Monday, April 30, 2007

ke rumah sakit

"Sebaiknya Jangan Mengunjungi Rumah Sakit Bila Tidak Perlu"

Tulisan bernada peringatan diatas saya temukan di Rumah Sakit Umum Hasan Sadikin (RSHS), Bandung. Menggelitik, dan unik. Seberapa pentingkah latar belakangnya sehingga 'peringatan' diatas muncul di sebuah lorong masuk pintu masuk utama bangunan lama RSHS? Apakah mungkin, orang pergi ke RS tanpa sebuah perlu diluar kesehatan, atau bahkan iseng?

Rumah Sakit (RS), adalah tempat banyak manusia datang untuk berobat. atau secara umum, berurusan dengan kesehatan. tidak pandang bulu, mulai bayi sampai kakek/nenek yang berumur. di RS, pemandangan 'memilukan' akan banyak kita dapatkan. tangis bayi, jeritan orang, wajah menahan sakit, pandangan yang sendu, tangis dari para pasien atau keluarganya. dan di sisi lain, (normalnya) selalu ada wajah sejuk para perawat, dokter atau petugas RS.

Berkunjung ke RS, terutama sebagai orang sehat, akan mengingatkan bahwa kesehatan adalah nikmat yang sangat besar, yang jarang disadari (sama halnya dengan nikmat waktu). sebagai orang yang sehat atau orang yang masih diberikan hidup sekalipun sakit, nikmat itu tentunya harus disyukuri. ditambah pula biaya kesehatan di RS tidak bisa dikatakan murah sekarang ini.

Nikmat hidup, itulah salah satu dari yang apa dipetuahkan Luqman untuk senantiasa menghidupkan nuansa syukur dalam kehidupan. Untuk menghidupkan hati syukur tersebut, Luqman menasehatkan untuk rajin berziarah kubur, mengunjungi orang yang miskin, dan menjenguk orang sakit (CMIIW).

Nah.., jika dikaitkan antara nasehat itu dengan tulisan di RSHS diatas, maka sebenarnya mengunjungi RS adalah sebuah 'kebutuhan' bagi semua manusia yang ingin menghadirkan rasa syukur pada Pencipta. jadi, ada keperluan untuk mengunjungi orang sakit. dan, RS mungkin tempat yang relatif lebih nyaman jika dibandingkan dengan slum area, atau kuburan (sekalipun di San Diego Hills, Karawang).

Ditambah lagi dalam dunia layar kaca kita, bahwa para perawat, dokter baik laki-laki maupun perempuan di RS selalu digambarkan dengan stereotip baik, ramah dan 'good looking'. ini memang 'side effect', tapi jika saat side effect membuat kita menjadi lebih nyaman, maka side effect itu pun kemudian manjadi salah satu faktor pendorong yang kuat.

Jadi, datang ke RS karena alasan kesehatan pribadi atau mengunjungi kerabat yang sakit disana secara langsung atau tidak langsung akan menimbulkan kesadaran dan bersyukur akan nikmat kesehatan yang luar biasa dari Sang Khaliq. lalu jika 'perhiasan dunia' yang (tidak sengaja) terlihat dan ikut terlibat disana, anggap saja sebagai selingan pemanis kehidupan. pun tidak dilarang juga dalam agama untuk menuju akhirat dengan tidak meninggalkan kehidupan dunia (betul?).

Dan tidak ada hubungan pasti serta jelas, antara pasien yang sudah tercatat resmi di sebuah RS tertentu dengan alasan mengapa lebih suka ke RS tersebut di tengah banyaknya RS di sebuah kota besar. atau jangan-jangan, mungkin karena adanya 'side effect' tertentu sehingga hal itu bisa terjadi.

Bagaimanapun itu, memang sebaiknya jangan mengunjungi rumah sakit bila tidak perlu, bukan begitu?

Friday, April 27, 2007

Perempuan!

Sudah selesai itu untuk ku

Mengerikan, mengerikan benar perempuan itu
Mereka tak pernah bisa percaya,
Mereka tak biasa jujur,
Sekalipun pada diri sendiri

Mengerikan, mengerikan sekali perempuan itu
Hati mereka serasa tembok keangkuhan
Yang menghantarkan pintu-pintu kesepian

Jangan pernah percaya pada mereka
Karena pada diri sendiri pun
Mereka ingkar
Jangan pernah dengarkan apa kata mereka
Karena mereka tak punya jiwa
Untuk mendengar denting roman
Dan segenggam rasa harap

Mengerikan, mengerikan benar perempuan itu

-25 Januari 07-
'mengerikan' word, inspired from Gadis Pantai, Pramoedya

---
*Matur nuwun sekali, kepada ubrit atas design header dan mas bandoro atas edit html.. :)

Thursday, April 26, 2007

Merapikan accounts internet

Beberapa hari akhir-akhir ini, saya mencoba untuk merapikan accounts yang saya miliki di internet. maksudnya seperti ini. seringkali kita mempunyai beberapa accounts email, milis, blog, penyimpan photo dan lain-nya. jadi, demi mempermudah kehidupan di dunia maya dan pastinya menjadikan lebih teratur, merapikan accounts tersebut saya pikir sangat penting bagi netters.

Pertama, email. saya memutuskan untuk hanya concern menggunakan dua layanan email utama, yakni Yahoo dan Gmail. alasannya sederhana, Yahoo mensupport milis Yahoogroups, Flickr (album foto), messenger (YM) serta layanan Yahoo lainnya. sedangkan Gmail, satu paket dengan layanan Google lainnya, seperti Blogger, Gtalk (messenger), Picasaweb (album foto) dan Feed Reader (yang baru saja saya optimalkan akhirnya).

Selain layanan yang sangat high-supportable tersebut, kapasitas media penyimpan juga besar. untuk Gmail, buat milister pasti sangat menyukai model one-theme-thread yang diberikan Gmail. untuk satu tema (apalagi buat tema yang panjang reply-nya), semua dimasukan dalam thread sama. mudah dalam membaca, membalas dan yang lebih penting, rapi!

Dan untuk membuat lebih mudah, maka saya konsisiten menggunakan ID dan password dari beberapa kombinasi yang tetap, misal 2 ID (masing-masing untuk Yahoo dan Gmail) dan 3 Password, sehingga konsisten dan akan lebih mudah mengingat. pun kombinasi ID dan password itu juga digunakan untuk layanan lain, semisal you tube, friendster atau photobucket (btw, gmn cara merapikan album foto di accounts berbeda ya?). dan yang biasanya terjadi, banyak sign up dengan banyak ID-password sehingga membuat lupa si pembuat.

Kedua, milis. berapa milis yang anda ikuti? saya ternyata mengikuti 28 milis Yahoogroups. sebelumnya, saya menggunakan 2 accounts dalam 28 milis tersebut. akhirnya, sekarang saya putuskan untuk menggunakan satu account sehingga integrated dan lebih mudah memantau serta mengelola semua acoounts milis. apalagi, dari 28 milis tersebut saya mempunyai 1 owner dan 4 moderator.

Ketiga, blog. Akhirnya saya memutuskan untuk mengoptimalkan fungsi Feed Reader untuk memantau updating dari blog friends atau persons di sidebar blog ini. sekalipun tidak kelihatan tampilan blognya, tapi bagaimanapun substansi lebih berguna dari pada konteksnya. kalau misal ingin melihat tampilan, ya.. tinggal diklik link alamat blognya saja.

Bagaimana caranya? sekarang, setiap blog pasti mempunyai settingan feed. misal untuk blogspot (untuk blog ini): "http://3an.blogspot.com/feeds/posts/default" untuk postingan dan "http://3an.blogspot.com/feeds/comments/default" untuk komen. pembaca blog tinggal men-subscribe feed tersebut dalam feed reader, misal dipilih Google Reader (GR).

Dalam GR kita bisa men-subscribe (add subscriptions) beberapa blog dalam satu tampilan. dan, jika ingin membaca, tinggal diklik blog yang sudah di-subscribe. jadi, kita akan tahu blog (sudah di-subscribe) yang update dan belum kita baca, serta tinggal diklik untuk membacanya.

Mudah dan simpel. sangat menghemat waktu, tak perlu satu-satu blogwalking ke oriented-blogs kita. dan kita akan tetap update terhadap blogs tersebut (biasa selisih sekitar 15 menit dari halaman aslinya), kesempatan memberi komen pada saat-saat awal terbuka dan yang penting silaturahim dunia maya terjaga.

Teknologi, seharusnya membuat hidup kita lebih mudah. Tapi tidak untuk menjadi manja.


*gatal sekali ingin update blog, jika setiap hari ada di depan internet.

Tuesday, April 24, 2007

Jatiluhur

Jatiluhur adalah salah satu waduk hasil karya hebat manusia yang bisa kita nikmati hari ini. waduk ini diberi nama sesuai dengan letaknya, di kecamatan Jatiluhur, Purwakarta. sekali di bulan lalu, saya berkesempatan melihat dari dekat waduk ini.

Pertama, jika anda berkesempatan datang ke waduk ini, pilihlah untuk melihat dam utama-nya terlebih dahulu, daripada ke tempat rekreasinya. tentu, ini bergantung dengan siapa kita datang. namun, melihat dam utama bagi adventurer sepertinya akan lebih menarik.

Sebelum masuk kawasan Jatiluhur, pengunjung harus membayar 5000 rupiah (resmi tiket). Namun, ketika akan masuk dam utama, pengunjung masih diminta 5000 rupiah lagi, yang ini jelas-jelas tidak resmi. tapi demi ingin melihat dam utama, berikan saja dan niatkan sebagai amal.

Ini adalah jalan diatas bendungan, dilihat dari tengah ruas jalannya, di depan saluran dam.
Dari saluran di bawah ini, air dam dialirkan sesuai kebutuhan keluar waduk. setelah tanya, ternyata pengunjung boleh untuk masuk ke bangunan saluran di bawah.
Di 'dalam' bangunan tersebut, ada pemandangan yang kalau dilihat membuat kepala pusing karena saking curamnya.
Kemudian, dari atas bangunan saluran dam, kelihatan setengah panjang bendungan arinya.
Air yang dikeluarkan sesuai kebutuhan, dialirkan untuk menggerakkan turbin PLTA, menuju sungai kecil untuk pengairan, dan kebutuhan lainnya.
Menurut Wikipedia, waduk Jatiluhur ini mulai dibangun tahun 1957 oleh kontraktor dari Perancis. selesainya kapan, mungkin waktu zaman orde baru. Dan di sisi utara danau waduknya, terdapat wahana rekreasi keluarga seperti wisata air, aneka makanan ikan, dan water boom. di bawah ini (sayang kurang jelas terlihat), pemandangan danau dengan banyak rumah apung di tengahnya untuk penakaran ikan, dan beberapa rumahnya disulap menjadi restoran apung.
Saya tidak sempat menikmati lebih jauh dengan wahana wisatanya, karena juga kurang bermakna kalau hanya dilakukan sendiri.

Datanglah kalau berkesempatan. toh tidak terlalu jauh, baik antara Jakarta atau Bandung. Masuk tol Cipularang, keluar pintu Jatiluhur-Ciganea belok ke kiri sejauh kurang lebih 5 km. Di dekat waduk, juga terdapat stasiun satelit bumi yang dikelola Indosat. Tambah menarik, melihat hasil karya manusia di Indonesia. Dan akhirnya, Indonesia ternyata tidak sebegitu terbelakangnya.

***
Lebih lengkap beberapa foto di Jatiluhur, silahkan ke album di bawah (sekalipun bukan foto-foto yang sangat bagus).

Friday, April 20, 2007

perempuan dalam profesi

Apa yang dibicarakan dalam hari kartini? Tentang perempuan, emansipasi, posisi atau perannya dalam kehidupan luas. Sekalipun setiap tahun, setiap kesempatan di bulan april atau desember perempuan ramai dibicarakan, selalu saja ada hal-hal tentang perempuan yang menggugah para 'pemerhati’ ke-perempuan-an untuk dibicarakan kembali di momen hari-hari perempuan tersebut.

Tentang emensipasi, secara prinsip adalah keinginan mengangkat posisi perempuan dalam ranah sosial yang banyak dikuasai laki-laki. Dan karena pengangkatan, selalu ada bagian yang ditinggalkan menjadi kosong atau sedikit tak terisi, yaitu ruang domestik yang sejak dulu diidentikan dengan wilayah perempuan. Namun secara praktis hal tersebut bisa saja dihindari atau setidaknya diminimalisir melalui sebuah dialog.

Hal yang lebih prinsip lagi, emansipasi bukanlah ‘gerakan’ kasihan. Karena perempuan tak perlu dikasihani kemudian diangkat ‘derajat’nya. Emansipasi adalah sikap dan tindakan kesadaran atas potensi dan peran yang secara alamiah bisa dilakukan perempuan. Seperti apa?

Membicaran ide awal kartini untuk menyamakan pendidikan antara laki-perempuan tentu sudah tidak relevan lagi. Perempuan di negeri ini telah bebas mengenyam pendidikan mulai dari tingkat bawah sampai perguruan tinggi. Sehingga arah pembicaraan selanjutnya adalah realisasi dari pendidikan yang didapatkan perempuan dalam kehidupan masyarakat.

Perempuan terpelajar, yang mendapatkan pendidikan (materi, tugas dll) tanpa pembedaan prinsip adalah aset yang berharga. Sekalipun mempunyai keterbatasan dalam keleluasaan bergerak (dibanding laki-laki umumnya), kemampuan perempuan dalam akademik tidaklah perlu diragukan, bahkan sengat banyak pelajar-pelajar berprestasi datang dari perempuan.

Timbul masalah kemudian ketika sang perempuan meninggalkan dunia sekolah. Banyak perempuan-perempuan yang ‘memilih’ untuk tidak ‘berkompetisi’ dalam pekerjaan atau bidang untuk pengoptimalan pengetahuan yang sudah didapatkannya. Padahal, mereka sama-sama merasakan perjuangan untuk mendapatkan sebuah gelar sarjana, misalnya. Namun setelahnya, banyak perempuan yang memilih tidak mengoptimalkan potensinya tersebut dalam wilayah yang lebih luas.

Fenomena tersebut, bisa disebabkan oleh hal-hal berikut: pertama, paradigma yang masih banyak di masyarakat, bahwa perempuan adalah domestik un sich. kedua, sikap ‘pasrah’ perempuan atas ‘idiom kehidupan’ yang diidentikan kepada mereka. dan ketiga, Syndrom perempuan karir yang negatif (meninggalkan rumah tangganya dsb).

Namun yang utama adalah pandangan laki-laki atas perempuan sendiri. Artinya, tidak banyak laki-laki yang berkesadaran untuk menempatkan perempuan sesuai dengan potensi keprofesian yang dimilikinya. Dalihnya bisa macam hal, misalnya bahwa mendidik anak-anak di rumah adalah menyiapkan generasi depan bangsa, pekerjaan besar untuk masyarakat dan akan berbeda prosesnya antara perempuan lulusan SMP atau PT.

Sekali lagi, ini sebuah pilihan memang. Dan kemerdekaan untuk memilih itu tetap ada pada diri perempuan. Tapi secara prinsip, mereka punya potensi yang harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan masyarakat. Karena perempuan sudah mendapatkan kesempatan pendidikan tinggi, maka seharusnya bisa kontribusi sesuai dengan potensinya tersebut.

Kembali ke hal prinsip, bahwa perempuan terpelajar punya potensi kompetensi. Secara sosial, kesempatan berpendidikan yang diberikan masyarakat seharusnya dikembalikan lagi. Kita tidak sedang berbicara tentang perempuan karir yang menduduki jabatan strategis korporat dan melalaikan rumah tangganya. Bukan pekerjaan atau jabatan yang utama, tapi optimalisasi bidang kompetensi. Hal yang bisa diartikulasikan dalam pelayanan masyarakat, dunia pendidikan anak, pemberdayaan perempuan, entrepreneur dan banyak bidang lainnya. Dan dalam rumah tangga, sekali lagi secara praktek bisa diselesaikan dalam satu kata: Dialog.

Memberikan kesempatan ‘berkarir’ bagi perempuan juga bukan tindakan tanpa waspada bagi laki-laki. Karena itu artinya ‘merelakan’ bagian-bagian yang seharusnya ‘ladang’ laki-laki kepada perempuan. Negatifnya yang ekstrim, masalah pekerjaan yang bisa menimbulkan pegangguran laki-laki. Padahal secara norma agama, laki-laki yang berkewajiban untuk bernafkah.

Secara lebih luas, perempuan adalah makhluk yang tekun. Prestasi yang dicapai sebagian besar karena ketekunan dan kesabaran, hal yang biasanya jarang ada pada laki-laki. Memberikan kesempatan perempuan untuk berkarir, artinya memberikan celah pada perempuan untuk lebih ‘tinggi’ daripada laki-laki. Dalam kehidupan keluarga atau calon pasangan, bisa terjadi penghasilan perempuan lebih besar daripada laki-laki.

Dua hal diatas, yang secara tidak langsung ada dalam alam bawah sadar laki-laki. Butuh kesadaran, persis dengan yang saya sampaikan diatas bahwa kendala utama ‘optimalisasi kompetensi’ perempuan ada di pihak laki-laki. Padahal, perempuan tidak bisa dipisahkan dari laki-laki. Disinilah, umumnya perempuan menemukan titik lemah. Namun semua manusia punya pilihan, dan perempuan pun bebas untuk memilih.

Selamat Hari Kartini...