Saturday, May 23, 2009

Risk Probability: Kecelakaan Pesawat

Minggu ini Magetan, daerah kelahiran saya menjadi ramai diberitakan media. Magetan tidak banyak dikenal orang, padahal lokasi Lanud Iswahyudi sebagai pusat pangkalan udara nasional sejatinya secara geografis di Magetan (bukan Madiun). Dengan kejadian kecelakaan pesawat hercules pada 20 Mei 2009 tersebut, nama Magetan menjadi ikut terkenal (walaupun dengan cara yang kurang baik). Namun bagaimanapun, kecelakaan pesawat itu sendiri adalah duka mendalam bagi bangsa Indonesia.

Tempat kejadian kecelakaan, saya persisnya belum pernah lagi ke daerah tersebut. Kecamatan Karas sendiri adalah kecamatan yang baru dibentuk yang merupakan pecahan Kecamatan Karangrejo, tetangga kecamatan saya. Saya membayangkan sebagai salah satu warga di sekitar bandara Lanud Iswahyudi, tentu warga sekitar kejadian tidak pernah menduga bahwa sebuah pesawat akan menimpa rumah, atau lingkungan mereka. Sekalipun setiap hari, dengung pesawat selalu hadir, serasa dekat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kecelakaan pesawat selalu menjadi kecelakaan yang tragis, menelan duka cita dalam, banyak korban. Kecelakaan jatuhnya pesawat menimpa rumah pernah juga terjadi di Medan pada 2005 yang mengakibatkan rombongan Gubernur Sumut meninggal. Kecelakaan Hercules menimpa perumahan penduduk di Magetan ini merupakan pukulan berat bagi TNI AU.

Dari tabel diatas, bahwa peluang kecelakaan pesawat terbang cukup tinggi diantara kejadian-kejadian 'jarang' lainnya. 2 chances per milion (2 kejadian setiap satu juta) penerbangan pesawat berpeluang terjadi kecelakaan. Tentu formula tabel diatas berdasarkan peluang kejadian statistik dengan menggunakan data historis (sampai sekarang saya belum menemukan source tabel aslinya).

Terlepas bahwa takdir selalu berada mengelilingi kita, kecelakaan pesawat yang terjadi semakin menyadarkan bahwa resiko pesawat terbang lebih besar dibanding kan moda transportasi lainnya. Buat Saya yang setiap bulan selalu menggunakan pesawat untuk selalu 'eling' dan tawakal. Disamping pastinya berusaha untuk memilih maskapai terpercaya. Meski iming-iming harga miring tak bisa di pungkiri. Sebuah harapan supaya otorita penerbangan (dan TNI AU) bertindak tegas dalam hal keselamatan penerbangan.

Semoga tidak ada lagi kecelakaan pesawat dramatis seperti ini lagi di esok hari.

Thursday, April 23, 2009

Kartini dari Rumah

Setiap tahun tanggal 21 April pasti banyak orang teringat dengan Kartini, sosok pejuang yang dikenalkan sebagai pejuang emansipasi perempuan indonesia (sekalipun beberapa buku tentang kartini menjelaskan kaca mata lain). Saat dimana slogan emansipasi didengungkan di tengah keseharian banyak perempuan yang sudah aktif berada di tempat kerja dan kondisi hampir semua perempuan mempunyai kesempatan pendidikan setara.

Artinya cita-cita Kartini untuk mewujudkan pendidikan atau lebih umumnya peran perempuan menurut saya sudah terwujud. Jika sebagian aktivis perempuan masih mengatakan emansipasi belum terwujud atau hak perempuan masih terbelenggu, kondisi tersebut hanya kondisi khusus (di tempat tertentu) yang bisa diselesaikan tanpa membuat generalisasi masalah.

Bahwasannya dalam ranah wacana ‘belenggu’ terhadap perempuan sudah sirna, namun dalam praktek keseharian sekat-sekat pembatas budaya antara laki-laki dan perempuan masih nyata adanya. Pembatas tersebut tidak muncul dalam pendidikan, melainkan berpeluang makin menjadi dalam institusi rumah tangga, tempat dimana wacana Kartini tentang perempuan terdidik dan berperan sosial mendapat tantangan.

Tugas perempuan dalam rumah seperti ‘sudah ditentukan’, pekerjaan domestik mulai dari menyapu, mengepel, mencuci, memasak sampai mengurus anak. Jika semua tugas domestik harus dibebankan pada perempuan, niscaya perempuan tidak akan mempunyai waktu untuk melanjutkan jenjang pendidikannya dalam bentuk pastisipasi dalam masyarakat.

Padahal perempuan yang sudah berpendidikan (bahkan sampai tinggi) adalah ‘produk investasi’ yang seharusnya kompetensi diaktualisasikan di masyarakat sehingga lebih bermanfaat, disamping sebagai pendidik pertama bagi generasi masa depan. Sehingga peran-peran perempuan (istri) di rumah dan masyarakat pun harus seimbang, sebanding dengan peran suami di tempat kerja dan rumah.

Sekalipun wacana keseimbangan peran domestik dan publik terkesan mudah dan bisa diterapkan siapa saja, dalam prakteknya ternyata tidak semudah yang dituliskan. Misalnya dalam hal tanggung jawab suami sebagai pencari nafkah tunggal dimana istri tidak/belum bekerja, secara praktis (emosi, psikologi atau ego) suami akan menyandarkan urusan domestik sepenuhnya pada istri. Lalu jika keduanya bekerja pun, urusan domestik belum tentu lepas dari tanggung jawab perempuan. Ditambah lagi menyangkut anak, mulai dari masa kehamilan hingga tahun-tahun pertama lahir.

Para pengamat bisa saja dengan mudah mengatakan bahwa itu hanyalah bagian dari komunikasi yang harus di bangun, tapi faktanya tidak sesederhana itu. Seperti yang disampaikan diatas, bahwa sudah seperti semacam ‘turunan’ jika perempuan adalah domestik, sekalipun dia bekerja atau beraktivitas di luar rumah. Fakta ini sulit dihindari, apalagi didukung budaya timur dan norma agama yang tidak mewajibkan perempuan untuk mencari nafkah. Bahkan seorang laki-laki feminis pun, secara nurani masih akan menginginkan istri nya lebih banyak waktu di rumah mengurus keluarga daripada full aktivitas di luar.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh perempuan? Pertama yang bisa dilakukan adalah melakukan pilihan atas hidupnya. Pilihan yang dimulai dari kebebasan memilih jodohnya (dalam konteks usaha), yang diwujudkan dalam kesepahaman antara (calon) suami istri. Pilihan ketika sudah berumah tangga dimana sekalipun sudah disepakati pra-nikah tentang aktivitas istri, namun kondisi perempuan sendiri masih akan berbenturan dengan ‘ kodrat’ perempuan sebagai ‘ insan domestik’ (yang sedikit banyak dipengaruhi oleh ‘ dominasi laki-laki).

Hal lain yang bisa dilakukan tentunya dari pihak laki-laki, sebagai partner perempuan selama lebih dari setengah kehidupan dunia. Jujur tidak mudah bagi laki-laki secara sepenuhnya ikhlas melepas istri nya beraktivitas di luar, kerja full time, apalagi dalam kondisi hamil atau anak-anak di masa pertumbuhan awal. Orang modern bisa saja mencari pembantu untuk merawat anaknya, tapi hati seorang orang tua tetap tidak bisa berbohong jika disuruh memilih antara pembantu atau sendiri.

Jadi laki-laki lah yang justru menjadi kunci dari keseimbangan peran domestik dan publik bagi perempuan. Mulai tingkat kesadaran hingga dalam praktek keseharian yang menjadikan perempuan sebagai partner. Pembagian tugas domestik dengan skala prioritas, hingga transparansi dalam pengelolaan pendapatan bersama serta perencanaan masa depan.

Memang tidak mudah bagi laki-laki untuk konsisten menjaga keseimbangan peran tersebut. Sebuah bagian konsekuensi bagi laki-laki saat mengambil amanah seorang perempuan bukan hanya dari orang tua nya, melainkan dari bangsa yang sudah memberinya pendidikan untuk diamalkan.

Sebuah tantangan bagi laki-laki.

Wednesday, April 08, 2009

Tidak Memilih

Saya tidak memilih esok hari, Pemilu 9 April 2009. Pemilu pertama saya tahun 2004, mencoblos di kota tempat kuliah 5 tahun lalu. Sekalipun pendatang, kami satu kontrakan dulu rajin untuk mengurus ke pak RT dan karena sudah sedikit tahu maka pencoblosan tidak lah menjadi soal buat kami para pendatang, kami mendapat kartu pemilih.

Sedangkan pemilu kali ini, dari awal saya termasuk pesimis untuk bisa memilih. Karena secara Kartu Tanda Penduduk masih warga Magetan, sedangkan domisili di Depok. Katakanlah untuk memilih satu hari, pasti merupakan ‘pengorbanan besar’ jika harus pulang kampung. Atau mengurus surat pindah Tempat Pemungutan Suara, tetap saja harus pulang. Padahal rasanya waktu begitu cepat saat kembali pulang dari bekerja, dan kemudian kembali berangkat lagi di Palembang.

Plus awal bulan Maret lalu sudah mengurus KTP Depok, yang artinya saya ’berjudi’ tidak mendapatkan hak memilih dimanapun (KTP in process). Padahal ketika sudah masuk DPT daerah asal (Magetan), bisa saja saya mengurus formulir pindah TPS. Karena katanya DPT itu sudah dicetak bulan oktober 2008. Tapi ternyata, banyak juga warga yang tidak mengecek nama Oktober lalu baru mendapatkan dirinya tidak punya hak pilih esok hari.

Alasan tidak memilih diatas pada dasarnya karena sudah sejak akhir tahun lalu diketahui bahwa jadwal pemilu akan bertepatan di tengah jadwal on schedule di lapangan. Sungguh sebuah pilihan. Bagaimana pun ada desa terdekat untuk tempat memilih dan kondisi operasional normal kantor lapangan diliburkan, tetap saja ‘tidak nyaman’ untuk memilih di lapangan seperti ini. Pun juga buat semua pekerja yang tidak pulang ke Palembang buat Pemilu.

Jadi akhirnya saya tidak memilih. Jujur ada penyesalan dalam hati, karena tidak bisa memilih partai yang menjadi pilihan saya. Hanya bisa berdo’a semoga teman, rekan, keluarga dan masyarakat memberikan suara nya dengan baik.

Hasil quick count boleh diumumkan pada hari besok juga, maka saya sangat berharap partai pilihan akan menjadi partai yang mendulang banyak suara. Untuk Indonesia yang lebih baik, Amin.

Tuesday, March 17, 2009

Ritme hidup yang baru

Manusia senantiasa menghadapi fase-fase kehidupannya. Setelah melaksanakan “prosesi” yang agung, maka ritme kehidupan antara sebelum dan sesudahnya pun mulai berubah. Dalam hal menjadi seorang suami, maka terdapat tantangan sekaligus jawaban atas kehidupan baru yang dijalani tersebut.

Setelah melalui rangkaian acara dalam keluarga, maka mulailah keluarga muda ini menjalani kehidupan yang nyata. Hal yang paling depan dihadapi adalah kenyataan untuk tidak bisa bertemu setiap hari karena kewajiban pekerjaan saya sekaligus kewajiban pendidikan sang istri yang harus dituntaskan.

Dalam 26 hari, rata-rata kesempatan bertemu kami sebanyak 12 hari. Sebanyak 12 hari itu masih merupakan kesempatan karena baru akan menjadi realisasi pertemuan jika diwujudkan, pilihannya antara rumah Depok atau tempat tinggal istri di bandung. Dan setelah berhitung dengan kewajiban kantor saya di Jakarta ditambah kewajiban penelitian istri di Bandung, maka praktis selama 7-8 hari saja kami bertemu.

Tentu hal tersebut adalah tantangan yang kami hadapi. Mungkin buat kami , saat jauh benar-benar terasa. Dan sebaliknya, saat bersama pun benar-benar terasa (anda yang berkesempatan bertemu istri/suami tiap hari harus banyak bersyukur :). Namun saya berpikir, tantangan yang dihadapi tiap keluarga baru pasti ada dan berbeda-beda tiap pasangan.

Oleh karenanya setiap sebelum saya pulang on duty dari ranah sumatera, pasti kami sudah mengatur jadwal selama saya off duty. Jadwal kapan saja bertemu, kapan tinggal di rumah depok, kapan belanja isi rumah, kapan ke bandung, kapan jalan-jalan, dengan mempertimbangkan saya harus masuk kantor Jakarta 3 hari dan kelangsungan penelitian istri di Bandung.

Umumnya orang akan melihat hal itu adalah sebuah “usaha ekstra”. Ritme seperti tersebut sudah pasti dibicarakan dengan sejelasnya tentang konsekuensi tersebut sebelum pernikahan. Sehingga sesudahnya, perjalanan ritme tersebut bisa dinikmati.

Mungkin ritme hidup diatas yang bisa menjelaskan mengapa saya (dan istri) menurun aktivitas menulis belakangan ini. Boleh dikatakan kami benar-benar dalam masa adaptasi terhadap ritme hidup yang baru tersebut. Dalam 7-8 hari bertemu, pasti kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk merajut tali keluarga. Sehingga saat ini mungkin lebih mudah menulis saat kami berdua saling jauh, terlepas kewajiban masing-masing terhadap tanggung jawab pekerjaan dan penelitian yang menyibukan

Seperti biasa orang yang stag dalam menulis, maka ide tulisan selalu bermunculan di kepala. Saat kami menonton berdua, saat kami jalan-jalan ke pantai, saat kami membaca, atau saat kami diskusi panjang lebar, atau bahkan saat kami sendiri dalam kamar terpisah pulau. Namun memang menuliskannya masih merupakan tantangan kami berdua. Padahal kami ingin sekali berbagi mengenai hal-hal bermanfaat kepada teman semua.

Sangat berbeda dengan seorang penulis kenalan kami. Beliau bekerja terpisah dengan keluarganya, dan normalnya hanya tiga hari dalam dua minggu sekali pulang. Namun saya melihatnya, justru karena jauh itu maka aliran menulisnya mengalir. Buktinya, sudah banyak cerpen dan novel terbit torehan tangannya. Belum tentu ketika bersama keluarga hasil tulisannya selancar ketika sendiri. Orang bilang, jiwa dalam keadaan sendiri membuat seseorang menjadi lebih memaknai sesuatu.

Dan mungkin sindrom menulis sendiri itu juga yang mulai membayangi kami. Tapi saya (kami) bukan seperti penulis tersebut, yang memang sudah terbukti karyanya (atau mungkin suatu hari nanti, amin). Kami hanya ingin berbagi kepada teman-teman semua.

Akhirnya setelah lama tidak menorehkan pikiran dalam tulisan, coretan ringan ini mudah-mudahan menjadi pengantar untuk kembali menulis, terutama untuk blog kami berdua. Sekalipun ingin hal-hal yang berkualitas, namun rasanya hal-hal ringan pun bisa menjadi pengisi coretan yang bermanfaat.

Saya ingin menulis, kami ingin menulis.

Tuesday, January 20, 2009

Antara Emosional dan Rasional

Konon otak kiri manusia dominant rasional, sedang otak kanan nya dominansi emosional. Konon juga, perempuan lebih banyak menggunakan sisi emosional dibanding rasional. Sedangkan laki-laki sebaliknya, lebih banyak menggunakan sisi rasional dibandingkan emosional. Walaupun tidak selamanya benar, namun secara umum hal itu benar adanya.

Mengambil sebuah keputusan dengan menyeimbangkan alasan rasional dan emosional tentu sebuah tantangan. Tidak hanya di lingkungan keluarga, namun juga di lingkungan pekerjaan yang biasanya sangat dominan wilayah rasional.

Bagi orang jawa (dan mungkin cina), segala sesuatu terkait dengan hari, harus lolos kualifikasi ’hari baik’. Perhitungan jawa yang sangat teliti akan melihat dan menganalisa apakah termasuk hari baik atau tidak. Hal ini menurut saya lebih ke arah ’emosional’, dimana disebabkan oleh kultural.

Momen-momen penting dalam tahapan hidup orang jawa tidak lepas dari perhitungan tersebut. Misalnya pindah rumah, menikah atau bahkan berpergian jauh. Karena keluarga saya adalah jawa yang masih sedikit banyak ’menghitung’, maka saya pun dikondisikan dalam koridor ’hari baik’ tersebut.

Saat saya memutuskan untuk mulai menempati rumah depok tengah november lalu, ibu ’menyarankan’ untuk menempatinya pada saat hari pasaran lahir saya dengan syukuran sebagai penghuni rumah baru. Padahal hari pasaran itu jatuh pada desember awal. Alasan saya untuk segera menempati rumah jelas, bahwa karena rumah sudah hak milik, buat apa mengeluarkan lagi uang untuk kos bulanan dengan hanya ditinggali 4 hari sebulan?

Alasan rasional itu saya sampaikan ke ibu saya dengan mengatakan bahwa syukuran kecil mengundang tetangga tetap dilakukan sebagai permisi ke tetangga baru. Namun tetap, bukannya redam malah ibu meminta untuk niat ’numpang tidur’ di rumah baru tersebut sampai hari pasaran itu tiba. Daripada berlama-lama, saya iya kan saja hal tersebut.

Konon, pindah rumah yang hakiki menurut orang jawa itu adalah saat memasukan tempat tidur dan perangkatnya ke rumah baru. Dan benar, ibu saya sampai meminta pada hari pasaran untuk membeli tikar, bantal dan guling untuk dimasukan ke rumah. Plus di kampung, ibu menggelar syukuran kecil dengan ’niat’ membatalkan syukuran awal saya bersama tetangga sekitar sebulan sebelumnya.

Tapi itu masih juga belum selesai. Awal tahun ini setelah pulang, saya masih diminta membawa sepaket beras dan gula putih. Awalnya masing-masing satu kilo, namun akhirnya berhasil ’nego’setengahnya. Katanya, syarat orang berumah-rumah itu ada bahan makanan yang disimbolkan oleh beras dan gula.

Anda mungkin tersenyum membaca cerita saya ini, tapi ini lah yang dihadapi seorang anak ’rasional’ dan ibu ’emosional’. Dimana seringkali kami benturan karena tarikan rasional-emosional tersebut. Namun setelah mulai muncul seseorang baru dalam kehidupan saya akhir-akhir ini, benturan tersebut sedikit sedikit bisa di damaikan.

Seperti pesan ibu lewat sms kepada beliau setelah ibu membawakan beras dan gula beberapa waktu lalu, ”Hendro ibu bawai beras dan gula setengah kg cuma sarat berasnya dimasak, gula semua jangan sampai kebuang. Itu pokok dari orang tua biar sempulur rejeki pangannya” *

Jadi, memang sudah ada orang yang tampaknya menjadi penengah ’hubungan’ antara saya dan ibu.. :)

* sempulur = lancar