aku bukan laki-laki biasa...
suatu hari nanti jika aku jatuh cinta...
suatu hari nanti jika aku jatuh cinta...
--------------
sedang mencari surga dan cinta

Namanya Muslimin, angka usianya telah beranjak 28 tahun. Dia masih lajang, walaupun dalam segi kematangan, aku pikir tak ada yang kurang untuk menjadi seorang suami. Pekerjaannya memang “hanya” penjual nasi goreng, sebenarnya bukan penjual, karena tentu saja di sendiri yang memasaknya. Tidak tiap hari dia ada di depan rumahku, tiap kurang lebih seminggu sekali dia bergantian dengan dua temanya yang lain. Sepertinya memang penjual nasi goreng di bandung menjadi semacam “kartel” yang jumlahnya banyak.
Sejak lama aku amati, dia berbeda dengan dua temannya yang lain. pendiam dan ramah, kesan pertama tentang orang ini. dengan topi yang manjadi ciri khasnya, dia sangat mudah tersenyum. Kesan yang membedakan dengan dua temannya, yang satu rambutnya dicat dan yang satunya masih sangat muda (kutaksir sekitar 20an tahun).
Selain itu pastinya adalah masakannya, mie kuah, mie goreng, nasi goreng, atau campuran diantara mie dan nasi goreng (biasa disebut mawut). aku sendiri dulu sempat berpikir bahwa karena penjual nasi goreng adalah “kartel” maka siapapun yang membuat, maka hasilnya 11-12, tak jauh beda. Tapi bagiku, mas muslimim beda. Tidak terlalu gurih, tidak hambar, tidak terlalu pedas, dan porsi yang pas. Aku tidak tahu, apa gara-gara pengaruh simpatik pada seseorang sehingga membuat apapun yang berasal darinya adalah nikmat. Tapi beberapa temanku juga merasa hal serupa.
Hal yang khas, aku amati dia suka membaca. Ya...seorang penjual nasi goreng hobi membaca. Dengan tekun berusaha mencari cercah cahaya, dia membaca. Koran, bacaan yang hampir selalu aku temui padanya. Mombalik-balik koran, sepertinya adalah kebahagian tersendiri seperti halnya mengetahui ada (calon) pembeli yang memesan masakannya.
Pernah suatu hari aku bertanya padanya, kenapa suka membaca (sebuah pertanyaan retoris). Dia menjawab, “mengisi waktu luang mas, daripada ngelamun tidak jelas. Baca bisa tahu berita-berita”. Lalu aku timpali, “lho emang itu koran kapan mas?”. Sambil ketawa dia menjawab, “wah ini udah koran lama, bulan desember (tahun lalu!). lumayan lah, buat baca-baca”
Di tempat yang lain, Mak Etak sedang berusaha keras bisa membaca dan menulis. Anda tahu usia Mak Etak? Sudah lebih dari 60 tahun! Usia yang mendekati usia Sang Nabi ketika dipanggil ke haribaan Kekasihnya. Jalannya pun sudah tidak tegak lagi. tapi terlihat dia bersemangat, ketika harus maju ke depan kelas menuliskan sesuatu di papan tulis. Di sebuah desa, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Mak Etak bersama teman-teman sebayanya belajar dalam sebuah lembaga pendidikan lanjut usia.
Ketika ditanya, buat apa Mak Etak belajar membaca?. Senyum cerahnya dan jawaban polos berlogat betawi meluncur, “biar bisa baca aksara, baca-baca berita, di koran dan lain-lain” (Metro Pagi, ahad 30 April 2006)
Sosok muslimin, Mak Etak, (dan potret anak-anak belitung) adalah gambaran betapa belajar adalah sesuatu yang dilakukan dengan tulus, tanpa mengharapkan apa-apa, sebuah nilai, label kelulusan, atau yang berujung pada gaji yang tinggi. belajar yang hakiki, adalah kegiatan yang mampu menjadikan manusia terlepas dari keterbelengguannya menuju sinar cerah pengetahuan.
Muslimin bukan orang yang berpendidikan tinggi, tapi dia berjuang mendapatkan wawasan seperti halnya berjuang mempertahankan hidup. Mak Etak, betapa sedihnya kelak jika akhirnya beliau harus membaca berita-berita koran negeri ini, tak ada berita harapan menghampiri. Yang ada, kekerasan, penipuan, kemaksiatan dan segala ketidakenakan lainnya. Tapi bukan akhir yang mereka tampaknya ingin capai. Sebuah proses yang disana tergantung cita-cita adalah energi kehidupan mereka.
Maafkan aku Mas Muslimin, tadi malam aku tak berperan dalam upaya menyambung hidupmu. Hanya koran hari sabtu yang bisa kuberikan, aku tahu itu lebih kau ingat daripada uang lima ribuan. Maafkan kami Mak Etak, bahkan cucu-cucu mu yang punya tenaga, dan kesempatan ini tak bisa menikmati makna pendidikan negeri ini seperti halnya kau menginginkan membaca aksara dunia.
Selamat hari (berbenah) pendidikan...
Hari ini, tanggal 21 April, bangsa kita mengenal sebagai hari lahirnya RA Kartini, putri Bupati Jepara Raden Mas Sosroningrat, yang kemudian kita kenal sebagai penggagas emansipasi wanita Indonesia. sebuah gagasan yang menjadi salah satu inspirasi utama para wanita dan kaum feminis dalam memperjuangkan hak-haknya sebagai “seorang manusia” hingga saat ini. Kartini, secara singkat dia mengalami suasana masa muda yang kurang menyenangkan bagi ukuran wanita sekarang. Dari sumber-sumber sejarah, biasa digunakan kata “dipingit” sebagai kata yang menggantikan tindakan mengurangi aktivitas luar seseorang pada suatu daerah tertentu, yaitu rumahnya sendiri. Baru kemudian, dlam masa pingitan itu dia berkorespondensi pada sahabatnya di Belanda, salah satunya Rosa Abendanon, dan kita mengenal kumpulan suratnya itu dalam buku dengan judul Door Duisternis tot Licht “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Lalu, kegundahan dan pikiran-pikiran Kartini tentang wanita Indonesia yang pada masa tersebut menglami hal serupa diartikulasikan dalam sebuah gerakan untuk mengangkat derajat kaum wanita. Yang saya tangap, intinya gerakan itu mengingingkan adanya kesamaan hak antara kaum wanita seperti halnya kaum pria. Yang lebih berkembang, perlakukan kepada wanita, kewajiban dan lain aktivitas-aktivitas kaum wanita tidk boleh dibedakan dengan kaum adam.
Benarkah sebenarnya Kartini mengusung hal-hal yang kita kenal dengan gerakan feminisme itu? tulisan ini terlalu sederhaa utuk membahas hal tersebut, tapi akan meberikan gambaran dan pandangan tentang fenomena feminisme.
Habis Gelap Terbitlah Terang, menurut pengakuan salah satu cucu Kartini (saya lupa namanya, maaf) secara arti sebenarnya mirip dengan ungkapan Al-Qur’an Minadz dzulumatin ilan nur. Menurutnya, kartini sendiri terinspirasi dari ungkapan itu yang islam sudah mengangkat posisi wanita dalam posisi yang terhormat daripada sebelum Muhammad sebagai Rasul. Kartini sendiri, adalah muslim yang taat sehingga tidak salah bila islam manjadi sumber pemikiran dan gagasannya.
Tapi kalau kita bicara sejarah, akan banyak hal yang menyebabkan akhirnya sejarah menjadi meragukan. Kita mengenalnya, distorsi sejarah. Sejarah bergantung pada siapa yang menuliskannya, terbukti apalagi di bangsa kita. Menurut Taufik Abdulah, meluruskan sejarah tak akan pernah bisa karena sejarah bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Jadi, kita tak akan berlama-lama tentang sejarah kartini.
Gerakan feminis ini kemudian memang menuai “kesuksesan” di bangsa kita, wanita-wanita mulai bole sekolah di luar, boleh bekerja mulai dari aktivitas yang berbau “khas kewanitaan” sampai posisi-posisi yang cenderung ditempelkan kepada “aktivitas laki-laki”. Secara prinsip, hal itu tentu tidak masalah. Wanita tidak lagi menjadi “pekerja rumah tangga”, yang kegiatan-kegiatan rumah biasa disandarkan padanya. Wanita tidak lagi menjadi second-line suaminya, malah bisa menjadi “kepala rumah tangga” yang sebenarnya. Sehingga ungkapan, Awewe mah dulang tinande (wanita ikut suami aja), tidak berlaku lagi.
Apakah feminisme benar-benar ingin mengangkat derajat wanita? Sejauh mana?
Jika feminisme bersikukuh dalam ide gerakan bahwa wanita seharusnya disamakan dengan laki-laki pada urusan apapun, mulai dari rumah tangga (tidak ada lagi pembagian ini kerjaan wanita, ini kerjaan laki-laki) hingga urusan negara, maka sebenarnya terjadi konradiksi antara hal lainya disini. Ketika kita mengakui bahwa ada persaingan dalam hidup, yang kemudian menjadikan ada pemenag dan pihak kalah, maka pihak yang kalah lah yang kemudian berad di “bawah”. Ini aksioma rimba yang berlaku pada manusia juga.
Nah, ahirnya semua aktivitas adalah persaingan yang menjadikan peserta persaingan harus berlomba memenangkan permainan. Wanita, juga harus rela dan sadar jika kemudian dia kalah, karena memang secara alami memeliki potensi yang berbeda dengan laki-laki. Tidak ada yang bisa disamakan, karena akhirnya yang layaklah yang jadi pemenangnya. Jika yang dituntut adalah hak untuk sama-sama masuk laga persaingan, maka itu senantiasa terbuka lebar. Tapi jika akhirnya kalah, maka jangan kemudian menjadikan itu sebagai alasan tidak mengakui persamaan hak.
Ini bukanlah masalah fisik, karena ada cerita zaman Khalifah Islam yang berhikmah tentang peran wanita. Sebagaimana kita tahu, bahwa wanita di medan-medan peperangan islam sejak Nabi hingga sahabat-sahabatnya ikut serta, terutama sebagai juru rawat. Ada pula sosok-sosok wanita (shohabiyah) yang ikut berperang, tapi itu tidaklah banyak. Peluangnya sama jika mau, tapi “persaingan” menjadikan wanita “kalah”.
Di masa kericuhan seelah wafatnya Utsman RA, Ali RA berpendapat tidak ingin menghukum pihak-pihak yang membunuh karena kestabilan politik yang beliau utamakan dulu. Tapi banyak sahabat, termasuk Aisyah RA, yang menginginkan Ali menghukum secepatnya pembunuh tersebut. Karena itu adalah hukum islam. (kalau salah, mohon dibenarkan).
Akhirnya, timbul peperangan antara pihak penuntut dan Ali (yang dimanfaatkan untuk memecah belah umat islam). Aisyah pun ikut serta memimpin pasukan bersama sahabat-sahabat utama. Dalam pertemuan antara Ai dan Aisyah, Ali mengungkapkan sebuah ayat, “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu...." (Al-Ahzab [33] :32-33).” dan kemudian Aisyah tersadarkan dan pulang kembali.
Dalam perjalanan pulang, aisyah diberi kawalan oleh Ali 60 pasukan yang menggunakan pakaian tertutup. Setelah sampai di Madinah, Aisyah baru mengetahui bahwa pasukan yang disertakan oleh Ali adalah pasukan wanita. Hingga ungkapannya yang terkenal, “tidak ada yang berkurang dari Ali, terutama kemuliaannya”
Artinya, tidak mungkin pasukan itu bersenjatakan bukan seperti senjata layaknya pasukan biasa, seperti pedang, tombak dan panah. Dan tidak mungkin pula pasukan itu tidak memiliki skill bertempur, karena Ali mempercayakan Ummul Mukminun pada pasukan tersebut.
Jadi, bukan masalah persamaan yang menjadi initi utama dalam membaha feminime, tapi proporsionalitas dalam melihatnya. Saya tidak tahu, bila kartini tahu bahwa gagasan yang dia taburkan bersemai sedemikian rupa sehingga sepsrti sekarang, tuntutan menyamakan antara wanita dan pria, bisa jadi dia merubah gagasannya atau memperjelas lagi apa yang dia mau.
Tentu saja, gerakan feminisme bukan pula gerakan kasihan. Yang hanya berkembang mengharapkan kasihan pihak lain. Tidak mungkin hidup, bila dengan kasihan. Gerakan feminis hendaknya menjadi gerakan pembuktian, layak tidaknya seorang wanita memegang sebuah posisi. Dan ini adalah peperangan hidup, yang akhirnya meninggalkan pihak termarginalkan. Dan wanita sendiri tidak akan kehabisan potensi jika akhirnya harus kalah dalam persaingan itu.
hari ini, ingin kusampaikan untaian kalimat pada orang-orang, yang telah banyak memberikan pelajaran, hikmah dan kisah bersama.
Kepada ibuku, terima kasih atas segala kasih sayang yang diberikan.dan maaf, atas kemampuan mendengar, bukan banyak memberi pertimbangan seperti yang kau minta. Manusia mempunyai dua telinga dan satu mulut, maka manusia mungkin seharusnya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Ibu, kau yang lebih tahu sebenarnya. Bagaimana akhirnya kita bisa melihat titik cerah diantara kelabu ini semua...sekali lagi, maafkan anakmu.
Kepada ayahku, entah bagaimana aku tuliskan ini untukmu. Aku pandang engkau adalah pahlawanku dulu. Sekarang dunia telah berubah. Terima kasih atas nasehat-nasehatnya, dan ternyata hidup bukan masalah perjalanan umur, tapi kematangan berpikir dan bertindak. Maaf jika kita akhirnya harus menunda saat-saat yang kau minta. Tuhan tolonglah, sampaikan sejuta salamku untuknya...
Keluaga besarku, harapan atas itu semua harus aku pikul. Mohon do’anya selalu. Mari kita ingat, sopo sing nandur bakal ngunduh. Mari menanam kebaikan-kebaikan, demi tujuan yang lebih hakiki.
Guru-guruku, orang paling besar dalam membentuk diri ini. Memberikan pelajaran kehidupan dan optimisme. Tidak bisa semuanya dinilai dengan materi, terima kasih atas waktu dan ketulusannya.
Saudara-saudaraku, idealisme yang menjadikan dunia ini terang. Atas semangat dan ketulusan yang kau ajarkan, terima kasih. Dunia bukanlah hitam-putih semata, mari kita melihatnya dengan lebih dalam dan dekat yang telah Allah anugerahkan. Sehingga kecemerlangan-kecemerlangan itu hadir ditengah-tengah kita, hingga semua umat mengagungkan nama-NYA.
Sahabat-sahabatku, anugerah terindah yang pernah kumiliki. Betapa hidup tak ada suasana tanpa kalian. Terima kasih atas kepercayaan, jabat tangan dan senyum-senyumnya. Maaf atas kelakuan, sakit dan sedih yang kutinggalkan. Jangan malu untuk meminta, walaupun aku tak kuasa melakukannya. Namun, letakkanlah tanganmu diatas bahuku, biar terbagi beban itu. Esok hari kan kita jelang, dalam keteguhan hati menuju cita-cita.
Teman-teman, kebersamaan selama ini membuat banyak cerita. Dimanapun kita nantinya, ingatlah bahwa kita pernah membuat sebuah kisah klasik untuk masa depan. Jangan terlalu larut dengan masalah, tetaplah menjadi bintang di langit.
Seseorang yang mengajarkan berpikir positif, dan telah menghidupkan kerlip-kerlip hati. Mari kita ingat, manusia pada dasarnya adalah cerita bagi manusia lainnya. Sedari awal ingin kusampaikan, aku hanya manusia biasa, bukan seorang dewa. Ingin memberikan kasih dengan sederhana. Europe is world today, semoga rumah diatas gunung dibawah langit dimulai dari sana. Allah Maha Memberi Keputusan.
Hanya ini yang bisa kuberikan pada semuanya, tak kurang tak jua lebih. Saat angka bertambah dan jatah hidup berkurang, tak ada kebahagian terbesar selain mengetahui orang lain bahagia karena kita. Semoga masa depan terbentang lebih baik...