Wednesday, August 27, 2008

Menjadi laki-laki

“Aku ingin menjadi laki-laki“
Kalimat itu yang terucap saat terakhir kita bertemu di lembah itu. Dan sekejap langsung nafasku terhenti. Kupandang dirimu yang menatap kosong pada rerumputan ilalang di bawah sana. Wajahku serius menenatpnya, menunjukan sebuah keterkejutan sekaligus pertanyaan. Ingin menjadi laki-laki, apa sedari dulu kau bukan seorang laki-laki?

Hingga akhirnya kau meninggalkanku di kota itu. Bukan saja diriku, tapi juga semua kehidupan mapanmu lainnya. Kau sudah bekerja pada sebuah perusahaan multinasional, dengan jabatan yang tidak semua orang bisa mudah mendapatkannya. Gaji? Jangan kau tutup-tutupi, tapi untuk hidup, lalu menabung, dan lainnya pun masih terasa berlebihan. Kau laki-laki, tepatnya laki-laki yang sudah bisa mendapatkan kemapanan, sebuah tingkat yang jarang manusia lain bisa mencapainya di seusiamu.

Lalu, kehidupan bahagia yang disyaratkan dengan adanya rasa cinta dan kasih sayang pun sudah kau ciptakan. Orang tua atau ibumu, tentu bangga dengan apa yang raih. Lulus dari sebuah perguruan tinggi bergensi dengan predikat berprestasi, dan diteruskan dengan karir kerjamu.

Sahabat atau teman, sebuah kelompok yang harus dilihat jika ingin mengetahui pribadi seseorang. Kau punya sahabat dan teman yang menyayangi. Dan bahkan sangat menyayangimu. Yang namanya kepercayaan dan pengkhianatan adalah dua hal sekeping yang kau hati-hati disana. Hampir teman atau sahabat orang mengenalmu yakin, bahwa kau teman atau sahabat yang baik.

Jika kemudian kau rasakan bahwa kehidupan begitu hampa dan sendiri, mungkin itu karena kau tak kunjung juga menemukan belahan hatimu. Tapi itu hanya urusan waktu bukan, seperti yang pernah kau katakan. Seseorang yang mantap dengan calonnya pun belum tentu akan menjadi pasangan sejatinya karena memang bukan jodoh untuknya. Ah, aku jadi ingat bagaimana kau jatuh cinta pada seseorang dan tak tercapai cintamu itu. Dengan perempuan, laki-laki memang siap melakukan tiga hal: mencintainya, terluka karena cintanya, dan menjadikannya inspirasi karya sastra.

Pun bukan masalah besar mengenai pasangan itu. Sekali lagi, kau sedang menunggu saat yang tepat (atau orang yang tepat?). Bisa saja kau akan melupakan atau setidaknya tidak memikirkan tentang berkeluarga.Ingat yang kau katakan, manusia itu berproses dalam hidupya. Dan menikah serta berkeluarga, adalah salah satu proses kehidupan yang maha penting. Jangan kau biarkan dirimu terlena dengan kehidupan yang kau rasakan sekarang.

Dan, kau memang tidak terlena dengan kehidupan yang kau capai sekarang. Sengaja kau mengajakku ke lembah ini untuk mengucapkan kata perpisahaan. Pekerjaan dan uang adalah penting, namun semua akan sia-sia tanpa ada kepuasaan hati disana. Dan kau katakan padaku, bahwa kau ingin bekerja (atau mengabdi lebih tepatnya) di sebuah lembaga sosial yang menangani rehabilitasi Aceh pasca tsunami.

Antara bahagia dan heran aku tanggapi rencanamu itu. Bahagia, karena tidak semua orang punya itikad untuk melakukan pekerjaan sosial seperti itu. Jangankan untuk pergi ikut bersama menangani kondisi pasca bencana, untuk membuka mata hati atas ketimpangan di sekitarnya pun tidak semua orang bisa. Mulia, sungguh niat mulia yang kau punya untuk pergi ke Aceh.

Tapi aku juga heran, itu artinya kau akan meninggalkan semua yang kau dapat disini. Kehidupan mapan dengan pekerjaan yang prestis, ibu yang selalu mendo’akan dan tak berhenti mencurahkan kasihnya, teman serta sahabat yang selalu menyediakan diri berbagi dalam suka maupun duka. Kau akan tinggalkan semuanya. Benarkah, kau akan meninggalkan itu semua?

“Tapi, aku ingin benar-benar menjadi laki-laki“ Sekali lagi, kau ucapkan itu dalam suara mantap dan dalam. Tentu bukan tanpa alasan kaui ucapkan itu. Sebuah bahasa tersirat, bukan bahasa tersurat.

“Apa yang kau inginkan dengan manjadi laki-laki?“ sebuah pertanyaanku menyergap datang kepadamu.
“Seorang laki-laki, adalah manusia yang punya tanggung jawab, tangguh dan berani. Semuanya dalam keadaan yang lebih dan lebih lagi dalam setiap penggalan masa.“ Kau memulai untuk menjelaskan panjang lebar alasanmu.

Bagaimana laki-laki akan mempunyai tanggung jawab, jika tanggung jawab yang diemban sekarang tidak membuatnya merasa berat sehingga hidupnya benar-benar harus dipertaruhkan untuknya. Untuk tanggung jawab, kau tidak sepakat bila tanggung jawab sebagai suami atau ayah adalah jawaban. Ini adalah tanggung jawab terhadap orang lain, katamu. Dan kau katakan bahwa tanggung jawab yang paling tinggi kepada tanah yang diinjaknya. Aceh adalah bagian tanah kita yang sedang bangkit kembali, dan kau ingin mengambil tanggung jawab itu.

Lalu, laki-laki seharusnya tangguh dalam menghadapi kehidupan. Ketangguhan itu dilakukan, bukan dengan berdiam. Semakin mendapatkan sesuatu terpaan menggoncang, disitulah ketangguhan diuji. Dan kau tak merasa tangguh dalam kondisi nyaman, semua tercukupi seperti sekarang. Tidak memicu ketangguhan itu muncul, dalam wujud yang sejati. Dan laki-laki, tak pantas dalam kondisi yang seharusnya dirasakan oleh seseorang yang diayominya.

Laki-laki pun harus mempunyai keberanian, harus berani. Dan kau katakan untuk selalu menjalani hidup seperti dalam keadaan antara hidup dan mati, maka kita akan berani maju tanpa berpikir apa yang kita punya sekarang dan tidak takut untuk meninggalkan semuanya. Itulah yang dialami para serdadu, atau pejuang perang. Maju terus tanpa beban dan senantiasa menghargai hidup, karena sedetik kemudian bisa saja tertembus peluru dan nyawa pun meregang.

Tanggung jawab, tangguh dan berani. Ternyata itu kau cari, yang kau kejar dan ingin kau dapatkan. Kau ingin tanggung jawab lebih, kepada bangsamu. Kau sengaja lemparkan dirimu dalam kondisi selalu genting, sehingga tangguh itu terbentuk. Kau ingin antara ada dan tiada, lalu berani itu muncul.

Dan kau katakan yang paling membuatmu tersentak adalah ucapan pimpinan gerakan pembebasan Libanon suatu ketika, sesaat setelah Israel memborbardir daerah perbatasan hingga kota. Pimpinan itu berkata pada seluruh rakyat Libanon terutama kepada kaum prianya. “Jadilah laki-laki, sekalipun hanya untuk sehari.“

Aku diam, kau sudah katakan apa yang harus kau katakan.
“Kapan kau akan berangkat?“

”Besok. Secepatnya.“ Suaranya tercekak, dia menatapku dengan pandangan yang teduh, senyum hangat dan penuh sayang. Aku tak kuasa mendekap, memeluknya dan tak terasa kelopak mata terasa hangat oleh air mata yang mulai membasah.

Dan kau katakan lagi dengan mantap dalam dekapan.
“Aku ingin menjadi laki-laki“

***
Selamat milad...

Thursday, August 14, 2008

Mencari rumah

Bulan-bulan ini saya sedang giat-giatnya mencari rumah di sekitar Jakarta. Inginnya dalam tahun ini rumah tersebut sudah terealisasi. Bukan apa-apa, buat saya rumah itu penting, bahkan lebih dulu di bandingkan menikah (maunya, realisasinya tidak tahu). Lho?

Filosofinya, saya ingin mempunyai ‘sangkar’ dahulu baru kemudian mengajak pasangan tinggal di sana. Bisa menjadi kisah masuk rumah yang indah setelah menikah nanti. Itu artinya pasangan itu juga harus mau tinggal disana. Kalau tidak mau, rumah sebagai investasi bisa di alihkan nantinya. Tapi konon, orang tua lebih tenang melepas putrinya jika calon menantunya sudah punya rumah (dan pekerjaan pastinya).

Alasan logisnya, susah nyari rumah akhir-akhir ini di Jakarta. Lahan yang makin langka. Plus, harganya yang semakin ‘tidak menusiawi’, apalagi kalau ditunda-tunda hingga tahun berganti. Dan sebagai bagian dari investasi jangka panjang, rumah salah satu jawabnya.

Awal tahun ini dalam sebuah pameran properti di JCC, muncul beberapa kandidat yang ingin di tindak lanjuti. Dari sisi budget, ada yang sesuai dengan anggaran. Kekurangannya, lokasinya yang di pesisir jakarta atau di luar jakarta yang pastinya akan membutuhkan banyak waktu dalam akses kesana. Kalau saya tidak masalah, keluarga nantinya khawatir kerepotan.

Beberapa teman karena pertimbangan lokasi lebih memilih apartemen di pusat kota, dimana harganya mirip dengan rumah di luar kota. Bedanya tentu saja lingkungan sosial, dan tanah. Setidaknya ingin mempunyai rumah utuh terlebih dulu, dan jika nanti di masa depan ingin mencoba ke apartemen bisa dipertimbangkan.

Ada tawaran tanah, maka harus siap dengan usaha membangun rumah sendiri. Adakah agen atau biro yang menyediakan jasa pembangunan rumah dari awal sampai jadi? Misalnya kita sediakan lahan 10 x 15 m, lalu memilih design dan di bangunkan oleh biro tersebut.

Ada teman yang giat untuk mencari rumah second di dalam jakarta. Harganya mahal, tapi kalau memang berjodoh maka rumah idaman bisa di dapatkan.

Kalau disuruh memilih, inginnya rumah di Jakarta yang siap pakai (means second?). Rumah tersedia minimal 2 kamar tidur dan 1 kamar tidur pembantu. Lokasinya setidaknya masih masuk kota jakarta dan mudah di akses. Kalau harga, hmm… ini rahasia. Biasa, berharap fasilitas kredit perusahaan.

Saya sedang mencari rumah. Jika ada informasi, saya akan berterima kasih sekali.

Friday, August 01, 2008

Telkomsel, begitu dekat?

Awal bulan lalu, teman kantor saya sumpah-sumpah karena merasa ‘dibekuk’ dari belakang oleh Telkomsel. Ya.., Telkomsel operator GSM terbesar di indonesia itu.

Ceritanya, sekitar bulan Oktober 2007 lalu aplikasi Kartu Halo teman saya di approve. Karena dia bukan orang Jakarta, maka segala keperluan administrasi di urus via kantor (Halo Corporate). Karena pertimbangan dia sudah terlanjur menggunakan nomor Simpati saat Trip ke field, maka Halo nya tidak di aktivasi olehnya.

Dan itulah ‘kesalahan’ nya yang akhirnya pada bulan lalu ’baru’ dibuka oleh Telkomsel. Dia akhirnya menemukan surat todongan uang Rp 420,000 atas biaya abonemen (+ pajak) dengan rincian Rp 52,500 kali 8 bulan sejak Halo diserahkan. Surat itu konon baru datang kali itu, pertama kalinya. Tentu saja dia kaget, karena tidak pernah merasa di kirimkan surat teguran atau pemberitahuan selama itu.

Bagaimana menurut anda? Saya sebagai sesama teman yang sama mengajukan aplikasi Halo Corporate merasa ada yang tidak benar dengan sistem Telkomsel ini. Bukan masalah uangnya, pun teman saya akhirnya membayarnya juga (dimana mungkin salah satu pertimbangan daripada nama perusahaan juga ikut rusak).

Tapi mungkin saja dengan jangka waktu selama itu Telkomsel sudah mengirimkan surat ke teman saya itu, dan karena ada banyak lantai serta orang maka jika kurang spesifik surat pun tidak akan karuan. Tapi apa mesti selama itu baru kemudian hal ini bisa diketahui? Bukankah ada beberapa contact number (termasuk Account Representative-AR di corporate) yang tetap bisa dihubungi? Atau bahkan email untuk mengirimkan pemberitahuan? Kenapa seolah ’membiarkan’ argonya terus berjalan?

Disini saya semakin meragukan dengan keseriusan Telkomsel untuk me-maintanin pelangggannya. Oke, customer nya memang banyak, tapi itu sebuah konsekuensi untuk maintain pelanggan pada tingkat kepuasan tertentu.

Awal tahun ini saya juga sempat dibuat kesal oleh tingkah Account Executive (AE) yang lingkup area nya termasuk kantor saya. Saya mengajukan komplain tentang tagihan yang tidak pernah dikirimkan (setelah lebih dari 4 bulan pengguna Halo). Dan bulan berikutnya pun dikirimkan. Tapi bulan berikutnya lagi tidak dikirimkan, padahal saya sudah memberikan alamat lengkap pengiriman.

Saya kemudian berusaha email kepada AE dan CC ke AR. Benar-benar tidak ada respon, bahkan dengan email ke person in charge yang ada dalam autoreply si AE pun tidak ada respon. Apa Telkomsel serius dengan para customer nya??

Walau akhirnya dengan bantuan teman yang bekerja di Telkomsel regional lain untuk mengirimkan via mail tagihan Halo saya. Pun ’kesal’ saya ikut tertumpah ke teman saya tersebut (dan maaf teman, akhirnya saya menulis di Blog ini). Tapi tetap, bulan berikutnya pun tidak dikirimkan lagi. Apa ini tidak membuat semakin kesal?

Akhirnya saya menggunakan Customer Service (CS) Halo Corporate 111 untuk meminta pengiriman tagihan tiap bulan ke alamat yang sudah jelas dan lengkap itu. Dan selama 3 bulan belakang ini, tagihan itu pun datang.

Satu lagi saya akan mencermati tentang gaya CS 111 dalam berkomunikasi dengan customer nya. Saya merasa bahwa keramahan yang ditunjukan tidak alami (Ok, memang sengaja dibuat sesuai SOP nya), yang buat saya malah terkesan berbelit-belit seperti robot.

Misalnya, pengulangan kalimat tanya kita lebih dari satu kali (dengan nada ’robot’) menjadikan saya sering heran dengan cara berkomunikasi CS Telkomsel ini. Pun dalam mengakhiri pembicaraan dengan menanyakan apakah ada keluhan lain pun tidak membuat saya nyaman karena bertele-tele seperti akrobat, dan kadang saya menutupnya sepihak karena ada kesibukan lain (atau harus terus melayani CS?).

Hal itu tidak hanya sekali, karena hampir semua CS yang pernah saya hubungi pun demikian. Begitu sistematik, akrobatik dan robotik. Ok, saya jujur mengakui bahwa masalah kita terpecahkan dengan bantuan CS tersebut. Tapi dengan cara dan bahasa yang digunakan, saya merasa kurang meng-orang-kan (berkomunikasi dengan menganggap lawan bicaranya benar manusia, bukan bicara dengan bahasa ’terprogram’). Untuk cara berkomunikasi ini, saya pribadi masih suka dengan cara berbahasa CS Indosat. Silahkan anda bandingkan.

Pada akhirnya, tulisan kepada Telkomsel ini masih beritikad baik. Bukan mencari nama pribadi, apalagi malah menjatuhkan Telkomsel (pun sudah sangat besar dengan banyak teman beraktivitas disana). Harapannya semoga Telkomsel meningkatkan layanannya. Sekali lagi, semakin banyak pelanggan sudah merupakan konsekuensi untuk semakin banyak yang harus ditangani. Bukan karena sudah besar lalu ’jumawa’ dengan kebesarannya itu.

Dari semuanya ini saya bertanya, apakah benar Telkomsel Begitu Dekat?? Atau hanya sebatas slogan? Dan buat saya Telkomsel, i don’t prefer but i need it..

Sunday, July 27, 2008

Pelabuhan Ratu Bay

Weekend kemarin bersama seorang teman, saya melakukan perjalanan ke Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Teman saya memang berniat hunting fotografi, saya hanya karena belum pernah kesana dan ingin juga menikmati pantai. Rencana kami, one day trip!

Berangkat jam 7 KRL menuju Bogor. Kami memilih KRL karena cepat (1 jam dari Tebet), murah (Rp 2,500) dan nyaman (Sabtu, tidak padat). Dari stasiun Bogor, kami langsung meluncur ke terminal Baranangsiang, dan memilih rute bus Bogor-Pelabuhan Ratu (Bus MGI, seukuran Kopaja). Dengan tarif 25 ribu (AC), kami mulai berangkat ke Pelabuhan Ratu sekitar pukul 8.30

Sebuah perjalanan yang panjang. Kalau tidak salah, saya tidur bangun sampai tiga kali dan akhirnya tiba di Pelabuhan Ratu sekitar pukul 12 (3,5 jam). Di terminalnya, begitu bus masuk langsung berdatangan para tukang ojek di sekeliling bus. Benar-benar membingungkan jika baru pertama datang kesana.

Yang kami lakukan sederhana, janjian di warung makan yang kami tunjuk lalu kami berpencar. Sementara solutif, kami terlepas dari kepungan. Tapi ternyata selama kami makan (dan bahkan saat sholat di masjid), masih ada saja tukang ojek yang ‘setia’. Tentu yang seperti ini justru membuat kami tidak nyaman dan meninggalkannya. Oiya satu lagi, di warung makan itu kami ‘sepakat’ menemukan pelayan yang ‘khas sunda’ :p.

Berdasarkan info dari sopir angkot (yang efeknya kami harus membayar ongkos ‘mahal’), maka kami menuju Pantai Karanghawu, 14 km dari kota kecamatan Pelabuhan Ratu. Karanghawu, asal kata Karang berbentuk Hawu (tungku), pada dasarnya pantainya terbagi dua, yang berkarang dan yang berpasir. Masih bersih, tidak terlalu ramai. Sayang, kami tidak menemukan fasilitas hotel atau tempat makan ‘representative’ yang banyak kami temukan di area Pantai Citepus, sekitar 4-8 km dari kecamatan.

Diantara yang hotel eksotis adalah Samudera Beach Hotel (SBH). Hotel ini satu diantara tiga hotel yang dibangun Soekarno, yakni Hotel Indonesia, Sanur dan Pelabuhan Ratu sendiri. Percaya tidak percaya, banyak ‘cerita’ yang mengiringi di hotel-hotel tersebut. Dan di Pelabuhan Ratu sendiri, hotel ini tampak dari luar kurang terawat. Padahal eksotisme bangunan lampau masih terpancar dari hotel ini (dalam hati, ingin suatu hari menginap di hotel ini).

Berikut adalah beberapa snapshot yang diambil teman saya (his courtesy).


Ini adalah view dari Karanghawu, karang yang tegak melawan ombak.









Pasir yang terhampar, menggugah keinginan untuk merasanya.









Dan inilah kami, dua orang di balik ide perjalanan ini.









Saya mulai menuliskan sesuatu di pasir, untuk sebuah nama.







Sebelum pulang, kami menemukan view yang bagus dari bukit kecil. Sebuah sawah dengan background pantai. Subhanallah, sungguh indah indonesia kita.






Kami lalu pulang jam 4 sampai terminal Pelabuhan Ratu. Harapan kami, menuju Bogor dengan bus AC. Sayangnya, bus AC sudah tidak ada setelah kami menunggu hingga jam 5. Sudah sejam terbuang, maka kami memutuskan bus AC Pelabuhan Ratu-Sukabumi. Sebenarnya bisa menggunakan yang menuju Bogor tapi non-AC. Pikir kami ideal, di Sukabumi pasti banyak bus ke Jakarta (AC). Dan karena si teman tampaknya ingin tahu Sukabumi, kotanya Vagetoz (hehe).


Jam 8 sampai di Sukabumi, terminal sudah sepi. Jangankan bus Jakarta AC, bus menuju Jakarta sudah tidak ada (yang masih banyak justru Bandung, sempat terpikir ke Bandung aja). Jadilah harapan tinggal harapan). Tapi kami bertekad, lebih baik bisa makan tidak bisa pulang daripada bisa pulang tapi tidak bisa makan. Maka, kami makan dulu. Selesai makan, kami akhirnya memutuskan naik colt L300 menuju Ciawi untuk harapan 24 jam bus menuju Jakarta.


Sempat kami di ’handover’ ke Colt yang lebih penuh penumpang di Cibadak, daerah dimana jalan percabangan ke Sukabumi dan Pelabuhan Ratu. Setelah peristiwa itu, saya tidak bisa tidur. Khawatir ada ’handover’ lagi atau malah-malah kena ’akal’ orang. Tiba di Ciawi sekitar jam 10.30, sebuah malam yang ramai.


Tapi perjalanan tidak berhenti disini. Masih harus memilih antara Bus Kampung Rambutan, Merak (ancaman turun di Slipi atau di tengah tol Pancoran), atau mobil ’omprengan’ Cawang. Sampai detik terakhir, Cawang lah yang kami pilih karena alasan lebih dekat ke tujuan. Tiba di Cawang lalau meluncur langsung dengan Taksi pilihan menuju Pancoran sampai jam 11.30.


Menurut teman, kami baru saja seperti melakukan Black Hawk Down, rencana penyerangan 15 menit namun akhirnya jadi seharian. Kami menikmatinya, seperti benar-benar tidak direncanakan, menantang. Dan berpikir bahwa dalam hidup, sekali-kali kita perlu melakukan yang seperti itu. Kuncinya, kita harus menemukan teman perjalanan yang tepat.


Wednesday, July 23, 2008

Keuangan masa depan

Setelah belajar tentang bagaimana mengelola keuangan dan mulai investasi, sekarang waktunya untuk belajar memprediksikan sumber-sumber pengeluaran masa depan yang seringkali dilupakan, padahal semakin dini dipersiapkan semakin baik.

Menurut saya, beberapa kebutuhan penting keuangan masa depan yang harus di susun rencana nya sebagai berikut.

Dana pensiun
Banyak orang berpikir dana pensiun hanya cocok dipikirkan oleh orang yang berusia diatas 40 tahun. Atau pensiun cukup di cover oleh asuransi pensiun yang difasilitasi perusahaan sekarang. Padahal dana pensiun seharusnya dipersiapkan secepatnya seseorang cukup mapan dalam suatu pekerjaan, karena makin cepat dipersiapkan bebannya menjadi makin ringan.

Jikalau dana pensiun hanya mengandalkan asuransi pensiun, maka harus dipastikan bahwa dana tersebut cukup meng-cover kebutuhan hidup pensiun per bulan kita di masa datang. Inilah yang penting dalam merencanakan pensiun, berapa biaya standar biaya hidup masa depan yang kita inginkan? Biaya hidup masa depan didapatkan dengan menormalisasikan biaya hidup sekarang dengan asumsi inflasi.

Dana pendidikan
Jika pensiun secepatnya dipersiapkan ketika seseorang cukup mapan dengan penghasilannya, maka dana pendidikan dipersiapkan secepatnya setelah menikah, sekalipun subyek dana pendidikan tersebut (anak) belum ada. Prinsipnya sama, semakin dini dipersiapkan maka beban masa kini juga akan semakin ringan.

Jumlah dana pendidikan harus direncanakan untuk berapa subyek, dan menghitung kebutuhannya di masa depan. Dengan menormalisasikan biaya tiap jenjang pendidikan sekarang menggunakan asumsi inflasi, maka kebutuhan di masa depan bisa diprediksikan. Dan perusahaan asuransi pendidikan akan senang hati membantu menyiapkan dana pendidikan tersebut, dengan catatan nama subyek dikosongkan dahulu karena belum lahir.

Dana asuransi
Maksud dari dana asuransi ini adalah asuransi untuk menjamin ’properti’ kita, seperti rumah, mobil dan kesehatan. Konon katanya, tingkat kesejahteraan sebuah negara salah satunya bisa dilihat dari seberapa sadar masayarakat negara tersebut aktif untuk ber-asuransi. Artinya untuk Indonesia, tampaknya memang belum mencapai tingkat kesadaran pentingnya asuransi.

Untuk rumah dan mobil (menurut orang yang berpengalaman), kita harus mempelajari dengan detil premi dan ketentuan klaim yang bermacam-macam. Kuncinya mari ditanyakan ke dalam hati kita, apa kebutuhan kita? Jangan sampai jauh under apalagi overestimated sehingga pemborosan. Inilah yang sulit, karena seringkali dengan iminng-iming akhirnya kita memilih ’berlebihan’ yang tidak melebihi kebutuhan kita.

Begitu pula dengan asuransi kesehatan. Jika kesehatan sudah ikut ter-cover melalui kantor, maka mubazir jika masih membuat asuransi kesehatan lagi dengan alasan preventive. Sekali lagi, apa betul itu kebutuhan kita? Menurut saya, asuransi yang berkaitan dengan tubuh kita jika asuransi kesehatan pokok sudah ada adalah asuransi kecelakaan yang menyebabkan cacat permanen atau meninggal. Hal ini semacam ’biaya bertahan hidup’ kepada keluarga karena kondisi yang tidak dinginkan tersebut.

Setelah mencoba menentukan sumber-sumber kebutuhan masa depan, maka sekarang bagaimana untuk mencapai tujuan masa depan tersebut.

Sebagain besar dari kita mungkin akan menjawab dengan membeli asuransi pendidikan dan pensiun, sebagai cara untuk mencapai tujuan itu. Namun jangan lupa, bahwa investasi sebenarnya salah satu sarana mencapai tujuan itu. Dan jika sudah menggunakan instrumen investasi, maka kita harus jeli melihat resiko dan jangka waktunya (tidak hanya ’janji’ return atau margin).

Satu lagi yang saya percaya, untuk tidak akan mencampuradukan antara asuransi dan investasi. Karena saat ini semakin banyak perusahaan asuransi yang membuat kombinasi, dengan iming-iming asuransi sekaligus investasi. Karena tujuan keduanya berbeda (resiko, waktu, return), fee nya kemungkinan lebih besar daripada asuransi atau investasi saja, dan pada akhirnya tidak akan bisa optimal. Asuransi adalah asuransi, investasi adalah investasi.

Saatnya mempersiapkan dan mengkondisikan keuangan untuk masa depan. Dan jangan lupa, masa depan akhir manusia nantinya adalah akhirat. Jadi keberkahan pun harus melekat dalam persiapan ini. Wallahu’alam..

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)... [Q.S Al Hasyr 59: 18]