Monday, October 27, 2008

Kenapa mulai dengan rumah?

Saya punya beberapa alasan kenapa rumah menjadi salah satu milestone penting dalam hidup seseorang dalam merangkai kehidupannya.

1. Kebutuhan rumah tinggal. Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa rumah termasuk kebutuhan dasar manusia, yang kita ingat dulu terdiri atas sandang, pangan dan papan (tempat tinggal). Setiap manusia membutuhkan tempat tinggal.

Bisa jadi memang tempat tinggal tidak harus berbentuk rumah, misal gua jika di hutan atau apartemen jika di kota besar zaman sekarang. Tapi pada dasarnya tetap, tidak bisa tidak, bahwa setiap manusia membutuhkan tempat tinggal (rumah).

Lalu seiring perkembangan kehidupan manusia, dunia properti pun semakin dinamis sesuai karakter manusia masa kini. Dan tren masa kini tampaknya anak muda mapan lebih suka berburu rumah dibandingkan harus tetap tinggal bersama orang tuanya.

2. Harga rumah semakin mahal. Ini kita ketahui dan patut disadari bahwa setiap tahun harga tanah dan rumah naik cukup besar (bergantung lokasinya). Dan buat kalangan yang mengandalkan kredit kepemilikan rumah dari potong pendapatan bulanan, perlu diwaspadai bahwa kemungkinan kenaikan harga tanah dan rumah per tahun selalu di atas kenaikan pendapatan per tahun.

Dengan demikian berlaku ’hukum’ bahwa semakin cepat membeli rumah, maka akan semakin menadapatkan harga rumah optimal. Apalagi untuk orang yang secara finansial mampu, sudah selayaknya untuk segera memilki rumah sedniri. Tentu saja cepat membeli rumah ini harus dibarengi dengan ilmu dan teknik dengan pertimbangan kebutuhan, lingkungan dan prospek kehidupan masa depan.

3. Investasi stabil. Di bandingkan investasi jangka panjang lainnya, rumah paling stabil. Margin mungkin tidak akan sampai melebihi jika ’bermain saham’ atau reksadana, tapi kemungkinan loss dalam investasi rumah pun jauh lebih kecil. Dalam situasi gonjang-ganjing ekonomi dunia saat ini, maka memilki rumah cukup menjaga nilai asset kita.

Resiko mendasar dalam investasi rumah memang sulit mencairkannya kembali, dibandingkan dalam instrumen keuangan. Ini mungkin kelemahan investasi dalam rumah, tanah atau tempat tinggal. Tapi bisa juga ini dipandangn sebagai kebutuhan pertimbangan matang dalam melakukan investasi tersebut. Intinya, jika punya kecukupan dana berlebih tidak lantas diguyur untuk membeli beberapa tempat tinggal, namun cukup sesuai dengan pertimbangan kebutuhan, lingkungan dan prospek masa depan.

4. Pengeluaran tepat orientasi asset. Ini alasan yang sangat praktis, bahwa pengeluaran dalam bentuk uang sewa tidak akan menghasilkan asset. Sewa rumah untuk tinggal atau kamar kos, selamanya tidak akan menjadi asset penyewanya.

Jadi lebih baik melakukan kredit rumah (sama-sama pengeluaran rutin bulanan) daripada pengeluaran untuk sewa tempat tinggal. Karena kredit rumah (tempat tinggal) pada periode akhir kredit akan menghasilkan asset kepemilikan penuh rumah, sedangkan sewa tidak akan menghasilkan asset selamanya.

Walaupun memang relatif lebih murah untuk sewa dibanding kredit pembelian. Tapi dengan pertimbangan sekecil apapun rumah itu kalau kepemilikannya sendiri maka akan menjadi bagian tetap asset kita.

5. Alasan Emosional. Ya..karena alasan emosional sehingga memutuskan untuk cepat membeli rumah. Bukan karena tuntutan, tapi lebih tepatnya karena tekad dan kemauan tertentu.

Misalnya, seorang suami yang ingin segera mempunyai rumah untuk tempat tinggal istri atau keluarganya. Atau, seseorang yang punya tekad ingin memiliki rumah sendiri sebelum menikah maka dia berusaha mewujudkan sungguh-sungguh tekadnya itu. Filosofinya ingin mempunyai rumah dulu, kemudian baru mencari ’yang mengurusi rumah’ tersebut.

Lalu ada juga yang tersinpirasi karena sebuah cerita pendek. Koq? Ya.. anda harus percaya bahwa ada yang salah satu inspirasi ingin memiliki rumah sendiri karena cerita tersebut. Dalam cerita tersebut memang digambarkan tentang sebuah perselingkuhan yang tidak berhasil, dimana akhirnya laki-laki kembali ke istrinya kembali. Hal itu karena sang istri mensyaratkan suami sebelum mencerainya untuk membopongnya keluar rumah setiap pagi selama 30 hari seperti halnya dulu suami membopong istrinya pertama memasuki rumah itu setelah menikah.

Masuk akal? Tidak perlu berpikir terlalu dalam tentang alasan emosional itu. Hanya sebuah alasan dan masing-masing orang juga berbeda. Dan lima alasan diatas, menurut saya sudah cukup kuat untuk menjadi pertimbangan penting memilki rumah dalam menapak tahap kehidupan.

***

Buat saya pribadi, contoh alasan kelima diatas (rumah sebelum menikah) tidak akan mengurangi sedikitpun rasa respek saya buat teman-teman yang telah berani menikah terlebih dulu. Jadi buat yang sudah di ambang pintu menuju pernikahan, harus makin mantap dengan pernikahannya tersebut.

Pun keinginan saya tersebut belum tentu tercapai (mohon do’anya ya, amin). Dan menurut saya, mengurus pembelian rumah tidaklah serumit (dan se deg-deg an) daripada menyiapkan sebuah pernikahan. Betul kan kawan? :)

15 comments:

Rachmawati said...

Jadi kapan beli rumahnya Trian?

Kalo udah, didoƔin cepet dapet nyonya rumahnya :D

Ulya Raniarti said...

amiin, semoga dapet rumah yang diinginkan.

"mengurus pembelian rumah tidak serumit daripada menyiapkan sebuah pernikahan"

wah, berarti udah pengalaman dong, selamet ya :) semoga dimudahkan..

Warastuti said...

Anak-anak Medco bikin sayembara ya? Ngga Trian, ngga Aby.. pada 'ricuh' soal rumah ni kayaknya..

Beli daerah Serpong aja, Yan.. (serius ini), banyak pilihan.. daerahnya masih hijau pula (dibandingin daerah sekitar)

Kalo Nyonya rumahnya, cari sendiri laah. Wis gedhe kok.:P

randompacking said...

Trus progressnya udah sampe mana...?

Gak usah banyak cing-cong.. Hajar ajah broer...

trian h.a said...

#Rachma: amiin, nuhun do'anya.

#Ulya: bukanya kamu lagi 'milih2' Ul?
makasih do'anya ya.

#Mbak Ika: wah Mbak, kesulitan membeli rumah sebelum nikah itu adalah harus mempertimbangkan kira2 'calon penghuni'nya kelak, hmm..

#Abi: progress nya, insyaAllah tunggu kabarnya aja ye..hehe.

Ulya said...

@trian h.a
milih rumah... ngga
milih kerjaan... ngga kali
milih s2... belum
apalagi milih yang lain...

gak tuh ... Anda salah :p

dian ajah said...

eh, eh, eh... endingnya ituh...

Warastuti said...

Ulya, mari pilih UI!

ITB itu rese, kelamaan.. mikir rumah, mikir mobil, mikir Jawa/Minang/Batak atau bukan, mikir kaka belom nikah, mikir si teteh yg kurang putih...

Mikir ajjya terus.

Heheeee

Ulya Raniarti said...

ooo, gitu toh teh?
kapan nikahnya rek.. rek..
mana enak, kl ngga jatuh bangun bareng :p
tapi terserah deng, it's a choice.

sok atuh teh, tinggal di submit aja :)

trian h.a said...

waduh..waduh..koq malah jadi 'saling lempar' hehe.

Ulya, saya pikir kamu sedang dalam masa memilih (apapun itu), ternyata tidak ya.

Dian, ga papa toh endingnya gitu?

Mbak Ika, hmm..no comment deh :p.

Warastuti said...

sok atuh Ulya, udah sampe mana?

trims ya..taksinya. telkomsel memang wokeeh.

*bapak2 yg kemeja putih tadi 'lucu' ya? hihi.

dhimaskasep said...

betul, kalo ada rumah enak. sy bisa numpang kalo lagi jalan-jalan :)

apalagi kalo ada yg masakin. he2

anugerah perdana said...

makasih buat cerpennya ya mas trian
saya fwd ke calon saya
salam kenal :)

Warastuti said...

Cie agah..:p

anugerah perdana said...

sirik tangda tak mangpu :D

*sori mas, jadi chatting disini