Monday, June 04, 2007

Memandang pekerjaan

Bekerja adalah niscaya, seperti halnya bergerak. Manusia tak hidup bila tak bergerak, sehingga manusia pun tak bisa hidup kecuali dengan bekerja (dalam arti umum).

Berbicara tentang bekerja, terutama sebagai karyawan, dalam keadaan 'sulit' dan modern seperti ini, maka terdapat dua perspektif dalam memandang kondisi bekerja.

Pertama, perspektif sebagai hamba yang bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Hal ini karena mencari dan mendapatkan pekerjaan tidak bisa dikatakan gampang. apalagi untuk pekerjaan tepat sesuai dengan keahlian, kemampuan dan kemampuan-nya.

Sehingga, perspektif pertama dalam bekerja yang harus disikapi oleh 'menusia pekerja' adalah bersyukur karena dirinya telah mendapatkan pekerjaan. dan syukur ini, hendaknya tak hanya cukup diucapkan, melainkan harus pula dilanjutkan dengan tindakan, misal dengan zakat (jika sudah memenuhi nishob) dan atau infak.

Kedua, perspektif profesional. Disini, melakukan pekerjaan yang diberikan dan menjadi tanggung jawab dirinya dengan sungguh-sungguh, profesional. Keberadaan pekerja di kantor (atau tempat kerja), harus efektif untuk melakukan pekerjaan. Berapa digaji, maka diberikan timbal baik yang (minimal) setimpal dengan gajinya tersebut.

Dalam perspektif profesional ini, maka selalu untuk berkembang dan berkembang adalah kebutuhan. Sehingga, mencari tempat kerja yang lebih baik kadangkala menjadi solusi bagi jiwa yang selalu tertentang ingin berkembang dan maju. Dan dalam pandangan profesionalisme, berpindah kerja untuk sesuatu yang lebih baik (bukan hanya salary, tapi hal-hal lainya semisal personal development, prestise perusahaan, proximity to home, visi masa depan-sekolah lagi, dll). Dan prinsip dalam keinginan berpindah adalah, jangan melepaskan merpati di genggaman sebelum mendapatkan rajawali yang masih di angkasa.

Jadi, jika kita bekerja atau sedang akan melangkah bekerja, dua sayap perspektif bekerja diatas selayaknya harus digunakan. Dan akhirnya, selamat bekerja.

to work is to learn, earn, and contribute

3 comments:

Sister Fillah said...

Wah, soal pindah kerja kayaknya kita memang nggak bisa ngikutin konsep Jepang yang menganggap tempat kerjanya adalah sebuah ikatan kesetiaan seumur hidup, bagian dari uchi-nya,, Hlaaa..

trian h.a said...

ya, beda Jepang dan kita. tapi bukan juga pembenaran jadi kulon (singkatannya ikram, which is kutu loncat :D).

andhika willy wardana said...

gw pikir semuanya berkaitan dengan konsep hidup tiap2 manusia. beda itu biasa dan tak usah dibesar2kan. Dunia ini semu maya dan tak nyata. jadi kiranya kita tidak perlu berusah payah demi menjadi budak dunia. tapi bukan berarti kita malas2an. usaha dunia ini sebagai jembatan menuju alam nanti.