Thursday, March 09, 2006

kerendahan hati

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,

yang tumbuh di tepi danau


Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang

memperkuat tanggul pinggiran jalan


Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,

Tetapi jalan setapak yang

Membawa orang ke mata air


Tidaklah semua menjadi kapten

tentu harus ada awak kapalnya....

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi

rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu....

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

(Taufik Ismail)

-------------------

"ajarkanlah sastra, karena akan melembutkan hati "

7 comments:

Karl Hiunzm said...

Hai, Di antara banyak blog yang saya lawati hari ini, blog anda antara yang hebat. Saya akan bookmark blog anda!

Saya ada tips kaya dengan mudah. Peluang dan tips kaya dengan mudah di sini.

Lawatilah bila ada masa lapang :-)

ikram said...

Ah si Karl bisa aja.

Trian H.A said...

iya kram, ujung2nya nawarin sesuatu. yasu..

linda said...

hi... salam kenal....blognya bagus:) puitis sekali...
btw linda pengen naro puisi ini diblog gpp kan?
HOya...aku gak nawarin apa2x loh:P *lirik2x keatas*

Trian H.A said...

oh..seneng sekali ada yang berkunjung dan "menulis ulang" dari blog sederhana ini.

makasih linda..*ingat seseorang*

darah nadi said...

Kenalkan...!
Aku adalah laut...
Menjejak bagian terdalam bumi dan membasahinya tanpa sepercik pun rasa takut...

Kenalkan...!
Aku adalah angin...
Mengembara langit hingga titik tersembunyi di empat musim...

Kenalkan...!
Aku adalah pemimpi...
Meninggalkan dunia dalam sepi...
Terdesak dalam takut dan mengasihani diri sendiri...

--adakah kamu mengerti?
untuk trian:
masih aku berharap akan tercerminnya judul puisi taufik ismail itu dalam dirimu...!

--dari seseorang yang sangat mencintai kamu...!

Trian H.A said...

iya mas "darah nadi", sengaja mencantumkan puisi diatas, untuk "menyadarkan" diri sendiri.
bukan langsung karena saya seperti isi puisi itu. masih kurang rasanya...