Monday, March 12, 2007

Perjalanan

Setiap perjalanan mempunyai arti, bahkan ketika itu dilakukan oleh orang dan yang sama di tempat sama pula. Bagi sebagian orang, perjalanan membuka tabir kebertahanan, menjadi apa adanya dan lepas. Bagi orang lain, perjalanan adalah hidupnya. Tak mampu ia melanjutkan hidup penuh makna tanpanya.

Lalu, ada yang melihat perjalanan selain sebagai rekreasi. Ya… bahkan dia lebih mencintai perjalanan daripada tujuan perjalanan itu. Tapi bagi yang lain, perjalanan hanya masalah berpindah dari tempat satu ke tempat lain, tak ubahnya tidur sejenak kemudian tiba. Masing-masing kita punya rasa tentang perjalanan. Aku melihat perjalanan sebagai bagian dari hidup, mencari inspirasi dan rekreasi. Terlalu berlebihan? Tidak juga.

Perjalanan selalu memberikan kesan bahwa kita sedang melanjutkan penggalan hidup. Jika kita melakukan perjalanan jauh, maka tujuan kita untuk sampai di jauh tersebut. Jauh itu adalah hidup kita, maka perjalanannya pun menjadi bagian hidup itu.

Perjalanan selalu membuat orang merenung, sadar atau tidak. Tentang dirinya, orang lain atau kehidupan. Tak jarang, kejernihan pikiran dicapai disana. Lalu datanglah banyak gagasan dan inspirasi. Makanya tak heran, jika Yusuf Qardhawy beberapa kali menghasilkan buku dalam perjalanannya.

Perjalanan adalah rekreasi, karena sangatnya menikmati perjalanan itu. Orang yang berpisah, berjuang hidup dan banyak ekspresi ada disana. Rekreasi, karena sesudahnya kita justru merasa segar. Setelah banyak hal yang kita dapatkan setelah perjalanan.

Sangat mencintai perjalanan, hingga pernah suatu waktu dulu, naik bus ke Jogja dan kembali lagi hanya karena ingin menikmati suasananya. Banyak orang pergi diiringi lambaian tangan, perjuangan mencari sesuap nasi di terminal, dan beberapa tembang khas. Dan pada saat Ramadhan, banyak orang dalam perjalanan tidak seberapa itu yang tidak berpuasa. Di terminal, tak terasa kalau itu adalah bulan suci.

Dan karena pernah hampir tiap bulan ke Jogja saat itu, sampai titen (menandai) kalau di terminal Tirtonadi Solo, ada ”mbak” yang menyanyikan lagu D'Loyd, sebagian liriknya :
Hingga di suatu masa
Kau juga kan merasa
Betapa sakitnya hati terluka
Karena.. cinta..


Di waktu itu pula, ada kawan Surabaya yang sering mengajak jalan ke Surabaya saat weekend. Atau kalau kita bosan ke Surabaya, kita main ke Jogja. Impian kami adalah naik Sancaka (Surabaya-Madiun-Jogja pp) dengan nyaman, tapi hingga sekarang pun tidak kesampaian. Padahal kita dulu pernah mengubah lirik sebuah lagu :
Kulayangkan pandangku melalui kaca jendela
Dari tempatku ku bersandar
Seiring alun Sancaka (Kereta, ver aslinya)...


Juga pernah saat sudah kuliah, bukan karena tidak ada uang, beberapa kali naik kereta Kahuripan (kami orang jawa, sering menyebutnya ”Kehidupan”), Bandung-Madiun-Kediri pp. Benar-benat kahuripan (kehidupan), karena menampilkan potret kehidupan asli rakyat kita. Menarik, banyak dapat hikmah-hikmah beratnya kehidupan dari sana. Panas, sumpek dan lapar, itu tak jadi soal, hanya butuh ditahan dan melihat sketsa alam di luar.

Perjalanan pula salah satu yang membuat seseorang suka berbagi cerita, cerita perjalanan. Semua moda transportasi pernah dirasakan, Bus, KA, Kapal dan Pesawat. Semuanya berkesan bagi, tapi KA yang membuat paling memberi arti lebih. Melihat manusia menunggu di peron stasiun, mereka menunggu untuk pergi sendiri, bukan menunggu untuk dijemput. Dan beberapa kali, sengaja datang lebih awal untuk menikmati suasana peron sambil membaca.

Maka akan kita temukan. Rintihan roda kereta, suara peluit stasiun, lambaian tangan para pengantar kemudian pandangan yang mulai bergerak pelan lalu makin cepat dan cepat. Jika masih ada cahaya mentari, pasti indah. Seperti sebuah pameran lukisan kehidupan yang berjalan.

Namun, hampir dalam tiap perjalanan bangku sebelah selalu ”kosong”, belum ada teman bercerita. Dan SMS yang sering menemani. Berbagi suasana perjalanan. Ada yang ”terima”, apa adanya dan ada yang balik menantang. “Perjalanan membuka hati. Jangan hiraukan orang jika kau menangis, ataupun tertawa sendiri. Karena itu adalah hidupmu. Dan aku pun sering melakukannya”.

Perjalanan ”membuka” seserang, seperti juga perkataan Umar bin Khatab, bahwa jika ingin mengetahui kepribadian seseorang, maka lakukanlah tiga hal dengan orang lain, yaitu bermalam, berdagang dan perjalanan. Hanya SMS, sahabat tidak nyata duduk di sebelah. Tapi cukup mengurangi kerinduan kebersamaan dengan seseorang di perjalanan.

Karena perjalanan berarti saat ini dan nantinya, maka harus menyiapkan segalanya. Indonesia adalah negeri bahari, maka kita pula yang harusnya menikmati kebaharian itu yaitu dengan belajar selam. Dalam kunjungan ke Pantai Senggigi, Lombok (ah..betapa indah negeri ini. Apa hanya orang asing yang justru menikmatinya?) atau di Toba, banyak cerita perjalanan dari sana. Belum lagi jika berkesempatan ke Bunaken, Hutan Kalimantan, Papua dan seluruh Indonesia. Sayang jika kita tak berniat meyelami indahnya bumi kita, karena kita adalah anak semua bangsa.

”Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman.” (Q.S Saba’ [34] : 16)

Tapi hati-hati, perjalanan pula yang menjadikan seseorang menjadi ”bebas”, tidak terikat. Oleh karenanya, bila tiba waktunya kelak, mungin kuajak serta ”dia” dalam perjalanan. Berbagi cerita dalam perjalanan, menyelami indahnya lukisan alam dan belajar banyak hikmah dari sana.

***
Perjalanan inipun kadang merampas pijak hatiku
Sekali waktu pun mungkin menggoyahkan pundi cintaku
Melepaskan setiaku
Menafikkan engkau disana

Maafkan aku,
Cepat ku kembali...

9 comments:

Iman Brotoseno said...

saya selalu suka perjalanan, memandang alam..ada yang bilang mencintai alam berarti juga berzikir mensyukuri apa yang diciptakan Tuhan..
btw..ayoh belajar selam, nanti saya tunjukan keindahan bawah laut alam Indonesia

Trian H.A said...

wah, sy kan udah belajar selam mas.. disini, jadi kapan jalan2? :D

Okky Puspa Madasari said...

wow, postinganmu sukses merusak konsentrasiku :) Tinggal menghitung hari untuk next trip :)

Btw, selama ini aku yakin banget kalo sifat asli seseorang akan terlihat saat kita melakukan perjalanan lebih dari satu hari. Ternyata itu udah diungkapkan ama Umar Bin Khatab ya..he..he..(baru tahu :P)

ikram said...

Mau jalan2 kemana lagi? Ke pelosok daerah yang nggak terjangkau sinyal HP... udah?

Trian H.A said...

#Okky: next trip=this long weekend?!
makanya, baca sejarah Islam juga ky.. :P

#Ikram: ke 'sangat' pelosok daerah?? masih belum sih..hehe, mau ngajakin kram?

agung said...

Berjalanlah di muka bumi-Nya.. Mengungkap tabir misteri alam di setiap langkah..
He he perjalanan selalu "inspiring", walau di tengah banyaknya kecelakaan =]

'N said...

Aku malah inget nyanyian Ebiet "Perjalanan ini, begitu sangat......." hm nikmati aja.

aroengbinang said...

lagi ngrencanain jalan2 kliling indo...; penikmat perjalanan dan penikmat waktu di tujuan tentu yg terbaik. salam.

dika said...

bahkan di atas bis sambil bergelantungan berdesak-desakan pun dapat mengais hikmah...

*tapi jalan-jalan gak ada uang repot juga,Trian