Wednesday, July 12, 2006

Catatan Pesta Buku Jakarta

Apa yang menarik dari sebuah pameran buku? Awal Juli lalu, aku berkesempatan mampir di Pesta Buku Jakarta (memang sebuah pesta, dengan stan buku yang memenuhi ”wah”) yang diadakan 1 – 9 Juli 2006 di Istora Senayan. Sejak di bandung, hampir tiap tahun aku tak melewatkan pesta ini (kecuali 2002, yang memang mulai di Bandung bulan agustus, lewat Juli).

Dan tahun ini memang terasa perbaikan sana-sini. Dari panggung yang menjadi dua (artinya ada dua diskusi berjalan bersama)-mengingat ajang ini sangat prestigius, tata ruang yang lebih mudah dan pastinya, jumlah buku yang makin banyak (satu-satunya yang membuat ”kecewa”, karena kurang puas mengunjungi tiap stan dan baca buku gratis, saking banyaknya).

Padahal untuk di bandung, aku tak pernah datang di pameran serupa. Karena dengan berjalan di Palasari (kawasan buku di Bandung), berjibun diskon bisa didapatkan. Anytime, tanpa harus repot-repot ke pameran dan harga tidak beda dengan pameran, bahkan lebih murah (pameran kan nyewa stan dll).

Selain itu, hal lain yang menjadikan Jakarta lebih ”menarik”, karena banyak ”attachments” dalam tiap pesta buku di jakarta. Atttachments-nya yang dimaksud, banyak stan yang bukan murni memamerkan (atau menjual) buku tapi berkaitan dengan buku dan mambaca. Semisal, ”Indonesia Membaca”, sebuah gerakan bertujuan meningkatkan minat baca di masyarakat indonesia. Kegiatan advokasi terakhirnya, menangani pendidikan luar biasa di Jogja kemarin. Atau YJP (Yayasan Jurnal Perempuan), sebuah lembaga yang tidak bosan mendengungkan tentang feminisme (yang selalu membuatku tertarik).

Ada juga gerakan 1001 buku yang banyak diusung oleh forum, LSM, penerbit untuk memberikan buku-buku kepada anak bangsa. Banyak juga forum-forum lain, seperti Forum Lingkar Pena, Komik Indonesia, Blind Friends dan lembaga-lembaga lainnya yang kegiatannya berkaitan dengan kegiatan membaca, perbukuan. Tahun lalu, sempat ada juga lembaga ”non-buku”, Walhi (Wahana Lingkungan Hidup). Sayangnya, Walhi tidak hadir tahun ini.

”Pernik” Itu yang menjadikan pesta buku jakarta makin lengkap. Di bandung, karena aku (malah) belum pernah datang dan aku sudah punya back mind, kalau di bandung tidak ada (setidaknya tidak selengkap jakarta).

Dari beberapa kali mampir di pesta buku jakarta, ada beberapa tips yang akhirnya menjadi pegangan.

1. Jangan membeli buku yang lumrah, biasa dan pasti ada atau kemungkinan adanya besar di toko buku setiap harinya walupun itu buku yang anda butuhkan sekarang, karena buku exchibition only menurutku jauh lebih ”mahal”. Apalagi kalau sudah tahu, Palasari lebih menjanjikan untuk tipe-tipe buku biasa itu. Kecuali anda mau gaya dengan melabelkan buku tersebut dengan ”Pesta Buku Jakarta,.....” atau karena tindakan childish, supaya dapat tanda tangan penulis saat diskusi.

2. Kalau bisa, lebih dari satu kali berkunjung kesana, karena banyaknya buku-buku baru yang kita belum pernah tahu dan penerbit-penerbit ”hare gene” yang kita tahu pas pesta buku itu. Kunjungan pertama, cukuplah untuk menscan dan menandai stan-stan atau buku-buku mana yang diincar. Artinya, pas kunjungan pertama tidak perlu uang berlimpah. Biasanya, untuk ukuran pesta buku, satu kunjungan=satu hari.

3. Siapkan dana dan jauh lebih penting, atur sebaik-baiknya. Banyak buku berserakan dengan harga super duper diskon, mulai diskon 80%, 50%, atau diskon standar 25%. Atau buku-buku yang cuman 15 ribu, 10 ribu, 5 ribu dan bahkan 1000 perak!!! (bayangkan, parkir motor di Jakarta saja sekarang 1000 perak juga). Buku-buku itu memang murah, tapi kalau diakumulasikan bakal tetap bisa menyeret kantong kita. Apalagi kalau kita hanya menerapkan one-day booking (tanpa tips ke-2), cuman liat buku ini itu, murah, trus tanpa pikir panjang. Buku yang kita beli, emang buku yang kita butuhkan (tapi, kebutuhan mendadak pas ngeliat bukunya juga ga papa kali.., asal ada dana). Ingat, maos buku teu kudu awis...!!

4. Kalau masih ada anggaran, beli barang non-buku yang khas hanya bisa didapatkan pas pemeran. Itu artinya tidak harus norak, semua hal yang berlabel ”Pesta Buku ....”. intinya barang yang sangat mudah kita dapatkan karena adanya pameran. Seperti topi dan kaos ”book revolve” atau kaos dan asesoris yang berbau gerakan juga banyak. Tapi tetap harus ada uang sisa. Setidaknya transport pulang. (bagiku cukup 36,5 ribu. 3,5 ribu buat Busway, 30 ribu buat KA ke Bandung dan 3 ribu buat angkot bandung!)

5. Tidak perlu menyesal, jika banyak buku atau pernik lain yang tidak anda bawa pulang. Setidaknya kita sudah melihat perkembangan buku terakhir, dan bisa baca-baca sepuasnya (asal muka tebal). Masih bakal ada pameran periode atau tahun depan (semoga bertemu lagi), pameran di kota lain dan pastinya Toko-toko buku khas rakyat yang melek baca, semacam Palasari Bandung, Kwitang Jakarta atau Shopping Jogja. Lagian, belum semua buku yang dibeli kita baca. Dan yang ada di rak buku kita, belum habis dibaca semua juga.

Sebagai informasi, pameran buku akan dilanjutkan di kota-kota besar lain. Bandung, 1-7 Agustus 2006 di Landmark (datang ga ya? Ada yang mau menemani?..), Padang 26 Agustus-3 September di Bagindo Aziz Chan, Jogjakarta 1 – 7 September di Mandala Bhakti Wanitama (Islamic), Makasar 6 – 10 September di Expo Centre, dan Solo 9 – 17 September di Goro As-Salam (Islamic).

So, what books shall you read?

1 comment:

Anonymous said...

Interesting site. Useful information. Bookmarked.
»