Wednesday, October 22, 2008

Cinta Setaman, Cerita Satire

Seorang teman menulis tentang film Cinta Setaman ini dalam notes facebook nya berikut;

Cinta Setaman sebuah Komedia Absurd

Dari judulnya, seakan-akan film ini cukup menjual sebagai sebuah kisah romantis. Kenyataannya, film yang diisi sederet bintang terkemuka ini sukses membuat cengok orang yang mencari kisah mengharu biru penuh cinta dan air mata. Saya berani katakan bahwa film ini sebuah film komedi !

Lho, memang apa lucunya kisah tentang : guru PMP yang digoda muridnya, karyawan toko yang ngotot jajan di Stirbucks caffe dan bossnya yang galak, ibu yang mau naik haji tapi kemudian mengetahui uangnya berasal dari usaha haram, istri yang kehilangan suaminya dalam kecelakaan, dan istri yang dengan ikhlas dipoligami suaminya meskipun dihantam kesulitan.

Ga ada, kalau pun ada itu dibuat dengan suasana yang jauh dari komedi yang selama ini kita nikmati. Letak lucunya justru terletak dari kisah-kisah itu sendiri. Film ini menawarkan kisah yang sulit diterima akal sehat dan cenderung suatu yang absurd. Bayangkan saja, bagaimana mungkin seorang ibu yang beruntun ditimpa musibah, TK-nya kebakaran, ditinggal penghuni kostan yang malah minta ganti rugi, kecurian perhiasan, kemudian justru bahagia begitu mendengar suaminya ingin menikah lagi.

Memang sih, tidak semua orang dapat langsung menangkap inti ceritanya. Topik cerita dalam film ini sangat luas, dan kesannya tidak fokus. Kita jadi bertanya-tanya, siapa sih yang sebenarnya ingin "ditembak" dalam film ini. Parameter sulitnya film ini dicerna dapat dilihat dari respon audience.

Kami datang berenam, saya, Bram, Igun, Trian, Luki, dan Roja.
Hanya satu orang yang keliatan tertawa bahagia : Luki ! :D

***

Terang saja saya tersenyum-senyum membaca coretan itu. Dan memang begitulah film Cinta Setaman itu berkisah. Absurd. Salah satu kami menyebutnya ‘Black Comedy’.

Kadang kita menolak mentah-mentah yang ditampilkan dalam film tersebut. Namun kemudian bisa saja kita berpikir mendalam bahwa gambaran film tersebut sangat ‘satire’, menyindir penonton atau masyarakat kita sendiri.

Selain kisah yang dicontohkan diatas, ada juga sketsa yang lain. Anak yang mulai beranjak remaja saat melihat instruktur senam, keributan suami istri karena ikan arwana, dan kebodohan orang jepang ‘ditipu’ perempuan yang akhirnya jadi istri kedua dari suami yang istrinya ditimpa banyak musibah diatas.

Kami yang menonton film ini cukup ‘teraduk-aduk’ perasaannya. Ada terharu, tertawa, hening, senyum getir, menyayat hati dan akhirnya (seperti kata teman diatas saya), cengok.

Walaupun kami sebenarnya mendamba akan menonton film yang romantis sesuai judulnya, Cinta Setaman (setaman, dekat artinya dengan satu rangkaian). Apalagi dengan banyak artis papan atas indonesia dalam film itu, seperti Slamet Rahardjo, Jajang C Noer, Nicholas Saputra, Ria Irawan, Djenas Mahesa Ayu, Inul Daratista, Julia Perez, Indi Barens, Marsha Timothy (pemeran istri tabah yang paling membuat 'terenyuh' hehe) dan lainnya.

Namun tidaklah mengapa kami akhirnya menonton film ’satire’ Cinta Setaman tersebut. Di PVJ Bandung midnight weekend lalu, setidaknya tujuan kami tercapai. Kumpul dan jalan bersama sebelum ada yang akan menggandeng pasangan nantinya :).

5 comments:

yang tontonannya lebih ok said...

tuh kan yan, bener.. filemku jauh lebih bermutu dari filem mu :p

Nico, ok lah.. sineas prof, tp kok ada Jupe n Inul nya ya? pliz deh :p untung g ada d*** P*r**k.

amircool said...

iya tu... masak Julia Perez artis papan atas...

edratna said...

Film nya bagus ya.....
Setelah si sulung pergi jadi ga punya teman nonton.....

trian h.a said...

#Anonymous: ah, sekali lagi ini sudah terlanjur nonton. overestimate!

#Amir: ya..setidaknya sumber sorot kamera papan atas lah Mir..hehe.

#Bu Enny: sekali-kali..bolehlah ibu nonton lagi (logat melayu :p). :)

Warastuti said...

Jauh panggang dari api ya, Yan?

Tadinya mau nonton. Ga maw kalah, midnight show Lippo (sama adik, weeek!), tapi pas tau ada serpihan2 manusia ndak penting dalam film itu, jadi ilfil saya.

Kasian adikku, jadi ternoda nanti.