Wednesday, August 03, 2005

Let’s Talk About “Cinta”......

Apa yang dipikirkan kita semua tentang judul diatas? Sebagian besar mungkin, suasana melankolis-romantis yang akan didapatkan dalam tulisan ini. Dan bentuknya tidak sampai merubah ekspresi luar kita (wajah, mimik), karena lebih banyak itu dimainkan porsinya oleh hidden interest kita.

Cinta (atau tepatnya wanita) menurut teman saya, adalah salah satu dari dua hal yang tidak akan pernah selesai dibicarakan, never ending talking. Satunya lagi adalah misteri. Tapi kita hanya mengulas singkat cinta, sebagai penyedap kehidupan yang membacanya.

Seringkali manusia modern menerjemahkan cinta dalam pengertian yang sederhana, yaitu landasan dua insan manusia lawan jenis untuk hidup bersama, baik jangka pendek (pacaran) maupun panjang (keluarga). Padahal, seharusnya cinta pula yang mendasari kita melaksanakan semua ritual agama kita. Dan cinta pula yang mungkin terpancar dalam terpaan wajah kita ketika bertemu manusia lainnya.

Tunggu dulu, apa bedanya cinta dan kasih? Trus dengan sayang? Penulis tidak terlalu paham dengannya. Yang sedikit dipahami, bahwa cinta sifatnya lebih dalam bermakna dan khusus. Sedangkan lainnya, mungkin lebih umum dan universal.

Karena manusia muda zaman sekarang lebih mengartikan cinta dalam bentuk praktis-simplistis, makna cinta itu sendiri telah mengalami degradasi. Atau sesungguhnya cinta telah melakukan rekonstruksi sesuai makna zamannya?

Kita juga bisa melihat dalam sejarah dunia pula, sangat mungkin cinta lawan jenis yang menjadi penyeimbangnya. Lihatlah, hampir semua tokoh besar selalu mengalami pasang surut dalam kehidupan cinta jenis ini. Muhammad dengan kesahajaan Khadijah dan kemanjaan Aisyah, Louis XI dengan Maria yang glamour, Napoleon dengan Anna yang mendapat persembahan air pancuran setelah mengalami sebuah kemenangan Bosporeus, Soekarno dengan dinamika istri-istrinya, sampai Hamka dengan kesederhanaan istrinya.

Namun jika cinta hanya ditafsirkan sebagai alasan manusia untuk menyukai, menyenangi, rindu, cemburu kepada lawan jenisnya, mungkin manusia telah merasa bahwa hanya dengan meletakannya pada tempat itu cinta akan mudah diejawantahkan. Tanpa harus banyak berpikir, merenung mendalaminya, dan secara naluriah cinta sepsrti itu adalah cinta yang mudah terbentuk ketika manusia menginjak dewasa. Ungkin lebih dari perasaan cinta kepada orang tua sendiri yang hidup bersama sejak kecil.

Padahal menurut penulis, cinta sendiri adalah proses dalam kehidupan, yang artinya mencinta. Cinta bukanlah akhir dari tujuan. Dan jika cinta adalah proses, maka tidak akan pernah merasakan batas akhir dari perjalanan hidup manusia. Tapi apabila kita merasakan dan memperjuangkannya, kita akan menemukan bukit dan lembahnya. Sedangkan kalau menjadi tujuan akhir, cinta akan menjadi sempit dan kita merasa sudah menemukan puncak bukitnya.

Pendalaman makna dari cinta diatas, bisa diterapkan dalam cinta segala terjemah. Cinta dalam hal ketaatan terhadap Tuhan, orang tua, dan kepada lawan jenisnya. Dan bagi seorang muslim, cinta yang dimiliki terhadap aneka bentuk dunia, tidak boleh melebihi cintanya kepeda Allah, Rasul dan Jihad (Q.S At-Taubah : 24).

Dan seorang Hamid kemudian “mengalihkan” sepenuhnya bentuk kehidupan kepada Zainab, menjadi bentuk kerendahan kepada Tuhannya di tanah suci (dalam kisah Di Bawah Lindungan Ka’bah). Meskipun keduanya menjadi insan yang saling tahu perasaan, dan tak pernah mengalami perjumpaan di dunia.

Atau kepada Setadewa yang karena cintanya kepada negara, akhirnya harus dikeluarkan dari perusahaan yang telah berbuat curang. Walaupun hidupnya juga dipatahkan dengan telah berkeluarganya Larasati, seorang perempuan cerdas, adik bermainnya saat kecil (Roman Burung-Burung Manyar).

Dan pada akhirnya, Soe Hok Gie yang akhirnya “dikalahkan” oleh Ira dan Sinta. Meskipun dia dengan tegas menyatakan “Lebih baik diasingkan, daripada menyerah pada kemunafikan” (film GIE). Manusia, menurut Weber, memang menyukai peran dalam panggung-panggung kehidupan yang berbeda.

Sehingga cinta mungkin yang menjadikan kehidupan ini ada, baik dalam arti praktis maupun luas dan dalam. Alangkah sayangnya, jika cinta mangalami peyoratif, diterjemahkan dalam lingkup yang sangat sempit. Walaupun, dengan menyempitkan maknanya, kita akan banyak melihat cinta seperti pasir di pantai yang bertabur banyak. Dan seolah-olah, kita telah menemukan cinta sejati yang membuat segalanya menjadi indah.

Beginilah cinta...
Deritanya tiada akhir


[terinspirasi sebuah perjalanan bahari penuh “cinta”, 20 Juli 2005]

1 comment:

Anonymous said...

Best regards from NY!
» » »