Monday, July 01, 2013

Analisa Gaji (C&B); Pertimbangan Pindah Kerja

Salah satu alasan pindah kerja adalah mencari gaji yang lebih besar. Alasan ini bisa jadi alasan yang utama, walaupun banyak orang sering menggunakan alasan-alasan terselubung lainnnya, misalnya mencari tantangan baru, pengalaman kerja, keluarga dll. Kecuali lingkungan kerja saat ini memang sangat-sangat tidak nyaman, maka orang lebih memilih bertahan karena dia sudah paham dengan pekerjaan dan tantangannya.

Terkait dengan gaji lebih besar tersebut, perlu dilakukan analisa secara menyeluruh, tidak hanya besaran nominal gaji (gross / net), tapi juga semua terms yang terkait. Misalnya; benefit yang tidak masuk dalam slip gaji, soft loan, kemungkinan kenaikan (increment) per tahun, pensiun dan bahkan pengeluaran pribadi.

Mengapa pengeluaran pribadi (living cost) masuk? Biasanya dengan gaji dan lingkungan baru, terjad perubahan pola belanja. Dan yang pastinya, asumsi tingkat investasi per tahun yang bisa dihasilkan dari hasil net salary + benefit lainnya dikurangi living cost + other expenses. Satu yang positif: dengan gaji yang lebih besar, zakat yang dikeluarkan juga seharusnya membesar juga bukan?

Dengan model perhitungan analisa gaji (dan mungkin tipikal dengan kondisi pekerjaan lain), beberapa perusahaan 'memagari' karyawan nya dengan 'janji pensiun' yang cukup besar sesuai masa dinas, tapi jika keluar lebih awal maka uang pesangon jauh lebih kecil dari dana pensiun yang dicadangkan. Yang membuat repot karyawan untuk mencari perusahaan yang mau membayar gaji dengan kenaikan yang bisa mengkompensasi pensiun besar di akhir tersebut.

Jika saya pemilik perusahaan atau setidaknya manajemen perusahaan, pendekatan tersebut sangat beralasan. Tentu bukan perkara mudah mencari karyawan, plus biaya yang dikeluarkan untuk proses rekrutmenya. Namun bagi karyawan, kondisi tersebut bukan berarti kita 'menyerah' dan tidak mau keluar dari 'zona nyaman' nya. Minimal karyawan harus menghitung dan menganalisa dengan teliti gaji dan lingkungan baru yang ditawarkan. Selain itu, disiplin dalam keuangan pribadi adalah kunci dari analisa gaji yang harus tetap dilakukan.

Di bawah ini adalah hasil dari model perhitungan dan analisa gaji yang saya bangun. Model ini sudah naik versi menjadi 2.0, dari sebelumnya 1.0 dan 1.1 yang di utak-atik sejak bulan Juni lalu (dan masih mungkin naik versi lagi ke depannya jika ada masukan-masukan bermanfaat). Disini mengasumsikan bahwa ada 2 tawaran yang sedang dianalisa, misalnya sebuah perusahaan domestik dan perusahaan luar negeri.

Jangan percaya kepada angka-angka di atas, yang pasti tujuannya adalah New_1 atau New_2 harus mempunyai NPV lebih besar (semakin besar semakin baik) daripada Current. Anda bisa lihat, komponen dana pensiun di akhir masa kerja yang cukup besar bisa membuat bias karena seolah cummulative benefit yang besar pada perusahaan sekarang, namun karena faktor discount rate, maka dana pensiun yang besar tersebut bisa terkompensasi dengan besaran gaji yang baru. Apalagi kalau misal 'hanya' harus bekerja 13 tahun lagi untuk mendapat NPV sama, kenapa harus bekerja 25 tahun? :)

Sedangkan screenshot di bawah adalah sebagian input yang harus diisi untuk mendapatkan hasil perhitungan. Seperti halnya spreadsheet perhitungan umumnya, maka asumsi sangat berperan dalam menentukan hasil. Paling tidak model ini bisa (sedikit) membantu anda untuk menganalisa gaji (Compensation & Benefit), dan komponen-komponen apa saja yang dipertimbangkan.


Selain faktor inputan yang sangat penting, tentu model ini tidak bisa mengkuantifikasi nilai-nilai yang tidak tampak (intangible values) bekerja di sebuah perusahaan. Misalnya kesempatan jalan-jalan ke luar negeri lewat presentasi paper, pengembangan diri dan karir yang terbuka. Tapi di sisi lain, misalnya kondisi perusahaan saat ini dan faktor keluar zona nyaman dengan tantangan di tempat baru sebagai salah satu perjalanan hidup pun tidak bisa dilihat di model ini. Artinya, seorang karyawan harus menganalisa kedua sisi antara sisi gaji (tangible) dan sisi intangible sebelum memilih.

At the end of the day, anda (karyawan) memang harus memutuskan jalan mana yang akan ditempuh bukan? 

*
Tertarik model tersebut?  Please comment and drop me an email. Terima kasih.

7 comments:

maxheartwood said...

Pasar tenaga kerja untuk level tertentu memang mempertimbangkan turn over profesionalnya, apalagi jika suplai dari penawaran SDM masih berlimpah.

Entahlah, saya melihat di pertumbuhan industri kita juga stagnan.500,000 lulusan S1 sampai S3 itu suplai standar tiap tahun ke pasar tenaga kerja, dan permintaan tak sebesar suplainya, ya saya melihatnya dari sirkulasi kredit produksi ya.

Saya mau mindahin beberapa investasi ke Jateng- Jatim, banyak manusia cerdas lulusan S1- S3 yang harus dibagi duitnya lah, sudah lama diinvestasi sama negara buat berpengetahuan soalnya, dongakne wae negoro ro gonjang- ganjing terus lah...

Thanks for your insight, still the same Oom Trian as I knew, prudentiality :)

EnJ Corp said...

sayang ane baru baca artikel ini sudah keburu pindah he3.. Tapi masih lieur memahaminya om Trian

Trian Hendro A. said...

#Galih: Thanks for sharing semangat terus berusaha ya.. ojo bosen2 hehe. Keep up!

#Mas Eri: Wah..nasi sudah jadi bubur, sekalian jadikan bubur ayam, Mas..hehe. Butuh konsultasi, let me know :).

Adit-bram said...

nice mas ,,,,,

Trian Hendro A. said...

Gimana, masih betah di Jogja? :)

Enny Ratnawati said...

Wooo..tulisanmu serius...
Tulisanku malah santai, yang jalan-jalan melulu.....

Pindah kerja? Asyik aja, asalkan kita berikir dengan cermat.

Pensiun? Siapa takut? Ternyata pensiun juga menyenangkan kok...saya malah jalan-jalan melulu, masa muda kurang bahagia, kerja melulu, nggak lihat kiri kanan.

Rangga Pradana said...
This comment has been removed by the author.