Monday, June 26, 2006

Kisah Masa Depan

Dua puluh orang mahasiswa ITB terpampang namanya dalam pengumuman seleksi penerimaan beasiswa PPSDMS Nurul Fikri pertengahan Desember 2003, saat baru saja aku merasa sebagai “mahasiswa TI”. aku masih ingat, pemberitahuan dan ucapan pertama datang dari lucky di sebuah kelas kuliah. Alhamdulillah…, lalu sebuah perjalanan panjang dimulai.

Kami ber-20 berkumpul, ketika sebuah malam di asrama menandatangani ”kontrak” sebagai peserta. Creates Future Leaders, membanggakan dan juga memberatkan. Maka, bercampur baur perasaanku. Takut, bangga, cemas dan senang. Beberapa dari kami memang sudah saling kenal awalnya. Tapi beberapa juga, harus memulainya malam itu.

Lalu, semua rutinitas pun dimulai. Masing-masing masih ”menjaga identitas” dengan kekakuannya. Karena begitu beratnya kepercayaan ini, maka kami tak ubahnya 20 mahasiswa ”terbaik” (dalam multidefinisi) yang digodok dalam kawah candradimuka. Bahkan aku pernah mengatakan pada teman, ”tiap hari adalah dauroh (diklat)”. Bagaimana tidak. Jika siang kuliah+aktivitas, kemudian hampir tiap malam jam 20 ada kajian. Kontemporer, keislaman, dialog tokoh, dan pasca kampus. Lalu seminggu sekali, Qiyamul-Lail berjamaah. Bangun jam 2 atau paling telat jam 3! Ada seloroh waktu itu bahwa kami-kami ini, ”ikhwan (laki-laki) pingitan”!!!

Satu semester berjalan, dari empat yang harus dilewati. Semua lolos untuk lanjut dalam semester berikutnya. Prestasi, prestasi, prestasi!!! Kata yang banyak diucapkan saat evaluasi itu. Memang, dalam satu semester itu, tak satupun kami yang berprestasi, yang dalam definisi ini adalah prestasi dalam kancah lomba (bukan kuliah dan organisasi). Tekanan kehidupan pun berlanjut.

Berikutnya, ada yang pergi, dan ada yang datang. Karena evaluasi dilakukan tiap akhir semester, beberapa dari kami tidak bisa melanjutkan. Aku yakin, beberapa dari kami yang ”tersisa” di asrama punya pikiran untuk didepak, jika itu lebih baik. ”Wong, kami ga punya prestasi-prestasi”. Dari segi IPK pun, tak banyak yang terancam cum-laude. Trauma dengan lulusan angkatan UI, yang banyak berprestasi baik lomba maupun cum-laude. Praktis, hanya satu orang yang menang lomba kurun waktu itu. Sedih meratapi nasib kami-kami.

Dan kesempatan yang ditunggu datang. Ya...sejak salah satu dari kami maju sebagai kandidat capres, maka ini adalah sebuah kesempatan untuk ”berprestasi” secara kolektif, asrama! Maka hampir semua kami ikut membantu, mulai dari yang jadi manajer kampanye, masang-masang spanduk-baligho, hingga yang hanya do’a. Asrama benar-benar jadi markas koordinasi dan kampanye saat itu. Semuanya berjalan baik-baik saja akhirnya, 4 orang dari kami ikut ngurus ”negara ITB”. Kata orang, ”ini mah boyongan”. Tak jarang (bahkan sering), rapat-rapat justru dilakukan dari ”cikeas” ini.

Lalu tekanan itupun sedikit mulai berkurang. Entah karena kami merasa, belum ada peserta UI yang jadi presiden BEM-nya. Atau karena kami sudah tidak peduli lagi dengan sistem asrama. Karena juatru sebenarnya saat itu, mulai ada peraturan ”aneh”. Setiap keterlambatan 2 menit datang acara asrama didenda 10 ribu, tidak datang 80 ribu, keterlambatan maksimal 10 menit (dengan tetap didenda). Absen tidak datang 2 kali sebulan dengan sangat dipertimbangkan, atau tetap didenda. Beasiswa bulanan yang ”hanya” 250 ribu seolah tak ada artinya. Aku dapat sekitar 400 ribu. Dan rekor waktu itu, ada yang hutangnya mencapai 1,4 juta!!!

Tapi bener, lampu-lampu keceriaan mulai tumbuh. Bukan hanya karena ada ”anak kecil” yang masuk menggantikan, tapi kami merasa kami-lah orang-orang beruntung yang disatukan. Jujur, sangat sedikit dari semua materi yang nyanthol di kepala kami. Tapi paradigma dan komunitas, itulah inti dari semuanya.

Paradigma tentang membangun umat islam Indonesia yang sangat terpuruk dalam segala hal, yang berarti juga membangun Indonesia itu sendiri. Pertimbangan aspek sejarah, islam, sosisologis dan prioritas. Bahwa membangun peradaban saat ini, adalah by design. Dan kami-kami inilah salah satu proyek peradaban itu.

Komunitas, sebuah pelajaran kehidupan yang menarik dari semua perjalanan kami. Menghargai, berbagi, tertawa, sedih dan bahkan pernah kami menangis bersama. Mengetahui karakter orang lain, dan kami tahu diantara kami bukan orang yang”sembarangan”, di organisasi kampus atau kuliah. Ketika orang-orang hebat berkumpul, apa yang terjadi? Walaupun kami bukan yang hebat-hebat amat, setidaknya kami pernah bersama dalam periode kecil kehidupan orang-orang hebat.

Orang hebat berpikir besar, itu benar. Saking besarnya hingga hal-hal yang kecil pun terlewat. Merapikan kamar, baju berserakan, koran, karpet, nyapu, ngepel, membersihkan toilet, dan yang paling sering lupa, nyuci alat makan dan GELAS!!! Untuk baju tanpa tuan saja, sudah lebh dari 2 kardus TV 21” yang membawa keluar asrama, ke baksos. Tapi sekarang, masih ada lebih dari 1 dus lagi. Heran.

Kemudian nonton TV, justru saat-saat berkumpul yang menyenangkan. Mulai dari perbedaan channel pilihan dengan alasan rasional, sok ilmilah dan kadang-kadang emosional (remote dibawa dan diam tanpa suara), hingga diskusi di sela acara TV itu. ”Seharusnya seorang Ahmadinejad bisa berpidato bahasa inggris”, saat Ahmadinejad berkunjung ke UI dan UIN. Lalu tertawa dengan, ”terkejut terkejut terkejut” khas Tora. Maraknya iklan "Ponds" dengan suasana ”ehem ehem”, dan berujung pada komentar (berusaha) ilmiah ”rata-rata setiap 3-5 iklan, pasti ada satu iklan produk wanita”.

Kami juga punya karakter-karakter yang unik. Kenapa seorang bisa menjadi common enemy? Di kami, karena dia banyak terbukti tidak mencuci gelas, menaruh baju+handuk sembarangan, suka ngomongin hal-hal besar tapi tidur dengan segelas kopi yang belum habis di sampingnya. Anda pernah membayangkan seorang yang bertubuh kurus bermain gitar ala John Petrucci? Alasan singkatnya, ”tubuh kecil karena belum ada yang ngurus!”

Bagaimana dengan hobi bola dan klub favoritnya yang sangat eksplosif dan resisten, dan akhirnya orang lain pun harus ”tahu diri” jika ada tontonan bola yang remote berada di tangannya. Suka buat sajak-sajak? Ada pakarnya disini yang mengisi milis maksimal tiap seminggu sekali menyebabkan banyak ”kebingungan” diantara kami. Hingga pernah, seorang dari kami yang ”lugu sastra” sengaja mencopy milis, dibawa ke rumah untuk diartikulasikan oleh seorang lainnya.

Ada juga ”orang alim” disana, sebagai ”ikon keshalehan” kami bersama. Jika ada sesuatu heboh, dengan dia bereaksi atau tidak, maka kami mengucap, ”bahkan al-fulan pun bingung” atau ”bahkan al-fulan pun tersenyum” dan banyak kombinasi lain. Ada yang tidak pernah nongol di asrama tapi tercatat, kami menyebutnya ”the lost boy”. Ada yang ”patah hati” karena yang sering ditanyakannya ”berpasangan” lebih dulu. Ada yang malu-malu mau, malu kalau sedang ”membuncah” tapi mau, buktinya persiapan benar-benar dengan menjadi ”bapaknya” anak-anak tetangga dan suka nyrempet-nyrempet juga.

Yang pasti bakal diingat, banyak ungkapan tercipta dalam kehidupan kami. Yang paling tajam, ”ukhuwah itu kejam!”. atas nama ukhuwah, makanan sendiri bisa jadi makanan bersama. Semua barang yang ada di ruang publik adalah barang umat. Benar-benar sosialis religius. Dan beberapa sebutan nama diantara kami yang sangat ”enak diucapkan dan khas”, tak peduli di asrama, di kampus bahkan di angkot. Ternyata setelah di-trace, sumbernya oknum tertentu.

Bagaimanapun kami, banyak keluarbiasaan yang telah lahir. Jalan-jalan masa depan yang mulai digelar, sharing-sharing dalam segala rona kehidupan, kekonyolan (hingga pusat pun akhirnya ”menelantarkan”) dan satu yang pasti, kekongkritan dalam menuju hidup berpasangan (masih tetap satu orang?). Tapi memang benar, setinggi-tingginya cita dan idealisme, semuanya berawal dari diri sendiri dan keluarga (sendiri, bukan ibu-bapak), terlepas ”perdebatan” tidak penting kami, apakah japri, japro atau japri tapi pro. Dan ketika seorang berceramah panjang lebar tentang MSG, mie instan, teflon, kanker, diabetes dll, pertanyaan akhir yang terlontar dalam kebengongan, ”apa semua anak farmasi tau ini?”. Lalu berlanjut, ”kalau dokter?”

Pemimpin juga manusia, ya… itu yang kami akhirnya selami. Tentang hati, memang Allah-lah Yang Maha Tahu. Yang aku yakin saat ini, kami sudah punya cita-cita besar bersama nan mulia, dan gambaran langkah-langkah kami mencapai kesana. Hari-hari ini, kami mulai menapaki tangga-tangga itu. Aku sendiri sudah tak sabar menantikan masa depan, saat kemudian kami berkiprah dalam bidang-bidang di bangsa ini. Sudah tidak sabar menunggu ketika bertemu lagi, sudah bukan lagi laki-laki biasa yang sendiri. Tentu banyak yang bisa diceritakan. Tentang bangsa, pekerjaan, kisah-kisah, kenangan masa lalu dan segala bentuk ”ukhuwah” kami. Tak lupa pertanyaan ringan, ”jadi milih 11 jus jeruk atau yang bisa masang tabung gas?” Pasti indah saat itu. Ah...aku tak sabar lagi.

terima kasih sahabats, atas sepenggal kehidupan bersama

5 comments:

lucky said...

sama seperti trian, komentar saya sedrhana saja. link ke blog saya salah. harusnya:
http://lucky-luqman.blogspot.com

aulia ardiansyah said...

Hiks-hiks. Mas trian. Selamat datang di markas yang lama. Ditunggu lho. Jangan cuma buku2 doank yang dipindahin hehe.

brama said...

thx... my bro.
i love u..
thx for everything..
i love you more..

vivat pksdms, eh ppsdms..

benisuryadi said...

mm, pasti ga ada yang boleh malam mingguan yak waktu disana...hhehehhe

Trian H.A said...

aan, i'm coming to "real" home!!!

missing you so much bram...
*wah..ada-ada aja mas bram ini.

ben, malem mingguan ada..bersama teman asrama..hihihi