Friday, March 14, 2008

Tradisional vs Medis

Telah tumbuh di masyarakat metode-metode penyembuhan tradisional yang manjur, baik yang telah terbukti secara medis atau bahkan yang tidak bisa dibuktikan secara medis. Metode penyembuhan tersebut turun temurun, menjadi bagian dari budaya masyarakat. Dan yang menjadikan metode itu kuat mengakar, karena metode tersebut terbukti bisa menyembuhkan dengan baik.

Lalu datanglah metode kedokteran (medis) yang sangat ilmiah, substansial dan sistematis. Kalau dari substansinya, metode medis jauh lebih menyakinkan daripada tradisional. Secara empiris, medis melalui dokter dan semua perangkatnya bisa menyembuhkan dengan baik, namun tetap tidak bisa menjanjikan 100% kesembuhan.

Tentang usaha entah metode tradisional atau medis tentu lain dengan kesembuhan. Usaha adalah usaha, sedangkan kesembuhan sendiri banyak faktornya. Mulai dari sugesti diri hingga kuasa Tuhan.

Masyarakat pun akhirnya masih juga banyak menggunakan tradisional sekalipun akses medis makin menyebar. Satu hal karena relatif lebih mahal, kedua karena lebih percaya tradisional yang membudaya. Pihak medis pun tidak seharusnya menjadi egois, memandang benar sendiri lalu mencampakan realita bahwa tradisional juga mampu memberikan kesembuhan yang baik.

Ini bukan tingkat melek medis atau pendidikan yang masih rendah di masyarakat, tapi ini justru sebagai bentuk pilihan. Untuk itu lah kiranya masyarakat juga harus tahu, saat kondisi tertentu harus ke tradisional atau kondisi yang lain dimana memang mengharuskan pergi ke medis.

***
Pernah mengalami jatuh, sehingga menyebabkan tulang terkilir atau keseleo? Sebagai orang awam, pasti akan menganjurkan untuk menyerahkan urusan ke tukang (ahli, dukun?) pijat untuk mengembalikan tulang atau bagian-bagiannya yang kurang tepat. Atau setidaknya dioles-oles dengan balsem peregang otot sendi. Itulah yang dinamakan dengan cara tradisional.

Cara medisnya, maka segera lah pergi ke dokter untuk pemeriksaan. Jika sakitnya parah, maka dokter akan meminta untuk difoto bagian tulang yang sakit tersebut. Jika tidak retak atau patah, maka obat penghilang nyeri luar dalam jadi solusi. Jika retak atau patah, maka berikutnya jatah dokter orthopedi dan bisa keluar dengan 2 pilihan, di gips (benar tulisannya?) atau operasi dengan pemasangan implant (pen). Itulah secara singkat cara medis menangani tulang.

Selasa 4 Maret sore, telunjuk kiri saya terkilir karena olahraga. Bengkak, sakit sekali. Rabu malam saya memutuskan untuk mengundang tukang pijat. Esoknya, rekan kantor menyarankan ke dokter untuk dipotret karena bengkak yang tidak hilang. Singkatnya, tulang metakarpal telunjuk kiri saya retak dan menurut dokter orthopedi disarankan operasi penanaman implant supaya hasilnya baik dan cepat.

Kamis malam saya masuk RS dan jumat paginya operasi (pertama kalinya masuk RS, dibius, dan operasi dalam sejarah hidup saya). Alhamdulillah, lancar. Dalam rontgen tangan pasca operasi, terlihat 3 pen yang di silangkan di metakarpal kiri saya. Saya belum pernah melihat benda ini diluar tangan saya, namun membayangkan ada 3 ‘paku kecil lentur’ di telapak saya, kadang membuat perasaan bercampur.

Sabtu 8 Maret pulang, dan diharuskan kontrol setelah 1 minggu untuk melepas perban tangan. Jujur memang manjur metode operasi medis ini. Tangan saya membaik dan berasa tidak sesakit sebelumnya. Terima kasih dok. Benar-benar ajaib! (ah, tapi tetap saja ada ‘benda asing’ dalam telapak kiri saya)

Sebelumnya saat divonis dokter bahwa pijat yang membuat segalanya makin parah, saya mengelak, “kalau dokter menjadi saya, orang yang awam kedokteran, tidak tahu seluk beluk tentang orthopedi lalu tulangnya keseleo atau terkilir, maka saya yakin dokter juga akan memijit bagian yang sakit itu”. Dan dokter itu pun senyum mengiyakan.

Sudahlah, yang penting sekarang tangan saya kembail, Alhamdulillah. Belum 100% memang, mudah-mudahan secepatnya akan pulih normal. Sekarang saya pun berhitung bahwa 3-5 bulan lagi, saya harus kembali operasi mencabut ‘benda asing manjur’ dalam tangan saya (many thanks to my company).

Dan yang terpenting semakin menyadari, bahwa kesehatan itu rezeki luar biasa yang diberikan Khaliq pada kita. Maka dari itu, mari manfaatkan sehat kita sebelum datang sakit kita. Tidak ada kata terlambat.

*terima kasih untuk do'a keluarga, teman dan sahabat.

7 comments:

fiksi said...

wah elit sekali trian sekarang. terkilir olahraga sedikit langsung operasi dan implant2an :D. saya punya dua rekomendasi buat yg jalan hidupnya tidak seberuntung trian. kalo terkilir, ada tukang pijat di daerah padalarang. bagus tuh. ga sakit. yang kedua, utk penyakit lain2, daerah ujung berung deket sma 24. lupa nama ibunya. hebat juga dia. cuman megang2 telapak kaki kita, bisa tau apa aja yg udah kita makan sehari sebelumnya! ga sakit juga. bahkan ibu ini, ngasih kuliah dokter-dokter tiap hari sabtu. padahal dia sendiri ga sekolah. sepupu temen saya, mata minus 3, sembuh total dalam 3 bulan. sekali seminggu kesanany. dan bagian paling baik dari mereka adalah, bayaran mereka seikhlas kita aja. ga dibayar pun gapapa.
hehe.

Dika said...

Bagaimana rasanya diurut? Tukang pijatnya memberikan diagnosis kah? hm, belajar dari kisah ini, rasanya memang perlu berpikir ulang.Alih-alih datang ke tukang pijet, malah menghabiskan uang asuransi dan diomelin dokter.
Lalu bagaimana kondisi tangannya sekarang?

-hm,terinspirasi untuk nulis tentang obat tradisional nih.

noerce said...

Fiksi ini aya2 wae...kayaknya smua org dlm kondisi kekhawatiran-spt yg dialami trian-, bukannya hal wajar, tp btul jg, ada yg tdk seberuntung org2 berduit..^^

Pantesan..si empunya blog sakit ternyata...Syafakallah-smg lekas sembuh..^^

Btw, info minus bisa berkurang sumpeh?eh beneer? Klo iyach, maau donk...alamat lengkapnya.Loh koq Iklan...Hee(maaf yach trian...gpp toh??)^_^

Adit-bram said...

HOOOO
sakit toh ternyata cah bagus...

pantesan gak bisa ikut kumpul ama akh fajar, lucky, igun dan yuyut

cepet sembuh brooo

trian h.a said...

#Fiksi: itu pilihan. saya juga sempat memilih tradisional, ternyata 'gagal' hehe. jadinya ke medis yang tenang, tuntas, dan pastinya 'reimbursable' :).
btw, alamat lengkapnya urut2 itu dikasih tau lebih jelas. supaya yang butuh bisa meluncur kesana. :p

#Dika: Alhamdulillah, dah dilepas perbannya hari ini. makasih. intinya kalau sakit harus jeli melihat bagus ke tradisional atau medis.

#Mbak Nur: lekas sembuh,makasih.tuh, atau minta alamat lengkapnya ke Fiksi aja langsung mbak hehe.

#Adit: Ok bro..tks ya. Bandung, Tegal?:p

Dewi said...

Oalah Ndro,, ngati2,, ra tahu olah raga wae nggaya :p

* dibayarin company dunk???

edratna said...

Di daerah jl. MPR, dekat rumahku, ada namanya Haji Naim...bukan dipijat, pas anakku terkilir, kakinya diluruskan, kemudian dikasih semacam ramuan, dan diperban, nggak boleh untuk menapak....agar retaknya bisa sembuh sendiri.