Saturday, May 23, 2026

Melihat Laporan Keuangan Berkshire 2025

Setelah melihat Laporan Keuangan (LK) Berkshire Hathaway Inc. (BRK) tahun 2020 lalu, menarik juga untuk membandingkan bagaimana LK Berkshire untuk tahun 2025 kemarin.

Tahun 2025 adalah tahapan yang cukup special karena pertama kali nya Warren Buffet (WB) tidak lagi menjadi CEO digantikan Gregory E. Abel (Greg Abel), meskipun WB masih sebagai Chairman dan terlibat dalam beberapa keputusan strategis BRK. Sehingga Abel untuk pertama kali nya menuliskan BRK CEO letter yang legendaris di LK BRK 2025 tersebut.

Sebagai perbandingan dari LK 2020, mari kita lihat dari posisi Aset (Assets), Pendapatan (Revenues) dan Return tahunan nilai saham BRK.

1. Posisi Aset (Assets)

Dari summary asset di akhir 2025, nilai saham yang dipegang BRK (marketable securities/perusahaan terbuka atau tbk) sebesar USD 297 bn, yang dihitung sesuai harga market 31 Desember 2025. Dengan total asset BRK sebesar USD 1222 bn, maka sekitar 55% komposisi asset dalam bentuk equity securities dan cash & equivalents termasuk T-bills sektar USD 321 bn atau 30% dari total asset. Total asset BRK sendiri naik sekitar 40% dari USD 873.7 bn di tahun 2020, atau CAGR 7% per tahun. 

Sebagai perbandingan dari 2020, berikut beberapa 2 poin menarik dari aset tahun 2025:

a. Kalau hanya membandingkan total liquid asset yaitu equity securities (saham perusahaan tbk) dan cash equivalents saja maka komposisi nya menjadi 44% vs 56% di tahun 2025, lumayan jauh  dibandingkan posisi 65% vs 35% di tahun 2020.

Meskipun komposisi tahun 2025 tersebut masih masuk dalam range komposisi Portfolio Saham dan Kas yang disarankan Benjamin Graham antara 25-75% (Ref: The Intelligent Investors, dimana Graham sendiri adalah panutan dan mentor WB), namun jelas posisi kas 2025 meningkat signifikan dibandingkan 2020.

WB sendiri dalam sebuah kesempatan pernah bicara bahwa semakin sulit akhir-akhir ini untuk mencari perusahaan luar biasa dengan harga wajar. Hal ini juga menunjukan aspek prudent sekelas big company BRK dalam melihat market hari ini yang cenderung over-valued dan lebih siap dengan kas besas jika sewaktu-waktu terjadi market crash di saham.

b. BRK mengurangi kepemilikan saham di US secara agregat dan memegang porsi kepemilikan yang cukup besar di beberapa perusahaan besar di Jepang, yaitu Mitsubishi, Itochu dan Mitsui, hal yang di 2020 tidak disebutkan perihal kepemilikan di perusahaan Jepang tersebut.

Selain itu, terlihat rebalancing kepemilikan saham di US, misalnya kepemilikan AAPL turun dari 5.4% di 2020 menjadi 1.6% di 2025, atau kenaikan kepemilikan di American Express Company dari 18.8% di 2020 menjadi 22.1% di 2025. Dan bahkan beberapa saham tidak disebut lagi di summary misalnya Bank of America dan General Motors (mungkin tidak signifikan nilainya dibanding 2020).

2. Pendapatan (Revenues)

Pendapatan BRK 2025 sebesar USD 371 bn naik dari USD 245 bn tahun 2020, atau CAGR 8.6% per tahun (lebih besar dari CAGR asset 7%). Dan dari komposisi pendapatan BRK 2025 tersebut, mayoritas berasal dari anak usaha operasional (operating companies) USD 348 dibandingkan USD 237 bn di 2020.

Lalu, pendapatan dari dividen saham termasuk coupon T-bills sebesar USD 23.3 bn dengan total yield rata2 gabungan dengan sebesar 3.8% dari 23.3 / (297 equities + 321 T-bills), jauh lebih besar dibandingkan total yield tahun 2020 sebesar USD 8 bn atau 2.2% dari nilai saham nya USD 281 bn dan T-Bills USD 90 bn.

 Dari profil pendapatan BRK 2025 tersebut:

a. CAGR pendapatan lebih besar 8.6% dibandingkan CAGR asset 7% selama 2020 ke 2025 menunjukan hasil dari eksekusi strategi akuisisi asset yang berhasil. Tambahan aset mampu memberikan dorongan yang lebih besar untuk meningkatnya pendapatan Perusahaan keseluruhan.

 b. Dividend Yield (DY) naik signifikan artinya BRK lebih cenderung memegang saham dengan DY relatif lebih tinggi dibanding 2020. Dengan kenaikan nilai saham keseluruhan selama 5 tahun hanya sekitar 5.7% atau USD 16 bn dari USD 281 bn (2020) ke USD 297 bn (2025), serta melihat di tahun 2025 sendiri yang terdapat gain USD 39 bn, BRK jelas mengalihkan sebagian asset dari saham ke posisi kas BRK yang dominan di 2025. Kembali ke premis melihat kondisi market yang over-valued (terutama mungkin di US) sehingga saham dividen lebih aman secara valuasi disertai strategi BRK untuk bersiap terjadi nya koreksi pasar.

c. Estimasi capital gain tahunan dari nilai investasi tahun 2025 sebesar USD 39 bn atau sebesar 15% secara tahunan (nilai akhir equities USD 297 bn, dari nilai awal tahun USD 258 bn). Gain ini lebih kecil dibandingkan tahun 2020 sebesar USD 40 bn atau 18% pada 2020 yang saat itu banyak dipengaruhi koreksi dari Covid-19. 

Gain 2025 tersebut tentu dihitung dari biaya yang dikeluarkan BRK untuk membeli saham tbk dan harga saham tersebut per 31 Desember 2025. Artinya pendapatan gain untuk 2025 adalah khusus perubahan harga saham selama 2025, diluar tahun-tahun sebelumnya.

Meskipun terjadi penurunan dibandingkan 2020, hasil 15% capital gain dalam setahun tentu saja masih sangat impresif. Dengan dana yang di investasikan sebesar itu tentu lebih sulit mendapatkan return tahunan 15% tersebut (relatif lebih mudah mencetak return 20% dari 1 Juta dibandingkan dari 1 Triliun karena konsekuensi resiko yang lebih besar). Plus DY maka secara total kinerja investasi tahun 2025 di pasar sekitar 16.5%. 

 3. Return tahunan nilai saham 

Ini hal yang juga menarik untuk melihat kinerja saham BRK secara jangka panjang dibandingkan dengan kinerja saham dalam S&P 500 (500 saham yang dimasukan dalam kelompok oleh Standard & Poors). Histori dimulai di 1965 hingga 2025, menghasilkan total kenaikan saham BRK sebesar 6.1 juta %, sedangkan S&P 500 sebesar 46.1 ribu %.

Jika dihitung menggunakan CAGR (compounded annual growth of return) atau bunga majemuk (dalam istilah sederhana bunga ber-bunga), capaian CAGR saham BRK sebebar 19.7% per tahun vs S&P 500 sebesar 10.5% per tahun. Bisa juga diartikan kenaikan harga saham BRK rata-rata 19.7% per tahun, hampir 2 kali dari kenaikan harga saham dalam kelompok S&P 500. Meskipun dalam tahun-tahun tertentu, saham BRK tidak selalu 'mengalahkan' S&P 500, namun secara jangka panjang mampu berkinerja diatas market.

Dan jika dibandingkan 2020, CAGR BRK 20% vs S&P 500 sebesar 10.2%, artinya periode 2020 sampai 2025 terjadi penurunan kinerja saham BRK dibandingkan kinerja S&P 500. Meskipun terjadi penurunan kinerja saham BRK periode 2020 ke 2025 (dan masih positif uptrend bukan downtrend), secara perusahaan BRK tetaplah salah 1 wonderful company.

Kinerja tersebut merupakan kombinasi antara capaian operating companies dan market value (dan dividen) dari investasi securities yang dilakukan di pasar dengan baik, termasuk disiplin menjaga komposisi aset likuid untuk selalu bersiap dengan kondisi market yang bisa berubah cepat. Let's get ready!

Financial Summary 2020 vs 2025

BRK 2020

Assets $872bn 

a. Stock investment: 281bn - 32% (65%)

b. Cash equivalents: 150bn - 17% (35%)

c. Others & Operating company: 441-51%


Revenue $285bn

a. Operating Company: 237bn 

b. Dividend & Coupon: 8bn - Yield 2.2% of 281bn + 90bn value

c. Capital gain FY2020: 40bn - 18.1% from 241bn (281-40bn)


BRK 2025

Assets $1222bn 

a. Stock investment: 298bn - 25% Assets (44% liquid Assets)

b. Cash equivalents: 372bn - 30% Assets (56% liquid Assets)

c. Others & Operating company: 552 - 45% Assets


Revenue $371bn

a. Operating Company: 348 bn 

b. Dividend & Coupon: 23.3bn - Yield 3.8% of 298bn + 321bn value

c. Capital gain FY2025: 39bn - 15% from 258bn (297-39bn)

Saturday, January 03, 2026

Kinerja Investasi Saham 2025

Setelah sekian lama dorman dan momen tahun baru 2026, hal yang cukup pas untuk menulis kembali perihal kinerja investasi saham pribadi di BEI. Perhitungan kinerja investasi saham dilakukan dengan metode seperti Reksadana (mulai dari indeks 1000) mengikuti yang dijelaskan di Bolasalju, dimana juga mempertimbangkan multiple account sekuritas.

Perhitungan basis tahun dimulai dari 2021, meskipun saya sudah mulai belajar investasi dan punya akun sekuritas yang pertama di sekitar tahun 2009. Hal itu murni karena sebelumnya belum paham bagaimana menghitung kinerja investasi saham yang ‘relatif tepat’, dengan mempertimbangan dana masuk/keluar, beberapa akun sekuritas dan perhitungan tahun berjalan (YTD: Year-to-Date atau ITD: Inception-to-Date).

Hasilnya seperti pada gambar di bawah, secara keseluruhan:

- IHSG secara tahunan 2025 tumbuh 22.13%, sebuah pencapaian yang bagus meskipun banyak dipengaruhi oleh saham-saham tertentu yang dibuktikan dengan indeks LQ45 yang hanya tumbuh 2.45% saja.

- Sejak 1 Januari 2021 hingga 31 Desember 2025 (5 tahun), IHSG tumbuh secara kumulatif total sebesar 44.62%, sedangkan LQ45 malah turun -9.45%. Secara CAGR atau kumulatif per tahun, selama 5 tahun IHSG menghasilkan kinerja majemuk (CAGR) 7.66% per tahun sedangkan LQ45 malah menghasilkan CAGR -1.97% per tahun.

Alhamdulillah.. dalam periode yang sama, investasi pribadi menghasilkan kinerja total 64.74% atau CAGR 10.50% per tahun. Untuk 2025, investasi pribadi memberikan 28.80%.

Investasi pribadi dibagi dalam 4 akun sekuritas sesuai profil di bawah. Kenapa sampai sebanyak itu? Ide awalnya setiap akun punya tujuan dan cara eksekusi berbeda, meskipun akhirnya tidak selalu konsisten dalam prakteknya 😊

Sehingga bisa disimpulkan bahwa investasi pribadi baik kinerja total, CAGR dan tahunan 2025 lebih tinggi dibandinkan IHSG apalagi LQ45. Meskipun di tahun 2021 dan 2023, kinerja pribadi secara tahunan lebih rendah dibanding IHSG.

Mungkin salah satu pembeda Adalah bahwa kinerja pribadi secara otomatis sudah memperhitungkan dividen yang diterima, sedangkan di IHSG ketika sebuah emiten memberikan dividen maka harga saham nya biasanya turun pada cum-date sesuai dengan nilai dividen per saham nya. Meskipun kemudian harga saham bisa “recovery” atau tetap turun sesuai dengan kinerja emiten itu sendiri.

Terkait dividen, berikut profil dividen yang diterima sepanjang 2025 (lumayan buat ayem-ayem😊).

Secara peningkatan nilai aset, terdapat kenaikan nilai investasi saham dari awal 2021 sampai akhir 2025 (termasuk penambahan/penarikan dana, unrealized loss/profit, dan dividen diterima) sebesar lebih dari 5x lipat. Dimana IHSG sendiri, terjadi kenaikan market cap dari 31 Desember 2020 sebesar Rp 6,586.99 Triliun (IHSG 6,090.70) menjadi sekitar Rp 16,000 T di akhir 2025 (IHSG 8,646.94).

Tentu tantangan selanjutnya untuk menjaga konsistensi kinerja investasi saham selama 5 tahun kebelakang ke nilai investasi yang saat ini sudah lebih besar dibanding 5 tahun lalu untuk terus bertumbuh.

Bismillah.. Semangat! 😊

Thursday, December 19, 2024

19. Jurnal Paper (2024): Incorporating Modularity Approach during Planning Stage for Greenfield Gas Development

Greenfield project is viewed of having less technical complexity compared to brownfield one. In gas development project, greenfield is yet heavily influenced by other complexities such as hydrocarbon evacuation and commercial arrangement. Unlike oil projects, a gas project would never be sanctioned if there is no clarity in the arrangement of sales and its commerciality.

Furthermore, for certain projects which have limited economics, the development concept will play a significant role in determining project feasibility. Some scenarios of cost deployment may be involved such as staging development and buy or rent option. The keys are to optimize project schedule and project cost to meet the minimum economic threshold.

Technology selection will also be critical to optimize the first-gas timeline and its cost. In addition, modular facilities have been matured up in recent years, so that project schedule can be compressed to accelerate the production. It is also expected that cost optimization can be further exercised to support the project economics particularly for marginal development project.

This paper discusses the modularity approach during the planning stage has changed the development strategy and project cost. It is a greenfield development with limited volume of hydrocarbon in typical PSC terms applied in Indonesia. In addition, the possible implementation of CCS program will add burden in the economics that potentially sets project as marginal development.

Keywords: greenfield gas development project, modular facilities, modularity approach, project schedule, project cost, cost optimization, schedule compression

Find out detail at: Jurnal IAFMI Edition-16 published December 2024

Saturday, July 24, 2021

Melihat Laporan Keuangan Berkshire 2020

Saya tertarik melihat kembali Laporan Keuangan (LK) Berkshire Hathaway Inc. (BRK) tahun buku 2020, sebuah perusahaan investasi besar di US dengan CEO & Chairman Warren Buffet (WB), yang kekayaan nya diatas USD 100 billion (sebagian besar dalam bentuk valuasi saham BRK). Laporan keuangan 2020 BRK bisa diperoleh dari link berikut: https://berkshirehathaway.com/2020ar/202010-k.pdf.

Dalam tulisan ini, hanya akan melihat 2 bagian summary dalam LK BRK + 1 hal unik yang selalu ada di cover Letter WB. Untuk Letter WB atas kinerja BRK tahun 2020 bisa diperoleh disini: https://berkshirehathaway.com/letters/2020ltr.pdf.   

1. Posisi Aset (Assets)

Dari summary asset di akhir 2020, nilai saham yang dipegang BRK (marketable securities/perusahaan terbuka atau tbk) sebesar USD 281 bn, yang dihitung sesuai harga market 31 Desember 2020. Dengan total asset BRK sebesar USD 873 bn, maka sekitar  32% komposisi asset dalam bentuk equity securities dan cash & equivalents termasuk T-bills sektar USD 150 bn atau 17% dari total asset.  

Diluar equity securities dan cash & equivalents tersebut, artinya lumayan besar porsi direct investment (porsi sekitar 51% asset) di perusahaan yang dibukukan baik dengan metode pembukuan equity-method (BRK termasuk controlling group, meskipun anak perusahaan tersebut tbk) maupun dengan metode consolidated (aset & liabilitas anak usaha dimasukan ke dalam buku LK Berkshire) dimana BRK sebagai controlling group (pemegang saham yang bisa mengendalikan perusahaan) dan anak-anak usaha non-tbk. 

Ada 2 poin yang menarik dari posisi aset tersebut:

- Kalau hanya membandingkan total asset equity securities (saham perusahaan tbk) dan cash equivalents saja maka komposisi nya menjadi 65% vs 35%. Artinya komposisi tersebut masuk dalam range komposisi Portfolio Saham dan Kas yang disarankan Benjamin Graham antara 25-75% (Ref: The Intelligent Investors). Graham sendiri adalah panutan dan mentor WB. 

-  BRK sebagai perusahaan holding investasi, ternyata porsi asset securities & cash nya 'hanya' 51%, dan 49% nya adalah dari operating companies sebagai anak usaha nya. Jadi, terdapat manajemen resiko yang historically proven di BRK terutama saat menghadapi kemungkinan market crash di pasar saham. 


2. Pendapatan (Revenues)

Yang juga menarik adalah komposisi pendapatan BRK 2020, dimana mayoritas berasal dari anak usaha operasional (operating companies) USD 237 bn. Lalu, pendapatan dari dividen saham sebesar USD 8 bn atau dividend yield (tingkat dividen, nilai dividen dibagi harga saham) sekitar 3% dari nilai saham nya (USD 281 bn). Sedangkan estimasi capital gain dari nilai investasi USD 40 bn. 


Seperti yang dijelaskan di Letter WB, gain dihitung dari biaya yang dikeluarkan BRK untuk membeli saham tbk dan harga saham tersebut per 31 Desember 2020. Tentunya pendapatan gain untuk 2020 adalah khusus perubahan harga saham selama 2020, diluar tahun-tahun sebelumnya. 

Terdapat 2 poin juga yang bisa diambil dari profil pendapatan BRK 2020 tersebut:

- Dividend Yield (DY) 'wajar' secara tahunan dari saham di pasar adalah 3%, ini bisa menjadi kriteria yang digunakan jika ingin menjadikan histori DY sebagai salah 1 pertimbangan memilih saham. Meskipun secara histori, harga saham naik turun sehingga dimungkinkan juga penyesuaian hingga misal 2% atau bahkan 1% tergantung jenis industri.  

-  Estimasi kenaikan nilai saham (capital gain securities) untuk tahun 2020 sebesar USD 40 bn, artinya secara persentase adalah 40 / (281 - 40) = 18.1%. Hasil ini tentu saja sangat impresif dalam setahun capital gain, dengan dana yang di investasikan sebesar itu tentu lebih sulit mendapatkan return tahunan 18.1% tersebut (relatif lebih mudah mencetak return 20% dari 1 Juta dibandingkan dari 1 Triliun karena konsekuensi resiko yang lebih besar). Plus DY maka secara total kinerja investasi tahun 2020 di pasar sekitar 21%. 

3. Return tahunan nilai saham 

Ini hal yang menarik untuk melihat kinerja saham BRK dibandingkan dengan kinerja saham  dalam S&P 500 (500 saham yang dimasukan dalam kelompok oleh Standard & Poors). Histori dimulai di 1965 hingga 2020, menghasilkan total kenaikan saham BRK sebesar 2.8 juta % (iya, diatas 2 juta persen!), dibandingkan S&P 500 sebesar 23.4 ribu %.    


Jika dihitung menggunakan CAGR (compounded annual growth of return) atau bunga majemuk (dalam istilah sederhana bunga ber-bunga), capaian CAGR saham BRK sebebar 20% per tahun vs S&P 500 sebesar 10.2% per tahun. Bisa juga diartikan kenaikan harga saham BRK rata-rata 20% per tahun, sekitar 2 kali dari kenaikan harga saham dalam kelompok S&P 500. Meskipun dalam tahun-tahun terteentu, saham BRK tidak selalu 'mengalahkan' S&P 500, namun secara jangka panjang mampu berkinerja diatas market. 

Jadi, investors yang membeli saham BRK sehingga terdapat kenaikan harga saham BRK di pasar tentu melihat kinerja perusahaan BRK. Dan berbicara tentang kesatuan perusahaan BRK, kinerja tersebut merupakan kombinasi antara capaian operating companies dan market value (termasuk dividen) dari investasi securities yang dilakukan di pasar dengan baik. Sebuah contoh yang sangat baik!  

Sunday, April 11, 2021

Naik Puncak Lawu di Maret 2021

Mendaki Gunung Lawu sudah direncanakan sejak zaman SMU, namun tidak pernah kejadian hingga Maret 2021 kemarin. Padahal secara geografis, tinggal di Kabupaten Magetan dan bahkan sekolah di SMU 1 Magetan yang sepelemparan lereng Gunung Lawu. Dan kemudian rencana dan tekad yang lebih kuat dibuat untuk merasakan puncak Gunung Lawu, terutama karena ada salah satu karyawan MAFI yang hobi nya naik gunung, plus 1 orang teman nya. Cocoklah.. naik gunung jadi lumayan terbantu :). 

Berangkat hari Rabu sekitar Jam 11 dari daerah dataran rendah sekitar PG Poerwodadi, perlu waktu sekitar 1 jam 15 menit untuk sampai di Cemoro Sewu, pintu gerbang menuju kawasan puncak Gunung Lawu. Sewu adalah gerbang menuju puncak yang masuk wilayah Magetan. Ada beberarapa gerbang lain diantara nya Cemoro Kandang (sekitar 500 meter dari Cemoro Sewu) dan Candi Cetho yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Dari Cemoro Sewu biaya tiket 20 ribu per orang dan parkir mobil 40 ribu (motor 10 ribu) per 24 jam. 


Sampai di Basecamp Cemoro Sewu, kami makan siang dan sholat. Sekitar jam 13.50 kami start perjalanan pendakian. 


Total ada 5 pos pendakian Lawu dari Cemoro Sewu. Khusus sebelum Pos 1 ada 2 Pos Bayangan. Begini kira2 dokumentasi setiap pos hingga ke camp area yang kami putuskan di Sandang Drajar setelah Pos 5.

Pos 1 Jam 14.50, istirahat sekitar 10 menit. Sinyal Telkomsel terakhir disini hehe


Pos 2 Jam 15.53,  istirahat sekitar 7 menit



Pos 3 Jam 16.47,  istirahat sekitar 13 menit


Pos 4 Jam 17.48,  istirahat sekitar 2 menit. Lumayan udah mulai gelap, mulai pasang headlamp untuk membantu pendakian.


Pos 5 Jam 18.27,  istirahat sekitar 13 menit. Gelap dan dingin, mulai pakai jaket hehe.


Sandang Drajat Jam 19.00, start mendirikan tenda masak mie, sholat dan istirahat. Oiya alasan camp di Drajat karena gampang banyak sumber air (Sandang = Sendang, artinya sumber air) dan ada warung buka jika membutuhkan sesuatu. Keputusan yang tepat karena kompor gas sempat macet dan perlu pinjam alat untuk membetulkannya.  


Bangun Jam 02.30, minum anget2 terus tidur lagi hehe. Agak ga bisa tidur nyenyak, mungkin terlalu cape dan exciting jadi satu.  

Bangun shubuh jam 04.30. Lalu jam 5 pagi start naik ke Puncak Hargo Dumilah, hanya perlu waktu sekitar 15 menit dari Sandang Drajat. Dengan kondisi hanya bawa barang berharga, semua barang ditinggal dalam tenda di Sandang Drajat.

Here we go.. Summit Puncak Lawu 3265 Mdpl, Hargo Dumilah! Salah satu puncak tertinggi di Pulau Jawa. 






Kami turun dari Puncak sekitar Jam 7 pagi, lanjut sarapan Nasi Pecel di Warung Mbok Yem, konon warung tertinggi di Pulau Jawa hehe. 



Setelah foto-foto di Petilasan Hargo Dalem, kami kembali ke Tenda di Sandang Drajat dan beres2. 


Siap berangkat turun Jam 9.31 menyusuri jalur kembali ke Cemoro Sewu.


Pos 5 Jam 9.46 

 

Pos 4 Jam 9.31



Pos 3 Jam 10.33, istirahat sekitar 6 menit


Pos 2 Jam 11.07, istirahat sekitar 13 menit


Pos 1 Jam 12.21, istirahat sekitar 4 menit. Mulai ada sinyal Telkomsel hehe 
 

Basecamp Cemoro Sewu Jam 13.00


 Alhamdulillah, perjalanan pendakian dan kembali lancar. Setelah di bawah kami tahu bahwa ternyata semalam hujan lebat, sedangkan kami di atas hanya gerimis kecil. Mungkin karena diatas posisi kami sudah diatas awan, jadi sudah lewat area hujan. 

Next nya, insyaAllah rencana mencoba rute dari Cemoro Sewu. Info nya jalur Kandang lebih datar dibandingkan dari jalur Cemoro Sewu, namun lebih jauh secara rute. Jalur Sewu memang cukup menanjak dengan kondisi jalan berbatu, dimana jaraknya paling dekat ke Puncak. 


Dari Cemoro Sewu, Jalur dari Pos 2 ke Pos 3 pemanasan untuk menanjak, naik menanjak lagi dari Pos 4 ke Pos 5. Dan yang paling berat dari Pos 4 ke Pos 5, Selalu menarik dalam pendakian, keramahan obrolan apa saja sesama pendaki sebagai saudara sependakian. Dan ternyata meskipun bukan weekend, banyak pendaki dari kota sekitarnya (Madiun, Solo, Karanganyar) dan bahwa kota jauh seperti Surabaya, Bandung dan Jakarta.  

Oiya, info tambahkan untuk ongkos Porter (sebagai referensi dari basecamp Sewu) mulai dari sekitar 500-600 ribu per malam (tergantung beban bawaan). Porter bertugas membawa barang-barang pendaki (jadi pendaki tinggal bawa badan dan uang aja hehe). Kalau dilihat di beberapa web wisata, paket VIP bisa lebih dari 1 juta per pendaki. 

So, kayanya bisa jadi usaha sampingan bagus buat MAFI, pendakian lawu, visit peternakan Asmoro Farm, sekalian investors gathering :) 


Sunday, February 07, 2021

Melihat Hasil Investasi Alternatif Sektor Riil

Keterlibatan investasi pribadi ke sektor riil dimulai dari 2012 dengan membangun kandang pembesaran ayam petelur, namun sampai tahun 2015 belum ada keterlibatan pihak lain (investor) dalam usaha tersebut. Baru kemudian di tahun 2016 (sepulang dari UK) dan karena mendapat amanah sebagai salah satu pendamping di sebuah perusahaan investasi skala kecil menengah, maka keterlibatan dengan dunia investasi semakin banyak serta tentu mulai berinteraksi dan membuka diri dengan para investor.   

Keterlibatan investor dimulai dengan teman-teman sendiri (ring-1), terutama teman kantor dan kampus. Alhamdulillah, tidak terasa sudah 4+ tahun sejak pertengahan 2016 hingga akhir 2020, keterlibatan para investor baik di usaha sendiri maupun di usaha teman-teman juga semakin meningkat. Maka selain berusaha menjadi investment manager yang mengajak dan mengelola investasi dari teman-teman, saya pribadi juga sebagai investor, serta pemilik usaha kecil sendiri (dan juga masih karyawan hehe).

Dari sekian investasi yang saya kelola, terdapat seorang investor yang saya jadikan profile bagaimana hasil dari investasi proyek-proyek di sektor riil dalam portfolio 4 tahun terakhir di bermacam bidang usaha, seperti pertanian, peternakan, konveksi, trading, dan properti. Proyek disini adalah modal kerja yang berjangka waktu tertentu, bukan kepemilikan saham atas perusahaan. Grafik berikut menggambarkan hal tersebut, dimana;

- Invest-out: Dana keluar dari investor untuk masuk dalam investasi proyek

- CF-in: Dana masuk yang diterima investor, baik pengembalian modal ataupun bagi hasil (ujroh)

- Net-CF: Selisih antara Invest-out dan CF-in

- Cum: Kumulatif Net-CF dari tahun sebelumnya

- NAV bef Margin: Net Asset Value (pokok/modal investasi) sebelum potensi marjin (bagi hasil) yang akan diterima mendatang    

Dari grafik profil diatas, CAGR (compounded annual growth rate, kumulatif pertumbuhan tahunan) dalam 4 tahun mencapai 11.2%, yakni dengan menghitung NAV (864) atad Cum CF (565). Artinya secara modal (buku), investor tersebut masih tercatat memiliki investasi sebesar 864 Juta, namun sebenarnya secara riil cash tinggal sisa 565 Juta karena ada pokok dan marjin (bagi hasil) yang sudah diperoleh. 

Jika katakanlah semua investasi bisa dicairkan di 1 Januari 2021, maka investor akan mendapatkan hak nya sebesar 864 Juta. Tentu kenyataan nya tidak mungkin bisa dicairkan karena masing-masing mempunyai perjanjian investasi dengan durasi yang belum jatuh tempo di 1 Januari 2021.  

Lalu apa artinya CAGR 4 tahun sebesar 11.2%? Artinya secara rata-rata portfolio investasi ke proyek-proyek usaha sektor riil menghasilkan ROI rata-rata 11.2% per tahun selama 4 tahun tersebut secara compounding (100 menjadi 111 di tahun ke-1, lalu menjadi 123 tahun ke-2 dst). Kelihatan tidak sangat besar, tapi lihatlah efek dalam 4 tahun membuat nilai 864 Juta sudah menghasilkan sekitar 300 juta, sehingga hanya menyisakan dana keluar net 565 Juta. Bisa dibalik, 565 Juta menjadi 864 Juta dalam 4 tahun. 

Namanya rata-rata, ada proyek yang ROI tahunan diatas 11.2%, dan ada pula proyek dengan ROI tahunan di bawah 11.2%. Itulah yang dinamakan diversifikasi, untuk mengurangi resiko dengan tidak menempaktkan semua investasi ke 1 jenis investasi (proyek) saja. 

Namun secara perbandingan, nilai CAGR 11.2% sangatlah tidak buruk dibandingkan kinerja CAGR IHSG dalam  20 tahun seperti dalam tabel di bawah. Sekali lagi CAGR adalah rata-rata, tentu ada return nilai saham-saham diatas rata-rata dan ada di bawahnya. Malah jika dilihat hanya 2 tahun (2018 ke 2020), IHSG menghasilkan negative return sekitar 10%, atau CAGR -4.8% dalam 2 tahun, dan yang paling besar CAGR IHSG periode tahun 2000 hingga Feb 2018 dengan CAGR 18.6%. Namun, siapa yang bisa dengan pasti menebak arah market IHSG?  


Selain itu, terdapat perbandingan nilai beberapa instrumen investasi yang dilihat dari IHSG, emas dan nilai dolar terhadap rupiah. Untuk yang konservatif (defensif) dalam investasi, mempunyai emas adalah pilihan yang safe heaven (sangat aman). Namun, sebenarnya tidak ada yang pasti bisa menebak harga emas di masa mendatang. Nilai emas akan cenderung naik sebagai penjaga nilai atas inflasi, atau bisa naik signifikan jika ada ketidakpastian atas kondisi ekonomi negara (dunia). 

Dengan monitoring dan kontrol investasi di usaha sektor riil ada di tangan para investor (dan investment manager terpercaya), maka secara kinerja investasi di sektor usaha riil sebenarnya cukup bersaing dibandingkan kinerja IHSG dan emas. Yang juga penting, bisa kontribusi langsung menggerakan ekonomi secara riil melalui usaha-usaha yang bisa berdampak ke ESG (Environment Social Governance). Plus pastinya ikut membantu usaha teman-teman sendiri yang sebagian besar skala kecil ke menengah untuk bisa perlahan naik kelas. 

Tantangan nya adalah mendapatkan seorang (lembaga) investment manager terpercaya yang secara amanah dan profesional mengelola (mengarahkan) dana para investor. Welcome on board! :)         

Monday, October 12, 2020

Grafik Indeks Saham (JKSE-IDX), Harga Minyak (CF) dan Emas (GF)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG): Jakarta Stock Exchange (JKSE) - Indonesia Stock Exchange (IDX), indeks perdagangan saham dalam Rupiah (IDR)

Harga Minyak (Oil Price): Crude Oil Nov 20 (CL=F), dalam USD/barrel (1 barrel = 159 Liter)

Harga Emas (Gold Price): Gold Dec 20 (GC=F), dalam USD/oz (1 oz = 28.35 gram)

Ref: Yahoo Finance, Start 7 June 2015 - 9 October 2020

---

Bagaimana kesan anda setelah melihat grafik diatas? Dalam kurang lebih 5 tahun terakhir, nilai emas lebih kuat dibandingkan IHSG ataupun harga minyak.   

Yang paling parah adalah harga minyak, di tengah kondisi over supply harga akan cenderung tertekan dalam beberapa tahun mendatang. Ditambah sentimen dan kebijakan terkait renewable energy yang terus meningkat. Hal ini berdampak langsung dengan harga-harga saham perusahaan hulu migas karena turun nya kinerja secara signifikan di 2020 ini sebagai dampak penurunan demand akibat pandemi Covid-19. 

IHSG sendiri cenderung 'sama' dari 5 tahun sebelumnya. Memang akan selalu ada saham yang outperformed (diatas rata-rata) dari kenaikan harga saham diatas IHSG. Namun juga ada saham-saham yang underperformed, dari penurunan harga saham dibawah IHSG. Kalau anda membeli Reksadana Saham atau Reksadana Indeks, kemungkinan tidak akan kemana-manaa nilai reksadana anda selama 5 tahun terakhir. Atau kemungkinan malah turun dana di reksadana anda karena adanya biaya manajer investasi. 

Lalu harga emas, dari grafik 5 tahun, atau kalau ditarik 10 tahun tetap emas akan selalu konsisten naik (naik = kondisi akhir periode dibanding kondisi awalnya). Jadi apa sebaiknya memindahkan semua investasi aset ke emas? 

--- UPDATED January 2021 ---

Mari kita lihat grafik yang sama untuk lebih 1 dekade, mulai 1 Januari 2010 sampai 31 Desember 2020 seperti di bawah. Ref: Yahoo Finance, 

Ternyata: menyimpan emas dalam bentuk Rupiah selain dipengaruhi oleh harga emas yang meningkat secara dolar, juga dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar yang menurun selama 11 tahun ini. Dengan demikian, kinerja haga emas dalam rupiah meningkat sekitar 130% (70% + 50%), hampir mirip dengan IHSG sebesar 135%. 

Bedanya, tentu saja IHSG adalah indeks rata-rata, artinya ada saham-saham yang outperformed dan ada saham-saham yang underperformed.  Nah.. merupakan efforts sendiri juga untuk mencari dan menemukan saham-saham yang outperformed tersebut, dan memang ada banyak saham yang kinerja nya jauh diatas dari 135% tersebut. Sedangkan dengan emas, anda tinggal beli dan disimpan dengan aman. 

Jadi, ada baiknya melakukan diversifikasi aset investasi ke beberapa instrumen termasuk emas. :)