Wednesday, March 01, 2006

salah, atau bohong?

dituduh melakukan tindakan yang tidak sopan atau tidak layak adalah tidak nyaman. apalagi kalau kita merasa bahwa yang kita lakukan tidak gitu-gitu amat. bukannya itu wajar dalam suasana tersebut, atau apakah benar-benar itu tindakan yang parah sehingga layak dipertanyakan status seseorang? apalagi dalam dunia -meminjam lucky-, relativitas.

ceritanya begini. tadi malam, KM ITB diundang dalam Republik BBM Indosiar. saat itu, mengundang tamu bang Wimar Witoelar dan Artis Iwan Fals, dan tentunya sang penggagas acara, Effendi Ghozali, pasca sarjana komunikasi UI. tema malam kemarin adalah tentang pengangguran.

lalu, apa yang membuat "bermasalah"? saat acara berakhir, itu adalah sesi nyanyian denagn penonton berdiri. benar-benar rame. karena musik yang menghentak, banyak penonton (mahasiswa ITB, pengisi acara dll) menggerakkan tubuhnya. pun demikian saya. sebentar, saya tidak mengatakan itu ber-joged. karena itu memang menggerakan badan. kalau joged, kesannya separti penyayi dangdut, yang sebentar lagi mungkin terjerat UU pornografi-aksi.

Taufik Savalas, si presiden republik BBM melakukan itu di dekat saya, dan kemudian kami "berduet". semenit setelahnya (acara sudah selesai), datang sms. "qadaya asasiyah, joged! ctrl G.". masalah yang mendasar, joged. atau dari teman surabaya, " wah rusak puol..ha3x" (puol=banget).

jadi mikir, perasaan ada momen lain selama mahasiswa melakukan hal serupa. pertama, saat acara closing pertunjukan "saung mang udjo" yang sangat menyenangkan. dan kedua, saat ESQ Ary Ginandjar, yang sangat ekspresif. banyak juga dalam dua acara tersebut yang melakukan "gerakan badan", orang yang ber"status" sama dengan saya.

bagi saya, itu adalah ekspresi jiwa. sebuah ungkapan merekonstruksi masa kanak-kanak. bukan berarti kita belum dewasa. justru ketika dewasa, ada saat yang menanti manusia akan bersikap seperti anak-anak. kalau dalam urusan rumah tangga, mungkin tindakan manja kepada pendampingnya. bahkan seorang Umar Bin Khatab pun mengatakan untuk berlaku sebagai "anak kecil" di rumah. karena kita sebenarnya tetap merindukan the magic of childhood.

tapi, masalahnya mungkin kenapa itu dilakukan di ruang publik? televisi, media yang paling jahat saat ini, ditonton olah banyak orang dan membawa sebuah status "nama baik". itu masalah tempat. yang jelas, saya sangat menghindari yang namanya kemunafikan. sok berlaku baik, jaim (jaga image), dan yang sejenis dan ternyata sama-sama "politikus" dan oportunis-nya. kehidupan ya semuanya, jangan sepotong-potong. lihatlah dengan kacamata yang besar.

kalau kemudian tetap divonis tidak pantas, tidak layak, tidak sopan dsb. ya... monggo saja. tapi, jangan berbohong pada diri sendiri.

12 comments:

Anonymous said...

sepakat bahwa tiap orang pasti masih memiliki sisi kekanak-kanakan.akan tetapi, faktor eksternal lah yang mempengaruhi kapan sisi tersebut muncul. yang jelas, apapun yang kita lakukan berdampaknya bukan hanya pada diri kita sendiri.

Trian H.A said...

yup..sepakat, jadi agak "nyesel" jg..knp ga sembunyi aja "gerakan tubuhnya" nya..:)

ikram said...

Tentang ruang publik, mungkin ada benarnya juga tuh Trian.

Kalau Trian melempar ide penyatuan Boulevard - Persma hanya ke kedua unit itu, mungkin takkan jadi masalah.

Tapi ketika Trian menuliskannya di blog suaraitb.wordpress.com (yang mana adalah ruang publik) -- itu baru jadi masalah.

Dan masalah selanjutnya adalah, kapan dong kita berdiskusi tentang itu?

Sori curi-curi :p Abis gua tungguin jadwalnya blom ada-ada juga di sana...

Anonymous said...

trian,
aku pernah punya temen,
sobat baek sjk SD ampe SMU.
pas keterima UMPTN dia membuat keputusan spektakuler.
Lepas jilbab.
dalam kekagetan,
kuterawang matanya dan bertanya : KENAPA?
"gue ga mo munafik, coy.
gue blon bisa berubah jadi org baek, mending mana : org ga pake kerudung tapi baek, dibanding org yg pake kerudung tp ancur?lagian gue emang pake kerudung biar pas lulus tambah putih kok."

menurut trian,
temen aku SALAH ato BOHONG?

-- emang sih, ga gampang buat milih : mending mana? ngerampok bank apa korupsi? --

aku berharap lo ngerti maksud tulisan ini, dek..

Trian H.A said...

wah, kayaknya ga sampai segitunya. saya termasuk yang ga sepakat dengan tragedi lepas tersebut.
karena udah masuk wilayah yang tanpa ada perdebatan, aqidah (isn't it?)

sedangkan dalam hal akhlaq atau muamalah, bisa didekati dengan "salah atau bohong" (walaupun emang tidak juga pukul rata, relativitas). dan tulisan itu ngambil sudut pandang itu.

aku berharap pula, anonymous(2) ngerti sudut pandang tulisan ini..

Lucky said...

bukan salah atau bohong, tapi pengecut atau berani...
berani ngaku salah?
berani ngaku bohong?

Anonymous said...

hmmm... semoga Allah membukakan pintu kebenaran.. walau saya jug aterkejut dengan pemberitaan tentang jilbab itu.. soalnya menurut saya itu sudah bukan masuk wilyah yang sama lagi? bener ngga' ya.. itu dah masalah kewajiban yang sangat sakral banget..tanpa babibu ( perdebatan..red). nah masalah ini bagaimana? saya juga binun euy..satu sisi saya menganggap gak masalah,asal jangan kayak inul aje..yakan..
tapi bener juga masalah berani atau tidak mengakui kesalahn..
tetep semangat ya.... (IP '02)

Christian_Antonius said...

makanya masuk dong agama GW..loe ngga' bakalan kayak gini.. injil bilang boleh koq..hahaha...semuanya anjing..sok suci banget sih...Yesus Bless U....

Trian H.A said...

sepakat dengan luki dan IP'02, berani mengakui. termasuk apakah kita mengaku bahwa kita punya kegundahan tentang hal itu.

namanya agama, itu bukan masalah mudah atau tidak bagi orang lain. saya rasa, Christian_Antonius terlalu sederhana bila anda menilai agama dengan pandangan itu. karena mudah tidak, tidak berhubungan dengan lurus melencengnya suatu ajaran. dan, orang yang "repot" saya dan kami koq...

Anonymous said...

mending sok suci lah,
daripada sok bejat :))

igun said...

ha..ha..ha..
untung aku ga keno ece ndro..

padahal ak YM kowe, guaya tenan jogede..
nek aku sih just joke..

Tampaknya kontroversi sudah menjadi bumbu dunia.. Ah.. masak sang calon politikus(iya ga?) ini dibilang gitu aja sudah mbleret dan mengkeret.

he..he..he..

darah nadi said...

I love "the music..."
I love the way I enjoy "the music..."
I love the situation emerged because of "the music..."
Don't you have a little time to be happy with something you love?
It's your right to get it.
Status?
Don't be ridiculous!!
We don't live for everyone in this world!
Enjoying music doesn't mean neglecting the principe...
What you feel is natural..., doesn't harm yourself or anybody!
But, the questions are:
1. Kenapa yang seolah kamu permasalahkan di sini adalah reputasi kamu? Sebuah pembelaan?
2. Kenapa kamu tidak mempertanyakan apakah "tindakan menikmati" ini berpengaruh terhadap persepsi orang2 tentang musik dan prinsip kamu?
I don't care if someone speak outloud bout me! I care if someone speak bad bout my princips!
To christian: I bet you feel free in your religion. Enjoy it... for now!