Thursday, June 16, 2005

Menikmati “Kehidupan”

Perjalanan adalah suatu hal yang tidak pernah lepas dari kehidupan manusia ,begitu pula mahasiswa. Tertuama untuk mahasiswa yang berasal dari daerah-daerah di luar kota tempatnya menuntut ilmu. Meskipun tidak semuanya, sebagian besar mahasiswa dalam satu tahun melakukan sebuah perjalanan panjang ke kampung halamannya. Untuk kasus-kasus tententu, perjalanan mudik adalah bagian kehidupan mahasiswa yang tak terpisahkan, yang selalu dilakukan tiap minggu. Namun ada juga fenomena dimana perjalanan pulang kampung adalah kegiatan “sakral” yang tidak akan dilakukannya sebelum menjadi orang sukses di negeri seberang, entah berapa lama waktunya.

Bagi mahasiswa, kadangkala memilih sarana transportasi untuk perjalanan menjadi sesuatu hal yang menarik. Kombinasi variabel keputusan pemilihan-lah yang menjadikannya berbeda dengan orang kebanyakan. Fasilitas memadai nan nyaman, singkatnya waktu perjalanan mungkin akan dengan mudah disingkirkan dengan pertimbangan ekonomis. Bahkan alasan memilih sarana transport yang murah tidaklah selalu kongruen dengan kantong yang cekak. Namun, logika berpikir mahasiswa yang irit dan hemat akhirnya yang memenangkan kuasa itu. Tidak untuk ditabung biasanya, melainkan untuk mendapatkan sesuatu hal idaman yang tidak mungkin itu diungkapkan secara jujur ke orang tua. Atau bisa juga sesuatu yang lebih mulia, pembuktian alasan solidaritas antar teman misalnya.

Contohnya, Kereta Kahuripan (kami biasa menyebutnya “Kehidupan” supaya lebih elite) yang melayani trayek Bandung-Kediri. Kereta rakyat ini sering digunakan pilihan dalam perjalanan tahunan beberapa mahasiswa juga. Tentu, alasan utamanya adalah murah. Meskipun akhir-akhir ini, harga miring itu sangat jauh dengan imbalan pelayanan yang seharunya dinikmati oleh penumpangnya. Tempat duduk yang sempit, toilet yang jarang sekali bersih dan udara panas selalu ditemukan dalam kereta itu. Yang paling menyedihkan adalah keadaan penumpang yang kurang diperhatikan. Setelah teramat penuh pun, penumpang bertiket tetap dibolehkan naik. Tak ayal, suasana pengap dan bau sangat “khas” menyembul di tengah kerumunan. Sedangkan untuk masalah waktu, jangan pernah mengharapkan kereta bisa tepat waktu. Jadi sebaiknya memang hanya orang-orang yang tidak punya constrain waktu ketat yang sabar dengan “kehidupan” ini.

Kesan bahwa korupsi adalah budaya bangsa semakin kentara di kereta ini (dan kereta ekonomi pada umumnya). Penulis tidak tahu sebegitu canggihnya “jaringan mafia” itu sehingga korupsi menjadi legal sebagai bagian dari pelayanan. Misalnya seperti ini, perjalanan dengan kereta ini bisa dilakukan tanpa membeli tiket terlebih dulu di loket stasiun. Karena tiket bisa dibayarkan di dalam kereta, istilahnya coba dulu baru bayar. Ada lagi yang lain, harga tempat duduk seringkali menjadi sarana “pelayanan” tersebut. Tempat duduk sengaja dijual lebih mahal (apalagi hari-hari tertentu) atau yang lebih menyesatkan, nomor tempat duduk yang diberikan hanyalah fiktif. Bisa dibayangkan betapa kalang kabutnya penumpang di kereta saat menemukan nomornya tidak ada. Ujung-ujungnya jelas, berdiri atau cukup duduk dlosoran.

Bagi yang sudah memiliki jam terbang tinggi dengan kereta jenis ini, pokoknya berani bayar di atas bisa jadi (hampir pasti) bakalan lebih murah nantinya. Hal yang sering dilakukan oleh seorang laki-laki sendiri dan pemuda lajang. Disinilah, mahasiswa ternyata tidak sedikit pula yang melakukannya. Orang yang dianugerahi gelar oleh masyarakat sebagai kalangan intelektual muda. Dalam hal ini, saya tidak akan membedah tentang perilaku tersebut. Karena itu tak ubahnya mengungkitr aib saudara sendiri. Namun, akan berusaha untuk melihat kehidupan sebuah kereta ekonomi dari sisi yang lain.

Bagi penulis, perjalanan adalah sebuah cara unique untuk melihat wajah kehidupan masyarakat. Memandang ini bisa sangat dekat bila kemudian yang menjadi teman-teman perjalanan memang kalangan rakyat bawah. Pertanyaannya, Bagimana kita berinteraksi dengan rakyat “teman perjalanan” walaupun hanya semalam. Bukankah dalam perjalanan tidur selalu jadi pilihan utama? Nampaknya bila memilih “Kehidupan” seperti diatas, tidur mungkin bukan pilihan terbaik. Ditambah juga karena saking “full music”nya, tengah malam pun masih ada yang menyodorkan sebuah kantong plastik pada kita. Makanya akan lebih bijak bila kemudian kita “menikmatinya” saja.

Bagi yang hobinya membaca, saat-saat seperti itu menjadi waktu yang tepat untuk melatih konsentrasi membaca. Diharapkan setelah turun dari kereta, kemampuan konsentrasi meningkat dan membaca dimanapun bukan masalah nantinya. Bagi yang kegemarannya mengobrol, kereta ini pun memberikan kesempatan bagi kita untuk berbicara ngalor-ngidul dengan penghuni temporer lainnnya. Jika anda bosan, tetaplah mendengarkan dengan hanya mengangguk-angguk sedikit kepala. Itu sudah merupakan wujud mengargai pembicara walupun kita tidak memperhatikannya. Dan jangan salah, melek bagi rakyat kecil adalah aktivitas biasa. Mungkin karena pola hidup pertanian yang sering menjadikan malam sebagai waktu penjagaan. Yang terbaru, siapa lagi yang menjaga TPS-TPS selain masyarakat kecil.

Lalu yang suka mencari barang-barang dengan harga miring, sepertinya anda harus menyediakan dana lebih. Karena bermacam jenis barang berseliweran dengan harga yang menggairahkan pastinya. Atau yang hobinya mengamati setiap detil langkah perjalanan sebagai metode mendaptkan inspirasi, ilham, insight. Kereta inipun mampu memberikan segudang sumber inspirasi yang berasal dari sketsa pemandangan nature dan kehidupan sosial sekaligus. Bagi orang seperti ini, buku dan pulpen harus menjadi teman lamunannya. Begitu juga dengan aktivitas-aktivitas kegemaran lainnya, bisa dilakukan dengan nyaman dan penuh kenikmatan. Syaratnya, pandai-pandailah men-set otak kanan selama perjalanan, agar lebih enjoy menghadapi kehidupan khas rakyat jelata.

Jika tetap saja tidak mampu menghadirkan kenyamanan dalam perjalanan, keputusan memilih kereta ekonomi untuk perjalanan tak usah disesali. Setidaknya sebagai bagian bangsa ini, kita perlu merasakan kehidupan rakyat yang sebenarnya. Bukan sok idealis, tapi konsep manajemen modern memberikan pelajaran bahwa seorang pimpinan harus bisa melakukan pekerjaan bawahan-bawahannya. Artinya seorang manajer pun juga jangan sungkan untuk melakukan pekerjaan menyapu seperti tukang sapu kantornya. Lihatlah orang jepang yang sering melakukan seperti ini. Selanjutnya seorang pimpinan diharapkan lebih adil dalam menetapkan imbalan pekerjaan yang pantas, sesuai dengan berat-ringan tanggung jawab yang juga pernah dilakukannya.

Atau seorang anggota dewan perwakilan harusnya merasakan benar kehidupan rakyat bawah, baru kemudian berhak mengklaim diri sebagai wakil rakyat. Dan juga para pemimpin bangsa Indonesia. Bagaimana menyatakan sebagai penyambung lidah rakyat jika ternyata belum pernah merasakan (lagi) pahit-getirnya kehidupan rakyatnya sendiri. Jika hidup di tengah-tengah lingkungan tempat tinggalnya belum sanggup, kereta tipe ekonomi bisa menjadi alternatif murah, meriah dan waktu yang singkat. Tentu dengan suasana sealami mungkin yang tidak dibuat-dibuat demi sang birokrat.

Jadi, keputusan memilih segala sesuatu pun bukan hanya didasari karena kita suka akan sesuatu tersebut. Begitu pula sebaliknya, langsung menolaknya karena sebenarnya kita mampu untuk memilih dengan sesuatu yang lebih baik. Begitu halnya dengan pilihan kereta ekonomi ini (dan semua sarana rakyat lainnya). Yang menyedihkan pula, gambaran mahasiswa di atas menjadi pemandangan langka di gerbong-gerbong kereta ekonomi sekarang ini. Tidak semata untuk menyisihkan uang saku, atau bahkan tidak pula hanya untuk sekedar mencoba. Pilihan yang karena kesadaran akan kebutuhan untuk ikut (sejenak) larut dalam lembah perjuangan kehidupan rakyat. Bukan kehidupan yang penuh ambisi uang, nilai dan penghargaan sesaat.

Sehingga saya pikir kita semua perlu “sesekali” mencoba dan merasakan kereta rakyat ini. Bagi yang sudah terbiasa dengannya, jangan terjebak dengan pemikiran pragmatis-simplistis, alon-alon asal klakon. Percuma Tuhan memberi kesempatan nafas pada kita selama perjalanan jika hanya untuk satu tujuan tunggal, “yang penting sampai”. Banyak yang bisa kita peroleh bila benar-benar mampu menghadirkan “makna” dalam setiap kibasan pandangan mata, lintasan pikiran dan desiran hati kita. Dan masing-masing dari kita pun akan berbeda dalam mendapatkan makna dari sebuah perjalanan.

Semoga di akhir perjalanan, kita menjadi orang-orang baru yang tercerahkan (lighten) setelah melihat di sisi kanan kita, (ternyata) betapa masih kayanya indonesia ini yang ditunjukan dengan alam nan permai. Namun di sisi kiri pandangan kita, rakyat masih saja hidup dalam keprihatinan dan penuh pengorbanan. Dan kuliah kita di kampus ini, harusnya untuk mengubah ketidakadilan itu. Mari kita coba!!!



Juli 2004
Catatan Sebuah Perjalanan

No comments: