Monday, May 07, 2012

The good tackle, isn't it? :)


At the end of the match, we won 3-2.

* Thanks to Yudi who's capturing the moment last weekend.

Monday, April 09, 2012

Backpacking: Ho Chi Minh – Siem Reap – Bangkok (HSB)

Minggu lalu saya melakukan perjalanan backpacking bersama dengan empat rekan lainnya dalam 6 hari melintasi tiga negara, yakni Vietnam, Kambodia dan Thailand. Backpacking yang menantang, karena semuanya dilakukan mandiri dengan mengandalkan internet.

Tulisan ini merupakan seri pertama yang merupakan ringkasan perjalanan tersebut, terutama terkait dengan transportasi dan waktu perjalanan-nya. Seri-seri tulisan berikutnya (mungkin) akan membahas hal-hal lain yang lebih spesifik, misal dari sisi tempat wisata ataupun kejadian menarik khas backpacking lainnya.

Secara singkat, rute dan waktu perjalanan backpacking HSB ini adalah:
Hari pertama: Flight Jakarta-Ho Chi Minh City (Departure 15.30). Night market HCMC
Hari kedua: Sightseeing HCMC, Shopping. Bus HCMC-Pnom Penh (Dep 15.00) + rental mobil PNH-Siem Reap (arrival 03.30 hari ketiga)
Hari ketiga: Angkor Wat (small tour), Night Shopping
Hari keempat: Bus SR-Bangkok (Dep 08.00, arrival 19.00). Night market Bangkok.
Hari kelima: Grand Palace, Chinatown, Shopping
Hari keenam: Vimanmek Massion. Flight Bangkok-HCMC (Dep 04.00) + Flight HCMC-Jakarta (Dep 20.20, arrival 23.00)

Hari Pertama - Senin 2 April 2012 (HCMC)
Perjalanan pesawat Air Asia berangkat dan tiba di HCMC sesuai dengan jadwalnya. Karena backpacking, tiket yang digunakan pun 100% promo dengan tanpa tambahan apapun itu (bagasi, makanan, asuransi, dll). Perjalanan 3 jam masih bisa dilawan tanpa adanya hiburan personal yang biasanya menyertai penerbangan full service. Dan satu-satunya yang tidak bisa dilawan adalah lapar! Maka satu persatu kami membeli makanan atau minuman yang ditawarkan pramugari.

Tiba di HCMC, begitu masuk ke gedung bandara yang dilakukan pertama adalah foto-foto (hehe). Proses imigrasi berjalan lancar, pun Vietnam tidak membutuhkan semacam arrival card untuk memproses imigrasi. Sederhana tapi sangat efisien, karena masih banyak negara (termasuk Indonesia) yang masih menggunakan model arrival-departure card itu dalam proses imigrasi. Namun kesan bandara yang efisien ini akan dibuktikan di hari terakhir ketika menjadikan Vietnam sebagai hub dari Bangkok ke Jakarta.

Setelah sampai di Hostel NgocThao di sebuah gang Jalan Pham Nguc Lao, maka jalan-jalan malam pun sayang jika dilewatkan. Targetnya adalah Night Market di Ben Tanh Market (600 meter dari Hostel) dan makanan halal. Sekilas melihat dan mencoba menawar harga-harga di pasar malam itu, namun mungkin karena gensi masih tinggi maka belum ada barang yang terbeli malam itu. Makanan halal pun akhirnya lebih memilih kembali ke kedai Pakistan di sebelah Hostel, karena sepanjang jalan ke pasar ternyata tidak ditemukan kedai halal. Jam 00.00, kami masuk hostel, dan tidur sekitar jam 01.00 setelah mandi.

Hari Kedua – Selasa 2 April 2012 (HCMC)Hostel menyediakan sarapan dengan empat pilihan menu. Setelah yakin bahwa 2 pilihan menu halal, maka 2 menu tersebut menjadi pilihan bersama kami, yakni Pancake dan Roti + Telur. Kami berlima menyewa 1 kamar dormitory dengan 8 tempat tidur, maka otomatis kami pun berhak mendapat 8 set menu sarapan (aktualnya yang habis hanya 6.5 set!).

Kemudian jam 8 dengan menggunakan taksi menuju War Museum sebagai target pertama. Museum ini menceritakan kisah Vietnam yang diserang Amerika, tentu dengan lebih banyak dari sudut pandang Vietnam.

Berikutnya dengan berjalan kaki 400 meter menuju Independence Building, sebuah gedung perumusan dan kongres kemerdekaan Vietnam. Kami hanya sebentar di gedung ini, entah karena kelelahan belum biasa berjalan kaki atau waktu mepet karena harus berangkat dari HCMC menuju PNH jam 15.00, sedang target belanja belum dilakukan.

Dengan berjalan sekitar 400 meter lagi, kami mengambil gambar di depat Gereja Catedral. Lalu dengan taksi, kami menuju Ben Tanh market untuk berburu souvenir. Sekitar jam 13 kami sampai hotel, dimana sebelum berangkat pagi sudah memesan tiket bus ke PNH jam 15. Makan siang dengan mencampur rendang perbekalan teman dan nasi dari hostel serta sedikit Pop Mie. Kami berpikir nasi itu harus beli, ternyata ketika akan membayar pemilik hostel malah menggratiskan. Mungkin pemilik hostel melihat wajah-wajah ngirit kami yang makan menu ‘seadanya’.

Sesuai jadwal bus berangkat Jam 15 menuju PNH dengan hanya sekitar 40% kursi terisi. Karena kecapekan, belum sampai keluar kota HCM saya sudah tidur dan bangun jam 17 sesaat sebelum sampai perbatasan. Proses imigrasi berjalan lancar baik keluar Vietnam atau masuk Kambodia karena dibantu oleh awak bus Mekong Ekspress. Tentang liku-liku di border, saya (mungkin) akan membahasnya di lain waktu nanti.

Kami beli nasi putih di border ini mengingat akan sulit mencari makan lagi karena tujuan Siem Reap masih 6 jam lagi dari PNH. Maka, di dalam rental mobil sambil bergelap itulah kami makan berbagi rendang yang tersisa siang tadi. Lalu tidur pulas sampai tiba di Siem Reap keesokan harinya.

Hari Ketiga– Rabu 3 April 2012 (Siem Reap)Mobil berangkat dari PNH jam 21 malam sebelumnya, sampai di Hostel Downtown Siem Reap jam 03.30. Kami sebenarnya sempat menambah 1 malam lagi di Hostel itu jika sampai di SR Rabu dini hari. Ternyata sampai sudah 03.30 dan jam 5 akan dijemput lagi untuk tour ke Angkor Wat, maka 1 malam tambahan dibatalkan. Setelah dijemput dan tiba di pintu gerbang lokasi, loket sudah sangat ramai oleh turis mancanegara yang ingin berburu sunrise di Angkor Wat.

Di Angkor Wat sendiri, sudah banyak turis bersiap dengan beragam jenis kamera mengabadikan Sunrise. Setelah Angkor Wat, kami ke komplek Bayon dan Ta Phrom. Sekedar info, Ta Phrom ini adalah lokasi syuting Mrs Pitt dalam Tomb Raider. Sorenya, kami berburu Sunset di Phnom Bakheng yang harus naik ke bukit sekitar 400 meter.

Sebuah kesempatan langka buat kami bisa makan siang masakan halal di SR siang itu. Kami memang keluar komplek Wat untuk makan siang ke kampong muslim di SR. Tak menunggu lama, makanan seafood itu pun ludes semuanya. Tercatat, makan siang itulah adalah makanan terbaik selama backpacking ini!

Malamnya, belanja di Night Market SR yang berjarak 250 meter dari Hostel cukup mudah. Berbeda dengan Ben Tanh (dan Night Market Bangkok) yang harus menawar paling tidak 1/3 sampai 1/2 dari harga pembukaaan, di SR proses nego hanya bisa bergerak di turun 20%-an. Tentang liku-liku belanja ini, saya pun akan mencoba membahasnya di lain waktu nanti.

Hari Keempat-Kamis 4 April 2012 (SR to Bangkok)
Jam 8 pagi kami sudah siap di pool bus menuju Bangkok. Ok, sebenarnya bus hanya dari SR ke border kemudian setelah masuk border Thailand berganti mobil Toyota berbodi Alphard (interior seperti mobil travel) dan berbahan bakar gas. Dari jadwal jam 03.30 yang ‘dijanjikan’ di agen SR, ternyata jam 7 malam kami baru sampai di Bangkok. Ditambah pula, turunnya di pinggir jalan Bangkok, bukan di tempat umum yang mudah bertanya tentang arah. Untungnya salah satu rekan kami membawa GPS (ipad) sebagai bahan nego Tuk-tuk menuju hostel (Thanks to him, yang juga membawa rendang buat kami hehe).

Sebenarnya ada opsi kombinasi selain bus dari SR ke Bangkok dan rencana ini sebenarnya rencana awal kami dengan menimbang kesempatan naik beragam moda (kereta ekonomi). Saya kopikan dari lonely planet sbb:

Step 1, travel from Siem Reap to Poipet by bus or private car: In the morning take a private car, bus or share taxi from Siem Reap to Poiphet on the Thai frontier, it's around 152 km or 95 miles. A private car will cost around $25 for 1 passenger for the whole vehicle, $40 for 2 passengers, and takes around 2 hours 25 minutes so you can safely leave just before 09:00. An air-conditioned bus takes around 3 hours with departures from Siem Reap bus station (3 km east of the town centre) at 07:30 and 08:30, fare $9, with free hotel pick up prior to those departure times. You can buy bus tickets or arrange a private car at any of the many travel agencies around town the day before departure.

Step 2, walk across the border into Thailand: You'll be dropped at the entrance to the border point at Poipet. Complete the passport stamping and fingerprint scanning at the Cambodian 'departures' office at the border entrance, then walk through the border, past the casinos, under the Cambodian 'Angkor' arch to the Thai border point 100 yards ahead. Fill out a Thai arrivals card and get your passport stamped here and emerge from the border. The whole process should only take around 25 minutes, although at busy times it can take an hour or more. The border is open 07:00-20:00.

Step 3, take a tuk-tuk from Poipet to Aranyaprathet station. Now you're in Thailand. Find a tuk-tuk and take it the 6 kilometres (3.8 miles) from Poipet to Aranyaprathet railway station. A tuk-tuk costs 100 baht ($3, £2) although you can bargain for a cheaper price if you're good at haggling. If you need a meal or a beer, there's a simple and cheap Vietnamese restaurant at the road junction at the foot of the station approach, and there's an ATM up the road from the restaurant, simply turn your back towards the station and walk up that road about 300 yards.

Step 4, take a train from Aranyaprathet to Bangkok. Two reliable trains a day run from Aranyaprathet to Bangkok, 255 km or 159 miles. You should be able to make the 13:55 departure from Aranyaprathet, arriving Bangkok at 19:55. The other train leaves Aranyaprathet at 06:40, arriving Bangkok at 12:05. Both trains are 3rd class only, but they are clean and it's a very pleasant ride with a breeze blowing in through the open window. The fare is only 48 baht (£1/$1.60), no reservation necessary, simply turn up and buy a ticket at the station. The train also drops off at Makkasan (19:40) and Phaya Thai (19:46) before arriving at Bangkok Hualamphong, these can be more convenient stations at which to get off if you're staying in northern Bangkok.

Tapi, karena ‘tergoda’ kemudahan 1 pihak yang mengatur perjalanan, biaya yang lebih murah dan waktu ‘priceless’ yang lebih cepat, maka kami memutuskan naik bus. Sekarang kalau ditanya lagi, saya pribadi lebih memilih opsi kombinasi diatas daripada bus dari SR ke Bangkok. Sekalipun tiba di Bangkok lebih malam(19.55), tapi akses ke public transport lebih mudah karena Station akhir itu tersambung ke MRT.

Sampai di Bangkok, ternyata hostel kami (D’ Lub) hanya sekitar 800 meter dari dunia malam Bangkok yang terkenal, Pat Pong. Celakanya, di dekat area itu juga terdapat KFC, MCD dll serta night market sebagai target buruan kami. Jam 11 malam kami kembali ke hostel dari makan malam dan survey harga barang belanja.

Hari Kelima– Jum’at 5 April 2012 (Bangkok)Full day di Bangkok dan masih ada setengah hari keesokan hari adalah sebuah kelebihan di Bangkok. Sengaja kami buat demikian, karena jika kami miss saja satu hari dari perjalanan sebelumnya, maka di Bangkok setidaknya masih dapat 1 malam dan setengah hari.

Grand Palace (komplek istana Bangkok) dan beberapa Wat di Bangkok serta China Town menjadi tujuan hari itu. Setelah di China Town tidak mendapat barang belanja khas pelancong (Indonesia), pilihan kami jatuh kembali ke area Night Market Pat Pong. Untungnya jam 16 dimana sebagain pedagang sudah buka tapi ‘dunia malam’ belum buka sehingga kami bisa leluasa belanja.

Thailand tahun 2011 lalu menghasilkan penjualan mobil Toyota terbesar se-ASEAN, sedang Indonesia di peringkat kedua. Jadi, macet adalah biasa di Bangkok juga. Untungnya, 1 jalur MRT dan 2 jalulr BTS Skytrain serta 1 River Boat sangat membantu menjelajah Bangkok. Sekalipun MRT tidak se-integrated Singapore, atau Skytrain tidak sehalus Monorail KL, setidaknya masyarakat Bangkok punya pilihan public transport yang lebih baik dibanding Jakarta.

Hari Keenam– Sabtu 6 April 2012 (Bangkok, HCMC, Pulang)

Jika membeli tiket Grand Palace yang berlokasi di tengah Bangkok, maka secara otomatis juga mendapatkan tiket masuk Vimanmek Massion di bagian utara Bangkok. Maka tengah hari terakhir sengaja untuk menghabiskan jatah tiket Vimanmek, targetnya hanya tiket disobek dan foto-foto (hehe). Vimanmek sendiri adalah sebuah mansion kayu terbesar di dunia.

Sepanjang di Bangkok tidak ada bus umum yang menggunakan huruf latin, semuanya huruf Thai. Sehingga kami tidak pernah naik bus umum. Kecuali bus yang melewati Vinmanek Massion itu, bus berkode 515 dan 18 yang menuju Victory Monumen tempat BTS terdekat. Jadi di Bangkok, praktis hanya Taxi Bangkok yang masih jahiliyah ‘sistem borongan’ yang belum pernah kami coba.

Jam 16.30 pesawat Air Asia Bangkok-HCMC take off dari Svarnabumi Airport, delay 30 menit dari jadwal. Kami sempat was-was karena pesawat Air Asia HCMC-CGK jam 20.20. Jam 18 sampai HCMC airport, ternyata kami harus keluar imigrasi dan keluar bandara untuk pindah ke departure gate. Ditambah lagi, mesin check-in Air Asia yang biasa tersedia tidak ada, dan memaksa manual (artinya tas terancam diperiksa beratnya). Kesan HCMC airport yang efisien di hari pertama hilang karena proses pulang yang lebih banyak usaha ini.

Jadi, lebih baik menjadikan KL sebagai hub Air Asia (yang memang Base AA di KL) jika ingin melakukan perjalan serupa dengan kami ini. Malahan, jika bisa mengulang perjalanan ini, saya bisa memilih nambah 7 hari dan 4 negara (+ KL) jika perjalanan dari Bangkok ke KL menggunakan opsi Night Bus. Kedua negara relatif lebih aman dan maju, sehingga night bus yang nyaman banyak menjadi opsi bagi backpackers.

Oiya, untuk detail biaya saya akan mencoba membahasnya di tulisan berikutnya. Tertarik untuk mencoba yang serupa?



Biaya Non-Flight & Oleh2
 

Tuesday, March 27, 2012

Baby Sitter dan Gaji

Di restoran Italia pada jum'at jam 10 malam di sebuah gedung SCBD, seorang baby sitter sedang menunggu di luar bersama dengan sang bayi yang tidur di dalam keretanya. Tebakan saya, ibu bayi pasti sedang makan malam bersama di restoran itu.

Langsung terbersit berapa gaji yang dibutuhkan untuk seorang ibu bekerja di luar, sehingga pilihan meninggalkan bayi (balita) dan membayar baby sitter 'cukup' terkompensasi oleh gajinya itu?

Dalam ekonomi kita mengenal analisis Cost-Benefit (CB), dimana secara prinsip biaya yang dikeluarkan harus sebanding dengan manfaat yang didapatkan. Kelemahan analisis ini, semuanya diukur dengan materi (uang sebagai alat ukur), sehingga ada beberapa biaya dan manfaat yang tidak bisa diukur dengan uang sulit untuk dibandingkan. Bagaimanapun, kita masih bisa melakukan analisis dengan pendekatan CB.

Mari kita berhitung untuk kasus diatas, asumsi gaji baby sitter 1.5 juta/bulan (gaji, seragam, dll). Jika gaji ibu 15 juta/bulan, maka 10% nya akan dibayarkan untuk baby sitter. Kalau selama kerja masih menitipkan bayi di daycare yang sedang marak sekarang ini (asumsi 3 juta/bulan), maka 20% nya akan membayar daycare itu.

Bagaimana jika gaji ibu ternyata tidak sampai 15 juta? Ok, mungkin cukup baby sitter tanpa perlu daycare. Kalau gaji 7.5 juta, maka 20% untuk baby sitter. Anda bisa membayangkan sendiri jika ternyata gaji ibu kurang dari 7.5 juta/bulan.

Benar Ibu masih punya waktu untuk bertemu di sela-sela jam kantor sehingga pengeluaran baby sitter dan daycare masih masuk akal. Tapi bagaimanapun pengasuhan akan sepenuhnya bukan di tangan ibu bekerja tersebut. Artinya, ada unsur waktu interaksi dan pendidikan yang hilang dan sulit untuk di-uang-kan.

Saya tidak anti perempuan bekerja, justru saya sedang melakukan analisis secara ekonomi yang mungkin terjadi dimana banyak perempaun bekerja tidak melakukan analisis mendalam tentang itu. Mungkin hal itu memang kebutuhan karena pendapatan suami juga pas-pasan, sekalipun lebih 50% gajinya untuk membayar baby sitter, pembantu atau daycare. Tapi tetap, menurut saya analisis 'masuk akal' semacam cost-benefit harus dilakukan sebelum memutuskan bekerja penuh sepanjang hari.

Jadi kembali ke pertanyaan awal, berapa gaji minimal ibu jika memutuskan untuk menyerahkan pengasuhan anak sepenuhnya ke baby sitter dan atau daycare?

Monday, February 13, 2012

Business Leaders: Story and Principles (2)

Principles of Business Leaders

It is not easy to become a successful business leader, and it does not happen by accident. In addition, successful entrepreneurs have a great deal of responsibility, and hold the destiny of their businesses in their hands. As Daniel Budiman said, sometimes luck also plays an important part. But businessman cannot run their businesses relying on luck. Some essential principles include good opportunities (right time, right place), focus, and finding appropriate partners.

Finding the right partner is a key, and perhapsis a factor neglected by some entrepreneurs. Good partners will contribute a great deal. Benny Subianto, TP Rachmat and Sandiaga Uno are in partnership to develop Adaro. Oke Trikomsel and Global Teleshop are now in partnership to upgrade their supply chain management, whereas a few years ago they were competitors.

Doing business is also about focus. Businessmen usually have a passion for a specific business. For entrepreneurs, doing business is not only about creating wealth, but is also about the challenge of being successful. In fact many businessmen choose a relatively modest lifestyle. TP Rachmat, Benny Subianto and the Hartono family (Djarum group founder, BCA owner) are examples of that. As Ahmad Yuniarto (President Director of Schlumberger Indonesia) said, “It’s not a job, it’s a way of life”.

The principles of successful entrepreneurship are universal, and even apply to employees (intrapreneurship), where employees implement the principles of entrepreneurship within the company they work for. These principles are mentioned by Sandiaga Uno, and include:
1. Hard work (kerja keras)
2. Smart work (kerja cerdas)
3. Full work (kerja tuntas)
4. Sincere Work (kerja ikhlas)

Company employees must acquire as much knowledge as possible and upgrade their competencies to gain leverage. Omas S. Anwar (former Vice CEO of Pertamina) has some talent principles for employees in leveraging their competencies:
1. The first 6 months : learn everything about the job (learn)
2. The next 6 months: master the job (move)
3. The final 6 months : be ready to move on (move on)

According to those principles, employees will not stagnate in positions for a long time and will have a better opportunity to step up to higher positions as business leaders. John C. Maxwell’s study reveals that only 5% of business leaders obtained their businesses through inheritance and 10% due to study/training/courses. Yet 85% started up their business because they were inspired by other leaders. Therefore, there are excuses for not becoming a business leader!

In summary, business leaders are persons who have successfully overcome and adapted to some challenging periods whilst adhering to the values and principles they believe in. A simple way to summarize the importance of principles when facing a tough life is from this statement: “We have to adjust to changing times, but maintain our unchanging principles” (Charter, US President).

Prepare yourselves to be the next future leaders!

Wednesday, February 08, 2012

Business Leaders: Story and Principles (1)

Business Success Story
The economy of Indonesia has grown fast since recovering from the Asian financial crisis of 1997-1999. Though this crisis put Indonesia’s economy into deep water, some new entrepreneurs, such as Daniel Budiman, Benny Benny Subianto, Sandiaga Uno and Sugiono, emerged from it and were able to start up and expand their businesses, reaching great heights. They had faith that Indonesia, with its huge resources and multiple opportunities, would become a re- emerging “tiger” nation.

Daniel Budiman and Sandiaga Uno run private equity companies, a relatively new form of business in Indonesia. A private equity company is one which acquires an unhealthy company, pours capital into it to improve its performance to become a healthy and excellent company, and then sells it on again to a new owner. PT Pangansari, Bank Tabungan Pembangunan Nasional (BTPN), Adaro and Mandala are examples of companies which were taken over by private equity companies.

In terms of buying out, mergers and acquisitions, there were 3 phases, as highlighted by Sandiaga Uno.

Phase 1 (1997-1999): buying low and selling high. This can be achieved in the right conditions, i.e. when capital is scarce and competition is limited.

Phase 2 (2004-2007): financial engineering and cost cutting (2004-2007). This was achieved when cheap funding was available and it was a golden period for buying out. In this period, PT Pangansari was acquired by Daniel Budiman, BTPN was acquired by Sandiaga (both of them are already sold), and Adaro was acquired by Benny Subianto and his friends (including TP Rachmat and Sandiaga). Adaro is now the most valued private mining company in Indonesia.

Phase 3 (2008-now): buying high and selling even higher. The environment is that sellers are getting smarter, good assets will get auctioned, so buyers must take a “hands on” approach and add value to the business. Mandala Airlines is the latest example of a high profile buy out. It was acquired by Sandiaga and is now being restructured after being non-operational for several months.

Generally, when taking over a company, private equity companies do not always use their own money to invest in the acquired company. Instead, they usually lend from banks (with certain percentage limitation) to leverage the multiplying effect of capital gain. For instance, when PT Pangansari was acquired by Daniel Budiman, he obtained a loan from Bank Danamon to the value of 80% of the acquisition price (but nowadays it is much more difficult to obtain loan for company acquisition). Here is the process using a simple math calculation:

Value of acquired company = 100. For the next 3 years, after restructuring and the value of the company will be 300. If using its own equity, the capital multiplier will be 300/100 = 3 times. And yet, if using 70% of loan with flat annual interest 15% (own equity is 30), the added value of company will be 300 – 70 (1+15%)^3 = 193 and the capital multiplier now will be 193/30 = 600% more!

The diagram below shows the Jakarta Stock Exchange (IHSG) and how the value of public companies tends to be increase year on year. The key to success is how to restructure and improve the fundamental performance (not only financial number!) of the acquired company, so that its value can multiply in the near future.

Source: Finance Yahoo


PT Pangansari is a good example for analysis. The company has a very specific business, providing and serving meals to all PT. Freeport operations in Papua. It provides 80,000 package meals every day to employees who work at headquarters, in the field, and even in the mountains. The business value is USD 60-70 million per year!

Sugiono is an interesting case. He has an expanding business, a chain of mobile phone stores. He started his business in 2003 with 2 shops in Oke Trikomsel in Jakarta. Over the next 7 years he expanded his business to a total number of 800 shops, and he holds the official license as distributor of the major mobile phone principles, i.e. Nokia, Blackberry and iphone. He has a vision to provide a digital lifestyle to Indonesians, whose annual income has increased significantly in recent years. A digital lifestyle is an unstoppable wave, proven by the ever-increasing number of social network users and internet penetration throughout the world. To continue to fulfill his vision, he also acquired Aora TV, a pay TC channel which had been dormant for several months.

to be continued... Principles of Business Leaders