Wednesday, April 08, 2009

Tidak Memilih

Saya tidak memilih esok hari, Pemilu 9 April 2009. Pemilu pertama saya tahun 2004, mencoblos di kota tempat kuliah 5 tahun lalu. Sekalipun pendatang, kami satu kontrakan dulu rajin untuk mengurus ke pak RT dan karena sudah sedikit tahu maka pencoblosan tidak lah menjadi soal buat kami para pendatang, kami mendapat kartu pemilih.

Sedangkan pemilu kali ini, dari awal saya termasuk pesimis untuk bisa memilih. Karena secara Kartu Tanda Penduduk masih warga Magetan, sedangkan domisili di Depok. Katakanlah untuk memilih satu hari, pasti merupakan ‘pengorbanan besar’ jika harus pulang kampung. Atau mengurus surat pindah Tempat Pemungutan Suara, tetap saja harus pulang. Padahal rasanya waktu begitu cepat saat kembali pulang dari bekerja, dan kemudian kembali berangkat lagi di Palembang.

Plus awal bulan Maret lalu sudah mengurus KTP Depok, yang artinya saya ’berjudi’ tidak mendapatkan hak memilih dimanapun (KTP in process). Padahal ketika sudah masuk DPT daerah asal (Magetan), bisa saja saya mengurus formulir pindah TPS. Karena katanya DPT itu sudah dicetak bulan oktober 2008. Tapi ternyata, banyak juga warga yang tidak mengecek nama Oktober lalu baru mendapatkan dirinya tidak punya hak pilih esok hari.

Alasan tidak memilih diatas pada dasarnya karena sudah sejak akhir tahun lalu diketahui bahwa jadwal pemilu akan bertepatan di tengah jadwal on schedule di lapangan. Sungguh sebuah pilihan. Bagaimana pun ada desa terdekat untuk tempat memilih dan kondisi operasional normal kantor lapangan diliburkan, tetap saja ‘tidak nyaman’ untuk memilih di lapangan seperti ini. Pun juga buat semua pekerja yang tidak pulang ke Palembang buat Pemilu.

Jadi akhirnya saya tidak memilih. Jujur ada penyesalan dalam hati, karena tidak bisa memilih partai yang menjadi pilihan saya. Hanya bisa berdo’a semoga teman, rekan, keluarga dan masyarakat memberikan suara nya dengan baik.

Hasil quick count boleh diumumkan pada hari besok juga, maka saya sangat berharap partai pilihan akan menjadi partai yang mendulang banyak suara. Untuk Indonesia yang lebih baik, Amin.

Tuesday, March 17, 2009

Ritme hidup yang baru

Manusia senantiasa menghadapi fase-fase kehidupannya. Setelah melaksanakan “prosesi” yang agung, maka ritme kehidupan antara sebelum dan sesudahnya pun mulai berubah. Dalam hal menjadi seorang suami, maka terdapat tantangan sekaligus jawaban atas kehidupan baru yang dijalani tersebut.

Setelah melalui rangkaian acara dalam keluarga, maka mulailah keluarga muda ini menjalani kehidupan yang nyata. Hal yang paling depan dihadapi adalah kenyataan untuk tidak bisa bertemu setiap hari karena kewajiban pekerjaan saya sekaligus kewajiban pendidikan sang istri yang harus dituntaskan.

Dalam 26 hari, rata-rata kesempatan bertemu kami sebanyak 12 hari. Sebanyak 12 hari itu masih merupakan kesempatan karena baru akan menjadi realisasi pertemuan jika diwujudkan, pilihannya antara rumah Depok atau tempat tinggal istri di bandung. Dan setelah berhitung dengan kewajiban kantor saya di Jakarta ditambah kewajiban penelitian istri di Bandung, maka praktis selama 7-8 hari saja kami bertemu.

Tentu hal tersebut adalah tantangan yang kami hadapi. Mungkin buat kami , saat jauh benar-benar terasa. Dan sebaliknya, saat bersama pun benar-benar terasa (anda yang berkesempatan bertemu istri/suami tiap hari harus banyak bersyukur :). Namun saya berpikir, tantangan yang dihadapi tiap keluarga baru pasti ada dan berbeda-beda tiap pasangan.

Oleh karenanya setiap sebelum saya pulang on duty dari ranah sumatera, pasti kami sudah mengatur jadwal selama saya off duty. Jadwal kapan saja bertemu, kapan tinggal di rumah depok, kapan belanja isi rumah, kapan ke bandung, kapan jalan-jalan, dengan mempertimbangkan saya harus masuk kantor Jakarta 3 hari dan kelangsungan penelitian istri di Bandung.

Umumnya orang akan melihat hal itu adalah sebuah “usaha ekstra”. Ritme seperti tersebut sudah pasti dibicarakan dengan sejelasnya tentang konsekuensi tersebut sebelum pernikahan. Sehingga sesudahnya, perjalanan ritme tersebut bisa dinikmati.

Mungkin ritme hidup diatas yang bisa menjelaskan mengapa saya (dan istri) menurun aktivitas menulis belakangan ini. Boleh dikatakan kami benar-benar dalam masa adaptasi terhadap ritme hidup yang baru tersebut. Dalam 7-8 hari bertemu, pasti kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk merajut tali keluarga. Sehingga saat ini mungkin lebih mudah menulis saat kami berdua saling jauh, terlepas kewajiban masing-masing terhadap tanggung jawab pekerjaan dan penelitian yang menyibukan

Seperti biasa orang yang stag dalam menulis, maka ide tulisan selalu bermunculan di kepala. Saat kami menonton berdua, saat kami jalan-jalan ke pantai, saat kami membaca, atau saat kami diskusi panjang lebar, atau bahkan saat kami sendiri dalam kamar terpisah pulau. Namun memang menuliskannya masih merupakan tantangan kami berdua. Padahal kami ingin sekali berbagi mengenai hal-hal bermanfaat kepada teman semua.

Sangat berbeda dengan seorang penulis kenalan kami. Beliau bekerja terpisah dengan keluarganya, dan normalnya hanya tiga hari dalam dua minggu sekali pulang. Namun saya melihatnya, justru karena jauh itu maka aliran menulisnya mengalir. Buktinya, sudah banyak cerpen dan novel terbit torehan tangannya. Belum tentu ketika bersama keluarga hasil tulisannya selancar ketika sendiri. Orang bilang, jiwa dalam keadaan sendiri membuat seseorang menjadi lebih memaknai sesuatu.

Dan mungkin sindrom menulis sendiri itu juga yang mulai membayangi kami. Tapi saya (kami) bukan seperti penulis tersebut, yang memang sudah terbukti karyanya (atau mungkin suatu hari nanti, amin). Kami hanya ingin berbagi kepada teman-teman semua.

Akhirnya setelah lama tidak menorehkan pikiran dalam tulisan, coretan ringan ini mudah-mudahan menjadi pengantar untuk kembali menulis, terutama untuk blog kami berdua. Sekalipun ingin hal-hal yang berkualitas, namun rasanya hal-hal ringan pun bisa menjadi pengisi coretan yang bermanfaat.

Saya ingin menulis, kami ingin menulis.

Tuesday, January 20, 2009

Antara Emosional dan Rasional

Konon otak kiri manusia dominant rasional, sedang otak kanan nya dominansi emosional. Konon juga, perempuan lebih banyak menggunakan sisi emosional dibanding rasional. Sedangkan laki-laki sebaliknya, lebih banyak menggunakan sisi rasional dibandingkan emosional. Walaupun tidak selamanya benar, namun secara umum hal itu benar adanya.

Mengambil sebuah keputusan dengan menyeimbangkan alasan rasional dan emosional tentu sebuah tantangan. Tidak hanya di lingkungan keluarga, namun juga di lingkungan pekerjaan yang biasanya sangat dominan wilayah rasional.

Bagi orang jawa (dan mungkin cina), segala sesuatu terkait dengan hari, harus lolos kualifikasi ’hari baik’. Perhitungan jawa yang sangat teliti akan melihat dan menganalisa apakah termasuk hari baik atau tidak. Hal ini menurut saya lebih ke arah ’emosional’, dimana disebabkan oleh kultural.

Momen-momen penting dalam tahapan hidup orang jawa tidak lepas dari perhitungan tersebut. Misalnya pindah rumah, menikah atau bahkan berpergian jauh. Karena keluarga saya adalah jawa yang masih sedikit banyak ’menghitung’, maka saya pun dikondisikan dalam koridor ’hari baik’ tersebut.

Saat saya memutuskan untuk mulai menempati rumah depok tengah november lalu, ibu ’menyarankan’ untuk menempatinya pada saat hari pasaran lahir saya dengan syukuran sebagai penghuni rumah baru. Padahal hari pasaran itu jatuh pada desember awal. Alasan saya untuk segera menempati rumah jelas, bahwa karena rumah sudah hak milik, buat apa mengeluarkan lagi uang untuk kos bulanan dengan hanya ditinggali 4 hari sebulan?

Alasan rasional itu saya sampaikan ke ibu saya dengan mengatakan bahwa syukuran kecil mengundang tetangga tetap dilakukan sebagai permisi ke tetangga baru. Namun tetap, bukannya redam malah ibu meminta untuk niat ’numpang tidur’ di rumah baru tersebut sampai hari pasaran itu tiba. Daripada berlama-lama, saya iya kan saja hal tersebut.

Konon, pindah rumah yang hakiki menurut orang jawa itu adalah saat memasukan tempat tidur dan perangkatnya ke rumah baru. Dan benar, ibu saya sampai meminta pada hari pasaran untuk membeli tikar, bantal dan guling untuk dimasukan ke rumah. Plus di kampung, ibu menggelar syukuran kecil dengan ’niat’ membatalkan syukuran awal saya bersama tetangga sekitar sebulan sebelumnya.

Tapi itu masih juga belum selesai. Awal tahun ini setelah pulang, saya masih diminta membawa sepaket beras dan gula putih. Awalnya masing-masing satu kilo, namun akhirnya berhasil ’nego’setengahnya. Katanya, syarat orang berumah-rumah itu ada bahan makanan yang disimbolkan oleh beras dan gula.

Anda mungkin tersenyum membaca cerita saya ini, tapi ini lah yang dihadapi seorang anak ’rasional’ dan ibu ’emosional’. Dimana seringkali kami benturan karena tarikan rasional-emosional tersebut. Namun setelah mulai muncul seseorang baru dalam kehidupan saya akhir-akhir ini, benturan tersebut sedikit sedikit bisa di damaikan.

Seperti pesan ibu lewat sms kepada beliau setelah ibu membawakan beras dan gula beberapa waktu lalu, ”Hendro ibu bawai beras dan gula setengah kg cuma sarat berasnya dimasak, gula semua jangan sampai kebuang. Itu pokok dari orang tua biar sempulur rejeki pangannya” *

Jadi, memang sudah ada orang yang tampaknya menjadi penengah ’hubungan’ antara saya dan ibu.. :)

* sempulur = lancar

Monday, January 19, 2009

[Approved] Kartu Kredit Mandiri

Hari selasa 13 Januari lalu datang surat dari Bank Mandiri ke kantor, terpampang jelas bahwa itu tentang kartu kredit (CC, Credit Card) Sedikit heran karena aplikasi kartu kredit saya sudah disapproved dua bulan yang lalu. Lalu mengapa kartu Gold ini datang?

Saya mencoba klarifikasi dengan seorang teman di Bank Mandiri, tapi jawabannya belum memuaskan yaitu kelambanan kurir (2 bulan? sudah dispproved, kenapa akhirnya approved juga?). Kemudian, saya mempunyai hipotesa sendiri tentang kronologi aplikasi ini.

Hipotesa pertama. Setelah Customer Service (CS) Mandiri melalui email mengatakan bahwa aplikasi saya disapproved, saya membuat post di blog dan beberapa menuai komen yang ‘sedikit menyesalkan’ keputusan Bank Mandiri.

Saya sendiri tak ambil pusing karena toh aplikasi saya disapproved. Tapi jujur, saya menyumpah dalam hati jika tak akan mengajukan aplikasi CC ke Mandiri sekalipun masa suspension berakhir setelah 6 bulan tanggal pengajuan. Kepada teman Mandiri itu saya menyampaikan kekesalan dan ’sumpah’ saya tersebut (maaf kawan..hehe). Pun kepada CS Mandiri salah satu KCP di Pancoran (dengan sopan, tanpa ‘sumpah-sumpahan’). Kemudian, sedemikian rupa sehingga pihak Mandiri akhirnya meloloskan aplikasi saya.

Hipotesa kedua. Sebenarnya kurang ada komunikasi antara bagian CS dan CC Mandiri. Ini terbukti dulu dengan proses yang lama dari saat saya mengajukan hingga keluar keputusan disapproved (3 bulan!). Dan ini juga terbukti antara keputusan CC dimana aplikasi saya lolos, namun CS memberitahukan aplikasi saya disapproved.

Hipotesa ketiga. Mandiri memang disapproved aplikasi CC saya, namun dengan beberapa kondisi terakhir perekonomian maka beberapa aplikasi CC yaang sempat suspensi dibuka dan dianalisis lagi. Dimana akhirnya aplikasi saya lolos.

Itulah beberapa hipotesa saya tentang Gold Mandiri yang datang ini. Apapun alasan sebenarnya dari Mandiri, saya menghargainya. Pun saya menjatuhkan pilihan aplikasi CC ke Mandiri bukan tanpa sebab. Dan karena CC Mandiri ini masuk dalam plan teknik keuangan saya, maka saya pun mengaktifkannya. Terima kasih kepada rekan Mandiri yang membantu saya.

Monday, January 12, 2009

Langkah Baru

Alhamdulillah, saya sedang menuju sebuah langkah baru yang besar dalam kehidupan. Langkah baru tersebut ditandai juga dengan pembuatan weblog baru, sebagai perpaduan dua insan blogger.

Saya berharap rekan-rekan akan sudi mengunjungi weblog kami, http://triandika.net

Weblog tersebut tidak akan serta merta menghapus jejak blog 3an ini (dan blog kisah). Akan ada saatnya kami menulis di blog bersama, dan ada kalanya kami menulis di blog sendiri.

Demikian sebuah langkah baru dimulai, terima kasih banyak atas partisipasi dan apresiasi nya selama ini. Do'akan pernikahan kami dan seterusnya berjalan dengan baik, amin.