Wednesday, July 23, 2008

Keuangan masa depan

Setelah belajar tentang bagaimana mengelola keuangan dan mulai investasi, sekarang waktunya untuk belajar memprediksikan sumber-sumber pengeluaran masa depan yang seringkali dilupakan, padahal semakin dini dipersiapkan semakin baik.

Menurut saya, beberapa kebutuhan penting keuangan masa depan yang harus di susun rencana nya sebagai berikut.

Dana pensiun
Banyak orang berpikir dana pensiun hanya cocok dipikirkan oleh orang yang berusia diatas 40 tahun. Atau pensiun cukup di cover oleh asuransi pensiun yang difasilitasi perusahaan sekarang. Padahal dana pensiun seharusnya dipersiapkan secepatnya seseorang cukup mapan dalam suatu pekerjaan, karena makin cepat dipersiapkan bebannya menjadi makin ringan.

Jikalau dana pensiun hanya mengandalkan asuransi pensiun, maka harus dipastikan bahwa dana tersebut cukup meng-cover kebutuhan hidup pensiun per bulan kita di masa datang. Inilah yang penting dalam merencanakan pensiun, berapa biaya standar biaya hidup masa depan yang kita inginkan? Biaya hidup masa depan didapatkan dengan menormalisasikan biaya hidup sekarang dengan asumsi inflasi.

Dana pendidikan
Jika pensiun secepatnya dipersiapkan ketika seseorang cukup mapan dengan penghasilannya, maka dana pendidikan dipersiapkan secepatnya setelah menikah, sekalipun subyek dana pendidikan tersebut (anak) belum ada. Prinsipnya sama, semakin dini dipersiapkan maka beban masa kini juga akan semakin ringan.

Jumlah dana pendidikan harus direncanakan untuk berapa subyek, dan menghitung kebutuhannya di masa depan. Dengan menormalisasikan biaya tiap jenjang pendidikan sekarang menggunakan asumsi inflasi, maka kebutuhan di masa depan bisa diprediksikan. Dan perusahaan asuransi pendidikan akan senang hati membantu menyiapkan dana pendidikan tersebut, dengan catatan nama subyek dikosongkan dahulu karena belum lahir.

Dana asuransi
Maksud dari dana asuransi ini adalah asuransi untuk menjamin ’properti’ kita, seperti rumah, mobil dan kesehatan. Konon katanya, tingkat kesejahteraan sebuah negara salah satunya bisa dilihat dari seberapa sadar masayarakat negara tersebut aktif untuk ber-asuransi. Artinya untuk Indonesia, tampaknya memang belum mencapai tingkat kesadaran pentingnya asuransi.

Untuk rumah dan mobil (menurut orang yang berpengalaman), kita harus mempelajari dengan detil premi dan ketentuan klaim yang bermacam-macam. Kuncinya mari ditanyakan ke dalam hati kita, apa kebutuhan kita? Jangan sampai jauh under apalagi overestimated sehingga pemborosan. Inilah yang sulit, karena seringkali dengan iminng-iming akhirnya kita memilih ’berlebihan’ yang tidak melebihi kebutuhan kita.

Begitu pula dengan asuransi kesehatan. Jika kesehatan sudah ikut ter-cover melalui kantor, maka mubazir jika masih membuat asuransi kesehatan lagi dengan alasan preventive. Sekali lagi, apa betul itu kebutuhan kita? Menurut saya, asuransi yang berkaitan dengan tubuh kita jika asuransi kesehatan pokok sudah ada adalah asuransi kecelakaan yang menyebabkan cacat permanen atau meninggal. Hal ini semacam ’biaya bertahan hidup’ kepada keluarga karena kondisi yang tidak dinginkan tersebut.

Setelah mencoba menentukan sumber-sumber kebutuhan masa depan, maka sekarang bagaimana untuk mencapai tujuan masa depan tersebut.

Sebagain besar dari kita mungkin akan menjawab dengan membeli asuransi pendidikan dan pensiun, sebagai cara untuk mencapai tujuan itu. Namun jangan lupa, bahwa investasi sebenarnya salah satu sarana mencapai tujuan itu. Dan jika sudah menggunakan instrumen investasi, maka kita harus jeli melihat resiko dan jangka waktunya (tidak hanya ’janji’ return atau margin).

Satu lagi yang saya percaya, untuk tidak akan mencampuradukan antara asuransi dan investasi. Karena saat ini semakin banyak perusahaan asuransi yang membuat kombinasi, dengan iming-iming asuransi sekaligus investasi. Karena tujuan keduanya berbeda (resiko, waktu, return), fee nya kemungkinan lebih besar daripada asuransi atau investasi saja, dan pada akhirnya tidak akan bisa optimal. Asuransi adalah asuransi, investasi adalah investasi.

Saatnya mempersiapkan dan mengkondisikan keuangan untuk masa depan. Dan jangan lupa, masa depan akhir manusia nantinya adalah akhirat. Jadi keberkahan pun harus melekat dalam persiapan ini. Wallahu’alam..

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)... [Q.S Al Hasyr 59: 18]

5 comments:

Anonymous said...

Baik sekali- Still on the track- lah Mas.

Karena ngejar Juli nggak boleh sama dosen- telat ngumpulin draf plus nggak ikutan UAS- jadi diusahakan Oktober, dengan catatan sidang kompre tidak boleh mengganggu konsentrasi perburuan omzet di lahan makan sayah....Dasar mahasiswa, mikir negara kok belum bisa cari makan...Bah!!Hahahaha....

edratna said...

...Financial planning yang mantap, asal diterapkan secara tepat...

trian h.a said...

#Galih: ok, sukses!

#Bu Enny: menulis lebih mudah dibandingkan implementasi nya Bu hehe.

situse arek gresik tok til, ra enek meneh neng internet kecualy wek ku iki, selamat datang di dunia mayaku. said...

bagus -bagus,

errick said...

ini juga mantap... tp mw kuliah nih, ntar dulu ya bacanya