Friday, March 23, 2007

senja dari sebuah kota

Sengaja aku tidak memilih bus kota yang terakhir, sekalipun aku selalu ingin menghabiskan waktu lebih lama di kota ini. Bus terakhir, selalu membawa pesan penuh kehampaan. Wajah para penumpangnya, seperti ada sesuatu yang tak ingin mereka tinggalkan. Wajah tanpa rasa, tatapan kosong ke kaca jendela, memandang khidmat deburan riuh kota, suasana senyap, seolah-oleh mereka ragu untuk segera pergi dari kota ini. Bus terakhir selalu membuka ruang pedih lebih lebar, dengan menunjukan betapa kota ini pun dirasakan berarti bagi orang-orang lain sepertiku.

Bus kota pun melaju pelan, mulai menyusur jalan-jalan kota yang lengang, menyapa arsitektur tempo dulu dan sekarang, untuk menuju tempat akhir sebuah terminal bus di sudut bagian selatan kota. Wajah kota yang redup, lalu sedikit demi sedikit lampu berpijar, sedang bersiap untuk menyambut terpaan malam yang kian dekat. Kesibukan siang pun sedang berganti dengan aktivitas malam. Bus masih berjalan pelan, menerobos butiran hujan rintik yang sudah lama turun, dan menyapukan udara segar ke wajahku. Senja yang indah, halaman buku di pangkaun tak kuasa melawan syahdunya perjalanan ini.

Sampailah bus di tujuanku, kemudian aku harus berganti moda. Kutengok arloji jam, pukul 5. Tapi hujan telah menjadikannya lebih gelap daripada yang seharusnya. Petugas berteriak-teriak lima menit lagi akan berangkat. 5 menit, itulah waktu terakhirku dengan kota ini.

Ku tatap sebuah toko buku di seberang jalan, tempat pertama kali kita berniat untuk bertemu. Tapi kau tak pernah datang, dan itu bukanlah masalah besar pula bagiku. Namun seharusnya, disanalah kita mungkin bertemu dan bertegur sapa.

Dan kemudian, kita tak pernah bersapa kembali. Sebuah penjagaan, dari perasaan yang tak mau berbaik hati. Kita bukanlah yang separti dulu, laksana 2 burung kecil bersayap, terbang bebas kemanapun kita mau. Tidak kenal waktu, siang, pagi buta atau malam hari. Dan sayap burung itu sekarang hanya 1. Jangankan kita minta untuk terbang tinggi, untuk tetap terbang menjaga fitrah Sang-Pencipta pun sudah sangat sulit.

Sekalipun nanti, mungkin kita bersua. Tentu itu bukan pertemuan yang kita kehendaki. Tak mungkin kau berbesar hati menyadari suasana itu. Tak mungkin kau menerima perasaan sederhana, seharusnya kauberikan kepada orang yang lebih tepat menurutmu. Pintu itu sudah tertutup. Sakral bagimu untuk membukanya kembali.

Jika kemudian aku datang ke kota ini, suasana kota inilah yang tak bisa kulepaskan sepenuhnya dari relung dalamku.

Peringatan terakhir sudah dikumandangkan, travel akan segera berangkat. Kuayunkan langkah masuk, mengambil tempat duduk di bagian belakang, bersama seorang laki-laki setengah baya yang sudah mengambil tempat di pinggir jendela. Travel pun mulai merangkak, dan semua penumpang terbelenggu dengan pikirannya sendiri.

”Sedih meninggalkan kota ini dik?”, tiba-tiba laki-laki itu memulai pembicaraan. Sebuah pernyataan menantang. Aku balik menatapnya tajam, dia tetap memandang kosong keluar.
”Saya tebak, adikpun mengalami rasa itu. Ketercekatan meninggalkan suasana kota ini.” Kata-katanya mengalir tajam.
”Mengapa anda bicara seperti itu. Sepertinya anda mengalami hal yang begitu menyedihkan akhir-akhir ini.”
”Yang saya yakini. Semua orang yang pernah merasakan kota ini, lalu akan mencintainya. Selalu ada hal-hal yang menjadi penyebabnya. Dan karena seseorang, adalah penyebab yang paling memilukan.”
”Ijinkan saya menduga. Hati anda sedang merasakan sakit karena seseorang?”

Wajahnya menatap diriku, kami berpandangan sesaat. Mungkin usianya belum 30 tahun, cukup tampan dan memiliki aura keteduhan. Tak berapa lama, diputarnya kembali kepalanya menuruti kehendak matanya memandang keluar. Travel mulai masuk ke jalan luar kota, sebuah jalan menyusur bukit-bukit indah.

”Apakah itu artinya anda berusaha untuk melupakan kota dan segala kenangannya? Kesakitan adakala harus diobati dengan kembali ke tempat muasal sakit itu timbul. Atau ke tempat-tempat lain yang mampu mengalihkan rasa itu. Sepenuhnya bukan untuk mengobati, sekedar menindih atau memberikan sedikit ruang untuk adanya rasa-rasa lainnya.”
”Ya, begitulah rasa itu menggelayut dalam jiwa ini. Mungkin kali ini, kesekian kalinya saya hadir disana dengan penuh pundi harapan.” Sedikit serak suaranya mengatakan kalimat itu. Suasana hening, hanya derum mesin dan suara lalu lalang kendaraan lain yang melintas.

”Dulu saya berpikir, rasa itu akan hilang oleh terpaan angin di padang gurun kesepian nan luas. Saya sudah mencobanya di banyak tempat, tapi selalu saja gagal dan gagal.”
”Lalu, kemana anda akan melangkah saat ini?”
”Jika di tempat sunyi tak juga membuatnya hilang, mungkin rasa itu akan hilang di tempat paling ramai di dunia, Cina.”
"Tampaknya begitu berartinya dia bagi anda.”
Laki-laki itu menghela nafas, dengan pandangan yang masih menatap kosong keluar.
"Selaksa kasih sayang tercurah terhadap seseorang, dan hidup telah kita berikan demi masa depannya."

”Apakah itu artinya anda ikhlas membohongi diri sendiri?”
”Tidak, saya sedang mencoba memahami. Perasaan yang tulus seharusnya bisa saling mengerti, sekalipun hanya dengan menatap tanpa mengutarakan. Perasaan itu, harusnya tak perlu membuat dua orang harus saling mengemis untuk sebuah kata.”

Hujan rintik mulai semakin deras. Malam hari kiat pekat, sepekat pembicaraan kami malam itu. Laki-laki di sebelahku bukan manusia biasa, dan karena ketidakbiasaan itu mungkin dia menerima nasibnya. Dunia itu adil, hanya kepada orang-orang yang mampu saja, perasaan penuh makna itu dihadirkan.

”Anda berkesempatan bertemu, atau setidaknya untuk mengucapkan kalimat terakhir kepadanya?”
”Ya.. sore kemarin di depan toko buku.”
”Lalu, apa yang anda katakan?”
”Jika suatu masa kita bertemu, kita adalah hidup kita masing-masing. Andai pintu itu ada nantinya, kita bisa memulainya dari awal dengan lebih tulus.” Sebentar dia berhenti, menghirup napas panjang.
”..., jika kita tidak bisa saling menyayangi saat ini, setidaknya kita tidak untuk saling membenci...”

5 comments:

Anonymous said...

umm..begitukah?

Iman Brotoseno said...

sepertinya pertanyaan klise, tapi memang bisa melupakan begitu saja sebuah kenangan ?

miftah said...

ckckck..makin mirip cerpenis aja temenku yg satu ini..:-D..smoga kata-kata indahnya bisa segera tersampaikan pada sang bidadari kala merajut jalan menuju surga...

brama said...

kynya aku tau deh, cerita ini diilhami dari siapa..

hmm... u know what I mean khan yan..

Warastuti said...

Speechless Yan bacanya...

Tenang. Saya ga pengen tau kok orangnya siapa...

Duh, sing sabar ya!

Emang sama sekali tidak bisa diusahakan ya?