atau store nya, karena lumayan child fare bisa sampai 50% adult fare. Anak di bawah 4 tahun free (pas banget dengan usia Aidan hehe). Ada maximum fare per day, yang kalau sudah kena fare itu tidak kena charge lagi (belum di cek apakah bisa sampai keluar ke suburban). Di Melbourne, sekarang ada free-tram zone di area CBD-nya yang rasanya 2014 lalu belum ada. Penumpang yang naik dan turun di zona ini free ga perlu tapping Myki nya. So, sebenarnya ga perlu2 amat beli Myki kalau cuma main di CBD-nya aja.

4. Airport transport 
This is the most tricky and interesting thing! Dari airport (Tullamarine atau Avalon) Melbourne ke City atau sebaliknya, paling efisien naik Skybus dengan family ticket plus belinya online. Itu jadinya akan murah banget untuk ukuran family 2 adults + up to 3 children. Sayangnya kemarin beli return ticket tidak ada diskon lagi, jadi kalau belum pasti naik bus beli tiket agak mendadak. Oiya, validitas tiket nya sampai 3 bulan. Dan ketika mau naik bus tinggal di scan oleh driver nya ke email di HP kita.

Untuk Sydney dari airport yang paling efisien adalah sesuai saran disini, kami melakukan baik saat arrival atau departure. It did work! :)

If you want to save your money, the cheapest option is to take the local 400 bus toward Bondi Junction. Get off at the stop after the domestic terminal, which is only 300m from the Mascot rail station. If you catch the train at this station, you will not have to pay the GatePass fee ($12).

Taking the bus and then the train is not the most convenient option, but the bus will only cost $3.30 and the train $3.40.

5. Weather
Cuaca Aussie yang nyaman tidak terlalu panas dan dingin ada di fall (autumn) late Q1/early Q2 atau spring late Q3/early Q4 persis 2014 dan kemarin di Oktober.  Kalau 2014 dulu ngerasa Aussie hot karena saat itu berangkat dari Aberdeen yang suhu rata2 tahunan sekitar 10 deg C, kali ini tentu saya merasa lebih dingin karena berangkat dari Indonesia. Tapi ga dingin2 amat agak mirip2 Lembang lah, masih cukup tanpa jaket di siang hari nya. Dan dengan trip di waktu seperti ini, daylight nya sudah lebih panjang dimana sunset sekitar jam 7 malam.

6. Mobile number 
Karena rangkaian perjalanan kami tidak stay full di Australia (3 Aussie + 7 NZ + 3 Aussie), setelah hitung menghitung maka tetap menggunakan Telkomsel dengan paket promo roaming Asia Australia NZ lebih efisien. Lalu untuk no istri (Indosat), tinggal tethering dari no Telkomsel tersebut kalau buat social media dan Gmaps paket data roaming nya masih aman. Kalau misal lagi pisah lokasi, perlu komunikasi pakai sms atau paling kepaksa telepon (Alhamdulillah ga sampai telepon hehe).

7. Air BnB
Kalau 2014 dulu single trip orientasi nginap adalah hotel atau malah numpang ke teman, kali ini Air BnB menjadi opsi utama selama di Melbourne karena bisa masak dan family friendly. Kami sempat stay di Sydney, tapi memilih hotel Ibis karena ada cuma 1 malam dan kebutuhan adanya luggage storage ketika check-out pagi untuk jalan-jalan dulu sore ke airport. Air BnB jelas tidak punya fasilitas itu, di Melbourne kami sewa luggage storage di Southern Cross station pas di arrival terminal Skybus sebelum bisa check-in Air BnB di Jam 12-14 (Garuda Jakarta ke Melbourne landing jam 6 an pagi, Jam 9 sudah bisa sampai Skybus Southern terminal - CBD).

8. Kangaroo zoo
Belum ke Australia kalau belum lihat dan foto dengan Kangaroo (dan Koala). Ternyata Melbourne zoo tidak seperti di Adelaide yang lebih open space. Ada sesi2 khusus dengan tiket berbeda untuk photo close-up dengan Kangaroo. Meskipun demikian, Melbourne zoo lumayan bagus tata letaknya, cukup luas dan bermacam hewan. Penting pergi kesini pas hari Minggu sehingga anak-anak free. Beli tiket online juga bisa untuk mempersingkat ga perlu antri di loket masuk.

9. Gift shopping
Melbourne Victoria Market tetap jadi pilihan utama dengan banyak pedagang nya yang orang Indo untuk pernak pernik suvenir. Di Sydney, Paddy's market adalah pilihan utama. Di bagian lantai atas nya tempat yang nyaman untuk belanja dan makan, di lantai dasar nya (semi-basement) banyak pilihan pedagang retail souvenirs. Dan ada 1 toko yang cukup besar dengan pemilik (atau pelayan ya) 2 mbak-mbak Indonesia.

10. Refund VAT
Ini barangkali yang paling menarik kalau belanja di toko-toko resmi di Aussie (bukan 'kaki lima'). Ada skema VAT Refund yang bisa di proses di airport sebelum take-off dari Australia. Jika barang-barang yang dibeli ada yang disimpan di checked-in luggage, maka harus melaporkan ke bagian custom untuk checking barang dan jumlahnya benar akan dibawa keluar Australia. Tempat custom di Tullamarine Airport ada di dekat bagian lost and found keluar arrival international terminal. Kalau barangnya dibawa masuk cabin, maka perlu ditunjukan ke bagian refund VAT setelah secuity screening sebelum masuk ke waiting room untuk boarding. Artinya ada potensi tambahan marjin bagi para pelaku jastip hehe. Tapi jangan lupa dengan aturan custom di Indonesia ada batas maksimal belanja keluarga ya.


Tuesday, January 20, 2009

Antara Emosional dan Rasional

Konon otak kiri manusia dominant rasional, sedang otak kanan nya dominansi emosional. Konon juga, perempuan lebih banyak menggunakan sisi emosional dibanding rasional. Sedangkan laki-laki sebaliknya, lebih banyak menggunakan sisi rasional dibandingkan emosional. Walaupun tidak selamanya benar, namun secara umum hal itu benar adanya.

Mengambil sebuah keputusan dengan menyeimbangkan alasan rasional dan emosional tentu sebuah tantangan. Tidak hanya di lingkungan keluarga, namun juga di lingkungan pekerjaan yang biasanya sangat dominan wilayah rasional.

Bagi orang jawa (dan mungkin cina), segala sesuatu terkait dengan hari, harus lolos kualifikasi ’hari baik’. Perhitungan jawa yang sangat teliti akan melihat dan menganalisa apakah termasuk hari baik atau tidak. Hal ini menurut saya lebih ke arah ’emosional’, dimana disebabkan oleh kultural.

Momen-momen penting dalam tahapan hidup orang jawa tidak lepas dari perhitungan tersebut. Misalnya pindah rumah, menikah atau bahkan berpergian jauh. Karena keluarga saya adalah jawa yang masih sedikit banyak ’menghitung’, maka saya pun dikondisikan dalam koridor ’hari baik’ tersebut.

Saat saya memutuskan untuk mulai menempati rumah depok tengah november lalu, ibu ’menyarankan’ untuk menempatinya pada saat hari pasaran lahir saya dengan syukuran sebagai penghuni rumah baru. Padahal hari pasaran itu jatuh pada desember awal. Alasan saya untuk segera menempati rumah jelas, bahwa karena rumah sudah hak milik, buat apa mengeluarkan lagi uang untuk kos bulanan dengan hanya ditinggali 4 hari sebulan?

Alasan rasional itu saya sampaikan ke ibu saya dengan mengatakan bahwa syukuran kecil mengundang tetangga tetap dilakukan sebagai permisi ke tetangga baru. Namun tetap, bukannya redam malah ibu meminta untuk niat ’numpang tidur’ di rumah baru tersebut sampai hari pasaran itu tiba. Daripada berlama-lama, saya iya kan saja hal tersebut.

Konon, pindah rumah yang hakiki menurut orang jawa itu adalah saat memasukan tempat tidur dan perangkatnya ke rumah baru. Dan benar, ibu saya sampai meminta pada hari pasaran untuk membeli tikar, bantal dan guling untuk dimasukan ke rumah. Plus di kampung, ibu menggelar syukuran kecil dengan ’niat’ membatalkan syukuran awal saya bersama tetangga sekitar sebulan sebelumnya.

Tapi itu masih juga belum selesai. Awal tahun ini setelah pulang, saya masih diminta membawa sepaket beras dan gula putih. Awalnya masing-masing satu kilo, namun akhirnya berhasil ’nego’setengahnya. Katanya, syarat orang berumah-rumah itu ada bahan makanan yang disimbolkan oleh beras dan gula.

Anda mungkin tersenyum membaca cerita saya ini, tapi ini lah yang dihadapi seorang anak ’rasional’ dan ibu ’emosional’. Dimana seringkali kami benturan karena tarikan rasional-emosional tersebut. Namun setelah mulai muncul seseorang baru dalam kehidupan saya akhir-akhir ini, benturan tersebut sedikit sedikit bisa di damaikan.

Seperti pesan ibu lewat sms kepada beliau setelah ibu membawakan beras dan gula beberapa waktu lalu, ”Hendro ibu bawai beras dan gula setengah kg cuma sarat berasnya dimasak, gula semua jangan sampai kebuang. Itu pokok dari orang tua biar sempulur rejeki pangannya” *

Jadi, memang sudah ada orang yang tampaknya menjadi penengah ’hubungan’ antara saya dan ibu.. :)

* sempulur = lancar

Monday, January 12, 2009

Langkah Baru

Alhamdulillah, saya sedang menuju sebuah langkah baru yang besar dalam kehidupan. Langkah baru tersebut ditandai juga dengan pembuatan weblog baru, sebagai perpaduan dua insan blogger.

Saya berharap rekan-rekan akan sudi mengunjungi weblog kami, http://triandika.net

Weblog tersebut tidak akan serta merta menghapus jejak blog 3an ini (dan blog kisah). Akan ada saatnya kami menulis di blog bersama, dan ada kalanya kami menulis di blog sendiri.

Demikian sebuah langkah baru dimulai, terima kasih banyak atas partisipasi dan apresiasi nya selama ini. Do'akan pernikahan kami dan seterusnya berjalan dengan baik, amin.

Saturday, November 22, 2008

Menjadi Warga Depok

Awalnya proses pencarian tempat tinggal dilakukan dengan memilah beberapa lokasi di sekitar Jakarta yang potensial dijadikan hunian. Karena aktivitas kerja di Jakarta, maka prioritas utama adalah wilayah di dalam kota Jakarta sendiri.

Karena ’harga tidak wajar’ untuk ukuran ’layak’ hunian di dalam kota, kemudian beralih di Jakarta pinggiran. Jujur sebenarnya surveinya sendiri tidak dilakukan dengan optimal karena padatnya waktu yang tersisa saat di Jakarta (dibandingkan di Palembang). Serta tentunya keinginan kuat untuk memproses sebuah rumah secepatnya (tahun ini).

Dan akhirnya, pilihan pun jatuh ke Depok. Kenapa depok? Inilah beberapa alasannya menurut saya.
1. Harga rumah yang ’relatif terjangkau’ dimana tetap bisa mendapatkan hunian’cukup layak’. Memang dari biaya hidup umumnya tidak jauh berbeda dengan Jakarta, namun indeks harga pasti lebih rendah dibanding Jakarta.

2. Sarana transportasi yang tidak hanya mengandalkan jalan raya, tapi juga kereta api (KRL) yang scheduled, banyak waktu dan varian. Jika bosan motor/mobil/bus, bisa sesekali naik KRL. Untuk jalan raya sendiri, konon nantinya akan dibangun jalan tol dari Simatupang sambung ke Depok. Menuju Jakarta pun bisa menggunakan jalur alternatif non Margonda (Beji-Kukusan).

Pun alasan pribadi, dengan jadwal kerja selama ini 2 minggu di Palembang, 1 minggu kantor Jakarta dan 1 minggu off, maka praktis dalam sebulan saya hanya ’terjebak transportasi’ Depok-Jakarta selama 5 hari kerja (kadang malah cuma1 hari ke kantornya). Dengan kondisi ini tentu sangat tidak ekonomis jika meneruskan tinggal kos sekalipun di belakang kantor.

3. Universitas Indonesia. Ya..karena UI jadi salah satu pertimbangan. Saya bukan UI (dan dari dulu tidak punya cita-cita masuk UI!), tapi lingkungan kampus (UI dan beberapa kampus lainnya) memang membuat suasana kota menjadi lebih energik dan dinamis. Secara track record akademik pun, lulusan SMU Depok masuk ke kampus unggulan. Indeks pembangunan SDM Depok selama 2006-2007 tertinggi di Jawa Barat. Jadi lingkungan akademik cukup terkondisikan, pastinya untuk masa depan anak-anak nantinya.

4. Lingkungan kota yang relatif nyaman menurut saya dan teman yang lainnya dibandingkan ’kota satelit’ Jakarta lainnya. Depok itu kecil dan terpusat (coba bandingkan dengan Bekasi dan Tangerang), masih ada pedesaannya dan cukup kental nuansa Islamnya. Tentu ini terkait dengan pengaruh lingkungan sosial terhadap kehidupan keluarga (anak) nantinya.

5. Alasan lainnya. Untuk yang terakhir ini, anda pun bisa membuat alasan kelima versi masing-masing.

***
Akhirnya tepat 2 tahun sejak mentas dari kampus, saya membeli sebuah rumah. Sebuah rumah milik sendiri. Tentu tidak menggunakan uang sendiri, Alhamdulillah..ada kesempatan yang bisa dimanfaatkan di kantor.

Rumahnya relatif ’tidak besar’, simpel dan siap huni (dengan sedikit perapihan). Tentu pertimbangan lokasi strategis menjadi dasar memilih lokasi hunian. Termasuk di lingkungan Kota Depok, tidak jauh dari terminal ataupun stasiun Depok Baru. Dekat SMP, SMU dan pastinya UI. Pasar tradisional hingga pasar modern, RS, dan bank juga mudah di akses.

Saat akad di depan notaris dan akhirnya transaksi di Bank, perasaan saya deg-deg an. Saya belum pernah transaksi sebesar ini, dan yang lebih lagi karena itu sebuah rumah. Cukup mendebarkan saat dijelaskan hak dan kewajiban sebagai pembeli dan pemilik rumah. Saya belum pernah merasakan yang seperti ini, mudah-mudahan perasaan yang baik sehingga timbul tanggung jawab untuk merawat dan mengelola rumah, tidak hanya sekedar tempat pulang.

Terima kasih atas dukungan dan do’a teman-teman semua. Suatu waktu silahkan berkunjung dan sampaikan via pesan pribadi saja. Sekarang kondisinya masih kosong karena harus dirapihkan dulu sebelum pengisian rumah (plus mengatur budget, maklum rumah pertama hehe).

Terakhir, saya ingin berbagi diantara sudut dalam rumah yang paling saya sukai berikut. Hmm, tidak harus pintar memasak. Tapi setidaknya ’dia’ mau belajar memasak buat saya, buat kami.. :)

Monday, October 27, 2008

Kenapa mulai dengan rumah?

Saya punya beberapa alasan kenapa rumah menjadi salah satu milestone penting dalam hidup seseorang dalam merangkai kehidupannya.

1. Kebutuhan rumah tinggal. Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa rumah termasuk kebutuhan dasar manusia, yang kita ingat dulu terdiri atas sandang, pangan dan papan (tempat tinggal). Setiap manusia membutuhkan tempat tinggal.

Bisa jadi memang tempat tinggal tidak harus berbentuk rumah, misal gua jika di hutan atau apartemen jika di kota besar zaman sekarang. Tapi pada dasarnya tetap, tidak bisa tidak, bahwa setiap manusia membutuhkan tempat tinggal (rumah).

Lalu seiring perkembangan kehidupan manusia, dunia properti pun semakin dinamis sesuai karakter manusia masa kini. Dan tren masa kini tampaknya anak muda mapan lebih suka berburu rumah dibandingkan harus tetap tinggal bersama orang tuanya.

2. Harga rumah semakin mahal. Ini kita ketahui dan patut disadari bahwa setiap tahun harga tanah dan rumah naik cukup besar (bergantung lokasinya). Dan buat kalangan yang mengandalkan kredit kepemilikan rumah dari potong pendapatan bulanan, perlu diwaspadai bahwa kemungkinan kenaikan harga tanah dan rumah per tahun selalu di atas kenaikan pendapatan per tahun.

Dengan demikian berlaku ’hukum’ bahwa semakin cepat membeli rumah, maka akan semakin menadapatkan harga rumah optimal. Apalagi untuk orang yang secara finansial mampu, sudah selayaknya untuk segera memilki rumah sedniri. Tentu saja cepat membeli rumah ini harus dibarengi dengan ilmu dan teknik dengan pertimbangan kebutuhan, lingkungan dan prospek kehidupan masa depan.

3. Investasi stabil. Di bandingkan investasi jangka panjang lainnya, rumah paling stabil. Margin mungkin tidak akan sampai melebihi jika ’bermain saham’ atau reksadana, tapi kemungkinan loss dalam investasi rumah pun jauh lebih kecil. Dalam situasi gonjang-ganjing ekonomi dunia saat ini, maka memilki rumah cukup menjaga nilai asset kita.

Resiko mendasar dalam investasi rumah memang sulit mencairkannya kembali, dibandingkan dalam instrumen keuangan. Ini mungkin kelemahan investasi dalam rumah, tanah atau tempat tinggal. Tapi bisa juga ini dipandangn sebagai kebutuhan pertimbangan matang dalam melakukan investasi tersebut. Intinya, jika punya kecukupan dana berlebih tidak lantas diguyur untuk membeli beberapa tempat tinggal, namun cukup sesuai dengan pertimbangan kebutuhan, lingkungan dan prospek masa depan.

4. Pengeluaran tepat orientasi asset. Ini alasan yang sangat praktis, bahwa pengeluaran dalam bentuk uang sewa tidak akan menghasilkan asset. Sewa rumah untuk tinggal atau kamar kos, selamanya tidak akan menjadi asset penyewanya.

Jadi lebih baik melakukan kredit rumah (sama-sama pengeluaran rutin bulanan) daripada pengeluaran untuk sewa tempat tinggal. Karena kredit rumah (tempat tinggal) pada periode akhir kredit akan menghasilkan asset kepemilikan penuh rumah, sedangkan sewa tidak akan menghasilkan asset selamanya.

Walaupun memang relatif lebih murah untuk sewa dibanding kredit pembelian. Tapi dengan pertimbangan sekecil apapun rumah itu kalau kepemilikannya sendiri maka akan menjadi bagian tetap asset kita.

5. Alasan Emosional. Ya..karena alasan emosional sehingga memutuskan untuk cepat membeli rumah. Bukan karena tuntutan, tapi lebih tepatnya karena tekad dan kemauan tertentu.

Misalnya, seorang suami yang ingin segera mempunyai rumah untuk tempat tinggal istri atau keluarganya. Atau, seseorang yang punya tekad ingin memiliki rumah sendiri sebelum menikah maka dia berusaha mewujudkan sungguh-sungguh tekadnya itu. Filosofinya ingin mempunyai rumah dulu, kemudian baru mencari ’yang mengurusi rumah’ tersebut.

Lalu ada juga yang tersinpirasi karena sebuah cerita pendek. Koq? Ya.. anda harus percaya bahwa ada yang salah satu inspirasi ingin memiliki rumah sendiri karena cerita tersebut. Dalam cerita tersebut memang digambarkan tentang sebuah perselingkuhan yang tidak berhasil, dimana akhirnya laki-laki kembali ke istrinya kembali. Hal itu karena sang istri mensyaratkan suami sebelum mencerainya untuk membopongnya keluar rumah setiap pagi selama 30 hari seperti halnya dulu suami membopong istrinya pertama memasuki rumah itu setelah menikah.

Masuk akal? Tidak perlu berpikir terlalu dalam tentang alasan emosional itu. Hanya sebuah alasan dan masing-masing orang juga berbeda. Dan lima alasan diatas, menurut saya sudah cukup kuat untuk menjadi pertimbangan penting memilki rumah dalam menapak tahap kehidupan.

***

Buat saya pribadi, contoh alasan kelima diatas (rumah sebelum menikah) tidak akan mengurangi sedikitpun rasa respek saya buat teman-teman yang telah berani menikah terlebih dulu. Jadi buat yang sudah di ambang pintu menuju pernikahan, harus makin mantap dengan pernikahannya tersebut.

Pun keinginan saya tersebut belum tentu tercapai (mohon do’anya ya, amin). Dan menurut saya, mengurus pembelian rumah tidaklah serumit (dan se deg-deg an) daripada menyiapkan sebuah pernikahan. Betul kan kawan? :)

Monday, October 06, 2008

Dokumen Penilaian Rumah

Penilaian rumah yang dilakukan oleh pihak ketiga (agen independent) digunakan sebagai dasar bagi yang berkepentingan. Buat yang hendak mengajukan kredit pembelian rumah kepada Bank atau perusahaan, maka penilaian rumah (appraisal) ini sangatlah penting. Karena harga yang ditawarkan penjual belum tentu menggambarkan keadaan rumah yang sebenarnya, sehingga penilaian ini menjadi dasar penentuan dana cair untuk pembelian rumah tersebut.

Pendekatan dan metode penilaian yang digunakan adalah;
1. Pendekatan Data Pasar
Pendekatan ini mempertimbangkan penjualan dari properti sejenis atau pengganti dan data pasar terkait, serta menghasilkan estimasi nilai melalui proses perbandingan. Biasanya, properti yang dinilai dibandingkan dengan properti yang sebanding yang telah terjadi maupun dalam tahap penawaran penjualan dari suatu proses jual beli.

2. Pendekatan Biaya
Metode ini digunakan untuk menentukan suatu nilai properti berdasarkan perhitungan seluruh biaya-biaya yang diperlukan untuk pengadaan, pembangunan/penggantian properti yang identik. Nilai yang dihasilkan disebut nilai reproduksi. Dari biaya reproduksi ini, dilakukan penyesuaian berupa penyusutan akibat kerusakan fisik, kemunduran fungsional, dan kemunduran ekonomi.

Dalam laporan penilaian, disebutkan juga uraian properti yang dinilai. Mulai dari lokasi dan peruntukan, fasilitas dan keadaan lingkungan, data kepemilikan tanah, perijinan, dan penggunaan terbaik dan tertinggi (highest and best use).

Berikutnya adalah proses penilaian itu sendiri. Penilaian properti terdiri dari;
Penilaian Tanah
Dengan menggunakan perbandingan data pasar, dilakukan justifikasi properti terhadap, faktor lokasi, fakor kondisi fisik, faktor luas dan bentuk tanah, faktor best and highest use, faktor status kepemilikan, dan faktor waktu. Data transaksi yang menjadi dasar nilai adalah nilai properti sebandingm, terutama di sekitar lokasi terdekat dari properti yang dinilai.

Penilaian Bangunan
Penilaina bangunan berdasar kondisi bangunan menyangkut jumlah lantai, sifat bangunan permanen/tidak, konstruksi, pondasi, atap, plafon, dinding, partisi, lantai, pintu, jendela dan luas total nya. Dari kondisi bangunan ini, didapatkan nilai dari bangunan tersebut. Selain itu, ada nilai untuk sarana pelengkap, yaitu daya listrik, air bersih dan telepon.

Terakhir, kesimpulan dari sebuah penilaian properti adalah perbandingan antara Biaya Reproduksi dan Nilai Pasar. Biaya reproduksi umumnya lebih besar dari nilai pasar, karena nilai pasar mempertimbangkan penyusutan dari fisik bangunan dan sarana pelengkap. Untuk nilai tanah, antara biaya reproduksi dan nilai pasar sama karena perhitungan dilakukan untuk saat dilakukan penilaian (tidak melihat masa lampau).

Sebuah laporan penilaian yang lengkap juga disertai oleh peta lokasi, plot properti, dan copy sertifikat tanah. Untuk membuat sebuah laporan penilaian, sebuah agen penilai indenpenden membutuhkan waktu 2-3 hari termasuk survei asal data yang dibutuhkan lengkap (IMB, SHM, PBB).

Jika anda punya kelebihan uang, tidak ada salahnya untuk ’iseng’ menilai berapa sebenarnya nilai properti anda. Tarifnya ’tidak terlalu’ mahal, untuk Jakarta sekitar 500 ribu sampai 1 juta. Buat yang ingin membeli rumah dengan mangandalkan kredit, penilaian ini semacam ’wajib’ dan menjadi tanggungan calon pembeli. Kecuali jika anda meminjam dana dari orang tua atau (calon) mertua, maka tidak usah repot-repot dan pusing dengan penilaian properti macam ini.

Thursday, August 14, 2008

Mencari rumah

Bulan-bulan ini saya sedang giat-giatnya mencari rumah di sekitar Jakarta. Inginnya dalam tahun ini rumah tersebut sudah terealisasi. Bukan apa-apa, buat saya rumah itu penting, bahkan lebih dulu di bandingkan menikah (maunya, realisasinya tidak tahu). Lho?

Filosofinya, saya ingin mempunyai ‘sangkar’ dahulu baru kemudian mengajak pasangan tinggal di sana. Bisa menjadi kisah masuk rumah yang indah setelah menikah nanti. Itu artinya pasangan itu juga harus mau tinggal disana. Kalau tidak mau, rumah sebagai investasi bisa di alihkan nantinya. Tapi konon, orang tua lebih tenang melepas putrinya jika calon menantunya sudah punya rumah (dan pekerjaan pastinya).

Alasan logisnya, susah nyari rumah akhir-akhir ini di Jakarta. Lahan yang makin langka. Plus, harganya yang semakin ‘tidak menusiawi’, apalagi kalau ditunda-tunda hingga tahun berganti. Dan sebagai bagian dari investasi jangka panjang, rumah salah satu jawabnya.

Awal tahun ini dalam sebuah pameran properti di JCC, muncul beberapa kandidat yang ingin di tindak lanjuti. Dari sisi budget, ada yang sesuai dengan anggaran. Kekurangannya, lokasinya yang di pesisir jakarta atau di luar jakarta yang pastinya akan membutuhkan banyak waktu dalam akses kesana. Kalau saya tidak masalah, keluarga nantinya khawatir kerepotan.

Beberapa teman karena pertimbangan lokasi lebih memilih apartemen di pusat kota, dimana harganya mirip dengan rumah di luar kota. Bedanya tentu saja lingkungan sosial, dan tanah. Setidaknya ingin mempunyai rumah utuh terlebih dulu, dan jika nanti di masa depan ingin mencoba ke apartemen bisa dipertimbangkan.

Ada tawaran tanah, maka harus siap dengan usaha membangun rumah sendiri. Adakah agen atau biro yang menyediakan jasa pembangunan rumah dari awal sampai jadi? Misalnya kita sediakan lahan 10 x 15 m, lalu memilih design dan di bangunkan oleh biro tersebut.

Ada teman yang giat untuk mencari rumah second di dalam jakarta. Harganya mahal, tapi kalau memang berjodoh maka rumah idaman bisa di dapatkan.

Kalau disuruh memilih, inginnya rumah di Jakarta yang siap pakai (means second?). Rumah tersedia minimal 2 kamar tidur dan 1 kamar tidur pembantu. Lokasinya setidaknya masih masuk kota jakarta dan mudah di akses. Kalau harga, hmm… ini rahasia. Biasa, berharap fasilitas kredit perusahaan.

Saya sedang mencari rumah. Jika ada informasi, saya akan berterima kasih sekali.

Wednesday, July 23, 2008

Keuangan masa depan

Setelah belajar tentang bagaimana mengelola keuangan dan mulai investasi, sekarang waktunya untuk belajar memprediksikan sumber-sumber pengeluaran masa depan yang seringkali dilupakan, padahal semakin dini dipersiapkan semakin baik.

Menurut saya, beberapa kebutuhan penting keuangan masa depan yang harus di susun rencana nya sebagai berikut.

Dana pensiun
Banyak orang berpikir dana pensiun hanya cocok dipikirkan oleh orang yang berusia diatas 40 tahun. Atau pensiun cukup di cover oleh asuransi pensiun yang difasilitasi perusahaan sekarang. Padahal dana pensiun seharusnya dipersiapkan secepatnya seseorang cukup mapan dalam suatu pekerjaan, karena makin cepat dipersiapkan bebannya menjadi makin ringan.

Jikalau dana pensiun hanya mengandalkan asuransi pensiun, maka harus dipastikan bahwa dana tersebut cukup meng-cover kebutuhan hidup pensiun per bulan kita di masa datang. Inilah yang penting dalam merencanakan pensiun, berapa biaya standar biaya hidup masa depan yang kita inginkan? Biaya hidup masa depan didapatkan dengan menormalisasikan biaya hidup sekarang dengan asumsi inflasi.

Dana pendidikan
Jika pensiun secepatnya dipersiapkan ketika seseorang cukup mapan dengan penghasilannya, maka dana pendidikan dipersiapkan secepatnya setelah menikah, sekalipun subyek dana pendidikan tersebut (anak) belum ada. Prinsipnya sama, semakin dini dipersiapkan maka beban masa kini juga akan semakin ringan.

Jumlah dana pendidikan harus direncanakan untuk berapa subyek, dan menghitung kebutuhannya di masa depan. Dengan menormalisasikan biaya tiap jenjang pendidikan sekarang menggunakan asumsi inflasi, maka kebutuhan di masa depan bisa diprediksikan. Dan perusahaan asuransi pendidikan akan senang hati membantu menyiapkan dana pendidikan tersebut, dengan catatan nama subyek dikosongkan dahulu karena belum lahir.

Dana asuransi
Maksud dari dana asuransi ini adalah asuransi untuk menjamin ’properti’ kita, seperti rumah, mobil dan kesehatan. Konon katanya, tingkat kesejahteraan sebuah negara salah satunya bisa dilihat dari seberapa sadar masayarakat negara tersebut aktif untuk ber-asuransi. Artinya untuk Indonesia, tampaknya memang belum mencapai tingkat kesadaran pentingnya asuransi.

Untuk rumah dan mobil (menurut orang yang berpengalaman), kita harus mempelajari dengan detil premi dan ketentuan klaim yang bermacam-macam. Kuncinya mari ditanyakan ke dalam hati kita, apa kebutuhan kita? Jangan sampai jauh under apalagi overestimated sehingga pemborosan. Inilah yang sulit, karena seringkali dengan iminng-iming akhirnya kita memilih ’berlebihan’ yang tidak melebihi kebutuhan kita.

Begitu pula dengan asuransi kesehatan. Jika kesehatan sudah ikut ter-cover melalui kantor, maka mubazir jika masih membuat asuransi kesehatan lagi dengan alasan preventive. Sekali lagi, apa betul itu kebutuhan kita? Menurut saya, asuransi yang berkaitan dengan tubuh kita jika asuransi kesehatan pokok sudah ada adalah asuransi kecelakaan yang menyebabkan cacat permanen atau meninggal. Hal ini semacam ’biaya bertahan hidup’ kepada keluarga karena kondisi yang tidak dinginkan tersebut.

Setelah mencoba menentukan sumber-sumber kebutuhan masa depan, maka sekarang bagaimana untuk mencapai tujuan masa depan tersebut.

Sebagain besar dari kita mungkin akan menjawab dengan membeli asuransi pendidikan dan pensiun, sebagai cara untuk mencapai tujuan itu. Namun jangan lupa, bahwa investasi sebenarnya salah satu sarana mencapai tujuan itu. Dan jika sudah menggunakan instrumen investasi, maka kita harus jeli melihat resiko dan jangka waktunya (tidak hanya ’janji’ return atau margin).

Satu lagi yang saya percaya, untuk tidak akan mencampuradukan antara asuransi dan investasi. Karena saat ini semakin banyak perusahaan asuransi yang membuat kombinasi, dengan iming-iming asuransi sekaligus investasi. Karena tujuan keduanya berbeda (resiko, waktu, return), fee nya kemungkinan lebih besar daripada asuransi atau investasi saja, dan pada akhirnya tidak akan bisa optimal. Asuransi adalah asuransi, investasi adalah investasi.

Saatnya mempersiapkan dan mengkondisikan keuangan untuk masa depan. Dan jangan lupa, masa depan akhir manusia nantinya adalah akhirat. Jadi keberkahan pun harus melekat dalam persiapan ini. Wallahu’alam..

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)... [Q.S Al Hasyr 59: 18]

Thursday, July 17, 2008

Pernikahan yang Akrab

Dalam menghadiri pernikahan seorang teman di Bandung minggu lalu, seorang kawan mengingatkan saya tentang sebuah tulisan Zaim Ukhrowi tentang pernikahan. Saya kebetulan menyimpan sebagian artikelnya dari Republika, dan ingin membaginya disini. Setidaknya selain menjadi khasanah renungan kita (terutama yang belum menikah, atau yang sedang menyusun resepsi seperti Aan), juga mudah-mudahan semakin banyak lagi model resepsi yang dijabarkan berikut.

***
Baru-baru ini saya menghadiri pernikahan seorang kerabat. Pesta pernikahan itu biasa saja. Bukan di gedung besar. Bukan pula penuh pernak-pernik yang membuatnya megah. Sebaliknya, perhelatan itu justru dilakukan di rumah. Cukuplah tenda terpasang di halaman serta jalan buntu di depannya. Sebuah tenda biasa, dan bukan tenda paling megah, Makanan ditempatkan di meja sederhana bertaplak putih di garasi rumah itu.

Jumlah undangannya tidak banyak. Hanya kerabat dekat dan sahabat kedua mempelai yang hadir. Pembawa acara serta pembaca doa kerabat sendiri. Musik dimainkan oleh teman-teman pengantin. Tidak ada beragam upacara adat yang rumit yang mengiringi pernikahan itu. Pakaian serta tata rias pengantin juga biasa saja. Cuma sedikit lebih formal dibanding pada hari biasanya, namun cukup anggun untuk dipandang sebagai gambaran pernikahan.

Sekali lagi, tak tampak hal luar biasa dari acara perbnikahan itu. Tetapi, saya merasa sangat nyaman berada di sana. Ada suasana yang jarang saya peroleh dari menghadiri kebanyakan pesta pernikahan pada acara tersebut. Saya merasa, suasana pernikahan itu sangat akrab. Pembawa acara dengan sangat ringan menyapa, bahkan berseloroh, pada tamu-tamunya. Hal itu wajar karena memang ia mengenalnya persis.

Antarkawan juga bisa saling dorong untuk menyanyi, atau memainkan musik. Para tamu juga saling sapa, hingga berbincang akrab. Pengantin juga tak harus terus-menerus berdiri tegak di tempatnya dengan terus-menerus memasang senyum anggun, menunggu diberi ucapan selamat. Sesekali, mereka seperti 'menjemput bola', berjalan (kadang bersama, kadang sendiri-sendiri) mendatangi tamu, bertukar kata secara ringan.

Suasana pernikahan demikian sungguh berbeda dengan pesta pernikahan yang kini lazim. Tapi, suasana itu justru mampu mengingatkan: apa makna pesta pernikahan? Kita acap merancang pesta pernikahan seagung dan semegah mungkin. Alasan kita, itu hari yang benar-benar istimewa. Lalu, kita merancang segalanya agar sempurna. Mulai dari bentuk undangan, atribut kenang-kenangan, seragam pakaian, tempat pelaminan, makanan, hiburan, dan sejuta pernak-pernik lainya.

Begitu banyak yang harus diurus, dan begitu banyak yang ingin mengurus agar benar-benar sempurna. Hasilnya, seringkali pesta pernikahan justru menjadi ajang ketegangan keluarga. Alih-alih melahirkan suasana yang hangat, pesta pernikahan banyak yang kemudian menjadi sekadar formalitas. Pesta pernikahan kita acap bergeser fungsi dari acara bersyukur dan memohon doa menjadi ajang pamer gengsi dan atribut diri. Banyak tamu hadir dengan perasaan terpaksa. Tak enak tidak datang karena sudah diundang. Jika demikian, doa restu apa yang dapat kita harapkan?

Kesederhanaan dalam pernikahan hari itu menyeret saya pada pertanyaan yang dalam. Apa ya sulitnya berpikir dan bersikap sederhana seperti itu? Jangan-jangan kerumitan kita dalam menggelar pesta perkawinan adalah refleksi dari kerumitan cara berpikir dan bersikap secara menyeluruh. Kita lebih mementingkan atribut ketimbang makna. Kita memenangkan formalitas dibanding otentitas dan spontanitas. Kita mengedepankan gengsi ketimbang esensi. Pantas jika bangsa kita masih jauh dari efektif.

.... - by: Zaim Uchrowi

***

Sebuah pernikahan yang bersahaja. Bagaimana menurut anda?

Friday, February 22, 2008

Memasak itu seperti membaca

Banyak yang menanggapi dengan adanya fenomena ibu-ibu zaman sekarang. Bisa memasak memang bukan syarat menjadi istri, tapi syarat menjadi koki. Memasak dan membeli makanan pun bisa dipandang dengan analisis ekonomi, mana yang lebih untung dilakukan dengan usaha yang sedikit. Maka membeli makanan dalam keseharian keluarga kecil lebih hemat daripada memasak sendiri.

Semua logika diatas benar adanya. Namun ada pendapat yang sangat humanis, saat seorang ibu mendengar dari anaknya sendiri bahwa masakan ibunya enak. Maka segala ‘jerih payah’ memasak pun menjadi hilang.

Dalam keluarga, memasak sebenarnya merupakan keahlian dasar. Sama halnya dengan membaca (dan berhitung), maka memasak sama halnya dengan keterampilan untuk memenuhi kebutuhan yang dasar. Karena kebutuhan dasar manusia salah satunya adalah makan (kebutuhan paling dasar?), maka usaha pemenuhan kebutuhan itupun menjadi fundamental.

Mari membayangkan sebuah analogi berikut. Jika seseorang tersesat di tengah hutan, maka keterampilan dasar yang dibutuhkan adalah membaca situasi, petunjuk jalan, atau arah angin. Membaca, itu kata kuncinya. Lalu jika semua usaha membeli makanan diluar jadi tidak ada alias tutup, maka keterampilan dasar bagi sebuah keluarga adalah memasak untuk mencegah kelaparan.

Jadi, memasak itu seperti membaca sebagai keterampilan dasar yang seharusnya dimiliki oleh semua manusia (terutama kaum hawa). Ya, semua manusia karena kebutuhan makan itu menyangkut semua manusia.

Kemampuan memasak dalam sebuah keluarga juga penting untuk memantau asupan gizi yang diberikan kepada keluarga. Kita tidak pernah bisa pasti melihat semua makanan di luar sehat dari bahan, pemasakan dan cara penyajian. Tapi jika dilakukan sendiri, pemantauan itu dalam kontrol. Hal ini sangat penting misalnya saat-saat masa pertumbuhan anak dalam keluarga tersebut.

Dalam sebuah survei kasar, saya amati bahwa kemampuan memasak perempuan dewasa (baca: mahasiswi) zaman sekarang jauh menurun. Kesibukan aktivitas, kuliah dan bermain. Semua memang bisa dibeli saat ini, tapi dengan analogi dan pertimbangan diatas, maka kemampuan memasak tetap penting adanya. Dalam potret keluarga di luar negeri pun, selalu ditampilkan suasana makan bersama di keluarga dengan masakan rumah.

Tidak perlu mengernyitkan dahi karena memasak makanan yang rumit ala hotel bintang lima. Saya tidak ahli dalam menentukan kemampuan memasak apa yang sebaiknya minimal dimiliki. Setidaknya, dengan analogi tidak bisa membeli diluar diatas, maka masakan dasar pun tak jadi soal asal berasa, sehat dan pastinya enak.

Ini bukan pemaksaan kehendak bahwa semuanya harus bisa memasak. Memang ada bakat, tapi tetap lebih besar pengaruh niat (betul kan?). Sibuk bekerja sehingga membeli makanan diluar, atau menggunakan tenaga ‘juru masak’ tak jadi soal asalkan proporsional, dan tidak berarti tidak butuh kemampuan memasak sesuai uraian diatas. Sekali lagi ini kembali tentang niat.

Dan buat kaum adam sendiri, tentu akan lebih bahagia jika punya (calon) istri yang bisa memasak. Akhirnya, selamat belajar memasak. :)

Wednesday, January 30, 2008

Ibu-ibu zaman sekarang

Pagi ini sarapan di warung dekat kontrakan. sembari melahap dengan menahan rasa, karena badan yang kurang sehat. terdengar singkat dua ibu masuk ke warung untuk membeli makanan.

Awalnya wajar saja, mereka membeli beberapa lauk dan nasi. tapi kemudian salah satu ibu itu menyela,

"enakan beli gini bu ya, daripada masak sedikit dan cape," kata ibu pertama

"iya bu, saya juga suka beli daripada masak sendiri," timpal ibu kedua

Karena perhatian sudah diarahkan ke pembicaraan dua ibu tersebut, maka sebentar melihat bahwa salah satunya membayar lauk dan nasi yang dibelinya sejumlah 15 ribu. dalam hati kemudian berpikir, memang masuk akal kalau 'hanya' 15 ribu dibandingkan cape jika masak sendiri.

Tapi kemudian berpikir, jam sepagi ini (sekitar jam 8) dan ibu ini tidak dalam kondisi berangkat kerja (terlihatnya ibu rumah tangga biasa), apa yang dilakukan lagi kalau makanan beli terus tidak masak lagi??

Ok, untuk perempuan yang punya aktivitas fenomena 'membeli makanan' diatas sudah jamak dan hal yang wajar. tapi bagaimana dengan dua ibu rumah tangga ini, atau banyak ibu-ibu lain yang berpikiran sama seperti itu.

Jadi bagaimana menurut anda fenomena ini, dari kacamata laki-laki atau perempuan sendiri?

Saturday, December 22, 2007

Menjelang tidur

"Nak, kamu harus segera tidur. Mamamu sudah dari tadi memintamu untuk segera tidur kan?" kata sang ayah kepada putranya.

"Ayah.., sebentar lagi ya! Ini tanggung bacanya, lagi seru-serunya. kan kata ayah, sehari 50 halaman," si anak sungguh-sungguh menjelaskan kepada ayahnya.

"Iya.. tapi mamamu benar juga nak. besok pagi kamu harus ikut jama'ah shubuh di masjid sama ayah."

"Aku janji deh yah, besok ikut ke masjid. Asal dibangunin..." jawab si anak sambil senyum kecil.

"Oh, baiklah. Sekarang janji ke ayah dulu ya, segera berangkat tidur setelah 50 halaman. Sudah malam nak, mamamu khawatir. Mama sayang sama kamu."

"Ya ayah, aku janji. Tapi ayah jangan bilang ke mama ya, kalau aku belum tidur sekarang." "hmm.., ok. Selamat tidur sayang. Besok pagi kita shubuh ke masjid, ok?"

"Ok yah!"

"Tapi, tapi ayah.." si anak kembali menyahut persis sebelum ayahnya beranjak dari tempat tidur.

"Besok abis shubuh dan mengaji, boleh tidur lagi? Kan libur.. hehe," si anak senyum manja kepada ayahnya.

"lho.. bukanya besok kita mau lari pagi?"

"ya.. setengah jam juga lumayan ayah, membayar malam ini.. hehe"

"Wah, kamu ini yaa. Ssssttt....!" sang ayah berkata sambil menutup jari telunjuk tangannya ke mulut.

"Aku sayang ayah...., " sergap si anak merangkul sang ayah.

"Jangan lupa berdo'a ya. Have a nice dream sayang!"

***
padahal, tidak hanya ibu!
selamat hari ibu..


:)


@ oil field, south sumatera

Monday, June 18, 2007

tentang memberi nama

Seorang bayi terlahir ke dunia, kemudian kedua orang tuanya pun 'menghadiahkan' sebuah nama padanya. Nama adalah do'a, sehingga memberikan nama yang baik adalah wajib.

Bagaimanakah nama yang baik itu? Yang memancarkan do'a disana? Disinilah, orang tua mencarikan nama-nama, yang kadang menemukan kesulitan. Meminta bantuan kerabat, teman atau tokoh kadang dilakukan.

Tidak ada pedoman yang pasti tentang memberi nama, intinya memberi nama yang baik (dan do'a tadi). Bagi orang Islam, nama yang baik diidentikan dengan nama-nama Islam (baca: Arab). Apalagi bagi para aktivis pergerakan Islam yang marak dewasa ini. Sehingga bisa kita jumpai hari-hari ini, nama-nama 'Islam' sangat ramai di tengah-tengah kita.

Namun menurut saya, nama yang baik bukan hanya nama dalam bahasa Arab semata. Dan secara substansi, nama baik bisa dihadirkan dalam bahasa indonesia, daerah semisal jawa atau bahasa asing lain yang memberikan arti kebaikan, harapan atau do'a.

Dan karena nama juga identitas, maka pencantuman 'identitas lokal' dalam sebuah nama anak ada bagusnya. Bukan berarti nama yang semua Arab itu kurang baik, namun lagi-lagi secara substansi nama non-Arab pun bukan masalah.

Yang kadangkala pula, nama Arab (atau asing) lebih sulit diucapkan oleh lidah indonesia, seperti nama Muti'ah Najiatuzzahra. Alih-alih memberikan do'a, jangan-jangan karena salah ucap bisa berbeda artinya. Apalagi jika pemberiaan nama ala Arab dilakukan secara serampangan asal terlihat keren, misal: Muhammad Imam Syaithoni (?!?!!).

Menurut saya, justru merupakan 'keindahan' jika nama 'Islam' tersebut digabungkan dengan nama-nama lokal, semisal dalam istilah jawa atau sunda. Semacam kombinasi, antara identitas 'universal' Islam (bahasa Arab) dan identitas lokal. Dalam istilah yang lebih rumit, membuat tidak tercerabutnya lokalitas dalam sebuah nama. Contoh yang menarik, dari nama Nadya Paramitha-Nadya dalam arab artinya penyeru, sedangkan Paramitha dalam khasanah jawa artinya anggun), buah hati kedua antara mbak Helvy Tiana dan mas Tomi.

Hal ini pula yang sering saya sampaikan, jika bertemu seorang kakak, atau kenalan yang sang istri baru melahirkan dan sedang dalam pemberian nama bagi anaknya, atau yang sedang hamil tua. Selama ini dari beberapa orang rata, dan ada yang pada akhirnya tetap memberikan edisi full-Arab-version. Bukan jadi soal (apalagi saya 'orang luar' yang memberi pesan), karena sekali lagi, sebstansi nama adalah do'a dan harapan.

**
Lalu, jika kemudian kita diberikan kesempatan untuk mengusulkan nama, seperti tengah bulan lalu saya mencoba bernostalgia dengan masakan Mas Muslimin. Istrinya yang dinikahi beberapa bulan lalu, sedang mengandung bulan ke-5. Dan sekalipun sering meminta kakak atau teman untuk memberikan nama anaknya dengan kombinasi universal-lokalitas diatas, memberi usulan sebuah nama, tentu bukan perkara gampang. Pun Mas Muslimin juga setuju dengan usul adanya kombinasi tersebut.

Waktunya kurang lebih 2 bulan lagi. Dimana setelah nyari-nyari di internet, belum ada source nama-nama terutama bagian identitas lokal. Apa harus membuka Primbon kembali? Kalau sudah seperti ini-meminjam ucapan seorang guru, ane kan jadi bingung!.

Jadi kalau teman-teman ada usulan, silahkan dituliskan. Bener, mohon sharing-nya. Untuk nama laki-laki dan perempuan, sekaligus artinya kalau bisa. Terima kasih banyak.

Note: postingan ini akan 'relatif lama', dan update sesuai usulan nama yang masuk.

- Syaifullah Muhammad Abdi // Ghina Sukma Paramitha (terima kasih Mr Fajarsyah)
- // Halwa Lutfiah (terima kasih Pyuriko)

Saturday, February 24, 2007

tentang niat menikah

Untuk apa menikah? Beberapa jawaban mungkin timbul dari pertanyaan ini, karena kodrat, ibadah, mencegah dosa, butuh melindungi dan dilindungi, kasih sayang, menurunkan generasi, dan lain sebagainya. Menurut saya untuk coba membuat sederhana, menikah itu memiliki dua tujuan utama. Satu tujuan agama atau keyakinan (ibadah dll), kedua tujuan pribadi sebagai pribadi manusia (cinta dsb).

Dan ada tujuan sekunder lain untuk menjadikan menikah menjadi lebih sempurna, yaitu tujuan sosial. Tujuan sosial artinya tindakan kita untuk menikah, memberikan dampak ke sosial mulai dari keluarga hingga masyarakat yang lebih besar. Dengan mempunyai tujuan sosial, maka menikah tidak hanya duduk dalam ruang privat kehidupan manusia.

Jika dengan tujuan agama atau pribadi telah jelas bentuk ejawantahnya, lalu bagaimana menikah dengan memberikan efek sosial? Sekarang mari kita bermain dengan data sebagai salah satu contoh, dalam hal ini pandangan Islam.

Potensi zakat indonesia menurut KH Didin Hafidudin sampai sekitar 20 triliun rupiah (what a huge number). Di sisi lain, anggaran pendidikan 2007 dimana pendidikan adalah masa depan bangsa ‘hanya’ sebesar 90,10 triliun atau 11,8% dari total APBN 2007 sebesar 763,4 triliun. Jumlah anak putus sekolah juta anak yang masih tinggi (sekitar 4,5 juta) menjadikan rasio pertisipasi pendidikan penduduk indonesia baru sebesar 68,4% dan tingkat pendidikan indonesia rata-rata hanya sampai SMP. Lalu jumlah anak jalanan di 12 kota Indonesia 75 ribu jiwa, dan di Jakarta sendiri 40 ribu. Sedangkan jumlah anak yatim piatu seluruh indonesia tidak pernah terdata dengan baik, untuk contoh di Aceh sebagai akibat tsunami, angkanya mencapai 72 ribu.

Lalu, apa hubungan angka-angka diatas dengan menikah? Tentu ada karena kita sedang bicara tentang menikah dalam bingkai sosial. Sebuah keluarga (yang mampu) seharusnya bisa menjadi salah satu solusi masalah rendahnya tingkat pendidikan, tingginya anak putus sekolah, anak yatim piatu atau tentang anak jalanan. Dalam kata lain, kita sedang bicara tentang anak asuh, bantuan pendidikan atau bahkan adopsi.

Karena dalam implementasi kehidupan Islam, potensi zakat yang sedemikian besar selama ini hanya terkumpul dalam hitungan miliar, sedangkan pemerintah tidaklah terlalu ‘mampu’ untuk menyelesaikan semuanya (disini kita mengenyampingkan segala ‘kesalahan’ pemerintah).

Tentang anak asuh, atau bantuan pendidikan tentu bukan hal yang sulit, yang dibutuhkan hanya kemauan dari kita semua. Yang lebih sulit adalah adopsi, karena adopsi artinya mengajak anak untuk masuk ke dalam kehidupan keluarga. Timbul sedikit masalah jika anak yang diadopsi ‘kurang beradab’, karena berasal dari lingkungan sosial berbeda. Tapi inipun sebenarnya bisa disiasati. Islam sendiri jelas-jelas berbicara tentang masalah egalitarian kecuali di hadapan Khaliq, tapi pemeluknya sendiri masih sulit untuk memandang semua manusia sama dalam kehidupan sosial.

Berkaitan dengan adopsi dan kesamaan, kita bisa melihat contoh baik dari pasangan Hollywood, Brad Pitt dan Angeline Jolie. Disamping Shiloh, anak dari hasil ‘cinta’ mereka, ada Maddox dari Kamboja dan Zahara dari Ethiopia. Sebagai umat beragama (terutama Islam), pemandangan diatas tentu menarik. Jadi, apakah kita (terutama jika muslim dan besar di daerah mapan) mau hidup serumah atau mengadopsi anak dari Papua? (maaf, ini hanya sebagai contoh). Atau anak dari lingkungan sosial yang jauh berbeda dari kita. Dan Pitt-Jolie ternyata bisa. Dalam sejarah Islam, posisi Bilal bin Rabbah yang asli Ethiopia dalam kehidupan Muhammad pun mulia.

Sehingga akan lebih baik jika anak-anak muda (apalagi keluarga yang sudah mapan) meniatkan menikahnya sebagai solusi masalah sosial. Jika semua keluarga (tentu asumsinya semua manusia akan menikah) yang berpenghasilan diatas rata-rata bertindak kongkrit pemecah masalah sosial, maka jumlah anak putus sekolah akan berkurang drastis, rata-rata pendidikan akan terangkat dan masa depan bangsa pun lebih cerah. Dan tentang pendidikan hingga adopsi diatas hanyalah salah satu contoh, dan masih terbuka contoh yang lain.

Dalam sebuah percakapan dengan seorang istri wartawan senior di kampung halaman kami, ternyata mereka telah melakukan tindakan diatas sejak hari pertama menjadi keluarga, hingga anak lulus kuliah dan berulang ke anak lain lagi. Dan itu hasil sebuah ikrar. Jika Tuti berkata kepada Yusuf, “Hidup kita adalah kerja..”, maka kita juga bisa membisikan nantinya kepada (calon) pasangan kita, “Hidup kita tak pernah sendiri..”.