Monday, July 30, 2007

Gender, antara rasional dan emosional

Akhir-akhir ini saya sempat dihantui sebuah 'pertanyaan klasik' dari fenomena yang sudah jamak, bahwa laki-laki cenderung lebih rasional dan perempuan lebih emosional. Pertanyaannya, apakah sekarang itu masih berlaku?

Namun, sebaiknya kita memberi batasan yang lebih jelas tentang rasional-emosional antara perempuan atau laki-laki. Tentu ini bukan diskusi yang harus berhenti karena jawaban, "semua kan bergantung pada orangnya" atau "ada kasus khusus, jangan digeneralisasi". Kalau seperti itu, kita tidak akan mengatakan kepada anak kecil bahwa langit itu biru, karena toh tiap menjelang hujan berubah mendung. Atau tidak mengatakan bahwa hutan itu hijau, karena yang kebakaran berubah menjadi merah dan hitam. Jadi, mari melihat dari kacamata umum dalam konteks zaman.

Terdapat tiga buah cerita (dan banyak lagi yang berkeliaran di sekitar kita) yang seolah mempertanyakan aksioma kuat bahwa laki-laki cenderung lebih rasional dan perempuan lebih emosional.

Pertama, ada ungkapan yang saya temukan dari artikel sebuah blog, bahwa laki-laki rela mengeluarkan uang 1.200,- demi membeli barang seharga 1.000,- yang diperlukannya, sedang perempuan rela mengeluarkan uang 800,- untuk membeli barang seharga 1.000,- yang tidak diperlukannya.

Disini saya kurang paham, siapa yang lebih rasional atau emosional, antara laki-laki atau perempuan dalam ungkapan diatas. Sebagai laki-laki, saya hanya bisa membenarkan ungkapan konsep 'berkorban lebih' laki-laki terhadap hal yang diinginkannya diatas. Bagaimana dengan perempuan?

Kedua, beberapa hari lalu 'diskusi ringan' di kantor tentang seorang dosen senior yang berpendidikan sangat tinggi (konon profesor) mempunyai seorang istri yang juga berstatus sosial 'terhormat', melakukan 'perbuatan terlarang' dengan pembantu rumah tangganya. Sampai disini, mungkin sebagian menganggap bahwa sang dosen tidak rasional (alias emosional), karena tidak menggunakan rasionya untuk menimbang-nimbang 'status perempuan', toh bagaimanapun dia adalah seorang maha guru yang mulia.

Tapi kemudian, ketika diadili dalam sidang alasan yang dikemukakan sang dosen 'sungguh polos' bahwa siapapun perempuannya itu, secara 'fisiknya' akan sama saja. Bukankah ini alasan paling rasional?

Ketiga, ini juga saya dapatkan dari sebuah blog tentang cerita kepahlawanan dan laki-laki. Dari beberapa cerita yang disampaikan, bahwa jiwa kepahlawanan seorang laki-laki akan timbul menghadapi sosok perempuan yang lemah atau membutuhkan 'sosok pahlawan' dalam hidupnya. Salah satu kisahnya, ada seorang perempuan penderita kanker otak yang seperti 'tak punya harapan hidup' dan masih ada 'sang pahlawan' yang mau menikahinya sekalipun belum pernah saling bertatap muka dengan perempuan itu (terlepas bahwa semua manusia ada jodoh dari Yang Maha Kuasa). Seperti tidak masuk akal?

Saya sendiri punya pengalaman, seorang perempuan keluarga dekat yang menderita epilepsi sejak SD-nya akhirnya disunting oleh jejaka sarjana yang tampan (dan mungkin bisa mendapatkan perempuan lain yang 'lebih baik'). Dan lagi-lagi sebagai laki-laki, saya bisa membenarkan keputusan laki-laki sebagai sosok pahlawan itu. Benar-benar emosional.

Jadi sekarang, masih percaya laki-laki cenderung lebih rasional dan perempuan lebih emosional? Jangan tanya saya, karena saya pun tidak tahu pasti jawabnya.


*Maaf kepada teman-teman perempuan 'yang peduli',
karena saya tidak punya thread laki-laki maka saya memasukannya ke label Perempuan, padahal mungkin banyak dari sudut laki-lakinya.

9 comments:

unisa said...

pertama:
soal tawar menawar barang. Ini bukan masalah wanita tidak mau berkorban lebih, sehingga ngotot membayar 800. Namun inilah salah satu hal praktikal yang memuaskan wanita secara emosional. Mungkin kepuasan yang dirasakan wanita yang bisa menawar harga serendah2nya, sebanding dengan laki2 ketika meyaksikan gol dalam pertandingan sepak bola.. Puas banget gituh. So, in my oppinion, there's nothing to do with korban berkorban, Sir..
Emang laki2 udah didisain untuk tidak suka tawar menawar apalagi atas perbedaan beberapa rupiah. Males oy, mana ongkos parkir lebih mahal pula jatohnya.. hehehe.

kedua:
Jelas ketika sang profesor memutuskan menempuh 'jalan' itu, dia lagi tidak berada pada fase 'rasional'(dia sedang tidak membutuhkan analisa apapun, otaknya pun seperti mati, satu2nya pemikiran intelek yang dimilikinya adalah bahwa dia berhadapan dengan lawan jenis, that's all. Hal2 lain jadi hilang) maupun fase 'emosional' (dia sedang mati rasa terhadap hal lain, kecuali thdp perempuan itu), tapi dia lagi berada pada fase 'kegagalan pengendalian diri'.... (asyik banget deh jadi orang sok tahu)

Ketiga:
Contoh ke-3 pun tak bisa mematahkan argumen bahwa 'kebanyakan' wanita lebih 'emosional' ketimbang laki2. Coz contoh2 tsb ga sering dijumpai dalam kehidupan sehari2, hanya untuk some cases ;-). Lebih banyak contoh wanita yang 'rela melakukan apa saja' demi seorang laki2, bahkan walau seluruh dunia call her stupid, hanya karena CINTA (haduh.)

*rajin amat nih aku ya.. bawaan orok

dzaia-bs said...

sekarang udah jamannya ESQ mas tri..
laki2 bukan cuman ngandalin IQ dan perempuan bukan cuma ngandalin EQ
biar perfek, dua2nya digabung terus ditambah SQ

*nyambung gak sih :P

Nofie Iman said...

Di Royal Society beberapa waktu lalu dipresentasikan paper yang intinya menyatakan bahwa perbedaan karakter pria dan wanita (seperti yang Anda tulis) memang ada.

Dalam dunia bisnis, perbedaan itu memang terasa sangat kentara. Pria terbukti lebih rasional dalam pengambilan keputusan, lebih berani mengambil risiko, dan seterusnya.

Dan ternyata pria yang memiliki kadar testosteron lebih tinggi ternyata juga cenderung lebih rasional dan lebih risk-taking daripada pria pada umumnya.

Dika said...

kalo di farmasi ada istilah 'aftertaste', biasanya setelah minum minuman yang mengandung sakarin atau pemanis sintetik lainnya, akan terasa pahit. emosional ada 'aftertaste' nya (entah rasanya pahit, manis, asem atau asin :).. bisa bertahan lama, bisa juga tidak.

*siapakah yang rasional dan emosional?

Rachmawati said...

ya gpp ateuh, yang satu bertapak pada sisi rasional, yang satu lagi bertapak pada sisi emosional...
asal tau memanage kekurangan dan kelebihan fitrah tadi, everything will be fine I think ;).
kalo sama semua mah atuh gak akan rame dunia inih :P

verifying: itexgsd

Puput Hidayat said...

Itu memang sudah fitrah penciptaan manusia sendiri, diwujudkan lewat pembentukan fisik dan hormon yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Mungkin terkadang ada kasus dimana perempuan bisa lebih rasional dari laki-laki jika dia memberi effort lebih untuk itu, begitu pula sebaliknya. Tapi yang sesuai fitrah biasanya jauh lebih enak dijalanin.

isnuansa_maharani said...

kalo aku ngeliatnya gini: kesimpulan bahwa laki-laki dianggap lebih rasional itu karena diantara jutaan tindakannya, secara kuantitas, banyak yang dilakukan karena pertimbangan rasionalnya, dan begitu pula sebaliknya perempuan. jadi mungkin case-case tadi, hanya salah satu dari kemungkinan tindakan laki-laki yang didasarkan atas emosionalnya.

edratna said...

Trian,
Suami saya lebih pandai menawar barang dibanding saya...jadi argumen di atas tak terlalu tepat.

Sebetulnya laki-laki dan wanita sama, cuma karena budaya, laki-laki diharamkan menangis (ato kalau menangis jangan ketahuan orang).

Di tempat kerjaku dulu, yang jadi GM Restrukturisasi malahan wanita terus beberapa kali berturut-turut (terutama dari th.1994-2005 pas jaman krisis moneter), karena wanita dianggap tough dalam menangani nasabah-nasabah yang bandel, tahan banting dalam menghadapi godaan, dan dapat bersikap keras. Nahh lho! Bahkan saat itu, dari Bank BNI dan Bank BTN Kepala Divisi Restrukturisasi (setingkat GM) juga wanita.

Teori atau cerita tadi sebenarnya udah usang, dalam kondisi sekarang udah nggak tepat lagi, tapi masih suka dibesar-besarkan.

yuli akbar said...

oh jadi dengan adanya sosok lelaki yang seperti itu merupakan sebuah sikap yang emosional. ya cukup mengerti gan sekarang


Obat Psoriasis