Friday, June 09, 2006

kekerasan, dalam kelembutan

Thifan Pokhan, sebuah ilmu beladiri yang awalnya tumbuh dalam perkampungan muslim di cina. Thifan adalah nama sebuah daerah di cina, dan sekarang masuk Fujian, sedangkan Pokhan berasal dari Po=pukulan, khan=bangsawan. Konon memang, ilmu (sekaligus seni) ini dipakai oleh para bangsawan-bangsawan. Sehingga cirri khas gerakannya pun lembut tapi tetap mengandalkan teknik dan kecepatan.

Dan untuk sampai di Indonesia sendiri, tidak terlepas dari peran saudagar cina. Walaupun para ulama di melayu yang akhirnya mengartikulasikan (tidak hanya menerjemahkan) kitab-kitab thifan dari cina dan mengembangkannya dalam gerakan jurus-jurus. Artikulasi ini yang menimbulkan multi tafsir.

Sehingga dalam thifan juga terdapat beberapa aliran. Salah satunya adalah aliran tsufuk, jadi lengkapnnya Thifan Pokhan Aliran Tsufuk. Tsufuk artinya kurang lebih adalah pernafasan. Jadi thifan aliran tsufuk mengolah tubuh dengan menggunakan tata olah pernafasan sebagai dasar dan penguat.

Kenapa belajar beladiri? Secara filosofi, beladiri mengajarkan untuk mempunyai semangat bertarung dalam menjalani kehidupan. Betapa kehidupan yang keras, laiknya pertempuran harus dihadapi dengan fighting spirits yang mumpuni. Dan golongan yang punya kekuatan-lah (akal, agama dan fisik), yang mampu menatap dan berdiri tegak menghadapi semuanya. Kita bisa melihat sikap nuklir Iran terhadap opini Amerika. Tiada kemulian, tanpa adanya kekuatan.

Kenapa Thifan? Beladiri secara umumnya memberikan dua skill, yaitu bertahan dan menyerang, tangkisan dan serangan. Di thifan sendiri, dua hal itu juga didapatkan dengan metode khasnya, kelembutan, teknik dan kecepatan. Kelembutan artinya mengalir, tidak dipaksakan. Gerakan-geralan dasar thifan tergolong ”lunak” jika dibandingkan dengan beladiri-beladiri lain, misalnya tendangan kaki taekwondo, boxer atau karate. Tidak instan dan memaksakan, karena bisa menyakiti tubuh. Kekerasan yang dibentuk timbul dengan adanya latihan dan pengulangan, dengan didukung pernafasan.

Teknik dengan memperhatikan sasaran yang ingin ditangkis atau diserang, apa tujuan dan akibatnya. Sedangkan kecepatan, adalah gerakan mengalir yang cepat. Dengan adanya kecepatan, maka ketahanan pernafasan menjadi utama. Bagi yang terbiasa latihan keras beladiri lain atau atlet olehraga lain, belum tentu ia akan sanggup menjaga ketahanan nafas jika melakukan semua jurus thifan dalam satu tingkat tertentu, karena aliran oleh nafas yang berbeda.

Jika tidak memperhatikan dengan seksama, seringkali melihat gerakan thifan seperti tarian. Mengalir lembut, kontinu dan cepat. Bahkan di bagian tangan terbuka (tangan kipas), benar-benar separti dua tangan yang menari-nari di udara. Kelembutan dalam kekerasan, kekerasan dalam kelembutan.

Selain karena gerakan, thifan dibangun atas dasar islam. Semuanya diwujudkan dalam 10 janji thifan yang sangat kental islam dan sastra melayu kuno. Ambil contoh janji pertama, ”sanya aku tidak akan menyekutukan Allah, aku tidak akan percaya pada takhayul, khurafat dan tidaklah aku akan berbuat bid’ah dalam syara.” Atau janji yang ketiga, ”sanya hanya kupergunakan ilmu ini pada jalan haq, dan semoga terumpang barahlah aku apakala ilmu ini kupergunakan pada jalan bathil atau aku menkhianati amanat ilmu ini jatuh diluar haq.

Apa yang terlintas pertama dengan aliran bahasa kata-kata janji diatas? Melayu kuno. Dan itu juga ditemukan di karya-karya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), semisal Di Bawah Lindungan Ka’bah atau Tenggelamnya Kapal Vanderwijk. (catatan: sanya berasal dari bahwasanya)

Belajar thifan adalah melakukan beberapa hal sekaligus. Olahraga, beladiri, seni dalam bingkai islam. Sangat efisien, dalam satu kesempatan mendapat banyak hal. Walaupun banyak godaan yang menyertainya, sebanding besarnya manfa’at yang akan diperoleh. Ada sebuah ungkapan bagi orang-orang yang mulanya latihan dan akhirnya tidak, yaitu orang-orang yang berjatuhan di jalan thifan.

Dan memang seringkali (semoga tidak selalu) terjadi. Dalam sebuah angkatan pendaftaran sejumlah 30an orang, tamid (sebutan murid di thifan) yang bertahan sampai 2-3 tahun (biasanya) tidak lebih dari 5. Bahkan ada yang ”tersisa” 1 atau 2. Padahal latihan ini tidak keras, tapi memang butuh konsistensi dan kesabaran. Dan itu ternyata yang paling sulit.

Tempat latihan sudah berkembang di beberapa kota besar Indonesia. Pusatnya di bandung terdapat di sekretariat masjid Pindad. Beberapa di sekitar bandung terdapat di Salman ITB, Sedang Serang, As-Syamil, Pajagalan (Persis Pusat), Buah Batu dan DT (kedua terakhir tidak tahu perkembangannya lagi). Jika di Jakarta, ada di UI Depok, Al-Hikmah dan Cempaka Putih.

Untuk para perempuan pun ilmu thifan diajarkan, dengan nama Putri Gading. Perbedaan dengan thifan laki-laki dalam gerakan jurusnya (konon lebih disesuaikan dengan perempuan) dan kombinasi warna seragamnya. Jika thifan dominasi merah dengan garis hijau, sedangkan Putri Gading dominasi hijau dengan garis merah. Sedangkan untuk tingkatan-tingkatan tidak ada perbedaan.

Tapi karena sangat tidak banyak para perempuan yang ikut Putri Gading ini, ada sebuah istilah ”unik” bagi mereka-mereka yang tidak pernah satu kalipun ikut berlatih. Mau tahu?

15 comments:

agung said...

Yan kalo di Al-Hikmah sama Cempaka putih alamatnya apaan?
Hmm, jadi Buya HAMKA = Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah??
Baru tahu...

aulia ardiansyah said...

Yang bener Amrullah ato Amirullah sih????
Oya masing-masing beladiri akan sangat mencirikan tempat asalnya. Tahu SH Terate kan?Sangat kental suasana kejawen-nya t'utama saat acara 'wisuda'nya. Ato capoeira yang Brazil bgt.
Eh pernah nonton dimana gitu (lupa) ttg the best 10 of martial art.Tnyata no 1 nya, karate. Masuk juga ninjutsu. Yang lainnya lupa euy.
Pernah dengar Kempo? Katanya sih nenek moyangnya karate, aikido, kickboxing dll. Jadinya lumayan komplit belajarnya. Pukulan, tendangan, kuncian (+patahan) dll. Di kempo diajarin anatomi kalo gak salah, jadi bisa mukul pelan di tempat yang 'mematikan' jd lumayan efektif:D.
Kalo di thifan belajar apa aja yan?

adit-bram said...

pernah denger tarung drajad kan??
ternyata pemda banten ( atau tangerang ya??) kebingungan ketika nomor putri untuk tarung drajad dihilangkan...

saya aja ikutan bingung waktu baca kebingungan pemda itu...

emang putri ada yang main tarung drajad ya?? hiiiiiii....

punten contohnya banten, soale bacaannye koran lokal...hehehe

fEBRi said...

Memang semua beladiri masing2nya mengaku bahwa merekalah yang paling hebat..tapi yang jelas uitu tergantung bagaimana kita memanfaatkan keahlian tersebut, semata2 utk menjaga diri bukan untuk unjuk gigi apalagi jadi jagoan..
Baru tau ya gung klo HAMKA adalah singkatan..
yang bener Amarullah..

adit-bram said...

loh feb??bukannye Amrullah

benisuryadi said...

wah, berati situ jago dunk...
takut ah
=)

Trian H.A said...

wah, banyak juga yang komen ya..^_^
ya, masing2 emang punya kelebihan dan kekurangan
setidaknya setelah ..... tahun ikut thifan, ya..tulisan itu jadinya. subyektif? wajar kan?

HAMKA, salah satu tokoh idola. seorang pemimpin, ulama, bapak dan sastrawan.
tks atas pembetulannya feb..(benar Amarullah feb?)

ah, biasa aja ben..:)

aulia ardiansyah said...

Cuma mo ngomentarin komentar orang (komentarnya Adit). Coba dengerin MQ FM kalo malem (acara senandung malam kalo gak salah), kadang2 ada perempuan yang ngomong kalo barusan rahangnya ketendang pas latihan. Ternyata sang perempuan itu ikut latihan tarung drajad buat suatu kejuaraan. Biasa aja kali dit, gak serem2 amat :D

Trian H.A said...

iya, setuju an. malah perempuan yang ikut beladiri, ntar jodohnya ama yang ga ikut..
biar ada yg nglindungin...hehehe

*begitu pula sebaliknya. gimana?

egi suarga said...

Koreksi dikit ya ...
1. Setahu Saya Tsufuk artinya bukan pernafasan,tapi sejenis tikus yang hidup di dataran siberia. karakter dari tikus ini khas, dia mengamat-amati lawan sebelum menyerang, dan kemudian menyerang dengan cepat dan beruntun. Itulah sebabnya jurus thifan memiliki 4 karakter : cepat, tepat, bertenaga dan beuntun. Coba diperhatikan, di logo yang ada di atas, pada bagian bawah, ada gambar kepala tikus. itulah tsufuk. Warna merah pun diambil dari warna tsufuk, yang konon warnanya merah.
2. Thifan di jakarta ada di al hikmah, tepatnya di masjid al hikmah. jl bangka III mampang. Latihan setiap rabu malam dan sabtu pagi..he he..promosi.
3. Jurus dan tingkatan putri gading beda dengan thifan. Bab I thifan dimulai dengan tangan, sdangkan bab 1 putri gading dimulai dengan kaki.Slogan terkenal putri gading : "tak ada gading yang tak retak...:D:D"

Dah, itu dulu...kalo ada yang tertarik..hubungi Trian :D:D

Trian H.A said...

nuhun atas koreksinya pak!

bisa-bisa aja nih bapak...:)

Erik Mann said...

great post, i'll come visit again soon...erik

Persaudaraan Thifan Po Khan Indonesia said...

numpang ngenalin blog thifan juga, thifanpokhan.blogspot.com, ini blognya Persaudaraan Thifan Po Khan Indonesia.

Syukran

Anonymous said...

ada yg tau lanah thifan di tangerang ga ???? mohon informasinya. syukron...

Saifullah said...

Ngobrol ringan tentang Thifan Po Khan, kunjungi saja blog http://thifan-saif.blogspot.com/