Thursday, July 17, 2008

Pernikahan yang Akrab

Dalam menghadiri pernikahan seorang teman di Bandung minggu lalu, seorang kawan mengingatkan saya tentang sebuah tulisan Zaim Ukhrowi tentang pernikahan. Saya kebetulan menyimpan sebagian artikelnya dari Republika, dan ingin membaginya disini. Setidaknya selain menjadi khasanah renungan kita (terutama yang belum menikah, atau yang sedang menyusun resepsi seperti Aan), juga mudah-mudahan semakin banyak lagi model resepsi yang dijabarkan berikut.

***
Baru-baru ini saya menghadiri pernikahan seorang kerabat. Pesta pernikahan itu biasa saja. Bukan di gedung besar. Bukan pula penuh pernak-pernik yang membuatnya megah. Sebaliknya, perhelatan itu justru dilakukan di rumah. Cukuplah tenda terpasang di halaman serta jalan buntu di depannya. Sebuah tenda biasa, dan bukan tenda paling megah, Makanan ditempatkan di meja sederhana bertaplak putih di garasi rumah itu.

Jumlah undangannya tidak banyak. Hanya kerabat dekat dan sahabat kedua mempelai yang hadir. Pembawa acara serta pembaca doa kerabat sendiri. Musik dimainkan oleh teman-teman pengantin. Tidak ada beragam upacara adat yang rumit yang mengiringi pernikahan itu. Pakaian serta tata rias pengantin juga biasa saja. Cuma sedikit lebih formal dibanding pada hari biasanya, namun cukup anggun untuk dipandang sebagai gambaran pernikahan.

Sekali lagi, tak tampak hal luar biasa dari acara perbnikahan itu. Tetapi, saya merasa sangat nyaman berada di sana. Ada suasana yang jarang saya peroleh dari menghadiri kebanyakan pesta pernikahan pada acara tersebut. Saya merasa, suasana pernikahan itu sangat akrab. Pembawa acara dengan sangat ringan menyapa, bahkan berseloroh, pada tamu-tamunya. Hal itu wajar karena memang ia mengenalnya persis.

Antarkawan juga bisa saling dorong untuk menyanyi, atau memainkan musik. Para tamu juga saling sapa, hingga berbincang akrab. Pengantin juga tak harus terus-menerus berdiri tegak di tempatnya dengan terus-menerus memasang senyum anggun, menunggu diberi ucapan selamat. Sesekali, mereka seperti 'menjemput bola', berjalan (kadang bersama, kadang sendiri-sendiri) mendatangi tamu, bertukar kata secara ringan.

Suasana pernikahan demikian sungguh berbeda dengan pesta pernikahan yang kini lazim. Tapi, suasana itu justru mampu mengingatkan: apa makna pesta pernikahan? Kita acap merancang pesta pernikahan seagung dan semegah mungkin. Alasan kita, itu hari yang benar-benar istimewa. Lalu, kita merancang segalanya agar sempurna. Mulai dari bentuk undangan, atribut kenang-kenangan, seragam pakaian, tempat pelaminan, makanan, hiburan, dan sejuta pernak-pernik lainya.

Begitu banyak yang harus diurus, dan begitu banyak yang ingin mengurus agar benar-benar sempurna. Hasilnya, seringkali pesta pernikahan justru menjadi ajang ketegangan keluarga. Alih-alih melahirkan suasana yang hangat, pesta pernikahan banyak yang kemudian menjadi sekadar formalitas. Pesta pernikahan kita acap bergeser fungsi dari acara bersyukur dan memohon doa menjadi ajang pamer gengsi dan atribut diri. Banyak tamu hadir dengan perasaan terpaksa. Tak enak tidak datang karena sudah diundang. Jika demikian, doa restu apa yang dapat kita harapkan?

Kesederhanaan dalam pernikahan hari itu menyeret saya pada pertanyaan yang dalam. Apa ya sulitnya berpikir dan bersikap sederhana seperti itu? Jangan-jangan kerumitan kita dalam menggelar pesta perkawinan adalah refleksi dari kerumitan cara berpikir dan bersikap secara menyeluruh. Kita lebih mementingkan atribut ketimbang makna. Kita memenangkan formalitas dibanding otentitas dan spontanitas. Kita mengedepankan gengsi ketimbang esensi. Pantas jika bangsa kita masih jauh dari efektif.

.... - by: Zaim Uchrowi

***

Sebuah pernikahan yang bersahaja. Bagaimana menurut anda?

9 comments:

Nurhadi Sukma said...

Pertamax kah? tumben.. :D

akhirnya yan., kutemukan juga 'pendapat' bahwa menikah itu tidak perlu mahal :)

matur nuwun ya!

amir said...

inspiratif...saya suka tulisan ini, membuat "tidak tertekan" :P.

inos said...

Pernikahan memang tidak perlu glamor, yang penting sakral. Konon, ketika ijab kabul terjadi, maka terbukalah arsy' dan para malaikat mendo'akan kedua mempelai, dan disaat itulah do'a orang disekitarnya menjadi mustajab.

Adit-bram said...

semakin dekat :)

juli hampir lewat nih yan....

noerce said...

Tapi memank baiknya di sepakati kedua belah pihak.Dan satu hal, kenapa jarang di pernikahan mengundang anak Yatim/kaum dhuafa yach? ^_^

N.B.
Posting "Personal"nya baru "ngeh", dah di musnahkan sptnya (dasar baong, "ngeh"nya setelah di Jitak, he he)

Dewi said...

hmm,, menurut saya diskusi ke keluarga itu jadi yang utama.
kadang dari pengantinnya sendiri ingin sederhana, tapi ternyata orang tua yang dengan "rela hati" mengadakan pesta besar.

hmm,, udah cepetan undangannya di "release",, malu-maluin aja postingannya nyrempet2 nikah
terus :-o

* yang lagi sibuk jadi kuli ilmu di negri sebrang

agung said...

kalo undangannya kenalan2 orang tua yang 'gede-gede' gimana biar pas dengan tetap sederhana? tapi setuju lah, esensi lebih penting, semakin akrab semakin nyaman, asal kursinya gak kurang:p Dah, langsung bikin panitia, Yan :p

Dika said...

Sederhana itu juga menurut saya banyak variabelnya, tergantung siapa yang ditanya. Sederhana menurut A belum tentu sederhana menurut B. Sepakat Pak? Lalu bagaimana mengkompromikan sederhana dengan akrab dengan sunah dengan hikmat? nah loh..

edratna said...

Sebetulnya pernikahan masa lalu, adalah sarat dengan keakraban. Namun di Jakarta menjadi sulit, karena terbatasnya lahan, juga jalanan sempit yang tak mungkin ditutup tenda...akhirnya pesta dilakukan di gedung.

Di gedungpun bisa akrab apabila kita hanya mengundang orang-orang yang benar-benar telah dikenal baik oleh keluarga dan pasangan pengantin.