Sunday, March 29, 2020

Mendapatkan CAGR diatas 12% per tahun

Dalam tulisan the power of compounding ROI (Return on Investment) disebutkan cara memanfaatkan compounding ROI adalah dengan menggunakan realisasi ROI untuk investasi kembali. Sehingga ROI tersebut akan berulang kembali atau menggulung (rolling) secara terus menerus. Dengan demikian, harapannya CAGR (Compounded Annual Growth Rate) akan terbentuk secara konsisten dalam jangka waktu yang cukup lama.

Jadi bagaimana strategi investasi yang bisa dilakukan mendapatkan CAGR konsisten 12-15% pa selama periode yang cukup panjang misalnya 10 tahun.


Pertama, mari kita lihat kembali tabel compounding ROI berbagai tingkat ROI.  Kemudian khusus untuk ROI 12% dan 15% sebagai simulasi, durasi compounding nya dibedakan menjadi 2, yaitu ada yang compounding setiap tahun, dan ada yang compounding setiap enam bulan (0.5 tahun) sekali seperti di bawah (klik untuk memperbesar).


Dari tabel diatas kita bisa lihat bahwa jenis investasi dengan tipe compounding kurang dari 1 tahun sekali memberikan nilai expected ROI lebih besar secara jangka panjang dibandingkan jenis investasi yang mempunyai tipe compounding dalam per tahun. Artinya, investor yang mendapatkan hasil investasi lebih sering dan kemudian diinvestasikan kembali dengan expected ROI yang sama, mempunyai peluang mendapatkan realised ROI total lebih baik dibanding investor yang hanya mendapat hasil investasi setiap tahun meski dengan expected ROI yang sama. 

Sekarang dengan skala yang lebih pendek yakni 3 tahun, dan dilakukan perbandingan compunding antara setiap tahun dan setiap 3 bulan (kuartal) sekali. Dan hasilnya seperti dalam tabel di bawah, meski durasi hanya 3 tahun, compounding per kuartal memberikan ROI yang lebih baik dibanding compounding per tahun.     


Lalu bagaimana menjalankan pola men-investasi-kan kembali hasil investasi setidaknya dengan expected ROI yang sama untuk mendapatkan realised ROI yang lebih baik?

Dalam durasi 3 tahun, akan dilakukan investasi setiap kuartal ke 9 proyek yang mempunyai karakter pembayaran bagi hasil 3-6 bulan sekali. Total investasi 400 dimana 2 tahun pertama adalah periode investasi dengan asumsi expected ROI 12% pa. Semua hasil investasi di 2 tahun pertama tersebut akan di-investasi-kan kembali dengan expected ROI sama 12% pa. Dengan demikian, 388 dibutuhkan di tahun pertama dan 12 di tahun kedua untuk memenuhi dana investasi 400 sebagai budget. Simulasinya bisa dilihat dalam tabel di bawah.   


Hasilnya dengan hanya menggunakan durasi 3 tahun sebagai cut-off period;
1. Total expected return sebesar 140.8 atau ROI 35.2% atas total investasi 400.

2. Durasi investasi secara tertimbang (weighted average) sekitar 2.6 tahun, karena ada investasi dilakukan selama 9 kuartal atau 2 tahun pertama dengan bobot berbeda setiap kuartal nya.

3. CAGR dalam 3 tahun tersebut diatas 12%.

4. Dari 140.8 return tersebut, sebanyak 57.9 (14.5%) tidak di-investasi-kan kembali yaitu hasil investasi:
- tahun ke-2.25: 6.61 (1.7% dari 400)
- tahun ke-2.5  : 22.36 (5.6% dari 400)
- tahun ke-2.75: 6.61 (1.7%)
- tahun ke-3     : 22.36 (5.6%)

5. Jika hasil 57.9 tersebut di-investasi-kan kembali, maka expected ROI dan CAGR akan meningkat meskipun dengan durasi investasi keseluruhan yang bertambah.

6. Jika sebagian hasil 57.9 tersebut sebagian dinikmati sebagai hasil usaha (misal 1-3% dari total saldo dana per tahun secara rutin), dan sisanya di-investasi-kan kembali dengan expected ROI yang sama, maka expected ROI dan CAGR tetap bisa diatas 12% dengan tambahan durasi investasi keseluruhan. Apalagi dengan expected ROI investasi baru diatas 12%.

Dengan pola investasi yang seperti ini, dari simulasi diatas menunjukan bahwa mendapatkan CAGR secara konsisten diatas 12% dalam jangka panjang bisa dilakukan melalui investasi dengan expected ROI 12% yang membagikan imbal hasil setiap 3-6 bulan. Selain itu, investor juga bisa mendapatkan hasil usaha layaknya dividen atas saham perusahaan secara reguler setiap tahun. Kuncinya adalah disiplin dalam mengatur dan memantau investasi tersebut, setelah yang utama secara selektif memilih usaha (proyek) sebagai tujuan investasi.

Selanjutnya, apakah secara nyata model investasi dengan karakter sesuai simulasi tersebut ada dan aman? Tulisan berikutnya akan membahas hal tersebut, sekaligus mendiskusikan pertimbangan apa saja yang bisa digunakan untuk memilih investasi usaha (proyek) yang mempunyai expected ROI diatas 12% pa.

---
Tulisan 1: The power of compounding ROI
Tulisan 2: Mendapatkan CAGR diatas 12% per tahun
Tulisan 3: Memilih Investasi Proyek ROI diatas 12% per tahun
Tulisan 4: Platform Investasi untuk membangun CAGR
Tulisan 5: Pertimbangan memilih Platform Investasi

Saturday, March 28, 2020

The power of compounding ROI

Return of Investment (ROI) secara sederhana adalah sebuah tingkat pengembalian dari sebuah investasi dalam periode tertentu, yang biasanya dinyatakan dalam per tahun atau per annum (pa). ROI bisa dibagi dalam expected dan realised ROI. Expected ROI (ROI harapan) adalah sebuah proyeksi ROI atas sebuah investasi, artinya masih bisa naik ataupun turun karena belum menjadi kenyataan. Sedangkan realised ROI (ROI realisasi) sudah tentu adalah ROI yang berhasil dicapai oleh investasi tersebut.

Setiap jenis investasi mempunyai ROI berbeda-beda yang seringkali tergantung dari tingkat resiko. Secara umum, semakin sebuah investasi beresiko, maka semakin besar ROI harapan nya. Sebaliknya semakin kecil resiko sebuah investasi, harapan ROI juga semakin kecil.

Misalnya, membeli Surat Utang Negara (SUN) atau Sukuk Ritel (SR) yang dikeluarga negaraa adalah jenis investasi yang sangat kecil resiko bangkrut (dikenal free risk) atau gagal bayar dari Negara yang diwakili Pemerintah. SUN/SR Indonesia di 2020 ini rata-rata memberikan ROI 6-7% pa sebelum dipotong pajak 20%. Dengan ROI realisasi demikian (setara bunga/marjin deposito), maka praktis imbal hasilnya hanya tipis melawan inflasi tahunan Indonesia (sekitar 4-5%).  Tapi dengan free risk tersebut dan dengan nilai kapital yang besar, banyak institusi keuangan dan individu kaya di semua negara menaruh dana nya dalam model SUN/SR tersebut. 

Ada juga Surat Utang (Obligasi) yang dikeluarkan sebuah perusahaan, dengan ROI diatas SUN/SR misalnya 8-10% pa, biasanya tergantung tingkat rating (risiko) perusahaan tersebut yang dikeluarkaan oleh perusahaan pemberi rating (contoh Pefindo yang diakui secara nasional). Sebuah investasi diluar itu, rata-rata memberikan ROI sama atau diatas 10% pa tergantung dari cara investasi tersebut mendistribusikan ROI realisasi, misalnya secara bulanan, kuartal, semester atau tahunan. 

Mengapa ROI menjadi penting dan bagaimana dampak ROI yang terjadi berulang (compounding)?

ROI penting karena menentukan nilai uang hari ini di masa mendatang. Seperti dalam contoh diatas, dengan ROI yang tipis melawan investasi, maka nilai uang di masa mendatang tidak jauh berbeda dari nilai uang sekarang. Dengan asumsi realisasi ROI nya tidak digunakan untuk konsumsi (habis), alias realisasi ROI terus digunakan untuk investasi kembali. Jika realisasi ROI digunakan untuk konsumsi, maka modal (pokok) investasi tetap dan secara nilai akan berkurang tergerus inflasi di masa mendatang.

Dengan realisasi ROI digunakan untuk investasi kembali, maka ROI tersebut akan berulang kembali atau menggulung (rolling) atau dikenal dengan istilah compounding. Gambaran dari compounding ROI bisa dilihat dalam tabel dan gambar di bawah.



Dalam 10 tahun, compounding ROI bisa membuat nilai 100 uang di tahun-0 menjadi 162 jika realised ROI terus menerus 5%, dan hingga menjadi nilai 931 (9.3x) jika realised ROI terus menerus 25% selama 10 tahun. Rata-rata ROI yang compounding setelah sekian periode disebut juga CAGR (compounded annual growth rate).

Apakah ada sebuah investasi dengan CAGR 25%  selama 10 tahun? Jawaban nya sangat sulit didapat jenis investasi dengan CAGR konsisten di atas 20% dengan periode cukup lama sampai 10 tahun. Investasi di bursa saham (pasar modal) yang cukup menjanjikan secara expected ROI dan tentu saja dengan resiko adanya market crash hampir di dalam periode 10 tahun tersebut karena resesi atau krisis ekonomi dsb.


Data dari IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) diatas menggambarkan bahwa CAGR tertinggi IHSG adalah periode 2008 (crash keuangan karena subprime mortgage) hingga 2018 dengan CAGR 18.6%, dan turun CAGR 14.8% kalau ditarik terus sampai Jan 2020 sebelum IHSG mulai mengalami tren turun. Memang akan ada investor dengan CAGR investasi diatas CAGR IHSG selama jangka waktu tertentu (setelah ditambahkan dividen usaha yang belum tentu ada setiap tahun atau yang CAGR saham nya konsisten diatas IHSG), namun sebaliknya juga akan ada yang di bawah CAGR IHSG. Untuk jangka yang cukup lama misal 10 tahun, sangat jarang (sedikit sekali) investor saham pasar modal yang konsisten CAGR diatas 20%.

Kalau melihat bahwa dengan CAGR konsisten di 12-15% selama 10 tahun, masih bisa membuat nilai 100 di tahun-0 berpotensi menjadi 300 (3x) hingga 400 (4x) di tahun-10, maka cukup banyak peluang investasi di Indonesia dengan expected ROI 12-15% pa, dan tentu dengan profil resiko investasi yang medium, tidak serendah risk-free dan tidak setinggi saham pasar modal. Mendapatkan nilai 3x bahkan 4x memang tidak setinggi 6-9x, namun dengan kepastian yang lebih tinggi, sehingga nilai 3x-4x dalam 10 tahun adalah realised ROI yang sudah cukup menggembirakan.

Tulisan berikutnya, bagaimana strategi mendapatkan CAGR konsisten diatas 12% pa selama periode yang cukup panjang misalnya 10 tahun, dilanjutkan dengan beberapa pertimbangan yang bisa digunakan untuk memilih investasi yang expected ROI diatas 12% pa.

---
Tulisan 1: The power of compounding ROI
Tulisan 2: Mendapatkan CAGR diatas 12% per tahun
Tulisan 3: Memilih Investasi Proyek ROI diatas 12% per tahun
Tulisan 4: Platform Investasi untuk membangun CAGR
Tulisan 5: Pertimbangan memilih Platform Investasi

Saturday, February 01, 2020

18. Jurnal Paper (2020): Developing Parametric Cost Estimation Model for Rich Acid Gas Development Projects

by: Autie M Putri and Trian H Asmoro

Unlike typical gas field, the development of a sour or acid gas field is far more complex as it possesses higher risks and requires upscale technology for extraction and processing. Historically, sour or acid gas reserves left undeveloped due to the high investment requirement. However, as the worldwide gas reserves potential are depleted, it starts to gain attraction for investors to be developed.

Parametric approach is widely used to provide estimation with high level of accuracy, typically conducted during conceptual or appraisal phase. Gas composition is a significant factor that will affect a gas processing plant cost, as it will dictate the technology and equipment used. Therefore, the gas composition shall be taken into account when the parametric approach is utilizes. This paper aims to provide approach to estimate cost for gas processing plant during conceptual phase or appraisal phase by taking into account the gas composition factor. The outcome will provide ballpark estimates as estimates benchmark for a detail cost estimation and furthermore assist investment decision making.

Que$tor by IHS (Q3 2014 version) is used to calculate cost for gas processing facilities with different level of CO2 and H2S compositions in the raw feed gas. The costs are then plotted to understand whether there will be any mathematical relationship that can be further analyzed. The result shows that there are specific percentage of cost increase in line with the increase of CO2 and H2S level. The model will then be tested against past sour gas processing plant and the results fall within 10% range from the actual cost. Differences of the model estimate and actual cost may come from adjustments required to consider some factors such as technology used, project location, project timing (macro economy and global industry situation).

Keywords: gas development project, rich acid gas, sour gas, cost estimation, Que$tor IHS

Find out on IAFMI Journal 10th edition.



Thursday, October 31, 2019

17. Paper (2019): Sustainability Initiative: Integrating Environment and Social E&S Requirements into a Front End Loading FEL Management System

by: Trian H Asmoro, Hirmawan Eko P, Adearty P

All project requirements should completely be defined in the planning phase, thus it seen as the most critical activity in a project's lifecycle. Sustainability aspects for an Exploration & Production (E&P) project need to be included starting from planning phase to identify and manage project risks particularly in Environment and Social (E&S) sides. 

In fact according to a study, some key principles of sustainability have actually been adopted in the E&P activities. Meanwhile, Front End Loading (FEL) is a structured approach to increase the predictability of the project outcomes by narrowing down the risks from all technical, commercial, legal, E&S and other aspects. It uses a stage gate system in order to assure the project prior to authorization and to move on to the next step of investment decision, and a typical FEL method has widely implemented in the E&P business across the globe using different company name. 

One of set of requirements addressing sustainability aspects in a project is that Performance Standards (PS) developed by IFC (International Finance Corporation). It has 8 comprehensive elements and internationally-accepted standard of E&S practices which encourages transparency and positive contribution to environment and community. In addition, adopting IFC PS has been mostly becoming compulsory nowadays when dealing with financial institutions to support a project financing to be considered as green financing. 

This paper will explore how to integrate E&S requirements taken from IFC PS, such as E&S Impact Assessment (ESIA) and E&S Management System (ESMS) into a FEL management system for an E&P company operated in Indonesia. It will discuss the gaps between sustainability features in IFC PS and Government regulation, and finally bridge them properly. To conclude, it is very important to include sustainability requirements earlier in the project's lifecycle to help manage E&S risks in the project and improve the outcomes.

*Find out more on Academia.


16. Paper (2019): Lessons Learned from Adopting Sustainability Aspects for Gas Development Project

by: Trian H Asmoro, Hirmawan Eko P, Adearty P

Oil and gas industry have started integrating sustainability approaches into their oil and operations mainly aiming to manage risks particularly in Environment and Social (E&S) aspects. It is also seen to be aligned with Sustainable Development Goals (SDGs) where its main principles of sustainability have actually been adopted in the oil and gas activities. One of set of requirements that addresses sustainability aspects in a project is that Performance Standards (PS) developed by IFC (International Finance Corporation). 

IFC PS provides comprehensive standard of E&S practices which encourages transparency and positive contribution to environment and community. It has 8 elements, i.e. managing E&S risks and impacts (PS1), promoting safety and fair treatment of workers (PS2), avoiding pollution from project activities (PS3), managing risks to local communities (PS4), improving livelihoods of displaced persons (PS5), managing living natural resources sustainably (PS6), and protecting the indigenous peoples (PS7) and cultural heritage (PS8). 

Adopting IFC PS has been mostly becoming compulsory nowadays when dealing with financial institutions to support a project financing. This is also known as green financing where a project must adhere with a set of E&S requirements in managing project risks especially in E&S sides. Implementing IFC PS is such a challenging thing when the project has unique characteristics, e.g. located in post-conflict area, no major project in the past decade, and some unpleasant images perceived by the communities from the former operator. 

This paper will discuss lessons learned from implementing IFC PS in a gas development project and developing management system adopted from them, e.g. stakeholder engagement, grievance mechanism, livelihood restoration and environment management. It will also investigate the gaps between aspects in IFC PS and Government regulation, and finally bridge them accordingly. As a result, implementation of management system has helped manage the risks and improve project's performance and outcomes.

*Find out more on Academia.