Sunday, December 15, 2013

Project Management Professional (PMP)

Sudah menjadi bagian dari target tahun ini untuk melengkapi satu sertifikasi profesional tambahan, yakni Project Management Professional (PMP) yang dikeluarkan oleh Project Management Institute (PMI).  Sertifikasi PMP ini sudah dikenal luas di kalangan praktisi Project Management (PM) di seluruh dunia. Sehingga bisa dikatakan seseorang yang sudah certified PMP akan mempunyai 'bahasa yang sama' dalam praktek PM.

Siapa yang berhak mengajukan sertifikasi PMP? Dikutip dari PMI adalah sebagai berikut:
To apply for the PMP, you need to have either:
  • A secondary degree (high school diploma, associate’s degree, or the global equivalent) with at least five years of project management experience, with 7,500 hours leading and directing projects and 35 hours of project management education.

    OR
  • A four-year degree (bachelor’s degree or the global equivalent) and at least three years of project management experience, with 4,500 hours leading and directing projects and 35 hours of project management education. 
Jika dilihat dari syarat diatas, maka minimal seseorang bisa mengajukan sertifikasi setelah sekitar 3 tahun pengalaman dalam menjalankan proyek dan juga pernah mengikuti kursus terkait PM selama 35 jam. Saya sendiri bisa dibilang 'telat' karena melebihi dari syarat minimal tersebut, apalagi sebagai praktisi yang setiap hari terkait proyek. Walaupun juga tidak bisa dikatakan terlalu telat mengingat banyak senior (tetua) praktisi PM belum pernah bersentuhan dengan dunia sertifikasi baik PMP ataupun CCE (Certified Cost Engineer)

Saya dikirim kantor untuk mengambil kelas persiapan PMP melalui training provider yang berafiliasi dengan lembaga konsultan internasional Rita Mulcahy (RMC). Training dilaksanakan pada awal Oktober 2013 selama 5 hari di Bandung yang juga bisa dijadikan syarat 35 jam training PM. Instruktur yang memberikan pelatihan dan pendampingan setelahnya adalah Mr Rashid, Malaysian yang tinggal di Singapore. Dalam training selain diberikan bahan-bahan belajar, sebuah CD simulasi soal-soal ujian PMP juga termasuk 1 hari refreshment day yang dilaksanakan beberapa hari sebelum ujian sesuai permintaan (grup). Dan yang pasti, Mr Rashid dengan sangat terbuka membantu proses belajar sampai menjelang ujian.

Seperti halnya sertifikasi PM yang lain, maka tantangan terbesar sebenarnya adalah 'mengalahkan' diri sendiri untuk disiplin belajar mempersiapkan diri ujian. Ujian nya adalah menjawab 200 soal pilihan ganda secara online selama 4 jam. Soalnya terkait dengan dunia PM yang harus dijawab sesuai dengan panduan yang diberikan PMI dalam PMBOK (Project Management Body of Knowldge). Tahu istilah saja belum cukup, karena ada studi kasus ditambah pilihan ganda yang bisa membuat lebih dari satu jawaban tampak benar.

Khusus buat saya yang sudah berpengalaman dalam ujian CCE, maka 'beban' itu menjadi semakin berat mengingat berdasar studi bahwa secara level of effort PMP lebih rendah dibanding CCE (CCE lulus, PMP masa tidak lulus :) ). Namun tetap ada rasa was-was apakah bisa lulus PMP. Menurut Mr Rashid, untuk lulus dibutuhkan 40 jam belajar. Tapi saya tidak pernah menghitungnya, satu sebabnya karena ada beban tadi. Yang pasti saya belajar dengan basis milestone dan mentargetkan 2 bulan setelah training saya akan maju dalam ujian PMP.

Di sisi yang lain, sebenarnya ada sisi positifnya saya sudah CCE karena sudah berpengalaman lebih dari 4 jam di depan komputer mengerjakan soal ujian sertifikasi. Jadi dari keberanian menjawab dan ketenangan bisa mendapat banyak pelajaran dari pengalaman sebelumnya. Akhirnya, masa belajar itulah saat untuk mengalahkan diri sendiri tersebut, dan berkomunikasi dengan Mr Rashid untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan diri sendiri dalam penguasaan skenario materi. 

**

Alhamdulillah.. Saya akhirnya lulus ujian sertifikasi pada tanggal 9 Desember 2013 lalu. Nomor ID PMP saya 1677373, artinya sudah lebih dari 1.6 juta profesional di seluruh dunia mempunyai gelar PMP sejak 1987. Jika dibandingkan CCE saya yang ber-ID 4129, maka nomor ID PMP saya sudah sangat besar. Tidak heran mengingat tahun 2012 sebanyak 90 ribu orang mendapatkan sertifikasi dari PMI (walaupun tidak semua PMP). 

Oiya, saya artinya juga berhak menyandang credential PMP di belakang nama saya setelah sebelumnya CCE. Saya tidak tahu pasti bagaimana aturan penyebutan gelar secara urut di belakang nama. Yang pasti jika disebutkan semua credentials baik pendidikan formal maupun sertifikasi, maka nama lengkap profesional saya menjadi Trian Hendro Asmoro, ST, MM, CCE, PMP. 

Selain bersyukur, saya berusaha menyadari bahwa mendapatkan gelar atau sertifikasi bukanlah tujuan akhir, tapi merupakan awal untuk melakukan hal bermanfaat yang lebih banyak lagi. Dan yang pasti, belajar itu sepanjang hayat, jadi mari tidak lekas puas dengan apa yang kita tahu hari ini.

Finally, saatnya move on... :)

3 comments:

predi said...

mas izin bertanya,,,apakah bahasa pengantar training PMP adalah bahasa Inggris ?

Trian Hendro A. said...

Iya, Pak. Semua Bahasa Inggris.

B Herman said...

Mas Trian, lokasi tempat ujian nya di mana di Jakarta?