selamat datang cinta,teruntuk sahabat
karenanya sekarang ku tak akan mudah berbagi..
selamat datang sayang,
karenanya sekarang ku tak lagi gundah sendiri..
Barakallohulaka wa Baroka 'alaika wa Jama'a fi Khoir..
yang berbahagia hari ini
selamat datang cinta,teruntuk sahabat
karenanya sekarang ku tak akan mudah berbagi..
selamat datang sayang,
karenanya sekarang ku tak lagi gundah sendiri..
Barakallohulaka wa Baroka 'alaika wa Jama'a fi Khoir..
Build me a son, O Lord, who will be strong enough to know when he is weak
And brave enough to face him self when he is afraid,
One who will be proud and unbending in honest defeat,
And humble and gentle in victory
Build me a son whose wishes will not take the place of deeds
A son who will know Thee__
And that to know himself is the foundation stone of knowledge
Lead him, I pray, not in the path of ease and comfort
But under the stress and spur of difficulties and challenge
Here let him learn to stand up in the storm
Here let him learn compassion for those who fail
Build me a son whose heart will be clean
Whose goal will be high
A son who will master himself before he seeks to master other men
One who will reach into the future,
Yet never forget the past.
And after all these things are his,
Add, I pray, enough of a sense of humor
So that he may always be serious,
Yet never take himself too seriously.
Give him humility,
So that he may always remember the simplicity of true greatness,
The open mind of true wisdom,
And the weakness of true strength.
Then I, his father, will dare to whisper,
“I have not lived in vain”
Pagi itu sekitar jam 8, hari Sabtu 17 Juli kemarin, kami serombongan Pelayaran Kebangsaan (PK) V tiba di dermaga Belawan Medan, setelah semalam kami melempar jangkar di teluk Belawan untuk menunggu pagi. Dan segera, kami pun bersuka kaena tujuan Medan telah kami injak. Sambutan dari mahasiswa2 Medan beserta bus yang akan mengangkut kemi ke Medan. Tapi kami baru sadar, Belawan-Medan bukanlah jarak yang singkat ternyata. Membutuhkan setidaknya 2 jam, yang membuat kami terkantuk-kantuk. Sengingatku, sepanjang jalan itu banyak terdapat perumahan penduduk yang jarang diselingi dengan pohon-pohon nyiur, lalu pasar, pemukiman, dan banyak bukit.
Rasa kantuk hilang, ketika kami tiba di depan kantor gubernur Sumut. Disamping adalah sebuah potongan sketsa masjid Gubernuran itu. cukup luas, bahkan terkesan lebih luas dan megah bangunannya dibandingkan dengan Istana Wapre yang kami kunjungi 5 hari yang lalu. Segera kami naik ke aula utama, lantai dua jalan menjauh dari bangunan masjid.
Aku sendiri, duduk persis di baris ketiga, sehingga sangat jelas melihat bisik-bisik yang dilakukan oleh ka panitia pusat (Bapak Mu’in) dan bapak itu, serta perwakilan dari TNI AD, AL dan jajaran pemda sumut. Dan hasilnya, di luar dugaan kami semua. Dengan spontan saat sambutan, Bapak Mu’in mengatakan bahwa bapak kita telah menyediakan segala fasilitas yang dibutuhkan untuk berangkat ke prapat sore itu juga. Padahal, saat itu jam menunjukan sekitar 11 siang, dan kami harus ke panti asuhan siang sampai menjelang ashar. Karuan saja, seluruh peserta bersorak girang dan aku melihat persis, bapak kita tersenyum melihat ekspresi peserta.
Dalam akhir acara “Horas” itupun, kesediaan yang terbuka beliau untuk berfoto dengan peserta setelah salah seorang kami memberikan cinderamata kepadanya. Dan peserta merasakan, seorang bapak yang memberikan keinginan anaknya kala sang anak ingin merangkai kenangan indahnya di bumi Sumut tersebut. Dan bapak itu adalah T. Rizal Nurdin, Gubernur Sumatera Utara.
Tiba di toba, hari sudah malam. Waktu itu sekitar jam 9 malam. Segera, panitia lainnya sudah siap dan mencarikan perahu untuk langsung menyeberang ke Samosir. Aku sendiri membatin, “karena perintah dari orang berkuasa di Sumut, semuanya berjalan sigap tanpa ada hambatan berarti”. Luar biasa juga ketika di Samosir, sebuah komplek vila bernama Toledo telah siap dengan makan malam dan kamar2 yang akan digunakan membersihkan diri. Aku melihat saat itu, betapa seluruh peserta menikmati penyambutan yang disediakan.
Selanjutnya, jam 10 malam telah disiapkan pula di aula Toledo, sajian kesenian khas Sumut. Mulai dari orang yang membawa patung (mirip ondel2), dan tarian2 lainnya yang aku lupa. Serta tak lupa, nyayian daerah Sumut dan penampilan beberapa peserta. yang menambah kami merasa terhormat diperhatikan saat itu dengan ada pengumuman seperti ini, “Bapak Gubernur telah menyediakan kaos Danau Toba yang diberikan gratis kepada setiap peserta dan panitia PK V.” Untuk kedua kalinya dalam hari itu (atau sudah lewat tengah malam kali ya?), kami bersorak gembira sebagai ungkapan rangkaian pengalaman indah mengesankan sepanjang hari itu.***
“...Udah tau kan kecelakaan pesawat di medan td, korbannya 100 lebih. Ikut tewas gubernur sumut rizal nurdin.."